Journal of Learning and Educational Technology Vol. 1 No. 1 September . | 16-23 e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x DOI: x Pengembangan Asesmen untuk Mengidentifikasi Kemandirian Menulis Permulaan Siswa dengan Hambatan Fisik Fase A Manggalagita Teofilus Seisoria1. Wiwik Dwi Hastuti2. Umi Safiul Ummah3 1,2,3 Departemen Pendidikan Luar Biasa. Universitas Negeri Malang. Indonesia Riwayat Artikel: Diterima Disetujui Diterbitkan Korespondensi: Nama : Manggalagita Afiliasi : Universitas Negeri Malang Email : 2301628@students. : 18 Februari 2024 : 3 Agustus 2024 : 4 September 2024 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji validitas instrumen asesmen pramenulis yang dirancang khusus untuk mengidentifikasi tingkat kemandirian menulis permulaan pada siswa dengan hambatan fisik fase A di Sekolah Luar Biasa (SLB). Penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D yang mencakup empat tahap: pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebarluasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen asesmen yang dikembangkan mampu mengidentifikasi dengan baik area-area di mana siswa masih memerlukan bantuan, terutama dalam memegang alat tulis, menebalkan huruf, serta menyalin huruf dan suku kata. Observasi dan wawancara dengan guru kelas juga mengkonfirmasi bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memberikan spasi yang konsisten antar suku kata dan dalam mengeja kata-kata yang lebih kompleks. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi yang valid, tetapi juga sebagai panduan diagnostik bagi guru untuk menyesuaikan strategi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu siswa. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan alat evaluasi pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan khusus siswa dengan hambatan fisik, sekaligus mendukung pencapaian kemandirian dan keberhasilan akademis mereka. Kata Kunci: Hambatan Fisik. Instrumen Asesmen. Menulis Permulaan. Sekolah Luar Biasa Abstract: This study aims to develop and validate a pre-writing assessment instrument specifically designed to identify the level of early writing independence in students with physical disabilities in Phase A at Special Education Schools (SLB). The study utilized the 4D development model, which encompasses four stages: definition, design, development, and dissemination. The results indicate that the developed assessment instrument effectively identifies areas where students still require assistance, particularly in holding writing tools, thickening letters, and copying letters and syllables. Observations and interviews with the classroom teacher also confirmed that students still struggle with maintaining consistent spacing between syllables and spelling more complex words. This instrument not only serves as a valid evaluation tool but also as a diagnostic guide for teachers to adjust instructional strategies to better meet the individual needs of students. Thus, this research contributes to the development of educational evaluation tools that are responsive to the specific needs of students with physical disabilities, while also supporting their independence and academic success. Keywords: Assessment Instrument. Early Writing. Physical Disabilities. Special Education School PENDAHULUAN Periode perkembangan anak merupakan fase yang sangat penting dalam kehidupan individu, di mana berbagai aspek kehidupan mulai terbentuk dan berkembang secara signifikan. Salah satu aspek utama yang dipengaruhi adalah keterampilan motorik halus, termasuk kemampuan menulis. Menulis tidak hanya merupakan keterampilan teknis, tetapi juga merupakan sarana ekspresi diri yang vital bagi anak-anak. Keterampilan menulis mencakup kemampuan dasar seperti membuat garis lurus atau lengkung, menebalkan huruf, menulis nama, hingga menyusun kalimat sederhana (Graham & Harris, 2. Penguasaan keterampilan ini sangat penting karena berdampak langsung pada prestasi akademis dan kemampuan sosial anak. Seisoria et al. - Pengembangan Asesmen A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 16-23 Namun, perkembangan keterampilan menulis dapat terhambat apabila anak mengalami gangguan dalam perkembangan fisik dan motoriknya, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam proses belajar dan berkomunikasi secara efektif (Fine, 2. Oleh karena itu, memahami faktorfaktor yang mempengaruhi perkembangan menulis pada anak, khususnya mereka yang memiliki hambatan fisik, menjadi krusial dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan inklusif. Setiap anak memiliki kemampuan motorik yang unik dan bervariasi, terutama bagi mereka yang termasuk dalam kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Anak dengan hambatan fisik merupakan salah satu kelompok yang memerlukan perhatian khusus dalam proses pendidikan. Hambatan fisik pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kelainan pada sistem otot, tulang, sendi, atau saraf, yang dapat terjadi sebelum, selama, atau setelah kelahiran (Rosenbaum et al. , 2. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi kemampuan motorik anak tetapi juga berdampak pada aspek kognitif dan sosial mereka. Anak dengan hambatan fisik, sering disebut sebagai penyandang tunadaksa, menghadapi tantangan signifikan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan akademis seperti menulis. Menurut Smith et al. penyandang tunadaksa membutuhkan pendekatan pendidikan yang disesuaikan untuk mengatasi keterbatasan fisik mereka, sehingga mereka dapat berpartisipasi secara optimal dalam proses Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk menyediakan fasilitas dan program belajar yang mendukung kebutuhan khusus ini. Tunadaksa dapat dikategorikan ke dalam beberapa tingkatan berdasarkan tingkat keparahan hambatan fisik yang dialami. Menurut World Health Organization (WHO, 2. , tunadaksa dibagi menjadi tiga tingkatan: ringan, sedang, dan berat. Pada tingkatan ringan, individu masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan bagian tubuh lain atau melalui intervensi terapi. Tingkatan sedang ditandai dengan keterbatasan signifikan dalam fungsi motorik dan koordinasi sensorik, yang memerlukan bantuan lebih lanjut dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Sedangkan pada tingkatan berat, individu mengalami kelumpuhan total atau hampir total, yang secara drastis membatasi kemampuan mereka untuk bergerak dan melakukan aktivitas mandiri (WHO, 2. Klasifikasi ini penting untuk menentukan jenis dukungan dan intervensi yang diperlukan dalam lingkungan pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam menyediakan program belajar yang adaptif dan inklusif, yang dapat memenuhi kebutuhan siswa tunadaksa di berbagai tingkatan tersebut (Khan et al. , 2. Untuk mendukung pendidikan inklusif bagi ABK, terutama anak dengan hambatan fisik, pengembangan instrumen asesmen yang tepat menjadi salah satu upaya penting. Asesmen merupakan proses evaluasi yang dilakukan oleh pendidik untuk menilai kualitas proses belajar dan hasil belajar siswa (Brookhart, 2. Dalam konteks ini, asesmen yang dikembangkan adalah tes tulis yang dirancang khusus untuk mengukur kemampuan menulis siswa dengan hambatan fisik di Sekolah Luar Biasa (SLB). Tujuan dari asesmen ini adalah untuk mengidentifikasi kemampuan menulis siswa kelas 1 Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) selama semester pertama, sehingga dapat memberikan gambaran yang akurat mengenai tingkat kemandirian menulis mereka. Menurut Popham . , asesmen yang valid dan reliabel sangat penting dalam menentukan efektivitas program pendidikan dan intervensi yang diberikan kepada siswa ABK. Dengan demikian, pengembangan asesmen ini tidak hanya membantu dalam mengukur kemampuan siswa tetapi juga dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Menulis bukan hanya sekadar keterampilan teknis, tetapi juga merupakan medium penting bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri, berbagi pengalaman, dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Berninger dan Richards . menyatakan bahwa tujuan anak dalam menulis sangat beragam, termasuk untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, mempengaruhi teman sebaya melalui pendapat mereka, menghibur dengan cerita, mengekspresikan kreativitas melalui gambar atau permainan, memahami subjek baru, dan menciptakan memori untuk masa Dalam kurikulum Bahasa Indonesia Fase A yang diterapkan di SLB, capaian Seisoria et al. - Pengembangan Asesmen A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 16-23 pembelajaran untuk elemen menulis meliputi berbagai aktivitas pramenulis seperti memegang alat tulis, menjiplak, menggambar, membuat coretan bermakna, menebalkan huruf, dan menyalin kata sederhana dari teks (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2. Oleh karena itu, pengembangan instrumen asesmen ini bertujuan untuk mengukur kemampuan menulis siswa kelas 1 SDLB di SLB, dengan fokus pada pencapaian elemen pramenulis selama semester pertama. Dengan adanya asesmen ini, diharapkan dapat memberikan informasi yang komprehensif mengenai perkembangan menulis siswa, sehingga dapat dilakukan intervensi yang tepat untuk meningkatkan keterampilan menulis mereka secara efektif. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan dengan model 4D (Four-D Mode. yang terdiri dari empat tahap utama: define . , design . , develop . , dan disseminate . Model 4D ini awalnya diperkenalkan oleh Thiagarajan et al. sebagai pendekatan sistematis dalam pengembangan perangkat pembelajaran. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan menguji instrumen asesmen pramenulis yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan meningkatkan kemampuan menulis siswa dengan hambatan fisik di Sekolah Luar Biasa (SLB) pada tahap awal pendidikan. Pada tahap pertama, yaitu tahap pendefinisian . , dilakukan analisis terhadap peserta didik dan konsep pramenulis. Analisis ini mencakup pemahaman mendalam tentang karakteristik siswa dengan hambatan fisik serta kebutuhan mereka dalam mengembangkan keterampilan menulis permulaan. Proses ini melibatkan pengumpulan informasi melalui observasi dan wawancara dengan guru dan praktisi pendidikan khusus, untuk memastikan bahwa instrumen yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan siswa (Thiagarajan et al. , 1. Tahap kedua, yaitu tahap perancangan . , berfokus pada pembuatan prototipe awal dari instrumen asesmen. Instrumen ini dirancang berdasarkan elemen menulis dalam Fase A Kurikulum Merdeka SLB, yang mencakup aspek-aspek seperti pengenalan bentuk huruf, ukuran huruf, dan spasi antar kata. Kurikulum ini dirancang untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan menulis dasar yang diperlukan dalam pendidikan lebih lanjut (Puslapdik, 2. Desain instrumen asesmen ini meliputi pemilihan materi pelajaran yang relevan, serta perumusan capaian kompetensi yang diharapkan dari siswa. Tahap ketiga adalah tahap pengembangan . , di mana instrumen asesmen awal yang telah dirancang diuji validitasnya melalui proses validasi oleh praktisi pendidikan khusus. Validasi ini mencakup logical validity, yang memastikan bahwa setiap item dalam instrumen asesmen sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Prototipe instrumen ini kemudian direvisi berdasarkan umpan balik dari praktisi sebelum diujicobakan kepada subjek penelitian. Setelah dilakukan revisi, instrumen akhir kemudian diuji coba pada satu peserta didik kelas 1 SDLB dengan hambatan fisik, untuk menguji keandalan dan validitas instrumen dalam konteks nyata (Gronlund, 1. Penelitian ini melibatkan dua kelompok subjek: pertama, praktisi yang terdiri dari seorang guru yang mengajar di kelas 1 SDLB, yang bertanggung jawab atas validasi instrumen. dan kedua, subjek uji coba yang merupakan siswa kelas 1 SDLB dengan hambatan fisik. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kemampuan menulis siswa sebagai subjek penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan mencakup skor hasil uji butir soal, yang kemudian dianalisis untuk menentukan Validitas diukur melalui pendekatan logical validity, yang mengacu pada tujuan pembelajaran bahasa aspek menulis permulaan atau pramenulis. Aspek yang dinilai meliputi kemampuan siswa dalam memegang alat tulis, membuat coretan bermakna, menebalkan huruf, menyalin huruf, serta menyalin suku kata atau kata sederhana. Selain itu, skala Jette digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kemandirian ABK dalam melakukan aktivitas menulis permulaan Seisoria et al. - Pengembangan Asesmen A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 16-23 (Jette et al. , 2. Penilaian aktivitas fungsional dengan skala Jette pada penelitian diindikasikan melalui penilaian poin butir soal disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Skala Jette Pada Kemampuan Menulis Permulaan ABK No. Bentuk Aktivitas Nilai 1 = Tanpa Bantuan 2 = Butuh Bantuan Alat Memegang Alat Tulis 3 = Butuh Bantuan Orang 4 = Butuh Bantuan Alat dan Orang (Bantuan Penu. 5 = Tidak Dapat Melakukan Aktivitas 1 = Tanpa Bantuan 2 = Butuh Bantuan Alat Membuat Coretan yang Bermakna 3 = Butuh Bantuan Orang 4 = Butuh Bantuan Alat dan Orang ( Bantuan Penuh ) 5 = Tidak Dapat Melakukan Aktivitas 1 = Tanpa Bantuan 2 = Butuh Bantuan Alat Menebalkan Huruf 3 = Butuh Bantuan Orang 4 = Butuh Bantuan Alat dan Orang ( Bantuan Penuh ) 5 = Tidak Dapat Melakukan Aktivitas 1 = Tanpa Bantuan 2 = Butuh Bantuan Alat Menyalin Huruf 3 = Butuh Bantuan Orang 4 = Butuh Bantuan Alat dan Orang ( Bantuan Penuh ) 5 = Tidak Dapat Melakukan Aktivitas 1 = Tanpa Bantuan 2 = Butuh Bantuan Alat Menyalin Suku Kata dan Kata Sederhana 3 = Butuh Bantuan Orang 4 = Butuh Bantuan Alat dan Orang ( Bantuan Penuh ) 5 = Tidak Dapat Melakukan Aktivitas HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil analisis lembar kerja siswa yang telah diisi oleh subjek penelitian, yang diberi kode HN, menunjukkan bahwa kemampuan menulis permulaan HN masih memerlukan bantuan dalam beberapa aktivitas pramenulis yang penting. Aktivitas-aktivitas yang digunakan sebagai indikator dalam penelitian ini meliputi kemampuan memegang alat tulis, membuat coretan antar huruf, menebalkan huruf, menyalin huruf, dan menyalin angka. Secara keseluruhan, tahapan pengerjaan butir soal oleh HN dimulai dengan persiapan ruang dan alat tulis yang mendukung proses pengerjaan. Peneliti memastikan bahwa semua peralatan, seperti pensil, penghapus, dan lembar kerja, telah tersedia dan diatur dengan baik di atas meja kerja siswa sebelum memulai proses asesmen. Setelah persiapan selesai, siswa diminta untuk mengambil dan menyiapkan peralatan tulisnya sendiri, sebagai bagian dari aktivitas awal yang bertujuan untuk mengembangkan Peneliti kemudian memberikan arahan yang jelas tentang cara mengisi lembar kerja yang telah disiapkan sebelumnya. Tahapan pengerjaan dimulai dengan aktivitas pramenulis dasar, yaitu membuat coretan yang bermakna. Aktivitas ini dirancang untuk membantu siswa menghubungkan bentuk huruf atau susunan huruf yang sesuai melalui garis. Pada tahap ini. HN diperbolehkan menggunakan penggaris untuk membuat garis yang lebih lurus dan terarah, namun hasil observasi menunjukkan bahwa HN masih memerlukan bantuan signifikan dalam menjaga stabilitas garis tanpa penggaris. Ini menunjukkan bahwa koordinasi motorik halus HN, khususnya dalam mengontrol alat tulis, masih perlu ditingkatkan. Tahapan berikutnya adalah aktivitas pramenulis yang lebih kompleks, yaitu menebalkan Dalam tugas ini. HN diminta untuk menebalkan huruf kapital dan huruf kecil sesuai Seisoria et al. - Pengembangan Asesmen A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 16-23 dengan pola titik-titik yang membentuk huruf tersebut. Hasil observasi menunjukkan bahwa HN mampu mengikuti pola dengan baik ketika diberikan arahan yang spesifik dan ketika peneliti memberikan contoh awal. Namun, meskipun HN dapat menebalkan sebagian besar huruf dengan akurasi yang cukup, beberapa huruf menunjukkan tanda-tanda bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mempertahankan konsistensi tekanan dan arah garis saat menebalkan huruf, yang mengindikasikan bahwa kekuatan dan kontrol motorik halus masih belum optimal. Setelah menyelesaikan aktivitas menebalkan huruf. HN melanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu menyalin huruf-huruf yang berbentuk huruf kapital dan huruf kecil ke dalam kotak jawaban yang telah disediakan. Pada tahap ini. HN menunjukkan beberapa kemajuan dalam hal pengenalan huruf, namun masih memerlukan bantuan dalam menyalin huruf-huruf tertentu, terutama huruf yang memerlukan lebih banyak kelincahan motorik halus. Pengamatan ini mengindikasikan bahwa meskipun HN memiliki kemampuan dasar dalam mengenali dan menyalin huruf, keterampilan ini masih belum sepenuhnya berkembang, dan diperlukan latihan lebih lanjut untuk meningkatkan keterampilan tersebut. Aktivitas terakhir yang diobservasi adalah menyalin suku kata dan kata sederhana ke dalam kolom yang telah disediakan. Pada tahap ini. HN mampu menyalin suku kata dan kata sederhana dengan bantuan minimal ketika diarahkan secara langsung oleh peneliti. Namun, beberapa bentuk huruf dan suku kata dalam proses pengerjaan masih menunjukkan bahwa HN sering kali memerlukan bantuan tambahan, terutama dalam menjaga konsistensi antara bentuk huruf yang satu dengan yang lain. Kesulitan ini mungkin terkait dengan kemampuan motorik halus yang masih perlu dikembangkan lebih lanjut, serta dengan kemampuan visual-motorik dalam menyusun dan menyalin bentuk-bentuk huruf secara akurat. Hal tersebut dapat dilihat dari perolehan skor pengerjaan butir soal asesmen yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Pengerjaan Butir Soal Asesmen Aktivitas Total Skor Memegang Alat Tulis Membuat Coretan yang Bermakna Menebalkan Huruf Menyalin Huruf Menyalin Suku Kata dan Kata Sederhana Keterangan Mampu memegang alat tulis dengan bantuan orang dan alat Mampu membuat garis lurus dan lengkung dengan bantuan orang Mampu membuat garis lurus dan lengkung tanpa Mampu menyalin huruf dengan bantuan alat Mampu menyalin huruf dengan bantuan alat Hasil tes menunjukkan bahwa siswa HN memiliki kemampuan yang cukup baik dalam tahap memegang alat tulis. Hal tersebut terlihat saat siswa menyiapkan alat tulisnya secara mandiri dan menuliskan nama sebelum mengerjakan soal pada lembar kerja. HN juga mampu mengerjakan soal untuk membuat garis lurus maupun garis lengkung dengan cukup baik walaupun untuk pengerjaannya perlu instruksi ulang dari peneliti. HN mampu mengerjakan soal menebali huruf dengan cukup baik. HN mampu menyalin huruf dan angka berukuran kecil atau kapital dengan cukup baik. Walaupun, masih ditemukan bahwa HN belum mampu menyalin huruf AogAo. Kegiatan pengembangan asesmen ini juga menemukan bahwa instrumen asesmen yang digunakan masih perlu pengembangan agar anak mampu memahami dengan baik instruksi pengerjaan soal tanpa bantuan. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis terhadap subjek penelitian, dapat diidentifikasi bahwa peserta didik, yang memiliki hambatan fisik, masih memerlukan bantuan dalam beberapa aktivitas menulis permulaan. Keterbatasan ini terutama terlihat dalam aktivitas memegang alat tulis, membuat coretan, menebalkan huruf, serta menyalin huruf dan suku kata. Skor 13 yang Seisoria et al. - Pengembangan Asesmen A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 16-23 diperoleh dari aktivitas memegang alat tulis menunjukkan bahwa meskipun siswa mampu memegang pensil secara mandiri, mereka masih memerlukan bantuan signifikan dalam menggunakan alat bantu seperti penggaris dan penghapus. Ini sejalan dengan temuan yang dikemukakan oleh Kim et al. , yang menunjukkan bahwa siswa dengan hambatan fisik sering mengalami kesulitan dalam aktivitas motorik halus, yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan tugas-tugas menulis secara efektif. Kesulitan dalam memegang dan menggunakan alat tulis tidak hanya mencerminkan keterbatasan fisik tetapi juga menunjukkan bahwa siswa memerlukan intervensi khusus yang dirancang untuk meningkatkan kemandirian mereka dalam aktivitas sehari-hari di sekolah. Menurut penelitian oleh Santos et al. , intervensi yang berfokus pada peningkatan kemampuan motorik halus melalui latihan yang disesuaikan dapat secara signifikan meningkatkan kemandirian siswa dalam tugas-tugas menulis. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih intensif dan terstruktur untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan ini, yang pada gilirannya akan meningkatkan partisipasi mereka dalam aktivitas Dalam aktivitas persiapan alat tulis, siswa juga memerlukan bantuan untuk tugas-tugas sederhana seperti membuka dan menutup kotak alat tulis serta mengembalikan alat-alat tersebut ke dalam tas sekolah. Temuan ini mendukung penelitian oleh Berninger et al. , yang menunjukkan bahwa kemandirian dalam manajemen peralatan sekolah adalah prasyarat penting untuk keberhasilan akademik, terutama bagi siswa dengan hambatan fisik. Ketidakmampuan untuk melakukan tugas-tugas ini secara mandiri dapat menghambat partisipasi siswa dalam kegiatan belajar yang lebih kompleks, dan menunjukkan perlunya intervensi yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan manajemen diri. Pengisian butir soal asesmen juga menunjukkan bahwa peserta didik membutuhkan bantuan baik dari orang lain maupun alat bantu dalam membuat coretan, menebalkan huruf, dan menyalin huruf serta suku kata. Wawancara dengan wali kelas mengungkapkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memberikan jarak atau spasi antar suku kata, serta masih berada dalam tahap mengeja. Ini sejalan dengan temuan dari studi oleh Al Otaiba dan Fuchs . , yang menyatakan bahwa siswa dengan kebutuhan khusus sering menghadapi tantangan dalam mengembangkan keterampilan fonologis dan pemahaman spasial yang diperlukan untuk menulis dengan akurasi dan kejelasan. Kesulitan dalam mengeja, terutama dalam menghadapi kata-kata yang lebih kompleks seperti "jendela", menunjukkan bahwa kemampuan literasi dasar siswa masih berkembang dan memerlukan dukungan tambahan. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan huruf kecil seperti "b" dan "g". Penelitian oleh Treiman dan Kessler . menyatakan bahwa huruf-huruf yang memiliki bentuk dan orientasi yang mirip sering kali membingungkan bagi siswa, terutama mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Tantangan ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk latihan lebih lanjut yang difokuskan pada pengenalan dan penulisan hurufhuruf yang sering membingungkan, serta penggunaan teknik yang dapat membantu siswa membedakan antara huruf-huruf tersebut. Lebih lanjut, instrumen asesmen yang dikembangkan dalam penelitian ini terbukti efektif dalam mengidentifikasi tingkat kemandirian siswa dalam tahap menulis permulaan. Efektivitas instrumen ini memberikan informasi penting bagi guru tentang area spesifik di mana siswa mengalami kesulitan, seperti dalam menuliskan bentuk huruf tertentu dan mengatur spasi antar Hal ini mendukung temuan yang dikemukakan oleh Brookhart . , yang menekankan bahwa asesmen yang baik harus mampu mengungkapkan informasi yang berguna mengenai proses belajar siswa dan memberikan umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki strategi pengajaran. Dengan demikian, pengembangan instrumen asesmen ini tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai alat diagnostik yang memungkinkan guru Seisoria et al. - Pengembangan Asesmen A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 16-23 menyesuaikan pendekatan pembelajaran mereka agar lebih sesuai dengan kebutuhan belajar dan karakteristik peserta didik. Dalam konteks pendidikan inklusif, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan instrumen asesmen yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus siswa, terutama mereka yang memiliki hambatan fisik. Penggunaan asesmen yang dirancang khusus dapat membantu dalam merancang intervensi yang lebih efektif dan memastikan bahwa semua siswa, terlepas dari keterbatasan fisik mereka, dapat mencapai potensi penuh mereka dalam keterampilan menulis. Sebagai penutup, penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap literatur yang ada mengenai pendidikan inklusif dan asesmen, serta menawarkan panduan praktis bagi guru dalam menerapkan strategi pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan individu siswa. PENUTUP Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pengembangan instrumen asesmen pramenulis yang telah dilakukan berhasil mengidentifikasi dengan baik tingkat kemandirian menulis permulaan pada siswa dengan hambatan fisik. Instrumen ini secara efektif mengungkapkan area-area di mana siswa masih memerlukan bantuan, seperti dalam memegang alat tulis, menebalkan huruf, serta menyalin huruf dan suku Temuan ini menjawab pertanyaan penelitian bahwa instrumen asesmen yang dikembangkan mampu memberikan informasi yang mendalam dan spesifik mengenai kemampuan menulis permulaan siswa, yang kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang intervensi pendidikan yang lebih tepat sasaran. Dengan demikian, instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai panduan untuk meningkatkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa dengan hambatan fisik, sehingga mendukung kemandirian dan pencapaian akademis mereka secara lebih optimal. DAFTAR PUSTAKA