Faktor Ae Faktor yang Berhubungan dengan Konsumsi Buah-Sayur pada Remaja di Daerah Rural-Urban. Yogyakarta Alfonsa Reni Oktavia1. Ahmad Syafiq2. Asih Setiarini3 Program Studi Di Keperawatan. STIKes Pertamedika. Jakarta. Indonesia Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok. Indonesia alfonsareni2710@gmail. Abstract Vegetable consumption of the Indonesian population is still low in the teen age group both in rural and urban areas. Consumption of fruits and vegetables in adolescents is important for preventing degenerative diseases. The aim of the study was to determine the factors associated with fruit and vegetable consumption in adolescents in rural-urban areas. This study used a cross-sectional research design in Yogyakarta with 196 rural-urban teens. The analysis used was univariate, bivariate, analysis. The results showed that teenagers in urban areas ate less vegetables. Whereas in teenagers in rural areas, they consume less fruit. There is a significant relationship between vegetable consumption in adolescents in rural areas with father's education level . = 0. and self-image perception . = 0. , while in urban areas there is a significant relationship between vegetable consumption and self-image perception . = 0. and education in adolescents . = 0. Fruit consumption in adolescents in rural areas that are significantly related is the perception of body image . = 0. , while in adolescents in urban areas that are significantly related is monthly money . = 0. Suggestions that can be given are provide health education about the importance of the benefits of vegetables and fruit. Keyword: fruit-vegetable consumption, adolescent, rural-urban Abstrak Konsumsi sayur-buah penduduk Indonesia masih rendah pada kelompok usia remaja baik di daerah rural dan urban. Konsumsi buah dan sayur pada remaja adalah hal yang penting untuk mencegah munculnya penyakit degeneratif. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada remaja di daerah rural dan urban. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional di Yogyakarta dengan jumlah 196 remaja rural dan urban. Uji Statistik yang digunakan adalah dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan remaja di daerah urban frekuensikonsumsi sayuran kurang dari 3 kali/hari, sedangkan pada remaja di daerah rural, frekuensi konsumsi buah kurang dari 3 kali/hari. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi sayuran pada remaja didaerah rural dengan tingkat pendidikan ayah . =0,. dan persepsi citra diri . =0,. , adapun di daerah urban ada hubungan yang signifikan antara konsumsi sayuran dengan persepsi citra diri . =0,. dan pendidikan pada remaja . =0,. Konsumsi buah pada remaja di daerah rural yang berhubungan signifikan adalah persepsi citra tubuh . = 0,. , sedangkan pada remaja di daerah urban yang berhubungan secara signifikan adalah uang bulanan . =0,. Saran yang dapat diberikan yaitu perawat bekerjasama dengan institusi pendidikan memberikan pendidikan kesehatan kepada remaja tentang pentingnya manfaat sayur dan buah. Kata kunci: konsumsi buah-sayur, remaja, rural-urban Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 ISSN: 2656-6222. DOI 10. 33088/jkr. Available online: https://jurnal. poltekkes-kemenkes-bengkulu. id/index. php/jkr 34 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 PENDAHULUAN Peningkatan konsumsi buah dan sayur hingga 600 g per hari dapat mengurangi penyakit di seluruh dunia sebesar 1,8%, serta mengurangi beban penyakit jantung iskemik sebesar 31%, stroke iskemik sebesar 19%, kanker perut sebesar 19%, penyakit esophagus 20%, penyakit paruparu 12%, dan kolorektal 2% (Karen L, et al, 2. Berdasarkan data Laporan Riskesdas tahun 2013 pada remaja berdomisili di daerah perkotaan yang kurang mengkonsumsi buah dan sayuran sebesar 93,2%, sedangkan remaja berdomisili di daerah pedesaan sebesar 95,3%. Rendahnya konsumsi buah dan sayur tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdiri atas jenis kelamin, uang bulanan, tingkat pendidikan orang tua, pengetahuan buah dan sayur, kesukaan, kepercayaan diri, dukungan teman sebaya, ketersediaan buah dan sayur, keterpaparan media massa dan persepsi citra tubuh. Usia remaja akhir di daerah urban makanan yang lebih dipilih adalah makanan cepat saji, sedangkan responden di daerah rural lebih sering memilih buah, sayuran dan daging sebagai makanan favorit (Suliburska, et al. , 2. Data Riskesdas DIY tahun 2013 menunjukkan rerata konsumsi buah penduduk umur 20-24 tahun sebesar 0,6 porsi/hari lebih rendah daripada rerata konsumsi jumlah porsi/hari buah DIY yaitu 0,7 porsi/hari. Hal tersebut tidak berbeda jauh dengan konsumsi sayur sebesar 1,6 porsi/hari lebih rendah daripada rerata konsumsi jumlah porsi/hari buah DIY yaitu Penelitian dilaksanakan di Universitas Negeri Yogyakarta Fakultas (UNY) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang terdiri dari dua lokasi yaitu di kota Yogyakarta sebagai perwakilan perkotaan . dan di kabupaten Kulon Progo dan Bantul sebagai perwakilan daerah pedesaan . Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada orang dewasa serta anakanak tanpa melihat latar belakang tempat tinggal di daerah rural atau urban. Masa remaja dan dewasa awal adalah periode kehidupan yang penting karena kebiasaan diet di masa kanak-kanak atau remaja cenderung tetap sama di masa dewasa (Lien, 2001. Mikkila, 2. Disamping itu dalam penelitian sebelumnya variabel buah dan sayur dijadikan satu, berbeda dengan penelitian ini yang memisahkan variable buah dan sayur yang dihubungkan dengan faktor individu dengan lingkungan. Oleh karena itu, kebiasaan konsumsi buah dan sayur dapat memiliki dampak yang lebih lama, dan dengan demikian, lebih signifikan terhadap kesehatan selama masa hidup. Beberapa penelitian sebelumnya tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada remaja didapatkan hasil ada keterpaparan media, pendapatan orang tua (Rachman, 2. Hasil penelitian ini dapat memberikan implikasi terhadap kebijakan kesehatan dengan memberikan bukti untuk mendorong konsumsi buah dan sayur pada kesehatan fisik dan mental di awal masa Oktavia, dkk. Faktor Ae faktor yang Berhubungan dengan Konsumsi Buah-Sayur . | 35 METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2017 menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah remaja di Fakultas PGSD UNY, sampel penelitian yaitu 186 orang dibagi menjadi dua lokasi yaitu wilayah rural dan urban. Lokasi kampus yang berada di wilayah urban (Kota Yogyakart. sebanyak 98 orang dan lokasi kampus yang berada di wilayah rural yaitu di Kabupaten Kulonprogo sebesar 98 Pengambilan sampel dengan tehnik sampling probablitas: simple random Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data primer. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah Kuesioner yang diisi sendiri oleh responden terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah kuesioner yang berisi pertanyaan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan gizi, kesukaan, media massa, dukungan teman sebaya (Farisa, 2. , pendidikan orang tua, citra tubuh, ketersediaan buah dan sayur, dan persepsi citra tubuh (Cornelia, 2. Kuesioner bagian kedua adalah Food Frequency Questionnaire (FFQ) Uji coba kuesioner dilakukan kepada subjek. Berdasarkan hasil uji validitas tentang konsumsi sayur. hitung>0,. Berdasarkan hasil uji validitas tentang konsumsi buah yaitu 0,444dan uji realibilitas kuesioner buah didapatkan . hitung >0,. Uji statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah chi square test. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Faktor Individu dan lingkungan konsumsi buah dan sayur di daerah rural dan urban Karakteristik Frekuensi konsumsi sayur Kurang Cukup Frekuensi konsumsi buah Kurang Cukup Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Uang Bulanan Rendah Tinggi Pendidikan Ayah Rendah Tinggi Kepercayaan Diri Kurang Baik Dukungan Teman Kurang Baik Baik Ketersediaan Buah dan Sayur Kurang Cukup Keterpaparan Informasi Kurang Sering Kesukaan Sayuran Tidak suka Suka Kesukaan Buah Tidak suka Suka Persepsi Citra Tubuh Kurang Normal Gemuk Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Rural Urban 36 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 Berdasarkan tabel 1 menunjukkan sebagai berikut: Frekuensi konsumsi sayuran yang kurang dari 3x per hari di daerah urban sebesar 57,1% lebih tinggi daripada di daerah rural sebesar 48%. Sedangkan responden yang mengkonsumsi buah kurang dari 2x per hari di daerah rural sebesar 85,7% lebih tinggi daripada di daerah urban sebesar 39,8%. Remaja yang berjenis kelamin perempuan banyak di daerah rural 66,3% dan urban 87,8% daripada remaja laki-laki. Jumlah uang saku pada remaja yang