Volume 8. Issue 1, 2026, 90 - 105 http://jurnal. id/jdk/article/view/94775 DOI: https://doi. org/10. 20961/desa-kota. Copyright A 2026 The Authors E-ISSN: 2656-5528 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Desa Wisata Sumberbulu. Kabupaten Karanganyar Factors Influencing the Development of Sumberbulu Tourist Village in Karanganyar Regency Rachma Wulan Dwi Yulianti1*. Istijabatul Aliyah1,2. Ratri Werdiningtyas1 1Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia 2Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata dan Budaya. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia *e-mail: rachmawulan07@gmail. (Recieved: 4 November 2024. Accepted: 20 January 2. Abstrak Pariwisata merupakan sektor yang dinamis dalam menangkap berbagai kecenderungan perkembangan global. Saat ini, sektor pariwisata menunjukkan kecenderungan pergeseran dari pariwisata massal menuju pariwisata alternatif. Salah satu jenis pariwisata alternatif yang muncul adalah desa wisata. Pada tahun 2020. Kabupaten Karanganyar menetapkan 23 desa sebagai desa wisata. Dalam perkembangannya, desa-desa tersebut memiliki proses dan pencapaian yang berbeda-beda. Sebagian desa berkembang menjadi semakin baik, sebagian berubah secara dinamis, sebagian kurang berkembang atau bahkan mengalami stagnasi. Desa Wisata Sumberbulu merupakan salah satu desa wisata yang memiliki perkembangan paling baik berdasarkan data perkembangan klasifikasi desa wisata dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar selama tahun 2021-2023. Desa Wisata Sumberbulu terus berkembang semakin baik setiap tahunnya hingga berhasil meraih nilai tertinggi pada klasifikasi desa wisata maju. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu hingga menjadi desa wisata maju. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-method dengan teknik analisis content analysis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu serta analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menganalisis faktor yang paling mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan Desa Wisata Sumberbulu dipengaruhi oleh faktor internal yang terdiri dari faktor potensi sumberdaya alam dan budaya, faktor aman dari risiko bencana alam, faktor kerja sama komunitas masyarakat dalam lingkup internal, faktor ketersediaan infrastruktur pariwisata dan faktor promosi dan pemasaran, dan juga faktor eksternal yang terdiri dari faktor kerja sama pentahelix, faktor minat wisatawan, dan faktor aksesibilitas eksternal. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu berdasarkan analisis adalah kerja sama komunitas masyarakat dalam lingkup internal, potensi sumberdaya alam dan budaya, serta kerja sama pentahelix. Kata kunci: desa wisata. pariwisata alternatif. Sumberbulu Abstract The tourism sector is a dynamic sector that captures various global development trends. Currently, the tourism sector is showing a shift from mass tourism to alternative tourism. One emerging alternative tourism type is tourism village. In 2020. Karanganyar Regency designated 23 villages as tourism villages. Throughout their development, these villages have experienced varying processes and Some villages are developing better, others are changing dynamically, and others are less developed or even Sumberbulu Tourism Village is one of the tourism villages with the best development, based on data on the development of the tourism village classification from the Karanganyar Regency Tourism. Youth, and Sports Office for 2021-2023. Sumberbulu Tourism Village continues to improve every year, achieving the highest score in the tourism village classification. This study aims to understand the factors influencing the development of Sumberbulu Tourism Village to become an advanced tourism village. This study uses a mixed-method approach with content analysis techniques to identify factors influencing the development of Sumberbulu Tourism Village, and Analytical Hierarchy Process (AHP) analysis to analyze the factors most influencing the development of Sumberbulu Tourism Village. The results of the study indicate that the development of Sumberbulu Tourism Village is influenced by internal factors consisting of natural and cultural resource potential factors, safety factors from the risk of natural disasters, community cooperation factors within the internal scope, tourism infrastructure availability factors and promotion and marketing factors, as well as external factors consisting of pentahelix cooperation factors, tourist interest factors and external accessibility factors. The results of the study Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 also indicate that the factors that most influence the development of the Sumberbulu Tourism Village based on the analysis are community cooperation within the internal scope, natural and cultural resource potential, and pentahelix cooperation. Keywords: alternative tourism. Sumberbulu. tourism village 1 PENDAHULUAN Perkembangan sektor pariwisata di Indonesia menunjukkan adanya kecenderungan pergeseran dari pariwisata massal . ass touris. menjadi pariwisata alternatif . lternative touris. (Herdiana, 2. Perkembangan tersebut dilatarbelakangi pandemi Covid-19 yang memaksa wisatawan domestik maupun mancanegara memilih lokasi wisata yang aman dan terhindar dari keramaian. Hal tersebut kemudian memicu perubahan minat dan motivasi wisatawan untuk melakukan kegiatan wisata. Desa wisata muncul menjadi salah satu bentuk pariwisata alternatif (Satriawati et al. , 2. Munculnya desa wisata sebagai alternatif wisata yang baru, mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mengembangkan desa wisata sebagai salah satu prioritas pengembangan pariwisata di Indonesia. Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki potensi wisata. Kabupaten Karanganyar terletak di kaki Gunung Lawu yang memiliki suasana sejuk. Wisata di Kabupaten Karanganyar terkenal di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara. Dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Karanganyar Tahun 2013-2032. Kabupaten Karanganyar menyatakan akan melakukan pengembangan wilayah melalui tiga pilar utama, yaitu industri, pertanian, dan pariwisata yang dikenal dengan INTANPARI. Dalam strategi penataan ruang, disebutkan bahwa Kabupaten Karanganyar akan mengembangkan kegiatan pariwisata alam dan budaya pada bagian timur wilayah sebagai penggerak utama dan potensi pariwisata lainnya sebagai Lebih lanjut, dalam strategi pengembangan kawasan pariwisata disebutkan bahwa Kabupaten Karanganyar akan mengembangkan potensi desa sebagai daya tarik desa wisata (Sari et al. , 2. Surat Keputusan (SK) Bupati Karanganyar Nomor 556/378 Tahun 2020 menetapkan 23 desa di Kabupaten Karanganyar sebagai desa wisata. Desa-desa tersebut dalam perkembangannya memiliki proses dan pencapaian yang berbeda-beda. Sejumlah desa berkembang menjadi semakin baik, beberapa berubah secara dinamis, ada juga desadesa yang kurang berkembang atau bahkan mengalami stagnasi. Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar melakukan penilaian klasifikasi desa wisata setiap tahunnya. Klasifikasi Desa Wisata Kabupaten Karanganyar tahun 2023 ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Klasifikasi Desa Wisata Kabupaten Karanganyar 2023 Klasifikasi Desa Wisata Desa Wisata Wonorejo Elok. Anggrasmanis. Kampung Purba Dayu. Ganten. Sekipan. Cetho. Blumbang. Klatak. Karang. Beruk. Bukit Indah Kimendeng. Trengguli. Rejosari. Karangrejo Barokah. Sewu Kembang. Sendang Plesungan. Berjo. Batik Girilayu. Sendang Bejen. Berkembang Girimulyo. Lembah Dongde. Gempolan. Taman Sari. Umbul Udal-Udalan. Pablengan. Kembang Desa Dawung. Harjosari. Salam. Gondangmanis Maju Sumberbulu. Kemuning Sumber: Dinas Pariwisata. Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Karanganyar . Rintisan Dari total 23 desa wisata di Kabupaten Karanganyar. Desa Wisata Sumberbulu menjadi desa yang paling unggul diantara desa-desa wisata lainnya. Melalui penilaian klasifikasi oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar di tahun 2021. Desa Wisata Sumberbulu telah menjadi desa wisata berkembang. Kemudian pada tahun 2022, berhasil menjadi desa wisata maju, hingga pada tahun 2023 mendapatkan nilai tertinggi sebesar 85 dalam kategori maju di antara desa wisata lainnya di Kabupaten Karanganyar. Keunggulan tersebut terlihat dari kemampuan Desa Wisata Sumberbulu dalam mengelola potensi yang dimiliki. Walaupun potensi sumber daya alam Desa Sumberbulu kurang, sumber daya manusia, dan budayanya yang masih terjaga menjadi potensi untuk dikembangkan. Hal ini yang menjadi daya tarik yang unik dari Desa Wisata Sumberbulu karena keseluruhan kegiatan wisatanya berkaitan dengan masyarakat dan budaya setempat. Capaian tersebut merupakan bukti keberhasilan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan potensi desa yang menunjukkan bahwa atraksi alam bukanlah satu-satunya jenis wisata yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung. Desa Wisata Sumberbulu tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga mengajak wisatawan untuk ikut merasakan kehidupan Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 masyarakat desa. Melalui usaha-usaha tersebut, desa wisata Sumberbulu mengalami tahapan perkembangan yang Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa Desa Wisata Sumberbulu merupakan salah satu desa wisata yang memiliki perkembangan paling baik dibandingkan desa wisata lain di Kabupaten Karanganyar. Desa Wisata Sumberbulu terus berkembang menjadi semakin baik setiap tahunnya hingga berhasil meraih nilai tertinggi. Keberhasilan yang dicapai Desa Wisata Sumberbulu ini tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu. Kabupaten Karanganyar sebagai salah satu desa wisata dengan perkembangan yang baik. Diharapkan Desa Wisata Sumberbulu dapat menjadi acuan bagi desa-desa wisata lain dalam mengembangkan potensi yang dimiliki desa. 2 KAJIAN TEORI 1 DESA WISATA Desa wisata muncul sebagai salah satu bentuk pariwisata alternatif. Desa wisata didefinisikan sebagai desa yang dikembangkan dengan mengandalkan potensi desa dengan segala keunikan dan kekhasannya (Mulyadi & Rahayu, 2. Desa wisata dipahami sebagai suatu bentuk pariwisata yang disediakan oleh masyarakat lokal daerah pedesaan dengan akomodasi skala kecil, memiliki kegiatan khas pedesaan, serta adat istiadat yang melekat di kehidupan sehari-hari. Desa wisata memiliki beberapa karakteristik yang dapat menggambarkan bahwa desa tersebut memang layak untuk dijadikan sebagai desa wisata. Beberapa karakteristik desa wisata tersebut adalah: . memiliki keunikan, keaslian, dan sifat khas. terletak berdekatan dengan daerah alam yang luar biasa. berkaitan dengan kelompok atau masyarakat berbudaya yang secara hakiki menarik minat pengunjung. memiliki peluang untuk berkembang baik dari sisi prasarana dasar maupun prasarana lainnya (Wiwin, 2. Selain itu menurut Hadiwijoyo . , desa wisata harus memenuhi syarat: . memiliki aksesibilitas yang baik dan mudah dijangkau dengan berbagai jenis transportasi. memiliki objek yang menarik, berupa alam, budaya, maupun buatan yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata. memiliki dukungan dari masyarakat dan aparat desa. memiliki jaminan keamanan pada desa tersebut. memiliki akomodasi yang memadai. beriklim sejuk dan dingin. terkait dengan objek wisata lain yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. 2 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN DESA WISATA Berdasarkan hasil kajian teori, didapatkan sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata. Faktorfaktor tersebut meliputi faktor internal dan eksternal sebagaimana dirangkum dalam Gambar 1. Daerah perdesaan memiliki karakteristik budaya, sejarah, dan landscape yang khas dibandingkan dengan daerah lain yang menjadikan daerah perdesaan memiliki daya tarik khusus bagi wisatawan (Wilson et al. , 2. Hal ini dapat memicu inovasi pengembangan desa wisata untuk menangkap peluang dan potensi desa (Suranny, 2. Pariwisata pedesaan merupakan sebuah bentuk pengembangan pariwisata yang memanfaatkan potensi lokal untuk dinikmati oleh wisatawan. Dengan demikian, pengelolaan potensi wisata pedesaan merupakan hal utama untuk membentuk desa wisata (Pitanatri & Pitana, 2. Gambar 1. Bagan Teori Faktor Internal dan Eksternal Sebagian besar desa yang memiliki potensi alam terletak pada lokasi yang memang jauh dari perkotaan. Potensi wisata alam tidak terlepas dari bahaya bencana alam yang mengancam (Risandewi, 2. Faktor keamanan dan risiko Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 bencana menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan desa wisata. Adanya potensi bencana tentunya mempengaruhi perkembangan desa wisata yang kemudian memengaruhi keputusan wisatawan untuk datang berkunjung ke desa (Syah & Gani, 2. Kegiatan pariwisata tidak hanya didukung oleh potensi yang ada, tetapi didukung juga oleh ketersediaan sarana dan Infrastruktur pariwisata dan fasilitas wisata berkontribusi terhadap keunggulan kompetitif suatu destinasi wisata (Chin, 2. Sarana desa wisata meliputi akomodasi dan amenitas, dimana secara khusus desa wisata dapat memiliki akomodasi yang khas berupa homestay, vila, atau pondok wisata yang menempati tempat tinggal penduduk atau dikembangkan atas dasar konsep tempat tinggal penduduk (Chaerunissa & Yuniningsih, 2. Amenitas merupakan serangkaian fasilitas untuk memenuhi kebutuhan penyediaan makanan, minuman, tempat hiburan, tempat-tempat perbelanjaan, dan layanan lainnya (Revida et al. , 2. Prasarana pariwisata dapat berupa aksesibilitas yang ada pada lokasi wisata. Aksesibilitas yang dimaksud tidak dibatasi pada akses menuju lokasi desa wisata, namun mengingat perjalanan ke desa yang cukup jauh, penting bagi desa wisata memiliki komponen aksesibilitas lainnya, seperti kondisi jalan yang baik, ketersediaan transportasi umum menuju desa, ketersediaan papan penunjuk arah yang jelas, dan adanya peta wisata yang terpampang jelas di jalan masuk tempat wisata (Yuliarti, 2. Selain itu, prasarana pendukung lainnya, seperti jaringan listrik, air dan telekomunikasi, toilet, tempat istirahat, dan pusat informasi (Chi et al. , 2. Dalam pengembangan desa wisata, masyarakat merupakan unsur yang sangat penting. Desa wisata merupakan salah satu bentuk pariwisata berbasis masyarakat karena menekankan pada keterlibatan aktif masyarakat setempat serta peran dan kontrol mereka terhadap perkembangan pariwisata di daerahnya (Utami et al. , 2. Partisipasi masyarakat lokal menjadi kunci dalam mengedepankan budaya lokal yang merupakan magnet utama untuk menarik wisatawan berkunjung ke desa wisata (Komariah et al. , 2. Namun, dalam pengembangan desa wisata tidak hanya masyarakat yang terlibat, melainkan ada pemerintah, bisnis/swasta, akademisi, dan media yang juga ikut terlibat dalam pengembangannya, sehingga koordinasi antar pemangku kepentingan dapat lebih maksimal dalam mencapai tujuan (Paristha et al. , 2. Faktor lain yang mempengaruhi pengembangan desa wisata adalah pemanfaatan teknologi. Pemanfaatan teknologi memberikan pengaruh positif terhadap desa wisata karena menambah keunggulan pengalaman wisata, fasilitas akses informasi secara online yang memudahkan wisatawan menjangkau berbagai macam fasilitas terkait desa wisata (Cahyono et al. , 2023. Erika et al. , 2023. Karmila & Ardan, 2. Ketersediaan teknologi mendorong produsen dan destinasi wisata untuk meningkatkan efisiensi dalam promosi desa wisata. Digitalisasi wisata memberikan jasa layanan pariwisata kepada wisatawan dengan kemudahan akses dalam rangka penyelenggaraan pemasarannya (Mumtaz & Karmilah, 2. Minat wisatawan juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan desa wisata. Minat dalam konteks pariwisata didefinisikan sebagai kecenderungan individu untuk tertarik pada suatu objek atau menyenangi objek tersebut (Sudjana et al. , 2. Saat ini, wisatawan cenderung mencari destinasi wisata yang memiliki tradisi dan adat yang berbeda dengan yang pernah dikenali. Kecenderungan tersebut memiliki tujuan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih banyak, mengenai budaya, pengetahuan, dan interaksi sosial (Rojas & Camarero, 2. Untuk dapat melihat kecenderungan minat wisatawan dalam ruang lingkup atau ruang aktivitasnya dapat dilihat dari jumlah wisatawan, wadah ruang aktivitas atau tempat wisata, dan jenis aktivitas yang dilakukan, seperti wisata budaya, wisata edukasi, wisata olahraga, dan lain sebagainya, serta berkaitan dengan waktu yang dilakukan dalam periode tertentu (J. Santoso et al. 3 VARIABEL PENELITIAN Berdasarkan kajian teori yang telah dilakukan secara komprehensif, diperoleh sejumlah variabel yang relevan dan digunakan dalam penelitian ini. Variabel-variabel tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan langsung dengan fokus dan tujuan penelitian, serta didukung oleh temuan-temuan dari penelitian terdahulu. Adapun variabel yang digunakan meliputi potensi wisata, potensi bencana alam, infrastruktur pariwisata, stakeholder, pemanfaatan teknologi, dan minat wisatawan. Keenam variabel ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai kondisi dan dinamika pengembangan pariwisata di wilayah penelitian. Untuk memudahkan pemahaman mengenai definisi operasional dan indikator masing-masing variabel, maka variabel penelitian tersebut disajikan secara rinci dalam Tabel 2. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 Internal Eksternal Tabel 2. Variabel Penelitian Komponen Penelitian Sumber daya alam Budaya Potensi wisata Buatan Aktivitas wisata Risiko bencana alam Potensi bencana alam Mitigasi bencana Akomodasi . omestay, rumah makan, area rekreasi, warung/toko, jaringan listrik, jaringan air, jaringan Infrastruktur pariwisata telekomunikasi, toilet umum, pusat informasi, papan petunjuk ara. Partisipasi masyarakat Stakeholder Peran Pokdarwis Operator pemanfaatan teknologi Pemanfaatan teknologi Persaingan dengan objek wisata lain Potensi wisata Bencana alam menghambat aksesibilitas Potensi bencana alam menuju desa wisata Transportasi Infrastruktur pariwisata Jaringan jalan Koordinasi antar pihak eksternal . emerintah, bisnis, akademisi. Stakeholder komunitas, medi. Perkembangan teknologi internet Pengembangan destinasi wisata Pemanfaatan teknologi Pemasaran wisata Penawaran paket wisata Minat Keinginan untuk mempelajari budaya Minat wisatawan Keinginan untuk merasakan keindahan dan atraksi wisata alam Minat aktivitas wisata 3 METODE PENELITIAN 1 RUANG LINGKUP PENELITIAN Ruang lingkup wilayah penelitian berada pada Desa Wisata Sumberbulu yang terletak di Desa Pendem. Kecamatan Mojogedang. Kabupaten Karanganyar. Secara administratif. Desa Wisata Sumberbulu berbatasan dengan Desa Kuto di sebelah utara. Desa Ngadirejo di sebelah timur. Desa Mojogedang di sebelah selatan, dan Desa Pereng di sebelah barat. Ruang lingkup substansi dalam penelitian ini meliputi pemahaman teori pariwisata, teori pariwisata alternatif, teori desa, teori desa wisata, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata dengan ruang lingkup waktu mulai dari tahun 2018 hingga 2024. 2 PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan induktif, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan menyederhanakan data dari khusus ke umum yang akan memunculkan tema-tema, kategori, maupun pola diantara data tersebut. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian mix-method yang diawali dengan penelitian kualitatif kemudian dilanjutkan dengan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan untuk mengidentifikasi apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata, sedangkan penelitian kuantitatif dilakukan untuk mengetahui faktor apa yang paling mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 3 TEKNIK DAN PENGUMPULAN DATA Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kegiatan observasi, wawancara, dan kuesioner. Observasi dilakukan guna mengumpulkan data terkait sebaran daya tarik wisata, infrastruktur pariwisata, ketersediaan sarana transportasi, serta moda transportasi. Wawancara yang dilakukan peneliti menggunakan teknik in depth interview terhadap narasumber terpilih melalui teknik snowball sampling, yaitu Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga sebagai pemrakarsa dalam pengembangan desa wisata serta lembaga Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisat. Desa Wisata Sumberbulu sebagai penanggung jawab pengembangan desa wisata Sumberbulu. Wawancara dilakukan untuk menggali data secara lebih mendalam serta menemukan berbagai informasi terkait faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata. Hasil wawancara kemudian diolah dan dikelompokkan ke dalam kategori yang berisikan komponen faktor yang telah teridentifikasi baik faktor internal maupun Kuesioner digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang paling mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu melalui perbandingan berpasangan yang diisi oleh 22 stakeholder terpilih berdasarkan hasil analisis stakeholder sesuai dengan peran dan pengaruhnya terhadap Desa Wisata Sumberbulu. Hasil penilaian tersebut akan dianalisis menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menghasilkan tingkatan pengaruh berdasarkan faktor penelitian yang telah disusun. Data sekunder yang digunakan berasal dari pemerintah desa setempat. Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar, dan sejumlah instansi lain yang dijadikan sebagai sumber informasi dalam penelitian ini. Data tersebut antara lain, data kejadian bencana alam, monografi Desa Pendem, komunitas masyarakat yang terlibat dalam pengembangan Desa Wisata Sumberbulu, peta kawasan rawan bencana Kabupaten Karanganyar, data sarana transportasi, serta rute trayek angkutan umum dan data kunjungan wisatawan Kabupaten Karanganyar 2020-2023. Setelah didapatkan hasil dari identifikasi faktor internal dan eksternal serta hasil dari analisis AHP mengenai tingkatan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu, hasil tersebut kemudian ditriangulasi sebagai bahasan penelitian. 4 TEKNIK ANALISIS DATA 1 Content Analysis Content Analysis pada penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan. Tahap pertama adalah melakukan kajian teori mengenai teori pariwisata, teori pariwisata alternatif, teori desa, teori desa wisata, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata sebagai wawasan bagi peneliti dalam menggali data. Tahap kedua adalah melakukan wawancara kepada key informan terpilih untuk mengumpulkan berbagai jawaban yang berguna untuk memahami konteks penelitian secara mendalam yang mana terdapat kemungkinan bahwa tidak semua faktor yang didapat dari kajian teori berpengaruh terhadap Desa Wisata Sumberbulu atau bahkan menemukenali faktor baru yang berpengaruh di Desa Wisata Sumberbulu. Hasil wawancara akan diolah untuk memudahkan proses kodifikasi dan kategorisasi berdasarkan tema-tema yang sesuai dengan konteks penelitian. 2 Analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) Analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) dilakukan untuk mendapatkan faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan Desa Wisata Sumberbulu. Analisis ini memiliki tiga prinsip dalam pengambilan keputusan antara lain hierarki faktor dan sub faktor, penentuan tingkat pengaruh faktor melalui penilaian sesuai dengan skala nilai dalam analisis AHP, serta melakukan penghitungan Consistency Ratio (CR). Proses penyusunan hierarki diawali dengan penetapan tujuan utama penelitian, kemudian diikuti oleh faktor dan subfaktor yang memengaruhi perkembangan desa wisata. Selanjutnya, hasil penilaian perbandingan berpasangan diolah untuk memperoleh bobot prioritas masing-masing faktor. Nilai CR digunakan untuk memastikan bahwa penilaian yang diberikan konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam penentuan faktor yang paling mempengaruhi dilakukan perhitungan yaycycoycoycaEa ycycuycycayco yceycaycoycycuyc, sehingga hasil yang didapatkan menjadi batasan terkecil faktor yang dapat masuk dalam faktor yang paling mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu. Tabel 3 menampilkan stakeholder terpilih berdasarkan hasil analisis stakeholder sesuai tingkat kepentingan dan perannya. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 Klasifikasi Pemerintah Masyarakat Akademisi Tabel 3 Stakeholder Terpilih Stakeholder Dinas Komunikasi dan Bidang Informasi dan Informatika Komunikasi Publik Dinas Pemberdayaan Bidang Pengelolaan Masyarakat dan Desa Keuangan dan Aset Desa Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian. Pangan dan Perikanan Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Perdagangan. Perindustrian dan Tenaga Bidang Perdagangan Kerja Bidang Perumahan dan Dinas Pekerjaan Umum dan Kawasan Permukiman Penataan Ruang Bidang Bina Marga Bidang Lalu Lintas dan Dinas Perhubungan Angkutan Bidang Pengendalian Dinas Lingkungan Hidup Pencemaran Kerusakan Lingkungan Hidup Badan Penanggulangan Bidang Pencegahan dan Bencana Daerah Kesiapsiagaan Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata. Pemuda Bidang Pengembangan dan Olahraga Pariwisata Pemerintah Kecamatan Mojogedang Pemerintah Desa Pendem Pokdarwis UMKM Kelompok Wanita Tani PKK Karang Taruna Sanggar Tari Ir. Galing Yudana. Septi Wulandari S. Si. ,M. Total Jumlah Tabel 4 berikut menampilkan ketentuan skala nilai yang digunakan dalam analisis AHP. Skala Tabel 4. Ketentuan Skala Nilai dalam Analisis AHP Definisi Kedua kriteria memiliki pengaruh sama besar Ragu-ragu antara sama berpengaruh dan sedikit berpengaruh karena selisih nilai Agak sedikit berpengaruh pertimbangan yang tipis/berdekatan Sedikit berpengaruh Kriteria satu memiliki sedikit kekuatan pengaruh dibanding kriteria lain Ragu-ragu antara sedikit berpengaruh dan lebih berpengaruh karena selisih nilai Agak lebih berpengaruh pertimbangan yang tipis/berdekatan Lebih berpengaruh Kriteria satu lebih berpengaruh dibanding kriteria lain Ragu-ragu antara lebih berpengaruh dan sangat berpengaruh karena selisih nilai Agak sangat berpengaruh pertimbangan yang tipis/berdekatan Sangat berpengaruh Kriteria satu lebih dominan berpengaruh dibanding kriteria lain Ragu-ragu antara sangat berpengaruh dan teramat berpengaruh karena selisih nilai Agak teramat berpengaruh pertimbangan yang tipis/berdekatan Teramat berpengaruh Kriteria satu mutlak lebih berpengaruh dibanding kriteria lain Sumber: (Saaty, 2. Intensitas Pengaruh Sama berpengaruhnya Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 1 GAMBARAN UMUM DESA WISATA SUMBERBULU Berdasarkan dokumen Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Karanganyar Tahun 2016-2026. Desa Wisata Sumberbulu termasuk dalam Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP) Karanganyar Utara yang fokus pengembangannya berupa wisata alam, agrowisata, sejarah, budaya, ziarah, religi, dan desa wisata. Dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Karanganyar Tahun 2013-2032. Kecamatan Mojogedang memiliki potensi dalam pengembangan pariwisata buatan, yaitu agrowisata pendem yang berlokasi tepat di desa wisata Sumberbulu. Desa Pendem. Penetapan tersebut disesuaikan dengan potensi yang ada. Sekitar 37% lahan Desa Pendem merupakan lahan pertanian berupa persawahan dan perkebunan. Berdasarkan data monografi Desa Tahun 2024, sekitar 48% penduduk di Desa Pendem memiliki mata pencaharian sebagai tani dan buruh tani. Potensi-potensi tersebut, baik dari potensi alam dan sosial masyarakatnya, mendukung pengembangan pariwisata agrowisata. Berdasarkan data Profil Desa Wisata Sumberbulu, potensi desa antara lain pertanian, peternakan, kesenian, dan sumber mata air . Dalam perkembanganya. Desa Wisata Sumberbulu memanfaatkan potensi tersebut melalui pengembangan wisata edukasi dengan dibuat menjadi paket-paket wisata agar pengunjung dapat menikmati aktivitas wisata dengan lengkap mulai dari wisata alam, budaya, maupun buatan. Desa wisata Sumberbulu adalah salah satu lokasi wisata yang bukan hanya menawarkan potensi alam, namun juga mengedepankan karakteristik masyarakat sebagai daya tarik wisatanya. Pengembangan desa wisata dicluar potensi alam menjadikan Desa Wisata Sumberbulu menjadi desa wisata yang mampu menarik wisatawan. Tidak hanya menawarkan keindahan alam. Desa Wisata Sumberbulu juga mengajak wisatawan untuk ikut merasakan kehidupan masyarakat desa. Dalam perkembangannya. Desa Wisata Sumberbulu telah melalui tiga tahapan sebelum dibentuk desa wisata, yaitu tahap awal pada tahun 2018, tahap persiapan pada tahun 2018 hingga 2019, dan terakhir tahap peresmian dan pengembangan pada tahun 2019 hingga saat ini. Melalui beberapa tahapan tersebut, pihak-pihak yang terlibat melakukan berbagai upaya untuk mendukung perkembangan desa wisata. Terlebih sejak ditetapkannya sebagai desa wisata secara sah oleh Pemerintah Daerah pada tahun 2019. Desa Wisata Sumberbulu gencar melakukan upaya pengembangan, mulai dari peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat yang mana masyarakat dilibatkan dalam aktivitas wisata, hingga mampu memberikan keuntungan secara ekonomi serta menjalin kerja sama pentahelix dengan berbagai pemangku 2 FAKTOR INTERNAL YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN DESA WISATA SUMBERBULU Berdasarkan hasil analisis content analysis, diketahui bahwa faktor internal yang mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu meliputi faktor yang berasal dari dalam desa wisata dan dapat dikendalikan langsung oleh pengelola desa wisata maupun komunitas lokal yang memiliki kepentingan dan pengaruh terhadap perkembangan desa wisata. Berikut merupakan hasil analisis content analysis yang terdiri dari faktor dan sub faktor internal yang mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu. Gambar 2. Faktor dan Sub Faktor Internal yang Mempengaruhi Perkembangan Desa Wisata Sumberbulu 1 Potensi Sumberdaya Alam dan Budaya Desa Wisata Sumberbulu memiliki potensi antara lain pertanian, peternakan, kesenian, serta sumber mata air . yang dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. Pertanian dan peternakan menjadi mata pencaharian masyarakat Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 lokal, sehingga aktivitas sehari-hari yang dilakukan adalah bertani dan beternak. Di sisi lain, kesenian dan budaya tradisional yang dimiliki Desa Wisata Sumberbulu cukup beragam, seperti tari toya wening, tari tampah, tari reog, dan seni gejrog lesung yang mencirikan kekhasan Desa Wisata Sumberbulu (P6 Koordinator Kesenian, wawancara pada Juli Potensi lainnya adalah sendang, akan tetapi saat ini sendang tersebut hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat. Potensi lokal yang bercirikan kekhasan desa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Potensi-potensi yang dimiliki ini kemudian dikembangkan menjadi serangkaian aktivitas wisata yang dikemas dalam paket-paket wisata yang dijadikan sebagai aktivitas wisata edukasi. Wisatawan diajak untuk ikut terlibat dalam prosesnya, sehingga wisatawan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang baru melalui aktivitas tersebut. Faktor utama yang mampu menarik wisatawan ke area pedesaan adalah atraksi wisata. Faktor tersebut mengakibatkan munculnya motivasi wisatawan untuk melakukan pergerakan dengan tujuan rekreasi ke daerah pedesaan. Gambar 3. Peta Persebaran Potensi Wisata Desa Wisata Sumberbulu 2 Aman dari Risiko Bencana Pedesaan berada pada area pinggiran atau luar perkotaan. Kondisi geografis yang cukup jauh dari perkotaan serta cuaca cukup berbeda menjadikan daerah pedesaan tidak mudah dicapai. Daerah pedesaan juga tidak terlepas dari bahaya bencana alam (Risandewi, 2. Desa Wisata Sumberbulu berada pada ketinggian A400 mdpl yang termasuk pada daerah dataran tinggi dan jika dilihat dari kelerengannya, berada pada kelerangan 8-15% atau termasuk dalam kategori landai . ihat Gambar . Kondisi tersebut menjadikan Desa Wisata Sumberbulu berada pada lokasi yang aman dari risiko bencana dan menjadi keunggulan desa. Wisatawan yang datang tetap merasa aman dan nyaman selama berada di Desa Wisata Sumberbulu. Meskipun tidak ada risiko bencana alam. Desa Wisata Sumberbulu tetap menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan melalui program kampung iklim untuk meningkatkan ketahanan Salah satu program yang diadaptasi sebagai atraksi wisata adalah penerapan teknologi tepat guna berupa Program tersebut tidak hanya menarik pengunjung untuk sadar akan lingkungan (P2 Ketua Pokdarwis, wawancara Juli 2. , akan tetapi dapat membantu menciptakan desa wisata yang berkelanjutan dan menarik, hingga mampu meningkatkan citra desa wisata sebagai tempat yang sadar akan keberlanjutan lingkungan. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 Gambar 4. Peta Kelerengan dan Kawasan Rawan Bencana Kabupaten Karanganyar 3 Kerja Sama Komunitas Masyarakat Melalui pendekatan terencana dan kolaboratif. Pokdarwis tidak hanya berperan dalam mengembangkan desa wisata, tetapi juga memastikan keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat Dengan demikian, peran Pokdarwis menjadi krusial dalam menjaga berjalannya dan keberhasilan pelaksanaan aktivitas wisata di desa wisata. Keterlibatan aktif masyarakat di Desa Wisata Sumberbulu terlihat dalam proses perencanaan, pengambilan keputusan, hingga evaluasi yang dilaksanakan secara rutin melalui musyawarah desa. Selain itu, masyarakat juga berkontribusi melalui penyediaan jasa dan layanan, seperti penyedia jasa catering, akomodasi homestay, hingga menjadi pemandu wisata. Sehingga dalam pelaksanaan aktivitas wisata, masyarakat bukan hanya menyediakan fasilitas tersebut, namun juga ikut berinteraksi dan mengajak wisatawan untuk melakukan aktivitas keseharian masyarakat lokal. Sejalan dengan hal tersebut. Marzo-Navarro et al. , . , menyatakan bahwa saling melengkapi antara potensi serta keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci penting dalam pengembangan desa wisata. Dengan demikian, secara khas desa wisata membutuhkan partisipasi masyarakat tidak hanya mendukung pelaksanaan kegiatan wisata, tetapi juga meningkatkan keberlanjutan dan kualitas pengalaman wisatawan di Desa Wisata Sumberbulu. 4 Ketersediaan Infrastruktur Pariwisata Di Desa Wisata Sumberbulu, penyediaan infrastruktur dibutuhkan sebagai pendukung dalam pelaksanaan kegiatan wisata live in yang menjadi aktivitas khas desa wisata. Akomodasi homestay dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan live in, sehingga wisatawan dapat berinteraksi, mendapatkan berbagai pengalaman, serta dapat menikmati suasana kehidupan pedesaan dengan segala aktivitas kesehariannya. Di sisi lain, amenitas juga diperlukan sebagai fasilitas lainnya untuk mendukung berjalannya aktivitas wisata di Desa Wisata Sumberbulu. Di Desa Wisata Sumberbulu, disediakan berbagai fasilitas wisata, seperti pusat informasi, toilet umum, tempat parkir, masjid, pos kesehatan, warung, dan rumah makan agar wisatawan merasa nyaman selama berada di desa wisata. Ketersediaan fasilitas tersebut tersebar dan dapat difungsikan dengan baik. Ketersediaan jaringan listrik, air, dan telekomunikasi juga tersedia dengan baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat serta wisatawan yang datang berkunjung. Pemenuhan fasilitas tersebut bertujuan agar wisatawan dapat merasakan kepuasan atas pemenuhan kebutuhan saat berada di desa wisata (Widiantari et al. , 2. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 Gambar 5. Peta Persebaran Infrastruktur Desa Wisata Sumberbulu 5 Promosi dan Pemasaran Desa Wisata Sumberbulu melakukan beberapa strategi mempromosikan desa wisata yang meliputi promosi menggunakan media cetak, promosi melalui media sosial, dan promosi melalui event dan pameran. Promosi melalui media sosial menjadi langkah paling efektif untuk meningkatkan visibilitas Desa Wisata Sumberbulu. Pemanfaatan teknologi melalui digitalisasi wisata memberikan jasa layanan pariwisata kepada wisatawan dengan kemudahan akses dalam rangka penyelenggaraan pemasarannya. Pada Desa Wisata Sumberbulu, digitalisasi wisata lebih menekankan pada pemanfaatan dalam pemasaran wisata, pemasaran wisata melalui teknologi yang memungkinkan pemasaran dengan model modern untuk mendorong kemitraan dan prospek bisnis serta memudahkan wisatawan untuk mengakses informasi wisata dari mana pun (Mumtaz & Karmilah, 2. 3 FAKTOR EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN DESA WISATA SUMBERBULU Faktor eksternal yang memengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu meliputi faktor yang berasal dari luar desa wisata. Walaupun beberapa faktor eksternal berada di luar kendali pengelola desa wisata secara langsung, namun pengelola desa wisata masih berperan di dalamnya. Berikut merupakan hasil analisis content analysis yang terdiri dari faktor dan sub faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu. Gambar 6. Faktor dan Sub Faktor Internal yang Mempengaruhi Perkembangan Desa Wisata Sumberbulu 1 Kerja Sama Pentahelix Partisipasi dan kerja sama dengan berbagai stakeholder menjadi penting dalam menutupi kekurangan sumber daya dalam pengembangan desa wisata (Paristha et al. , 2. Bentuk kerja sama yang dilakukan dapat berupa dukungan Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 pengembangan infrastruktur pariwisata, pemberdayaan masyarakat, penelitian dan pengembangan, jaringan kemitraan, kebijakan, hingga promosi desa wisata. Di Desa Wisata Sumberbulu, kerja sama pemangku kepentingan yang terjalin dalam pengembangan Desa Wisata Sumberbulu melalui kerja sama pentahelix yang melibatkan lima pemangku kepentingan, yaitu akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media untuk mendukung pengembangan desa wisata yang lebih efektif dan terkoordinasi. Keseluruhan koordinasi ditangani oleh Pokdarwis sebagai penanggung jawab desa wisata sehingga keterlibatan dalam pengembangan Desa Wisata Sumberbulu dikomunikasikan dan dikoordinasikan langsung melalui Pokdarwis. Dalam pengembangan Desa Wisata Sumberbulu, pihak akademisi memiliki peranan yang lebih banyak dibandingkan dengan pemangku kepentingan lainnya. Peran akademisi dimulai melalui pendampingan pembentukan Pokdarwis, sosialisasi sadar wisata kepada masyarakat, dan pelatihan dalam bidang pariwisata, seperti pelatihan homestay, tour guide, cinderamata, dan lain sebagainya. Akan tetapi, sebagai pemegang kebijakan, pihak pemerintah memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam pengembagan desa wisata, walaupun sempat terkendala dalam pengesahan Desa Wisata Sumberbulu, hal tersebut dapat diselesaikan dengan baik. 2 Minat Wisatawan Minat wisatawan dapat diartikan sebagai kecenderungan orang yang akan melakukan perjalanan wisata terhadap suatu objek wisata sehingga terdorong untuk mengunjungi dengan tujuan rekreasi. Berdasarkan data jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Karanganyar pada tahun 2021-2023 dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar, wisatawan saat ini cenderung memilih daya tarik wisata alam dan budaya. Kecenderungan tersebut menjadikan desa wisata sebagai alternatif pariwisata baru pada saat ini karena mampu menawarkan keindahan alam pedesaan serta budaya tradisional yang khas. Berdasarkan Rencana Strategis (Renstr. Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar tahun 2024-2026, desa wisata menjadi alternatif pilihan berwisata. Strategi tersebut dilatarbelakangi oleh adanya tren berwisata baru dimana wisatawan memiliki kecenderungan untuk merasakan kehidupan pedesaan dan mendapat berbagai pengalaman baru yang tidak pernah didapatkan sebelumnya. Kecenderungan minat wisatawan juga dapat terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan (Santoso & Putra, 2. Berikut merupakan jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Sumberbulu pada tahun 2018-2024 . pdate Juli 2. Tabel 5. Jumlah Kunjungan Wisatawan di Desa Wisata Sumberbulu Tahun 2018-2024 Tahun Jumlah Pengunjung Persentase 81,25% -43,77% -59% 45,33% 87,53% Sumber: (Pokdarwis, 2. Jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Sumberbulu naik hingga 81,25% pada tahun 2019, tetapi turun sebanyak -43,77% pada tahun 2020 yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 yang merupakan hal yang tidak dapat Setelah pandemi Covid-19 berlalu pada tahun 2022, wisatawan mulai bertambah dan naik hingga 45,33% . ihat Tabel . Walaupun jumlah kunjungan wisatawan cenderung fluktuatif, namun setelah pandemi Covid-19 kunjungan wisatawan cenderung meningkat. Hal tersebut menggambarkan bahwa desa wisata menjadi alternatif wisata saat ini. 3 Aksesibilitas Eksternal Ketersediaan jaringan jalan dari pusat Kabupaten Karanganyar menuju Desa Wisata Sumberbulu dihubungkan dengan jaringan jalan lokal . ihat Gambar . Kondisi tersebut memudahkan wisatawan untuk menjangkau Desa Wisata Sumberbulu menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Kemudahan akses menuju lokasi desa wisata juga dibantu dengan adanya google maps, media sosial, plakat-plakat penunjuk arah, gapura masuk dan keluar desa wisata, sehingga wisatawan akan dengan mudah mencapai Desa Wisata Sumberbulu. Menurut Yuliarti . , lokasi wisata tidak mungkin akan dikunjungi oleh wisatawan apabila tidak dihubungkan dengan jalan maupun transportasi pendukung, sehingga aksesibilitas menjadi faktor penting dalam pengembangan desa wisata. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kabupaten Karanganyar, terdapat dua jalur trayek yang melewati Desa Wisata Sumberbulu. Akan tetapi, saat ini tidak ada transportasi umum yang menjangkau hingga ke Desa Wisata Sumberbulu . ihat Gambar . Berdasarkan hasil wawancara dengan P3 selaku Manager Pokdarwis, hal tersebut tidak menjadi kendala karena jaringan jalan sudah cukup mudah untuk dijangkau dan wisatawan yang datang cenderung menggunakan mobil pribadi atau bus. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 Gambar 7. Peta Aksesibilitas Pariwisata Desa Wisata Sumberbulu 4 FAKTOR YANG PALING MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN DESA WISATA SUMBERBULU Berdasarkan hasil analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) pada faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan desa wisata Sumberbulu Kabupaten Karanganyar, didapatkan hasil sebagaimana ditunjukkan Gambar 8. Terdapat delapan faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata, namun analisis ini bertujuan untuk melihat faktor yang paling mempengaruhi, sehingga dibuat asumsi bahwa faktor yang paling mempengaruhi memiliki nilai lebih dari sama dengan 0,125 atau 12,5%, yaitu kerja sama komunitas masyarakat dalam lingkup internal, potensi sumber daya alam dan budaya, dan kerja sama pentahelix. Gambar 8. Diagram Faktor yang Paling Mempengaruhi Perkembangan Desa Wisata Sumberbulu 1 Kerja Sama Komunitas Masyarakat dalam Lingkup Internal Berdasarkan hasil analisis AHP, didapatkan faktor pertama yang paling mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu dengan persentase sebesar 29,1%, yaitu kerja sama komunitas masyarakat dalam lingkup internal. Faktor ini menjadi faktor pertama mengingat pengembangan desa wisata dalam skala kecil yang berorientasi terhadap masyarakat, sehingga koordinasi komunitas masyarakat memiliki pengaruh besar dalam perkembangan desa wisata. Koordinasi tersebut dimulai dari penggalian potensi, perencanaan pengembangan melalui forum diskusi, hingga strategi pengembangan dengan menciptakan inovasi baru. Menurut Widiastuti & Nurhayati . , kesadaran dan kemauan masyarakat setempat untuk mengembangkan desa wisata memiliki pengaruh terhadap perkembangan desa wisata. Kesadaran tersebut dilakukan melalui peran aktif masyarakat dalam pengembangan desa wisata (Hatibie & Purwaningrum, 2. Di Desa Wisata Sumberbulu, partisipasi masyarakat tidak hanya terlibat dalam pelaksanaan kegiatan wisata, tetapi juga meningkatkan keberlanjutan dan kualitas pengalaman wisatawan, hingga mereka dapat merasakan manfaat dari aktivitas wisata tersebut. Pokdarwis sebagai tokoh penggerak utama dalam upaya koordinator serta berbagai perannya dalam pengembangan desa wisata mampu membangun kerja sama yang baik antar komunitas masyarakat untuk mendukung pelaksanaan kegiatan wisata. Tokoh penggerak memiliki peran yang sangat besar dalam menggerakkan desa Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 wisata melalui komunitas pariwisata (Pokdarwi. , sehingga keterlibatan aktif masyarakat memiliki pengaruh terhadap perkembangan desa wisata (Hutasoit, 2. 2 Potensi Sumberdaya Alam dan Budaya Berdasarkan hasil analisis AHP, didapatkan faktor kedua yang paling mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu dengan persentase sebesar 20,9%, yaitu potensi sumber daya alam dan budaya. Faktor ini menjadi faktor kedua yang paling mempengaruhi mengingat potensi sumber daya alam dan budaya yang dimiliki menjadi daya tarik utama bagi wisatawan untuk berkunjung ke desa wisata. Keunikan yang dimiliki Desa Wisata Sumberbulu melalui pengembangan wisata edukasi menjadi motivasi besar bagi wisatawan untuk datang belajar dan mendapatkan banyak pengalaman selama melakukan aktivitas wisata. Aspek keunikan dari daya tarik wisata mampu menarik banyak wisatawan, sehingga hal tersebut menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata. Di sisi lain, pengembangan inovasi-inovasi produk atau daya tarik wisata juga mampu menjadi strategi penting untuk peningkatan kualitas dan pelayanan terhadap wisatawan yang kemudian akan mempengaruhi perkembangan desa wisata. 3 Kerja Sama Pentahelix Berdasarkan hasil analisis AHP, didapatkan faktor ketiga yang paling mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu dengan persentase sebesar 18,9%, yaitu kerja sama pentahelix. Faktor ini menjadi faktor ketiga mengingat kerja sama pentahelix dapat membantu menutupi kekurangan dan keterbatasan dalam pengelolaan dan pengembangan desa wisata yang dilakukan melalui sosialisasi, pemberdayaan masyarakat, hingga pemberian bantuan berupa dana dan peralatan yang mendukung berjalannya kegiatan di desa wisata. Kerja sama pentahelix melibatkan akademisi, bisnis/swasta, komunitas, pemerintah, dan media. Kerja sama pemerintah, swasta, dan masyarakat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan desa wisata yang mana hal tersebut berpengaruh terhadap desa wisata. Akan tetapi, pada desa wisata Sumberbulu pihak akademisi, komunitas, dan media juga memiliki peranan dalam mendukung perkembangan desa wisata. Akademisi berfokus pada mendukung peningkatan pengetahuan, komunitas sebagai lembaga non profit yang secara sukarela memberikan sosialisasi dan bantuan, serta pihak media yang membantu dalam kegiatan promosi dan pemasaran. Menurut Hutasoit . , tidak adanya keterpaduan atau kerja sama antar stakeholder dalam pengelolaan desa wisata dapat menghambat perkembangan desa wisata, sehingga pada Desa Wisata Sumberbulu, kerja sama pentahelix dikoordinasikan satu arahan oleh Pokdarwis agar dalam keterlibatan pengelolaan desa wisata dapat terstruktur dan berjalan sesuai dengan visi misi Desa Wisata Sumberbulu. Setelah mengetahui faktor yang paling berpengaruh dari semua subfaktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu, maka akan dianalisis mengenai faktor yang paling berpengaruh. Berikut merupakan hasil dari tingkatan faktor dan subfaktor yang mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu Kabupaten Karanganyar. Gambar 9. Diagram Sub Faktor yang Paling Mempengaruhi Perkembangan Desa Wisata Sumberbulu Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 90-105 Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 9, terdapat 20 sub faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata, namun melalui analisis ini bertujuan untuk melihat sub faktor yang paling mempengaruhi, sehingga dibuat asumsi bahwa sub faktor yang paling mempengaruhi memiliki nilai lebih dari sama dengan 0,05 atau 0,5%. Berdasarkan hasil AHP pada Gambar 9, didapatkan hasil bahwa terdapat 7 sub faktor yang paling berpengaruh, yaitu partisipasi masyarakat, pembuatan paket-paket wisata, kerja sama dengan pihak pemerintah, kerja sama dengan pihak akademisi, peran Pokdarwis sebagai penggerak utama, pemanfaatan sumber daya alam, dan budaya serta penyediaan akomodasi. Partisipasi masyarakat menjadi sub faktor paling berpengaruh dengan persentase sebesar 17% karena keseluruhan kegiatan membutuhkan partisipasi dari masyarakat. Apabila masyarakatnya kurang memberikan dukungan terhadap pengembangan desa wisata, maka akan sulit untuk membangun koordinasi dan mencapai tujuan pengembangan desa Terlebih di Desa Wisata Sumberbulu, posisi masyarakat dijadikan sebagai daya tarik utama dan pelaksana wisata Pembuatan paket-paket wisata dengan persentase sebesar 12,2% menjadi strategi yang tepat untuk menarik Tidak hanya menawarkan objek wisata untuk dipertontonkan. Desa Wisata Sumberbulu menawarkan kegiatan Kerja sama dengan pemerintah dengan persentase sebesar 11% juga menjadi penting untuk dilakukan mengingat pengembangan desa wisata dalam skala kecil yang memiliki berbagai keterbatasan. Kerja sama dengan akademisi juga termasuk dalam sub faktor paling berpengaruh dengan persentase sebesar 9,9% yang memberikan pengaruh penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk dapat ikut berpartisipasi dalam pengembangan desa wisata. Tidak hanya itu, pihak akademisi juga mampu memberikan profit melalui perjanjian MoU selama 5 tahun dan pengembangan inovasi berupa batik mpon-mpon. Hal lain yang paling berpengaruh dalam perkembangan Desa Wisata Sumberbulu adalah peran Pokdarwis dengan persentase sebesar 9,6% sebagai penggerak utama. Konsistensi Pokdarwis yang ingin mengembangkan desa wisata membuahkan hasil yang baik. Berbagai strategi dilakukan untuk mengembangkan desa wisata, seperti menjadi inisiator dalam penggalian potensi desa, pemberdayaan masyarakat hingga penyusunan rencana pengembangan desa wisata. Pemanfaatan sumber daya alam dan budaya dengan persentase sebesar 6,7% menjadi penting mengingat hal ini menjadi awal dari pengembangan desa wisata. Walaupun potensi alamnya kurang, namun potensi budaya masyarakat yang masih terjaga menjadi pondasi yang kuat bagi desa wisata Sumberbulu. Penyediaan akomodasi dengan persentase sebesar 6,7% menjadi hal yang tak lepas dari kegiatan wisata. Selain untuk mendukung pelaksanaan kegiatan wisata, penyediaan infrastruktur juga mampu meningkatkan kenyamanan wisatawan selama berada di desa wisata. 5 KESIMPULAN Berdasarkan hasil content analysis yang telah diuraikan sebelumnya, didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu Kabupaten Karanganyar terbagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor potensi sumberdaya alam dan budaya, faktor aman dari risiko bencana alam, faktor kerja sama komunitas masyarakat dalam lingkup internal, faktor ketersediaan infrastruktur pariwisata, faktor promosi, dan Sedangkan, faktor eksternal terdiri dari faktor kerja sama pentahelix, faktor minat wisatawan, dan faktor aksesibilitas eksternal. Setiap faktor tersebut memiliki turunan berupa sub faktor yang menjelaskan lebih detail kondisi faktor yang ada. Berdasarkan hasil analisis Analytical Hierarchy Process (AHP), didapatkan tiga faktor yang paling mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu Kabupaten Karanganyar, yaitu kerja sama komunitas masyarakat dalam lingkup internal, . potensi sumber daya alam dan budaya, dan . kerja sama pentahelix. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pokdarwis Desa Wisata Sumberbulu, masyarakat Desa Wisata Sumberbulu. Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, serta dinas-dinas lainnya yang terlibat dalam penelitian ini dan telah membantu serta memberikan izin dan informasi, sehingga penelitian dapat berjalan dengan lancar. DAFTAR PUSTAKA