https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 DOI: https://doi. org/10. 38035/jpsn. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Penguatan Karakter Disiplin Peserta Didik Melalui Program Tujuh Kebiasaan Anak Hebat di Sekolah Dasar Kecamatan Buntulia Kabupaten Pohuwato Srisusanti Ali1. Rasid Yunus2. Zulaecha Ngiu3 Universitas Negeri Gorontalo. Indonesia, alisusanti553@gmail. Universitas Negeri Gorontalo. Indonesia, rasidyunus@ung. Universitas Negeri Gorontalo. Indonesia, zulaecha@ung. Corresponding Author: alisusanti553@gmail. Abstract: This study aims to describe the implementation of discipline character building through the Seven Habits of Great Indonesian Children . KAIH) Programme and identify the factors influencing its implementation at SDN 06 and SDN 09 Buntulia. Pohuwato Regency. The study was motivated by the low level of student discipline, such as tardiness, lack of responsibility for assignments, and violations of school regulations. The 7KAIH programme is considered a positive habituation strategy in shaping studentsAo disciplined character. This study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving principals, teachers, students, and Data analysis used the Miles. Huberman, and Saldana model through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source, method, and theory triangulation. The findings showed that the 7KAIH programme was integrated into daily school activities through habits such as waking up early, praying, exercising, eating healthy food, enjoying learning, socialising, and sleeping early. The programme effectively developed studentsAo punctuality, responsibility, obedience to rules, and self-control. Supporting factors included studentsAo awareness, parental attention, and supportive school and family environments. Keyword: Character Discipline, 7KAIH. Character Education. Primary School. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan penguatan karakter disiplin melalui Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat . KAIH) serta faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaannya di SDN 06 dan SDN 09 Buntulia. Kecamatan Buntulia. Kabupaten Pohuwato. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kedisiplinan peserta didik, seperti keterlambatan, kurangnya tanggung jawab terhadap tugas, dan pelanggaran tata tertib sekolah. Program 7KAIH dipandang sebagai strategi pembiasaan positif dalam membentuk karakter disiplin peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, 190 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 dan dokumentasi. Sumber data terdiri atas kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua. Analisis data menggunakan model Miles. Huberman, dan Saldana melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber, metode, dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program 7KAIH telah terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari di sekolah melalui kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur Program ini mampu membentuk karakter disiplin peserta didik dalam aspek ketepatan waktu, tanggung jawab, kepatuhan terhadap aturan, dan pengendalian diri. Faktor yang memengaruhi pelaksanaan program meliputi kesadaran siswa, perhatian orang tua, dan lingkungan sekolah maupun keluarga. Kata Kunci: Karakter Disiplin, 7KAIH. Pendidikan Karakter. Sekolah Dasar. PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peranan strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing (Sudarma, 2. Dalam konteks Indonesia, pendidikan tidak hanya difokuskan pada pencapaian kemampuan akademik semata, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (Pelawi et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan tidak hanya melahirkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berintegritas. Dalam era globalisasi dan digitalisasi saat ini, tantangan terhadap pembentukan karakter anak semakin kompleks (Nurhabibah et al. , 2. Arus informasi yang cepat dan gaya hidup instan sering kali berdampak pada melemahnya nilai-nilai moral dan disiplin anak (Nadilanasir et al. , 2. Fenomena seperti kurangnya rasa tanggung jawab, rendahnya kedisiplinan dalam belajar, serta berkurangnya rasa hormat terhadap guru dan orang tua menjadi gejala sosial yang mulai tampak di lingkungan sekolah dasar. Menurut Lickona krisis karakter di kalangan peserta didik muncul ketika pendidikan hanya berfokus pada aspek kognitif tanpa diimbangi dengan pembinaan moral dan spiritual (Farmawaty, 2. Keenam dimensi profil tersebut menjadi arah baru pendidikan karakter di Indonesia yang berupaya menyeimbangkan antara kecerdasan akademik dan pembentukan Salah satu nilai utama yang ditekankan dalam Profil Pelajar Pancasila adalah kedisiplinan, karena disiplin menjadi dasar untuk mengembangkan nilai tanggung jawab, kerja keras, dan kejujuran Pemerintah Indonesia telah menegaskan komitmennya terhadap pembentukan karakter melalui berbagai kebijakan, salah satunya adalah Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menekankan penguatan Profil Pelajar Pancasila, yaitu sosok pelajar yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, gotong royong, dan kreatif (Juwita et al. , 2. Salah satu nilai karakter yang sangat fundamental dan perlu dikembangkan sejak usia dini adalah disiplin (Supiyardi et al. , 2. Kedisiplinan merupakan sikap patuh terhadap peraturan dan norma yang berlaku, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat (Putri & Mahatmaharti, 2. Dalam konteks pendidikan, disiplin menjadi kunci keberhasilan proses belajar mengajar. Peserta didik yang memiliki kedisiplinan tinggi akan menunjukkan tanggung jawab dalam mengerjakan tugas, tepat waktu dalam mengikuti kegiatan sekolah, serta mampu menjaga ketertiban lingkungan belajar. Dengan kata lain, kedisiplinan adalah cerminan 191 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 dari kesadaran diri untuk melakukan hal yang benar tanpa paksaan dari luar (Kasingku & Lotulung, 2. Pendidikan dasar memiliki peran yang krusial sebagai landasan awal dalam proses pembentukan kepribadian peserta didik (Islamiati, 2. Pada jenjang ini, penanaman nilainilai karakter menjadi fondasi utama yang kelak berfungsi sebagai bekal penting dalam mewujudkan generasi emas yang berdisiplin serta berintegritas (Hidayat, 2. Fenomena dekadensi moral dan kedisplinan di kalangan pelajar semakin mengkhawatirkan. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2. mencatat bahwa pelanggaran disiplin, seperti tawuran, bolos sekolah, serta pelanggaran tata tertib sekolah, masih sering terjadi di berbagai Bahkan, penelitian (Lestari & Handika, 2. menunjukkan bahwa masalah kedisiplinan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi rendahnya kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Kedisiplinan merupakan salah satu nilai karakter utama yang harus ditanamkan sejak Thomas Gordon menyebutkan disiplin adalah perilaku dan tatat tertib yang sesuai dengan peraturan dan ketetapan, atau perilaku yang diperoleh dari pelatihan yang dilakukan secara terus menerus (Sulistiyono, 2. Siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi akan lebih teratur dalam belajar, menghargai waktu, serta menjaga lingkungan sekolah. Sebaliknya, kurangnya kedisiplinan berpotensi menimbulkan perilaku negatif, seperti malas belajar, melanggar tata tertib, bahkan melakukan tindakan asusila. Konteks pembelajaran di sekolah dasar, kedisiplinan merupakan pondasi awal dari pembentukan karakter anak. Disiplin mengajarkan anak untuk menaati aturan, mengatur waktu, dan menanamkan kesadaran bahwa keberhasilan membutuhkan usaha dan konsistensi (Rohman, 2. Pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis di sekolah terbukti dapat meningkatkan kedisiplinan siswa, khususnya dalam hal ketepatan waktu, tanggung jawab terhadap tugas, serta kepatuhan terhadap tata tertib sekolah (Nasution et al. , 2. Namun demikian, pelaksanaan pendidikan karakter disiplin di sekolah dasar masih menghadapi banyak kendala, baik dari aspek manajemen sekolah, keterlibatan guru, maupun peran keluarga. Upaya memperkuat pendidikan karakter, khususnya aspek kedisiplinan, diwujudkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan mencanangkan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat . KAIH). Program ini merupakan model pendidikan karakter yang berorientasi pada pembiasaan perilaku positif untuk membentuk karakter anak yang tangguh, berakhlak, dan berdisiplin. Menurut Purwanti. Sanjaya, dan Suastika . dalam penelitian mereka tentang implementasi 7KAIH di sekolah dasar, kebiasaan positif yang dilakukan secara berulang dapat membentuk pola perilaku dan karakter anak yang berkelanjutan. Program 7KAIH sejalan dengan teori habituation yang dikemukakan oleh Aristotle, bahwa karakter terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu lama. Program ini terdiri atas: Bangun pagi . elatih kedisiplinan wakt. Beribadah ( menanamkan religiusitas dan moralita. Berolahraga . enjaga kesehatan dan semangat kerja kera. Makan sehat bergizi . embentuk gaya hidup seha. Gemar belajar . enumbuhkan kecerdasan dan rasa ingin tah. Bermasyarakat . elatih kepedulian sosial dan tanggung jawa. dan Tidur cepat . enumbuhkan keteraturan dan disiplin hidu. Program 7KAIH sejalan dengan delapan karakter utama bangsa, yaitu religius, bermoral, sehat, cerdas dan kreatif, kerja keras, disiplin dan tertib, mandiri, serta bermanfaat (Rofiqi et al. , 2. Implementasi kebiasaan ini akan menumbuhkan karakter disiplin, karena peserta didik dilatih untuk hidup teratur, patuh terhadap aturan, serta konsisten dalam menjalankan kewajiban. Program 7KAIH memiliki dasar psikopedagogis yang kuat. Berdasarkan teori pembiasaan sosial dari Bandura . , perilaku anak terbentuk melalui proses observasi dan imitasi terhadap model yang diteladani (Prasetiya & Cholily, 2. Dalam konteks sekolah, guru berperan sebagai model utama bagi peserta didik dalam menanamkan kedisiplinan. Oleh karena itu, keberhasilan penerapan 7KAIH tidak hanya bergantung pada aturan dan kegiatan 192 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 rutin, tetapi juga pada komitmen guru sebagai figur teladan yang konsisten. Selain itu, keterlibatan orang tua juga sangat penting agar pembiasaan yang dibangun di sekolah dapat berlanjut di rumah. Penelitian oleh Hartati dan Nisa . menegaskan bahwa kolaborasi antara sekolah dan keluarga memperkuat internalisasi nilai-nilai karakter, khususnya kedisiplinan dan tanggung jawab. Pelaksanaan program 7KAIH juga mendukung prinsip pembelajaran holistik yang menekankan keseimbangan antara learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. Program ini mendorong peserta didik untuk tidak hanya memahami pentingnya disiplin, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari kepribadian. Selain itu, melalui kegiatan pembiasaan seperti apel pagi, doa bersama, kebersihan lingkungan, serta pengaturan waktu belajar, siswa belajar untuk mengembangkan kontrol diri dan tanggung jawab terhadap kewajiban mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan melalui 7KAIH mampu membentuk karakter disiplin peserta didik. (Alfianti & Lubis, 2. menemukan bahwa implementasi penguatan pendidikan karakter (PPK) melalui budaya sekolah lebih efektif ketika berbentuk kegiatan harian yang nyata. (Suprapti et al. , 2. membuktikan bahwa 7KAIH berpengaruh positif terhadap peningkatan kedisiplinan siswa sekolah dasar. (Syam et al. , 2. menekankan pentingnya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam menanamkan 7KAIH. Tanpa dukungan keluarga, pembiasaan di sekolah tidak akan berlanjut di rumah. Penelitian-penelitian tersebut memperkuat asumsi bahwa pembentukan karakter disiplin harus dilakukan melalui pembiasaan positif yang terintegrasi dalam budaya sekolah. Sekolah dasar 06 dan 09 Kecamatan Buntulia, merupakan sekolah dasar yang menghadapi tantangan dalam menegakkan kedisiplinan siswa. Berdasarkan pengamatan awal. Sekolah Dasar 06 dan 09 Kecamatan Buntulia menjadi contoh nyata tantangan implementasi kedisiplinan. SDN 06 memiliki 107 siswa, dengan 35 siswa tercatat mendapatkan penegasan khusus terkait kedisiplinan karena sering terlambat, kurang tertib, atau belum mematuhi aturan sekolah. Sementara itu. SDN 09 memiliki 150 siswa, dan sebanyak 45 siswa mendapatkan penegasan kedisiplinan karena menunjukkan perilaku kurang disiplin dalam kegiatan belajar maupun tata tertib sekolah. Data ini menunjukkan bahwa sebagian peserta didik masih belum memiliki kesadaran disiplin yang kuat dan membutuhkan intervensi melalui program Dengan diterapkannya program 7KAIH, sekolah memiliki peluang besar untuk membentuk kedisiplinan siswa melalui pembiasaan positif. Guru, kepala sekolah, dan orang tua perlu bekerja sama agar program ini tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga di rumah. METODE Metode penelitian berisi jenis penelitian, sampel dan populasi atau subjek penelitian, waktu dan tempat penelitian, instrumen, prosedur dan teknik penelitian, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan cara penelitian. Bagian ini dapat dibagi menjadi beberapa sub bab, tetapi tidak perlu mencantumkan penomorannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berusaha memahami fenomena secara mendalam mengenai proses penguatan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat . KAIH) dalam membentuk karakter disiplin peserta didik di sekolah dasar. Menurut Creswell . , penelitian kualitatif bertujuan untuk menggali makna, pemahaman, dan pandangan individu terhadap suatu fenomena sosial dalam konteks yang alam. Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif merupakan instrumen utama yang menentukan kualitas proses pengumpulan data maupun ketepatan interpretasi terhadap fenomena yang diteliti. Pada penelitian ini, peneliti hadir secara langsung di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia Kabupaten Pohuwato sebagai bagian dari upaya memperoleh data yang autentik, mendalam, dan sesuai dengan konteks alamiah tempat penelitian berlangsung. 193 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Jenis Data Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi di lapangan. Data sekunder, yaitu data pendukung seperti dokumen sekolah, laporan kegiatan, foto, dan literatur terkait program 7KAIH serta pembentukan karakter disiplin. Teknik dan prosedur Pengumpulan Data. Metode Observasi. Observasi atau pengamatan dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek Metode WawancaraWawancara adalah proses percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara . yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan. Dalam hal ini, peneliti menggunakan wawancara terstruktur, dimana seorang pewawancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan untuk mencari jawaban atau hipotesis yang disusun dengan ketat. Dalam melaksanakan teknik wawancara, pewawancara harus mampu menciptakan hubungan yang baik sehingga informan bersedia bekerja sama, dan merasa bebas berbicara dan dapat memberikan informasi yang sebenarnya. Teknik wawancara yang peneliti gunakan adalah secara terstruktur . yaitu dengan menyusun terlebih dahulu beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan kepada narasumber agar mendapatkan informasi yang akurat Metode Dokumentasi Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Dalam pelaksanaan metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti, buku-buku, majalah, dokumen peraturan- peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung terusmenerus, sejak data dikumpulkan hingga penelitian selesai. Mengacu pada model Miles. Huberman, dan Saldana . , langkah-langkah analisis data meliputi Reduksi Data (Data Reductio. Penyajian Data (Data Displa. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion Drawing/Verificatio. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Penguatan Karakter Disiplin Melalui Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat . KAIH) di SDN 06 dan SDN 09 Buntulia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat . KAIH) di SDN 06 dan SDN 09 Buntulia dilakukan melalui pembiasaan yang terintegrasi dalam kegiatan harian sekolah. Program ini tidak hanya bersifat formal, tetapi telah menjadi budaya sekolah yang membentuk perilaku peserta didik secara . Bangun Pagi Kebiasaan bangun pagi dalam Program 7KAIH berperan penting dalam membentuk karakter disiplin waktu peserta didik. Di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia, kebiasaan ini diterapkan melalui pembiasaan datang tepat waktu sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Guru secara konsisten memberikan pembinaan dan teguran edukatif kepada siswa yang terlambat serta bekerja sama dengan orang tua untuk mendukung penerapan disiplin di rumah. Secara teoretis, temuan ini sejalan dengan teori Thomas Gordon tentang disiplin sebagai hasil latihan yang dilakukan terus-menerus hingga menjadi kebiasaan (Gordon, 2. , serta teori Thomas Lickona yang menekankan integrasi moral knowing, moral feeling, dan moral action dalam pembentukan karakter (Mahruf et , 2. Kebiasaan bangun pagi juga mencerminkan konsep habitus Pierre Bourdieu, di mana perilaku disiplin terbentuk melalui pembiasaan di lingkungan sekolah dan keluarga. Selain itu, keteladanan guru sesuai teori sosial kognitif Albert Bandura turut memperkuat pembentukan disiplin siswa melalui proses observasi dan 194 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Namun, masih terdapat siswa yang terlambat akibat kurangnya pengawasan Karena itu, keberhasilan kebiasaan bangun pagi sangat dipengaruhi oleh sinergi antara pembiasaan di sekolah, keteladanan guru, dan dukungan orang tua. Dengan penerapan yang konsisten, kebiasaan bangun pagi tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga membentuk karakter disiplin yang melekat pada diri siswa . Beribadah Kebiasaan beribadah dalam Program 7KAIH berperan penting dalam membentuk karakter disiplin moral dan spiritual peserta didik. Di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia, kebiasaan ini diterapkan melalui doa bersama sebelum dan sesudah pembelajaran, pembiasaan mengucapkan salam, serta penanaman sikap sopan santun. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin dan terstruktur sehingga menjadi budaya sekolah yang membentuk keteraturan dan kedisiplinan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengikuti kegiatan ibadah dengan tertib dan disiplin, serta guru mengintegrasikan nilai-nilai religius dalam proses Secara teoretis, temuan ini sejalan dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona yang menekankan moral knowing, moral feeling, dan moral action dalam pembentukan karakter. Kebiasaan beribadah juga sesuai dengan teori Thomas Gordon tentang disiplin diri, karena siswa dilatih untuk menaati aturan berdasarkan kesadaran, bukan paksaan. Selain itu, teori behaviorisme menjelaskan bahwa pembiasaan yang dilakukan secara berulang dengan penguatan dari guru dapat membentuk perilaku disiplin yang menetap. Penelitian juga menunjukkan bahwa keberhasilan pembiasaan beribadah sangat dipengaruhi oleh dukungan keluarga. Siswa yang terbiasa beribadah di rumah cenderung lebih konsisten menjalankan kegiatan keagamaan di sekolah. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah dan keluarga sangat diperlukan agar nilai-nilai moral dapat terinternalisasi dengan baik. Secara keseluruhan, kebiasaan beribadah terbukti efektif dalam membentuk disiplin moral, pengendalian diri, dan tanggung jawab peserta didik . Berolahraga Kebiasaan berolahraga dalam Program 7KAIH berperan penting dalam membentuk karakter disiplin fisik peserta didik. Di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia, kebiasaan ini diterapkan melalui kegiatan rutin seperti senam pagi, pendidikan jasmani, dan aktivitas fisik lainnya yang dilakukan secara terjadwal. Melalui kegiatan tersebut, siswa dilatih untuk datang tepat waktu, mengikuti instruksi guru, menjaga keteraturan barisan, serta mematuhi aturan selama kegiatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa olahraga tidak hanya berfungsi menjaga kesehatan jasmani, tetapi juga menjadi sarana pembentukan disiplin, kerja sama, dan pengendalian diri. Temuan ini sejalan dengan teori behaviorisme Skinner yang menyatakan bahwa perilaku disiplin terbentuk melalui stimulus dan respons yang dilakukan secara berulang. Selain itu, teori Thomas Lickona menjelaskan bahwa olahraga mencerminkan aspek moral action karena siswa mempraktikkan disiplin secara langsung melalui tindakan nyata, seperti mengikuti aturan dan bekerja sama dengan teman. Kebiasaan berolahraga juga sesuai dengan teori Thomas Gordon tentang self-discipline, di mana siswa belajar mengendalikan perilaku dan bertanggung jawab melalui pembiasaan yang teratur. Selain membentuk disiplin fisik, kegiatan olahraga juga menanamkan nilai sportivitas, kerja sama, dan tanggung jawab sosial. Namun, penelitian menunjukkan masih terdapat kendala, seperti kurangnya kesadaran sebagian siswa dan keterbatasan sarana prasarana. Oleh karena itu, peran guru sebagai motivator dan 195 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 dukungan lingkungan sekolah sangat penting dalam menciptakan kegiatan olahraga yang teratur dan menyenangkan. Secara keseluruhan, kebiasaan berolahraga terbukti efektif dalam menanamkan karakter disiplin fisik peserta didik sehingga tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi bagian dari karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari. Makan Sehat dan Bergizi Kebiasaan makan sehat dan bergizi dalam Program 7KAIH berperan penting dalam membentuk karakter disiplin pola hidup peserta didik. Di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia, kebiasaan ini diterapkan melalui pembiasaan membawa bekal dari rumah, anjuran mengonsumsi makanan bergizi, serta edukasi tentang pentingnya menjaga pola makan sehat. Guru juga mengawasi jenis makanan yang dikonsumsi siswa dan mengarahkan mereka untuk menghindari makanan yang kurang higienis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa membawa bekal memiliki pola makan yang lebih teratur dan sehat. Selain menjaga kesehatan fisik, pembiasaan makan bersama juga melatih siswa untuk tertib, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Temuan ini sejalan dengan teori behaviorisme B. Skinner yang menyatakan bahwa perilaku disiplin terbentuk melalui pembiasaan yang dilakukan secara berulang. Kebiasaan makan sehat juga sesuai dengan teori Thomas Lickona, khususnya aspek moral knowing, moral feeling, dan moral action, karena siswa tidak hanya memahami pentingnya pola hidup sehat tetapi juga membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, teori Thomas Gordon menjelaskan bahwa kebiasaan makan sehat mencerminkan kemampuan self-regulation atau disiplin diri, sedangkan teori Abraham Maslow menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi merupakan dasar penting bagi kesiapan belajar dan perkembangan siswa. Kebiasaan ini juga berkaitan dengan konsep habitus Pierre Bourdieu, di mana pembiasaan yang dilakukan terusmenerus akan membentuk pola perilaku positif yang menetap dalam diri siswa. Namun, masih terdapat kendala seperti kurangnya kesadaran sebagian siswa dalam memilih makanan sehat serta pengaruh jajanan kurang sehat di luar sekolah. Oleh karena itu, dukungan keluarga sangat diperlukan melalui penyediaan makanan sehat dan pembiasaan membawa bekal dari rumah. Secara keseluruhan, kebiasaan makan sehat dan bergizi terbukti efektif dalam menanamkan disiplin pola hidup, tanggung jawab, dan kemampuan mengatur diri sehingga menjadi bagian dari karakter peserta didik dalam kehidupan sehari-hari . Gemar Belajar Kebiasaan gemar belajar dalam Program 7KAIH berperan penting dalam membentuk karakter disiplin akademik peserta didik. Di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia, kebiasaan ini diterapkan melalui pembiasaan mengikuti pembelajaran secara tertib, mengerjakan tugas tepat waktu, serta aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru secara konsisten memberikan arahan dan bimbingan agar siswa terbiasa fokus, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap tugas Selain itu, sekolah menciptakan suasana belajar yang kondusif sehingga siswa merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kebiasaan belajar yang baik cenderung lebih disiplin, fokus, dan mampu menyelesaikan tugas tepat Sebaliknya, siswa yang kurang memiliki kebiasaan belajar sering menunda pekerjaan dan kurang bertanggung jawab terhadap tugasnya. Temuan ini sejalan dengan teori konstruktivisme Jean Piaget dan Lev Vygotsky yang menekankan bahwa pembelajaran merupakan proses aktif dalam membangun pengetahuan 196 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 melalui pengalaman belajar. Kebiasaan gemar belajar juga relevan dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona, khususnya aspek moral knowing, moral feeling, dan moral action, karena siswa tidak hanya memahami pentingnya belajar tetapi juga membiasakannya secara konsisten. Selain itu, teori behaviorisme B. Skinner menjelaskan bahwa disiplin belajar terbentuk melalui pembiasaan dan penguatan, seperti pemberian tugas, aturan, serta penghargaan dari guru. Teori Thomas Gordon juga menegaskan pentingnya selfdiscipline, di mana siswa belajar mengatur waktu, mengendalikan diri, dan bertanggung jawab terhadap kewajiban akademiknya. Sementara itu, teori sosial kognitif Albert Bandura menunjukkan bahwa keteladanan guru dalam bersikap disiplin menjadi contoh yang ditiru siswa dalam membentuk kebiasaan belajar yang Secara keseluruhan, kebiasaan gemar belajar terbukti memiliki kontribusi yang signifikan dalam membentuk karakter disiplin akademik peserta didik. Melalui pembiasaan yang konsisten, siswa tidak hanya belajar mematuhi aturan, tetapi juga mengembangkan tanggung jawab, kemandirian, dan motivasi belajar. Keberhasilan kebiasaan ini sangat dipengaruhi oleh konsistensi sekolah, keteladanan guru, dan dukungan keluarga sehingga kebiasaan belajar dapat menjadi bagian dari karakter disiplin siswa dalam kehidupan sehari-hari. Bermasyarakat Kebiasaan bermasyarakat dalam Program 7KAIH berperan penting dalam membentuk karakter disiplin sosial peserta didik. Di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia, kebiasaan ini diterapkan melalui kegiatan kerja kelompok, gotong royong, kebersihan lingkungan sekolah, serta pembiasaan sikap saling menghargai dan membantu sesama. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin dan terintegrasi dalam pembelajaran maupun aktivitas di luar kelas sehingga melatih siswa untuk berinteraksi secara tertib dan bertanggung jawab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang aktif dalam kegiatan sosial cenderung lebih disiplin dalam berinteraksi, seperti mampu menunggu giliran, menghargai pendapat orang lain, serta mematuhi aturan dalam kerja kelompok. Sebaliknya, siswa yang kurang terbiasa bersosialisasi cenderung sulit bekerja sama dan kurang peduli terhadap lingkungan. Temuan ini sejalan dengan teori sosial kognitif Albert Bandura yang menyatakan bahwa perilaku terbentuk melalui proses observasi dan imitasi terhadap lingkungan sosial. Dalam hal ini, siswa belajar disiplin sosial melalui keteladanan guru dan teman sebaya. Kebiasaan bermasyarakat juga relevan dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona, khususnya aspek moral action, karena nilai-nilai sosial seperti kerja sama, toleransi, dan tanggung jawab dipraktikkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dari perspektif teori kedisiplinan, kegiatan sosial membantu menumbuhkan self-discipline, di mana siswa belajar mengendalikan diri, menghormati hak orang lain, dan bertanggung jawab terhadap perilakunya dalam Namun, penelitian juga menunjukkan adanya kendala, seperti kurangnya kesadaran sebagian siswa dan pengaruh lingkungan luar sekolah yang kurang Oleh karena itu, keberhasilan pembentukan disiplin sosial memerlukan sinergi antara sekolah, guru, dan keluarga. Secara keseluruhan, kebiasaan bermasyarakat terbukti efektif dalam menanamkan karakter disiplin sosial, kepedulian, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap norma dalam kehidupan sehari-hari. Tidur Cepat 197 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Kebiasaan tidur cepat dalam Program 7KAIH berperan penting dalam membentuk karakter disiplin peserta didik, khususnya dalam aspek disiplin waktu, pengendalian diri, dan keteraturan pola hidup. Di SDN 06 dan SDN 09 Buntulia, siswa yang terbiasa tidur lebih awal cenderung datang tepat waktu ke sekolah, lebih aktif dalam pembelajaran, serta memiliki kondisi fisik dan konsentrasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa yang sering tidur larut malam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tidur cepat tidak hanya dipahami sebagai kebutuhan istirahat, tetapi juga sebagai latihan disiplin dalam mengatur waktu dan mengendalikan diri. Siswa dibiasakan untuk membatasi aktivitas malam hari, seperti penggunaan gadget atau menonton televisi secara Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan disiplin tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan dalam lingkungan Secara teoretis, temuan ini sejalan dengan teori behaviorisme B. Skinner yang menyatakan bahwa perilaku disiplin terbentuk melalui proses stimulus dan respons yang dilakukan secara berulang. Pembiasaan tidur cepat yang dilakukan secara konsisten melalui arahan guru dan pengawasan orang tua akhirnya menjadi bagian dari pola hidup siswa. Selain itu, konsep habitus Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa kebiasaan yang dilakukan terus-menerus akan membentuk karakter individu. Dalam hal ini, kebiasaan tidur cepat membantu membentuk pola hidup yang teratur dan disiplin pada peserta didik. Temuan penelitian juga relevan dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona, khususnya dalam aspek moral action, karena siswa tidak hanya mengetahui pentingnya disiplin waktu tetapi juga mempraktikkannya secara langsung melalui pengaturan jam tidur dan aktivitas malam. Kebiasaan ini membantu siswa mengembangkan tanggung jawab, kontrol diri, dan kesiapan belajar. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa faktor keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan pembiasaan tidur cepat. Orang tua berperan dalam mengatur jam tidur anak, membatasi penggunaan gadget, serta menciptakan lingkungan rumah yang mendukung pola hidup disiplin. Oleh karena itu, keberhasilan pembentukan karakter disiplin melalui kebiasaan tidur cepat memerlukan kerja sama antara sekolah dan keluarga. Secara keseluruhan, kebiasaan tidur cepat terbukti efektif dalam membentuk peserta didik yang lebih disiplin, tertib, sehat, dan siap mengikuti proses pembelajaran secara optimal. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Program 7KAIH dalam Membentuk Karakter Disiplin Pelaksanaan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat . KAIH) dalam membentuk karakter disiplin peserta didik tidak terlepas dari berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilannya. Faktor-faktor tersebut berasal dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan eksternal, seperti keluarga dan sekolah. Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh sinergi antara faktor-faktor tersebut dalam mendukung proses pembiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan . Kesadaran Siswa Kesadaran siswa memiliki peranan penting dalam keberhasilan Program 7KAIH dalam membentuk karakter disiplin. Kesadaran ini tidak hanya berkaitan dengan pemahaman terhadap aturan, tetapi juga kesiapan internal siswa untuk melaksanakan kebiasaan positif secara konsisten. Hasil penelitian di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia menunjukkan bahwa sebagian siswa telah mampu menunjukkan perilaku disiplin secara mandiri, seperti datang tepat waktu, mengikuti pembelajaran dengan tertib, dan bertanggung jawab terhadap tugas. Namun, masih 198 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 terdapat siswa yang kurang konsisten sehingga membutuhkan bimbingan lebih Siswa yang memiliki kesadaran tinggi cenderung mampu mengontrol perilaku tanpa harus selalu diingatkan, sedangkan siswa dengan kesadaran rendah lebih sering mematuhi aturan hanya ketika diawasi. Temuan ini sejalan dengan pendapat (Nugrahani et al. , n. ) yang menyatakan bahwa kesadaran merupakan faktor utama dalam pembentukan perilaku disiplin karena individu terdorong oleh kemauan dari dalam diri, bukan tekanan dari luar. Kesadaran ini juga berkaitan dengan konsep self-discipline, yaitu kemampuan individu dalam mengatur dan mengendalikan perilakunya secara mandiri. Pembentukan kesadaran tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses pembiasaan yang berkelanjutan. Program 7KAIH yang diterapkan secara konsisten membantu siswa membangun kebiasaan positif hingga menjadi bagian dari kesadaran diri. Selain itu, lingkungan sekolah yang disiplin, keteladanan guru, serta dukungan keluarga memiliki pengaruh besar dalam menanamkan nilai disiplin pada Guru berperan melalui pemberian motivasi, arahan, dan penguatan positif, sedangkan orang tua membantu memperkuat pembiasaan di rumah. Secara keseluruhan, kesadaran siswa merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter disiplin melalui program 7KAIH. Tanpa adanya kesadaran, kebiasaan yang diterapkan hanya bersifat sementara. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran siswa perlu menjadi fokus utama melalui pembiasaan yang konsisten, keteladanan, serta kerja sama antara sekolah dan keluarga agar disiplin dapat melekat dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian Orang Tua Perhatian orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan Program 7KAIH, khususnya dalam pembentukan karakter disiplin peserta didik. Perhatian tersebut tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga pengawasan, bimbingan, motivasi, serta penanaman nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia menunjukkan bahwa siswa yang mendapatkan perhatian dan pendampingan dari orang tua cenderung lebih disiplin dalam menjalankan kebiasaan seperti bangun pagi, belajar, beribadah, dan menjaga pola hidup sehat. Sebaliknya, siswa yang kurang mendapatkan perhatian menunjukkan perilaku yang kurang konsisten dalam menerapkan kebiasaan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Kebiasaan yang ditanamkan di rumah akan memengaruhi perilaku siswa di sekolah. Hal ini sejalan dengan pandangan (Hadian et al. , 2. yang menyatakan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter. Nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua akan membentuk pola perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian orang tua juga berkaitan dengan konsep pembelajaran sosial, di mana anak belajar melalui observasi dan imitasi. Orang tua yang menunjukkan perilaku disiplin, seperti mengatur waktu, bekerja teratur, dan bertanggung jawab, akan menjadi teladan yang ditiru oleh anak. Selain itu, perhatian orang tua berfungsi sebagai penguatan terhadap kebiasaan positif yang telah diajarkan di sekolah. Ketika pembiasaan disiplin juga diterapkan di rumah, maka proses internalisasi nilai disiplin akan berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan. Pengawasan orang tua turut berperan dalam menjaga konsistensi perilaku anak agar tetap terarah dan terhindar dari pengaruh lingkungan yang kurang mendukung. Bentuk perhatian tersebut dapat berupa pendampingan belajar, mengingatkan anak 199 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 menjalankan kewajiban, serta memberikan motivasi dan penghargaan atas perilaku Di samping itu, komunikasi dan kerja sama antara orang tua dan sekolah menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program 7KAIH. Secara keseluruhan, perhatian orang tua merupakan faktor eksternal yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter disiplin siswa. Tanpa dukungan keluarga, pembiasaan disiplin yang dilakukan di sekolah akan sulit mencapai hasil yang Oleh karena itu, sinergi antara sekolah dan orang tua sangat diperlukan agar nilai-nilai disiplin dapat tertanam secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Lingkungan Lingkungan memiliki peranan penting dalam keberhasilan Program 7KAIH dalam membentuk karakter disiplin peserta didik. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi perilaku siswa. Hasil penelitian di SDN 06 dan SDN 09 Kecamatan Buntulia menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang tertib, bersih, dan memiliki budaya disiplin memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan perilaku disiplin siswa. Interaksi sosial antar siswa juga mencerminkan adanya pembiasaan nilai-nilai disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang berada dalam lingkungan kondusif cenderung lebih mudah mengembangkan perilaku disiplin karena adanya aturan, pengawasan, dan kebiasaan positif yang diterapkan secara konsisten. Sebaliknya, lingkungan yang kurang mendukung dapat menjadi penghambat dalam pembentukan karakter disiplin. Temuan ini sejalan dengan temuan penelitian yang menyatakan bahwa lingkungan memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku individu melalui stimulus positif maupun negatif. Lingkungan sekolah sebagai tempat utama pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan budaya disiplin melalui pembiasaan yang Dari perspektif pembelajaran sosial, siswa belajar disiplin melalui proses observasi dan imitasi terhadap perilaku guru dan teman sebaya. Selain itu, lingkungan keluarga juga berperan penting dalam memperkuat kebiasaan disiplin yang diajarkan di sekolah. Keluarga yang menerapkan nilai disiplin dalam kehidupan sehari-hari akan membantu siswa mempertahankan perilaku positif Lingkungan masyarakat pun turut memengaruhi pembentukan karakter siswa, baik melalui pengaruh positif maupun negatif dari lingkungan sosial sekitar. KESIMPULAN Pelaksanaan penguatan karakter disiplin melalui Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat . KAIH) di SDN 06 dan SDN 09 Buntulia dilakukan melalui pembiasaan tujuh kebiasaan utama, yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat yang diterapkan secara rutin dalam aktivitas sehari-hari di sekolah. Program ini berhasil membentuk perilaku disiplin peserta didik, seperti tepat waktu, patuh terhadap aturan, bertanggung jawab, dan mampu mengendalikan perilaku. Keberhasilan pelaksanaan program dipengaruhi oleh faktor pendukung seperti kesadaran siswa, keteladanan guru, perhatian orang tua, dan lingkungan sekolah yang kondusif, sedangkan faktor penghambat meliputi rendahnya kesadaran sebagian siswa, kurangnya pengawasan orang tua, serta pengaruh lingkungan pergaulan. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial sangat penting dalam mendukung keberhasilan program 7KAIH dalam membentuk karakter disiplin peserta didik. 200 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 REFERENSI