Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan P-ISSN: 1978-631-X. E-ISSN: 2655-6723 Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 http://ejournal. id/index. php/jn Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 3-5 Tahun di Kecamatan Badar Kabupaten Aceh Tenggara Factors Related to The Incidence of Stunting in Children Aged 3-5 Year Badar District. Southeast Aceh Regency Eliati1,*. Sri Handayani1. Wira Heppy Nidia1. Rohani1. Devi Susanti1. Royim Rahliadi 1 Abstrak: Stunting . atau kurang gizi kronik adalah suatu bentuk lain dari kegagalan pertumbuhan. Faktorfaktor yang menyebabkan terjadinya stunting sangat banyak diantaranya Jenis kelamin. Berat Badan Lahir, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, pemberian ASI Ekslusif, tingkat pendidikan ibu dan status ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian Stunting pada balita usia 3-5 tahun di Wilayah Kecamatan Badar Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2020. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Responden dalam penelitian ini berjumlah 152 orang ibu- ibu yang memiliki balita yang berusia 3-5 tahun di Wilayah Kecamatan Badar. Cara pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling. Hasil penelitian didapatkan variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah tinggi badan ibu pvalue 0,015 . % CI 1,495-40,. , pemberian ASI Eksklusif pvalue 0,006 . % CI 1,366 Ae 6,. , jenis kelamin p-value 0,002 . % CI 1,590-7,. Hasil analisis multivariat tinggi badan ibu memiliki besar risiko paling tinggi terhadap dengan kejadian stunting . =0,015 OR=7,735, 95% CI=1,495-40,. dan jenis kelamin merupakan faktor yang paling signifikan terhadap kejadian stunting pvalue 0,002 . % CI 1,590-7,. Tinggi badan ibu merupakan faktor yang paling dominan dalam hubungannya dengan kejadian stunting. Kata kunci: kejadian stunting. faktor-faktor yang berhubungan. Abstract: Stunting . or chronic malnutrition is another form of growth failure. The factors that cause stunting are many, including gender, birth weight, father's height, mother's height, exclusive breastfeeding, mother's education level and economic status. This study aims to describe the factors associated with the incidence of stunting in children aged 3-5 years in the Badar District. Southeast Aceh Regency, 2020. This study was an observational study with a cross-sectional study design. Respondents in this study were 152 mothers who have toddlers aged 3-5 years in Badar District. The sampling method used was stratified random sampling. The results showed that the variables associated with the incidence of stunting were maternal height with a p-value 015 . % CI 1. , exclusive breastfeeding with a p-value of 0. % CI 1. 366 - 6. gender p-value 0. % CI 1. The results of multivariate analysis of maternal height had the highest risk with the incidence of stunting . = 0. 015 OR = 7. 735, 95% CI = 1. and sex was the most significant factor for the incidence of stunting pvalue 0. % CI 1. 590- 7,. Maternal height is the most dominant factor in relation to the incidence of stunting. Keywords: incidence of stunting. related factors. PENDAHULUAN Stunting merupakan salah satu masalah yang menghambat perkembangan manusia secara global. Pada saat ini terdapat sekitar 162 juta anak berusia dibawah lima tahun mengalami stunting. Jika tren seperti ini terus berlanjut diproyeksikan bahwa pada tahun 2025 terdapat 127 juta anak berusia dibawah lima tahun akan mengalami Menurut United Nations Children's Emergency Fund (UNICEF) lebih dari setengah anak stuntingatau sebesar 56% tinggal di ASIA dan lebih dari sepertiga atau sebesar 37% tinggal di Afrika (UNICEF, 2. A1 Corresponding Author: Email: eliati1919@gmail. Dosen pada Program Studi D-i Keperawatan Aceh Tenggara. Poltekkes Kemenkes Aceh. Jl. Kutacane-Blangkejeren Km. 4 Kecamatan Badar Kabupaten Aceh Tenggara. Indonesia Copyright A 2021 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Eliati. Wira Heppy Nidia. Sri Handayani. Rohani. Devi Susanti. Royim Rahliadi Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 . Aceh menduduki peringkat tiga nasional untuk angka stunting balita, di bawah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Barat (Sulba. Angka prevalensi stunting pada anak yang lahir dari orang tua yang tingkat pendidikannya rendah. Pemberian ASI eksklusif kurang dari enam bulan juga merupakan salah satu bayi di bawah dua tahun . di Aceh faktor yang mengakibatkan terjadinya cukup tinggi yaitu sebanyak 37,9 persen, sedangkan prevalensi rata-rata nasional sebesar 30,8 persen. Hal itu disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP). Brian Sriprahastuti. Lebih jauh menurutnya prevalensi stunting bayi berusia di bawah lima tahun . Indonesia pada 2018 sebesar 30,8% dimana angka ini berada di atas ambang yang ditetapkan WHO sebesar 20% (Serambi News, 2. Studi yang dilakukan di Indonesia Berdasarkan hal tersebut di atas penulis ingin meneliti tentang Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 3-5 Tahun di Kecamatan Badar Kabupaten Aceh Tenggara selain itu belum ada penelitian terkait yang dilakukan di Kecamatan Badar Kabupaten Aceh Tenggara. METODE PENELITIAN menunjukan bayi yang berjenis kelamin Penelitian ini merupakan penelitian laki- laki memiliki risiko dua kali lipat observasional dengan desain penelitian dengan desain cross-sectional. Digunakan Penelitian yang dilakukan di Nigeria juga menyebutkan bahwa anak permasalahan yang sedang dihadapi pada dengan jenis kelamin laki-laki lebih berisiko masa sekarang dan dengan menggunakan menderita stunting. Hasil penelitian lain rancangan berupa potongan belah melintang menunjukan bahwa jenis kelamin anak (Notoatmodjo, 2. adalah prediktor yang kuat dari stuntingdan Populasi target pada penelitian ini adalah ibu-ibu yang memiliki anak balita usia 3-5 tahun di Wilayah Kecamatan Badar yang berjumlah 245 orang. Variabel dalam penelitian adalah variabel dependen dan Variabel dependen merupakan kejadian stunting pada anak balita usia 3-5 tahun, sedangkan variabel independen adalah jenis kelamin, berat bayi lahir, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah. ASI Ekslusif, tingkat pendidikan dan status ekonomi. severe stunting pada anak usia 0-23 bulan dan 0-59 bulan (Akombi et all, 2. Faktor-faktor BBLR. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi kejadian stunting, anak-anak yang lahir dari orang tua mengalami stunting dibandingkan dengan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 3-5 Tahun A. Tekhnik sampling yang digunakan Analisa multivariat dilakukan untuk adalah menggunakan rumus Slovin. Jika populasi lebih dari 100 atau lebih kecil dari independen . enis kelamin, berat bayi 000 dengan menggunakan formula lahir, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah. Tekhnik pengambilan sampel ASI ekslusif, tingkat pendidikan dan status menggunakan stratified random sampling ekonom. terhadap variable dependen yaitu pengambilan sampel secara acak dari . ejadian stuntin. dengan menggunakan populasi yang ada. Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 152 orang. , untuk mengetahui variabel (Notoatmodjo, 2. independen yang mana yang lebih erat Instrument penelitian yang digunakan . ogistic hubungannya dengan variabel dependen sebagai alat pengumpulan data dalam dengan nilai p < 0,25. penelitian ini adalah kuesioner. Data HASIL PENELITIAN primer dalam penelitian ini adalah jenis Analisa Univariat kelamin, berat bayi lahir, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah. ASI Ekslusif, tingkat karakteristik responden kelompok balita pendidikan dan status ekonomi. Analisis univariat dalam penelitian ini meliputi karakteristik responden. Jenis kelamin balita. Berat lahir bayi, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah. ASI Ekslusif, tingkat pendidikan dan status ekonomi. Berat lahir bayi, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah. ASI Ekslusif, tingkat pendidikan dan status ekonomi. Analisis bivariat Pada penelitian ini chi-square mengetahui hubungan jenis kelamin, berat bayi lahir, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah. ASI ekslusif, tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan kejadian stunting pada balita usia 3-5 tahun. Derajat kepercayaan yang dengan = 0,05. Pada tabel 1 memperlihatkan bahwa digunakan adalah stunting dimana balita dengan jenis laki-laki Eliati. Wira Heppy Nidia. Sri Handayani. Rohani. Devi Susanti. Royim Rahliadi Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 . stunting yaitu sebesar 63,2%, sedangkan Eksklusif dan tidak mengalami stunting balita dengan jenis kelamin laki-laki yang yaitu sebesar 38,2%. tidak mengalami stunting yaitu sebesar Pada 35,5%. Pada berat lahir bayi, balita yang stunting dengan tingkat pendidikan ibu lahir dengan berat lahir kurang dan mengalami stunting yaitu sebesar 21,1%, sedangkan balita yang tidak mengalami sedangkan balita yang tidak mengalami stunting dengan tingkat pendidikan ibu stunting dengan berat lahir kurang yaitu yang rendah sebesar 36,8%. Faktor terakhir sebesar 6,6%. status ekonomi keluarga yang rendah dan Balita dari ayah dengan tinggi badan kurang yaitu sebesar 17,1%, sedangkan balita yang tidak stunting dengan tinggi 61,8%, mengalami stunting yaitu sebesar 76,3%, sedangkan kelompok status ekonomi tinggi sebesar 23,7%. Analisa Bivariat badan ayah kurang hanya sebesar 3,9%. Balita dari ibu dengan tinggi badan kurang yaitu sebesar 18,4%, sedangkan balita yang tidak stunting dengan tinggi badan ibu kurang hanya sebesar2,6% Hasil uji statistik hubungan antara jenis kelamin dan kejadian stunting didapatkan p-value 0,001 berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin Stunting Pada pemberian ASI Eksklusif, balita berpeluang 3,111 kali . % CI 1,605- yang tidak diberikan ASI Eksklusif dan 6,. pada balita yang berjenis kelamin mengalami stunting yaitu sebesar 67,1%, laki-laki dibanding balita yang berjenis sedangkan balita yang tidak diberi ASI kelamin perempuan. ihat Tabel . Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 3-5 Tahun A. Hasil uji statistik hubungan antara antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting. Stunting berpeluang didapatkan p-value 0,019 berarti dapat 3,306 kali . % CI 1,699-6,. pada disimpulkan bahwa ada hubungan antara balita yang tidak berat lahir dengan kejadian stunting. eksklusif dibanding balita yang mendapat Stunting berpeluang 3,787 kali . % CI ASI eksklusif. 1,310-10,. pada balita yang lahir berat lahir kurang dibanding balita yang Hasil uji statistik hubungan antara tinggi didapatkan p-value 0,005 berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara ASI Hasil uji statistik hubungan antara tingkat pendidikan ibu dan kejadian lahir dengan berat lahir cukup. Kejadian stunting didapatkan pvalue 0,003 berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting. Stunting berpeluang 2,778 kali . % CI 1,441-5,. pada Stunting. Stunting berpeluang 8,332 kali balita yang lahir dari ibu dengan tingkat . % CI 1,782-37,. pada balita yang pendidikan rendah dibanding balita yang lahir dari ayah dengan tinggi badan kurang lahir dari ibu dengan tingkat pendidikan dari 162 cm dibanding balita yang lahir dari ayah dengan tinggi lebih dari 162 cm. Hasil uji statistik hubungan antara Hasil uji statistik hubungan antara tinggi status ekonomi dan kejadian stunting badan ibu dan kejadian stunting didapatkan didapatkan p-value 0,010 berarti dapat p-value 0,004 berarti dapat disimpulkan disimpulkan bahwa ada hubungan antara bahwa ada hubungan antara tinggi badan status ekonomi dengan kejadian stunting. ibu dengan Kejadian Stunting. Stunting Stunting berpeluang 2,608 kali . % CI berpeluang 8,355 kali . % CI 1,828- 1,301-5,. pada balita yang memiliki 38,. pada balita yang lahir dari ibu status ekonomi rendah dibanding balita dengan tinggi badan kurang dari 145 cm dengan status ekonomi tinggi. dibanding balita yang lahir dari ibu dengan Analisa Multivariat tinggi lebih dari 145 cm. Berdasarkan analisis multivariat pada Hasil uji statistik hubungan antara tabel 3 menunjukkan bahwa variabel yang pemberian ASI eksklusif dan kejadian berhubungan dengan kejadian stunting yaitu stunting didapatkan p-value 0,001 berarti tinggi badan ibu, pemberian ASI eksklusif, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan dan jenis kelamin. Sedangkan faktor yang Eliati. Wira Heppy Nidia. Sri Handayani. Rohani. Devi Susanti. Royim Rahliadi Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 . bermakna secara statistik yaitu jenis dikarenakan pengaruh kekurangan gizi kelamin p-value 0,002 . % CI 1,590- terhadap tinggi badan akan tampak dalam 7,. ASI eksklusif p-v alue 0,006 . % kurun yang relatif lama (Supariasa, 2. CI 1,366 Ae 6,. , dan tinggi badan ibu p- Hal ini juga didukung penelitian yang value 0,015 . % CI 1,495-40,. Faktor dilakukan oleh Haile . menyatakan dengan besar risiko paling besar terhadap bahwa kelompok balita usia 24 bulan keatas kejadian stunting adalah tinggi badan ibu . % CI 1,495-40,012. Stunting berpeluang dibandingkan balita dengan usia dibawah 7,735 kali pada balita yang memiliki ibu satu tahun (Haile et al, 2. dengan tinggi badan kurang dari 145 cm Balita usia 0-23 bulan memiliki risiko daripada balita yang memiliki ibu dengan rendah terhadap kejadian stunting karena tinggi lebih dari 145 cm. perlindungan ASI yang didapatkan (Tiwari et al, 2. PEMBAHASAN Stunting pada balita akan berakibat Faktor risiko yang diteliti dalam penelitian ini untuk mengetahui penyebab dari terjadinya stunting meliputi Jenis Kelamin. Berat Lahir. Tinggi Badan Ayah. Tinggi Badan Ibu. Pemberian ASI. Tingkat Pendidikan Ibu, dan Status Ekonomi. Sampel pada penelitian ini adalah balita usia 3-5 tahun. Dipilihnya rentang usia tersebut buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit Pertumbuhan fisik berhubungan dengan genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik meliputi tinggi badan orang Tinggi badan ibu merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting (Rahayu. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 3-5 Tahun A. Hasil penelitian yang dilakukan pada yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan balita usia 3-5 tahun di Wilayah Kecamatan memiliki wawasan dan pengetahuan yang Badar menyebutkan balita yang mengalami lebih luas jika dibandingkan dengan orang- stunting dan memiliki ibu dengan tinggi orang yang memiliki pendidikan yang lebih badan berisiko yaitu sebesar 18,4%. Balita rendah (Notoatmodjo, 2. Hal ini mendukung hasil penelitian memiliki ibu dengan tinggi badan berisiko mengenai hubungan tingkat pendidikan ibu yaitu sebesar 2,6%. Hasil uji statistik terhadap kejadian stunting. Hasil penelitian didapatkan p- value 0,004 berarti dapat ini menyatakan balita yang mengalami disimpulkan bahwa ada hubungan antara stunting dan memiliki ibu dengan tingkat tinggi badan ibu dengan kejadian stunting. pendidikan rendah sebesar 61,8%. Balita Balita yang lahir dari ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm berpeluang 8,355 memiliki ibu dengan tingkat pendidikan kali . % CI 1,828-38,. dibanding balita yang lahir dari ibu dengan tinggi lebih dari didapatkan p-value 0,003 berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara 36,8%. Uji Hal ini didukung oleh penelitian yang tingkat pendidikan ibu dengan kejadian dilakukan oleh Rahayu . , bahwa Stunting berpeluang 2,778 kali kejadian stunting pada balita usia 6-12 bulan . % CI 1,441-5,. pada balita yang lahir dan usia 3-4 tahun secara signifikan dari ibu dengan tingkat pendidikan rendah berhubungan dengan tinggi badan ibu. dibanding balita yang lahir dari ibu dengan Penelitian Candra . , dkk juga tingkat pendidikan tinggi. mengemukakan bahwa tinggi badan ibu Hasil penelitian tersebut juga didukung memberikan pengaruh yang signifikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Haile terhadap kejadian stunting pada balita38. yang juga menyatakan bahwa balita Namun bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anisa . yang berpendidikan berpotensi lebih rendah menyatakan bahwa tinggi badan ibu tidak menderita stunting dibandingkan balita berhubungan dengan kejadian stunting yang memiliki orang tua yang tidak (Anisa, 2. Hal ini dikarenakan orang Pendidikan juga merupakan sesuatu tua yang memiliki pendidikan tinggi lebih yang dapat membawa seseorang untuk mudah untuk menerima edukasi kesehatan memiliki ataupun meraih wawasan dan pengetahuan seluas-luasnya. Orang- orang pentingnya memenuhi kebutuhan nutrisi Eliati. Wira Heppy Nidia. Sri Handayani. Rohani. Devi Susanti. Royim Rahliadi Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 . saat hamil dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan (Haile, 2. fisik, menurunnya Beberapa faktor penyebab masalah gizi adalah kemiskinan. Kemiskinan dinilai kognitif yang akan mempengaruhi tingkat mempunyai peran penting yang bersifat pendidikan dan tingkat ekonomi keluarga timbal balik sebagai sumber permasalahan (BAPPENAS, 2. ASI Eksklusif juga ambil andil cukup kekurangan gizi sebaliknya individu yang banyak dalam memenuhi kebutuhan gizi. Pemenuhan kebutuhan bayi 0-6 bulan telah pertumbuhan ekonomi dan mendorong dapat terpenuhi dengan pemberian ASI saja. proses kemiskinan (BAPPENAS, 2. Menyusui secara eksklusif juga penting Hasil penelitian ini menyatakan balita karena pada usia ini, makanan selain ASI yang mengalami stunting dan memiliki belum mampu dicerna oleh enzim-enzim status ekonomi rendah yaitu sebesar 76,3%, yang ada di dalam usus selain itu sedangkan balita yang tidak mengalami pengeluaran sisa pembakaran makanan stunting dan memiliki status ekonomi belum bisa dilakukan dengan baik karena rendah yaitu sebesar 55,3%. Hasil uji ginjal belum sempurna. statistik didapatkan p-value 0,010 berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara status ekonomi dengan Kejadian Banyaknya ASI pertumbuhan dan perkembangan inilah Stunting. Stunting berpeluang 2,608 kali yang mendukung hasil penelitian ini. Hasil . % CI 1,301-5,. pada balita yang penelitian ini menunjukan balita yang memiliki status ekonomi rendah dibanding mengalami stunting dan tidak ASI eksklusif balita dengan status ekonomi tinggi. sebesar 67,1%, sedangkan balita yang Hasil penelitian tersebut juga didukung mengalami stunting dan mendapat ASI oleh Azwar . yang menyatakan bahwa eksklusif yaitu sebesar 38,2%. Hasil uji pendapatan keluarga yang memadai akan statistik didapatkan p-value 0,001 berarti menunjang perilaku anggota keluarga untuk dapat disimpulkan bahwa ada hubungan mendapatkan pelayanan kesehatan keluarga antara pemberian ASI eksklusif dengan yang lebih memadai (Kemenkes RI, 2. Kejadian Stunting. Stunting berpeluang Dalam hal ini termasuk pelayanan 3,306 kali . % CI 1,699-6,. pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif Hal ini disebabkan apabila dibanding balita yang mendapat ASI seseorang mengalami kurang gizi maka Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 3-5 Tahun A. Hal ini bertentangan dengan penelitian 21,1%. Balita yang tidak mengalami . stunting juga lahir dengan berat lahir kurang ASI yaitu sebesar 6,6%. Hasil uji statistik didapatkan p- value 0,019 berarti dapat disimpulkan bahwat ada hubunganantara Namun sejalan dengan penelitian yang berat lahir balita dengan kejadian stunting. dilakukan oleh Al-Rahmad . yang Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan Akombi . yang menyatakan disebabkan oleh pemberian ASI yang tidak bahwa balita yang lahir dengan berat lahir eksklusif (Al Rahmad dkk, 2. rendah lebih berhubungan secara signifikan Anisa Eksklusif Hal serupa dinyatakan pula oleh Arifin . dengan hasil penelitian yang untuk menderita stunting (Akombi et all, menyatakan bahwa Kejadian Stunting Penelitian lain juga menyatakan bayi dipengaruhi oleh berat badan saat lahir, yang lahir dengan berat badan kurang dari pengetahuan gizi ibu balita, pendapatan 2500-gram akan mengalami hambatan keluarga, jarak antar kelahiran, pemberian pada pertumbuhan dan perkembangannya ASI yang tidak ekskusif. Namun faktor serta mungkin terjadi kemunduran fungsi yang paling dominan adalah pemberian ASI intelektual dan lebih rentan terkena infeksi (Arifin dkk, 2. dan hipotermi (Direktorat Bina Kesehatan Selain ASI Eksklusif, berat badan lahir Ibu, 2. juga terkait dengan pertumbuhan dan Jenis kelamin menentukan pula besar perkembangan jangka panjang balita balita, kecilnya kebutuhan gizi untuk seseorang. pada penelitian yang dilakukan oleh Anisa Pria lebih banyak membutuhkan zat tenaga . menyimpulkan bahwa terdapat dan protein dibandingkan wanita. Pria lebih hubungan yang bermaknsa antara berat lahir sanggup mengerjakan pekerjaan berat yang dengan Kejadian Stunting pada balita di tidak biasa dilakukan wanita. Selama masa Kelurahan Kalibiru (Anisa, 2. bayi dan balita-balita, balita perempuan Hal ini sesuai dengan hasil penelitian cenderung lebih rendah kemungkinannya yang menyatakan adanya hubungan antara menjadi stunting dan severe stunting berat lahir dengan Kejadian Stunting pada daripada balita laki-laki, selain itu bayi balita usia 3-5 tahun di Wilayah Kecamatan perempuan dapat bertahan hidup dalam Badar. Hasil penelitian menyatakan bahwa jumlah lebih besar daripada bayi laki-laki balita yang mengalami stunting dan lahir dengan berat lahir kurang yaitu sebesar termasuk Indonesia (Ramli et al, 2. Negara Eliati. Wira Heppy Nidia. Sri Handayani. Rohani. Devi Susanti. Royim Rahliadi Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 . Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penyebab terjadinya stunting pada balita balita yang mengalami stunting dan berjenis usia 3-5 tahun di Wilayah Kecamatan kelamin laki-laki yaitu sebesar 63,2%. Badar, sedangkan variabel lainnya sebagai Balita yang tidak mengalami stunting dan variabel confounding. Dari ketiga faktor berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar yang memiliki hubungan yang relevan 35,5%. Hasil uji statistik didapatkan p-value terhadap kejadian stunting, tinggi badan ibu 0,001 berarti dapat disimpulkan bahwa ada merupakan faktor dengan besar risiko hubungan antara jenis kelamin dengan paling besar terhadap kejadian stunting. Hal kejadian stunting. Stunting berpeluang ini dapat dilihat dari hasil analisis 3,111 kali . % CI 1,605-6,. pada balita multivariat yaitu p-value 0,015 . % CI yang berjenis kelamin laki-laki berpeluang 1,495-40,. dibanding balita yang berjenis kelamin Hasil penelitian menunjukan anak yang Hal ini didukung oleh sudi memiliki ibu dengan tinggi badan kurang kohort yang dilakukan Medin . yang dari 145 cm berpeluang 7,735 kali menunjukan bayi dengan jenis kelamin laki- mengalami stunting dibandingkan anak laki memiliki risiko dua kali lipat menjadi yang memiliki ibu dengan tinggi badan stunting dibandingkan bayi perempuan lebih dari 145 cm. Hal ini didukung oleh (Medhin et al, 2. penelitian yang dilakukan oleh Rahayu . , bahwa kejadian stunting pada balita Lesiapato . di sub-Sahara Afrika usia 6-12 bulan dan usia 3-4 tahun secara menunjukan bahwa balita laki-laki pra signifikan berhubungan dengan tinggi sekolah lebih berisiko stunting dibanding badan ibu. Penelitian rekan perempuannya. Penelitian Candra . , dkk juga Penelitian lain menyebutkan penyebab mengemukakan bahwa tinggi badan ibu memberikan pengaruh yang signifikan ketidaksetaraan gender di masyarakat atau terhadap kejadian stunting pada balita38. budaya setempat yang berlaku yang (Candra dkk, 2. Namun bertentangan memberi perlakuan istimewa terhadap dengan penelitian yang dilakukan oleh balita perempuan yang cenderung diam Anisa . yang menyatakan bahwa dirumah, sedangkan balita laki-laki lebih tinggi badan ibu tidak berhubungan dengan aktif secara fisik (Akombi et al, 2. kejadian stunting. Setelah dilakukan analisis multivariat. KESIMPULAN tinggi badan ibu, pemberian ASI eksklusif, dan jenis kelamin anak merupakan faktor Berdasarkan hasil dari analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini, maka Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 3-5 Tahun A. bermakna dengan Kejadian Stunting, p- Eksklusif, sehingga dapat menekan kejadian stunting, selain itu juga dapat memberikan edukasi kepada ibu dengan tingi badan value 0,015 . % CI 1,495-40,. Balita yang memiliki ibu dengan tinggi badan memperhatikan asupan nutrisi selama berisiko berpeluang 7,735 kali mengalami kehamilan dan perkembangan balita setelah lahir karena merupakan faktor risiko dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Tinggi badan ibu mempunyai hubungan stunting dibandingkan balita yang memiliki ibu dengan tinggi badan tidak berisiko atau lebih dari 145 cm. Pemberian ASI eksklusif mempunyai hubungan bermakna dengan Kejadian Stunting, p-value 0,006 . % CI 1,366 Ae 6,. Balita yang tidak diberi ASI eksklusif berisiko berpeluang 2,916 kali mengalami stunting dibandingkan balita yang diberi ASI eksklusif. Jenis kelamin mempunyai hubungan bermakna dengan Kejadian Stunting, pvalue 0,002 . % CI 1,590-7,. Balita dengan jenis kelamin laki-laki berisiko berpeluang 3,410 kali mengalami stunting dibandingkan balita berjenis kelamin Faktor yang paling berhubungan dengan kejadian stunting yaitu tinggi badan ibu OR 7,735. SARAN Beberapa direkomendasikan dari hasil penelitian ini diantaranya adalah : Bagi Wilayah Kecamatan Badar Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi Wilayah Kecamatan Badar untuk menggalakan pemberian ASI terjadinya stunting. Untuk ibu memiliki anak dengan jenis kelamin lakilaki dapat diberikan edukasi untuk lebih memperhatikan asupan nutrisi anaknya guna menekan kejadian stunting di Wilayah Kecamatan Badar. Bagi Peneliti Selanjutnya Apabila memungkinkan dilakukan penelitian lebih lanjut, hendaknya menggunakan kohort prospektif sehingga dapat diikuti sejak kelahiran balita mengenai faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian stunting pada Bagi Calon Ibu dan Ibu dengan Balita Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi mengenai faktor penyebab stunting, yaitu ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm, anak dengan jenis kelamin laki-laki, dan anak yang tidak diberi ASI Eksklusif. Sehingga calon ibu benar-benar kehamilanya dengan memperhatikan faktor risiko tersebut, sedangkan bagi ibu dengan balita dapat menggalakan pemberian ASI Eksklusif dan lebih memperhatikan pemberian gizi bagi anak dengan jenis kelamin laki-laki dan anak yang lahir dari ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm. Eliati. Wira Heppy Nidia. Sri Handayani. Rohani. Devi Susanti. Royim Rahliadi Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 . UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktur Poltekkes Kemenkes Aceh dan Bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang telah banyak membantu dalam penelitian ini. Selain itu kepada Camat Badar atas kesediaannya dalam mengizinkan wilayah Kecamatan Badar sebagai lokasi penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA