Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 PENGETAHUAN REMAJA DAN PERILAKU PENCEGAHAN DISPEPSIA Winnerin Amanda Christie1. Evi Rokhayati2. Husnia Auliyatul Umma2. Dewinda Candrarukmi2 Program Studi Kedokteran. Fakultas Kedokteran. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia. Kode pos 57126 Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran. Universitas Sebelas Maret / RSUD Dr. Moewardi. Surakarta. Indonesia. Kode pos 57126 Info Artikel: Disubmit: 06-01-2026 Direvisi: 20-04-2026 Diterima: 04-05-2026 Dipublikasi: 26-05-2026 Penulis Korespondensi: Email: eviro@staff. Kata kunci: Dispepsia. Pengetahuan. Perilaku Pencegahan. Remaja DOI: 10. 47539/gk. ABSTRAK Dispepsia merupakan kondisi gangguan pencernaan yang umum terjadi pada remaja dan berkaitan dengan pola hidup tidak sehat. Pengetahuan tentang kesehatan menjadi fokus pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Remaja sebagai kelompok transisi rentan mengabaikan perilaku hidup sehat, termasuk pencegahan dispepsia. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi pengetahuan dengan perilaku pencegahan dispepsia. Penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan crosectional. Sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas Vi SMP Negeri 8 Surakarta . = . dengan total population Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data melalui dua tahap, yaitu analisis univariat dan Analisis bivariat menggunakan Uji Mann-Whitney dan Uji Spearman. Mayoritas responden memiliki pengetahuan dispepsia yang baik . 8%), sedangkan perilaku pencegahan dispepsia didominasi kategori cukup . 8%). Hasil analisis korelasi pengetahuan dengan perilaku pencegahan dispepsia tidak signifikan . = 0. p = 0. Tidak terdapat hubungan pendapatan orang tua dan perilaku pencegahan dispepsia . = 0. p = 0. serta tidak terdapat perbedaan bermakna berdasarkan jenis kelamin . = Sebaliknya, tingkat pendidikan terakhir orang tua menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku pencegahan dispepsia . = 0. p = 0. Hasil analisis menunjukkan pengetahuan tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan pada remaja. Pencegahan dispepsia yang efektif pada remaja bukan sekedar pengetahuan, diperlukan intervensi komprehensif yang mencakup faktor lingkungan dan keluarga. ABSTRACT Dyspepsia is a common digestive disorder among adolescents and is often associated with unhealthy lifestyles. Health knowledge has become one of the governmentAos main focuses in improving poblic health. Adolescents, as a transitional age group, are vulnerable to neglecting healthy behaviors, including dyspepsia prevention practices. This study aimed to analyze the correlation between knowledge and dyspepsia preventive behavior among adolescents. This study employed a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of all eighth-grade students of SMP Negeri 8 Surakarta . = . , selected using a total population sampling technique. Data were collected using questionnaires and analyzed through univariate and bivariate analyses. The bivariate analysis employed the Mann-Whitney and Spearman tests. Most respondents had good knowledge of dyspepsia . 8%), while dyspepsia preventive behavior was predominantly categorized as moderate . 8%). The correlation analysis Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 showed no significant association between knowledge and dyspepsia prevention behavior . = p = 0. In addition, no significant association was found between parental income and dyspepsia preventive behavior . = 0. p = 0. , and no significant differences were observed based on gender . = 0. In contrast, parental educational level showed a significant association with dyspepsia preventive behavior . = 0. p = 0. In conclusion, knowledge was not significantly associated with preventive behavior among adolescents. Effective dyspepsia prevention among adolescents requires more than knowledge alone, and should involve comprehensive interventions addressing both environmental and family factors. Keywords: Adolescents. Dyspepsia. Knowledge. Preventive Behavior PENDAHULUAN Pemerintah Indonesia telah mengupayakan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui penguatan literasi kesehatan (Roiefah et al. , 2. Namun, hingga tahun 2021 tingkat literasi kesehatan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah (Iqbal et al. , 2. Sekolah memiliki peran dalam membentuk perilaku hidup sehat peserta didik. Meskipun demikian, penerapan pola hidup sehat ini masih sering diabaikan terutama jika berada di luar lingkungan sekolah, seperti pola istirahat dan makan yang tidak teratur (Achmad Bagus & Faridha, 2. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah tingkat pengetahuan individu. Menurut teori Health Belief Model, pengetahuan akan memengaruhi persepsi dan keyakinan individu terhadap penyakit yang dicerminkan dalam perilaku Dengan demikian, maka perbedaan tingkat pengetahuan akan menyebabkan variasi persepsi dan perilaku kesehatan antar individu (Anees and Raul, 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu berhubungan dengan perilaku kesehatannya (Harmida et , 2. Dispepsia merupakan salah satu gangguan pencernaan yang umum terjadi pada remaja dan berkaitan dengan pola hidup tidak sehat. Dispepsia sering kali dianggap ringan, tetapi jika tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Penelitian sebelumnya menyebutkan beberapa komplikasi dispepsia, yaitu struktur esofagus, stenosis pilorus, perforasi lambung, serta kanker lambung dan esofagus (Sidik, 2. Prevalensi sindrom dispepsia secara global berkisar 5-11% dengan total insidensi 15-40% dari total populasi di dunia. Di Asia, prevalensi kejadian dispepsia mencapai 830% (Devi, 2024. Purnamasari, 2. Indonesia menduduki peringkat ketiga dengan kasus dispepsia terbanyak sedunia dengan prevalensi 40-50%. Selain itu, dispepsia di Indonesia juga termasuk dalam 10 besar penyakit tertinggi (Putri et al. , 2. Salah satu wilayah insidensi dispepsia yang cukup tinggi adalah Provinsi Jawa Tengah sebesar 57% (Dwi Maryani & Dewi Noorratri, 2. Penelitian di Indonesia mengenai korelasi pengetahuan dan perilaku pencegahan dispepsia dengan pendekatan perilaku preventif masih terbatas, terutama pada kelompok remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Simamora et al. , . menemukan adanya hubungan antara kedua variabel tersebut, namun penelitian ini dilakukan pada masyarakat usia dewasa dan aspek klinis tertentu, seperti infeksi Helicobacter pylori (Alajmi et al. , 2. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi pengetahuan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 remaja dengan perilaku pencegahan dispepsia, sebagai dasar pengembangan upaya promosi kesehatan dan pembentukan perilaku hidup sehat sejak dini. METODE Penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan cross-sectional. Desain ini digunakan untuk mengetahui korelasi pengetahuan dan perilaku pencegahan dispepsia pada remaja pada waktu yang bersamaan. Penelitian dilaksanakan pada seluruh siswa kelas Vi SMP Negeri 8 Surakarta pada tanggal 23-27 November 2025. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas Vi yang bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi yaitu siswa yang pernah menjalani operasi Besar sampel ditentukan menggunakan teknik total population sampling. Teknik ini dipilih karena jumlah populasi terjangkau dan memungkinkan untuk melibatkan seluruh subjek penelitian. Variabel bebas tingkat pengetahuan remaja mengenai dispepsia, variabel terikat perilaku pencegahan Pengetahuan dan perilaku pencegahan dispepsia pada remaja diukur menggunakan kuesioner baru yang telah divalidasi . aliditas konstru. dan diuji reliabilitasnya. Uji reliabilitas pada kuesioner tingkat pengetahuan dispepsia mendapatkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0. 761, dan kuesioner perilaku pencegahan dispepsia mendapatkan nilai Cronbach's Alpha 849 yang menunjukkan bahwa kedua kuesioner memiliki reliabilitas yang baik. Kuesioner tingkat pengetahuan mengenai dispepsia mencakup pengertian, faktor risiko, gejala, dan upaya pencegahan dispepsia. Kuesioner perilaku pencegahan dispepsia menilai kebiasaan makan, pola hidup, dan tindakan pencegahan terkait dispepsia. Skor kuesioner kemudian dikategorikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan skala Likert 4 poin menjadi tiga kategori, yaitu baik, cukup, dan kurang. Variabel perancu terkendali terdiri dari usia, jenis kelamin, pendapatan orang tua, tingkat pendidikan terakhir orang tua, dan riwayat operasi abdomen. Pengolahan dan analisis data menggunakan Uji Mann-Whitney dan Uji Spearman. Penelitian ini disetujui oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan RSUD Moewardi dengan nomor surat etik 2. 240/X/HREC/2025. HASIL Data Univariat Total dari 252 siswa didapatkan sebanyak 238 siswa yang sesuai dengan kriteria inklusi. Data tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Distribusi frekuensi karakteristik responden menunjukkan proporsi jenis kelamin yang seimbang antara laki-laki . %) dan perempuan . %). Proporsi terbesar responden berasal dari keluarga dengan pendapatan orang tua di bawah UMR . %). Adapun pendidikan terakhir orang tua didominasi lulusan SMA/K . 4%), diikuti sarjana . 9%). SMP . 2%), dan SD . 5%). Distribusi frekuensi variabel penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden penelitian berada pada kelompok dengan pengetahuan baik tentang dispepsia . 8%), diikuti pengetahuan cukup . 5%), dan pengetahuan kurang . 7%). Perilaku pencegahan dispepsia didominasi oleh kategori cukup . 8%), sedangkan hampir setengah responden menunjukkan perilaku pencegahan yang baik . 7%) dan hanya sebagian kecil yang kurang . 4%). Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden dan Variabel Penelitian Karakteristik Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendapatan Orang Tua Di bawah UMR Di atas UMR Tingkat Pendidikan Terakhir Orang Tua SMP SMA/K Sarjana Tingkat Pengetahuan Remaja Kurang Cukup Baik Perilaku Pencegahan Remaja Kurang Cukup Baik Frekuensi . Persentase (%) Data Bivariat Analisis bivariat dilakukan menggunakan Uji Spearman dan Uji Mann-Whitney. Analisis pendapatan orangtua, pendidikan terakhir orang tua dan tingkat pengetahuan remaja dengan perilaku pencegahan dispepsia dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil analisis disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2 Hasil Uji Spearman untuk Hubungan antara Pengetahuan Responden dengan Perilaku Pencegahan Dispepsia. Pendapatan Orang Tua, dan Pendidikan Terakhir Orang Tua Variabel Tingkat Pengetahuan Remaja Pencegahan Dispepsia Pendapatan Orang Tua Pencegahan Dispepsia Pendidikan Terakhir Pencegahan Dispepsia Orang Tua p-value Tabel 2 menunjukkan bahwa dan tingkat pengetahuan responden . = 0. p = 0. pendapatan orang tua . = 0. p = 0. tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perilaku pencegahan dispepsia. Sementara itu, pendidikan terakhir orang tua berhubungan signifikan dengan perilaku pencegahan dispepsia . = 0. p = 0. Uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan perilaku pencegahan dispepsia berdasarkan jenis kelamin responden. Hasil analisis perbedaan perilaku pencegahan dispepsia antara remaja laki-laki dan perempuan disajikan pada Tabel 3. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 Tabel 3 Hasil Uji Mann-Whitney untuk Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Perilaku Pencegahan Dispepsia Variabel Jenis Kelamin Remaja Mean Rank Laki-laki p-value Perempuan Tabel 3 menunjukkan nilai mean rank pada responden laki-laki sebesar 122. 74 dan responden perempuan sebesar 116. Hasil Uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin dengan perilaku pencegahan dispepsia pada remaja . = 0. BAHASAN Korelasi Pengetahuan Remaja dengan Perilaku Pencegahan Dispepsia Hasil uji Spearman, tingkat pengetahuan remaja tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan perilaku pencegahan dispepsia . = 0. Temuan penelitian ini bertentangan dengan konsep Health Belief Model yang menempatkan pengetahuan sebagai dasar pembentukan persepsi dan perilaku kesehatan (Wang et al. , 2. Hasil penelitian ini justru mengindikasikan bahwa peningkatan pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan perilaku kesehatan yang sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya. Penelitian tersebut melaporkan bahwa peningkatan pengetahuan melalui edukasi tidak selalu diikuti oleh perubahan perilaku yang bermakna atau berkelanjutan (Gamage & Jayawardana, 2. Adanya kondisi knowledgeAebehavior gap, kondisi remaja dapat memahami informasi kesehatan tetapi tidak memprioritaskan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari akibat pengaruh faktor psikososial, lingkungan sosial, kebiasaan, dan dukungan keluarga. Selain itu, faktor sosio-ekonomi, norma budaya, serta akses terhadap layanan kesehatan dilaporkan memiliki pengaruh yang lebih stabil terhadap perilaku kesehatan dibandingkan pengetahuan semata (Jauhari et al. , 2. (Osborne et al. , 2. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan signifikan antara stres dan gejala dispepsia fungsional pada remaja SMA . 2 = 55. p = 0. Nilai OR sebesar 5. 43 menunjukkan bahwa remaja yang mengalami stres berisiko 5. 43 kali lebih tinggi mengalami dispepsia dibandingkan remaja yang adaptif. Semakin tinggi tingkat stres, semakin besar kemungkinan terjadinya dispepsia fungsional (Sari Putri, 2. Hal tersebut sejalan dengan penelitian dari tinjauan 16 artikel menunjukkan bahwa dispepsia fungsional pada mahasiswa dipengaruhi oleh pola makan tidak teratur, stres tinggi, kualitas tidur buruk, konsumsi kafein, dan rendahnya aktivitas fisik (Sunday et al. , 2. Intervensi pencegahan dispepsia pada remaja perlu dirancang secara komprehensif dengan pendekatan multi-level, berfokus pada edukasi pengetahuan, pembentukan kebiasaan sehat, dukungan lingkungan sekolah, serta keterlibatan keluarga untuk meningkatkan perubahan perilaku yang lebih efektif dan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 Korelasi Pendapatan Orang Tua dengan Perilaku Pencegahan Dispepsia pada Remaja Hasil analisis bivariat menggunakan Uji Spearman menunjukkan bahwa pendapatan orang tua tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan perilaku pencegahan dispepsia pada remaja . = . yang mengindikasikan bahwa variasi pendapatan keluarga tidak memberikan kontribusi bermakna dalam membedakan perilaku pencegahan dispepsia pada siswa kelas Vi, sehingga perilaku pencegahan cenderung relatif seragam pada berbagai kelompok pendapatan. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa status sosial ekonomi keluarga merupakan determinan penting perilaku kesehatan anak dan remaja. Studi sebelumnya melaporkan bahwa keluarga dengan pendapatan lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan lebih baik dalam menyediakan makanan sehat, mengakses informasi kesehatan, dan mendukung perilaku hidup sehat (Gautam et al. , 2. (Okamoto, 2. Perbedaan hasil tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan fokus penelitian, di mana penelitian terdahulu menilai perilaku kesehatan secara umum, sedangkan penelitian ini secara spesifik menilai perilaku pencegahan dispepsia yang tidak memerlukan biaya besar atau akses layanan kesehatan khusus. Selain itu, variasi pendapatan pada populasi penelitian yang relatif sempit pada penelitian ini dapat menyebabkan pengaruh pendapatan sulit terdeteksi secara statistik. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi longitudinal sebelumnya bahwa tidak semua perilaku kesehatan remaja dipengaruhi oleh status sosial ekonomi, tergantung pada jenis perilaku dan konteks populasi yang diteliti. Perilaku pencegahan dispepsia, seperti makan teratur, menghindari makanan pemicu, dan menjaga pola istirahat, merupakan perilaku sederhana yang dapat dilakukan oleh remaja dari berbagai latar belakang ekonomi. Intervensi pencegahan dispepsia sebaiknya difokuskan pada edukasi dan pembiasaan perilaku sehat secara merata melalui pendekatan berbasis sekolah tanpa membedakan kelompok ekonomi (Belardinelli et al. , 2. (Saripati Harianja et al. , 2. Korelasi Pendidikan Terakhir Orang Tua dengan Perilaku Pencegahan Dispepsia pada Remaja Hasil analisis bivariat Spearman menunjukkan bahwa pendidikan terakhir orang tua memiliki hubungan signifikan dengan perilaku pencegahan dispepsia pada remaja . = 0. Namun, kekuatan hubungan tersebut tergolong sangat lemah . = 0. yang berarti kontribusi pendidikan orang tua terhadap perilaku pencegahan dispepsia para remaja secara praktis relatif kecil. Temuan ini mengindikasikan perilaku kesehatan remaja dipengaruhi oleh multifaktorial di luar pendidikan orang Hasil yang diperoleh mendukung temuan penelitian sebelumnya, pendidikan orang tua berperan dalam meningkatkan literasi kesehatan keluarga, terutama dalam pemahaman pola makan, pencegahan gangguan pencernaan, dan pengambilan keputusan kesehatan. Orang tua dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung mampu memberikan arahan dan contoh perilaku hidup sehat kepada anak, sehingga mendukung terbentuknya perilaku pencegahan (Gautam et al. , 2. Penelitian lain juga melaporkan bahwa rendahnya pendidikan orang tua berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 gastrointestinal pada remaja akibat keterbatasan pemahaman dan pengawasan terhadap perilaku kesehatan anak (Okamoto, 2. Pada penelitian ini memiliki implikasi praktis bahwa upaya pencegahan dispepsia perlu difokuskan pada intervensi yang lebih merata, khususnya melalui lingkungan sekolah sebagai pusat edukasi kesehatan yang dapat menjangkau seluruh remaja tanpa bergantung pada latar belakang pendidikan keluarga. Korelasi Jenis Kelamin dengan Perilaku Pencegahan Dispepsia pada Remaja Hasil pengujian statistik MannAeWhitney mengindikasikan bahwa jenis kelamin responden dengan perilaku pencegahan dispepsia tidak berbeda secara signifikan . = 0. Nilai mean rank pada responden laki-laki sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan, perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik, sehingga perilaku pencegahan dispepsia cenderung serupa pada kedua kelompok. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan adanya perbedaan gaya hidup berdasarkan jenis kelamin, yang berpotensi memengaruhi kesehatan pencernaan seperti pola diet, aktivitas fisik, dan faktor psikologis (Boraita et al. , 2. Perbedaan hasil tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan fokus penelitian dan karakteristik populasi. Penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada gaya hidup dan kualitas hidup secara umum, sedangkan penelitian ini secara spesifik menilai perilaku pencegahan dispepsia. Perbedaan cakupan populasi dan latar belakang budaya juga dapat memengaruhi pola perilaku kesehatan remaja. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan perbedaan signifikan berdasarkan jenis kelamin, memiliki implikasi praktis bahwa intervensi pencegahan dispepsia dapat diterapkan secara setara tanpa pembedaan gender. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif sebaiknya difokuskan pada faktor lain yang berpotensi lebih berpengaruh, seperti pendidikan orang tua, pola makan keluarga, dan kebiasaan sehari-hari, guna meningkatkan perilaku pencegahan dispepsia pada remaja secara lebih Keterbatasan Penelitian Interpretasi hasil penelitian ini harus mempertimbangkan sejumlah keterbatasan yang ada. Penggunaan kuesioner berpotensi menimbulkan bias informasi, seperti social desirability, recall, dan misclassification bias, sehingga jawaban responden dapat menjadi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya, terutama terkait perilaku pencegahan dispepsia. Selain itu, desain penelitian cross sectional memungkinkan adanya variabel perancu yang belum terkontrol, seperti riwayat gangguan lambung, akses informasi kesehatan, dan dukungan keluarga. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi hubungan antarvariabel. Desain ini juga hanya meneliti asosiasi antarvariabel sehingga tidak dapat dipastikan pengaruh pengetahuan terhadap perilaku atau sebaliknya. Kondisi ini dapat membatasi kemampuan generalisasi hasil penelitian ke populasi yang lebih luas. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 SIMPULAN DAN SARAN Hasil distribusi frekuensi variabel menunjukkan mayoritas remaja memiliki pengetahuan yang baik tentang dispepsia. Pada perilaku pencegahan, sebagian besar kategori cukup. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja mengenai dispepsia tidak memiliki korelasi signifikan dengan perilaku pencegahan dispepsia. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara pengetahuan dan perilaku, dan hasil ini terbatas pada siswa SMP Negeri 8 Surakarta sehingga tidak dapat digeneralisasikan lebih luas. Oleh karena itu, intervensi perlu dilakukan tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga faktor lingkungan dan keluarga agar perubahan perilaku yang berkelanjutan dalam pencegahan dispepsia. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain cohort atau case-control untuk menilai hubungan sebab-akibat antarvariabel. Selain itu, perluasan cakupan populasi atau penggabungan kategori dengan frekuensi kecil juga dianjurkan agar distribusi data lebih seimbang dan analisis lebih Pengendalian faktor perancu melalui analisis multivariat serta penggunaan metode pengukuran non-self-report juga disarankan untuk meminimalkan bias dan lebih komprehensif. RUJUKAN