SILABUS: Jurnal Ilmu dan Inovasi Pendidikan Vol. 1 No. Agustus 2024, pages: 40-56 DOI: https://doi. org/10. 62667/ silabus. e-ISSN: 3047-1044 https://berugakbaca. org/index. php/silabus The Effect of Training. Teaching Experience, and Organizational Culture on the Professionalism of State Senior High School Teachers Hana Maria Uli Lumbanraja STIKES Suaka Insan Banjarmasin lumbanrajahana@gmail. Article History Manuscript submitted: 14 Agustus 2024 Manuscript revised: 15 Agustus 2024 Accepted for publication: 19 Agustus 2024 Keywords Training. Teaching Experience. Organizational Culture. Teacher Professionalism. Abstract This study aims to determine how much influence training, teaching experience, and organizational culture have on teacher professionalism in public high schools partially and simultaneously. This research is a quantitative research with ex-post facto research type. The population in this study were all teachers at public high schools in Muara Enim District, totaling 128 people who were taken as respondents . opulation stud. Data collection techniques using questionnaires and documentation Instrument validity test using Expert Judgment and Product Moment Correlation. Instrument reliability test using Cronbach's Alpha. Data analysis techniques using multiple linear regression methods. The results showed that: . There is a partial effect of training on teacher professionalism by 8. 8%, this is indicated by the tcount value of 2. 871> ttable significance value of 0. 005 <0. There is a partial effect of teaching experience on teacher professionalism by 7. 1%, this is indicated by the tcount value of 2. 269> ttable 1. significance value of 0. 025 < 0. There is a partial influence of school organizational culture on teacher professionalism by 10. 1%, this is indicated by the tcount value of 2. 603 > ttable significance value of 0. 010 < 0. Simultaneously there is an influence of training, teaching experience, and school organizational culture on the professionalism of public high school teachers in Muara Enim District by 26. 1%, this is indicated by the Fcount value 14. 579 > Ftable 68 and a significance value of 0. 000 < 0. SILABUS@ 2024 PENDAHULUAN Di era perkembangan zaman saat ini, pendidikan memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi bangsa. Pendidikan dapat diraih dengan berbagai macam cara, salah satunya melalui pendidikan di sekolah. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal dimana terjadi proses pendidikan itu berlangsung. Dalam proses pendidikan di sekolah, bagaimanapun bagusnya materi pembelajaran yang telah di rancangkan, pemberian materi kepada siswa, baik dengan dukungan berbagai buku, media pembelajaran dan fasilitas sarana prasarana yang ada di sekolah, jika tidak dilaksanakan oleh guru yang profesional, maka proses belajarpun tentunya tidak akan menghasilkan hasil belajar yang maksimal. Sampai saat ini, masalah utama pendidikan tidak jauh dari soal guru. Tugas utama guru adalah mengajar dan keberhasilan pembelajaran selalu dihubungkan dengan profesionalitas guru. Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Pasal 28, mengamanatkan bahwa guru professional haru memiliki empat kompetensi utama yakni: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Akan tetapi, dari 3,9 juta guru, masih terdapat 25% guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik, dan 52% guru belum memenuhi sertifikat Bahkan, jika diukur dari kompetensi utama guru yaitu komptensi pedagogik, hasilnya juga belum memuaskan (Yunus, 2. Masih ada juga sebagian guru yang mengajar dengan menggunakan metode textbook, sehingga membuat pembelajaran di kelas menjadi membosankan. Guru hanya sebatas mengajar dengan menggunakan metode lama dan belum cakap untuk menyesuaikan cara mengajar dengan perkembangan zaman yang serba teknologi. UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) Report pada tahun 2016, menempatkan pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang. Di ASEAN. Indonesia berada di posisi keenam dengan skor sebesar 38,61 (Gerintya, 2. Peringkat Indonesia pada Global Talent Competitiveness Index (GTCI) yang diterbitkan INSEAD (Institut Europyen d'Administration des Affaire. tahun 2014 di posisi 86 meningkat menjadi 67 di tahun 2019. GTCI atau Global Talent Competitiveness Index adalah pemeringkatan daya saing Negara berdasarkan kemampuan atau talenta sumber daya manusia yang dimiliki oleh negara tersebut (Larasati, 2. Sementara itu, untuk komponen guru pada tahun 2016 menempati urutan ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia dan angka indeks pembangunan manusia (IPM) dari United Nations Development Programme (UNDP). Indonesia berada di peringkat ke-113 dari 188 negara, dan hanya meraih 0,689. Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) sejak tahun 2015, menghasilkan nilai ratarata guru secara nasional sebesar 56,69 dan pada tahun 2017 nilai rata-rata masih di bawah 70 poin dari nilai maksimal 100 (Seftiawan, 2. Dan sampai pada tahun 2019, diketahui dalam Neraca Pendidikan Daerah Kemdikbud, bahwa hasil UKG secara nasioal masih di bawah 70. Hasil ini masih jauh dari harapan pemerintah untuk meraih nilai rata-rata 80 poin. Secara nasional, hasil UKG terbesar di atas 50 diperoleh pada guru yang sebagian besar berada di pulau Jawa, khusunya di Jakarta. Yogyakarta, dan Jawa Timur (Syamsuriyanti, 2. Berdasarkan observasi pada SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim didapatkan problematika bahwa kualitas guru di sekolah tersebut masih dinilai kurang maksimal. Menurut informasi dari salah satu guru SMA Negeri di Muara Enim, menyatakan bahwa masih ada sebagian guru yang mengajar dengan tidak terencana, artinya guru hanya mengandalkan buku dalam mengajar dan kurang menguasai materi yang diajarkan. Kondisi ini cenderung lebih mengarah ke guru muda atau guru yang belum memiliki banyak pengalaman mengajar, sedangkan untuk guru yang lebih tua atau yang memiliki pengalaman mengajar lebih lama malah kurang mampu dalam menggunakan media IPTEK dalam proses pembelajaran. Mashoedah . , menyatakan bahwa langkah untuk meningkatkan profesionalisme guru diperlukan pelatihan-pelatihan kompetensi guru. Akan tetapi, masih ada didapatkan bahwa motivasi guru dalam mengikuti program pelatihan dinilai masih kurang, selain itu juga program pelatihan yang ada Muara Enim masih terbatas. Terbatasnya pelatihan membuat sebagian guru bingung untuk meningkatkan inovasi dan strategi dalam mengajar. Belum lagi guru yang memiliki pengalaman mengajar yang relatif lama cenderung memiliki sikap konservatif atau sudah terbiasa dengan tradisi lama. Profesionalisme guru di SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim juga dipengaruhi oleh budaya organisasi yang ada di masing-masing sekolah. Sekolah satu dengan sekolah lainnya memiliki budaya organisasi yang berbeda-beda. Pada observasi ditemukan bahwa di SMA negeri yang berada di daerah pinggiran, terlihat tidak memiliki kedisplinan yang tinggi, akan tetapi ditemukan bahwa guru saling merangkul satu dengan yang lain. Berbeda dengan sekolah yang berada perkotaan, khususnya di sekolah favorit cenderung memiliki kedisplinan yang sangat tinggi, akan tetapi kerja sama antar guru sangat kurang, dalam arti bahwa guru cenderung bersikap individual dalam melaksakan tugas dengan persepsinya masing-masing. Profesionalisme guru sangat berguna bagi pemerintah terutama pemerintah daerah, karena jika profesionalisme guru semakin meningkat maka akan meningkatkan mutu pendidikan daerah Melihat permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka usaha peningkatkan profesionalisme guru dinilai menjadi hal yang sangat penting khususnya di SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim. Setiap guru dituntut untuk memiliki sifat-sifat profesionalisme yang Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuPengaruh Pelatihan. Pengalaman Mengajar, dan Budaya Organisasi Sekolah terhadap Profesionalisme Guru SMA Negeri di Kacamatan Muara EnimAy. METODE Bagian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menekankan analisisnya pada datadata numerik yang diolah dengan metode statistika untuk mengukur serta mendapatkan hasil Penelitian ini termasuk penelitian ex-post facto dengan jenis causal compararative research. Berdasarkan tujuannya, causal comparative research dapat berupa menguji perbandingan atau dapat pula untuk menguji pengaruh suatu variabel terhadap variabel yang lain, dan penelitian ini erat kaitannya dengan metode penelitian korelasi. Populasi pada penelitian ini adalah semua guru SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim yang berjumlah 128 orang. Teknik pengumpulan data dengan kuisioner dan studi dokumentasi. Data dikumpulkan dengan kuisioner yang terlebih dahulu telah di uji validitas menggunakan expert judgment dan product moment correlation dan di uji reliabilitas menggunakan CronbachAos Alpha. Teknik analisis data dengan metode regresi linier berganda. Sebelum pengujian hipotesis dilakukan uji prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas, uji linieritas, uji multikolinieritas, dan uji Kuisioner dalam penelitian ini menggunakan empat alternatif jawaban dengan perhitungan scoring mengguanakan skala likert . Adapun rincian kuisioner pada penelitian ini ada 3 Variabel Independen yaitu Pelatihan (X. Pengalaman Mengajar (X. Budaya Organisasi Sekolah (X. dan Variabel Dependen yaitu Profesionalisme Guru (Y). Uji coba instrumen dilakukan pada 30 responden yang diambil secara acak. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 23 dan dihitung dengan teknik korelasi product moment correlation dari Pearson (Sugiyono, 2. Hasil Uji Validitas pada variabel Pelatihan (X. yaitu dari 20 pernyataan, sebanyak 18 pernyataan valid dan sebanyak 2 pernyataan tidak valid. Variabel Pengalaman Mengajar (X. yaitu dari 15 pernyataan, sebanyak 14 pernyataan valid dan sebanyak 1 pernyataan tidak valid. Variabel Budaya Organisasi Sekolah (X. yaitu dari 20 pernyataan, sebanyak 19 pernyataan valid dan sebanyak 1 pernyataan tidak valid. Variabel Profesionalisme Guru (Y) yaitu dari 40 pernyataan, sebanyak 34 pernyataan valid dan sebanyak 6 pernyataan tidak valid. Pernyataan yang tidak valid dibuang peneliti karena masih ada pernyataan lain yang sudah mewakili untuk mengukur indikator dari variabel pelatihan. Tabel 1 Uji Reliabilitas Variabel CronbachAos Alpha Pelatihan 0,844 Pengalaman Mengajar 0,839 Budaya Organisasi Sekolah 0,831 Profesionalisme Guru 0,922 Pada tabel 1 di atas menunjukan bahwa semua variabel mempunyai nilai CronbachAos Alpha lebih besar dari 0,800 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua instrumen pada variabel penelitian dinyatakan reliabel. Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas, dari 95 instrumen maka dihasilkan 85 instrumen yang dipakai untuk penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini ditujukan untuk melihat pengaruh pelatihan, pengalaman mengajar, dan budaya organisasi sekolah terhadap guru SMA Negeri. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Muara Enim selama dua bulan, pada tahun 2020. Hasil penelitian diperoleh data deskriptif sebagai berikut: Deskripsi Karakteristik Responden Dari 128 guru SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim diuraikan data hasil penelitian mengenai karakteristik responden berdasarkan usia, pendidikan terakhir, pengalaman mengajar, dan intensitas pelatihan yang diikuti. Usia 21 - 30 Tahun 31 - 40 Tahun 41 - 50 Tahun 51 Ae 60 Tahun Total Tabel 2 Usia Responden Presentase (%) Berdasarkan tabel 2, menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki usia 31 Ae 40 tahun. Tabel 3 Pendidikan Terakhir Responden Pendidikan Terakhir Presentase (%) Total Berdasarkan tabel 3, menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir S1. Tabel 4 Pengalaman Mengajar Responden Pengalaman Mengajar Presentase (%) 1 - 9 Tahun 10 - 18 Tahun 19 Ae 27 Tahun 28 - 36 Tahun Total Berdasarkan tabel 4, menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki pengalaman mengajar selama 10 - 18 tahun. Tabel 5 Intensitas Pelatihan Responden Intensitas Pelatihan Presentase (%) Belum Pernah 1 - 4 Kali 5 Ae 9 Kali Ou 10 Kali Total Berdasarkan tabel 5, menunjukan bahwa bahwa mayoritas responden memiliki intensitas pelatihan yang diikuti sebanyak 5 Ae 9 kali. Deskripsi Variabel Penelitian Hasil distribusi variabel penelitian di kategorikan dalam tiga kategori baik, cukup, kurang. Variabel diolah dengan penentuan jumlah kelas interval dan data di analisis menggunakan perhitungan kategorisasi dengan menggunakan rumus kategorisasi menggunakan nilai Mean dan Stadar Deviasi (SD). Tabel 6 Distribusi Variabel (X. Kategori Interval Frekuensi Baik X Ou 54 Cukup 36 O X < 54 Kurang X < 36 Total Kategori (%) 52,3% Data variabel pelatihan (X. diperoleh melalui instrumen kuisioner dengan 18 butir pertanyaan dan jumlah responden 128 orang. Berdasarkan tabel 6 dihasilkan bahwa guru yang menilai variabel pelatihan dalam kategori baik sebanyak 67 guru . ,3%), guru yang menilai variabel pelatihan dalam kategori cukup sebanyak 61 guru . ,7%), dan tidak ada guru yang menilai variabel pelatihan dalam kategori kurang . %). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas guru menilai variabel pelatihan dalam kategori baik. Tabel 7 Distribusi Variabel (X. Kategori Interval Frekuensi Baik X Ou 42 Cukup 28 O X < 42 Kurang X < 28 Total Kategori (%) Data variabel pengalaman mengajar (X. diperoleh melalui instrumen kuisioner dengan 14 butir pertanyaan dan jumlah responden 128 orang. Berdasarkan tabel 7 dihasilkan bahwa guru yang menilai variabel pengalaman mengajar dalam kategori baik sebanyak 99 guru . ,3%), guru yang menilai variabel pengalaman mengajar dalam kategori cukup sebanyak 29 guru . ,7%), dan tidak ada guru yang menilai variabel pengalaman mengajar dalam kategori kurang . %). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas guru menilai variabel pengalaman mengajar dalam kategori baik. Tabel 8 Distribusi Variabel (X. Kategori Interval Frekuensi Baik X Ou 57 Cukup 38 O X < 57 Kurang X < 38 Total Kategori (%) Data variabel budaya organisasi sekolah (X. diperoleh melalui instrumen angket dengan 19 butir pertanyaan dengan jumlah responden 128 orang. Berdasarkan tabel 8 dihasilkan bahwa guru yang menilai variabel budaya organisasi sekolah dalam kategori baik sebanyak 118 guru . ,2%), guru yang menilai variabel budaya organisasi sekolah dalam kategori cukup sebanyak 10 guru . ,8%), dan tidak ada guru yang menilai variabel budaya organisasi sekolah dalam kategori kurang . %). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas guru menilai variabel budaya organisasi sekolah dalam kategori baik. Tabel 9 Distribusi Variabel (Y) Kategori Interval Frekuensi Baik X Ou 102 Cukup 68 O X < 102 Kurang X < 68 Total Kategori (%) Data variabel variabel profesionalisme guru (Y) diperoleh melalui instrumen angket dengan 34 butir pertanyaan dengan jumlah responden 128 orang. Berdasarkan tabel 9 dihasilkan bahwa guru yang menilai variabel profesionalisme guru dalam kategori baik sebanyak 123 guru . ,1%), guru yang menilai variabel profesionalisme guru dalam kategori cukup sebanyak 5 guru . ,9%), dan tidak ada guru yang menilai variabel profesionalisme guru dalam kategori kurang . %). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas guru menilai variabel profesionalisme guru dalam kategori baik. Perbandingan Kecenderungan Antarvariabel Adapun untuk mengetahui perbandingan penilaian responden pada setiap variabel yang meliputi: variabel pelatihan, variabel pengalaman mengajar, variabel budaya organisasi sekolah, dan variabel profesionalisme guru yang dihitung berdasarkan nilai mean disajikan pada diagram berikut: Perbandingan Nilai Mean Variabel Pelatihan Pengalaman Mengajar Budaya Organisasi Sekolah Profesionalisme Guru Gambar 1. Diagram Perbandingan Variabel Pada gambar 1 diketahui bahwa variabel Y mendapatkan nilai mean tertinggi sebesar 113,22 yang merupakan penilaian terbaik dari responden. Variabel X3 menduduki peringkat kedua dengan nilai mean sebesar 63,26. dan variable X1 menduduki peringkat ketiga dengan nilai mean sebesar 52,79. Penilaian terendah dari responden pada variabel X2 dengan nilai mean sebesar 42,30. Uji Prasyarat Analisis Penelitian Hasil Uji Prasayat Analisis, berupa uji normalitas, uji linearitas, uji multikolinearitas, dan uji Gambar 2. Analisis Probability Plot Pada penelitian ini, uji normalitas menggunakan teknik analisis Probability Plot. Gambar 2. menunjukan bahwa penyebaran data ploting mengikuti garis diagonal, sehingga disimpulkan bahwa data variabel berdistribusi normal. Tabel 10 Uji Linearitas Hub Variabel Sig. Y*X1 0,721 Y*X2 0,820 Y*X3 0,334 Keterangan Linier Linier Linier Berdasarkan tabel 10. dihasilkan semua variabel memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 . ig > 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa semua data variabel bersifat linier. Tabel 11 Uji Multikoliearitas Variabel Tolerance 0,861 0,780 0,704 VIF 1,161 1,283 1,421 Berdasarkan tabel 11. dihasilkan perhitungan analisis yang menunjukkan bahwa nilai tolerance di atas 0,1 dan nilai VIF tiap variabel independen . di bawah 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi pada penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas. Gambar 3. Uji Heteroskedastisitas Pada gambar 3. hasil uji heteroskedastisitas didapatkan bahwa titik-titik pada gambar tidak membentuk pola atau berpola tidak jelas . dan titik-titik menyebar di atas dan di bawah 0 pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa data variabel tidak ada gelaja heteroskedastisitas. Uji Hipotesis Berdasarkan hasil diatas menunjukkan nilai konstanta sebesar 56,156 dapat diartikan bahwa apabila variabel pelatihan, pengalaman mengajar, dan budaya organisasi dianggap nol, maka variabel profesionalisme guru sebesar 56,156. Nilai koefisien beta pada variabel pelatihan (X. sebesar 0,281 artinya semakin tinggi pelatihan maka, semakin tinggi profesionalisme guru. Nilai koefisien beta pada variabel pengalaman mengajar (X. sebesar 0,438 artinya semakin tinggi pengalaman mengajar maka, semakin tinggi profesionalisme guru Dan hasil koefisien beta pada variabel budaya organisasi sekolah (X. sebesar 0,375 artinya semakin tinggi budaya organisasi sekolah maka, semakin tinggi profesionalisme Variabel Tabel 12 Analisis Regresi Liner Berganda Koefisien Regresi Sig. 0,281 2,871 0,005 0,438 2,269 0,025 Kesimpulan Signifikan Signifikan X3 0,375 Konstanta = 56,156 R square (R. = 0,261 Fhitung = 14,579 Sig. = 0,000 2,603 0,010 Signifikan Uji Parsial (Uji . Hasil uji t Parsial . egresi linear bergand. berdasarkan nilai signifikansi. Jika nilai signifikansi kurang dari 0,05 . ig<0,. maka dapat artikan bahwa variabel independen (X) secara parsial berepengaruh terhadap variabel dependen (Y). Perolehan data signifikansi diuraikan pada tabel Variabel Tabel 13 Signifikansi Uji t Koef. Regresi 0,281 0,438 0,375 Sig. 0,005 0,025 0,010 Dari tabel 13 di dapat hasilkan hipotesis yang dijabarkan sebagai berikut: Hipotesis Pertama AuPengaruh pelatihan terhadap profesionalisme guru SMA Negeri di Kecamatan Muara EnimAy Hasil statistik uji t untuk variabel pelatihan diperoleh tingkat signifikansi 0,005. karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 . ,005<0,. , dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,281. maka hipotesis pertama dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa AuTerdapat pengaruh pelatihan terhadap profesionalisme guru SMA Negeri di Kecamatan Muara EnimAy Sejalan dengan dengan hasil penelitian Agatha, dkk . menunjukkan bahwa pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap profesionalisme. Dan hasil penelitian Rahmawati, dkk . yang menunjukkan bahwa pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap profesionalisme guru di SMK Negeri 3 Palu dengan koefisien regresi sebesar 0,245. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS, menyebutkan bahwa pendidikan dan pelatihan adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan PNS. Pendidikan dan Pelatihan meliputi dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi pendidikan dan fungsi pelatihan yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pelatihan perlu dilakukan secara intens kepada guru, pelatihan yang dimaksud adalah pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan guru, yaitu pelatihan yang mengacu pada tuntutan kompetensi guru. Dengan mengikuti pelatihan maka guru akan dapat menambah wawasan dan pengetahuan, serta inovasi dan kreatifitas dalam pengembangan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme guru dipengaruhi oleh pelatihan. Pengaruh tersebut dapat diasumsikan bahwa semakin sering guru mengikuti program pelatihan maka akan dapat meningkatkan profesionalisme guru tersebut. Oleh karena itu, implikasi dari penelitian ini terkait dengan program pelatihan adalah guru perlu untuk mengikuti program pelatihan guna peningkatan profesionalisme guru. kemudian pihak penyelenggara pelatihan juga harus dapat mengomptimalkan program pelatihan yang diselenggarakan dengan efektif dan efesien. Hipotesis Kedua AuPengaruh pengalaman mengajar terhadap profesionalisme guru SMA Negeri di Kecamatan Muara EnimAy Hasil statistik uji t untuk variabel pengalaman mengajar diperoleh tingkat signifikansi 0,025. karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 . ,025<0,. , dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,438. maka hipotesis kedua dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa AuTerdapat pengaruh pengalaman mengajar terhadap profesionalisme guru SMA Negeri di Kecamatan Muara EnimAy terbukti. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Komalasari . menunjukkan hasil bahwa ada pengaruh positif secara parsial antara pengalaman mengajar terhadap profesionalisme guru. Artinya jika pengalaman mengajar semakin banyak maka profesionalisme guru juga akan semakin meningkat. Eliyanto dan Wibowo . menyebutkan bahwa pengalaman mengajar memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap profesionalisme guru, terbukti dari thitung = 2,392, p = 0,020, dan r2 = 0,122 atau berkontribusi sebesar 12,2%. Penelitian Fitria . , menghasilkan bahwa pengetahuan dan kemampuan guru dalam mengajar tidak semata-mata diperoleh melalui pendidikan, tetapi juga diperoleh melalui pengalaman Di dalam menekuni bidang pekerjaannya sebagai tenaga pendidik, tentunya seorang guru akan bertambah pengalamannya dalam mengajar. Jadi, semakin banyak jam mengajar dan semakin lama guru mengajar maka semakin banyak pula pengalaman yang didapakan guru Sehingga dengan pengalaman mengajar guru dapat meningkatkan pencapaian standar kompetensi profesional guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme guru dipengaruhi oleh pengalaman Pengaruh tersebut dapat dapat diasumsikan bahwa semakin lama masa kerja guru maka tentunya akan menambah pengalaman mengajar guru yan akan berpengaruh pada meningkatnya profesionalisme guru tersebut. Oleh karena itu, implikasi dari penelitian ini terkait dengan program pengalaman mengajar adalah seriap guru dituntuk untuk dapat mengoptimalkan pengalaman mengajar yang dimiliki oleh masing-masing guru guna peningkatan profesionalisme guru Hipotesis Ketiga AuPengaruh budaya organisasi sekolah terhadap profesionalisme guru SMA Negeri di Kecamatan Muara EnimAy Hasil statistik uji t untuk variabel budaya organisasi sekolah diperoleh tingkat signifikansi 0,010. karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 . ,010<0,. , dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,375. maka hipotesis ketiga dalam penelitan ini yang menyatakan bahwa AuTerdapat pengaruh budaya organisasi sekolah terhadap profesionalisme guru SMA Negeri di Kecamatan Muara EnimAy terbukti. Sugeng . menyatakan bahwa Aubudaya organisasi sekolah yang baik akan menimbulkan iklim sekolah yang nyaman yang akan mampu meningkatkan kinerja semua komponen sekolah. Kemudian hasil penelitian Dalminah . juga menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi terhadap profesionalisme guru. Sejalan dengan penelitian Cahyono . yang menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan budaya organisasi terhadap kompetensi profesional guru di SMA Negeri 13 Surabaya, hal ini ditunjukkan dari nilai thitung pada variabel budaya organisasi (X. sebesar 3,686 dengan tingkat signifikan sebesar 0,001 lebih kecil dari 5%, artinya semakin tinggi budaya organisasi semakin tinggi pula kompetensi profesional guru. Budaya organisasi yang diterapkan di sekolah akan memberikan kedisiplinan dan semangat kepada guru untuk mencaopai keberhasilan. Dengan demikian, budaya organisasi memiliki pengaruh terhadap profesionalisme guru. Semakin baik dan kondusif budaya organisasi yang ada disekolah, maka akan berpengaruh pada peningkatan profesionalisme guru di sekolah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme guru dipengaruhi oleh budaya organisasi Pengaruh tersebut dapat diasumsikan bahwa budaya organisasi sekolah yang positif dapat meningkatkan profesionalisme guru. Oleh karena itu, implikasi dari penelitian ini terkait dengan budaya organisasi sekolah adalah perlunya mengoptimalkan budaya organisasi yang ada pada masing-masing sekolah agar tetap kondusif, baik dalam nilai-nilai yang ada pada organisasi, keyakinan dan kebiasaan di dalam organisasi sekolah. Uji Simultan (Uji F) Dasar pengambilan keputusan uji F simultan . egresi linear bergand. berdasarkan nilai Diperoleh nilai signifikansi Anova 0,000 yang artinya kurang dari 0,05 . ,000<0,. Maka hipotesis keempat dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa secara simultan AuTerdapat pengaruh pelatihan, pengalaman mengajar, dan budaya organisasi sekolah terhadap profesionalisme guru SMA Negeri di Kecamatan Muara EnimAy terbukti. Kemudian pada dasar pengambilan keputusan uji F simultan . egrsesi linear bergand. berdasarkan nilai Fhitung dan Ftabel. dependen (Y). Hasil Ftabel diperoleh nilai 2,68. Hasil Fhitung dari Anova sebesar 14,579 lebih besar dari Ftabel yaitu 2,68 . ,579>2,. Maka hipotesis keempat pada penelitian yang menyatakan bahwa secara simultan AuTerdapat pengaruh pelatihan, pengalaman mengajar, dan budaya organisasi sekolah terhadap profesionalisme guru SMA Negeri di Kecamatan Muara EnimAy Kemudian hasil uji R square (R. pada penelitian ini diperoleh nilai sebesar 0,261. Hal ini menunjukkan bahwa profesionalisme guru dipengaruhi oleh variabel pelatihan, pengalaman mengajar, dan budaya organisasi sekolah sebesar 26,1%, sedangkan sisanya sebesar 73,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Guru memegang peran penting dalam proses pembelajaran. Guru harus memiliki kemampuan untuk mengelola pembelajaran agar menjadi bermakna (UCLA, 2. Untuk itu, usaha dalam meningkatkan mutu pendidikan hendaknya dimulai dari peningkatan profesionalisme guru. Guru yang profesional adalah guru yang mampu menjalankan proses pembelajaran yang berkualitas dengan memanfaatkan berbagai ilmu pengetahuan teknologi dan komunikasi, aktif mengikuti pelatihan untuk pengembangan diri, menjadikan pengalaman mengajar sebagai guru yang terbaik dan mengetahui serta mengerti peran dan fungsinya dalam proses pembelajaran. Sejalan dengan penelitian Demirkasumoglu . menyatakan bahwa Auprofessionalism is a multi dimensional structure including oneAos work behaviors and attitudes to perform the highest standards and improve the service qualityAy. Yang berarti bahwa profesionalisme adalah struktur multi dimensi termasuk perilaku dan sikap kerja seseorang untuk melaksanakan standar tertinggi dan meningkatkan kualitas layanan. Profesionalisme guru dapat dilihat dari kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berkualitas. Sumbangan efektif (SE) dan sumbangan relatif (SR) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Variabel Tabel 14 SE dan SR 8,8 % 7,1 % 33,9 % 27,4 % Total 10,1 % 26,1 % 38,7 % Berdasarkan tabel 14. menunjukkan bahwa sumbangan efektif (SE) dari ketiga variabel dalam penelitian ini sebesar 26,1%. Variabel pelatihan sebesar 8,8%. variabel pengalaman mengajar sebesar 7,1%, variabel budaya organisasi sekolah sebesar 10,1%, sedangkan sisanya 73,9% dipengaruhi oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Sementara itu, sumbangan relatif (SR) untuk pelatihan sebesar 33,9%. variabel pengalaman mengajar sebesar 27,4%, variabel budaya organisasi sekolah sebesar 38,7%. Berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel budaya organisasi sekolah memberikan peranan lebih besar dalam mempengaruhi profesionalisme guru SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim. Dengan demikian analisis permasalahan penyelenggaraan pendidikan bertumpu pada sumber daya manusia yang menyelenggarakan pendidikan itu sendiri (Triatna, 2. Pengelolahan dan penyelenggaraan pendidikan akan dinilai baik, jika guru selaku pengelola dan penyelenggara pendidikan memiliki profesionalitas yang memadai dan dipersyaratkan. Guru dituntut untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi dan kompetensi diri secara berkelanjutan, karena peningkatan profesionalisme guru merupakan tanggung jawab diri secara pribadi. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Terdapat pengaruh pelatihan secara parsial terhadap profesinalisme guru di SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim sebesar 8,8%. Hal ini ditunjukkan dengan nilai thitung 2,871 lebih besar dari ttabel 1,979. nilai signifikansi variabel pelatihan 0,005 lebih kecil dari 0,05 dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,281. Terdapat pengaruh pengalaman mengajar secara parsial terhadap profesinalisme guru di SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim sebesar 7,1%. Hal ini ditunjukkan dengan nilai thitung 2,269 lebih besar dari ttabel 1,979. nilai signifikansi variabel pengalaman mengajar 0,025 lebih kecil dari 0,05 dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,438. Terdapat pengaruh budaya organisasi secara parsial terhadap profesinalisme guru di SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim sebesar 10,1%. Hal ini ditunjukkan dengan nilai thitung 2,603 lebih besar dari ttabel 1,979. nilai signifikansi variabel budaya organisasi sekolah 0,010 kecil dari 0,05 dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,375. Dan terdapat pengaruh pelatihan, pengalaman mengajar, dan budaya organisasi sekolah secara simultan terhadap profesinalisme guru di SMA Negeri di Kecamatan Muara Enim sebesar 26,1%. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji R2 pada penelitian ini diperoleh sebesar 0,261, nilai Fhitung 14,579 lebih besar dari Ftabel 2,68 dan nilai signifikansi secara keseluruhan 0,000 lebih kecil dari 0,05. DAFTAR PUSTAKA