(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI DAN PERAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL BERISIKO REMAJA DI SMPN KOTA JAKARTA THE INFLUENCE OF REPRODUCTIVE HEALTH KNOWLEDGE AND PEER ROLES ON SEXUAL RISK BEHAVIOR AMONG TEENAGERS AT SMPN JAKARTA CITY Info Artikel Diterima:17 November 2025 Direvisi: 1 Desember 2025 Disetujui: 30 Desember 2025 Rosni Lubis1 . Aufa Salma Hanifa2 . Eros Siti Suryati3 . Wahyudin Rajab4 . Herlyssa5 2,3,4 Program Studi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan. Jurusan Kebidanan. Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta i. DKI Jakarta. Indonesia Program Studi Kebidanan. Jurusan Kebidanan. Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta i. DKI Jakarta. Indonesia (E-mail penulis korespondensi: aufashh10@gmail. ABSTRAK Latar Belakang : Perilaku seksual berisiko pada remaja tetap menjadi isu kesehatan yang krusial karena dampaknya yang merugikan secara fisik, psikologis, dan sosial. Di Indonesia, data mencatat bahwa 3,6% remaja laki-laki dan 0,9% remaja perempuan berusia 15Ae19 tahun pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Metode : : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional dan analisis regresi logistik multivariat. Populasi penelitian meliputi seluruh siswa SMPN 106 Jakarta dengan sampel sebanyak 141 responden yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Hasil : Analisis univariat mengungkapkan bahwa 9,2% remaja terlibat dalam perilaku seksual Mayoritas responden memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik . ,4%), mendapat pengaruh positif dari teman sebaya . ,7%), peran orang tua yang kurang optimal . ,4%), peran guru yang signifikan . ,6%), serta sebagian besar tidak terpapar media . ,8%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi . = 0,003. OR = 8,. , pengaruh teman sebaya . = 0,023. OR = 5,. , jenis kelamin, dan keterpaparan media dengan perilaku seksual berisiko pada remaja. Analisis multivariat menegaskan bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko setelah mengendalikan variabel perancu . = 0,026. OR = 7,. Kesimpulan : Mayoritas responden berusia 15 tahun dan berjenis kelamin laki-laki, dengan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik serta pengaruh positif dari teman sebaya. Ditemukan hubungan bermakna antara pengetahuan dan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual berisiko, di mana pengetahuan kesehatan reproduksi menjadi faktor paling dominan setelah pengendalian variabel perancu. Kata kunci : Pengetahuan kesehatan reproduksi, peran teman sebaya, perilaku seksual berisiko. ABSTRACT Background: Sexual risk behavior among teenagers remains a critical health issue due to its adverse physical, psychological, and social impacts. In Indonesia, data show that 3. 6% of male teenagers and 9% of female teenagers aged 15Ae19 have engaged in premarital sexual intercourse. Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design and multivariate logistic regression analysis. The population included all students of SMPN 106 Jakarta, with a sample of 141 respondents selected through stratified random sampling. Results: Descriptive analysis revealed that 9. 2% of teenagers were involved in sexual risk behavior. The majority of respondents had good reproductive health knowledge . 4%), positive peer influence . 7%), less optimal parental role . 4%), significant teacher involvement . 6%), and most were not exposed to media . 8%). There were significant associations between reproductive health (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. = 0. OR = 8. , peer influence . = 0. OR = 5. , gender, and media exposure with sexual risk behavior among teenagers. Multivariate analysis confirmed that reproductive health knowledge was the dominant factor influencing sexual risk behavior after controlling for confounding variables . = 0. OR = 7. Conclusion: Most respondents were 15 years old and male, with good reproductive health knowledge and positive peer influence. Significant relationships were found between knowledge and peer roles toward sexual risk behavior, with reproductive health knowledge being the most dominant factor after controlling for confounders. Keywords: Reproductive health knowledge, peer influence, sexual risk behavior PENDAHULUAN Remaja merupakan fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai oleh percepatan perubahan hormonal. Ketidakseimbangan antara perkembangan fisik dan mental dapat menimbulkan kebingungan yang memicu perilaku seksual tidak bertanggung jawab, seperti hubungan pranikah dan pacaran yang mengarah pada seks bebas. Perilaku seksual remaja sering kali mengarah pada tindakan berisiko. Hal ini terjadi karena mereka kesulitan mengendalikan dorongan seksual yang didukung dengan faktor Remaja kini semakin terbuka menunjukkan perilaku seksual dengan pasangan, seperti berciuman di kening, pipi, atau bibir, yang menjadi bagian dari gaya pacaran bebas dan berpotensi memicu perilaku seksual berisiko. 2 Perilaku seksual sering dijumpai di kota-kota besar, terutama di kalangan remaja. Keadaan tersebut dapat menimbulkan dampak merugikan, seperti kehamilan di usia remaja, aborsi, serta infeksi menular seksual (IMS). Survei Youth Risk Behavior Survey (YRBS) tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 30% remaja sekolah menengah telah melakukan hubungan seksual, dengan 11% di antaranya berasal dari etnis Asia. 4 Di Indonesia, sebanyak 3,6% remaja laki-laki dan 0,9% remaja perempuan berusia 15Ae19 tahun pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, dengan mayoritas memulai pada usia yang sama yaitu pada 74% laki-laki dan 59% Selain itu, 33,6% remaja laki-laki dan 30,2% remaja perempuan dilaporkan telah mencapai usia 15 tahun. 5 Data BPS tahun 2022, tercatat bahwa 3,08% remaja perempuan usia 16Ae19 tahun telah mengalami persalinan. Setiap tahunnya, sekitar 21 juta remaja perempuan berusia 15Ae19 tahun di negara berkembang mengalami kehamilan, dengan 12 juta di antaranya melahirkan. Pada 2023, tingkat kelahiran remaja global tercatat 41,3 000 kelahiran hidup. 7 Menurut DP3AP2, terdapat 632 kasus pernikahan dini pada 2022, dengan 84% disebabkan oleh kehamilan tidak diinginkan (KTD), yang sering berujung pada 8 Menurut United Nations Population Fund (UNFPA), hampir setengah kehamilan remaja tidak direncanakan, dan lebih dari 60% di antaranya berakhir dengan aborsi. Berdasarkan data BKKBN, setiap tahun terjadi sekitar 2,4 juta kasus aborsi dengan 700. 000 di antaranya melibatkan remaja. 10 BKKBN mencatat sekitar 2,4 juta kasus aborsi per tahun, dengan 700. 000 melibatkan remaja. Selain itu, perilaku seksual berisiko turut meningkatkan potensi penularan IMS, termasuk HIV, yang pada 2023 menjangkiti 39,9 juta orang. 11 Perilaku seksual berisiko yang umum di kalangan remaja meliputi ciuman bibir . %) dan ciuman pada leher atau bagian sensitif . %) sebagai bentuk perilaku yang paling sering terjadi. Perilaku seksual pada remaja turut dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengetahuan kesehatan reproduksi yang rendah, sikap, usia, jenis kelamin, dan pendidikan, serta faktor eksternal seperti lingkungan sosial, teman sebaya, peran orang tua dan guru, serta paparan media pornografi. Kesalahan pemahaman terkait reproduksi dapat memicu perilaku seksual yang salah dan berdampak negatif. 13 Penelitian menunjukkan bahwa 11,2% remaja dengan pengetahuan rendah cenderung berperilaku seksual berisiko, sementara 9,4% lainnya berada pada tingkat risiko yang lebih ringan. 14 Di masa pubertas, pengaruh teman sebaya lebih dominan dibanding orang tua karena intensitas kebersamaan, dan interaksi negatif dengan teman dapat meningkatkan risiko perilaku 15 Sebanyak 77,4% remaja dengan perilaku seksual berisiko tinggi dipengaruhi oleh teman sebaya, dibandingkan 22,6% pada (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. kelompok berisiko rendah tanpa pengaruh Salah satu langkah strategis dalam menanggulangi perilaku seksual berisiko pada remaja adalah melalui penguatan norma sekolah dan program edukasi kesehatan yang melibatkan kerja sama antara siswa dan pihak Peran keluarga dalam pengasuhan serta pemberian bimbingan nilai juga sangat penting, didukung oleh promotor kesehatan reproduksi dan seksualitas. 17 Berdasarkan uraian tersebut, faktor yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko yaitu pengetahuan kesehatan reproduksi dan peran teman sebaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan kesehatan reproduksi dan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja di SMPN 106 Jakarta. independen terhadap mengendalikan perancu. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Remaja Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia Karakteristik Jumlah Frekuensi . Presentase (%) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 13 tahun 14 tahun 15 tahun > 15 tahun Jumlah METODE Penelitian pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional untuk menilai faktor risiko dan dampaknya secara simultan. Lokasi penelitian berada di SMPN 106 Jakarta dengan populasi seluruh siswa kelas VII hingga IX sebanyak 861 orang. Sampel diambil sebanyak 141 responden menggunakan teknik stratified random sampling dengan kriteria inklusi remaja kelas VII-IX berusia 12-15 tahun dan remaja yang bersedia mengikuti penelitian dan telah memberikan persetujuan tertulis melalui penandatanganan formulir persetujuan, serta kriteria eksklusi yaitu remaja yang tidak memiliki teman sebaya dan remaja yang mendapat sanksi atau hukuman dari pihak Instrumen berupa kuesioner adaptasi dari penelitian sebelumnya yang mengukur pengetahuan kesehatan reproduksi, peran teman sebaya, perilaku seksual berisiko, serta peran orang tua, guru, dan keterpaparan media. Instrumen menggunakan skala Guttman dan Likert, diuji validitas dan reliabilitasnya dengan Pearson Product Moment dan Cronbach Alpha, yang menunjukkan hasil layak dengan nilai alpha > 0,60. Data diolah menggunakan analisis univariat untuk menggambarkan variabel, bivariat dengan uji chi-square antarvariabel, dan multivariat menggunakan regresi logistik guna melihat pengaruh variabel Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa karakteristik remaja menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 71 orang . ,4%), dengan kelompok usia 15 tahun mendominasi sebesar 46,8%. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Perilaku Seksual Berisiko. Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja. Peran Teman Sebaya Serta Variabel Lain Jumlah Variabel Perilaku Seksual Berisiko Berisiko Tidak Berisiko Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Kurang Baik Baik Peran Teman Sebaya Negatif Positif Peran Orang Tua Kurang Baik Baik Peran Guru Kurang Berperan Berperan Keterpaparan Media Terpapar Tidak Terpapar Jumlah Frekuensi . Presentase (%) (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. Pada tabel 2 diketahui bahwa 13 remaja . ,2%) terlibat dalam perilaku seksual Mayoritas remaja memiliki tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik, yakni 81 orang . ,4%) dan peran teman sebaya yang positif sebanyak 80 orang . ,7%). Selain itu, lebih dari separuh remaja mendapatkan peran orang tua yang kurang mendukung . ,4%), guru yang berperan aktif . ,6%), serta tidak terpapar media . ,8%). Tabel 3. Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi. Peran Teman Sebaya. Jenis Kelamin. Peran Orang Tua. Peran Guru, dan Keterpaparan Media dengan Perilaku Seksual Berisiko Remaja Perilaku Seksual Berisiko Variabel Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Kurang Baik Baik Berisiko Tidak Berisiko Total 10 16,4 51 83,6 61 100 0,023 5,033 3 3,8 77 96,3 80 100 1,321 19,179 11 15,5 60 84,5 71 100 0,021 6,233 2 2,9 68 97,1 70 100 1,328 29,254 Peran Orang Tua Kurang Baik Baik Peran Guru Kurang Berperan Berperan 2,5 79 97,5 81 100 5,6 67 94,4 71 100 0,234 0,405 0,119 12,9 61 87,1 70 100 1,381 4,7 61 95,3 64 100 0,160 0,330 0,087 1,253 13 67 87 77 100 18,9 30 81,1 37 100 0,041 3,811 1,189 5,8 98 94,2 104 100 12,213 Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi dan peran teman sebaya berhubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko . <0,. Remaja dengan pengetahuan rendah berisiko 8,867 kali lebih besar dan yang mendapat pengaruh negatif teman sebaya berisiko 5,033 kali lebih besar untuk melakukan perilaku seksual berisiko. Jenis kelamin dan paparan media juga berpengaruh. Tabel 4. Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda Variabel Wald 1,956 4,943 0,026 7,074 0,615 0,644 0,422 1,850 1,173 1,730 0,188 3,230 Peran Guru Keterpaparan Media -1,510 3,775 0,052 0,221 1,470 4,460 0,035 4,347 Pada tabel 4 hasil penelitian kesehatan reproduksi sebagai faktor dominan yang berpengaruh signifikan . = 0,. setelah mengendalikan variabel peran teman sebaya, jenis kelamin, peran guru, dan Remaja pengetahuan kesehatan reproduksi rendah berpeluang 7,074 kali lebih tinggi melakukan perilaku seksual berisiko. PEMBAHASAN 1,885 41,704 Keterpaparan Media Terpapar Tidak Terpapar 0,003 8,867 11 18,3 49 81,7 60 100 Peran Teman Sebaya Negatif Positif Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Peran Teman Sebaya Jenis Kelamin P Value Pada penelitian ini mayoritas remaja berjenis kelamin laki-laki . ,4%) dengan kelompok usia 15 tahun terbanyak . ,8%). Sebanyak 9,2% remaja terlibat dalam perilaku seksual berisiko. Sebagian besar remaja memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik . ,4%) dan mendapat peran teman sebaya yang positif . ,7%). Sebagian remaja mendapat peran orang tua kurang baik . ,4%), guru yang berperan . ,6%), serta tidak terpapar media . ,8%). Hasil penelitian ini menunjukkan pengetahuan kesehatan reproduksi dan perilaku seksual berisiko pada remaja, sejalan dengan studi Kristianti di Jakarta Timur yang juga menemukan kaitan bermakna antara 18 Temuan serupa oleh Guan di Beijing, menunjukkan hubungan signifikan reproduksi dengan perilaku seksual remaja. Masa remaja ditandai oleh perubahan biologis dan psikososial, termasuk rasa ingin tahu terhadap seksualitas akibat kematangan organ reproduksi dan peningkatan dorongan seksual selama pubertas. 20 Pengetahuan kesehatan reproduksi berperan sebagai faktor kognitif yang mempengaruhi perilaku, namun tidak langsung berdampak pada aspek afektif yang menentukan tindakan nyata. Menurut Lawrence Green, pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang membentuk motivasi (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. dan tindakan seseorang, termasuk dalam perilaku seksual. Pengetahuan yang baik membantu remaja memahami risiko seperti IMS, kehamilan tidak diinginkan, dan gangguan Sebaliknya, terhadap perilaku seksual berisiko. 19 Promosi meningkatkan pemahaman remaja, khususnya melalui edukasi di sekolah yang membekali mereka keterampilan untuk mengenali batasan diri dan membuat keputusan seksual yang Peran teman sebaya terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku seksual berisiko. Remaja yang mendapatkan pengaruh negatif dari teman sebaya berpeluang 5,033 kali lebih tinggi untuk terlibat dalam perilaku tersebut. Hasil ini sejalan dengan penelitian Sri di Jakarta Barat, yang menyatakan bahwa remaja yang terpengaruh oleh teman sebaya negatif memiliki risiko 13,546 kali lebih besar melakukan perilaku seksual berisiko. Teman sebaya memainkan peran penting dalam kehidupan remaja karena kedekatan usia, minat, dan ikatan emosional. Mereka sering menjadi sumber informasi, termasuk seputar isu seksual. Lingkungan pergaulan yang negatif dapat mendorong perilaku menyimpang seperti merokok, hubungan seksual pranikah. Remaja cenderung kelompoknya demi mendapatkan penerimaan Ketika teman sebaya menjadi panutan, perilaku remaja pun terbentuk melalui proses meniru dan penyesuaian, sehingga pengaruh kecenderungan remaja dalam melakukan perilaku seksual berisiko. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa sebagian besar remaja . ,4%) mengalami kurangnya peran orang tua, namun tidak terdapat hubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko, sejalan dengan studi MarfuAoah di Sulawesi. 24 Sebaliknya. Aina di Bekasi menemukan bahwa remaja dengan peran orang tua yang kurang optimal memiliki risiko 2,1 kali lebih besar melakukan perilaku seksual berisiko. 25 Meskipun orang tua berperan sebagai panutan dalam pendidikan seksual, remaja tetap bisa berperilaku berisiko meskipun berasal dari keluarga dengan peran orang tua yang baik, dikarenakan lemahnya komunikasi dan pengawasan. Pola asuh hangat dan komunikasi terbuka terbukti lebih efektif dibanding pola asuh keras. Kurangnya peran orang tua juga diperparah oleh dominasi pengaruh teman sebaya negatif dan paparan media. Minimnya pengawasan jam malam, kontrol penggunaan gawai, serta kurangnya apresiasi dan perhatian membuat remaja merasa diabaikan, membuka Kesibukan orang tua dan kurangnya berkontribusi terhadap pola asuh lalai. Penelitian ini juga menemukan hubungan signifikan antara jenis kelamin dan perilaku seksual berisiko, di mana remaja lakilaki lebih sering terlibat. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian Fadillah di Surakarta yang menyebutkan bahwa remaja laki-laki lebih aktif bergaul dan kurang diawasi. 27 Mereka juga memiliki dorongan seksual atau libido lebih kuat dan rasa ingin tahu yang tinggi dibandingkan Perempuan. Ketidakseimbangan emosional, budaya, dan norma sosial bisa memicu perilaku menyimpang, terutama karena pengaruh budaya Barat yang tidak sesuai nilai lokal. Sebagian besar remaja . ,6%) mendapat peran dari guru sebagai figur kedua setelah keluarga. 13 Namun, peran guru tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko, sejalan dengan studi Handayani di Palembang. Meskipun guru berperan sebagai pembimbing, rendahnya kepercayaan remaja, serta dominasi pengaruh teman sebaya dan media tetap menjadi faktor utama pendorong perilaku seksual berisiko. Di sisi lain. Idawati di Aceh menemukan bahwa remaja yang tidak mendapatkan edukasi kesehatan reproduksi dari guru berisiko 28,9% lebih tinggi terlibat dalam perilaku seksual berisiko. Keterpaparan media menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko, sejalan dengan penelitian Irmawati di Pekanbaru. 31 Media seksual menimbulkan rangsangan berulang yang dapat menyebabkan Kemudahan pornografi melalui internet dan media sosial memicu rasa ingin tahu dan eksperimen (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. seksual remaja. Tekanan teman sebaya juga menjadi pintu masuk utama paparan ini, sehingga bimbingan orang tua dan guru, serta kegiatan positif seperti ekstrakurikuler, penting untuk pencegahan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi merupakan faktor paling dominan setelah dikendalikan variabel peran teman sebaya, jenis kelamin, peran guru, dan keterpaparan Temuan ini sejalan dengan penelitian Nirwana di Bali yang menunjukkan pengetahuan sebagai faktor utama risiko seksual remaja. 33 Pengetahuan yang baik kehamilan, infeksi menular seksual, serta keputusan bijak dalam hal seksualitas. Pengetahuan kesehatan reproduksi menjadi faktor dominan karena merupakan dasar utama bagi remaja dalam memahami risiko dan konsekuensi dari perilaku seksual. Remaja yang memiliki wawasan cukup mampu mengenali dampak negatif aktivitas seksual, seperti risiko infeksi menular seksual, kehamilan tidak diinginkan, serta gangguan kesehatan reproduksi lainnya. Pengetahuan kesehatan reproduksi juga membentuk sikap tanggung jawab dan kemampuan mengambil keputusan bijak terkait seksualitas. Sebaliknya, kurangnya pengetahuan membuat remaja lebih rentan melakukan perilaku seksual karena tidak menyadari risikonya. Dengan demikian, peningkatan pemahaman tentang kesehatan reproduksi merupakan kunci utama dalam mencegah perilaku seksual berisiko pada variabel peran teman sebaya, jenis kelamin, peran guru, dan keterpaparan media. Sekolah disarankan memperkuat edukasi melalui PIKR, penyuluhan rutin, dan kolaborasi guruorang tua. Remaja perlu selektif memilih teman yang positif untuk menghindari tekanan terhadap perilaku seksual berisiko. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada pembimbing dan penguji skripsi, responden, dan pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian Terima kasih kepada KEPK Universitas Muhammadiyah Purwokerto atas persetujuan etik penelitian (KEPK/UMP/119/IV/2. DAFTAR PUSTAKA