AJER Advanced Journal of Education and Religion Vol. 2 No. 3 September 2025 Implementasi Kegiatan Camping Menumbuhkan Kemandirian Anak di Tk Kuncup Melati Desa Sukolilo Kecamatan Sukodadi Kabupaten Lamongan Fatimatuz Zahrok* Fakultas Agama Islam. Universitas Islam Darul Ulum Lamongan *Corresponding author: fatimatuz1. 2021@mhs. ARTICLE INFO ABSTRACT Article history Received 05-09-25 Revised 15-09-25 Accepted 25-09-25 This study aims to describe the implementation of camping activities in fostering children's independence at TK Kuncup Melati. The background of this research is the tendency of early childhood children to still rely on parents and teachers in fulfilling their daily needs. Independence is an essential aspect of development in early childhood, enabling children to take care of themselves, manage personal belongings, make simple decisions, and socialize with their environment. This research uses a qualitative approach with a case study method. The subjects of the study consisted of TK Kuncup Melati students, classroom teachers, and several parents. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The results of the study show that camping activities provide direct experiences for children to practice independence through activities such as eating by themselves, maintaining personal hygiene, taking care of their belongings, and sharing responsibilities with peers. These findings align with HurlockAos theory, which emphasizes that children's independence develops through practice, habituation, and direct experience, as well as EriksonAos theory, which states that children aged 3Ae6 years are in the stage of initiative vs. guilt, where they learn to take initiative and build social relationships. The conclusion of this study is that camping activities can serve as an effective means to foster independence in early childhood. Kata Kunci Early Childhood. Camping. Children's independence Pendahuluan Anak usia dini merupakan individu yang sedang berada dalam masa perkembangan pesat di berbagai aspek, baik fisik, kognitif, sosial, maupun emosional (Wahidah, 2. Salah satu aspek penting yang perlu ditumbuhkan sejak dini adalah kemandirian. Kemandirian merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan anak usia dini (Chairilsyah, 2. Anak yang mandiri Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 mampu melakukan berbagai kegiatan tanpa terlalu bergantung pada orang lain, termasuk dalam hal merawat diri, mengambil keputusan sederhana, hingga menyelesaikan tugas-tugas kecil sehari-hari. Namun, dalam kenyataannya, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemandirian ini, terutama ketika lingkungan sekitar, termasuk orang tua, justru lebih sering memanjakan atau terlalu melindungi anak. Di TK Kuncup Melati, fenomena ini terlihat cukup jelas. Banyak orang tua yang masih terbiasa menyuapi anak saat makan, memilihkan pakaian, bahkan masih membawakan tas dan perlengkapan anak setiap hari. Hal ini membuat anak-anak menjadi kurang terbiasa untuk melakukan sesuatu secara mandiri. Akibatnya, mereka mudah bergantung, tidak percaya diri, dan cenderung takut mencoba halhal baru. Namun demikian, belum banyak penelitian yang secara spesifik mengkaji bagaimana kegiatan camping ini diimplementasikan dan sejauh mana pengaruhnya terhadap tumbuhnya kemandirian anak, khususnya di TK Kuncup Melati. Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk mengangkat topik ini sebagai fokus penelitian, dengan harapan dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai proses implementasi kegiatan camping serta kontribusinya terhadap perkembangan kemandirian anak usia dini. Untuk mengetahui data yang valid mengenai judul skripsi, penulis mendefinisikan dan di tegaskan dalam suatu pengertian yang terkandung dalam judul di atas. Pertama. Anak usia dini dalam penelitian ini adalah anak yang berada pada rentang usia 0 sampai dengan 6 tahun. Pada tahap ini, anak sedang berada dalam masa golden age, yaitu periode emas perkembangan yang sangat menentukan pertumbuhan aspek fisik, motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan moralspiritual. Mereka sedang berada dalam fase perkembangan yang ditandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi, kebutuhan akan pengalaman belajar yang konkret, serta kemampuan untuk mulai membangun kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Kedua. Kegiatan camping yang dimaksud dalam penelitian ini adalah serangkaian aktivitas luar ruang yang disusun dan dilaksanakan oleh TK Kuncup Melati dalam bentuk berkegiatan di alam terbuka dalam waktu tertentu. Ketiga. Kemandirian anak dalam penelitian ini didefinisikan sebagai kemampuan anak usia dini . hususnya usia 5Ae6 tahu. untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa ketergantungan penuh kepada orang dewasa. Kemandirian anak usia dini adalah kemampuan anak untuk mengurus diri, mengambil keputusan sederhana, dan bertanggung jawab terhadap dirinya tanpa ketergantungan penuh kepada orang dewasa. Menurut Hurlock . , kemandirian anak dapat berkembang melalui latihan, pembiasaan, dan pengalaman langsung yang sesuai dengan tahap perkembangan. Erikson menjelaskan bahwa pada usia 3Ae6 tahun anak berada pada tahap initiative vs guilt. Pada tahap ini anak mulai berinisiatif, berani mencoba hal baru, dan membangun interaksi sosial. Jika inisiatif anak didukung, maka akan tumbuh rasa percaya diri. sebaliknya jika sering ditekan, anak bisa mengalami rasa bersalah. Camping memberikan ruang bagi anak untuk berinisiatif, misalnya saat berbagi tenda, membantu teman, atau memilih aktivitas sendiri. Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 Camping sebagai Media Pendidikan Anak Usia Dini Camping adalah kegiatan di luar ruangan yang memungkinkan anak memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui interaksi dengan alam, teman sebaya, dan berbagai aktivitas praktis. Menurut Muslichah . , kegiatan outbond atau camping dapat memperkuat aspek sosial-emosional, kemandirian, serta tanggung jawab anak. Jean Piaget menempatkan anak usia 2Ae7 tahun pada tahap preoperational, di mana anak belajar melalui pengalaman konkret dan interaksi langsung dengan lingkungannya. Camping sebagai kegiatan nyata di luar rumah memberi kesempatan kepada anak untuk belajar melalui pengalaman langsung, misalnya mencoba makan sendiri, berbagi dengan teman, serta mengatur barang-barangnya. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan mendeskripsikan secara mendalam makna, kontribusi, dan preferensi anak usia dini terhadap kegiatan camping di TK Kuncup Melati. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menggali fenomena nyata di lapangan berdasarkan pengalaman langsung para pihak yang terlibat terdiri dari 13 anak TK kelompok A, 2 guru kelas, dan 7 orang tua. Teknik pengumpulan data meliputi kegiatan observasi: mencatat perilaku anak selama kegiatan camping. Wawancara: dengan guru dan orang tua terkait pandangan mereka, dan dokumentasi: foto kegiatan, catatan kegiatan, dan instrumen observasi. Analisis data menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan kegiatan camping di TK Kuncup Melati Sukodadi Pelaksanaan kegiatan camping di TK Kuncup Melati merupakan contoh penerapan pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. yang sangat sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Anak-anak usia taman kanak-kanak berada pada tahap perkembangan di mana mereka belajar paling baik melalui pengalaman langsung, eksplorasi lingkungan, dan keterlibatan aktif dalam aktivitas nyata. Menurut Kolb, pembelajaran melalui pengalaman membantu peserta didik untuk membentuk pengetahuan yang lebih bermakna dan tahan lama. Dalam konteks kegiatan camping ini, anak-anak tidak hanya menerima informasi secara pasif, melainkan benar-benar mengalami, mencoba, dan merasakan sendiri setiap proses yang dilakukan mulai dari mengurus diri sendiri, bekerjasama, hingga mengelola emosi. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan camping di TK Kuncup Melati merupakan praktik pembelajaran yang tidak hanya kreatif dan inovatif, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap pembentukan karakter dan kemandirian anak usia dini. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan anak dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, namun tetap sarat makna dan nilai-nilai kehidupan. Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 Bentuk kemandirian yang ditunjukkan anak-anak di TK Kuncup Melati Sukodadi selama kegiatan camping. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan selama kegiatan camping di TK Kuncup Melati, ditemukan beberapa bentuk kemandirian yang ditunjukkan oleh anak-anak. Kegiatan camping yang dilaksanakan selama satu hari dirancang dengan berbagai aktivitas yang mendorong anak untuk melakukan berbagai hal secara mandiri. Bentuk-bentuk kemandirian yang muncul selama kegiatan camping di TK Kuncup Melati menunjukkan bahwa anak usia dini memiliki potensi untuk berkembang secara mandiri jika diberikan pengalaman yang tepat. Sesuai dengan teori perkembangan kemandirian menurut Hurlock kemandirian anak mencakup kemampuan untuk mengurus diri sendiri, membuat keputusan, dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri. Di antara bentuk kemandirian yang muncul saat kegiatan camping antara lain: Kemandirian dalam Mengurus Diri Sendiri Hasil wawancara dengan guru dan orang tua menunjukkan bahwa salah satu bentuk kemandirian yang paling tampak selama kegiatan camping adalah kemampuan anak dalam mengurus kebutuhan pribadi mereka. Anak-anak dilatih untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari secara mandiri, seperti makan sendiri, menyimpan barang bawaan di tempat yang sesuai, serta menjaga kerapian tempat tidur mereka di dalam tenda. Temuan ini sejalan dengan pendapat Hurlock yang menyatakan bahwa kemandirian anak dapat berkembang melalui latihan, pembiasaan, dan pengalaman langsung yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Latihan . : Anak mengulang keterampilan yang sama misalnya mengambil makanan sendiri, merapikan alas tidur, atau memakai jaket hingga gerak menjadi Pengulangan membangun rasa mampu . ense of competenc. dan mengurangi ketergantungan pada orang dewasa. Pembiasaan . Rutinitas . rutan bangun,mandi,sarapan,kegiatan dan istiraha. membentuk pola perilaku mandiri yang stabil. Anak belajar Auapa yang harus dilakukanAy tanpa disuruh karena urutannya selalu sama dan dapat diprediksi. Pengalaman langsung . irect experienc. : Anak tidak hanya AutahuAy tetapi AumengalamiAy sendiri konsekuensi dari tindakannya . isal jika tidak menutup botol minum, baju menjadi basa. Pengalaman konkret seperti ini memperkuat pengambilan keputusan dan pemecahan masalah sederhana. Camping memberikan lingkungan yang kaya stimulasi dan memungkinkan anak untuk mengambil peran aktif dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Kemandirian Sosial Selama kegiatan camping, anak-anak tidak hanya belajar mandiri secara fisik, tetapi juga secara sosial. Dalam aktivitas-aktivitas kelompok seperti permainan bersama, makan bersama, anak-anak belajar untuk berinteraksi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah secara kolektif. Guru menyampaikan bahwa kegiatan camping mendorong anak untuk lebih terbuka terhadap teman-temannya. Anakanak belajar bergiliran, menyampaikan ide, dan saling membantu. Bahkan anak- Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 anak yang biasanya pendiam di kelas mulai menunjukkan keberanian dalam berkomunikasi dan menjalin interaksi sosial yang sehat. Teori Erikson mendukung temuan ini, di mana pada tahap usia dini . Ae6 tahu. , anak berada dalam tahap initiative vs guilt, anak mulai menunjukkan keberanian untuk mengambil peran, mencoba hal-hal baru, serta membangun interaksi sosial dengan lingkungannya. Dalam kegiatan camping, hal ini terlihat ketika anak berinisiatif mengambil makanan sendiri, membantu temannya menata perlengkapan, atau tampil dalam kegiatan pentas seni seperti bernyanyi. Ketika inisiatif tersebut mendapat dukungan dan penguatan positif dari guru maupun teman sebaya, anak akan mengembangkan rasa percaya diri, kemandirian, serta kemampuan sosial yang baik. Sebaliknya, apabila inisiatif anak sering diabaikan atau ditekan, maka anak dapat mengalami rasa bersalah, minder, bahkan enggan mencoba hal baru. Dengan demikian, kegiatan camping menjadi wadah yang tepat untuk menumbuhkan inisiatif anak sesuai dengan tahap perkembangan yang dikemukakan Erikson. Ay Melalui kegiatan seperti camping, anak-anak memiliki ruang untuk mengembangkan rasa percaya diri, keberanian bersosialisasi, dan membentuk tanggung jawab sosial. Kemandirian Emosional Aspek lain yang sangat terlihat selama kegiatan camping adalah berkembangnya kemandirian emosional anak. Anak-anak yang sebelumnya selalu tidur bersama orang tua, harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, tidur di tenda bersama teman, serta menghadapi perasaan takut atau rindu rumah. Menurut Papalia dan Feldman, kemandirian emosional adalah salah satu indikator penting dari perkembangan anak usia dini. Anak yang mampu mengelola emosi dan beradaptasi dengan situasi sosial yang baru akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Kegiatan camping menjadi salah satu metode alami yang dapat memfasilitasi pembelajaran emosional tersebut. Guru memaknai peran kegiatan camping dalam menumbuhkan kemandirian anak di TK Kuncup Melati Sukodadi Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa para guru di TK Kuncup Melati memaknai kegiatan camping bukan hanya sebagai kegiatan hiburan, tetapi sebagai strategi pembelajaran yang sangat bermakna dalam membentuk sikap dan keterampilan kemandirian anak. Dalam kegiatan camping, anak tidak hanya dilatih untuk melakukan sesuatu secara mandiri, tetapi juga ditempatkan dalam situasi yang menantang secara emosional dan sosial, yang mendorong mereka untuk mengelola diri secara utuh. Guru memainkan peran sentral dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung proses kemandirian tersebut. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi ruang, kepercayaan dan dorongan emosional yang membuat anak berani mencoba dan berkembang. Hal ini sejalan dengan pandangan Vygotsky,tentang scaffolding, di mana guru memberikan dukungan yang cukup sampai anak mampu menyelesaikan tugas secara mandiri. Selain itu, interaksi sosial selama camping juga membantu anak mengurangi Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 sifat egosentris. Saat harus berbagi tenda, bekerja sama dengan teman, menunggu giliran, atau membantu teman yang kesulitan, anak belajar bahwa orang lain memiliki kebutuhan dan perasaan yang berbeda dari dirinya. Hal ini sejalan dengan gagasan Piaget bahwa perkembangan kognitif anak terjadi melalui interaksi aktif dengan lingkungan dan teman sebaya. Kegiatan camping tidak hanya memberi kesempatan anak untuk memperoleh pengalaman konkret sesuai tahap praoperasional, tetapi juga menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kemandirian. Anak belajar mengambil keputusan, bertanggung jawab terhadap dirinya, serta berinteraksi sosial dengan cara yang Hal ini memperlihatkan bahwa teori Piaget mendukung temuan penelitian bahwa camping dapat menumbuhkan kemandirian anak usia dini. Tabel 1 Rekapitulasi Kemandirian Anak Nama Aspek Kemandirian Indikator Prilaku Keterangan Laras Mengurus diri Makan sendiri tanpa di suapi Hisyam Tanggung jawab Menjaga barang pribadi agar tidak Ria Manajemen barang Aiswa Mengurus diri Menata tas,pakaian dan perlengkapan tidur sendiri Anak Mandi dan memakai pakaian Zio Inisiatif Mengambil minum sendiri tanpa di Arka Regulasi emosi dan Zizi Regulasi emosi dan Mampu menunggu giliran dalam kegiatan bersama Berani Anak bisa mengambil dan Menyimpan barang pribadi Barang tertata rapi di Butuh sedikit Terlihat mengambil air minum saat Mau sabar tanpa rewel Bernyanyi saat pentas seni tanpa takut Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 Arsya Kerjasama pendapat/berbicara di depan kelompok Menata dan Menata dan merapikan tenda bersama teman tenda bersama teman tanpa Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di TK Kuncup Melati, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Pelaksanaan kegiatan camping di TK Kuncup Melati dirancang secara terencana dan disesuaikan dengan usia anak. Bentuk-bentuk kemandirian anak yang muncul selama kegiatan camping meliputi kemandirian mengurus diri sendiri . akan sendiri, merapikan baran. , kemandirian sosial . erkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan konflik keci. , dan kemandirian emosional . engelola rasa takut dan mengendalikan rasa kecewa saat harus bergiliran dalam bermai. Perubahan tersebut muncul secara alami melalui pengalaman langsung selama camping berlangsung. Guru memaknai kegiatan camping sebagai sarana efektif untuk menumbuhkan kemandirian anak. Kegiatan ini dipandang mampu memberikan pengalaman belajar langsung yang mendorong anak untuk mandiri secara fisik, sosial, dan emosional. Referensi