Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 6 Nomor 1. April 2020 PENGARUH PEMBERIAN PAKAN CACING SUTERA (Tubifex sp. ) DAN Daphnia sp. TERHADAP PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinu. THE FEED EFFECT OF BLOODWORM (Tubifex sp. ) AND Daphnia sp. GROWTH AND SURVIVAL RATE OF SANGKURIANG CATFISH (Clarias gariepinu. LARVAE Oktoviandy Eka Surya Prasetya1. Muarif2. Fia Sri Mumpuni2 Sekolah Vokasi. IPB University Bogor Program Studi Akuakultur. Fakultas Pertanian. Universitas Djuanda Bogor Jl. Tol Ciawi 1. Pos 35 Bogor 16720 Email: oktoviandyekasp. @gmail. ABSTRACT This study is aim to determine feed affect of blood worm and Daphnia sp. on growth and survival rate of Clarias sp. The experiment was conducted in February 2019-Oktober 2019 at PT. Arwana Cibubur. Cimanggis. Depok. West Java. Completely randomized design is used in this study which is 2 different treatments and 5 replications. A (Daphnia sp. on first 3 days keeping then been continued with blood wor. and B . lood Obeservational parameter in this study are growth and survival rate of larvae by measuring weight and body length total. The growth were increased in both A and B treatment show the best growth result with an average value of the increases body weight is 23,56% and the increases body length is 1,8 cm. The A treatment show the best survival rate result with an average is 83,20%. Water quality during experiment were measured. temperature 24-27oC, pH 8,4-8,7. DO 9,7-15,2 mg/L. NH3 0,00-0,20 mg/L, and NO2 <0,3-1,6 mg/L. Keywords: sangkuriang catfish, blood worm. Daphnia sp. , growth rate, survival rate ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan cacing sutera dan Daphnia sp. pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup larva ikan lele sangkuriang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2019 Ae Oktober 2019, bertempat di PT. Arwana Cibubur. Cimanggis. Depok. Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan larva ikan lele sangkuriang dengan 2 perlakuan yang berbeda dengan 5 kali ulangan. Sebagai perlakuan adalah A . emberian Daphnia sp. pada 3 hari pertama pemeliharaan dilanjut cacing suter. dan B . emberian cacing suter. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan meliputi pengukuran panjang total dan berat bobot ikan. Hasil penelitian menunjukan perubahan pada laju pertumbuhan ikan pada hari ke-14 terlihat selama pengukuran laju pertumbuhan bertambah pada perlakuan A dan Pengukuran laju pertumbuhan bobot dan panjang terbaik pada perlakuan B dengan nilai rata-rata sebesar 23,56% dan 1,8 cm. Sedangkan untuk tingkat kelangsungan hidup terbaik pada perlakuan A yaitu rata-rata yang didapatkan sebesar A 83,20%. Kualitas air yang didapatkan selama penelitian yaitu, suhu 24-27oC, pH 8,4-8,7. DO 9,7-15,2mg/L. NH3 0,00-0,20 mg/L, dan NO2 <0,3-1,6 mg/L. Kata Kunci: ikan lele sangkuriang, cacing sutera. Daphnia sp. , laju pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup Oktoviandy Eka Surya Prasetya. Muarif. Fia Sri Mumpuni. Pengaruh Pemberian Pakan Cacing Sutera (Tubifex sp. ) dan Daphnia sp. terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Larva Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinu. Jurnal Mina Sains 6. : 8-16. PENDAHULUAN Ikan lele merupakan salah satu produk perikanan yang sangat digemari masyarakat. Gizinya yang tinggi dan harganya yang terjangkau membuat permintaan masyarakat terhadap ikan lele semakin meningkat. Berkembangnya industri kuliner berbahan dasar ikan lele di Indonesia membuktikan besarnya peluang pasar ikan lele. Peningkatan permintaan terhadap ikan lele mendorong pelaku pembudidaya ikan lele Prasetya et al. meningkatkan jumlah produksi. Ketersediaan benih unggul yang kontinu merupakan faktor kunci dalam usaha meningkatkan produksi perikanan (Suprapto et al. Penggunaan benih unggul dalam usaha pembesaran ikan lele dapat menekan angka kematian benih,menurunkan resiko penyakit, dan pertumbuhan yang relatif lebih cepat sehingga jumlah produksi meningkat. Kebutuhan benih unggul dapat terpenuhi dengan prosedur pembenihan yang baik. menurut Idawati et al. dan Tjodi et al. pemeliharaan pada fase pembenihan merupakan fase kritis dalam kegiatan Hal ini terjadi karena tingginya kematian dan kanibalisme pada saat fase larva dan benih. Peralihan pakan dari endogenous feeding menjadi exogenous feeding menjadi salah satu faktor tingginya kematian dan kanibalisme larva. Menurut Tjodi et al. , pemilihan pakan yang tepat merupakan kunci keberhasialn kegiatan Mayoritas pelaku usaha pembenihan ikan lele sangkuriang saat ini memilih cacing sutera sebagai pakan pertama yang diberikan setelah kuning telur habis. Menurut Suprapto et al. larva lele yang diberikan pakan cacing sutera memiliki laju pertumbuhan terbaik dibandingkan larva lele yang diberikan Artemia sp. Daphnia sp. Moina , dan Chironomus sp. dengan tingkat kelangsungan hidup tertinggi diperoleh larva yang diberikan pakan Artemia sp. Saat ini kontinuitas cacing sutera masih bergantung pada hasil tangkapan alam. Menurut Setyaningrum et al. Musim hujan membuat ketersediaan cacing sutera di alam berkurang karena cacing terbawa arus saat intensitas hujan tinggi. Kelangkaan cacing pembenihan sehingga produksi yang dihasilkan kurang maksimal. Salah satu solusi kombinasi pakan cacing sutera dengan pakan alami sejenis. Kriteria pakan alami yang baik untuk larva adalah kandungan gizi tinggi, sesuai dengan bukan mulut larva, kontinuitas terjaga, dan memiliki warna yang menarik Pengaruh Pemberian Pakan Cacing Sutera perhatian larva (Suprapto et al. Salah satu jenis pakan alami yang masuk dalam kriteria tersebut adalah Daphnia sp. Menurut Mufidah et al. larva lele afrika yang diberikan pakan Daphnia sp. tingkat kelangsungan hidup yang baik. kontinuitas Daphnia sp. dapat terjaga karena Daphnia sp. mudah untuk dibudidayakan. Biaya yang dibutuhkan untuk budidaya Daphnia sp. tergolong murah dibandingkan dengan jenis pakan alami lain seperti Artemia dan tidak membutuhkan lahan yang oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pengaruh pemberian Daphnia sp. dan cacing sutera terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup larva ikan lele METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2019 sampai Oktober 2019 di PT. Arwana Cibubur. Cimanggis. Depok. Jawa Barat. Alat dan Bahan Alat yang digunakan untuk penelitian tentang laju pertumbuhan adalah penggaris, timbangan digital, serokan, dan alat tulis. Pengukuran menggunakan DO meter, pH meter, test kit dan termometer. Wadah percobaan adalah akuarium 100 cmy100 cmy35 cm sebanyak 10 unit wadah pemeliharaan. Bahan-bahan yang digunakan yaitu 000 ekor larva ikan lele sangkuriang yang berukuran berumur 2 hari, cacing sutera, dan Daphnia sp. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengka. dengan 2 perlakuan dan 5 kali ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Perlakuan A: Pemberian Daphnia sp. selama 3 hari dan dilanjutkan dengn pemberian pakan cacing sutera selama 11 Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 6 Nomor 1. April 2020 Perlakuan B: Pemberian cacing sutera selama 14 hari. Prosedur Penelitian Persiapan Wadah Wadah penelitian larva ikan lele berukuran 100 cm y 100 cm y 35 cm sebanyak 10 unit. Sebelum digunakan, akuarium didesinfeksi terlebih dahulu menggunakan larutan Kalium Permanganat dengan dosis 20 ppm dan dibilas serta dikering udarakan selama 1 hari. Akuarium kemudian diisi air setinggi 30 cm dan diendapkan selama 3 hari sebelum penebaran Penebaran Larva Larva yang disiapkan diukur berat dan Aklimatisasi dilakukan dengan menaruh baskom plastik yang telah di isi larva yang telah di hitung di atas akuarium uji. Kemudian baskom plastik diisi sedikit air dari akuarium. Setelah di diamkan selama 10 menit larva ditebar secara perlahan ke dalam akuarium. Pemeliharaan Larva Larva yang telah ditebar dipelihara selama 2 minggu. Selama masa pemeliharaan dilakukan pemberian pakan sesuai perlakuan sebanyak 3 kali sehari dengan metode ed Selama pemeliharaan dilakukan pengontrolan kesehatan dan kualitas air setiap pukul 06:00. Penyifonan dilakukan setiap pagi dengan mengurangi ketinggian air sebanyak 5 cm dan dilakukan penambahan air hingga tinggi air kembali seperti semula. Kegiatan sampling dilakukan setiap 1 minggu sekali dengan pengambilan sampel 10% dari total populasi pada setiap akuarium. Pemberian Pakan Pemberian pakan dilakukan pada pukul 07:00, 13:00, dan 20:00 WIB. Pakan cacing sutera yang akan diberikan dicacah halus terlebih dahulu sebelum diberikan. Sementara pakan Daphnia sp. bisa langsung ditebar ke akuarium larva. Pemanenan Larva Pemanenan larva dilakukan setelah 14 hari pemeliharaan. Pemanenan dilakukan dengan penimbangan bobot total populasi, perhitungan jumlah total populasi, dan ekor/akuarium. Parameter Uji Pertumbuhan bobot per hari (SGR) Menurut Elliot dan Hurley . perhitungan pertumbuhan bobot per hari dapat menggunakan rumus: SGR = (Ln Wt Ae ln W. x 100% Keterangan: SGR= Pertumbuhan bobot per hari (%/har. Wt = Bobot ikan pada hari ke-t . L0 = Bobot ikan pada hari ke-0 . = Periode pengamatan . Pertumbuhan Panjang Tubuh Panjang tubuh diukur dari ujung mulut hingga ekor . anjang tota. Menurut Effendie . pertumbuhan panjang ikan adalah PPM = Pt Ae P0 Keterangan : Pt= Panjang larva rata-rata pada hari ke t . P0= Panjang larva rata-rata pada hari ke 0 . Tingkat kelangsungan hidup (SR) Penghitungan kelangsungan hidup (SR) dengan menggunakan rumus (Elliot dan Hurley. SR = Nt x 100% Keterangan : SR = Tingkat kelangsungan hidup (%) Nt = Oc ikan saat akhir penelitian N0 = Oc ikan saat awal penelitian Kualitas Air Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, pH. DO dan amonia. Alat ukur yang digunakan yaitu pH meter. DO meter. Termometer dan Test kit. Pengukuran suhu, 11 Prasetya et al. Pengaruh Pemberian Pakan Cacing Sutera DO dan pH dilakukan setiap hari selama Sementara amoniak dilakukan setiap 4 hari sekali. Analisis Data Data menggunakan uji t. HASIL DAN PEMBAHASAN Laju Pertumbuhan Bobot per Hari Larva Ikan Lele Sangkuriang Pertumbuhan bobot per hari terbaik pada minggu pertama didapatkan pada perlakuan B yaitu rata-rata A 26,49% (Tabel . Pada minggu kedua perlakuan A memiliki persentase pertumbuhan terbaik dengan ratarata A 24,64 %. Sementara pertumbuhan bobot terbaik dari awal penelitian sampai panen didapatkan pada perlakuan cacing sutera dengan rata-rata sebesar A 23,56%. Hasil uji t pada pertumbuhan bobot per hari larva pada minggu pertama dan kedua pemeliharaan menunjukkan hasil berbeda nyata (P <0,. antara perlakuan A dengan perlakuan B sementara pada hasil uji t SGR menunjukkan hasil bebeda nyata (P >0. pada minggu pertama perlakuan B memiliki nilai SGR (Survival Growth Rat. terbaik dengan rata-rata A 26,49%. Sedangkan pada minggu kedua perlakuan A memiliki nilai SGR terbaik dengan nilai A 26,64%. Sementara perlakuan B memiliki nilai SGR tertinggi selama pemeliharaan dengan ratarata A 23,56%. Hal ini terjadi diduga karena Nurtisi yang terdapat pada cacing sutera lebih baik dari Daphnia sp. Terlihat pada perlakuan A mengalami kenaikan nilai SGR dan pertumbuhan panjang setelah diberikan pakan cacing sutera. Perbedaan konsentrasi enzim eksogen yang terdapat pada Daphnia sp. cacing sutera dapat mempengaruhi daya cerna pada larva. Tubuh Daphnia sp. zat khitin yang mempengaruhi daya cerna dan pertumbuhan perlakuan A pada minggu pertama pemeliharaan. Menurut Nazhiroh et al. jenis dan mempenagruhi pertumbuhan ikan. Gizi yang terkandung cacing sutera sangat baik untuk memacu pertumbuhan larva. Menurut Hariati . cacing sutera mengandung 51,9% protein, 20,3% karbohidrat, 22,3% lemak, dan 5,3% bahan abu. Sementara Daphnia sp. memiliki persentase protein 50% dan lemak 4-5% (Pangkey, 2. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh jumlah protein yang terkandung di dalam pakan (Anggraeni dan Abdulgani, 2. Kadar protein yang terkandung di dalam cacing sutera sesuai dengan jumlah protein yang dibutuhkan oleh larva Menurut Nurhayati et al. larva ikan lele dumbo yang diberikan pakan cacing sutera menghasilkan laju pertumbuhan lebih tinggi . ,56%) dibandingkan pakan buatan . ,94%). Cacing sutera yang bersifat autolisis serta mengandung berbagai enzim eksogen yang merangsang pembentukan enzim pencernaan membuat pertumbuhan larva ikan lele dumbo menjadi lebih baik. Menurut Pangkey . Daphnia sp. mengandung beberapa enzim pencernaan yang berfungsi sebagai enzim eksogen untuk membantu kecernaan larva. Perbedaan jenis pakan yang diberikan pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan zat dan nutrisi yang dikandung oleh setiap pakan. Perlakuan A memiliki laju pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan perlakuan B pada minggu Hal ini disebabkan adanya perbedaan kandungan zat dan nutrisi yang terkandung pada kedua jenis pakan tersebut. Menurut Mulyadi et al. kualitas pakan bukan hanya dinilai dari kandungan gizi, tetapi juga kemampuan ikan dalam mencerna dan menyerap pakan untuk diolah menjadi Cacing sutera tidak memiliki kandungan serat kasar sehingga mudah dicerna untuk larva yang memiliki sistem pencernaan belum sempurna (Suprapto et al. Enzim eksogen yang terkandung di dalam cacing sutera dapat mempengaruhi perkembangan kelenjar pencernaan berupa pankreas untuk memproduksi enzim pencernaan di dalam tubuh (Farhoudi et al. Menurut Tjodi et al. cacing sutera mengandung beberapa jenis enzim Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 6 Nomor 1. April 2020 pencernaan yang berfungsi sebagai enzim eksogen untuk meningkatkan daya cerna Menurut Pangkey . Daphnia sp. memiliki kandungan enzim pencernaan yang dapat berperan sebagai enzim eksogen bagi Tetapi. Daphnia kandungan khitin pada bagian luar tubuhnya. Khitin merupakan zat berbentuk kristal dan tidak larut dalam larutan asam kuat sehingga sulit dicerna oleh tubuh (Retnosari, 2. Zat khitin dapat menghambat penyerapan nutrien yang terkandung di dalam pakan. Menurut Rachmawati dan Istiyanto . semakin besar persentase kandungan khitin pada pakan dapat meningkatkan nilai FCR dan menurunkan efisiensi pakan. Ulangan Rata-rata Jumlah pakan yang diberikan dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan. Persentase kandungan gizi yang diberikan larva tergantung jumlah pakan. Menurut Triyanto et al. pemberian jumlah pakan yang tepat memberikan hasil pertumbuhan yang frekuensi dan persentase pakan yang diberikan harus disesuaikan dengan umur dan stadia ikan. Menurut Triyanto et al. pemberian dosis pakan yang kurang tepat akan berdampak negatif bagi ikan dan Pada perlakuan A total pakan yang diberikan selama penelitian adalah 376 gram. Sementara jumlah pakan yang diberikan untuk perlakuan B adalah 7. Tabel 1 Pertumbuhan Bobot Per Hari (%) Larva Ikan Lele Sangkuriang Minggu 0- 1 Minggu 1-2 Minggu 0-2 (Daphni. (Cacing suter. (Daphni. (Cacing suter. (Daphni. (Cacing suter. 22,99 26,74 23,18 23,27 23,09 24,78 27,28 20,52 22,24 22,65 19,07 28,59 26,91 21,18 22,99 24,89 26,37 19,80 17,90 19,05 22,13 21,49 29,71 22,67 20,42 22,08 25,06 19,17 26,49 24,68 20,64 21,93 23,56 Pertumbuhan Panjang Hasil laju pertumbuhan panjang larva ikan lele sangkuriang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Perlakuan B memiliki pertumbuhan panjang terbaik pada minggu pertama dengan rata-rata sebesar A 0,8 cm. Hasil uji t pada laju pertumbuhan panjang larva ikan lele sangkuriang pada minggu pertama menunjukkan perbedaan nyata . <0,. Sementara pertumbuhan panjang terbaik pada minggu kedua didapatkan pada perlakuan A dengan rata-rata sebesar A 1,0 Hasil uji t pertumbuhan panjang pada minggu kedua menunjukkan hasil tidak berbeda nyata . >0,. Larva yang diberi perlakuan B memiliki pertumbuhan panjang terbaik selama masa pemeliharaan dengan rata-rata sebesar A 1,76 cm. Hasil uji t pada pertumbuhan panjang larva selama penelitian menunjukkan hasil berbeda nyata . <0,. Pada minggu pertama pemeliharaan laju pertumbuhan terbaik didapatkan pada perlakuan B dengan rata-rata nilai A 0,8 cm. Hal ini diduga karena kandungan nutrisi cacing sutera lebih lengkap dibandingkan Daphnia sp. walaupun memiliki kandungan protein yang hampir sama. Sedangkan pada minggu kedua perlakuan A (Daphnia sp. memiliki laju pertumbuhan terbaik dengan nilai rata rata A1 cm. Hal ini diduga karena adanya overlapping pakan pada perlakuan A dari Daphnia sp. menjadi cacing sutera runcah sehingga pertumbuhan panjang Sementara pertumbuhan panjang terbaik selama masa pemeliharaan diperoleh perlakuan Cacing sutera dengan panjang ratarata A1,8 cm. Energi banyak dibutuhkan ketika ikan baru memasuki fase larva. Karena pada fase ini terjadi penyempurnaan organ dan pertumbuhan ikan. Salah satu zat yang Prasetya et al. dibutuhkan larva untuk dikonversikan menjadi energi adalah protein. Menurut Tjodi et al. penambahan persentase protein dan dosis pakan yang diberikan pada ikan lele harus disesuaikan dengan ukuran dan jumlah ikan yang dipelihara. Sehingga dapat mendukung laju pertumbuhan dan kesehatan Cacing sutera mengandung persentase protein yang lebih tinggi dibandingkan Daphnia sp. dan dapat memenuhi jumlah Pengaruh Pemberian Pakan Cacing Sutera protein yang dibutuhkan larva. Hal ini menyebabkan larva yang diberi pakan cacing sutera runcah memiliki laju pertumbuhan panjang lebih baik dibandingkan larva yang diberi pakan Daphnia sp. Menurut Naziroh et . kualitas pakan sangat ditentukan dengan jumlah nutrisi yang dikandungnya yang dapat digunakan untuk pertumbuhan dan energi yang dibutuhkan ikan. Tabel 2 Pertumbuhan Panjang Mutlak pada Larva Ikan Lele Sangkuriang . Daphnia Cacing sutera Ulangan Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Rata-rata Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup larva ikan lele sangkuriang dapat dilihat pada Tabel Tingkat kelangsungan hidup terbaik larva ikan lele sangkuriang didapatkan pada perlakuan A dengan persentase A83,20%. Hasil uji t pada tingkat kelangsungan hidup ikan lele sangkuriang menunjukkan hasil berbeda nyata . <0,. Hal ini diduga karena ukuran Daphnia sp. yang diberikan sesuai dengan bukaan mulut larva. Sementara ukuran cacing sutera runcah yang diberikan pada larva tidak seragam. Hal ini menyebabkan tingkat kelangsungan hidup larva ikan lele di minggu pertama pada perlakuan cacing sutera menurun karena Pemilihan jenis pakan alami yang diberikan untuk larva dapat mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan Menurut Satyantini et al. jumlah kanibalisme dapat ditekan dengan pemilihan pakan alami yang tepat. Daphnia sp. cacing sutera merupakan pakan alami yang memiliki kandungan protein cukup tinggi sehingga bisa memenuhi kebutuhan nutrisi Menurut Suprapto et al. kriteria pakan alami yang baik diberikan larva adalah mampu memenuhi kebutuhan gizi larva, sesuai dengan bukaan mulut larva, dan mampu menarik perhatian larva. Daphnia sp. memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan cacing sutera runcah sehingga lebih mudah dimakan oleh larva. Selain itu Daphnia sp. memiliki pergerakan yang aktif dan warna yang lebih menarik dibandingkan cacing sutera runcah. Hal ini membuat kanibalisme yang terjadi pada perlakuan A lebih rendah dibandingkan perlakuan B sehingga perlakuan A memiliki persentase kelangsungan hidup yang tinggi. Menurut Suprapto et al. tingkat kelangsungan hidup larva ikan lele yang diberikan pakan Artemia sp. lebih tinggi . ,85%) dibandingkan larva lele yang diberikan pakan cacing sutera . ,63%). Menurut Raharjo et . pergantian pakan . berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Pergantian pakan dilakukan untuk menyesuaikan ukuran dan kebutuhan gizi yang dibutuhkan terhadap pertambahan stadia ikan. Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 6 Nomor 1. April 2020 Tabel 3 Tingkat Kelangsungan Hidup Larva Ikan Lele Sangkuriang Perlakuan Ulangan (Daphni. (Cacing suter. 79,10% 66,70% 87,35% 70,25% 89,45% 70,35% 76,10% 69,80% Rata-rata A 83,20% A 69% Menurut Raharjo et al. pergantian pakan dengan waktu yang tepat menyebabkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan Pada perlakuan A pergantian Pergantian pakan larva dari Daphnia sp. menjadi cacing sutera runcah dilakukan karena diduga ukuran bukaan mulut larva sudah bisa memakan cacing sutera runcah. Hal ini menyebabkan Wadah A (Daphni. B (Cacing suter. perlakuan A memiliki tingkat kelangsungan hidup tertinggi dibandingkan dengan perlakuan B. Kualitas Air Selama penelitian parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, pH. DO, nitrit (NO. , dan ammonia (NH. dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Kualitas Air Parameter Suhu (AC) . g/L) 8,4-8,7 9,7-15,2 8,4-8,7 9,7-15,1 Kualitas air merupakan faktor pendukung yang penting untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan ikan. Suhu, oksigen terlarut, dan pH dapat berpengaruh terhadap laju metabolisme tubuh di mana dapat meningkatkan aktivitas metabolisme dan dapat meningkatkan nafsu makan ikan (Zonneveld et al. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian masih tergolong normal untuk kelangsungan hidup larva ikan lele sangkuriang, yaitu suhu 24 Ae 27 oC, pH 8,4-8,7. DO 9,7-15,1 mg/L, dan amoniak 00,2 mg/L. Menurut Boyd dan Licthkoppler . kualitas air yang baik untuk ikan yang dibudidayakan di kolam adalah pH diatas 5, suhu 25-32 oC, dan kadar amoniak di bawah 0,3mg/L. Perlakuan B memiliki kadar amoniak yang mendekati ambang batas Hal ini disebabkan cacing sutera yang NH3 . g/L) 00-0,09 0,00-0,2 NO2 . g/L) < 0,3-0,8 <0,3-1,6 diberikan dalam kondisi tercacah dan mati sehingga menambah kandungan limbah organik yang terdapat pada lingkungan Menurut Boyd Licthkoppler . kadar amoniak dapat mempengaruhi pertumbuhan, kesehatan dan kelangsungan hidup ikan. Hal ini terbukti dari tingkat kelangsungan hidup yang didapatkan pada perlakuan B lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan A. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan pemberian Daphnia sp. cacing sutera pada larva ikan lele sangkuriang berpengaruh nyata terhadap Pertumbuhan panjang per hari dan tingkat kelangsungan 15 Prasetya et al. hidup larva. Nilai SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan B (Cacing suter. Sementara tingkat kelangsungan hidup terbaik dimiliki oleh perlakuan A (Daphni. Kualitas air yang didapatkan selama penelitian yaitu, suhu 2427 oC, pH 8,4-8,7. DO 9,7-15,1 mg/L, dan amoniak 0-0,2 mg/L. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui waktu overlapping yang baik pada larva ikan lele sangkuriang untuk peningkatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva. DAFTAR PUSTAKA