Jurnal Surya Beton Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 p-ISSN : 2302-5166, e-ISSN : 2776-1606 SURYA BETON http://jurnal. id/index. php/suryabeton Analisis Kesiapsiagaan Masyarakat Terhadap Bencana Tanah Longsor (Studi Kasus: Desa Karangbolong. Kecamatan Buayan. Kabupaten Kebume. Dio Dwi Pangestu1*. Nurmansyah Alami1. Eksi Widyananto1 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Purworejo 1 Email:diyopangestu36@gmail. Abstrak. Penelitian ini dilakukan di Desa Karangbolong. Kecamatan Buayan. Kabupaten Kebumen, yang memiliki topografi perbukitan dengan lereng terjal. Curah hujan tinggi yang terjadi pada 15 November 2023 menyebabkan peningkatan tekanan air pori dalam tanah serta pemukiman yang berada pada kemiringan lereng terjal hingga sangat terjal, sehingga memicu pergerakan tanah dan longsor yang berlangsung selama beberapa jam. Dengan kondisi kerawanan bencana tanah longsor tersebut maka diperlukan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana tanah Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapsiagaan masyarakat Desa Karangbolong dalam menghadapi bencana tanah longsor serta menganalisis faktor kendala yang terjadi pada masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data primer yang didapatkan dari kuesioner dan data sekunder didapatkan dari BPBD Kebumen yaitu data kebencanaan Kabupaten Kebumen tahun 2023. Teknik pengambilan sampel yaitu menggunakan rumus slovin serta pengolahan data pada penelitian ini dilakukan uji validitas, uji reliabilitas, perhitungan skor ideal dan jarak interval, dan perhitungan nilai rata-rata untuk membantu mengetahui tingkat kesiapsiagaan dan mengetahui faktor kendala masyarakat terhadap bencana tanah longsor. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Desa Karangbolong. Kecamatan Buayan. Kabupaten Kebumen terhadap bencana tanah longsor masuk dalam kategori "Siap" dengan nilai rata-rata sebesar 65,32. Dan juga kendala yang dialami masyarakat Desa Karangbolong meliputi kurangnya rencana darurat dan keterlambatan dalam memberikan pertolongan pertama. Kedua kendala ini menandakan perlunya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat melalui sosialisasi, pelatihan darurat, dan penyuluhan tentang pentingnya rencana darurat serta pertolongan pertama. Kata Kunci: kesiapsiagaan masyarakat, tanah longsor, bencana alam Abstract. This research was conducted in Karangbolong Village. Buayan District. Kebumen Regency, which has a hilly topography with steep slopes. The heavy rainfall on November 15, 2023, caused an increase in pore water pressure in the soil and affected settlements located on slopes ranging from steep to very steep, triggering soil movement and landslides that lasted for several hours. Given the vulnerability to landslides, it is crucial to enhance community preparedness for such disasters. This study aims to analyze the level of preparedness of the Karangbolong Village community in facing landslide disasters and to analyze the factors and obstacles faced by the community in dealing with landslides. This research uses a quantitative descriptive method, with primary data obtained from questionnaires and secondary data obtained from the Kebumen BPBD, which includes disaster data for Kebumen Regency in 2023. The sampling technique used the Slovin formula, and data processing involved validity testing, reliability testing, calculation of ideal scores and interval distances, and the calculation of average values to help determine the level of preparedness and identify the obstacles faced by the community regarding landslide disasters. The results of this study show that the level of preparedness of the Karangbolong Village Dio Dwi Pangestu dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . community in Buayan District. Kebumen Regency, in facing landslide disasters falls into the "Prepared" category, with an average score of 65. Additionally, the obstacles experienced by the Karangbolong Village community include a lack of emergency plans and delays in providing first aid. These two obstacles highlight the need for increased community preparedness through socialization, emergency training, and awareness about the importance of emergency plans and first aid. Keyword : Community Preparedness. Landslides. Natural Disasters. Pendahuluan Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia dan berpotensi menimbulkan kerugian baik secara material maupun non-material. Kabupaten Kebumen. Jawa Tengah, merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kejadian tanah longsor yang cukup tinggi. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pada tahun 2023 tercatat 118 kejadian longsor. Salah satu daerah yang terdampak adalah Desa Karangbolong. Kecamatan Buayan, yang memiliki karakteristik perbukitan dengan lereng Curah hujan tinggi yang terjadi pada 15 November 2023 menyebabkan peningkatan tekanan air pori dalam tanah, sehingga memicu pergerakan tanah dan longsor yang berlangsung selama beberapa jam. Tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi tanah longsor menjadi aspek penting dalam upaya mitigasi bencana. Kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap tingkat kerentanan tanah longsor di wilayahnya sangat menentukan efektivitas langkah-langkah pencegahan. Oleh karena itu, diperlukan kesiapsiagaan yang baik, baik dalam bentuk edukasi, peringatan dini, maupun tindakan mitigasi struktural, menjadi hal yang sangat diperlukan guna mengurangi risiko dan dampak tanah longsor bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007, bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam atau faktor non alam maupun faktor sosial sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana tanah longsor merupakan salah satu bencana yang sering menelan korban jiwa, kerugian harta benda dan menyebabkan kerusakan sarana dan prasarana yang dapat berdampak pada kondisi ekonomi dan sosial. Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, material campuran yang bergerak menuruni atau keluar lereng (Saputra, dkk 2. Tanah longsor terjadi karena adanya gerakan tanah sebagai akibat dari bergeraknya masa tanah atau batuan yang bergerak di sepanjang lereng atau diluar lereng karena faktor gravitasi. Kekuatan gravitasi yang dipaksakan pada tanah-tanah miring melebihi kekuatan memecah kesamping yang mempertahankan tanah-tanah tersebut pada posisinya (Suwaryo dan Yuwono, 2. Menurut Nandi . gejala umum tanah longsor ditandai dengan munculnya retakan-retakan pada lereng yang sejajar dengan arah tebing, biasanya terjadi setelah hujan, munculnya mata air baru dan tebing yang rapuh secara tiba-tiba dan kerikil mulai berjatuhan. Faktor-faktor lainnya disebabkan oleh hujan, kemiringan lereng, tanah yang kurang padat dan tebal, batuan yang kurang kuat, getaran dan sebagainya. Menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral . Ada 6 jenis tanah longsor, yaitu: longsoran translasi, longsoran rotasi, gerakan blok runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran debris. Jenis longsoran translasi dan rotasi adalah yang paling sering terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa adalah aliran bahan rombakan. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Bedasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian Dio Dwi Pangestu dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Tujuan dari aspek kesiapsiagaan menurut IDEP . menyatakan bahwa tujuan dari kesiapsiagaan antara lain, mengurangi ancaman, mengurangi kerentanan masyarakat, mengurangi akibat, menjalin kerjasama. Penilaian tingkat kesiapsiagaan masyarakat menggunakan framework yang dikembangkan oleh LIPI bekerja sama dengan UNESCO/ISDR pada tahun 2006. Ada lima parameter yang digunakan dalam menilai tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam kesiapsiagaan mengantisipasi bencana, yaitu pengetahuan tentang risiko bencana, kebijakan dan panduan, rencana tanggap darurat, system peringatan bencana, mobilisasi rawan bencana. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di Desa Karangbolong. Kecamatan Buayan. Kabupaten Kebumen. Provinsi Jawa Tengah. Obyek penelitian adalah masyarakat Desa Karangbolong. Adapun penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2024- Januari 2025. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 896 Kepala Keluarga (Data Dukcapil Kabupaten Kebume. Adapun sampel yang diambil yaitu masyarakat yang bertempat tinggal paling dekat dengan titik bencana tanah longsor di Desa Karangbolong. Kecamatan Buayan. Kabupaten Kebumen. Jenis data pada penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer menggunakan kuisioner dan juga foto dokumentasi. Data sekunder yang dipakai, diperoleh dari informasi kebencanaan dari dinas BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daera. Kabupaten Kebumen Tahun 2023. Instrumen penelitian dalam penelitian ini menggunakanan angket Untuk pengolahan data hasil kuesioner dibantu menggunakan Software SPSS 21 for Windows dengan melakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Hasil dari analisis data dilakukan skoring rata-rata jawaban kuesioner untuk mengatahui tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor. Hasil Penelitian Banyaknya pernyataan yang diujikan sebanyak 29 butir pernyataan, dengan jumlah responden 277 kepala Uji validitas dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan penyebaran kuisioner dan hasil uji validitas dapat dilihat pada tabel 1. No R-hitung R-tabel 0,087 0,264 0,256 0,335 0,262 0,429 0,245 0,342 0,340 0,326 0,92 0,205 0,483 0,335 0,047 Sumber: Perhitungan Tabel 1. Hasil Uji Validitas Keterangan R-hitung Tidak Valid 0,422 Valid 0,291 Valid 0,361 Valid 0,418 Valid 0,440 Valid 0,293 Valid 0,196 Valid 0,255 Valid 0,155 Valid 0,164 Valid 0,199 Valid 0,310 Valid 0,128 Valid 0,291 Tidak Valid R-tabel Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Dio Dwi Pangestu dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Berdasarkan hasil uji validitas pada 29 pernyataan menunjukkan bahwa terdapat 27 pernyataan valid dan 2 pernyataan yang tidak valid karena nilai r hitung < dari pada r tabel. Setelah uji validitas, langkah selanjutnya adalah melakukan uji reliabilitas. Data dikatakan reliabel apabila nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,6. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Cronbach's Alpha Jumlah Pernyataan Keterangan Reliabel Sumber: Perhitungan Berdasarkan tabel 2 di atas, diperoleh nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,623, yang menunjukkan bahwa nilai reliabilitasnya lebih besar dari nilai acuan 0,6. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa instrumen yang terdiri dari 27 item pernyataan tergolong reliabel. Hasil penelitian pada tabulasi data dideskripsikan dalam skor tertinggi dan skor terendah. Dengan jumlah butir pernyataan 27 butir dan skor tertinggi Likert 3 serta skor terendah Likert, maka dapat dihitung sebagai berikut. Skor tertinggi = Jumlah butir pernyataan x skor tertinggi Likert = 27 x 3 = 81 Skor terendah = Jumlah butir pernyataan x skor terendah Likert = 27 x 1 = 27 Dari skor tersebut diketahui jarak intervalnya sebagai berikut. Jarak interval yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycyceycycycnycuyciyciycn Oe yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycyceycyceycuyccycaEa yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycnycuycyceycycycayco 81Oe27 = 3 = 18 Dari jumlah perhitungan maka didapat jumlah skor dan klasifikasi sikap kesiapan dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Interval Sikap Kesiapan Masyarakat Jumlah Skor 63 Ae 81 45 Ae 63 27 Ae 45 Sumber: Perhitungan Klasifikasi sikap Siap Kurang siap Tidak siap Dari hasil perhitungan diatas, maka dapat diketahui klasifikasi sikap masyarakat melalui perhitungan skala Likert dari jawaban responden sebagai berikut. Dalam kuesioner, terdapat jawaban yang menggunakan poin Likert sebagai berikut: jawaban S (Setuj. memperoleh skor 3, jawaban RR (Ragu-rag. memperoleh skor 2, dan jawaban TS (Tidak Setuj. memperoleh skor 1. Berikut ini merupakan contoh perhitungan skor pada salah satu responden, sedangkan hasil perhitungan skor untuk ke-277 responden dapat dilihat pada tabel 4. Jumlah S Point S Total = Jumlah jawaban AuSAy x point = 9 x 3 = 27 Jumlah RR = 12 Dio Dwi Pangestu dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Point RR Total Jumlah TS Point TS Total Jumlah = Jumlah jawaban AuRRAy x point = 12 x 2 = 24 = Jumlah jawaban AuTS x point =6x1 =6 = 27 24 6 = 57 Tabel 4. Hasil Perhitungan Keseluruhan A. AA. Frekuensi AA. Sx3 Hasil Frekuensi RR x 2 AA. TS x 1 AA. AA. Jumlah Skor No. Jumlah Skor Rata-rata Sumber: Perhitungan Skor Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat pada tabulasi data, dijelaskan skor tertinggi dan skor terendah yang Untuk kategori pra-bencana, terdapat 9 butir pernyataan dengan skor tertinggi 3 dan skor terendah 1, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut. Skor tertinggi = Jumlah butir pernyataan x skor tertinggi Likert = 9 x 3 = 27 Skor terendah = Jumlah butir pernyataan x skor terendah Likert =9x1=9 Dari skor tersebut dikethaui jarak intervalnya sebagai berikut. Jarak interval yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycyceycycycnycuyciyciycn Oe yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycyceycyceycuyccycaEa yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycnycuycyceycycycayco 27 Oe 9 = 3 =6 Jumlah skor dan klasifikasi sikap kesiapan dapat dilihat pada tabel 5, 6 dan 7. Tabel 5. Interval Sikap Kesiapan Masyarakat Pada Saat Pra Bencana Jumlah Skor Klasifikasi sikap 21 - 27 Siap 15 - 21 Kurang siap 9 - 15 Tidak siap Sumber: Perhitungan Tabel 6. Interval Sikap Kesiapan Masyarakat Pada Saat Bencana Jumlah Skor Klasifikasi sikap 21 - 27 Siap 15 - 21 Kurang siap 9 - 15 Tidak siap Sumber: Perhitungan Dio Dwi Pangestu dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Tabel 7. Interval Sikap Kesiapan Masyarakat Pada Saat Pasca Bencana Jumlah Skor Klasifikasi sikap 21 - 27 Siap 15 - 21 Kurang siap 9 - 15 Tidak siap Sumber: Perhitungan Skor rata-rata kesiapan masyarakat Desa Karangbolongpada saat pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana adalah sebagai berikut. Hasil frekuensi = . umlah skor total SS / Jumlah responde. = . 0 / . = 13,10 = . umlah skor total RR / Jumlah responde. = . 8/ . = 6,74 = . umlah skor total TS / Jumlah responde. = . / . = 1,26 Rata-rata skor = . umlah skor total / Jumlah responde. = . = 21,11 Tabel 8. Skor Kesiapan Masyarakat Pada Saat Pra Bencana A. Frekuensi AA. Sx3 AA. Hasil Frekuensi RR x 2 AA. TS x 1 AA. Jumlah Skor No. Jumlah Skor Rata-rata Sumber: Perhitungan Skor Tabel 9. Skor Kesiapan Masyarakat Pada Saat Bencana A. Frekuensi Sx3 AA. Hasil Frekuensi RR x 2 TS x 1 Jumlah Skor No. Jumlah Skor Rata-rata Sumber: Perhitungan No. Jumlah Skor Tabel 10. Skor Kesiapan Masyarakat Pada Pasca Bencana Frekuensi Hasil Frekuensi Sx3 RR x 2 Jumlah Skor Rata-rata Sumber: Perhitungan TS x 1 A. Skor A. Skor A. Dio Dwi Pangestu dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Hasil perhitungan kuisioner kesiapsiagaan bencana tanah longsor keseluruhan yang telah didapat oleh Desa Karangbolong yang menjadi objek penelitian dapat dilihat pada Tabel 11 berikut ini. Tabel 11. Hasil Perhitungan Keseluruhan Kategori Pra Bencana Saat Bencana Pasca Bencana Keseluruhan Sumber: Perhitungan Skor rata-rata 21,11 65,32 Hasil perhitungan skor frekuensi jawaban pada tahap pra-bencana, saat bencana, dan pasca-bencana dapat dilihat pada Tabel 11, dengan rata-rata skor sebesar 65,32, yang menunjukkan bahwa sikap kesiapsiagaan masyarakat Desa Karangbolong termasuk dalam kategori "Siap". Dan berdasarkan hasil kuesioner dari tabulasi yang dibantu oleh Microsoft Excel. Didapatkan dari jumlah jawaban dengan skor terendah bahwa terdapat berbagai faktor yang menghambat masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor seperti, pada fase pra-bencana sebagian besar masyarakat belum menyusun rencana untuk keadaan darurat, yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai pentingnya persiapan tersebut. Saat bencana terjadi, masyarakat juga tidak segera melakukan pertolongan pertama kepada korban bencana, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya pengetahuan tentang tindakan pertolongan pertama yang tepat dan ketidaksiapan dalam menghadapi situasi darurat. Pada tahap pascabencana, terlihat bahwa beberapa area di zona merah harus direlokasi ke tempat yang lebih aman dan jauh dari Proses relokasi ini dilakukan untuk menghindari risiko bencana susulan, seperti tanah longsor atau gempa susulan, yang bisa mengancam keselamatan warga. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Desa Karangbolong. Kecamatan Buayan. Kabupaten Kebumen terhadap bencana tanah longsor masuk dalam kategori "Siap" dengan nilai rata-rata sebesar 65,32. Selain itu masyarakat Desa Karangbolong memiliki beberapa faktor yang menjadi kendala seperti kurangnya penyusunan rencana untuk keadaan darurat, dan juga masyarakat tidak segera melakukan pertolongan pertama kepada korban bencana. Kedua kendala ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat perlu ditingkatkan, melalui sosialisasi yang lebih rutin, pelatihan darurat, maupun penyuluhan mengenai pentingnya memiliki rencana darurat dan kemampuan memberikan pertolongan pertama. Daftar Pustaka