Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN. KOMPETENSI MANAJEMEN DAN PEMANFAATAN FINANCIAL TECHNOLOGY TERHADAP KINERJA KEUANGAN (Studi pada Koperasi CU Betang Asi di Kalimantan Tenga. Ensy Veronika Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Palangka Raya Benius Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Palangka Raya Fitria Husnatarina Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Palangka Raya Agus Satrya Wibowo Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Palangka Raya A2025 pp : 01 Ae 16 Sustainability Accounting Journal Article Info ABSTRACT Keywords: Education level. Management competency. Utilization financial technology. Financial performance. The purpose of this study was to analyze the influence of education level, management competency, and utilization of Financial Technology on the financial performance of CU Betang Asi Cooperative. The researchers used a quantitative approach using secondary data which available at CU Betang Asi Cooperative database. The data analysis method used was multiple linear regression using EViews 13 software. The test results found that education level and management competency had no significant and positive effect on financial Meanwhile, the variable of utilization of Financial Technology showed a significant and positive effect on financial The theoretical implications of this study are that the results support the concept that the Technology Acceptance Model (TAM) impacts operational efficiency and effectiveness, thereby influencing financial performance. Practical implications of this research include increasing the utilization of Financial Technology, reorienting management training with a focus on digital literacy, and assessing the effectiveness of manager performance in terms of adaptability to innovation and technology. This is an open access article under theCC BY-NC license Corresponding Author: Ensy Veronika Palangka Raya University Jl. Bukit Raya No. smilensy@gmail. LATAR BELAKANG Koperasi CU Betang Asi berdiri sejak 26 Maret 2003 di Palangka Raya. Kalimantan Tengah dengan jumlah anggota 886 orang dan aset Rp. 626,00. Koperasi yang telah berdiri selama lebih dari 20 tahun ini per 31 Desember 2024 asetnya mencapai Rp. 463,00 dengan jumlah Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 336 orang yang terdapat di 19 kantor cabang di berbagai wilayah di Kalimantan Tengah. Meskipun demikian, kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi ini masih mengalami fluktuasi, yang menunjukkan adanya tantangan dalam pengelolaan internal. Koperasi yang baik adalah koperasi yang menunjukkan kinerja keuangan yang baik. Berbagai pendekatan telah dikembangkan untuk menilai performa finansial suatu lembaga, di antaranya menggunakan Balance Scorecard (BSC). CAMEL, serta indikator rentabilitas, likuiditas, dan solvabilitas. Seiring dengan dinamika sektor keuangan modern, metode evaluasi kinerja ekonomi lembaga mengalami perluasan, khususnya setelah munculnya lembaga berbasis anggota seperti Credit Union (CU). Dalam konteks tersebut. Association of Asian Confederation of Credit Unions (ACCU) pada tahun 2000 memperkenalkan suatu kerangka penilaian terintegrasi bernama PEARLS Monitoring System, yang kemudian diadaptasi oleh gerakan Credit Union di Indonesia sebagai standar pengawasan dan pengukuran kesehatan keuangan. Sistem ini bukan hanya berfungsi sebagai instrumen pengawasan, melainkan juga sebagai sarana diagnostik manajerial untuk memastikan keberlanjutan lembaga melalui pengelolaan modal, efisiensi operasional, serta kemampuan dalam memenuhi kewajiban kepada Dengan demikian, pengukuran kinerja keuangan tidak lagi sekadar menilai profitabilitas, tetapi juga mencerminkan efektivitas tata kelola dan daya adaptasi terhadap perubahan teknologi keuangan yang semakin pesat. PEARLS adalah singkatan dari P (Protectio. E (Effective Financial Structur. A (Asset Qualit. R (Rates of Return and Cos. L (Liquidit. , dan S (Signs of Growt. (Richardson, 2. Secara konseptual. PEARLS Monitoring System memiliki 44 komponen evaluatif yang dirancang untuk menilai kesehatan finansial dan tata kelola lembaga keuangan berbasis anggota. Namun, setelah melalui proses penyelarasan dan validasi kontekstual oleh tim Association of Asian Confederation of Credit Unions (ACCU), hanya 13 indikator utama yang dinilai relevan dan representatif untuk diterapkan di kawasan Asia. Pemilihan indikator tersebut mempertimbangkan karakteristik sosial-ekonomi, kapasitas manajerial, serta struktur kelembagaan Credit Union di wilayah Asia, sehingga sistem ini menjadi lebih adaptif terhadap dinamika regional dan mampu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai stabilitas serta kinerja keuangan lembaga (Munaldus et al, 2. Tiga faktor yang diteliti dalam penelitian ini yang berpotensi mempengaruhi kinerja keuangan adalah tingkat pendidikan, kompetensi manajemen dan pemanfaatan financial technology. Tiga faktor yang diteliti ini tidak berdiri sendiri, dapat saling berinteraksi dan saling mempengaruhi terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. Penelitian ini akan menganalisis interaksi antar faktor tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengaruhnya terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi yang diukur dengan menggunakan sistem PEARLS. Berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat kesenjangan populasi. Populasi selain di perusahaan ini belum dieksplorasi dan kurang dilakukan penelitian. Pengelola khususnya Manajemen Koperasi CU Betang Asi tampaknya penting dan layak diselidiki dalam konteks pengaruhnya terhadap kinerja keuangan. Investigasi kelompok ini penting karena mengingat banyaknya Credit Union di Indonesia. Lebih jauh lagi, penelitian sebelumnya difokuskan terutama pada populasi perusahaan. Sangat sedikit penelitian yang dilakukan pada Credit Union (CU) sebagai populasi penelitian. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat pendidikan, kompetensi manajemen, dan pemanfaatan financial technology terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan rekomendasi strategis untuk meningkatkan kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada kesejahteraan anggota dan keberlanjutan koperasi di Kalimantan Tengah. II. LITERATURE REVIEW Stewardship Theory Menurut Raharjo . Teori Stewardship menjelaskan kondisi ketika manajer berorientasi pada kepentingan kolektif organisasi daripada mengejar tujuan pribadi. Landasan teori ini berpijak pada pendekatan psikologis dan sosiologis yang memandang eksekutif sebagai steward, yaitu individu yang memiliki komitmen untuk bertindak selaras dengan kepentingan principal. Dalam kerangka ini, seorang steward dipersepsikan tidak akan meninggalkan organisasinya karena dorongan utama perilakunya adalah mencapai sasaran institusional secara optimal. Akuntansi Keuangan Menurut Kieso dan Weygandt . , akuntansi keuangan merupakan suatu proses sistematis dalam penyusunan laporan keuangan secara komprehensif, yang hasilnya digunakan oleh pihak internal Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 maupun eksternal organisasi untuk menilai kondisi dan kinerja perusahaan. Bidang ini berfokus pada penyajian informasi keuangan secara periodik, sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada pemegang saham dan investor terhadap pengelolaan sumber daya ekonomi perusahaan. Akuntansi Sektor Publik Christian . menjelaskan bahwa akuntansi sektor publik merupakan suatu proses sistematis yang mencakup pengumpulan, pencatatan, penggolongan, analisis, serta penyusunan laporan keuangan pada lembaga publik. Tujuan utama proses ini adalah untuk menyajikan informasi keuangan yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak-pihak yang memerlukan data tersebut, baik dari lingkungan internal maupun eksternal organisasi. Melalui penerapan akuntansi sektor publik, lembaga pemerintah dan institusi nonkomersial dapat meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta efektivitas dalam pengelolaan sumber daya publik. Sumber Daya Manusia (SDM) Menurut Priyono dan Marnis . , manusia sebagai sumber daya organisasi merupakan integrasi antara kapasitas intelektual dan kekuatan jasmani yang melekat pada setiap individu. Unsur perilaku serta karakter personal terbentuk melalui pengaruh faktor hereditas dan kondisi lingkungan sosial yang melingkupinya. Dorongan untuk menunjukkan kinerja optimal muncul dari kebutuhan internal untuk mencapai kepuasan diri dan aktualisasi potensi. Kualitas manusia dalam konteks organisasi tidak hanya diukur dari kemampuan teknisnya, tetapi juga dari sejauh mana ia mengelola energi mental dan fisiknya secara harmonis demi pencapaian tujuan bersama. Credit Union Menurut Munaldus et al. , istilah Credit Union berasal dari dua kata, yakni credit yang berakar dari bahasa Latin credere, berarti AupercayaAy, dan union atau unio yang berarti AuperkumpulanAy. Credit Union diartikan sebagai kelompok individu yang saling menaruh kepercayaan dalam pengelolaan keuangan bersama. Istilah tersebut diadopsi dan dikenal sebagai Koperasi Kredit, yang menekankan prinsip solidaritas ekonomi dan kemandirian finansial antaranggota. Kinerja Keuangan Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), kinerja keuangan mencerminkan kapasitas suatu entitas dalam mengelola serta mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan ekonomi secara efektif. Beragam pendekatan digunakan dalam proses pengukuran kinerja keuangan, antara lain Balanced Scorecard (BSC), metode CAMEL, serta analisis yang berfokus pada rentabilitas, likuiditas, dan solvabilitas sebagai indikator utama kesehatan keuangan organisasi. Seiring dengan perkembangan dinamika ekonomi dan teknologi keuangan, mekanisme penilaian kinerja pun mengalami transformasi, khususnya dengan hadirnya Credit Union sebagai bentuk lembaga keuangan berbasis anggota yang menuntut pengukuran kinerja lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan serta kesejahteraan anggota. Tingkat Pendidikan Maharani et al. menjelaskan bahwa tingkat pendidikan mengacu pada jenjang pendidikan formal yang berhasil ditempuh oleh seseorang, yang mencerminkan tingkat pengetahuan, keterampilan, serta kapasitas intelektual yang dimilikinya. Jenjang tersebut dapat mencakup pendidikan menengah, diploma, strata satu . , strata dua . , hingga pendidikan lanjutan pada level yang lebih tinggi. Tingkat pendidikan tidak hanya menunjukkan pencapaian akademik, tetapi juga menggambarkan kemampuan individu dalam berpikir sistematis dan beradaptasi terhadap kompleksitas lingkungan kerja maupun sosialnya. Kompetensi McClelland . dalam Chouhan dan Srivastava . menjelaskan bahwa kompetensi merupakan seperangkat karakteristik individu atau pola perilaku yang konsisten dan secara langsung berkontribusi terhadap pencapaian hasil kerja yang unggul dan bernilai ekonomis bagi organisasi. Artinya, kompetensi mencerminkan kemampuan personal yang memberikan nilai tambah nyata terhadap efektivitas kinerja seseorang. Financial Technology (Fin Tec. Menurut Pribadiono. Hukum. Esa, dan Barat . Financial Technology (FinTec. merupakan hasil integrasi antara sistem keuangan dan teknologi modern, yang melahirkan bentuk inovasi digital dalam layanan finansial. Inovasi ini menciptakan mekanisme baru dalam pengelolaan, distribusi, serta konsumsi produk keuangan melalui pemanfaatan teknologi Sementara itu. Dorfleitner. Hornuf. Schmitt, dan Weber . menjelaskan bahwa Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 FinTech merupakan industri yang berkembang secara cepat dan adaptif, ditandai oleh keragaman model bisnis dan pendekatan operasional yang terus berubah mengikuti dinamika kebutuhan pasar serta perkembangan teknologi global. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Ruang lingkup penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh tingkat pendidikan, kompetensi manajemen dan pemanfaatan financial technology terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi tahun 2021 Ae 2024. Pada penelitian ini profil koperasi akan dijelaskan terlebih dahulu, kemudian akan dijelaskan tentang kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi yang diukur menggunakan PEARLS monitoring system. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh secara langsung dari Koperasi CU Betang Asi. Tabel 1. Definisi Variabel Penelitian Variabel Definisi Operasional X1: Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan menggambarkan jenjang pembelajaran formal yang berhasil ditempuh oleh seseorang, mencakup pendidikan menengah, diploma, strata satu . , pascasarjana . , hingga tingkat pendidikan yang lebih Pencapaian jenjang ini merefleksikan kapasitas intelektual, kemampuan analitis, serta kesiapan individu dalam memahami dan menerapkan pengetahuan secara efektif dalam konteks profesional maupun sosial (Maharani et al, 2. Sertifikasi kompetensi kerja merupakan proses penilaian yang dilaksanakan secara terstruktur dan objektif melalui mekanisme uji kompetensi yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), internasional, atau standar khusus tertentu. Hasil dari proses ini berupa sertifikat kompetensi kerja, yaitu dokumen resmi yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi profesi terakreditasi sebagai bukti sah bahwa individu telah memenuhi dan menguasai kualifikasi kompetensi kerja sesuai dengan ketentuan standar yang berlaku (Peraturan Presiden No. 8, 2. Pemanfaatan Financial Technology (Fintec. dalam konteks koperasi merupakan penerapan teknologi digital untuk mendukung aktivitas operasional keuangan, seperti sistem pembayaran elektronik, layanan pinjaman berbasis digital, serta pengelolaan keuangan melalui aplikasi daring, misalnya CU Betang Asi Mobile Escete. Menurut Pribadiono et al. Financial Technology atau Fintech merupakan hasil integrasi antara teknologi informasi dengan layanan keuangan, yang berfungsi sebagai bentuk inovasi di sektor finansial melalui pemanfaatan teknologi modern guna meningkatkan efisiensi, aksesibilitas, serta kualitas layanan keuangan. Kinerja keuangan merupakan proses evaluatif yang digunakan untuk menilai efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan suatu lembaga, baik pada tingkat individu maupun sistem secara Sejak tahun 1990. World Council of X2: Kompetensi X3: Pemanfaatan Financial Tecnology (Fin Tec. Y: Kinerja Keuangan yang diukur Indikator/Parameter Skala Pengukuran Oc manajemen KC lulusan S1 Oc Manajemen KC Rasio Oc manajemen KC bersertifikasi manager Oc Manajemen KC Rasio Oc anggota pengguna ycoycuycaycnycoyce ycaycyycy Oc Anggota KC Rasio Perhitungan Kinerja Aktual berdasarkan PEARLS Perhitungan Kinerja Indeks Perhitungan Skor Perhitungan Total Skor Rasio Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 PEARLS Credit Unions. Inc. (WOCCU) mengembangkan metode pengukuran kinerja keuangan koperasi kredit melalui seperangkat indikator rasio yang dikenal dengan PEARLS. Pendekatan PEARLS ini berfungsi sebagai alat manajerial untuk menilai kesehatan keuangan dan menentukan arah kebijakan strategis koperasi kredit (Richardson, 2. Perhitungan kinerja aktual dilakukan dengan menggunakan rumus perhitungan berdasarkan ketentuan dalam PEARLS monitoring system sebagai berikut. Tabel 2. Perhitungan Kinerja Aktual PEARLS Monitoring System KINERJA AKTUAL TARGET PROTECTION (PERLINDUNGAN) Ketersediaan Dana Cadangan Risiko dan Provisi Kredit Lalai . terhadap Kredit Lalai > 12 bulan Dana cadangan risiko provisi pinjaman lalai . ihat di pasiv. Total pinjaman lalai > 12 bulan Rumus: P1 = a/b x 100% Ketersediaan Dana Cadangan Risiko dan Provisi Bersih setelah meng-cover poin 1 di atas terhadap Kredit Lalai 1 Ae 12 bulan Total dana cadangan risiko dan provisi di luar untuk P1 Total pinjaman lalai 1 Ae 12 bulan Rumus: P2 = a/b x 100% EFFECTIVE FINANCIAL STRUCTURE (STRUKTUR KEUANGAN YANG EFEKTIF) Modal Lembaga/Total Aset 70 Ae 80% Total pinjaman beredar . Dana cadangan risiko dan provisi pinjaman lalai Total aset Rumus: E1 = . /c x 100% 70 Ae 80% Simpanan Non-Saham/Total Aset Total simpanan non-saham Total aset Rumus: E5 = a/b x 100% Maksimum 5% Pinjaman Ke Pihak Luar/Total Aset Total kewajiban pinjaman jangka pendek Total kewajiban pinjaman jangka Panjang Total aset Rumus: E6 = . /c x 100% Modal Lembaga Bersih >10% Modal lembaga Dana cadangan risiko Total pinjaman lalai di atas 12 bulan Total pinjaman lalai 1 Ae 12 bulan Aset-aset yang bermasalah Total aset Rumus: E9 = [. Ae . 35% x . ]/f x 100% ASSET QUALITY (KUALITAS ASET) Total Kredit Lalai/Total Pinjaman Beredar < 5% Total saldo pinjaman lalai yang dicatat di pasiva, tidak termasuk pinjaman lalai yang sudah di-charge-off yang masih dalam masa penagihan. Total pinjaman beredar Rumus: A1 = a/b x 100% Asset-aset Tidak Menghasilkan/Total Aset Total aset yang tidak menghasilkan < 5% Total aset Rumus: A2 = a/b x 100% RATES OF RETURN AND COST (TINGKAT PENDAPATAN DAN BIAYA) Biaya Keuangan: Simpanan Saham Anggota/Rata-rata Simpanan Saham Total dividen (BJS) yang dibayarkan pada simpanan saham anggota > Inflasi Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 Total premi asuransi yang dibayarkan atas simpanan saham anggota Total pajak yang dibayarkan oleh CU atas dividen (BJS) simpanan saham Total simpanan saham anggota sampai akhir tahun berjalan Total simpanan saham anggota sampai akhir tahun lalu Rumus: R7 = . /[. x 100% Biaya Operasional/Rata-Rata Aset Total biaya operasional . i luar provisi untuk pinjaman lala. Total aset sampai akhir tahun ini Total aset sampai akhir tahun lalu Rumus: R9 = a/[. x 100% LIQUIDITY (LIKUIDITAS) Investasi Likuid Aset Likuid Ae Kewajiban Jangka Pendek/Simpanan NonSaham Total investasi likuid yang menghasilkan Total aset likuid yang tidak menghasilkan Total kewajiban jangka pendek < 30 hari (Non-Interest Bearing Liabilitie. Total simpanan non-saham Rumus: L1 = . b Ae . /d x 100% SIGNS OF GROWTH (TANDA-TANDA PERTUMBUHAN) Pertumbuhan Anggota Jumlah anggota terakhir Jumlah anggota sampai akhir tahun lalu Rumus: S10 = [. x 100 atau [. Ae . Pertumbuhan Total Aset Total aset tahun berjalan Total aset sampai akhir tahun lalu Rumus: S11 = [. x 100 atau [. Ae . > 12% > Inflasi Menurut Kaplan & Norton . dalam Rasyidi et al . , capaian KPI dapat diketahui melalui perhitungan indeks kinerja KPI dengan rumus berikut: ycycyc ycyeayeIyeIyeo = ycyeCyeiyeOyes ycyeUyeiyenyeCyes yeo yayaya% ycyeCyeeyeOyeIyei Terhadap persentase kinerja indeks dilakukan pembobotan sesuai dengan ketentuan pada tabel Tabel 3. Rentang Evaluasi Kinerja Indeks Sumber: Rasyidi et al . Bobot skor diadaptasi dari Balanced Score Card (BSC). Perhitungan skor dilakukan dengan rumus ycyeUyeayee = ycyeCyeiyeOyeayeO yeo ycyeayeEyeayei ycyeUyeayee yeo yayaya% Skor masing-masing indikator dijumlahkan sehingga mendapatkan hasil akhir berupa total skor seperti tampak pada Tabel berikut. Tabel 4. Perhitungan Total Skor PEARLS Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 Gambar 1. Model Penelitian Hipotesis Penelitian H1 = Tingkat Pendidikan berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. H2 = Kompetensi Manajemen berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. H3 = Pemanfaatan Financial Technology berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Model penelitian dengan data panel pada penelitian ini adalah Fixed Effect Model (FEM). Proses analisis data panel dilakukan menggunakan perangkat lunak Econometric Views (EView. versi 13 dengan hasil sebagai berikut. Tabel 5. Fixed Effect Model (FEM) Sumber: Data Output EViews 13, 2025 Persamaan regresi dari data yang diolah adalah sebagai berikut: Estimation Equation: ========================= Y = C. *X1 C. *X2 C. *X3 [CX=F] Substituted Coefficients: ========================= Y = 2. 05040019865 - 0. 244971628501*X1 0. 00108323856123*X2 3. 98257596487*X3 [CX=F] Di mana: : Kinerja keuangan : Tingkat pendidikan : Kompetensi manajemen : Pemanfaatan financial technology C. : Konstanta : Koefisien regresi [CX=F] : Variabel pengganggu Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Kinerja Keuangan Variabel tingkat pendidikan (X. yang diproksikan melalui rasio jumlah manajemen kantor cabang (KC) berpendidikan S1 terhadap total manajemen di masing-masing KC selama periode penelitian memperoleh nilai probabilitas sebesar 0,45220. Nilai probabilitas yang diperoleh, yaitu 0,45220, berada di atas batas signifikansi 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel tingkat pendidikan (X. secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan (Y). Pada penelitian ini, tingkat pendidikan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. Hasil uji hipotesis ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Ghardallou et al . yang menunjukkan bahwa direktur eksekutif yang merupakan lulusan pascasarjana, yaitu CEO yang memiliki gelar MBA, magister, atau doktor, tidak memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Namun, temuan penelitian membuktikan bahwa CEO pascasarjana secara signifikan meningkatkan nilai perusahaan . iukur dengan Tobin's Q). Oleh karena itu, nilai pasar perusahaan yang terdaftar di Saudi yang mempekerjakan CEO dengan tingkat pendidikan lanjutan lebih tinggi daripada perusahaan yang mempekerjakan eksekutif sarjana. Fenomena tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan dalam studi kasus di Koperasi CU Betang Asi ini memberikan suatu pemahaman bahwa tingkat pendidikan secara formal adalah fondasi tapi bukan faktor utama yang mempengaruhi kinerja keuangan. Tingkat pendidikan hanya menunjukkan level, bukan kualitas atau relevansi pendidikan tersebut. Misalnya seseorang dengan gelar S2 di bidang yang tidak terkait langsung dengan keuangan mungkin tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja keuangan. Di sisi lain, kepemimpinan, cara berkomunikasi, intuisi bisnis serta kemampuan beradaptasi seringkali tidak diajarkan secara formal dalam pendidikan tinggi namun lebih bisa menentukan kinerja keuangan terutama di level manajerial. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pengalaman praktis lebih berperan dibandingkan seseorang yang hanya memiliki pendidikan tinggi tanpa pengalaman yang Hal ini sejalan dengan Stewardship Theory di mana tingkat pendidikan secara formal bukan satu-satunya indikator kompetensi manajerial. Manajer yang memiliki komitmen tinggi dan bertindak sebagai steward bisa meningkatkan kinerja keuangan yang baik walaupun memiliki tingkat pendidikan formal yang lebih rendah. Dalam lingkungan Koperasi CU Betang Asi yang berbasis kepercayaan dan nilai bersama, motivasi personal, loyalitas dan integritas lebih menentukan hasil dibandingkan tingkat pendidikan secara formal. Seorang steward yang pro organisasional percaya bahwa ketika tujuan organisasi tercapai, maka kebutuhan personal juga akan terpenuhi. Walaupun tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja keuangan, namun tingkat pendidikan yang tinggi terutama di level manajerial akan meningkatkan nilai perusahaan dan juga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang dipimpinnya. Prinsip koperasi dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota benar-benar diterapkan oleh Koperasi CU Betang Asi. Hal ini dibuktikan dengan pelayanan keuangan dan lainnya hanya dapat diakses oleh masyarakat yang telah bergabung menjadi anggota Koperasi CU Betang Asi. Anggota adalah pemilik dibuktikan dengan aset Koperasi CU Betang Asi merupakan kumpulan dari semua simpanan dan pinjaman anggotanya, bukan milik dari beberapa orang saja. Para pengelolanya seperti pengurus dan manajemen juga harus dipilih dari anggota. Dalam pelaksanaan operasionalnya Koperasi CU Betang Asi bergerak secara mandiri, tidak menerima bantuan dari lembaga lain, memaksimalkan pengelolaan sumber daya yang ada. Anggota memegang keputusan tertinggi dalam forum Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang dilaksanakan setiap tahun. Dalam forum RAT tersebut anggota dapat menyampaikan pendapat dan saran perbaikan untuk peningkatan kinerja Koperasi CU Betang Asi yang hasilnya akan dinikmati oleh anggota. Adanya rasa memiliki inilah yang mendorong para anggota berperan secara aktif menjadi peminjam dan penyimpan yang baik. Karena peran aktif anggota inilah kinerja keuangan menunjukkan peningkatan. Koperasi CU Betang Asi adalah koperasi modern, namun dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya tidak meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal. Contohnya dalam kegiatan peresmian kantor baru selalu dilaksanakan sesuai adat dan budaya setempat, kegiatan doa syukur atas pendirian kantor baru melibatkan pemimpin agama dan masyarakat sekitarnya. Dalam pelayanan sehari-hari para manajemen dapat menggunakan Bahasa Dayak Ngaju. Penggunaan Bahasa Dayak Ngaju ini tidak hanya mempermudah komunikasi namun juga menimbulkan perasaan dekat selayaknya seorang AuPahari . Ay bagi anggotanya. Adanya value tersebut yang membuat anggota Koperasi CU Betang Asi loyal. Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi karena keberhasilan keuangan lembaga tersebut lebih banyak ditentukan oleh faktor non-akademik seperti pengalaman praktis, loyalitas anggota, penerapan teknologi keuangan, serta kuatnya nilai-nilai sosial dan budaya lokal yang terinternalisasi dalam sistem pengelolaan koperasi. Meskipun pendidikan formal berperan dalam membentuk pengetahuan dasar manajerial, namun dalam konteks koperasi yang berbasis keanggotaan dan nilai kebersamaan, kualitas kinerja keuangan lebih ditentukan oleh kemampuan adaptasi, integritas, dan rasa tanggung jawab pengelola serta partisipasi aktif anggota dalam menjaga stabilitas finansial Penerapan teknologi seperti aplikasi CU Betang Asi Mobile Escete dan Core Escete terbukti mampu menekan risiko kredit macet dan meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan, sedangkan penerapan nilai-nilai kearifan lokal dan kedekatan sosial memperkuat kepercayaan anggota terhadap Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam konteks Koperasi CU Betang Asi, keberhasilan finansial lebih merupakan hasil sinergi antara sistem manajerial berbasis kepercayaan, inovasi teknologi, dan modal sosial yang kuat daripada semata-mata ditentukan oleh tingkat pendidikan formal pengelolanya Dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi, karena keberhasilan finansial lembaga ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor non-akademik seperti pengalaman praktis, loyalitas anggota, inovasi teknologi keuangan, serta penerapan nilai-nilai sosial dan kearifan lokal dalam sistem pengelolaan. Meskipun pendidikan formal tetap berperan dalam memberikan landasan pengetahuan manajerial, namun dalam konteks koperasi yang berbasis keanggotaan dan nilai kebersamaan, kinerja keuangan lebih ditentukan oleh integritas, tanggung jawab, dan kemampuan adaptasi pengelola serta partisipasi aktif anggota. Penggunaan aplikasi CU Betang Asi Mobile Escete dan Core Escete terbukti efektif dalam menekan tingkat kredit macet dan meningkatkan efisiensi operasional, sementara nilai-nilai budaya seperti rasa kekeluargaan dan kepercayaan memperkuat stabilitas lembaga. Keberhasilan kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi merupakan hasil sinergi antara modal sosial, inovasi teknologi, dan tata kelola berbasis kepercayaan, bukan semata-mata ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat pendidikan formal Pengaruh Kompetensi Manajemen Terhadap Kinerja Keuangan Variabel kompetensi manajemen (X. yang diproksikan dengan menghitung rasio jumlah manajemen yang telah memiliki sertifikasi kompetensi kerja dengan total manajemen di setiap KC selama tahun penelitian dilakukan, menunjukkan nilai Prob X2 sebesar 0,8426 di mana nilai ini > 0,05 yang berarti variabel kompetensi manajemen (X. secara parsial tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Keuangan (Y). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi manajemen tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. Menurut Stewardship Theory kompetensi tidak menjamin kinerja tinggi jika tidak disertai dengan komitmen terhadap tujuan organisasi, integritas dan rasa tanggung jawab sebagai steward. Dapat dipertimbangkan bahwa keterbatasan pengukuran kompetensi dalam konteks ini hanya dinilai dari sudut pandang formal di mana kompetensi diukur dari sertifikasi manajer. Selain itu kinerja keuangan bisa dipengaruhi oleh faktor eksternal yang lebih dominan seperti kondisi pasar, kebijakan pemerintah dan stabilitas ekonomi. Hal ini menyebabkan pengaruh dari faktor internal seperti kompetensi menjadi relatif kecil terhadap kinerja keuangan dalam jangka pendek. Kompetensi dalam penelitian ini tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan karena mungkin tidak berpengaruh langsung pada kinerja keuangan sebab membutuhkan peran dari variabel lain sebagai mediator . atau moderator . seperti lingkungan kerja yang mendukung, motivasi atau kualitas manajemen dan strategi organisasi. Sama halnya dengan variabel tingkat pendidikan, variabel kompetensi di sini tidak beepengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan dikarenakan adanya faktor loyalitas anggota yang tinggi. Loyalitas yang tinggi ini ditumbuhkan dari proses penyadaran yang dapat merubah pola pikir anggota Koperasi CU Betang Asi dalam mengelola keuangan. Proses penyadaran ini dilakukan dengan cara mewajibkan Pendidikan Credit Union (Penc. kepada anggota yang akan melakukan pinjaman. Setelah anggota mengukuti Pencu akan dilanjutkan dengan Pendidikan Financial Literacy yang materinya diakui bermanfaat oleh anggota, berdasarkan hasil survey kepuasan anggota tahun 2024. Koperasi CU Betang Asi melaksanakan bimbingan teknis (Bimte. bagi anggota dan masyarakat dengan mengambil tema Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 yang relevan dengan keadaan setempat. Dengan demikian bimtek dapat memberikan ilmu dan inspirasi usaha untuk membuat sumber pendapatan baru bagi anggota. Dengan adanya sumber pendapatan yang baru ini akan meningkatkan kesejahteraan anggota dan juga kemampuan anggota memenuhi kewajiban menyimpan dan meminjam di Koperasi CU Betang Asi menjadi lebih baik. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi manajemen belum memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi karena keberhasilan lembaga lebih ditentukan oleh sinergi nilai sosial, loyalitas anggota, serta sistem pendidikan internal koperasi yang kuat. Secara empiris, kompetensi yang diukur melalui sertifikasi formal tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan manajerial yang relevan dengan konteks operasional koperasi. Dalam praktiknya, efektivitas pengelolaan keuangan lebih banyak ditentukan oleh pemahaman terhadap budaya organisasi, pengalaman lapangan, serta komitmen terhadap nilai-nilai koperasi seperti kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas anggota. Hal ini sejalan dengan pandangan Stewardship Theory, yang menekankan bahwa kinerja optimal tidak hanya lahir dari kompetensi teknis, tetapi juga dari dedikasi moral dan rasa memiliki terhadap organisasi. Di lapangan. Koperasi CU Betang Asi menumbuhkan kualitas sumber daya manusia melalui program Pendidikan Credit Union (Penc. Financial Literacy, serta Bimbingan Teknis (Bimte. yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat Program-program tersebut berfungsi memperkuat kesadaran finansial dan kemandirian ekonomi anggota, yang secara tidak langsung berdampak positif terhadap kinerja keuangan koperasi. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa dalam ekosistem koperasi berbasis nilai dan partisipasi seperti CU Betang Asi, kompetensi formal belum tentu menjadi faktor penentu utama keberhasilan finansial, karena dimensi sosial, komitmen kolektif, dan inovasi dalam pemberdayaan anggota memiliki peranan yang lebih substansial. Dapat disimpulkan bahwa kompetensi manajemen tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi, karena keberhasilan lembaga ini lebih banyak ditopang oleh sinergi antara loyalitas anggota, penerapan nilai-nilai sosial koperasi, serta sistem pendidikan internal yang Sertifikasi formal yang dijadikan ukuran kompetensi belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan manajerial yang sesuai dengan konteks operasional koperasi, di mana kinerja keuangan lebih ditentukan oleh pengalaman praktis, pemahaman terhadap budaya organisasi, serta komitmen terhadap nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas. Sejalan dengan Stewardship Theory, hasil ini menunjukkan bahwa kinerja optimal tidak hanya bergantung pada kompetensi teknis, tetapi juga pada dedikasi moral dan rasa memiliki terhadap organisasi. Melalui program Pendidikan Credit Union (Penc. Financial Literacy, dan Bimbingan Teknis (Bimte. Koperasi CU Betang Asi berhasil menumbuhkan kesadaran finansial dan kemandirian ekonomi anggota yang secara tidak langsung memperkuat kinerja keuangannya. Kompetensi formal manajemen bukan merupakan faktor utama keberhasilan finansial, melainkan integrasi nilai sosial, komitmen kolektif, dan inovasi pemberdayaan anggota yang menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan keuangan koperasi Pengaruh Pemanfaatan Financial Technology Terhadap Kinerja Keuangan Variabel Pemanfaatan Financial Technology (X. yang diproksikan dengan menghitung rasio jumlah anggota yang menggunakan aplikasi CU Betang Asi Mobile Escete dengan total anggota di setiap KC selama tahun penelitian dilakukan, menunjukkan Prob X3 sebesar 0,0125 di mana nilai ini < 0,05 dengan nilai t-Statistic 2,584623 yang bertanda positif. Hasil analisis data ini berarti bahwa variabel Pemanfaatan Financial Technology (X. secara parsial memberikan pengaruh yang signifikan dan positif terhadap Kinerja Keuangan (Y). Koperasi CU Betang Asi baru menerapkan Financial Technology sejak tahun 2021 dengan menggunakan aplikasi yang dinamakan Escete. Aplikasi Escete ini meliputi Core Escete dan CU Betang Asi Mobile Escete. Pemanfatan Financial Technology seperti Core Escete ini memberikan terobosan baru dalam pelaporan keuangan Koperasi CU Betang Asi sehingga informasi keuangan dapat diakses secara real time. Dengan adanya Core Escete ini menunjang pengambilan keputusan yang lebih tepat dan cepat karena informasi keuangan tersedia setiap waktu akan diperlukan. Selain itu manfaat lainnya adalah kecepatan dan kemudahan pelayanan, di mana anggota dapat melakukan transaksi dari kantor cabang mana saja karena semua informasi keuangannya terhubung antar kantor cabang Koperasi CU Betang Asi. Dengan adanya Core Escete ini efisiensi kerja dapat tercapai karena biaya operasional dapat diturunkan. Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 Selain Core Escete. CU Betang Asi Mobile Escete juga mengambil peran yang cukup besar dalam meningkatkan kinerja keuangan. Dengan keberadaan CU Betang Asi Mobile Escete anggota Koperasi CU Betang Asi dapat menikmati kemudahan dalam bertransaksi tidak hanya untuk keperluan internal di Koperasi CU Betang Asi namun juga ke lembaga lainnya seperti perbankan, vendor dan CU lainnya yang terintegrasi dalam satu layanan aplikasi keuangan, yaitu Escete. Selain itu keberadaan CU Betang Asi Mobile Escete dapat mengurangi biaya transaksi, mempercepat proses keuangan serta meningkatkan akurasi dan efisiensi dalam bertransaksi. Teori yang mendukung hal ini adalah Technology Acceptance Model (TAM). TAM merupakan model yang dirancang untuk menjelaskan dan memprediksi penerimaan pengguna terhadap teknologi informasi dengan dua komponen utama: Perceived Usefulness (PU) Ae Sejauh mana seseorang mempercayai bahwa menggunakan sistem tertentu akan meningkatkan kinerjanya. Perceived Ease of Use (PEOU) Ae Sejauh mana seseorang mempercayai bahwa menggunakan sistem tersebut memudahkan atau tidak sulit. (Davis, 1. Perceived Usefulness (PU) merupakan persepsi manfaat dari penggunaan FinTech sangat mempengaruhi keputusan individu untuk menggunakannya. Beberapa hal yang bisa dijadikan contoh adalah FinTech memungkinkan transaksi yang lebih cepat, efisien dan berbiaya rendah. Selain itu juga FinTech memberikan akses ke layanan keuangan yang sebelumnya sulit dijangkau misalnya pinjaman digital dan dompet digital. Jika pengguna merasa FinTech bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi keuangan, maka mereka cenderung menerima dan menggunakannya secara aktif, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja keuangan contohnya dalam hal akses modal yang dapat meningkatkan pinjaman beredar, pembayaran pinjaman sehingga menurunkan kelalaian angsuran, kemudahan menabung dan laporan saldo sehingga dapat meningkatkan aset, serta berbagai kemudahan transaksi sehingga meningkatkan jumlah anggota. Perceived Ease of Use (PEOU) merupakan persepsi tentang kemudahan penggunaan FinTech yang dapat mengurangi hambatan, mempercepat implementasi dan memberi dampak positif dalam pengelolaan keuangan. Jika pengguna merasa FinTech mudah digunakan, seperti tampilan aplikasi yang sederhana dan mudah dipahami, layanan anggota yang jelas atau proses transaksi yang tidak rumit, maka mereka cenderung mencoba dan terus menggunakan FinTech dalam hal ini CU Betang Asi Mobile Escete. Penggunaan yang konsisten ini mendukung pengelolaan keuangan yang lebih baik, seperti pencatatan otomatis, pengingat pembayaran dan pengecekan saldo secara real time. Dengan adanya penggunaan FinTech yang diterima secara luas dikarenakan oleh manfaat dan kemudahannya, terdapat beberapa hasil positif terhadap kinerja keuangan yang dapat diamati, yaitu: Peningkatan efisiensi biaya operasional di mana ini terjadi karena adanya pengurangan biaya kerja secara manual. Akses lebih cepat ke data keuangan yang menunjang pengambilan keputusan yang cepat dan Peningkatan kepuasan anggota sehingga anggota cenderung loyal dan menyarankan kepada orang lain. Peningkatan literasi serta kontrol terhadap keuangan pribadi sehingga dalam konteks individu akan tercapai pengelolaan keuangan . yang lebih baik. Semakin tinggi persepsi pengguna terhadap manfaat dan kemudahan pemanfaatan FinTech, maka semakin tinggi pula tingkat adopsi teknologi tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna CU Betang Asi Mobile Escete dari tahun ke tahun. Kondisi ini pada akhirnya akan memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan kinerja keuangan, baik pada level individu . serta pada level organisasi dalam hal ini adalah Koperasi CU Betang Asi. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan Financial Technology (FinTec. menjadi faktor penting yang mendorong peningkatan kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi melalui efisiensi, kecepatan layanan, dan peningkatan akses ke informasi keuangan. Temuan ini memperkuat relevansi Technology Acceptance Model (TAM), di mana tingkat penerimaan teknologi oleh pengguna ditentukan oleh persepsi terhadap manfaat . erceived usefulnes. dan kemudahan penggunaannya . erceived ease of us. Secara empiris, adopsi FinTech melalui aplikasi Core Escete dan CU Betang Asi Mobile Escete terbukti mempercepat proses administrasi keuangan, menekan biaya operasional, serta meningkatkan akurasi dan transparansi laporan keuangan. Selain itu, kemudahan akses transaksi kapan pun dan di mana pun telah mendorong partisipasi aktif anggota, memperluas basis pengguna, serta menekan tingkat kredit bermasalah melalui fitur autodebet dan pelacakan pembayaran secara real time. Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 Dampak sosial-ekonomi dari penerapan FinTech juga terlihat pada peningkatan literasi digital anggota dan penguatan kepercayaan terhadap koperasi sebagai lembaga keuangan modern yang adaptif terhadap inovasi. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penerapan FinTech di Koperasi CU Betang Asi tidak hanya berasal dari faktor teknologi itu sendiri, tetapi juga dari kesiapan organisasi, penerimaan anggota terhadap inovasi digital, serta kemampuan manajemen dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam tata kelola keuangan yang transparan, efisien, dan berkelanjutan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan Financial Technology (FinTec. menjadi faktor penting yang mendorong peningkatan kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi melalui efisiensi, kecepatan layanan, dan peningkatan akses ke informasi keuangan. Temuan ini memperkuat relevansi Technology Acceptance Model (TAM), di mana tingkat penerimaan teknologi oleh pengguna ditentukan oleh persepsi terhadap manfaat . erceived usefulnes. dan kemudahan penggunaannya . erceived ease of us. Secara empiris, adopsi FinTech melalui aplikasi Core Escete dan CU Betang Asi Mobile Escete terbukti mempercepat proses administrasi keuangan, menekan biaya operasional, serta meningkatkan akurasi dan transparansi laporan keuangan. Selain itu, kemudahan akses transaksi kapan pun dan di mana pun telah mendorong partisipasi aktif anggota, memperluas basis pengguna, serta menekan tingkat kredit bermasalah melalui fitur autodebet dan pelacakan pembayaran secara real time. Dampak sosial-ekonomi dari penerapan FinTech juga terlihat pada peningkatan literasi digital anggota dan penguatan kepercayaan terhadap koperasi sebagai lembaga keuangan modern yang adaptif terhadap inovasi. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penerapan FinTech di Koperasi CU Betang Asi tidak hanya berasal dari faktor teknologi itu sendiri, tetapi juga dari kesiapan organisasi, penerimaan anggota terhadap inovasi digital, serta kemampuan manajemen dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam tata kelola keuangan yang transparan, efisien, dan berkelanjutan. Dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan Financial Technology (FinTec. berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. Implementasi teknologi keuangan melalui aplikasi Core Escete dan CU Betang Asi Mobile Escete telah memberikan dampak nyata dalam meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat proses transaksi, serta memperkuat transparansi dan akurasi laporan keuangan. Hal ini sejalan dengan Technology Acceptance Model (TAM) yang menekankan bahwa penerimaan teknologi ditentukan oleh persepsi terhadap manfaat . erceived usefulnes. dan kemudahan penggunaan . erceived ease of us. Peningkatan jumlah pengguna aplikasi FinTech dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa anggota koperasi merasakan kemudahan, kecepatan, dan keamanan dalam bertransaksi, yang pada akhirnya memperkuat loyalitas serta menurunkan tingkat kredit bermasalah melalui fitur seperti autodebet dan pelacakan pembayaran real Selain itu, penerapan FinTech turut mendorong literasi digital dan kemandirian finansial anggota, menjadikan koperasi lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan layanan keuangan Keberhasilan kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, tetapi juga pada kesiapan manajemen dalam mengelola transformasi digital serta partisipasi aktif anggota dalam mendukung tata kelola keuangan yang efisien, transparan, dan berkelanjutan. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu sebagai berikut. Objek penelitian ini terbatas pada satu koperasi saja, yaitu Koperasi CU Betang Asi di Kalimantan Tengah. Dengan demikian hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasi untuk seluruh koperasi yang ada di Indonesia. Variabel independent yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada tingkat pendidikan, kompetensi manajemen dan pemanfaatan Financial Technology yang hanya 24,3% mampu menjelaskan variabel dependen. Hal ini belum mencakup faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi kinerja keuangan sebanyak 75,7%. Faktor-faktor lain ini seperti budaya organisasi, inovasi produk dan pelayanan, peranan teknologi informasi secara umum serta faktor eksternal misalnya regulasi atau dukungan pemerintah daerah. Data yang dikumpulkan dalam periode tertentu, yaitu tahun 2021 Ae 2024 perlu dilanjutkan lagi untuk melihat perkembangan pengaruh dari pemanfaatan Financial Technology terhadap kinerja CONCLUSION Sustainability Accounting Journal (SAJ) Volume 2. No 1 Oktober 2025 ISSN : - pp: 01 - 16 Berdasarkan rangkaian analisis yang telah dilakukan pada penelitian ini, dapat dirumuskan beberapa temuan utama yang menjadi dasar penarikan kesimpulan, yaitu . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. Hal ini menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan formal bukan merupakan faktor penentu dalam meningkatkan kinerja keuangan. Walaupun demikian, tingkat pendidikan manajemen yang lebih tinggi dapat meningkatkan nilai perusahaan dan kepercayaan masyarakat terhadap organisasi yang dipimpinnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi manajemen tidak berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. Ada kemungkinan faktor eksternal lebih mendominasi sehingga faktor internal seperti kompetensi manajemen menjadi relatif kecil dan . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan Financial Technology berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja keuangan Koperasi CU Betang Asi. Hal ini menunjukkan bahwa koperasi yang mampu mengadopsi dan memanfaatkan Financial Technology dapat meningkatkan efisiensi, aksesibilitas pelayanan serta pengelolaan keuangan yang akhirnya berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut pada variabel pemanfaatan Financial Technology, yaitu pada faktor yang mempengaruhi keinginan untuk menggunakan Fintech seperti kegunaan yang dirasakan (Perceived Usefulnes. , kemudahan penggunaan yang dirasakan (Perceived Ease of Us. serta pengaruh sosial (Social Influenc. Selain itu penelitian selanjutnya perlu dilakukan di Credit Union yang berada di wilayah lain untuk melihat apakah hasil yang sama juga terjadi di luar Kalimantan Tengah. REFERENCE