ABDIMASTA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Asy-Syukriyyah Tangerang e-ISSN x-x https://doi. org/10. 36769/abdimasta. Penguatan Jiwa Dakwah Mahasiswa Melalui Program Pembekalan PPLAePKL Berbasis Dakwah Bil Hal dan Literasi Digital Muhammad Nurul Alim Institut Asy-Syukriyyah asy@gmail. Abstrak Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan sarana penting bagi mahasiswa untuk berperan aktif dalam pengabdian kepada masyarakat. Namun, kesiapan jiwa dakwah dan kemampuan memanfaatkan media digital masih menjadi tantangan utama. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat jiwa dakwah mahasiswa melalui program pembekalan PPLAePKL berbasis dakwah bil hal dan literasi digital. Metode yang digunakan adalah ServiceLearning sebagai model pembelajaran aktif yang mengintegrasikan pembelajaran dengan keterlibatan langsung mahasiswa dalam masyarakat. Kegiatan dilaksanakan melalui pembekalan tematik, pelatihan dakwah digital, serta penggunaan booklet AuMenjadi Insan Asy-Syukriyyah yang Berjiwa DakwahAy sebagai media pendukung. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman konsep dakwah bil hal dan kesiapan berdakwah mahasiswa setelah mengikuti pembekalan. Selain itu, terjadi peningkatan kesadaran pemanfaatan media digital sebagai sarana dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan ServiceLearning efektif dalam menumbuhkan tanggung jawab sosial mahasiswa serta menjawab tantangan dakwah di era digital. Kata Kunci: Dakwah Bil hal. Literasi Digital. Pembekalan PPLAePKL. Service-Learning. Jiwa Dakwah. Dikirim: 22 Januari 2026 Direvisi: 31 Januari 2026 Diterima: 31 Januari 2026 PENDAHULUAN Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan tinggi yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman empiris di tengah masyarakat sebagai wujud implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menerapkan kompetensi akademik, tetapi juga diharapkan memiliki sensitivitas sosial, etika profesi, serta kemampuan menjalankan peran dakwah secara kontekstual dan aplikatif. Sejumlah penelitian pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa integrasi nilai dakwah dalam program PPL dan PKL berkontribusi positif terhadap peningkatan partisipasi sosial dan penerimaan masyarakat terhadap kehadiran mahasiswa 1. Namun demikian, dalam praktiknya 1 Ronny Makhfuddin Akbar et al. AuDigitalisasi Dakwah: Strategi Pelatihan Media Sosial Bagi MUI Kabupaten Mojokerto Untuk Pemberdayaan Dai Dalam Dakwah,Ay ABDIMAS NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (January 126Ae33, doi:10. 36815/abdimasnusantara. Imam Khoirul Ulumuddin. MaAoas Shobirin, and Ali 95 | Alim masih ditemukan keterbatasan kesiapan mahasiswa dalam menjalankan peran dakwah secara substantif, khususnya dalam merespons problematika sosial yang kompleks serta tantangan dakwah di era digital yang berkembang sangat dinamis. Kondisi ini sejalan dengan temuan pengabdian masyarakat yang menegaskan perlunya penguatan kapasitas dakwah mahasiswa, baik dari aspek pemahaman nilai, strategi komunikasi, maupun pemanfaatan media digital sebagai sarana dakwah yang efektif dan bertanggung jawab 2. Berdasarkan pengolahan data primer dari kuesioner yang diisi oleh peserta pembekalan PPLAePKL tahun 2025 yang disebar melalui Google Form, lebih dari separuh mahasiswa menunjukkan tingkat pemahaman awal yang belum optimal terhadap konsep dakwah bil hal. Sebagian besar peserta masih memandang dakwah sebagai aktivitas verbal semata dan belum sepenuhnya memahaminya sebagai praktik sosial yang diwujudkan melalui keteladanan, tindakan nyata, dan kontribusi langsung dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat. Kondisi ini berpotensi mengurangi efektivitas peran mahasiswa saat terjun ke lokasi PPLAePKL. Selain itu, pengolahan data primer . juga menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah masih berada pada kategori sedang. Padahal, perkembangan media digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat secara signifikan. Keterbatasan literasi digital dakwah dapat menyebabkan pesan dakwah yang disampaikan mahasiswa kurang adaptif dan tidak optimal menjangkau sasaran masyarakat. Oleh karena itu, penguatan literasi digital menjadi kebutuhan penting agar mahasiswa mampu menyampaikan nilai-nilai dakwah secara komunikatif, relevan, dan kontekstual. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pembekalan PPLAePKL belum optimal apabila hanya menitikberatkan pada aspek administratif dan teknis pelaksanaan kegiatan. Pembekalan yang bersifat prosedural cenderung menghasilkan mahasiswa yang sekadar menjalankan tugas, tanpa kesadaran peran sosial dan dakwah yang substantif di tengah masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu mengintegrasikan penguatan nilai dakwah, pembentukan sikap tanggung jawab sosial, serta penerapan pengetahuan secara langsung melalui interaksi nyata dengan masyarakat sasaran. Pendekatan dakwah bil hal dipandang relevan karena menekankan keteladanan, etos kerja, dan kontribusi nyata mahasiswa sebagai agen perubahan sosial, yang terbukti lebih mudah diterima dan berdampak berkelanjutan 3. Di sisi lain, literasi digital Martin. AuPenguatan Dakwah Islam Aswaja Pada Generasi Muda Di Era Digital,Ay Kifah: Jurnal Pengabdian Masyarakat 1, no. 2 (December 27, 2. : 95Ae106, doi:10. 35878/kifah. 2 Laila Agustina Fahmi and Lailatul Qomariyah. AuSosialisasi Dan Pendampingan Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Dakwah Remaja Masjid Di Dusun Mulyorejo Kampung Baru,Ay Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Desa (JPMD) 3, no. 3 (December 28, 2. : 139Ae57, doi:10. 58401/jpmd. Sartika Dewi Harahap and Siti Rahma Harahap. AuMeningkatkan Pemahaman Dan Mengenal Islam Lebih Dekat Melalui Bahasa Dakwah Dalam Bingkai Digital,Ay Welfare : Jurnal Pengabdian Masyarakat 1, no. 2 (May 29, 2. : 277Ae84, doi:10. 30762/welfare. 3 Ulumuddin. Shobirin, and Martin. AuPenguatan Dakwah Islam Aswaja Pada Generasi Muda Di Era Digital. Ay Penguatan Jiwa Dakwah Mahasiswa. | 96 berfungsi sebagai sarana pendukung strategis dalam memperluas jangkauan dan efektivitas dakwah, khususnya di kalangan generasi muda dan masyarakat urban, sehingga pesan dakwah dapat disampaikan secara adaptif, kreatif, dan bertanggung jawab sesuai dengan perkembangan teknologi informasi (Akbar et al. Fahmi & Qomariyah, 2. Pendekatan dakwah bil hal yang menekankan keteladanan dan kontribusi nyata memiliki landasan normatif yang kuat dalam Al-QurAoan. Allah berfirman (QS. Ali AoImrAn . : . aAOA aO aO eIN eaOIa aaI eE aI eIE aa o aOaO aEa aEa Na aI eE aI eA aE aOIA a AaO eEaE eaI aI eIEa eI a acIU aO eaOIa auEaO eE aO ae aO aO e aI aOIa a eE aI e aA AuDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maAoruf dan mencegah dari yang munkar. merekalah orang-orang yang beruntung. Ay Ayat ini menegaskan bahwa dakwah merupakan tanggung jawab kolektif yang harus dijalankan secara terorganisasi dan kontekstual, tidak terbatas pada penyampaian lisan semata, tetapi juga melalui tindakan nyata yang membawa kemaslahatan sosial. Dalam konteks PPLAePKL, mahasiswa diposisikan sebagai bagian dari ummatan yadAona ilA al-khayr, yaitu kelompok terdidik yang memiliki kapasitas intelektual dan moral untuk menjalankan dakwah secara aplikatif di tengah masyarakat 4. Oleh karena itu, pembekalan dakwah bil hal sebelum terjun ke lapangan menjadi prasyarat penting agar peran mahasiswa tidak berhenti pada aspek teknis pengabdian, melainkan bertransformasi menjadi praktik amar maAoruf nahi munkar yang berkelanjutan. Selain itu. Al-QurAoan juga memberikan pedoman metodologis dakwah yang relevan dengan tantangan era digital, sebagaimana firman Allah (QS. An-Naul . a A aO aE a aEa a eEa eE aI a aO eE aI eO aA aAIA a A eA a eAIa a aOa a eE aNI aEacaO aN aO aA a A a eE aA a A uaEa aOA AuSerulah . kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Ay Ayat ini menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, strategi, dan pendekatan yang sesuai dengan karakter sasaran dakwah. Dalam konteks masyarakat digital, hikmah tersebut tercermin dalam kemampuan literasi digital, etika bermedia, dan kecakapan menyampaikan pesan secara komunikatif serta bertanggung jawab. Oleh karena itu, integrasi literasi dakwah digital dalam pembekalan PPLAePKL merupakan implementasi langsung dari prinsip bil uikmah yang relevan dengan realitas sosial kontemporer. Landasan normatif dakwah bil hal juga diperkuat oleh hadits Nabi Muhammad SAW: a caA a eIa aN eI EaEIA a ca eO a EIA 4 Firda Aulia Rohmah. AuImplementasi Dakwah Bil Hal dalam Program Posdaya Berbasis Mesjid di Desa Purwamekar Kabupaten Karawang,Ay Jurnal at-Taghyir: Jurnal Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Desa 5, no. 2 (June 10, 2. : 337Ae50, doi:10. 24952/taghyir. 97 | Alim AuSebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahma. Ay Hadits ini menegaskan bahwa ukuran keutamaan dakwah tidak hanya terletak pada kefasihan retorika, tetapi pada sejauh mana kehadiran seorang muslim memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya. Dalam konteks pengabdian masyarakat, mahasiswa yang dibekali jiwa dakwah bil hal diharapkan mampu menghadirkan nilai-nilai Islam melalui etos kerja, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan kontribusi solutif terhadap permasalahan masyarakat. Dengan demikian, dakwah tidak hadir sebagai aktivitas simbolik, tetapi sebagai praktik sosial yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat sasaran 5. Sejumlah publikasi pengabdian masyarakat sebelumnya telah menekankan pentingnya penguatan dakwah melalui pemanfaatan media digital dan pendekatan dakwah bil hal dalam merespons dinamika sosial masyarakat kontemporer. Beberapa kegiatan pengabdian berfokus pada pelatihan dakwah digital bagi dai, remaja masjid, dan lembaga keagamaan dengan tujuan meningkatkan keterampilan bermedia serta memperluas jangkauan dakwah di ruang digital . sisi lain, pengabdian berbasis dakwah bil hal lebih banyak diarahkan pada penguatan keteladanan, etika sosial, dan pembentukan budaya religius di masyarakat melalui aksi nyata dan pendekatan persuasif . Namun demikian, publikasi-publikasi tersebut umumnya belum menempatkan mahasiswa sebagai subjek strategis dakwah yang dipersiapkan secara sistematis sebelum terjun ke masyarakat, serta belum mengintegrasikan penguatan nilai dakwah bil hal dan literasi dakwah digital dalam satu desain pengabdian berbasis Service-Learning pada fase pra-PPLAePKL. Oleh karena itu, artikel pengabdian ini menghadirkan novelty melalui model pembekalan terstruktur yang mengombinasikan internalisasi nilai dakwah bil hal, peningkatan literasi dan etika dakwah digital, serta pemanfaatan media pembekalan sebagai luaran pengabdian, sehingga mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelaksana kegiatan, tetapi sebagai agen dakwah dan perubahan sosial yang sadar nilai, kontekstual, dan berkelanjutan. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat jiwa dakwah mahasiswa peserta PPLAe PKL melalui program pembekalan berbasis dakwah bil hal dan literasi digital. Pendekatan yang digunakan adalah Service-Learning sebagai model pembelajaran aktif yang mengintegrasikan pembelajaran dengan keterlibatan langsung mahasiswa dalam kehidupan masyarakat . Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya mengikuti pembekalan secara tatap muka, tetapi juga didorong untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial, memahami permasalahan nyata di masyarakat, serta menerapkan pengetahuan dan nilai dakwah secara kontekstual melalui berbagai aktivitas pengabdian. 5 Akhmad Sagir. AuDakwah Bil-Hal: Prospek Dan Tantangan DaAoi,Ay Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 14, no. : 1Ae13, doi:10. 18592/alhadharah. Penguatan Jiwa Dakwah Mahasiswa. | 98 METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam rangka pembekalan mahasiswa peserta Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Tahun 2025. Kegiatan dilaksanakan secara terstruktur melalui pendekatan Service-Learning, yaitu model pembelajaran aktif yang mengintegrasikan proses pembelajaran dengan keterlibatan langsung mahasiswa dalam kehidupan masyarakat. Pendekatan ini menempatkan mahasiswa tidak hanya sebagai peserta pembekalan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial dalam merespons permasalahan yang dihadapi. Metode Service-Learning dipilih karena memungkinkan mahasiswa untuk memahami konsep dakwah secara aplikatif melalui pengalaman nyata. Pembekalan tidak hanya dilakukan melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga diarahkan pada proses refleksi, partisipasi aktif, dan penerapan nilai dakwah bil hal dalam konteks sosial. Melalui metode ini, mahasiswa didorong untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan dakwah yang diperoleh selama pembekalan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa bentuk metode, yaitu: . pendidikan masyarakat dalam bentuk pembekalan tematik yang menekankan penguatan jiwa dakwah dan nilai keteladanan. pelatihan dakwah digital untuk meningkatkan literasi dan kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah. difusi ipteks melalui pemanfaatan booklet AuMenjadi Insan Asy-Syukriyyah yang Berjiwa DakwahAy sebagai media pendukung pembelajaran dan pengabdian. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara sistematis dengan melibatkan dosen dan mahasiswa sebagai subjek aktif Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengukuran pemahaman, sikap, dan kesiapan dakwah mahasiswa sebelum dan sesudah mengikuti pembekalan. Selain itu, dilakukan refleksi kegiatan sebagai bagian dari pendekatan Service-Learning untuk menilai sejauh mana mahasiswa mampu menginternalisasi nilai dakwah dan menerapkannya dalam konteks pengabdian kepada masyarakat. Tabel di bawah ini mendeskripsikan tahapan metode pelaksanaan kegiatan. Tabel 1. Tahapan Metode Pelaksanaan Pengabdian Berbasis Service-Learning Tahap Kegiatan Persiapan Bentuk Kegiatan Identifikasi Metode Observasi Output Rumusan masalah dan 99 | Alim Tahap Kegiatan Pembekalan Konseptual Pelatihan Dakwah Digital Implementasi Service-Learning Difusi Dakwah Evaluasi Refleksi Bentuk Kegiatan Penyampaian materi jiwa dakwah dan dakwah bil hal Metode Pendidikan . eramah interaktif dan Pelatihan Pelatihan dan pemanfaatan media praktik digital sebagai sarana langsung Internalisasi refleksi dan simulasi peran sosial Media Pemanfaatan booklet AuMenjadi Insan AsySyukriyyah Berjiwa DakwahAy dan Pengukuran Output Peningkatan dakwah bil hal Peningkatan Pembelajaran Tumbuhnya . xperiential jawab sosial Difusi ipteks Media dan dakwah berbasis nilai Evaluasi preAe Data dan peningkatan dan kesiapan Sumber: Penulis . Penjelasan Tahapan Metode Tahap persiapan diawali dengan identifikasi kebutuhan pembekalan mahasiswa PPLAePKL berdasarkan data awal dan kondisi lapangan. Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa materi dan metode yang digunakan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi mahasiswa. Tahap pembekalan konseptual dilaksanakan untuk memberikan pemahaman mendasar mengenai jiwa dakwah dan konsep dakwah bil hal sebagai pendekatan dakwah yang menekankan keteladanan dan kontribusi nyata. Selanjutnya, pelatihan dakwah digital diberikan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah yang adaptif dan kontekstual. Tahap implementasi Service-Learning menjadi inti kegiatan, di mana mahasiswa diarahkan untuk merefleksikan peran sosialnya serta memahami penerapan nilai dakwah dalam kehidupan masyarakat. Difusi media dakwah dilakukan melalui penggunaan booklet sebagai sarana penguatan materi dan panduan praktis bagi mahasiswa. Tahap akhir berupa evaluasi dan refleksi dilakukan untuk mengukur capaian kegiatan sekaligus menilai efektivitas metode yang diterapkan. Penguatan Jiwa Dakwah Mahasiswa. | 100 HASIL DAN PEMBAHASAN Program pengabdian masyarakat berbasis dakwah diimplementasikan secara adaptif di lingkungan sekolah dan kantor. Di sekolah, pengabdian difokuskan pada penguatan akhlak, budaya ibadah, dan literasi Islam melalui pendekatan edukatif. Sementara itu, di lingkungan kantor dan lembaga sosial, dakwah diarahkan pada pembentukan etika kerja Islami seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Praktik pengabdian ini terbukti mampu membangun budaya religius institusional dan meningkatkan kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari . Gambar 1. Suasana Kegiatan Pembekalan Pelaksanaan program pembekalan PPLAePKL berbasis dakwah bil hal dan literasi digital menunjukkan dampak yang sangat positif terhadap peningkatan kesiapan jiwa dakwah mahasiswa. Evaluasi dilakukan melalui kuesioner yang disebar kepada 127 peserta . Jumlah peserta yang memberikan respon sebanyak 84 peserta yang berasal dari empat program studi, yaitu Pendidikan Agama Islam . ,1%). Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah . ,2%). Hukum Ekonomi Syariah . ,0%), dan Perbankan Syariah . ,7%). Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan . ,0%). Keragaman latar belakang program studi ini menunjukkan bahwa pembekalan menjangkau mahasiswa lintas disiplin secara proporsional. Tabel 2 menggambarkan sebaran peserta berdasarkan program studi. Tabel 2. Sebaran Berdasarkan Program Studi Program Studi (Prod. PAI PGMI Jumlah Persentase (%) 101 | Alim HES PSY Total Sumber: Diolah oleh penulis . Efektivitas Pembekalan dalam Menghadapi Tantangan Dakwah Pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan melalui program PPL dan PKL merupakan implementasi tridarma perguruan tinggi yang memiliki dimensi akademik, sosial, dan religius. Dalam konteks perguruan tinggi Islam, pengabdian tidak dapat dilepaskan dari misi dakwah dan pemberdayaan umat. Kesadaran dakwah ini menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan sosial yang menjalankan amar maAoruf nahi munkar secara kontekstual dan bijaksana (QS. Ali AoImran: . Hasil pengabdian berbasis dakwah menunjukkan bahwa integrasi nilai Islam dalam program PkM meningkatkan partisipasi dan penerimaan masyarakat terhadap kegiatan yang dilaksanakan . Hasil analisis pada indikator pertama (Q. menunjukkan bahwa program pembekalan memberikan bekal yang sangat kuat bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan dakwah di lapangan. Berdasarkan Tabel 3, sebanyak 44,0% responden menyatakan setuju dan 54,8% menyatakan sangat setuju bahwa pembekalan membantu mereka mempersiapkan diri menghadapi tantangan pengamalan jiwa dakwah. Nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 4,55 dengan standar deviasi 0,54, menunjukkan tingkat persepsi yang sangat tinggi dan Tidak adanya respon negatif mengindikasikan bahwa materi dan metode pembekalan diterima secara luas oleh mahasiswa. Tabel 3. Efektivitas Pembekalan Jawaban Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Diolah oleh Penulis . Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan Service-Learning yang digunakan mampu membangun kepercayaan diri mahasiswa melalui integrasi antara pembelajaran dan pengalaman sosial, sehingga mahasiswa merasa lebih siap menghadapi realitas dakwah di masyarakat. Kesiapan Implementasi Nilai Keislaman dan Jiwa Dakwah Nilai-nilai Insan Asy-Syukriyyah yang meliputi integritas moral, tanggung jawab sosial, semangat keilmuan, dan jiwa dakwah menjadi landasan etis dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat. Internalisasi nilai tersebut menjadikan mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelaksana teknis program, tetapi juga Penguatan Jiwa Dakwah Mahasiswa. | 102 sebagai teladan . swah hasana. bagi masyarakat sasaran (QS. Al-Ahzab: . Pendekatan keteladanan ini terbukti efektif dalam membangun kepercayaan masyarakat, sebagaimana ditunjukkan dalam pengabdian yang menekankan dakwah persuasif dan edukatif di ruang sosial keagamaan . Pada indikator kesiapan implementasi nilai keislaman dan jiwa dakwah (Q. Tabel 4 menunjukkan bahwa 97,6% responden berada pada kategori siap dan sangat siap. Nilai rata-rata sebesar 4,51 dengan standar deviasi 0,54 mengindikasikan kesiapan yang sangat tinggi. Menariknya, distribusi jawaban bersifat bimodal, dengan proporsi yang sama antara kategori siap dan sangat siap, masing-masing sebesar 48,8%. Tabel 4. Kesiapan Implementasi Jawaban Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Diolah oleh Penulis . Data ini menunjukkan bahwa pembekalan tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual, tetapi juga memperkuat kesiapan praktis mahasiswa untuk mengimplementasikan nilai dakwah selama PPLAePKL. Hal ini selaras dengan tujuan Service-Learning yang menekankan penerapan pengetahuan dalam konteks nyata. Penguatan Keyakinan terhadap Dakwah Bil hal Jiwa dakwah dalam pengabdian masyarakat diwujudkan melalui pendekatan dakwah bil hal, bil lisan, dan bil qalam. Dakwah bil hal tercermin dari etos kerja, kedisiplinan, dan amanah mahasiswa selama melaksanakan kegiatan Dakwah bil lisan dilakukan melalui komunikasi santun dan dialog edukatif sesuai prinsip dakwah bil hikmah (QS. An-Nahl: . Sementara itu, dakwah bil qalam diwujudkan melalui penyusunan modul, konten media, dan dokumentasi kegiatan. Model dakwah terpadu ini terbukti efektif dalam meningkatkan literasi keislaman masyarakat, khususnya generasi muda . Indikator keyakinan terhadap dakwah bil hal (Q. memperoleh skor tertinggi di antara seluruh indikator. Tabel 5 menunjukkan sebanyak 98,8% responden menyatakan yakin dan sangat yakin bahwa akhlak dan perilaku mereka dapat menjadi media dakwah yang efektif. Nilai rata-rata mencapai 4,64 dengan standar deviasi 0,51, menunjukkan konsensus yang sangat kuat. Tabel 5. Penguatan Keyakinan terhadap Dakwah Bil hal Jawaban Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Frekuensi . Persentase (%) 103 | Alim Netral Setuju Sangat Setuju Total Sumber: Diolah oleh Penulis . Dominasi jawaban sangat yakin . ,1%) menegaskan bahwa penanaman nilai dakwah bil hal melalui pembekalan berhasil menggeser orientasi dakwah mahasiswa dari pendekatan verbal menuju pendekatan keteladanan dan aksi Temuan ini memperkuat argumen bahwa dakwah bil hal merupakan pendekatan yang paling mudah diinternalisasi oleh mahasiswa lintas disiplin. Motivasi Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Sosial Pelaksanaan pengabdian masyarakat berbasis dakwah menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal. Tantangan internal meliputi keterbatasan pengalaman mahasiswa dan adaptasi terhadap lingkungan baru, sedangkan tantangan eksternal mencakup heterogenitas budaya dan pemahaman keagamaan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan strategi dakwah kontekstual yang fleksibel dan partisipatif. Pendekatan ini sejalan dengan praktik pengabdian dakwah yang melibatkan tokoh masyarakat dan lembaga keagamaan lokal untuk menjaga keberlanjutan program . Pada indikator motivasi menjadi agen perubahan (Q. Tabel 6 menunjukkan mayoritas responden . ,7%) menyatakan sangat termotivasi, dengan nilai rata-rata sebesar 4,60 dan standar deviasi 0,52. Tidak ditemukan respon negatif pada indikator ini. Tingginya motivasi ini menunjukkan bahwa pembekalan berhasil menumbuhkan sense of purpose dan tanggung jawab sosial mahasiswa dalam menjalankan peran pengabdian kepada masyarakat. Tabel 6. Motivasi Mahasiswa Jawaban Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Diolah oleh Penulis . Motivasi yang kuat ini menjadi modal penting bagi keberhasilan PPLAePKL, karena mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai aktor perubahan sosial yang sadar akan perannya. Penguatan Jiwa Dakwah Mahasiswa. | 104 Gambar 2. Dokementasi Kegiatan Peran Media Booklet sebagai Luaran Pengabdian Pemanfaatan media digital sebagai sarana dakwah menjadi salah satu inovasi dalam pengabdian masyarakat. Dakwah digital memungkinkan pesan keislaman disampaikan secara luas, cepat, dan berkelanjutan. Namun, dakwah digital harus memperhatikan etika penyampaian informasi, validitas konten, serta adab bermedia sesuai prinsip tabayyun (QS. Al-Hujurat: . Hasil pengabdian berbasis media digital menunjukkan bahwa konten dakwah yang edukatif dan kontekstual mampu meningkatkan literasi keislaman masyarakat, khususnya generasi muda. Media pembekalan berupa booklet AuMenjadi Insan Asy-Syukriyyah yang Berjiwa DakwahAy mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari mahasiswa. Pada indikator Q5. Tabel 7 menunjukkan sebanyak 39,3% responden menyatakan setuju dan 56% sangat setuju bahwa booklet sangat membantu dalam memahami materi. Nilai rata-rata sebesar 4,51 menunjukkan bahwa booklet berfungsi efektif sebagai media difusi ipteks dan penguatan materi pembekalan. Tabel 7. Peran Media Booklet Jawaban Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Diolah oleh Penulis . Keberhasilan booklet sebagai media pembelajaran menunjukkan bahwa luaran pengabdian tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memberikan manfaat praktis dan berkelanjutan bagi mahasiswa selama pelaksanaan PPLAePKL. 105 | Alim Kesiapan dan Tantangan Dakwah Digital Indikator kemampuan dakwah digital (Q. memperoleh nilai rata-rata terendah dibanding indikator lain, yaitu 4,40, meskipun masih berada dalam kategori sangat tinggi. Tabel 8 menunjukkan sebanyak 86,9% responden menyatakan setuju dan sangat setuju, namun terdapat 11,9% responden yang memilih netral dan 1,2% yang tidak setuju. Variasi jawaban yang lebih tinggi (E = 0,. menunjukkan bahwa dakwah digital masih menjadi aspek yang paling menantang bagi mahasiswa. Tabel 8. Kesiapan dan Tantangan Dakwah Digital Jawaban Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Diolah oleh Penulis . Namun demikian, indikator komitmen membuat atau membagikan konten dakwah positif (Q. justru menunjukkan nilai rata-rata yang lebih tinggi, yaitu 4,54, dengan 95,2% responden berada pada kategori positif. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun kepercayaan diri teknis belum sepenuhnya merata, motivasi dan niat mahasiswa untuk berdakwah secara digital sangat kuat. Gambar 3. Suasana Peserta Kegiatan Selain itu, indikator etika dakwah digital (Q. memperoleh skor rata-rata 4,63, dengan 64,3% responden sangat setuju untuk selalu memvalidasi dalil dan informasi sebelum menyebarkannya. Temuan ini menunjukkan bahwa pembekalan berhasil menanamkan kesadaran etis yang tinggi dalam praktik dakwah digital Peningkatan Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Pembekalan Efektivitas program pembekalan semakin ditegaskan melalui perbandingan pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan. Nilai rata-rata pengetahuan awal Penguatan Jiwa Dakwah Mahasiswa. | 106 mahasiswa berada pada angka 3,02 . ategori cuku. , kemudian meningkat menjadi 4,52 . ategori sangat bai. setelah pembekalan, dengan peningkatan sebesar 1,50 poin pada skala Likert. Penurunan standar deviasi dari 1,09 menjadi 0,63 menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman terjadi secara merata di seluruh Tabel 8. Peningkatan Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Kegiatan Jawaban Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Diolah oleh Penulis . Analisis berdasarkan program studi menunjukkan bahwa seluruh prodi mengalami peningkatan signifikan, dengan rata-rata peningkatan di atas 1,40 Hal ini menegaskan bahwa program pembekalan efektif dan relevan bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rektor Institut Asy-Syukriyyah atas arahan, dukungan kebijakan, serta fasilitas yang diberikan serta dukungan finansial dan bantuan pendanaan yang bersumber dari anggaran internal institusi tahun 2025, yang dialokasikan untuk pelaksanaan program pembekalan mahasiswa PPLAePKL serta publikasi artikel ilmiah ini. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh panitia dan mahasiswa peserta PPLAePKL tahun akademik 2025/2026 yang telah berpartisipasi aktif dalam rangkaian kegiatan ini. KESIMPULAN Kegiatan pembekalan PPLAePKL berbasis dakwah bil hal dan literasi digital secara signifikan efektif dalam memperkuat jiwa dakwah mahasiswa. Implementasi metode Service-Learning berhasil mengintegrasikan aspek kognitif dan pengalaman sosial, yang dibuktikan dengan peningkatan pemahaman mahasiswa mengenai konsep dakwah melalui keteladanan dan aksi nyata secara merata di seluruh program studi. Penggunaan media pendukung berupa booklet "Menjadi Insan Asy-Syukriyyah yang Berjiwa Dakwah" juga berperan optimal dalam memperkuat internalisasi nilai-nilai keislaman dan etika komunikasi digital. Meskipun keterampilan teknis dakwah digital masih memerlukan pengembangan berkelanjutan, kegiatan ini telah berhasil menumbuhkan motivasi tinggi dan tanggung jawab sosial mahasiswa sebagai agen perubahan yang siap memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. 107 | Alim DAFTAR PUSTAKA