Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 OPTIMASI TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP IKAN KERAPU CANTANG Epinephelus fuscogutatus >< Epinephelus lanceolatus DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI MERAH Psidium guajava Linn PADA MEDIA TRANSPORTASI Indah Parah Maidah1. Henky Irawan1. Okto Rimandi Bakkara1 Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Maritim Raja Ali Haji INFO NASKAH Kata Kunci: Kerapu cantang, transportasi ikan, ekstrak daun jambu biji merah, kelangsungan hidup, stress ikan. ABSTRAK Transportasi ikan hidup seperti ikan kerapu cantang Epinephelus fuscoguttatus y Epinephelus lanceolatus berisiko menimbulkan stres yang dapat menurunkan tingkat kelangsungan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis optimal ekstrak daun jambu biji merah Psidium guajava Linn sebagai anestesi alami untuk meningkatkan kelangsungan hidup ikan selama Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Desember 2023 dan dilakakukan pada dua tempat yaitu di Hatchery DAo Marine Aquaculture dan Kampung Madong Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu: K kontrol ( 0 ml/L). A penambahan ekstrak daun jambu biji merah . ml/L). B penambahan ekstrak daun jambu biji merah . ml/L), dan C penambahan ekstrak daun jambu biji merah . ml/L), masing-masing dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup pasca transportasi dan selama pemeliharaan, kadar glukosa darah, tingkah laku ikan, serta kualitas air. Hasil menunjukkan bahwa seluruh perlakuan memiliki tingkat kelangsungan hidup 100% setelah Selama pemeliharaan 7 hari di keramba jaring apung, perlakuan A menunjukkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi . %), diikuti oleh K . ,67%). C . %), dan B . ,33%). Kadar glukosa darah terendah terjadi pada perlakuan B . ,67 mg/dL), sedangkan tertinggi pada kontrol . ,33 mg/dL). Ikan pada perlakuan A juga menunjukkan tingkah laku dan respons pakan Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun jambu biji merah pada dosis 4 ml/L efektif dalam menurunkan stres dan meningkatkan kelangsungan hidup ikan kerapu cantang selama dan setelah transportasi. Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : . 1- 8041766. Fax. Email indahparah99@gmail. henkyirawan@umrah. ottofrenz22@umrah. OPTIMIZATION OF THE SURVIVAL LEVEL OF CANTANG GROUPERS Epinephelus fuscoguttatus >< Epinephelus lanceolatus BY ADDITION OF RED GUAVA LEAF EXTRACT Psidium guajava Linn IN THE TRANSPORTATION MEDIA Indah Parah Maidah1. Henky Irawan1. Okto Rimandi Bakkara1 Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Maritim Raja Ali Haji ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords Transportation of live fish such as cantang grouper (Epinephelus fuscoguttatus y Epinephelus lanceolatu. is at risk of causing stress that can reduce survival rates. This study aims to determine the optimal dose of red guava leaf extract (Psidium guajava Lin. as a natural anesthetic to improve fish survival during transportation. This research will be conducted in December 2023 and conducted in two places, namely at Hatchery D' Marine Aquaculture and Kampung Madong. The research used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments, namely: K control . ml/L). A addition of red guava leaf extract . ml/L). B addition of red guava leaf extract . ml/L), and C addition of red guava leaf extract . ml/L), each with three replications. The parameters observed included survival rates after transportation and during maintenance, blood glucose levels, fish behavior, and water quality. The results showed that all treatments had a 100% survival rate after transportation. During 7 days of maintenance in floating net cages, treatment A showed the highest survival rate . %), followed by K . 67%). C . %), and B . 33%). The lowest blood glucose levels occurred in treatment B . 67 mg/dL), while the highest was in the control . 33 mg/dL). Fish in treatment A also showed the best behavior and feed response. These results indicate that the addition of red guava leaf extract at a dose of 4 ml/L is effective in reducing stress and increasing the survival of cantang grouper during and after transportation. Cantang grouper, fish transportation, red guava leaf extract, survival, fish stress. Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : . 1- 8041766. Fax. Email indahparah99@gmail. henkyirawan@umrah. ottofrenz22@umrah. Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 PENDAHULUAN Ikan kerapu telah menjadi komoditas marikultur dengan nilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu produk ekspor utama Indonesia (Ismi et al. , 2. Kebutuhan akan benih ikan kerapu cantang mengalami peningkatan yang signifikan pada beberapa wilayah baru yang menjadi sentra marikultur Kepulauan Riau, terutama di Kabupaten Lingga dan Kabupaten Anambas yang saat ini bergantung pada pasokan dari Tanjungpinang melalui perjalanan laut yang memakan waktu antara 9 hingga 12 Perjalanan jauh ini berisiko menyebabkan stres dan kematian pada benih ikan (Budiyanti dan Romansyah, 2. Transportasi benih dalam waktu yang lama menimbulkan berbagai dampak buruh yang berpotensi menurunkan kualitas benih yang akan dipelihara. Untuk mengurangi efek negatif tersebut, perlu dilakukan modifikasi metode transportasi tertutup dengan penambahan bahan anestesi (Irawan et al. , 2. Namun, beberapa anestesi sintetis seperti MS-222, quinaldine sulfat, dan benzocaine telah dilarang karena potensi residunya yang berbahaya (Pasaribu et al. , 2. Sebagai alternatif, ekstrak daun jambu biji merah (Psidium guajava Linn. ) yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid (Fachriyah et al. , 2. tannin (Kumar et al. , 2. , alkaloid (Maryam et al. , 2. , steroid (Nofita et al. , 2. , dan saponin (Simbolon et al. , 2. dapat disarankan sebagai bahan anestesi untuk transportasi hidup benih ikan. Bahan potensi sebagai riset sebelumnya telah menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun jambu biji merah pada dosis 0,25% efektif dalam mengurangi stres pada ikan nila selama transportasi (Suwandi et al. , 2. Namun, penelitian serupa mengenai ikan kerapu cantang masih belum tersedia. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk menilai efektivitas dan dosis terbaik ekstrak daun jambu biji merah dalam mengurangi stres saat transportasi ikan kerapu cantang. METODE PENELITIAN Metode dan Prosedur Penelitian Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 12 unit percobaan, dalam penelitian ini, beberapa perlakuan akan diterapkan yaitu: Perlakuan K . tidak menambah ekstrak daun jambu biji merah, perlakuan A menambah 4 ml/L ekstrak daun jambu biji merah, perlakuan B menambah 6 ml/L ekstrak daun jambu biji merah, dan perlakuan C menambah 8 ml/L ekstrak daun jambu biji merah. Persiapan Ekstrak Daun Jambu Biji Merah Daun tersebut dicuci hingga bersih, kemudian dijemur sampai kering, dan terakhir dihaluskan dengan memakai blender. Sebanyak 62,5 gram bubuk daun kering direbus dalam 1000 ml air distilasi sampai volumenya menyusut menjadi 250 mL. Ekstrak yang dihasilkan dari proses perebusan disaring dengan kain kasa untuk mendapatkan larutan ekstrak yang berkonsentrasi 100%, yang selanjutnya digunakan sebagai larutan stok dalam perlakuan. Persiapan Media Air Transportasi Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 Media yang dipakai adalah air laut yang telah dingin dengan cara bertahap menggunakan es batu sampai mencapai suhu 23Ae24 AC, selaras dengan keadaan saat perjalanan dari Tanjungpinang ke Kabupaten Anambas dan Lingga. Proses pendinginan ini dilakukan untuk mempercepat anestesi pada ikan. Setiap kantong transportasi berisi air sebanyak 2 liter. Persiapan Wadah Transportasi Studi ini memanfaatkan 12 kotak gabus dengan dimensi 73y40y30 cmA sebagai wadah untuk transportasi. Sebelum dimasukkan ke dalam kotak gabus, ikan pertamatama di tempatkan dalam kantong plastik dengan ukuran 57y25 cm. Semua peralatan disanitasi sebelum digunakan, dan tiap kotak dilabeli untuk memudahkan proses identifikasi selama penelitian. Persiapan Pengemasan Ikan Transportasi Pengemasan ikan kerapu cantang dilakukan dengan menggunakan dua liter air per Air tersebut didinginkan secara bertahap menggunakan es batu hingga mencapai suhu 23Ae24 AC. Setelah suhu tersebut tercapai, ditambahkan ekstrak dari daun jambu biji merah sesuai dengan perlakuan yang ditentukan. Sebelum itu, ikan sudah dipuasakan selama 10Ae12 jam untuk menurunkan aktivitas metabolisme saat dalam perjalanan. Selanjutnya, ikan dimasukkan ke dalam kantong plastik ganda yang telah diisi air dengan ekstrak, dengan rasio air dan oksigen adalah 1:3 dari total volume kantong. Kemudian, kantong tersebut diikat dengan minimal tiga karet gelang, dimasukkan ke dalam kotak styrofoam yang bagian pinggirnya diberi es, lalu ditutup rapat dan direkatkan dengan Proses pengemasan ini mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI, 2. Pengaplikasian Ekstrak Daun Jambu Biji Merah Pemberian ekstrak dari daun jambu biji merah dilakukan setelah dua liter air laut dimasukkan ke dalam kantong plastik. Ekstrak tersebut dicampurkan ke dalam air menggunakan jarum suntik sesuai dengan dosis yang telah ditentukan, yaitu 4 ml, 6 mL, dan 8 mL. Setelah ekstrak ditambahkan, larutan diaduk perlahan untuk memastikan campuran merata. Selanjutnya, sebanyak 20 ekor ikan kerapu cantang dimasukkan ke dalam kantong yang sudah berisi campuran ekstrak dan air laut. Proses ini dilakukan mengikuti metode yang diuraikan oleh Suwandi et al. Proses Simulasi Transportasi Simulasi pengangkutan dalam studi ini dilakukan sebanyak dua kali selama periode 12 jam. Prosesnya dimulai dengan menempatkan setiap wadah berisi ikan di atas kendaraan roda tiga dan melakukan perjalanan selama dua jam menuju Kampung Madong. Setibanya di Kampung Madong, wadah-wadah tersebut di pindahkan ke perahu yang di miliki oleh masyarakat setempat untuk memulai perjalanan selama delapan jam, dengan bantuan gerakan gelombang yang dihasilkan dari goyangan perahu serta ombak yang ada di wilayah perairan tersebut. Sisa waktu dua jam dihabiskan untuk berkeliling di laut wilayah Kampung Madong. Dalam penelitian ini, pengangkutan akan dilakukan dari Kampung Madong ke Kabupaten Anambas. Pemeliharaan Ikan Pasca Transportasi Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 Setelah perjalanan transportasi yang memakan waktu 12 jam, ikan kerapu cantang terlebih dahulu diaklimatisasi dengan cara mengapungkan kantong yang berisi ikan di permukaan air keramba jaring apung. Selanjutnya, ikan tersebut dipelihara dalam KJA selama 7 hari untuk menilai kemungkinan dampak dari residu atau efek lanjut akibat pemberian ekstrak daun jambu biji merah selama proses transportasi. Dalam periode pemeliharaan itu, ikan diberi pakan komersial berupa pelet dua kali sehari (Supriyono et , 2. Parameter yang Diamati Parameter yang diamati selama proses penelitian ini yaitu kelangsungan hidup ikan, kadar glukosa darah, parameter kualitas air. Kelangsungan Hidup Ikan Tingkat keberlangsungan hidup ikan kerapu cantang dalam studi ini dihitung dua kali, yaitu setelah proses pengangkutan dan selama periode pemeliharaan. Perhitungan keberlangsungan hidup dilakukan dengan menggunakan rumus yang diusulkan oleh Effendie . , yaitu: Keterangan: SR = tingkat kelangsungan hidup (%) Nt =Jumlah ikan akhir penelitian . N0 =Jumlah ikan awal penelitian . Kadar Glukosa Darah Pengukuran kadar glukosa dalam darah dilakukan sebelum dan setelah proses transportasi guna menilai reaksi fisiologis ikan terhadap perlakuan yang diberikan. Tiga ekor ikan kerapu cantang dipakai dalam setiap pengukuran. Kadar glukosa dalam darah diukur dengan menggunakan alat pengukur glukosa digital (Gluko DR), dan hasilnya ditampilkan dalam unit mgAdLAA. Perubahan Tingkah Laku Ikan Kerapu Cantang Pengamatan perilaku ikan kerapu cantang dilakukan sebanyak dua kali, yaitu ketika mereka pertama kali ditebarkan ke dalam keramba jaring apung dan saat mereka diberi Observasi dilakukan dengan pendekatan deskriptif untuk menilai bagaimana ikan bereaksi terhadap lingkungan yang baru dan seberapa baik mereka dapat beradaptasi dengan perlakuan yang diberikan. Kualitas Air Parameter yang dianalisis terkait kualitas air dalam penelitian ini antara lain salinitas, suhu, pH, oksigen terlarut (DO), dan amonia. Pengukuran dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu sebelum transportasi, setelah transportasi, dan selama periode pemeliharaan yang berlangsung selama tujuh hari di keramba jaring apung (KJA). Salinitas diukur dengan refraktometer, dimana sampel air diteteskan ke permukaan alat tersebut. Suhu air diperoleh dengan menggunakan termometer yang dicelupkan langsung ke dalam media air. Untuk pH, pengukuran dilakukan dengan pH meter menggunakan metode pencelupan. Pengukuran oksigen terlarut dilakukan dengan DO meter dengan cara menempatkan alat dalam kantong plastik secara perlahan tanpa Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 membiarkan oksigen keluar. Sementara itu, kadar amonia diukur dengan mengambil sampel air dan dianalisis di laboratorium kimia Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kelangsungan Hidup Ikan Pasca Transportasi Persentase keberlangsungan hidup ikan kerapu cantang setelah 12 jam diangkut menunjukkan angka 100% untuk semua perlakuan. Hasil uji deskriptif menunjukkan bahwa semua data identik antar perlakuan. Tabel 1. Kelangsungan Hidup Pasca Transportasi Jumlah Ikan Hidup Pasca Transportasi Waktu Perlakuan . L) Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 Setelah 12 Jam Kelangsungan Hidup Pemeliharaan Tingkat keberlangsungan hidup selama fase pemeliharaan dihitung dari jumlah ikan yang tetap hidup sejak awal hingga akhir periode pemeliharaan. Pemeliharaan dilaksanakan selama 7 hari di keramba jaring apung (KJA) untuk menilai dampak perlakuan terhadap ketahanan ikan dalam situasi budidaya. Survival Rate (%) Kelangsungan Hidup Pemeliharaan 100 86,67 A 2,52 100 A 0. 80,00 A 1,00 84,33A 4,04 K ( kontrol ) A ( 4 ml ) B ( 6 ml ) C ( 8 ml ) Perlakuan Gambar 1. Kelangsungan Hidup Pemeliharaan Tingkat kelangsungan hidup ikan kerapu cantang Epinephelus fuscoguttatus y Epinephelus lanceolatus selama tujuh hari pemeliharaan di keramba jaring apung menunjukkan variasi di antara perlakuan yang berbeda. Perlakuan A mencatat tingkat kelangsungan hidup tertinggi sebesar 100 A 0%, diikuti dengan perlakuan K yang mencapai 86,67 A 10,27% dan perlakuan C yang mencatat 80,00 A 4,08%. Di sisi lain, perlakuan B mengalami tingkat terendah dengan hasil sebesar 48,33 A 35,67%. Hasil Setelah dilakukan uji Homogenitas menunjukkan hasil yang tidak homogen, maka dilanjutkan uji non parametrik. Perubahan Tingkah Laku Ikan Kerapu Cantang Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 Pengamatan perilaku ikan kerapu cantang dilaksanakan dalam dua fase, yaitu ketika penebaran pertama di keramba jaring apung dan saat pemberian pakan. Perubahan perilakudicatat secara deskriptif untuk menilai respons penyesuaian ikan terhadap perlakuan dan kondisi pemeliharaan. Tabel 2. Tingkah Laku Ikan Pasca Transportasi Perubahan Tingkah Laku Perlakuan Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 Berenang Berenang Berenang Berenang Berenang Berenang aktif dan aktif dan aktif dan Berenang Berenang Berenang melompat- melompat- melompatlompat Berenang Berenang Berenang ke dasar ke dasar ke dasar Detik Tingkat Respon Tingkat Stres Sedang-tinggi Rendah Tinggi Sedang Tabel 3. Tingkah Laku Ikan Saat Pemberian Pakan Tingkah Laku Saat Pemberian Pakan Perlakuan Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 Berenang Berenang Berenang beberapa ikan ikan tidak ikan tidak tidak mau mau makan mau makan Aktif Aktif Aktif berenang dan menyambar menyambar Aktif Aktif Aktif berenang dan menyambar menyambar pakan tpakan Aktif Aktif Aktif berenang dan Detik Respon Terhadap Pakan Tidak merespon dengan baik Merespon Langsumg Merespon pakan Merespon pakan Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 menyambar menyambar Kadar Glukosa Darah Pengukuran kadar glukosa darah ikan kerapu cantang dilakukan dalam dua tahap, yaitu sebelum dan sesudah proses transportasi, dengan menggunakan alat Gluco DR. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar glukosa darah meningkat setelah transportasi, yang dihitung berdasarkan selisih nilai antara kadar glukosa sesudah dan sebelum transportasi. Glukosa Darah ( mg /L ) Glukosa Darah Transportasi 120,00 100,00 92,33A 25,19 91,11 A 22,01 71,22 A 23,73 80,00 56,67 A 19,96 60,00 40,00 20,00 0,00 K ( 0 ml ) A ( 4 ml ) B ( 6 ml ) C ( 8 ml ) Perlakuan Gambar 2. Perubahan Glukosa Darah Kadar glukosa darah ikan kerapu cantang selama transportasi bervariasi antar Rata-rata tertinggi tercatat pada perlakuan K . ,33 A 25,19 mg/dL), diikuti oleh perlakuan C . ,11 A 22,01 mg/dL). A . ,22 A 23,73 mg/dL), dan terendah pada perlakuan B . ,67 A 19,96 mg/dL). Hasil uji ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan . < 0,. , maka dapat dikatakan bahwa perlakuan terhadap kadar glukosa darah ikan kerapu cantang menunjukkan perbedaan yang nyata. Pada perlakuan K . terdapat perbedaan yang nyata dengan perlakuan A . mL) dan B . mL), namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan C . perlakuan A . mL) terdapat perbedaan nyata dengan K . dan C . mL), namun tidak berbeda nyata dengan B . mL). Pada perlakuan B . mL) terdapat perbedaan yang nyata dengan K . dan C . mL), namun berbeda nyata dengan A . mL). Perlakuan C . mL) terdapat perbedaan nyata dengan A . mL) dan B . mL), namun tidak berbeda nyata dengan K . Kualitas Air Pengukuran aspek kualitas air dilakukan dalam dua fase, yaitu pada saat pengangkutan dan periode pemeliharaan ikan. Pada fase pengangkutan, aspek yang diperhatikan mencakup suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut (DO), dan amonia. Di sisi lain, pada fase pemeliharaan, aspek yang diukur meliputi suhu, pH, salinitas, dan DO. Gambaran kualitas air selama proses pengangkutan disajikan pada tabel 4. Tabel 4. Parameter Kualitas Air Sebelum dan Sesudah Transportasi Parameter Perlakuan Kualitas Air Transportasi Sebelum Sesudah (SNI, 2. Status Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 Sesuai Sesuai Suhu oC Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Salinitas . Tidak Sesuai Tidak Sesuai 17,56 5,50 Sesuai Kadar 17,58 5,87 Sesuai Oksigen Ou 4 ppm 17,55 5,61 Sesuai . g/L) 17,54 5,33 Sesuai Tidak Sesuai NH3 Tidak Sesuai . g/L) Tidak Sesuai Tidak Sesuai Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa nilai parameter kualitas air yang kurang sesuai adalah nilai pH, salinitas, dan kadar amonia. Parameter tersebut adalah yang berpotensi menimbulkan stres pada ikan selama proses pengangkutan. Kadar amonia ini merupakan indikator penting dalam menilai kualitas air selama transportasi, karena peningkatan amonia dapat berdampak negatif terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup ikan. Selanjutnya parameter kualitas air selama masa pemeliharaan ikan kerapu cantang juga diukur. Parameter yang diamati meliputi suhu, pH, salinitas, dan oksigen terlarut (DO), yang merupakan faktor penting dalam mendukung kesehatan dan kelangsungan hidup ikan selama periode adaptasi di keramba jaring apung. Data parameter kualitas air selama masa pemeliharaan disajikan pada tabel 5. Tabel 5. Parameter kualitas air pada masa pemeliharaan ikan kerapu cantang Suhu . C) Kualitas Air Hari Hari Hari Hari Hari Hari Hari 28-30 oC Parameter Salinitas . 28-33 ppt DO . g/L) Ou 4 mg/L Pembahasan Kelangsungan Hidup Pasca Transportasi (SNI, Situasi Terjadi pada hari ke 2, 6, dan Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 Kelangsungan hidup (SR) ikan kerapu cantang setelah transportasi selama 12 jam dengan perlakuan konsentrasi ekstrak daun jambu biji merah 0 ml, 4 ml, 6 ml, dan 8 ml menunjukkan hasil sebesar 100%, tanpa adanya kematian. Hasil ini didukung oleh temuan Fauzi et al. yang menyatakan bahwa daun jambu biji merah mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid, yang berperan dalam menurunkan tingkat stres pada ikan selama transportasi. Selain itu, keberhasilan mempertahankan kualitas air dan kondisi pengemasan selama perjalanan turut mendukung tingginya kelangsungan hidup ikan. Kelangsungan Hidup Pemeliharaan Tingkat keberlangsungan hidup ikan kerapu cantang Epinephelus fuscoguttatus y Epinephelus lanceolatus selama tujuh hari dalam pemeliharaan di keramba jaring apung menunjukkan variasi antar perlakuan. Perlakuan A. K, dan C menunjukkan tingkat keberlangsungan hidup yang lebih baik dibandingkan perlakuan B. Rendahnya tingkat keberlangsungan hidup pada perlakuan B kemungkinan disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti tingginya curah hujan yang mengakibatkan penurunan salinitas dan kadar oksigen terlarut akibat peningkatan pencampuran air. Ikan kerapu cantang dikenal sebagai spesies yang peka terhadap perubahan kualitas Menurut Effendi . , stres lingkungan yang disebabkan oleh variasi suhu, salinitas, dan oksigen dapat mengganggu proses metabolisme ikan serta meningkatkan risiko penyakit dan kematian. Pendapat ini didukung oleh Faozan et al. yang menyatakan bahwa perubahan salinitas akibat hujan lebat pada tahap awal pemeliharaan di laut bisa berakibat fatal bagi benih. Lokasi keramba yang lebih terlindungi dan memiliki sirkulasi air yang baik, seperti yang terlihat pada perlakuan A, berpotensi meningkatkan tingkat keberlangsungan hidup secara optimal . %). Sebaliknya, perlakuan B yang terpapar langsung oleh air hujan dengan sirkulasi air yang kurang baik menunjukkan tingkat keberlangsungan hidup terendah . ,33%). Temuan ini menegaskan pentingnya memperhatikan faktor lingkungan seperti intensitas hujan, arus, dan lokasi keramba selama fase adaptasi awal di laut untuk meningkatkan keberhasilan pemeliharaan benih kerapu cantang. Perubahan Tingkah Laku Ikan Kerapu Cantang Tingkah laku ikan kerapu cantang diperhatikan dalam dua fase, yaitu saat mereka pertama kali ditaruh di keramba jaring apung dan saat pakan diberikan untuk pertama kalinya Perilaku ini menggambarkan kondisi fisik dan kemampuan ikan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ketika ikan ditebar, kelompok kontrol (K) dan kelompok C . memperlihatkan perilaku tidak wajar seperti berenang dengan mulut terbuka, yang menunjukkan adanya masalah pernapasan disebabkan oleh stres atau kurangnya oksigen Penemuan ini sejalan dengan penelitian Pratama dan Arlius . , yang menyatakan bahwa perilaku seperti itu, serta berenang yang tidak terarah dan lambatnya respons terhadap pakan, bisa diakibatkan oleh penurunan kualitas air. Perlakuan A . menunjukkan aktivitas renang yang baik dan normal, tanpa terlihat adanya stres, menunjukkan bahwa dosis ekstrak 4 ml dari daun jambu biji merah dapat memberikan dampak positif dalam menurunkan stres selama proses pengangkutan. Hal ini didukung oleh Irawan . yang menyatakan bahwa menggunakan dosis anestesi atau sedatif yang tepat penting untuk menurunkan aktivitas metabolik dan stress saat ikan diangkut. Sebaliknya, perlakuan B . menunjukkan bahwa ikan berperilaku agresif setelah ditebar, diduga karena stres yang disebabkan oleh tingginya akumulasi Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 amonia selama transportasi. Menurut Pasaribu et al. , senyawa aktif seperti tanin, flavonoid, dan alkaloid dalam ekstrak bisa menjadi beracun jika diberikan dalam jumlah yang terlalu tinggi. Selain itu, penurunan kualitas air, seperti rendahnya DO, pH dan salinitas yang rendah juga dapat meningkatkan stres pada ikan (Franciscca dan Muhsoni. Ketika pakan diberikan untuk pertama kalinya . ekitar 4 jam setelah diteba. , ikan dari perlakuan A. B, dan C menunjukkan respons yang energik terhadap pakan. Namun, ikan pada perlakuan K memerlukan waktu hingga 115 detik untuk merespons, menunjukkan lambatnya adaptasi. Ini menunjukkan bahwa tambahan ekstrak daun jambu biji merah memiliki peran penting dalam membantu perbaikan fisik ikan setelah diangkut. Menurut Irawan et al. , kandungan antioksidan dalam daun jambu biji merah bisa mengurangi stres oksidatif yang terjadi akibat proses transportasi. Di samping itu, jeda waktu pemberian pakan setelah penebaran sangat krusial untuk mencegah stres saat makan dan menjaga stabilitas keadaan lingkungan budidaya. Seperti yang diungkapkan oleh Rochmad dan Mukti . , jeda waktu antara 3 hingga 6 jam membantu menurunkan gangguan pencernaan, meningkatkan efisiensi pakan, dan mengurangi akumulasi limbah metabolik. Kadar Glukosa Darah Peningkatan kadar gula darah pada ikan kerapu cantang terdeteksi setelah proses pengangkutan, yang menunjukkan reaksi fisiologis terhadap tekanan akibat penanganan. Efianda et al. menegaskan bahwa metode penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan stres akut yang berujung pada kenaikan glukosa dan bahkan kematian. Namun, kadar glukosa darah di semua perlakuan dalam penelitian ini tetap berada dalam kisaran normal . ,67Ae92,33 mg/dL), yang sejalan dengan ambang wajar untuk ikan laut yang berkisar antara 33Ae250 mg/dL. Perlakuan B . dan A . menunjukkan kadar glukosa yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan C . dan K . , masing-masing dengan nilai 56,67 mg/dL dan 71,22 mg/dL. Hal ini menunjukkan bahwa dosis ekstrak daun jambu biji merah yang sesuai dapat mengurangi stres selama proses transportasi. Di sisi lain, perlakuan C . ,11 mg/dL) dan K . ,33 mg/dL) menunjukkan kadar tertinggi, menunjukkan adanya tingkat stres yang lebih tinggi, terutama pada perlakuan C yang kemungkinan disebabkan oleh toksisitas dari dosis tinggi. Menurut Midihatama et al. , peningkatan glukosa dalam darah berhubungan erat dengan pelepasan hormon stres seperti glukokortikoid, yang dirilis untuk menyediakan energi tambahan saat menghadapi tekanan. Kenaikan signifikan pada perlakuan C juga diduga terkait dengan kadar saponin dalam ekstrak daun jambu biji merah, yang pada tingkat tinggi dapat memicu hemolisis dan meningkatkan stres fisiologis (Suwandi et al. , 2013. Sornapudi dan Srivastava, 2. Kandungan saponin dalam ekstrak dilaporkan mencapai 5,53%, yang lebih tinggi dibandingkan komponen Perlakuan K, sebagai kontrol yang tidak menggunakan ekstrak, menunjukkan kadar glukosa tertinggi, yang mengindikasikan bahwa tidak adanya senyawa antistres dari ekstrak menyebabkan stres selama transportasi tidak berkurang. Penemuan ini sejalan dengan hasil penelitian Suwandi et al. yang menyatakan bahwa ekstrak daun jambu biji merah dapat secara signifikan menurunkan kadar gula darah ikan. Senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak, seperti flavonoid, tanin, dan saponin, berkontribusi terhadap efek pengurangan stres. Flavonoid berfungsi dengan menghambat Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 sekresi hormon stress . dan menekan proses glukoneogenesis. Tanin memperlambat metabolisme serta mengurangi peroksidasi lipid, sementara saponin memberikan efek sedatif ringan dan memperkuat sistem imun ikan (Zhang et al. ,2. Kombinasi dari senyawa-senyawa ini mempunyai peran penting dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis ikan di bawah kondisi stres seperti transportasi dengan kepadatan tinggi, suhu yang tidak stabil, dan kadar oksigen yang rendah. Kualitas Air saat Simulasi Transportasi Parameter kualitas air yang diamati selama proses transportasi meliputi suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut (DO), dan amonia. Suhu awal media transportasi dijaga pada 23 AC sesuai rekomendasi KKP (SuaraTani. com, 2. , yang menyebutkan bahwa kisaran suhu 21Ae25 AC efektif dalam menurunkan aktivitas metabolik ikan dan mengurangi stres. Namun, suhu meningkat pasca transportasi, terutama pada perlakuan A dan B yang mencapai 28 AC. Kenaikan suhu yang signifikan ini berpotensi menyebabkan gangguan metabolisme, stres, dan gangguan fisiologis lainnya (Permatasari, 2016. Wicaksono & Herdiawan, 2. pH air juga mengalami penurunan dari kisaran awal 7,83 menjadi 6,17 pasca Meskipun masih dalam kisaran toleransi . ,5Ae9,. , nilai pH yang rendah mendekati batas bawah dapat memengaruhi nafsu makan dan aktivitas metabolik ikan (Hasan et al. , 2. Salinitas media transportasi berada dalam kisaran 23Ae27 ppt, masih dalam rentang ideal . Ae32 pp. untuk mendukung osmoregulasi dan kelangsungan hidup benih kerapu cantang E. fuscoguttatus y E. lanceolatus (Hasan et al. , 2. Kadar oksigen terlarut (DO) mengalami penurunan seiring proses transportasi akibat meningkatnya metabolisme ikan dan aktivitas respirasi. Meskipun begitu, nilai DO pada semua perlakuan masih di atas ambang batas minimum yaitu 2 mg/L, yang masih dikategorikan aman untuk kelangsungan hidup ikan (Budiyanti & Romansyah, 2. Sebaliknya, konsentrasi amonia menunjukkan peningkatan tajam, dengan nilai tertinggi tercatat pada perlakuan C sebesar 4,464 mg/L. Nilai ini jauh melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan oleh SNI . , yaitu 0,02 mg/L. Amonia dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan insang, gangguan respirasi, bahkan kematian ikan (Yanto, 2. Oleh karena itu, pengelolaan kualitas air seperti pengaturan kepadatan, pengontrolan suhu dan pH, serta penambahan bahan penyerap amonia sangat diperlukan untuk menjaga lingkungan tetap stabil selama pengangkutan. Kualitas Air Pemeliharaan Selama pemeliharaan ikan kerapu cantang E. fuscoguttatus y E. seluruh parameter kualitas air secara umum masih berada dalam kisaran normal dan sesuai dengan standar mutu kualitas air budidaya ikan laut menurut Standar Nasional Indonesia (SNI, 2. Suhu air pada hari ke-1, 3, 4, dan 5 berada pada 30 AC dan sesuai dengan rentang optimal 28Ae32 AC yang dianjurkan SNI. Kisaran ini mendukung metabolisme dan pertumbuhan ikan yang baik (Trianzah & Adi, 2. Namun, pada hari ke-2, 6, dan 7 terjadi penurunan suhu menjadi 26 AC akibat hujan, yang berpotensi menimbulkan stres dan menurunkan metabolisme ikan (Banyumas, 2. pH air berkisar antara 7,12Ae7,21 pada hari ke-1, 3, 4, dan 5, sesuai dengan kisaran ideal . ,5Ae8,. Namun, hari ke-2, 6, dan 7 menunjukkan nilai pH yang fluktuatif akibat Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 31-45 pengaruh hujan, yang dapat mengganggu fisiologi dan metabolisme ikan (Mardiana et al. Salinitas pada hari ke-1, 3, 4, dan 5 tercatat sebesar 28 ppt dan masih dalam rentang ideal . Ae33 pp. menurut SNI . Penurunan menjadi 24 ppt pada hari ke-2, 6, dan 7 menunjukkan potensi stres osmotik yang dapat memengaruhi kesehatan dan nafsu makan ikan (Ningrum et al. , 2025. Rochmad & Mukti, 2. Oksigen terlarut (DO) selama masa pemeliharaan berkisar antara 6,20Ae7,38 mg/L, masih dalam ambang batas aman (>4 mg/L) menurut SNI . Kandungan DO yang cukup penting untuk mendukung kelangsungan hidup dan efisiensi metabolisme ikan (Mubarak et al. , 2. Padat tebar yang digunakan dalam penelitian ini tergolong longgar . ekor/KJA), sehingga tidak menimbulkan kompetisi berlebih terhadap ruang dan oksigen, sesuai dengan temuan Folnuari et al. yang menyebutkan bahwa kepadatan tinggi dapat meningkatkan stres dan menurunkan kelangsungan hidup ikan. Secara keseluruhan, kualitas air selama pemeliharaan menunjukkan kecenderungan fluktuatif akibat faktor eksternal seperti hujan, namun masih berada dalam batas toleransi ikan kerapu cantang untuk tumbuh dan beradaptasi di KJA. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: Penambahan ekstrak daun jambu biji merah Psidium guajava Linn dalam media transportasi berpengaruh dalam menekan stres fisiologis ikan kerapu cantang, yang diukur melalui kadar glukosa darah. Perlakuan dengan dosis 6 ml/L menunjukkan kadar glukosa terendah, namun tidak direkomendasikan sebagai dosis optimal karena disertai dengan respons tingkah laku yang tidak normal. Ekstrak daun jambu biji merah terbukti mampu mempertahankan kelangsungan hidup ikan kerapu cantang pasca transportasi. Meskipun tidak terdapat perbedaan nyata secara statistik antar perlakuan, dosis 4 ml/L menghasilkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi . %) selama pemeliharaan dan menunjukkan respons stres yang rendah. Oleh karena itu, dosis 4 ml/L direkomendasikan sebagai dosis optimal dalam media transportasi ikan kerapu cantang. DAFTAR PUSTAKA