. Volume 04 Nomor 01 . Penerapan Manajemen Risiko Operasional Dalam Upaya Meminimalisir Kesalahan Sumber Daya Insani di BMT Istiqomah Plosokandang Tulungagung Implementation of Operational Risk Management in Effort to Minimize Human Resource Errors at BMT Istiqomah Plosokandang Tulungagung Fatkhur Rohman Albanjari1. Hanum Willyan Dinara2. Universitas Muhammadiyah Ponorogo1 Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung2 Email: fatkhurrohmanalbanjari@umpo. id1, hanumdinara2105@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan manajemen risiko operasional upaya memimilimalisir kesalahan sumber daya insani pada BMT Istiqomah Plosokandang Tulungagung. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dan metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung kepada Bapak Imam Mustakim, bertempat di kantor BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan yang dilakukan agar tidak mengalami kebangkrutan adalah dengan menggunakan sistem digital yang modern dan berhati-hati kepada para calon anggota serta bentuk pertanggungawaban yang ditanggung oleh yang bersangkutan ketika terjadi suatu menjalin hubungan baik dengan para anggota dan masyarakat sekitar serta ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan dengan menyumbangkan dana agar BMT Istiqomah tidak dipandang sebelah mata. dan BMT Istiqomah Unit 2 menerapkan kejujuran, keadilaan, transparan, dan kepercayaan yang baik supaya manajemen kepemimpinan bisa berjalan dengan lancar. Kata Kunci: Baitul Maal Wat Tamwil. Manajemen Risiko. Sumber Daya Insani. ABSTRACT This research aims to analyze the implementation of operational risk management in efforts to minimize human resource errors at BMT Istiqomah Plosokandang Tulungagung. The research method used was descriptive qualitative, and the data collection method was carried out through direct interviews with Mr. Imam Mustakim, located at the BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang office. The research results show that the treatment taken to avoid bankruptcy is to use a modern digital system and be careful with prospective members and the form of responsibility borne by the person concerned when a problem occurs. establishing good relations with members and the surrounding community and participating in community activities by donating funds so that BMT Istiqomah is not underestimated. and BMT Istiqomah Unit 2 applies honesty, fairness, transparency and good trust so that leadership management can run smoothly. Keywords: Baitul Maal Wat Tamwil. Risk Management. Human Resource. IQTISADIE: JOUNAL OF ISLAMIC BANKING AND SHARIAH ECONOMY. Pendahuluan Bank merupakan satu entitas yang menghimpun dana melalui masyarakat berbentuk pemberian biaya ataupun juga melakukan kegunaan intermedia finansial, dan di Indonesia sendiri ada dua jenis sistem operasional bank yakni perbankan konvensional dan syariah. Bank dapat didefinisikan sebagai suatu lembaga usaha yang melakukan aktivitas penghimpunan dana melalui publik serta menyalurkannya pada beberapa pihak yang memerlukan berbagai bentuk pinjaman dan memberi jasa untuk arus pembayarannya. Bersamaan berkembangnya BMT pun semakin meningkat. BMT merupakan kependekan dari Baitul Maal wa Baitul Tamwil yang secara harfiah/lughowi. Baitul Maal berarti rumah dana dan Baitul Tamwil berarti rumah usaha. Baitul Mal berfungsi untuk mengumpulkan sekaligus mentasyarufkan dana sosial, sedangkan Baitul Tamwil merupakan lembaga bisnis yang bermotif laba. Sebagai lembaga bisnis. BMT lebih mengembangkan usahanya pada sektor keuangan, yakni simpan pinjam. Usaha ini seperti pada perbankan yaitu menghimpun dan menyalurkan dana anggota kepada sektor ekonomi yang Namun. BMT mengembangkan lahan bisnisnya pada sektor riil maupun sektor keuangan BMT yang saat ini telah tersebar banyak di hampir seluruh wilayah Indonesia dinilai telah menjadi urat nadi atau andalan masyarakat Indonesia, khususnya yang berpenghasilan rendah . ltra-mikro, mikro keci. dalam mengakses layangan jasa keuangan. BMT juga telah dianggap menjadi salah Khanza Azizah. AuAnalisis Manajemen Risiko Operasional Baitul Mal Wattamwil Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi pada KSPPS BMT Tumang DelangguAy. Skripsi tidak Diterbitkan, (Surakarta: UIN Raden Mas Said Surakarta, 2. , 1. Muhammad Ridwan. Manajemen Baitul Maal Watamwil, (Yogyakarta. UII Press Yogyakarta, 2. , 126. Volume 04 Nomor 01 . satu pendorong utama pemberdayaan masyarakat khususnya dalam aspek pengembangan usaha (UMKM). 3 Akan tetapi, masih banyak tantangan dan masalah yang dihadapi BMT hingga saat ini yang membuat BMT seringkali tertinggal oleh sektor keuangan lainnya seperti perbankan, yang bila ditelaah lebih jauh layanan keuangan perbankan sebenarnya tidak serta merta cocok dengan masyarakat berpenghasilan rendah karena berfokus pada aspek komersial tanpa pemberdayaan. Tantangan tersebut adalah mulai dari lemahnya pengawasan BMT, tumpang tindihnya regulasi, kurangnya SDM yang berkualitas, kurangnya pemahaman konsep dan ideologi BMT baik di pengurus/pengelola BMT, permodalan/pendanaan, kurangnya infrastruktur pendukung yang tersedia, dan lain sebagainya. Risiko erat kaitannya dengan kemungkinan kerugian dan timbulnya Aktivitas risiko harus dilakukan dalam rangka meminimalisir risiko yang timbul dari manajemen risiko sehingga bank dapat menghasilkan Namun, risiko merupakan hal yang wajar dalam suatu lembaga Karim menerangkan berbagai risiko yang selalu ada dalam kegiatan fungsional lembaga keuangan syariah dan terbagi dalam 3 jenis, yaitu pembiayaan, pasar, dan operasional. Salah satu dari beberapa risiko yang dijalani oleh badan keuangan syariah untuk aktivitas usaha tersebut adalah risiko operasional. Penggunaan risiko operasional (Risk Managemen. memiliki tujuan untuk mencegah kerugian yang diakibatkan oleh risiko atau sebuah kejadian. Tujuan utama melalui manajerial risiko yaitu identifikasi risiko, mengatur dan mengontrol risiko dengan upaya yang terbaik. Yang dimana BMT Moh. IsroAoi. BMT Bahtera The Journey, (Jawa Tengah: Penerbit NEM-Anggota IKAPI, 2. , 224Ai225. Ibid. , 227 IQTISADIE: JOUNAL OF ISLAMIC BANKING AND SHARIAH ECONOMY. Istiqomah Unit 2 Plosokandang pun tidak terlepas dari risiko yang dapat menyebabkan bisnis/usaha menjadi gagal. BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang sendiri merupakan lembaga keuangan syariah yang berada di Tulungagung yang bergerak pada bidang pertumbuhan sektor usaha mikro dengan melandaskan aktivitasnya pada aturan-aturan syariah Islam dan menitikberatkan perhatiannya pada perekonomian rakyat, khususnya di pasar-pasar tradisional. Kantor cabang ini resmi didirikan pada tanggal 24 Juli 2004 oleh Bupati Tulungagung Bapak Ir. Heru Tjahjono. MM. tanpa mengganggu keuangan BMT. Setelah kurang lebih 13 tahun menyewa tanah dan bangunan milik Mbah Bejo (Bag. Pada tanggal 7 November 2017, kantor BMT Istiqomah Unit 2 resmi pindah kantor di Desa Plosokandang. Tulungagung (Barat UBHI) yang sudah merupakan kantor dengan tanah milik sendiri dan tidak menyewa lagi. Pada hari Senin tanggal 9 November 2015 hingga saat ini, kantor BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang sudah bisa beroperasi melayani para anggota-anggotanya. Dari pembahasan singkat di atas, maka akan dibahas lebih lanjut mengenai . penanggulangan risiko oleh BMT Istiqomah Unit 2, . penerapan manajemen risiko operasional di BMT Istiqomah Unit 2, . manajemen kepemimpinan di BMT Istiqomah Unit 2 dalam menanggulangi Adapun tujuan pembuatan artikel ini adalah untuk memberikan pengetahuan serta wawasan kepada pembaca terkait manajemen risiko operasional yang ada di BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang. Kajian Pustaka Manajemen Risiko Definisi mengenai manajemen risiko cukup banyak, salah satu diantaranya adalah menurut Comitte of Sponsoring Organization of the Tradeaway Comision (COSO), yang mendefinisikan manajemen risiko Khanza Azizah. AuAnalisis Manajemen. , 4. Volume 04 Nomor 01 . perusahaan (Enterprise Risk Managemen. sebagai sebuah proses yang dipengaruhi oleh dewan perusahaan, manajemen dan personal lain enstitas tersebut. Baitul Mal wa Tamwil memerlukan proses manajemen risiko agar dapat mencapai tujuannya, yaitu kesejahteraan dunia dan akhirat . BMT harus memiliki manajemen risiko yang berkualitas agar pembiayaan yang disalurkan tidak mengalami gagal bayar tanpa meninggalkan sisi kesyariahannya . haria complianc. dan dari sisi hukum positif atau undang-undang yang berlaku. 6 Dilihat dari sisi landasan hukumnya, manajemen risiko merupakan aplikasi dari prinsip kehati-hatian yang secara umum dianut oleh perbankan dan juga merupakan kewajiban karena diamanatkan oleh UU No. 7 Tahun 1992 UU No. 10 Tahun 1998 jo. UU No. 2 Tahun 2008 tentang perbankan. Manajemen risiko yang efektif oleh bank akan menghasilkan tingkat kinerja dan kesehatan yang baik bagi bank yang bersangkutan. 7 Tujuan dari manajemen risiko sendiri adalah untuk mengelola risiko dengan cara sumber-sumber serangkaian upaya agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir dengan baik. Mitigasi Risiko Penanggulangan risiko adalah suatu proses, prosedur, metode, dan upaya yang dilakukan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau atau memonitor, dan mengendalikan risiko dimana semua proses tersebut dilakukan untuk mengurangi potensi terjadinya peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian pada bank. Tujuannya adalah untuk menghindari Yanuar Dharma Putra dan Imron Mawardi. Eliminasi Risiko Operasional BMT Sri Sejahtera Surabaya. Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan, 6. , 1317Ai1330, (Surabaya: Departemen Ekonomi Syariah-Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR, 2. , 132. Veithzal Rivai dan Rifki Ismail. Islamic Risk Management For Islamic Bank, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2. , 65 KPPN Manokwari. Manajemen Risiko: Tujuan. Kategori, dan Mitigasi, (DITJEN PERBENDAHARAAN KEMENKEU RI, 2. IQTISADIE: JOUNAL OF ISLAMIC BANKING AND SHARIAH ECONOMY. perusahaan dari kegagalan, mengurangi pengeluaran, menaikkan keuntungan, menekan biaya produksi, dan lain sebagainya. Risiko dapat timbul akibat kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya kejadian eksternal yang mempengaruhi kegiatan operasional 10 Upaya yang dapat dilakukan adalah seperti memperbaiki sistem, memberikan pelatihan kepada karyawan, serta mempersiapkan langkah persiapan maupun pencegahan. Risiko Operasional Dalam dunia perbankan, risiko operasional sangat melekat di setiap aktivitas bank, seperti pada perkreditan, treasury dan investasi, operasional dan jasa, pembiayaan perdagangan, pendanaan dan instrumen utang, terknologi sistem informasi dan sistem informasi manajemen, serta pengelolaan SDM. Basle Commite mendefinisikan risiko operasional sebagai risiko kerugian yang tidak terduga akibat kurangnya sistem informasi atau sistem pengendalian internal, kesalahan dari karyawannya, maupun adanya proses internal yang tidak mencukupi dan/atau disfungsional, selain itu kesulitan eksternal yang juga berpengaruh dalam operasional yang dapat menyebabkan risiko menjadi lebih besar. 12 Beberapa faktor yang dapat menimbulkan risiko operasional antara lain: Risiko Komputer (Computer Ris. Kerusakan Mintenance Pabrik. Kecelakaan Kerja. Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual (Manual Ris. Kesalahan Abbas Salim. Asuransi & Manajemen Risiko, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2. , 201. Berita Bisnis. Pengertian Risiko Operasional. Jenis dan Cara Mengatasinya, (Berita dan Informasi Praktis Soal Ekonomi Bisnis, 2. Ikatan Bankir Indonesia (IBI) dan Banker Association for Risk Management (BAR. Manajemen Risiko 1, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2. , 149. Khaerul Umam. Manajemen Perbankan Syariah, (Bandung: Pustaka Setia, 2. , 136. Volume 04 Nomor 01 . Pembelian Barang. Pegawai Outsourcing, serta Globalisasi dalam Konsep Dan Produk. Metode Penelitian Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah field research . enelitian lapanga. yang bersifat kualitatif deskriptif. Penulis menggunakan jenis penelitian ini untuk mengetahui penanggulangan risiko, penerapan menanggulangi risiko pada BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang, yang dilaksanakan pada Oktober 2023, yang diperoleh dari data primer dengan wawancara kepada Bapak Imam Mustakim. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis yaitu metode observasi dan wawancara, serta ditambahkan dokumentasi. Dalam hal ini penulis melakukan wawancara kepada Bapak Imam Mustakim. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut: Pengumpulan data. Reduksi Data. Display Data dan Penarikan Kesimpulan. Pengumpulan data dilakukan oleh penulis dengan cara melakukan observasi dan wawancara kepada responden dalam hal ini adalah Bapak Imam Mustakim. Sedangkan reduksi data dilakukan dengan pencarian, pemilihan, pemfokusan, dan penyederhanaan data yang relevan dengan masalah yang diteliti. Untuk display data penulis akan mengumpulkan bahanbahan penting dalam penelitian ini sehingga siap untuk disajikan. Adapun penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari suatu kegiatan dari konfigurasi Pembuktian kembali atau verifikasi dapat dilakukan untuk mencari pembenaran dan persetujuan, sehingga validitas dapat dicapai. Kesimpulan dalam penelitian ini diperoleh dari reduksi data dan display data. Irham Fahmi. Manajemen Risiko Teori. Kasus dan Solusi, (Bandung: AlfaBeta, 2. , 54Ai61. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. (Bandung: Alfabet 2. , 99. IQTISADIE: JOUNAL OF ISLAMIC BANKING AND SHARIAH ECONOMY. Hasil dan Pembahasan Penanggulangan Risiko Manajemen di BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang Menurut hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dengan Bapak Imam Mustakim, bahwasannya BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang telah menerapkan beberapa upaya untuk menanggulangi adanya risiko yang terjadi, halnya dengan menggunakan sistem digital yang terus menyesuaikan zaman, yang dimana cara ini diharapkan dapat membantu memudahkan karyawan dalam melayani para anggota-anggotanya. berhati-hati sejak dini terhadap para calon anggota baru, yang mana sebelum menerima anggota baru diadakan wawancara dengan calon anggota baru untuk memastikan jika calon anggota tersebut benar-benar ingin menabung di BMT tersebut. serta memberikan pelatihan dan pendidikan kepada karyawan tentang bagaimana cara pengoperasian sistem yang ada dan bagaimana cara melayani para anggota sesuai dengan SOP yang berlaku. Ketika sebuah kesalahan atau kegagalan sudah terjadi di BMT Istiqomah Unit 2, menurut hasil wawancara yang telah dilakukan, bahwasannya prosedur pertanggungjawaban atas risiko operasional yang terjadi adalah meliputi beberapa proses seperti: Identifikasi kesalahan yang terjadi mulai dari manajer hingga operator yang bertugas. Dokumentasi kegiatan yang dilengkapi dengan info lokasi dan waktu Dokumentasi kendaraan tim dan kendaraan distributor komoditas disertai dengan surat jalan distributor. Dokumentasi . Volume 04 Nomor 01 . Dan menurut BMT Unit 2 Plosokandang, yang bertanggung jawab atas kesalahan atau kegagalan tersebut adalah manajer atau pegawai yang Dimana staf harus bertanggung jawab penuh atas kesalahan yang dilakukan dan harus siap menerima sanksi atas Namun sebelum BMT Istiqomah memberikan sanksi kepada pelakunya, terlebih dahulu ditentukan apakah kesalahan tersebut benar-benar dilakukan oleh orang tersebut, baru jika pihak tersebut terbukti berulang kali melakukan kesalahan. BMT akan mengambil tindakan tegas dengan memberikan sanksi atau bahkan memecatnya. Namun apabila yang bermasalah adalah komputer atau perangkat sistem lain yang berisi data para anggota, maka BMT Istiqomah Unit 2 akan segera melakukan upaya penggantian perangkat yang rusak tersebut dengan harapan data pada perangkat yang rusak tersebut dapat segera Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi kerusakan pada perangkat adalah perlu dilakukannya perawatan pada perangkat, seperti pemantauan atau pemeliharaan secara berkala, menyiapkan penggantian perangkat, serta peningkatan keamanan. Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa risiko operasional dapat timbul akibat kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau peristiwa yang mempengaruhi aktivitas bisnis suatu perusahaan. Oleh karena itu, meminimalkan terjadinya kesalahan selain yang disebutkan di atas. Upaya tersebut terdiri dari peningkatan pemantauan terhadap pelanggan dan pemberian pelatihan kepada pelanggan serta karyawan. Pusat juga IQTISADIE: JOUNAL OF ISLAMIC BANKING AND SHARIAH ECONOMY. memantau dan mengaudit kantor untuk memantau risiko yang sedang atau akan timbul. Serta mengacu pada penelitian terdahulu, bahwasanya berdasarkan Pasal 19 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, tanggung jawab Pelaku Usaha terhadap konsumen yaitu mencakup ganti rugi atas kerusakan, ganti rugi atas pengotoran, ganti rugi atas barang yang digunakan dari yang diperjual-belikan serta jasa yang digunakan dari yang ditawarkan atau yang dihasilkan. Kompensasi tersebut dapat berbentuk pengembalian uang dan atau penggantian barang dan/atau jasa yang secorak atau setara nilainya atau dapat pula dalam bentuk penjagaan kesehatan dan/atau pemberian sokongan yang sesuai dengan apa yang ditentukan oleh ketetapan yang ada dan berlaku. Penerapan Manajemen Risiko Operasional di BMT Istiqomah Unit 2 BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang dapat mengelola risiko operasional dengan baik dengan menerapkan praktik manajemen risiko yang baik. Hal ini mencakup pemantauan dan pengendalian risiko dalam pekerjaan operasional, sumber daya manusia, dan pemasaran. Untuk meminimalisir risiko yang mungkin timbul dari kegiatan pembiayaan. BMT Istiqomah perlu menerapkan prosedur dan kebijakan yang tepat. Kebijakan yang dimaksud adalah dengan menjalin hubungan baik dengan anggota maupun masyarakat, terkhusus masyarakat yang tinggal di daerah sekitar kantor BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang, ikut serta terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan dengan menyumbang dana yang walaupun tidak banyak, serta memiliki sistem digital yang baik agar dapat lebih mudah Ifelda Nengsih dan Dina Meidani. Strategi Manajemen Menghadapi Risiko Operasional Pada PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Haji Miskin Pandai Sikek. JPRO, 2. , 2775Ai5967, (Sumatera Barat: IAIN Batusangkar, 2. , 23. Sofwatun Nida. Pertanggungjawaban Bank Dalam Memberikan Ganti Rugi Terhadap Nasabah Atas Risiko Operasional (Contoh Kasus Pada PT Bank Mandir. Jurnal Hukum Adigama. Desember . , 3 . , (Fakultas Hukum. Universitas Tarumanagari, 2. , 814. Volume 04 Nomor 01 . dalam melayani para anggota. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk dapat menabung di BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang meminimalisir terjadinya risiko operasional dan akhirnya berdampak pada BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum. Penelitian terdahulu menjelaskan bahwa penerapan risiko operasional di Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) melibatkan manajemen risiko dalam mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari ketidakcukupan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional BMT. Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi risiko operasional di BMT meliputi pemantauan dan pemeliharaan berkala, cadangan perangkat, asuransi, pemulihan bencana, dan peningkatan keamanan. Selain itu, manajemen risiko juga merupakan strategi yang fleksibel dan dapat diterapkan untuk portofolio yang besar maupun kecil. Dalam konteks BMT, penerapan manajemen risiko juga harus mengikuti prinsipprinsip perbankan syariah. Yang dimana prinsip-prinsip tersebut dapat menunjukkan bahwa penerapan manajemen risiko pada pembiayaan dapat meningkatkan profitabilitas BMT. Kunci manajemen risiko yang baik adalah dengan mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko. Dengan demikian. BMT Istiqomah dapat mengurangi bahkan menangani berbagai potensi risiko yang dapat menimbulkan kerugian. Selain itu. BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang dapat belajar dari pengalaman BMT lain seperti BMT MundhoriAo dan Fira Isnaini. AuPenerapan Manajemen Risiko Pembiayaan Dalam Meningkatkan Profitabilitas (Studi Pada KSPPS BMT UGT Nusantara Cabang Jomban. Ay dalam https://doi. org/10. 30762/wadiah, diakses 02 Desember 2023 IQTISADIE: JOUNAL OF ISLAMIC BANKING AND SHARIAH ECONOMY. Mekar Dakwah dan BMT Bina Ihsanul Fikri yang telah menerapkan praktik manajemen risiko operasional yang baik. Manajemen Kepemimpinan di BMT Istiqomah Unit 2 Dalam Menanggulangi Resiko Kepemimpinan dianggap sebagai pendorong utama bagi organisasi yang mampu membangun budaya baru yang responsif terhadap perubahan. Banyak pihak percaya bahwa kepemimpinan berkaitan erat dengan keberhasilan organisasi. Pemimpin suatu organisasi memegang peranan penting dalam menentukan sukses tidaknya suatu organisasi tersebut. Pelayanan yang diberikan oleh organisasi menggambarkan pelayanan yang diberikan oleh pemimpin dalam mengelola organisasi. Pemimpin yang hebat mampu membimbing, mempengaruhi, dan mengawasi orang lain untuk melakukan tugas sesuai arahan untuk mencapai tujuan Mengacu pada penelitian sebelumnya. Manajemen kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan pada hukum Allah Swt dan sunah Rasulullah Muhammad Saw. Karena itu seorang pemimpin harus memahami dan memedomani ajaran al-Qur'an dan Hadist dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Seorang pemimpin dalam Islam setidaknya memiliki 5 sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yaitu jujur . , konsisten . , transparan . , profesional . , dan cerdas . Sifat-sifat tersebut yang dapat Eko Lita Permana. AuPenerapan Manajemen Risiko Pembiayaan Dalam Menjaga Likuiditas Dan Solvabilitas BMT (Studi Pada BMT Bina Ihsanul Fikri Yogyakart. Ay. Skripsi Tidak Diterbitkan, (Yogyakarta: Fakultas Ilmu Agama Islam. Universitas Islam Indonesia, 2. 45Ai46 Anung Pramudya. Implementasi Manajemen Kepemimpinan Dalam Pencapaian Tujuan Organisasi. JBMA, 1. , 2253Ai5483, (Yogyakarta: Akademi Manajemen Adminisrasi AuYPKAy, 2. , 49 . Volume 04 Nomor 01 . menjadikan seorang pemimpin menjalankan organisasi/perusahaannya dengan baik. Menurut hasil wawancara yang telah dilakukan, menurut Bapak Imam Mustakim bahwa untuk menerapkan manajemen kepemimpinan yang menjadikan operasional di BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang ini menjadi lebih baik adalah dengan memberikan pengetahuan kepada karyawan atau para anggota bahwa kejujuran, keadilan, transparan, konsisten, serta kepercayaan yang baik akan menjadikan suatu organisasi Serta mencontohkan kepada para karyawan cara menangani suatu masalah dengan solusi yang tepat. Di Baitul Mal Wat Tamwil (BMT), manajemen kepemimpinan yang baik mempertahankan kesuksesan perusahaan. Di bawah ini adalah beberapa aspek kunci manajemen kepemimpinan yang baik di BMT, antara lain:21 Kepemimpinan Transformasional: Pemimpin BMT harus mampu mengubah perilaku pegawai melalui motivasi dan koordinasi yang Kepemimpinan Inklusif: Pemimpin BMT lingkungan kerja yang inklusif dan mengelola konflik yang mungkin timbul antara karyawan dan anggota masyarakat. Kepemimpinan Karismatik: Karisma yang tertanam dalam diri pimpinan BMT dapat mempengaruhi, mendorong dan memotivasi Inarotul AAoyun dan M. Yusuf Aminudin. Manajemen Kepemimpinan Islami di Lembaga Keuangan (Kajian dalam Perspektif Al-QurAoan dan Hadis. JIB: Jurnal Perbankan Syariah, 1. Desember 2021, 48Ai57, (Tuban: Institut Agama Islam Nahdlatu Ulama Tuban, 2. Joko Pinarto. AuAnalisis Kepemimpinan Manager Terhadap Penyelesaian Pembiayaan Murabahah Bermasalah (Study Pada Baitul Maal Wat Tamwil Assyafiiyah Ke Pringsew. Ay, dalam http://repository. id, diakses 02 Desember 2023 IQTISADIE: JOUNAL OF ISLAMIC BANKING AND SHARIAH ECONOMY. Kepemimpinan Situasional: Pemimpin BMT menyesuaikan kepemimpinannya dengan berbagai situasi, seperti mengatasi pendanaan bermasalah Kepemimpinan Berdasarkan Undang-Undang: Pemimpin BMT wajib menerapkan prinsip perbankan syariah dalam melakukan kegiatan Kesimpulan BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan menerapkan beberapa langkah untuk mengatasi risiko operasional yang timbul, penggunaan perangkat yang terus berkembang, berhati-hati kepada calon anggota baru, serta memberikan pelatihan dan pendidikan kepada karyawan tentang cara mengoperasikan sistem yang ada dan cara melayani para anggota dengan mengikuti SOP yang Untuk meminimalisir risiko yang mungkin timbul dari kegiatan pembiayaan. BMT Istiqomah perlu menerapkan prosedur dan kebijakan yang tepat seperti dengan menjalin hubungan baik dengan anggota maupun masyarakat, ikut serta terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan dengan menyumbang dana yang walaupun tidak banyak, serta memiliki sistem digital yang baik agar dapat lebih mudah dalam melayani para anggota. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk dapat menabung dalam jangka waktu yang panjang, serta berdampak pada BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum. kebijakan manajemen kepemimpinan yang menjadikan operasional di BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang ini menjadi lebih baik, adalah dengan memberikan pengetahuan kepada karyawan atau para anggota tentang kejujuran, keadilan, transparansi, konsistensi, dan kepercayaan yang baik akan menjadikan suatu organisasi tersebut awet dan tidak mudah mengalami . Volume 04 Nomor 01 . masalah atau bahkan kebangkrutan, seta mencontohkan kepada para karyawan cara menangani suatu masalah dengan solusi yang tepat, sehingga mengurangi risiko operasional dan dampak negatif pada BMT Istiqomah Unit 2 Plosokandang. Daftar Pustaka