Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian e-ISSN: 2747-0369, p-ISSN: 2746-7538 Volume 6. Issue 2. Mei 2026 Website: https://ejurnal-unespadang. id/EJPP Hubungan Loneliness dengan Bedtime procrastination Pada Mahasiswa di Sumatera Barat Siti Mardhiah1*. Fauziah Taslim2 Departement Psikologi. Universitas Negeri Padang. Sumatera Barat. Indonesia Departement Psikologi. Universitas Negeri Padang. Sumatera Barat. Indonesia Corresponding Author: stmardhiah3008@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara loneliness dan bedtime procrastination pada mahasiswa di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian adalah mahasiswa di Sumatera Barat sebanyak 386 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa skala SELSA dan skala bedtime procrastination. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis uji korelasi secara simultan menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara loneliness dan bedtime procrastination dengan nilai koefisien korelasi sebesar A = 0,504 dan nilai signifikansi p < 0,001. Secara parsial juga menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara loneliness dengan bedtime procrastination dengan masing-masing dimensi memiliki nilai koefisien . omantic loneliness A = 0. family loneliness A = 0. dan social loneliness A = 0. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat loneliness, maka semakin tinggi pula kecenderungan individu untuk melakukan bedtime procrastination baik secara simultan ataupun parsial. Kata Kunci: Bedtime Procrastination. Loneliness. Mahasiswa Abstract: This study aims to determine the relationship between loneliness and bedtime procrastination in college students. Loneliness is a subjective emotional state that arises due to a mismatch between expected and existing social relationships, while bedtime procrastination is the behavior of delaying bedtime without a clear external reason. This study used a quantitative approach with a correlational design. The subjects were 386 college students in West Sumatra who were selected using a purposive sampling technique. The instruments used were a loneliness scale . valid items, = 0. and a bedtime procrastination scale . valid items, = 0. with a Likert scale model. Data analysis was performed using the Spearman correlation test. The results showed a significant positive relationship between loneliness and bedtime procrastination with a correlation coefficient value of A = 0. 504 and a significance value of p < 0. This indicates that the higher the level of loneliness, the higher the individual's tendency to engage in bedtime procrastination. Keywords: Bedtime Procrastination. Loneliness. Students PENDAHULUAN Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan secara keseluruhan (Ramar et al. , 2. Setiap individu menghabiskan sekitar sepertiga hidupnya untuk tidur, yang menunjukkan bahwa tidur merupakan proses biologis yang sangat penting bagi tubuh (Walker, 2. Kualitas This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License DOI: https://doi. org/10. 31933/ejpp. 184 | Page e-ISSN: 2747-7538, p-ISSN: 2746-7538 Volume 6. Issue 2. Mei 2026 tidur yang baik adalah kondisi dimana seseorang tidak menunjukkan berbagai tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya (Nilifda et al. , 2. Hirshkowitz et al. mengutip rekomendasi National Sleep Foundation yang menyatakan bahwa kelompok dewasa muda . -25 tahu. dan dewasa . -64 tahu. memerlukan tidur selama 7-9 jam setiap malam agar fungsi tubuh dan psikologis dapat pulih secara optimal. Kecukupan durasi tidur ini sangat penting karena tidur merupakan proses dinamis yang berdampak beragam terhadap kesehatan tubuh. Namun, pada populasi mahasiswa, pemenuhan kebutuhan tidur yang memadai seringkali menjadi tantangan tersendiri akibat berbagai tuntutan akademik dan gaya hidup yang dinamis (Hershner & Chervin, 2. Masalah kualitas dan kuantitas tidur pada mahasiswa telah menjadi perhatian serius dalam bidang kesehatan, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap performa akademik dan kesejahteraan secara keseluruhan (Lund et , 2. Akan tetapi, durasi tidur mahasiswa Indonesia secara umum hanya berkisar di bawah 7 jam per hari, jumlah yang belum mencukupi standar kebutuhan istirahat mereka (Solikhah, 2. Dan pada kenyataannya di indonesia hanya 38,6% mahasiswa yang tidurnya cukup (Sofyana et al. , 2. Dibandingkan dengan masa sekolah, mahasiswa cenderung memiliki keleluasaan lebih dalam mengatur waktu tidur karena fleksibilitas jadwal perkuliahan dan tidak adanya pengawasan orang tua secara langsung, yang menyebabkan pola tidur menjadi lebih longgar dan bergeser ke jam tidur malam yang lebih lambat (Urner et , 2009. Foulkes et al. , 2. Rendahnya perencanaan dan pengelolaan waktu membuat mahasiswa lebih mudah dalam menunda waktu tidurnya meskipun mengetahui bagaimana pentingnya istirahat. Fenomena ini dikenal sebagai bedtime procrastination (Kroese et al. Bedtime procrastination atau penundaan waktu tidur adalah kecenderungan seseorang untuk menunda waktu tidur tanpa alasan yang mendesak atau eksternal yang jelas, seperti pekerjaan, tanggung jawab, atau aktivitas penting lainnya (Kroese et al. , 2. Penting untuk dipahami bahwa bedtime procrastination bukan merupakan kondisi neuropsikologis yang berdiri sendiri, dan tidak tercantum sebagai entitas diagnostik dalam DSM-5-TR (American Psychiatric Association, 2. Secara ilmiah, ia dikategorikan sebagai perilaku selfregulatory failure dalam domain tidur (Kroese et al. , 2014. Kroese et al. , 2. Mahasiswa merupakan kelompok yang rentan mengalami bedtime procrastination karena berbagai faktor, termasuk tuntutan akademik, aktivitas sosial, dan penggunaan teknologi. Studi-studi yang dilakukan di Indonesia mengungkapkan bahwa fenomena prokrastinasi tidur merupakan permasalahan yang sering dijumpai pada populasi mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami tingkat bedtime procrastination yang tinggi, yaitu sebesar 59,5%, diikuti tingkat sedang 39,6%, dan tingkat rendah hanya 0,9%, yang disebabkan oleh aktivitas tertentu, penggunaan gadget, kesulitan tidur dan juga mengatakan semakin tua seseorang, semakin rendah kecenderungannya menunda waktu tidur (Khou et al. , 2. Tingkat penundaan tidur lebih tinggi pada mahasiswa dibandingkan dengan non-mahasiswa (Herzog-Krzywoszanska & Krzywoszanski. Jika berlangsung terus-menerus, gangguan tidur kronis dapat berdampak lebih jauh, termasuk memicu masalah kesehatan mental jangka panjang, memperburuk gejala depresi, dan meningkatkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial (Baglioni et al. , 2. Dampak lainnya kurang tidur yang disebabkan oleh kebiasaan bedtime procrastination yaitu berhubungan dengan penurunan kognitif dan penurunan produktivitas. Dengan demikian, kebiasaan seperti bedtime procrastination memiliki konsekuensi signifikan terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan individu secara keseluruhan. Faktor psikologis yang berperan signifikan dalam bedtime procrastination adalah kemampuan regulasi diri dan kontrol diri individu. Namun, hasil studi yang dilakukan oleh Xu et al. , . menarik perhatian karena menghasilkan korelasi positif, bahwa loneliness 185 | Page e-ISSN: 2747-7538, p-ISSN: 2746-7538 Volume 6. Issue 2. Mei 2026 secara langsung dapat memprediksi bedtime procrastination. Prevalensi loneliness pada populasi mahasiswa dilaporkan cukup mengkhawatirkan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh mahasiswa pernah merasakan kesepian yang signifikan selama masa studi mereka, terutama di tahun pertama perkuliahan (Qualter et al. , 2. Walaupun mahasiswa merupakan termasuk kelompok yang paling erat dengan dunia digital serta memiliki akses luas terhadap media sosial (Kemp, 2. , namun fenomena yang muncul justru menunjukkan bahwa mereka mengalami tingkat kesepian yang cukup tinggi (Kurniawan et al. , 2025. Rarung et al. , 2. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa loneliness merupakan masalah yang cukup serius di kalangan mahasiswa. Loneliness merupakan pengalaman subjektif ketika terdapat ketidaksesuaian antara hubungan sosial yang diinginkan dengan hubungan sosial yang dimiliki secara nyata yang dapat dialami oleh siapa saja (Perlman & Peplau, 1. Russell et al. mendefinisikan loneliness sebagai pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang muncul dari ketidaksesuaian antara tingkat aktivitas sosial yang diinginkan dengan tingkat aktivitas sosial yang dicapai atau dimiliki seseorang. Tingginya prevalensi loneliness pada mahasiswa tidak lepas dari karakteristik fase perkembangan yang mereka jalani. Mahasiswa berada dalam masa emerging adulthood, periode usia 18-25 tahun yang ditandai oleh eksplorasi identitas, ketidakstabilan relasional, dan posisi di antara struktur sosial lama dan baru (Arnett, 2. Secara spesifik, perpindahan ke perguruan tinggi memutus jaringan sosial primer . eluarga, teman SMA) sebelum jaringan sosial baru yang setara kedalamannya terbentuk (Nuraini & Laksmiwati, 2. Loneliness juga bukan merupakan kondisi klinis yang berdiri sendiri. Loneliness tidak memiliki kode diagnostik tersendiri dalam DSM-5-TR (American Psychiatric Association. Ia tidak dapat didiagnosis sebagai gangguan mental yang mandiri. Namun demikian. Alarcon . menjelaskan bahwa psikiatri kontemporer menempatkan loneliness pada dua level relevansi klinis: sebagai trait kepribadian yang mewarnai cara individu mempersepsi hubungan sosial, dan sebagai gejala penyerta dalam berbagai gangguan mental seperti depresi mayor, gangguan kepribadian ambang, dan skizofrenia. Dalam penelitian ini, loneliness dioperasionalkan sebagai konstruk psikologis dimensional yang diukur pada kontinum, bukan sebagai kategori diagnostik. Hubungan antara loneliness dan bedtime procrastination mulai menarik perhatian Xu et al. menemukan bahwa loneliness berkorelasi positif dengan bedtime procrastination pada mahasiswa di Tiongkok yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kesepian seseorang, semakin besar kecenderungan mereka untuk menunda waktu Penelitian (Wang et al. , 2. juga menemukan bahwa loneliness mempengaruhi kualitas tidur dan kecenderungan bedtime procrastination pada mahasiswa. Temuan serupa ditemukan di Jerman, bahwa mahasiswa yang mengalami kesepian lebih rentan menunda tidur (Trost & Hast, 2. Hal ini menunjukkan bahwa loneliness dapat menjadi faktor dari bedtime procrastination. Hasil survei awal yang dilakukan oleh peneliti pada 54 mahasiswa yang berasal dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Sumatera Barat, menunjukkan bahwa 92% responden . melakukan bedtime procrastination. Ketika ditanya alasan menunda tidur, 56% responden menyatakan bahwa mereka merasa kesepian, kosong, dan sendiri. Lalu 30% memikirkan tentang masa depan dan 14% memikirkan masa lalu. Data ini memperkuat dugaan bahwa loneliness berkaitan dengan munculnya bedtime procrastination. Namun, kajian empiris di Indonesia yang secara spesifik meneliti hubungan loneliness dengan bedtime procrastination pada mahasiswa, khususnya di Sumatera Barat masih sangat Penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada variabel kontrol diri, regulasi diri, dan kecanduan media sosial sebagai faktor yang mempengaruhi bedtime procrastination. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui apakah loneliness 186 | Page e-ISSN: 2747-7538, p-ISSN: 2746-7538 Volume 6. Issue 2. Mei 2026 berhubungan dengan bedtime procrastination pada mahasiswa di Sumatera Barat. Alasan peneliti melakukan penelitian di Sumatera Barat ialah karena berdasarkan survei awal yang telah dilakukan, terdapatnya fenomena bedtime procrastination di Sumatera Barat. Posisi status ilmiah kedua variabel ialah bahwa loneliness adalah konstruk psikologis dimensional dan bedtime procrastination adalah perilaku dari kegagalan dalam pengaturan diri, bukan gangguan klinis ataupun neurologis yang menjadi penentu arah desain, instrumen dan interpretasi penelitian ini. Berdasarkan fenomena dan urgensi tersebut, peneliti bertujuan untuk menganalisis hubungan loneliness dengan bedtime procrastination pada mahasiswa di Sumatera Barat. Kebaruan penelitian ini terletak pada masih terbatas penelitian terkait loneliness terhadap bedtime procrastination. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menguji hubungan antara loneliness dengan bedtime procrastination pada mahasiswa di Sumatera Barat. Populasi pada penelitian ini yaitu mahasiswa di Sumatera Barat. Dalam penelitian ini tidak diketahui secara pasti jumlah populasinya, maka perhitungan jumlah sampel dapat menggunakan rumus Cochran (Sugiyono, 2. dan mendapat hasilperhitungan yaitu sebanyak 385 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Nonprobability Sampling dengan jenis purposive sampling yaitu metode pemilihan sampel dengan pertimbangan tertentu agar sesuai dengan fokus penelitian (Sugiyono, 2. Adapun kriterianya yaitu: Mahasiswa/I Aktif di Sumatera Barat Berdusia 18-25 tahun Tidak mempunyai diagnosa gangguan tidur Tidak mengonsumsi obat rutin Tidak mengonsumsi kafein setiap hari Penelitian ini dilakukan di Sumatera Barat pada tahun 2026. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu skala likert. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu Skala bedtime procrastination yang diadaptasi oleh peneliti sendiri berdasarkan teori Bedtime procrastination oleh (Kroese et al. , 2. Skala ini terdiri dari 7 aitem, dimana 3 aitem merupakan aitem favorable dan 4 lainya aitem unfavorable ( = 0,. Setiap pernyataan terdiri dari 5 pilihan jawaban yaitu (SS), sering (S), kadang-kadang (KK), jarang (J) dan tidak pernah (TP). Dan skala loneliness berdasarkan SELSA Scale berjumlah 12 aitem ( = 0,. dengan 3 item favorable dan 9 lainya aitem unfavorable yang telah diadaptasi oleh Pralisya et , . berdasarkan pada teori Weiss yang dikembangkan oleh Ditommaso & Spinner . Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji korelasi Spearman Rank, karena data tidak berdistribusi dengan normal dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Jeffreys's Amazing Statistics Program (JASP). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini melibatkan 386 responden yang berusia 18-25 tahun. Responden yang terlibat sesuai dengan kriteria yang telah peneliti tentukan. Responden jenis kelamin laki-laki sebanyak 129 mahasiswa . ,4%) dan responden perempuan sebanyak 257 mahasiswi . ,6%). Responde paling banyak berusia 21 tahun yaitu sebanyak 126 mahasiswa/i . ,6%). Deskripsi data penelitian disajikan berdasarkan hasil skor hipotetik yang digunakan dalam penelitian. Deskripsi tersebut meliputi skor minimal . , maksimal . , rata-rata . , dan skor deviasi (SD). 187 | Page e-ISSN: 2747-7538, p-ISSN: 2746-7538 Volume 6. Issue 2. Mei 2026 Tabel 1. Rerata Hipotetik dan Rerata Empirik Skala Loneliness dan Bedtime procrastination . Variabel/Dimensi Hipotetik Empirik Min Max Mean Min Max Mean Bedtime Loneliness Romantic loneliness 3,33 Family loneliness 3,33 Social loneliness 3,33 Berdasarkan tabel 1, perilaku bedtime procrastination memiliki nilai mean hipotetik yaitu 21 dan nilai mean empirik yaitu 22. Adapun nilai mean empirik yang diperoleh lebih besar dari nilai mean hipotetik yang bermakna bahwa bedtime procrastination pada mahasiswa yang di peroleh di lapangan lebih tinggi dari asumsi sebelumnya. Penilaian skala loneliness dilakukan secara simultan . ersama-sam. dimensi dan parsial . asing-masin. Berdasarkan tabel 10, secara simultan . ersama-sam. variabel loneliness memiliki nilai mean hipotetik yaitu 42 dan nilai mean empirik yaitu 38. Adapun nilai mean empirik lebih rendah dari nilai mean hipotetik yang bermakna bahwa loneliness pada mahasiswa yang diperoleh di lapangan lebih rendah dari asumsi sebelumnya. Secara parsial . asing-masin. variabel loneliness dibagi atas 3 dimensi, diantaranya: romantic loneliness, family lonelines, dan social loneliness. Dimensi romantic loneliness memiliki nilai mean hipoetetik sebesar 14 dan nilai mean empirik sebesar 14 juga. Dimensi family loneliness memiliki nilai mean hipotetik sebesar 14 dan nilai mean empirik sebesar 11. Dimensi social loneliness memiliki nilai mean hipotetik sebesar 14 dan nilai mean empirik Adapun nilai mean empirik pada romantic loneliness sama besar dengan nilai mean hipotetik yang bermakna bahwa loneliness pada dimensi romantic loneliness pada mahasiswa yang diperoleh dilapangan memenuhi asumsi sebelumnya. Adapun nilai mean empirik pada dimensi family loneliness dan social lonelines lebih rendah dari nilai mean hipotetiknya yang bermakna bahwa loneliness pada dimensi family loneliness dan social loneliness pada mahasiswa yang diperoleh di lapangan lebih rendah dari asumsi sebelumnya. Berdasarkan tabel 1, nilai hipotetik digunakan untuk mengelompokkan berdasarkan kategori bedtime procrastination dan loneliness ke dalam kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Tabel 2. Kategorisasi Bedtime Procrastination Rumus Skor Kategori X O M Oe 1,5 SD X O 14,1 Sangat Rendah M Oe 1,5 SD < X O M Oe 0,5 SD 14,1< X O 18,7 Rendah M Oe 0,5 SD < X O M 0,5 SD 18,7< X O 23,3 Sedang M 0,5 SD < X O M 1,5 SD 23,3< X O 27,9 Tinggi X > M 1,5 SD X > 27,9 Sangat Tinggi Total Presentase 2,3% 29,8% 30,3% 17,6% 19,9% Berdasarkan tabel 2, diperoleh perilaku bedtime procrastination pada mahasiswa secara umum berada pada kategori sedang. Rumus X O M Oe 1,5 SD M Oe 1,5 SD < X O M Oe 0,5 SD M Oe 0,5 SD < X O M 0,5 SD M 0,5 SD < X O M 1,5 SD Tabel 3. Kategorisasi Loneliness Skor Kategori Sangat X O 27 Rendah 27 < X O 37 Rendah 37 < X O 47 Sedang 47 < X O 57 Tinggi Presentase 4,9% 47,7% 33,2% 13,7% 188 | Page e-ISSN: 2747-7538, p-ISSN: 2746-7538 X > M 1,5 SD Volume 6. Issue 2. Mei 2026 X > 57 Total Sangat Tinggi 0,5% Tabel 4. Kategorisasi Dimensi Romantic loneliness Skor Kategori Sangat X O M Oe 1,5 SD XO9 Rendah M Oe 1,5 SD < X O M Oe 0,5 SD 9 < X O 12 Rendah M Oe 0,5 SD < X O M 0,5 SD 12 < X O 16 Sedang M 0,5 SD < X O M 1,5 SD 16 < X O 19 Tinggi Sangat X > M 1,5 SD X > 19 Tinggi Total Rumus Presentase 6,5% 33,7% 27,7% 25,4% 6,7% Tabel 5. Kategorisasi Dimensi Family loneliness Skor Kategori Sangat X O M Oe 1,5 SD XO9 Rendah M Oe 1,5 SD < X O M Oe 0,5 SD 9 < X O 12 Rendah M Oe 0,5 SD < X O M 0,5 SD 12 < X O 16 Sedang M 0,5 SD < X O M 1,5 SD 16 < X O 19 Tinggi Sangat X > M 1,5 SD X > 19 Tinggi Total Rumus Tabel 6. Kategorisasi Dimensi Social loneliness Skor Kategori Sangat X O M Oe 1,5 SD XO9 Rendah M Oe 1,5 SD < X O M Oe 0,5 SD 9 < X O 12 Rendah M Oe 0,5 SD < X O M 0,5 SD 12 < X O 16 Sedang M 0,5 SD < X O M 1,5 SD 16 < X O 19 Tinggi Sangat X > M 1,5 SD X > 19 Tinggi Total Rumus Presentase 621,2% 36,3% 35,2% 6,5% 0,8% Presentase 34,5% 35,5% 11,4% 5,7% Berdasarkan tabel diatas, secara simultan, loneliness pada mahasiswa berada pada kategori rendah, lalu diiringi oleh kategori sedang. Secara parsial, dimensi romantic loneliness dan family loneliness berada pada kategori rendah dan diiringi juga oleh kategori Dan social loneliness berada pada kategori sedang. Pada penelitian ini pengujian hipotesis menggunakan analisis spearman rho dengan bantuan software JASP. Analisis spearman rho digunakan karena data tidak berdistribusi dengan normal. Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel melalui distribusi non-parametrik. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara loneliness dengan bedtime procrastination pada mahasiswa di Sumatera Barat. Berikut hasil uji hipotesis yang disajikan pada tabel dibawah ini. Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis Korelasi Simultan Spearman Loneliness Ae Bedtime procrastination <0. Keterangan Signifikan Berdasarkan tabel 7, uji analisis korelasi spearman secara simultan . ersama-sam. diperoleh nilai korelasi A = 0,504 dengan sig. 001<0,05 yang berarti bahwa terdapat hubungan positif antara loneliness dengan bedtime procrastination secara simultan. Artinya 189 | Page e-ISSN: 2747-7538, p-ISSN: 2746-7538 Volume 6. Issue 2. Mei 2026 semakin tinggi tingkat loneliness maka semakin tinggi pula tingkat bedtime procrastination pada mahasiswa. Begitupun sebaliknya, semakin rendah tingkat loneliness maka semakin rendah pula tingkat bedtime procrastination mahasiswa. Artinya pada penelitian ini H0 di tolak dan H1 di terima. Tabel 8. Hasil Uji Hipotesis Korelasi Parsial Spearman Family Loneliness Ae Bedtime <0. Romantic loneliness Ae Bedtime <0. Social Loneliness Ae Bedtime <0. Keterangan Signifikan Signifikan Signifikan Berdasarkan tabel 8, uji analisis korelasi spearman juga dilakukan secara parsial . asing-masin. yang memperoleh hasil nilai sig. 001<0,05 untuk semua dimensi yang berarti bahwa terdapat hubungan romantic loneliness dengan bedtime procrastination dengan nilai korelasi A = 0. 777, terdapat hubungan family loneliness dengan bedtime procrastination dengan nilai korelasi A = 0. 543, dan juga terdapat hubungan antara social loneliness dengan bedtime procrastination dengan nilai korelasi A = 0. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis kategorisasi pada penelitian ini, perilaku bedtime procrastination pada mahasiswa di Sumatera Barat secara umum berada pada kategori sedang . ,38%), diikuti kategori rendah . ,8%), sangat tinggi . ,9%), tinggi . ,6%) dan sangat rendah . ,3%). Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa cenderung menunda waktu tidur, namun belum mencapai taraf yang ekstrem. Hasil ini selaras dengan penelitian Kroese et al. yang menemukan bahwa fenomena bedtime procrastination merupakan perilaku yang cukup umum terjadi pada kelompok dewasa muda, terutama di lingkungan kampus. Kroese et al. mendefinisikan bedtime procrastination sebagai kegagalan seseorang untuk tidur pada waktu yang telah direncanakan tanpa adanya alasan eksternal yang memaksanya untuk tetap terjaga. Kondisi ini tidak disebabkan oleh hambatan fisik, melainkan oleh kegagalan dalam pengelolaan diri. Nilai mean empirik bedtime procrastination (M = . yang sedikit lebih tinggi dari mean hipotetik (M = . mengindikasikan bahwa tingkat perilaku menunda tidur pada mahasiswa di lapangan sedikit melampaui asumsi sebelumnya. Hal ini dapat dijelaskan oleh konteks kehidupan kampus yang memberikan kebebasan waktu lebih besar dibandingkan masa sekolah menengah, sehingga mahasiswa memiliki keleluasaan dalam menentukan waktu tidur mereka namun seringkali tanpa disiplin yang memadai (Tavernier & Willoughby. Hasil analisis menunjukkan bahwa loneliness pada mahasiswa secara simultan berada pada kategori rendah . ,7%), diikuti kategori sedang . ,2%), tinggi . ,7%), sangat rendah . ,9%), dan sangat tinggi 90,5%). Nilai mean empirik loneliness secara keseluruhan (M = . lebih rendah dari mean hipotetik (M = . , yang bermakna bahwa tingkat kesepian mahasiswa di lapangan sedikit lebih rendah dari asumsi sebelumnya. Loneliness menurut DiTommaso & Spinner . Adalah variabel multidimensional sehingga diperlukan pengujian secara parsial . asing-masin. Secara parsial, dimensi romantic loneliness dan family loneliness berada pada kategori rendah dan social loneliness berada pada kategori sedang. Dimensi romantic loneliness memiliki mean empirik (M = . yang sama dengan mean hipotetiknya, menandakan bahwa 190 | Page e-ISSN: 2747-7538, p-ISSN: 2746-7538 Volume 6. Issue 2. Mei 2026 perasaan kesepian dalam konteks hubungan romantis pada mahasiswa di Sumatera Barat memenuhi ekspektasi rata-rata teoritis. Adapun dimensi family loneliness (M_empirik = 11 < M_hipotetik = . dan social loneliness (M_empirik = 12 < M_hipotetik = . keduanya berada di bawah mean hipotetik, yang mengindikasikan bahwa kesepian dalam konteks keluarga dan sosial lebih rendah dari yang diasumsikan sebelumnya. Berdasarkan hasil uji hipotesis simultan diperoleh nilai signifikan yaitu p= 0. <0,. dengan nilai korelasi sebesar A = 0,504 yang berarti terdapat hubungan positif sedang yang signifikan antara loneliness dengan bedtime procrastination pada mahasiswa di Sumatera Barat. Korelasi ini dikatakan sedang karena Sugiyono . mengkategorikan hasil penelitian ini pada kategori sedang pada kedua variabel dengan rentang nilai koefisien berada antara 0,4 Ae 0,6 yang bermakna semakin tinggi loneliness maka semakin tinggi pula bedtime procrastination mahasiswa. Begitupun sebaliknya, semakin rendah loneliness maka semakin rendah pula bedtime procrastination mahasiswa. Temuan ini mendukung hipotesis penelitian (H1 diterima. H0 ditola. dan selaras dengan sejumlah penelitian sebelumnya Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Xu et al. yang menghasilkan bahwa loneliness berkorelasi positif dengan bedtime procrastination pada mahasiswa Tiongkok yang menunjukkan semakin tinggi tingkat loneliness seseorang maka semakin besar kecenderungan mereka untuk melakukan bedtime procrastination. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Trost & Hast . temuan serupa ditemukan di Jerman, bahwa mahasiswa yang mengalami loneliness lebih rentan melakukan bedtime procrastination. Ketika diuji secara parsial pada masing-masing dimensi diperoleh nilai sig. 001<0,05 untuk ketiga dimensi. Nilai yang diperoleh ini diartikan bahwa dimensi romantic loneliness, family loneliness, dan social loneliness berhubungan positif secara signifikan dengan bedtime Diantara ketiga dimensi, ditemukan bahwa social loneliness memiliki hubungan sangat kuat dengan bedtime procrastination dengan nilai korelasi sebesar A = Menurut Arnett . , pada masa dewasa awal . Ae25 tahu. , individu sedang aktif membangun identitas dan hubungan sosial di luar keluarga. Jika proses ini terhambatAi misalnya karena kesulitan beradaptasi di lingkungan kampusAimahasiswa rentan mengalami kesepian sosial yang kuat. Kondisi inilah yang menjadi faktor utama mendorong perilaku menunda waktu tidur, karena kurangnya koneksi dengan teman sebaya memengaruhi pola perilaku mereka secara signifikan. Selanjutnya, romantic loneliness juga menunjukkan hubungan yang kuat dengan bedtime procrastination (A = 0,777, p < 0,. Romantic loneliness mengacu pada ketiadaan atau ketidakpuasan dalam relasi intim yang bermakna baik dalam hal kedalaman emosional maupun kedekatan fisik dengan pasangan (DiTommaso & Spinner, 2. Dimensi ini menjadi prediktor terkuat kedua setelah social loneliness. Sementara itu, family loneliness menunjukkan hubungan yang sedang dan tetap signifikan dengan bedtime procrastination (A = 0,543, p < 0,. Dimensi ini mengacu pada perasaan tidak memiliki keluarga yang memberikan rasa nyaman, aman, dan dukungan emosional yang memadai (DiTommaso & Spinner, 1. Meskipun nilai korelasinya lebih rendah dibandingkan dua dimensi lainnya, hubungan ini tetap bermakna secara statistik dan psikologis. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa loneliness berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan bedtime procrastination, namun bukan satu-satunya variabel yang mempunyai hubungan dengan bedtime procrastination. Meskipun penelitian ini tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat, temuan ini menunjukkan bahwa loneliness memiliki keterkaitan yang signifikan dengan bedtime procrastination dan berpotensi menjadi variabel yang relevan untuk diteliti lebih lanjut sebagai faktor prediktor. 191 | Page e-ISSN: 2747-7538, p-ISSN: 2746-7538 Volume 6. Issue 2. Mei 2026 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa bedtime procrastination mahasiswa umumnya berada pada kategori sedang. loneliness pada mahasiswa berada pada kategori rendah, dan secara parsial, dimensi romantic loneliness dan family loneliness berada pada kategori rendah dan social loneliness berada pada kategori sedang. Selanjutnya hasil analisis hipotesis secara simultan terdapat hubungan positif yang signifikan antara loneliness dengan bedtime procrastination dengan kekuatan sedang. Secara parsial, dimensi social loneliness memiliki hubungan positif yang sangat kuat serta signifikan dengan bedtime procrastination, lalu diikuti oleh dimensi romantic loneliness yang memiliki hubungan positif yang kuat serta signifikan dengan bedtime procrastination dan dimensi family loneliness memiliki hubungan positif yang sedang serta signifikan dengan bedtime Secara umum, temuan ini menegaskan bahwa aspek emosional, khususnya perasaan kesepian, memiliki peran penting dalam memengaruhi perilaku individu, terutama dalam kebiasaan tidur. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi loneliness dapat menjadi salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan dalam mengatasi perilaku bedtime procrastination. REFERENSI