Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 3, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam Kurikulum PAI di SD Negeri 125 Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan Faris Irfanuddin*. Selamat. Hendro Widodo Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta. Indonesia *Corresponding Author: 2407052010@webmail. Dikirim: 24-05-2025. Direvisi: 17-06-2025. Diterima: 20-06-2025 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam (PM) dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri 125 Ogan Komering Ulu (OKU). Sumatera Selatan. Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang menekankan tiga prinsip utama, yaitu mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning, yang bertujuan menciptakan suasana pembelajaran aktif, bermakna, dan menggembirakan bagi siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi, serta analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Subjek penelitian ini meliputi kepala sekolah, guru PAI, dan siswa kelas V di SD Negeri 125 OKU, yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan keterlibatan langsung mereka dalam implementasi PM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SD Negeri 125 OKU telah mulai mengintegrasikan pendekatan PM, terutama melalui pemanfaatan media digital sederhana dalam pembelajaran agama. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala keterbatasan fasilitas, rendahnya pemahaman guru terkait konsep PM, dan variasi tingkat keterlibatan siswa. Meski demikian, semangat guru dan siswa dalam menerapkan diskusi aktif menunjukkan potensi yang kuat untuk penerapan PM lebih lanjut. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kompetensi guru melalui pelatihan intensif dan peningkatan fasilitas pendukung agar implementasi PM dalam kurikulum PAI menjadi optimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan Pembelajaran Mendalam terbukti efektif membangun pengalaman belajar PAI yang aktif, bermakna, dan menyenangkan di SD, meskipun masih memerlukan dukungan guru dan teknologi agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan. Kata Kunci: Pembelajaran Mendalam. Mindful Learning. Meaningful Learning. Joyful Learning. Pendidikan Agama Islam Abstract: This study aims to analyze the implementation of the Deep Learning approach, known in Indonesian as Pembelajaran Mendalam (PM), within the Islamic Religious Education (PAI) curriculum at SD Negeri 125 OKU. South Sumatra. Deep Learning is an instructional approach that emphasizes three core principles: mindful learning, meaningful learning, and joyful learning. These principles aim to create an active, engaging, and meaningful learning environment for students. The research employed a qualitative method involving classroom observations, in-depth interviews, and document analysis, with data analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The subjects of this study included the principal. Islamic Education teacher, and fifth-grade students at SD Negeri 125 OKU, selected through purposive sampling based on their direct involvement in the implementation of Deep Learning. Findings indicate that SD Negeri 125 OKU has begun integrating the PM approach, particularly using basic digital media in religious instruction. However, its implementation still faces several challenges, including limited infrastructure, insufficient teacher understanding of the PM concept, and varying levels of student Nevertheless, the enthusiasm of both teachers and students in conducting active discussions highlights a strong potential for broader adoption of PM. This study recommends @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Irfanuddin dkk. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam KurikulumA strengthening teacher competencies through intensive training and improving supportive infrastructure to optimize the implementation of PM in the Islamic Religious Education This study concludes that the Deep Learning approach has proven effective in fostering active, meaningful, and joyful Islamic Education learning experiences in elementary schools, although it still requires teacher support and technological infrastructure to achieve broader and more sustainable impact. Keywords: Deep Learning. Mindful Learning. Meaningful Learning. Joyful Learning. Islamic Religious Education PENDAHULUAN Indonesia masih bergulat dengan krisis pembelajaran yang tercermin jelas dalam laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022: skor literasi membaca siswa hanya 371 dan matematika 379, terpaut nyaris 90 poin di bawah rerata OECD (PISA 2022 Results (Volume I), 2. Di ruang kelas. Pendidikan Agama Islam (PAI) kerap disampaikan secara monoton melalui ceramah dan hafalan, sehingga gagal menstimulasi keterlibatan mendalam siswa (Khotimah & Abdan 2. Guru mengakui keterbatasan ruang inovasi dan beban administratif yang menumpuk, sementara infrastruktur pendukung, terutama teknologi, masih jauh dari ideal di banyak sekolah dasar. Sejak 2013 pemerintah berupaya merespons melalui siklus reformasi kurikulum. Kurikulum 2013 (K-. menekankan integrasi sikap spiritual dan sosial dalam tiap mata pelajaran, tetapi padatnya konten membuat guru kesulitan menyesuaikan metode (Hidayatulloh dkk. , 2017. Palobo & Tembang, 2. Kurikulum Merdeka yang diluncurkan pada 2021 membawa semangat lebih luwes lewat proyek profil Pelajar Pancasila, namun studi lapangan menunjukkan mutu implementasi sangat bervariasi (Munawir dkk. , 2024. Raihan dkk. , 2023. Suryaningsih dkk. , 2. Untuk menutup celah tersebut. Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam (PM) 2025 memperkenalkan fondasi pedagogis baru berbasis tiga prinsip, yaitu: mindful, meaningful, dan joyful learning, serta merekomendasikan adopsinya lintas mata pelajaran, termasuk PAI (Kemendikdasmen RI, 2. Pendekatan mindful learning mengajak siswa hadir penuh perhatian secara mental dan fisik, membangun kesadaran diri terhadap proses belajar. learning, jika mengacu pada teori Ausubel . adalah pendekatan yang mendorong siswa menghubungkan pengetahuan baru dengan skema yang telah ada agar tercipta pemahaman konseptual. sedangkan joyful learning menata suasana nyaman dan menyenangkan untuk menumbuhkan motivasi intrinsik (Fullan dkk. , 2. Berbagai studi menunjukkan efektivitas kerangka ini: Oktaviani . dan Martiadi, dkk. melaporkan integrasi teknologi berbasis PM meningkatkan pemahaman konseptual, meta-analisis Lubis & Ariansyah . mencatat rata-rata kenaikan hasil belajar 27 % dibanding pendekatan tradisional, dan bukti terbaru menunjukkan bahwa mindfulness bukan hanya meningkatkan regulasi emosi, tetapi juga menjadi mediator penting antara tujuan berprestasi, self determination, dan pengalaman mastery ketika siswa belajar melalui permainan digital (Yeh dkk. , 2. Namun, penelitian Juharoh . mengingatkan bahwa keberhasilan PM sangat bergantung pada kesiapan guru serta ketersediaan sarana digital yang memadai, dua aspek yang kerap menjadi titik lemah di sekolah dasar. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Irfanuddin dkk. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam KurikulumA Landasan konseptual Pembelajaran Mendalam (PM) tidak berdiri sendiri. meminjam tiga alur teori pendidikan yang saling melengkapi. Pertama, konstruktivisme sosiokultural Vygotsky menekankan bahwa pembelajaran efektif terjadi dalam zona perkembangan proksimal melalui interaksi berbahasa dengan guru atau teman sebaya (Vygotskij & Steiner, 1. Aspek mindful learning pada PM selaras dengan ide Vygotsky karena siswa diajak hadir sadar dalam dialog internal-eksternal untuk membangun makna baru. Kedua, pendekatan humanistik Rogers menegaskan pentingnya suasana psikologis kondusif. empati, keaslian, dan penghargaan positif, agar peserta didik terdorong belajar atas kemauan diri (Rogers & Freiberg, 1. Suasana itulah yang ingin ditempa prinsip joyful learning, sehingga motivasi intrinsik memandu eksplorasi nilai keagamaan. Ketiga, taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcome. memetakan kualitas respons siswa dari level pra-struktural hingga ekstensial abstrak (Biggs & Collis, 2. PM memberi ruang meaningful learning dengan merancang tugas yang memungkinkan pergeseran siswa dari penguasaan permukaan ke relasi konseptual kompleks, sejalan tahapan multistruktural dan relasional SOLO. Dengan mengintegrasikan konstruktivisme . roses sosia. , humanistik . ondisi afekti. , dan SOLO . rogresi kogniti. PM memosisikan diri sebagai pendekatan holistik yang menumbuhkan kesadaran belajar, pemaknaan mendalam, dan kegembiraan yang berkelanjutan. Gambar 1. Model Integratif Pembelajaran Mendalam (PM) Model integratif dalam Gambar 1 merekatkan tiga prinsip inti Pembelajaran Mendalam, yaitu mindful, meaningful, dan joyful learning, dengan tiga fondasi teori pendidikan yang saling melengkapi. Lingkaran pusat bertuliskan AuPMAy melambangkan esensi pendekatan, sedangkan tiga lingkaran di sekelilingnya menandai ruang kerja setiap prinsip. Panah-panah yang bergerak menuju pusat menjelaskan bahwa kesadaran penuh . akan memayungi proses konstruksi makna, keterkaitan pengetahuan baru . , dan suasana emosional positif . ketiganya wajib hadir beriringan agar pembelajaran benar-benar Aumendalam. Ay @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Irfanuddin dkk. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam KurikulumA Dari masing-masing lingkaran prinsip, panah lain mengarah ke kotak teori di tepi Jalur ini menegaskan kesepadanan konseptual: mindful learning selaras dengan konstruktivisme sosiokultural Vygotsky karena pembelajaran sadar terjadi dalam dialog zone of proximal development. meaningful learning berpaut dengan taksonomi SOLO Biggs & Collis karena kedalaman makna diukur melalui peningkatan kualitas jawaban. sedangkan joyful learning bertumpu pada pendekatan humanistik Rogers yang mengedepankan iklim empatik dan motivasi intrinsik. Jalinan dua-arah tersebut menunjukkan teori-teori tersebut bukan sekadar latar konseptual, melainkan pemandu praktis desain aktivitas, asesmen, dan iklim kelas PAI. Literatur tentang integrasi PM dalam PAI jenjang sekolah dasar masih terbatas. Kajian Karin & Fakhruddin . Kusairi dkk. maupun Sari dkk. banyak menyoroti pembangunan karakter, tetapi belum mengeksplorasi penerapan teknik mindfulAemeaningfulAejoyful secara menyeluruh di kelas. Kondisi ini menimbulkan gap pengetahuan penting, terutama mengingat tantangan ganda rendahnya literasi dan kebutuhan internalisasi nilai toleransi sejak dini. Tabel 1. Perbandingan Karakteristik Pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM) dengan CBSA. PAKEM, dan CTL Dimensi Fokus Pembelajaran Mendalam (PM) Mindful, meaningful, joyful learning. kognitif, afektif. CBSA PAKEM CTL Aktivasi siswa melalui tugas & Kreativitas. Berbasis multiAcragam Keterkaitan Berbasis Mediator konteksAckon Transfer konsep ke Kerangka Diarahkan oleh prinsip SOLO & refleksi sadar NonActaksonomik. Peran guru Fasilitator refleksi kesadaran & pencipta ekosistem holistik Pemahaman konseptual mendalam karakter religius inklusif Pengarah Output Kelebihan Menyatukan dimensi kesadaran, makna, dan Siswa aktif namun belum Mudah diterapkan, biaya Tantangan Perlu pelatihan guru & asesmen reflektif Kadang terjebak Desainer Motivasi & Variatif. Rentan dangkal bila berfokus AufunAy Kuat Membutuhk an sumber Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menelaah secara mendalam bagaimana prinsip PM diimplementasikan dalam kurikulum PAI di SD Negeri 125 OKU. Sumatera Selatan. Sekolah dasar negeri di wilayah pedesaan ini menjadi konteks representatif karena menghadapi keterbatasan fasilitas, namun di saat yang sama memikul tanggung jawab mempersiapkan generasi penerus menghadapi bonus demografi 2035. Dengan menggabungkan observasi kelas, wawancara @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Irfanuddin dkk. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam KurikulumA pemangku kepentingan, dokumentasi visual, dan analisis tematik, studi ini bertujuan memotret sejauh mana mindful, meaningful, dan joyful learning telah meresap dalam praktik, mengidentifikasi kendala serta potensi penguatannya, dan pada akhirnya menawarkan rekomendasi berbasis bukti bagi kebijakan perluasan Pembelajaran Mendalam pada PAI di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini berasumsi bahwa penerapan PM secara holistik akan meningkatkan kualitas pembelajaran agama, memperkaya karakter spiritual serta moral siswa, dan sekaligus memperbaiki capaian literasi kritis yang selama ini tertinggal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitian lapangan . ield researc. Lokasi penelitian adalah SD Negeri 125 OKU Sumatera Selatan, dan dilaksanakan pada rentang waktu Januari hingga Maret 2025. Subjek-subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru PAI, dan siswa kelas V yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan keterlibatan langsung mereka dalam implementasi PM. Beberapa teknik pengumpulan data dijalankan dalam penelitian ini, yaitu: . observasi partisipatif, untuk mengamati dinamika pembelajaran PAI secara langsung di kelas. wawancara mendalam, yang dilakukan terhadap kepala sekolah, guru PAI, dan beberapa siswa sebagai informan utama. dokumentasi, termasuk analisis terhadap RPP, jurnal guru, foto kegiatan, dan lembar kerja siswa. Setiap teknik ini diorganisasi dalam kerangka triangulasi metode berlapis guna memperkuat validitas Instrumen utama yang digunakan dalam observasi adalah lembar observasi berbasis Classroom Deep Learning Observation Tool yang dikembangkan oleh Liu . , kemudian disesuaikan dengan konteks pembelajaran PAI. Indikator observasi mencakup: . mindful learning, yang ditandai dengan keterlibatan perhatian siswa dan refleksi kritis terhadap materi ajar. meaningful learning, yang dilihat dari keterkaitan materi dengan pengalaman pribadi atau konteks kehidupan siswa, dan . joyful learning, yang diukur melalui ekspresi antusiasme, kenyamanan suasana kelas, serta keterlibatan emosional siswa selama proses pembelajaran. Instrumen wawancara menggunakan pedoman semi-terstruktur yang dirancang untuk menggali persepsi, pengalaman, dan refleksi informan terhadap praktik PM, dengan indikator meliputi persepsi terhadap kebermaknaan materi, peran guru sebagai fasilitator, serta keterlibatan afektif siswa. Dokumentasi dianalisis untuk mendukung triangulasi isi dan memperkaya data observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, melalui tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Untuk menjamin keabsahan data, digunakan teknik triangulasi sumber dan metode, sebagaimana disarankan oleh Creswell dkk. Setiap sumber data dipetakan ke dalam tiga domain utama PM, yakni mindful, meaningful, dan joyful learning, agar logika inferensial tetap terjaga dan dapat didalami (Merriam & Tisdell, 2. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Irfanuddin dkk. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam KurikulumA HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian berlangsung di SD Negeri 125 OKU. Jl. Raya Tanjung Baru Km 17. Lubuk Raja. Ogan Komering Ulu. Sumatera SelatanAisekolah negeri berdiri 1984 yang kini menampung 286 siswa dari tiga dusun. SD Negeri 125 OKU adalah salah satu sekolah dasar di Sumatera Selatan yang mulai mengimplementasikan pendekatan PM dalam kurikulum PAI. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, implementasi PM di sekolah ini masih berada dalam tahap awal, khususnya terkait pemahaman konsep PM oleh guru. Meskipun pemanfaatan teknologi sederhana seperti proyektor telah dilakukan, keterbatasan fasilitas menjadi tantangan utama. Siswa menunjukkan antusiasme dalam pembelajaran melalui diskusi aktif, yang mencerminkan prinsip mindful learning. Namun, pemahaman materi yang mendalam . eaningful learnin. masih terbatas karena keterbatasan strategi guru dalam menghubungkan materi dengan pengalaman siswa sehari-hari secara lebih kuat. Observasi berulang di kelas V SD Negeri 125 OKU menghadirkan gambaran konkret tentang bagaimana prinsip mindful-meaningful-joyful learning mulai hidup dalam praktik Pendidikan Agama Islam. Pada mulai sesi pertama, guru menata laptop dan proyektor seadanya di meja depan. 28 siswa duduk berpasangan, menunggu tayangan pembuka (Gambar . Dinding kelas dipenuhi lukisan bunga dan bendera merah-putih hasil karya siswa, menciptakan atmosfer hangat yang menumbuhkan kegembiraan kolektif. Kondisi emosional positif ini merupakan embrio joyful learning sebagaimana digariskan Naskah Akademik 2025. Namun, kabel listrik yang melintang tanpa ducting memperlihatkan keterbatasan sarana TIK. Kondisi ini menunjukkan risiko keselamatan yang belum tertangani. Ketika slide digital tampil, guru mengajak siswa hening selama tiga puluh detik, lalu meminta mereka menuliskan satu kata yang muncul di benak saat melihat citra AuPuasa adalah jedaAy sebagaimana tampak pada Gambar 2. Momen kecil ini mewujudkan mindful learning: siswa hadir penuh perhatian terhadap teks dan emosi yang muncul. Diskusi lanjutan mengaitkan konsep puasa dengan metafora metamorfosis ulatAekepompongAekupu-kupu. koneksi biologis yang akrab ini memperdalam meaningful learning yang tercermin dalam pengetahuan agama dilekatkan pada realitas alam yang mereka jumpai sehari-hari. Hasil pencatatan rubrik SOLO dalam distribusi awal tampak dalam Tabel 2. Tabel 2. Hasil Distribusi Awal Rubrik SOLO Pra-struktural Multisktruktural Relasional Eksistensial abstrak Data tersebut menandakan mayoritas siswa masih berhenti pada pengulangan fakta tanpa relasi sebab-akibat yang komprehensif. Pada siklus kedua guru memproyeksikan halaman depan AuModul Ajar Kurikulum MerdekaAy sebagai titik awal diskusi konteks sebagaimana tampak pada Gambar 3. Tanpa terpaku pada slide, beliau mendorong tiap kelompok menelusuri butir kompetensi dasar dalam modul lalu menghubungkannya dengan peristiwa aktual di lingkungan desa, misalnya peran siswa dalam kegiatan sosial Ramadhan. Pendekatan ini mengaktifkan proses inkuiri, di mana siswa tidak sekadar menyerap konten, tetapi mengekstraksi pertanyaan relevan dari modul resmi, menandai pendalaman meaningful learning. Hasil rubrik SOLO pascaaktivitas menunjukkan pergeseran positif sebagaimana tampak pada Tabel 3. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Irfanuddin dkk. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam KurikulumA Tabel 3. Hasil Rubrik SOLO Pasca-aktivitas Pra-struktural Multisktruktural Relasional Eksistensial abstrak Lompatan ini mengonfirmasi bahwa penggunaan perangkat kurikulum resmi sebagai pemantik diskusi terbuka mampu memperdalam pemaknaan, meski sarana TIK masih sederhana dan koneksi internet terbatas. Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah menunjukkan bahwa integrasi PM di SD Negeri 125 OKU Ausudah mulai dilaksanakanAy dengan tujuan utama meningkatkan kecerdasan siswa melalui pemanfaatan teknologi sederhana, seperti Aualat dan aplikasi sederhanaAy. Evaluasi pelaksanaannya dilakukan melalui koordinasi antar pihak sekolah dan pelatihan daring berkala (Diklat Onlin. bagi para guru. Kepala Sekolah juga menekankan pentingnya peran serta orang tua sebagai mitra belajar aktif dalam mendukung keberhasilan pendekatan ini. Sementara itu. Guru PAI menyatakan bahwa dirinya Aubelum banyak pahamAy konsep Pembelajaran Mendalam secara teoretis, namun telah mulai menerapkan beberapa prinsip dasarnya seperti penggunaan pertanyaan terbuka dan diskusi reflektif dalam pembelajaran. Penilaian terhadap kemampuan berpikir mendalam siswa dilakukan melalui kombinasi tes tertulis, observasi kelas, analisis tugas, dan diskusi Temuan ini menegaskan bahwa baik Kepala Sekolah maupun Guru PAI sepakat bahwa kendala utama dalam penerapan Pembelajaran Mendalam terletak pada keterbatasan sumber daya dan adanya resistensi awal terhadap perubahan. Meskipun demikian. Guru PAI merasa Audidukung penuhAy oleh Kepala Sekolah dan rekan Konstelasi dukungan ini menunjukkan pentingnya pelatihan lanjutan dan kolaborasi antara sekolah dan orang tua untuk mewujudkan praktik mindful, meaningful, joyful learning secara berkelanjutan. Hasil temuan lapangan tersebut di atas turut menutup research gap yang diidentifikasi pada pendahuluan. Selama ini, bukti empiris penerapan PM dalam PAI jenjang sekolah dasar nyaris tak terdokumentasi. kebanyakan studi seperti Khotimah & Abdan . Oktaviani . Juharoh dkk. , maupun Lubis & Ariansyah . , berfokus pada tingkat menengah atau sekadar tinjauan teoretis. Dengan membuktikan bahwa praktik mindfulAemeaningfulAejoyful dapat tumbuh di ruang kelas sederhana, penelitian ini memperluas cakupan konteks PM dan menegaskan kesesuaiannya bagi anak-anak usia dasar di lingkungan rural Sumatera Selatan. Tujuan riset untuk menguji sejauh mana PM terintegrasi dalam kurikulum PAI, terjawab: integrasi sudah dimulai, namun masih dangkal karena guru belum memegang panduan konseptual yang utuh dan fasilitas TIK masih minim. Analisis lebih lanjut mempertemukan temuan ini dengan literatur terdahulu. Santoso . menekankan daya ungkit teknologi digital dalam PM. sedangkan di SD 125 OKU, teknologi low-tech pun ternyata memadai sebagai pemantik suasana Artinya, prasyarat digital tidak harus muluk untuk menyalakan rasa ingin tahu. Sebaliknya, catatan Juharoh dkk. mengenai rendahnya kesiapan guru terbukti relevan: wawancara mendalam memperlihatkan guru PAI mengakui ia Aubelum banyak pahamAy kerangka PM. Kesenjangan pengetahuan ini menjelaskan mengapa aktivitas berpikir tingkat tinggi, semisal proyek inkuiri atau studi kasus antar mata pelajaran, baru muncul sesekali, tidak sistematis. Dengan demikian, studi ini bukan hanya @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Irfanuddin dkk. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam KurikulumA mengonfirmasi temuan global, tetapi juga menambahkan nuansa lokal: pendekatan PM mensyaratkan professional learning community yang giat sebelum dapat berakar Implikasinya tegas. Pertama, sekolah perlu memfasilitasi pelatihan intensif berbasis komunitas KKG agar guru memahami desain aktivitas mindfulAemeaningfulAe joyful secara menyeluruh. Mulai dari perencanaan, asesmen autentik, hingga refleksi Kedua, optimalisasi fasilitas tak harus menunggu laboratorium canggih. proyektor tunggal, ponsel, dan sumber daring gratis bisa diolah menjadi media reflektif interaktif asal guru terampil memanfaatkannya. Ketiga, asesmen formatif seperti journaling dan portofolio refleksi perlu dilembagakan agar sisi mindful dan meaningful tidak terhenti di kelas, tetapi terus dipupuk melalui umpan balik Keterbatasan penelitian ini terletak pada cakupan satu sekolah dan durasi pengamatan yang relatif singkat. konsekuensinya, dinamika jangka panjang perubahan sikap siswa dan keterampilan pedagogik guru belum terukur. Riset lanjutan berdesain longitudinal, yakni mengamati beberapa sekolah dengan karakter demografis berbeda, akan membuka peluang memetakan evolusi praktik PM secara lebih komprehensif, sekaligus menguji daya tahan prinsip joyful learning ketika tuntutan kurikulum kognitif meningkat di kelas-kelas berikutnya. Secara keseluruhan, narasi lapangan menunjukkan benih PM yang tumbuh di SD Negeri 125 OKU: kecil tetapi potensial. Dengan dukungan pelatihan guru dan penguatan sarana sederhana, benih tersebut dapat berkembang menjadi model PAI yang sungguh-sungguh mindful, meaningful, dan joyful. Sehingga diharapkan dapat menjawab mandat transformasi pendidikan yang digariskan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Aubelajar penuh kesadaran, bermakna, dan menggembirakanAy bagi semua. Temuan penelitian ini selaras dengan garis besar Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam 2025, yang merekomendasikan agar asesmen formatif otentik menggantikan penilaian berbasis hafalan. Observasi menunjukkan guru PAI mulai menggunakan refleksi tertulis pendek sebagai umpan balik harian, suatu praktik yang beresonansi dengan anjuran PM untuk mengukur dimensi mindful dan meaningful secara kualitatif (Kemendikdasmen RI, 2. Selain itu, adopsi kuis digital sederhana memperlihatkan langkah awal menuju asesmen menyenangkan, sejalan dengan Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan yang menekankan penilaian proses dan hasil belajar secara holistik. Implikasi praktisnya, dinas pendidikan dapat menyusun pelatihan mikro-asesmen berbasis portofolio dan jurnal reflektif bagi guru PAI, sekaligus merevisi format rapor agar memuat indikator kesadaran, makna, dan kegembiraan, bukan sekadar angka pengetahuan faktual. Kebijakan insentif, misalnya dengan pengakuan beban kinerja guru untuk merancang asesmen reflektif, akan mempercepat konvergensi antara praktik kelas dan mandat regulasi. Menurut kerangka FullanAos Six Drivers of Change (Fullan dkk. , 2. keberhasilan integrasi Pembelajaran Mendalam di SD 125 OKU ditentukan oleh dua pendorong utama: capacity building dan collaborative cultures. Kapasitas meningkat kala guru PAI berlatih membuat pertanyaan reflektif. namun driver ini dibatasi ketersediaan pelatihan terstruktur. Budaya kolaboratif mulai terbentuk melalui diskusi rutin guru mapel, tetapi masih lemah karena absennya komunitas pembelajar lintas Driver berbasis teknologi berfungsi sebagai akselerator. Contohnya proyektor @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Irfanuddin dkk. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam KurikulumA dan kuis daring yang mendorong joyful learning. Namun keterbatasan jaringan internet menjadi penghambat sistemik. Dukungan eksternal . tampak pada izin kurikulum dari dinas, tetapi belum dilengkapi pendanaan sarana digital. Bila diukur terhadap enam driver, sekolah berada pada fase emerging, sehingga memerlukan intervensi pada aspek pedagogy plus technology dan systemness agar perubahan bersifat berkelanjutan. Dengan demikian, roadmap peningkatan PM di sekolah dasar harus menyinergikan pelatihan guru, pembentukan komunitas praktisi, dan investasi infrastruktur ringan yang difasilitasi pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif satu situs dengan durasi observasi yang relatif singkat sehingga menghasilkan potret AusnapshotAy mengenai implementasi PM di SD Negeri 125 OKU. Keputusan menyandarkan reliabilitas pada satu peneliti dan satu sesi peer-debriefing menyisakan potensi bias penafsiran, sementara instrumen checklist empat butir belum diuji validitas konstruksinya secara Selain itu, tidak ada triangulasi data kuantitatif, misalnya skor hasil belajar atau log aktivitas digital, yang bisa memperkaya analisis temuan observasi dan Keterbatasan ini mengindikasikan bahwa generalisasi hasil perlu dilakukan dengan penuh kehati-hatian, khususnya untuk sekolah yang memiliki profil demografis atau dukungan infrastruktur berbeda. Riset masa depan dianjurkan bergerak ke desain longitudinal multi-situs yang mindfulAemeaningfulAejoyful sekurang-kurangnya selama satu tahun ajaran di berbagai konteks . edesaan, pinggiran kota, dan perkotaa. guna memperoleh gambaran evolusi kompetensi guru dan siswa secara dinamis. Pendekatan campuran . ixed-method. dengan menyertakan analisis skor asesmen formatif, log pembelajaran daring, dan data pengamatan kelas akan menambah kekuatan inferensial. Peneliti juga dapat merancang eksperimen kuasi untuk membandingkan efektivitas PM dengan CTL atau PAKEM, serta menguji instrumen asesmen berbasis kecerdasan buatan guna mengukur kedalaman konsep dan sikap religius siswa secara adaptif. Agenda berikutnya perlu mengeksplorasi learning analytics yang memanfaatkan big data dari platform daring murah untuk menelusuri pola keterlibatan siswa PAI, sehingga rekomendasi kebijakan bersifat berbasis bukti lintas jenjang waktu dan lokasi. KESIMPULAN Implementasi pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM) di SD Negeri 125 OKU berhasil menumbuhkan suasana belajar Pendidikan Agama Islam yang lebih aktif dan bermakna melalui kombinasi mindful, meaningful, dan joyful learning, meskipun masih dibatasi oleh sarana teknologi sederhana dan pemahaman guru yang belum merata. Temuan ini memperkukuh sintesis teoretis yang memadukan konstruktivisme sosiokultural Vygotsky, pendekatan humanistik Rogers, dan taksonomi SOLO BiggsAeCollis sebagai fondasi pedagogis untuk pendalaman nilai keagamaan di sekolah dasar. Dari sisi kebijakan, hasil penelitian sejalan dengan rekomendasi Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam 2025 dan Permendikbud No. 23 Tahun 2016 yang menekankan asesmen formatif otentik. guru PAI perlu didukung untuk mengadopsi portofolio refleksi dan kuis digital sebagai instrumen penilaian kesadaran, makna, dan kegembiraan belajar siswa. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan intensif, pendampingan komunitas praktisi, serta penyediaan infrastruktur teknologi ringan merupakan prasyarat agar PM @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Irfanuddin dkk. Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam KurikulumA berkelanjutan dan berdampak luas pada kualitas pembelajaran agama. Keterbatasan metodologis penelitian mengindikasikan pentingnya riset longitudinal multi-situs dengan desain campuran guna menguji konsistensi efektivitas PM di berbagai konteks sekolah dasar dan memperkaya bukti empiris terkait. DAFTAR PUSTAKA