Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 227 NIAT WIRAUSAHA SOSIAL : PERAN PRIORITAS PENGALAMAN. SELFEFIKASI WIRAUSAHA SOSIAL. DAN KEAMANAN FINANSIAL Indranila Kustarini Samsuria. Fitri Lukiastuti. Program Magister Manajemen Ae STIE Bank BPD Jateng . email: nila. fkundip@gmail. email: fitri25luki@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian untuk mengkaji hubungan atau pengaruh self efficacy, wirausaha sosial, prioritas pengalaman, dan keamanan finansial terhadap niat wirausaha sosial. Sampel penelitian terdiri dari mahasiswa MM STIE BPD Jateng sebanyak 100 orang. Data dianalisis menggunakan model persamaan struktural untuk menguji hubungan antara variabel-variabel tersebut, menggunakan PLS Hasil penelitian menunjukkan bahwa niat wirausaha sosial dipengaruhi secara signifikan oleh self-efikasi wirausaha sosial dan prioritas pengalamany dengan p value < 0,5. Selain itu, keamanan finansial juga berperan penting dalam mendukung niat wirausaha sosial. Individu dengan tingkat selfefikasi yang tinggi dan pengalaman praktis yang prioritas cenderung memiliki niat yang kuat untuk terjun ke wirausaha sosial. Keamanan finansial memberikan dukungan tambahan dengan mengurangi risiko dan ketidakpastian yang dihadapi oleh calon wirausaha sosial. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan program pelatihan dan kebijakan yang mendukung niat wirausaha sosial. Meningkatkan self-efikasi dan memberikan kesempatan pengalaman praktis dapat mendorong lebih banyak individu untuk terlibat dalam niat wirausaha sosial. Selain itu, menciptakan lingkungan yang mendukung keamanan finansial akan memperkuat keberhasilan niat wirausaha Saran penelitian lanjutan dengan teoritis yang kuat untuk mengeksplorasi, dan untuk meneliti dinamika niat wirausaha sosial dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhinya. Kata kunci: niat wirausaha sosial, prioritas pengalaman, keamanan finansial, self efficacy wirausaha ABSTRACT The purpose of this study was to examine the relationship or influence of self-efficacy, social entrepreneurship, priority experience, and financial security on social entrepreneurship intentions. The research sample consisted of 100 MM STIE BPD Jateng students. The data were analyzed using a structural equation model to test the relationship between these variables, using PLS version 4. The results showed that social entrepreneurship intentions were significantly influenced by social entrepreneurship self-efficacy and priority experience with a p value <0. In addition, financial security also plays an important role in supporting social entrepreneurship intentions. Individuals with high levels of self-efficacy and priority practical experience tend to have strong intentions to enter social entrepreneurship. Financial security provides additional support by reducing the risks and uncertainties faced by prospective social entrepreneurs. This study provides important implications for the development of training programs and policies that support social entrepreneurship intentions. Increasing self-efficacy and providing opportunities for practical experience can encourage more individuals to engage in social entrepreneurship intentions. addition, creating an environment that supports financial security will strengthen the success of social entrepreneurship intentions. Further research with strong theoretical support is recommended to explore and examine the dynamics of social entrepreneurship intentions and other factors that influence them. Keywords: social entrepreneurial intention, experience priority, financial security, social entrepreneurship, self-efficacy Pendahuluan Dalam beberapa dekade terakhir, wirausaha sosial telah menjadi fenomena global yang menarik perhatian banyak pihak, termasuk akademisi, praktisi, dan ISSN: 2337778X pembuat kebijakan. Wirausaha sosial adalah individu yang menciptakan dan mengimplementasikan solusi inovatif untuk masalah sosial yang mendesak, dengan tujuan utama menciptakan dampak E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 228 sosial positif daripada keuntungan finansial semata. Latar belakang penelitian ini memberikan kerangka teoritis yang kuat untuk mengeksplorasi, dan untuk memahami dinamika wirausaha sosial dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berikut adalah latar belakang penelitian yang menggabungkan konsep niat wirausaha sosial, self-efikasi wirausaha keamanan finansial, beserta tinjauan dari penelitian terdahulu. Pertama adalah Niat wirausaha sosial merujuk pada motivasi dan kecenderungan seseorang untuk memulai, mengembangkan dan menjalankan usaha Niat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk nilai-nilai pribadi, kepedulian atau kepekaan terhadap masalah sosial, pengalaman hidup, dan keinginan untuk membuat perubahan positif dalam masyarakat. Penelitian mengenai niat wirausaha sosial penting untuk memahami bagaimana dan mengapa individu tertarik untuk terlibat dalam kegiatan wirausaha yang berorientasi Menurut Ajzen . , dalam Theory of Planned Behavior, niat merupakan prediktor utama dari perilaku, termasuk dalam konteks wirausaha sosial. Beberapa peneliti terdahulu adalah tentang Niat wirausaha sosial atau Social Entrepreneurial Intention (SEI), yang mencerminkan rencana yang disengaja untuk terlibat dalam wirausaha sosial (Li ,Nuangjamnong, 2. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang bagaimana SEI menjadi hal pokok. Kewirausahaan sosial telah menjadi fokus utama bagi para peneliti yang berupaya memahami variasi niat wirausaha sosial (Li & Nuangjamnong, 2. Model SEI yang dikembangkan oleh Hockerts . memunculkan pengakuan luas karena keakuratannya secara teoretis dan empiris. Beberapa peneliti terdahulu: Mair dan Noboa . mengembangkan model intensi kewirausahaan sosial yang kewirausahaan dengan elemen-elemen ISSN: 2337778X kognitif dan afektif yang unik untuk wirausaha sosial. Hockerts . menemukan bahwa pengalaman hidup yang terkait dengan masalah sosial tertentu dapat meningkatkan niat individu untuk menjadi wirausaha sosial. Faktor kedua adalah Self-Efikasi Wirausaha Sosial. Self-efikasi wirausaha sosial adalah keyakinan individu terhadap kemampuan mereka untuk memulai dan berhasil dalam wirausaha sosial atsu mengelola usaha sosial dengan sukses. Konsep ini penting karena self-efikasi yang tinggi seringkali dikaitkan dengan peningkatan kinerja, ketekunan dalam menghadapi tantangan, dan kemampuan untuk mengatasi hambatan. Self-efikasi wirausaha sosial dapat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya, pendidikan, pelatihan, dan dukungan dari lingkungan Bandura . mendefinisikan self-efikasi sebagai keyakinan diri dalam menjalankan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu. Selfefikasi ini sangat penting dalam konteks mengambil risiko dan ketekunan dalam Self -efikasi wirausaha Menurut model ini, motivasi sosial seperti empati dan kewajiban moral, selfefikasi wirausaha sosial, dan dukungan sosial yang dirasakan menjadi faktorfaktor pendukung SEI. Lebih lanjut, model ini mengklaim bahwa faktor-faktor tersebut memediasi hubungan antara prioritas pengalaman dalam organisasi sosial dan SEI. Peneliti Terdahulu: Drnovek. Wincent, dan Cardon . menyoroti pentingnya self-efikasi dalam keyakinan ini dapat mempengaruhi proses dan hasil kewirausahaan. Urban . menunjukkan bahwa self-efikasi yang tinggi dapat meningkatkan peluang keberhasilan wirausaha sosial melalui peningkatan keterampilan manajemen dan E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 229 Faktor selanjutnya yang ketiga adalah Prioritas Pengalaman. Prioritas pengalaman merujuk pada pentingnya pengalaman praktis dalam mempengaruhi niat dan kemampuan seseorang untuk Pengalaman ini dapat berupa keterlibatan dalam kegiatan sosial, kerja sukarela, atau pengalaman kerja di sektor sosial. Pengalaman praktis dan kewirausahaan dalam bidang sosial membantu individu mengembangkan keterampilan, jaringan, dan pemahaman yang lebih baik tentang tantangan dan peluang dalam wirausaha sosial serta dapat sangat mempengaruhi niat dan kemampuan seseorang dalam Pengalaman membantu individu memahami realitas operasional, tantangan, dan peluang dalam wirausaha sosial. Disamping keamanan finansial yang mempengaruhi wirausaha sosial yang telah diteliti pada jurnal sebelumnya (Ukil et al. , 2. , self- efikasi wirausaha sosial, prioritas pengalaman juga diteliti hubungannya dengan niat wirausaha sosial. Peneliti Terdahulu: Politis . menyatakan bahwa memperkaya pengetahuan praktis yang berguna dalam mengelola usaha baru. Morris. Webb, dan Franklin . menekankan bahwa pengalaman dalam sektor sosial atau non-profit dapat wirausaha sosial. Faktor Keamanan Finansial. Keamanan finansial adalah kondisi di mana individu merasa stabil secara ekonomi dan memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dalam konteks wirausaha sosial, keamanan finansial wirausaha sosial seringkali menghadapi tantangan dalam memperoleh pendanaan dan menjaga keberlanjutan finansial Keamanan finansial yang memadai dapat memberikan rasa aman bagi wirausaha sosial untuk mengambil ISSN: 2337778X risiko dan berinovasi dalam wirausaha sosial tanpa harus khawatir tentang keberlangsungan hidup mereka sendiri. Individu yang merasa aman secara finansial lebih mungkin untuk mengejar inisiatif kewirausahaan tanpa rasa takut yang berlebihan terhadap kegagalan finansial pribadi. Meskipun model Hockerts dianggap komprehensif, kritik mengemuka terkait dengan kelalaian potensi motif pribadi, seperti motif Perbedaan mendasar antara wirausaha sosial dan komersial (Nga dan Shamuganathan, bahwa aspek finansial juga mungkin memaikan peran signifikan dalam keputusan memulai wirausaha sosial. Sebagai respons terhadap debat ini, penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi apakah motif pribadi, terutama motif finansial, dapat terkait dengan keputusan memulai wirausaha sosial. Beberapa penelitian mendukung argumen bahwa wirausaha sosial memiliki motivasi finansial yang berbeda dengan wirausaha Steinerowski et al. misalnya, menemukan bahwa wirausaha sosial tidak terlalu terdorong oleh keuntungan finansial, sementara tinjauan literatur Zahra et al. menunjukkan bahwa pertimbangan keuangan tetap memainkan peran kunci dalam keputusan wirausaha sosial. Beberapa penelitian juga menyoroti keinginan wirausaha sosial untuk mencapai keamanan finansial jangka panjang (Au et al. , 2. dan menciptakan keberlanjutan finansial tanpa mengorbankan misi sosial mereka (Zahra et al. , 2. Peneliti Terdahulu lain Kim dan Aldrich . menemukan bahwa keamanan finansial dan akses ke sumber daya finansial merupakan faktor penting Bacq. Hartog, dan Hoogendoorn . menunjukkan bahwa keamanan finansial wirausaha sosial untuk fokus pada misi sosial mereka tanpa terganggu oleh kekhawatiran finansial. Penelitian ini memiliki signifikansi yang tinggi dalam E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 230 konteks pengembangan wirausaha sosial dan dalam mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi niat dan keberhasilan wirausaha sosial. Dengan memahami hubungan antara Dengan faktor-faktor mempengaruhi niat wirausaha sosial, selfefikasi, prioritas pengalaman, dan kepentingan dapat merancang program dan kebijakan yang lebih efektif untuk mendukung perkembangan wirausaha niat, self-efikasi, pengalaman, dan keamanan finansial, para pembuat mengembangkan program dan kebijakan yang lebih efektif untuk mendukung perkembangan wirausaha sosial. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana keberhasilan wirausaha sosial dalam menghadapi tantangan sosial yang UMKM (Usaha Mikro. Kecil, dan Menenga. memainkan peran penting dalam perekonomian lokal. Data terbaru menunjukkan bahwa terdapat sekitar 923 UMKM terdaftar di kota Semarang, dengan mayoritas berada pada skala kecil sebanyak 7. 679, sementara 49 merupakan usaha mikro dan hanya 2 yang masuk kategori menengah (DataUMKM Semaran. Niat wirausaha di Semarang juga didorong oleh berbagai inisiatif dan meningkatkan semangat dan keterampilan Pemerintah Kota Semarang pelatihan dan seminar untuk membantu para pelaku UMKM mengembangkan usaha mereka dan memperluas pasar (DataUMKM Semaran. Salah satu contoh inisiatif tersebut adalah program "Semarang Go Internasional" yang seminar-seminar UMKM agar mampu bersaing di pasar global (UKMIndonesi. Fenomena gap dalam konteks wirausaha UMKM (Usaha Mikro. Kecil, dan Menenga. merujuk ISSN: 2337778X pada perbedaan antara kondisi ideal yang diinginkan dan kenyataan yang ada di Fenomena ini bisa terjadi dalam berbagai aspek, seperti akses ke niat wirausaha sosial, self-efikasi wirausaha sosial, prior prngalaman dan keamanan Menurut data dari BPS Kota Semarang, sektor UMKM menunjukkan berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota, peningkatan kesejahteraan ekonomi lokal (BPS Semaran. Secara keseluruhan, semangat kewirausahaan di Semarang terus berkembang dengan dukungan kuat dari pemerintah dan berbagai program yang membantu UMKM tumbuh dan beradaptasi dengan perkembangan pasar Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang, pada tahun 2023, terdapat berbagai informasi mengenai UMKM di Semarang dan niat BPS Kementerian Koperasi UKM melakukan Pendataan Lengkap Koperasi dan UMKM (PL-KUMKM) untuk menciptakan basis data tunggal Koperasi dan UMKM di Indonesia (Badan Pusat Statistik (BPS). Publikasi "Kota Semarang Dalam Angka 2023" yang dirilis BPS menyajikan data komprehensif mengenai berbagai aspek ekonomi dan perdagangan, termasuk kondisi UMKM. Data ini digunakan untuk membantu perencanaan dan evaluasi pembangunan di Kota Semarang (BPS Semaran. (BPS Semaran. Upaya ini penting untuk mengatasi tantangan yang dihadapi UMKM, seperti akses pembiayaan, akses pasar, dan teknologi informasi yang Basis data tunggal yang dikumpulkan Untuk mendapatkan data statistik UMKM di Kota Semarang tahun 2022. Anda bisa mengakses publikasi resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang. Keterkaitan antara niat wirausaha sosial dan UMKM sangat erat, terutama dalam konteks upaya pemberdayaan E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 231 Niat wirausaha sosial mengacu pada motivasi individu untuk memulai usaha dengan tujuan tidak hanya mencari menciptakan dampak sosial yang positif di masyarakat. Wirausaha sosial sering kali berfokus pada pemberdayaan komunitas lokal, terutama di sektor-sektor yang kurang berkembang. Mereka memberdayakan masyarakat setempat Hal ini sejalan dengan tujuan UMKM yang berperan sebagai motor penggerak ekonomi lokal. UMKM dengan niat wirausaha sosial sering berupaya mengatasi masalah sosial seperti Misalnya, mungkin memproduksi barang atau memenuhi kebutuhan sosial masyarakat, seperti produk ramah lingkungan atau layanan kesehatan terjangkau. Banyak UMKM yang dipandu oleh niat wirausaha kesejahteraan sosial dan lingkungan. Ini mencakup penggunaan bahan baku lokal, metode produksi ramah lingkungan, dan perusahaan (CSR). Wirausaha sosial sering kali mendapatkan dukungan dari berbagai program pemerintah dan organisasi nonpemerintah mendorong pertumbuhan UMKM dan wirausaha sosial. Misalnya, programprogram seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau pelatihan kewirausahaan dari pemerintah daerah dapat membantu UMKM dengan orientasi sosial untuk Melalui jaringan dan kemitraan dengan organisasi lain, wirausaha sosial dan UMKM dapat meningkatkan kapasitas mereka dalam hal manajemen, pemasaran. ISSN: 2337778X Telaah Pustaka Grand theory Hockerts's model menunjukan bahwa motif sosial seperti empati dan kewajiban moral, self-efficacy wirausaha sosial, dan dukungan sosial yang dipersepsikan adalah bagian dari mereka memediasi hubungan antara organisasi sosial dan niat wirausaha sosial. Model Hockerts adalah kerangka kerja yang dikembangkan oleh Kai Hockerts, seorang pakar dalam bidang keberlanjutan dan kewirausahaan sosial. Model ini menganalisis bagaimana perusahaan atau organisasi dapat mengembangkan inisiatif keberlanjutan yang sukses. Berikut adalah elemen-elemen Hockerts: Keberlanjutan Ekonomi, inisiatif keberlanjutan, dapat menciptakan nilai ekonomi. Ini mencakup efisiensi penciptaan pasar baru yang ramah Keberlanjutan Lingkungan, upaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Ini termasuk pengelolaan sumber daya, pengurangan emisi, daur ulang, dan penggunaan energi Keberlanjutan Sosial, fokus pada dampak sosial positif, seperti meningkatkan kesejahteraan komunitas, mendukung keadilan sosial. Keterkaitan Antar Elemen: Mengakui keberlanjutan ekonomi, lingkungan, dan Inisiatif yang sukses sering kali mencakup elemen dari ketiga bidang ini. (Ukil ,2. Menurut Hockerts . Model Hockerts membantu organisasi untuk keuntungan ekonomi semata, tetapi juga Ini sangat penting dalam konteks bisnis modern yang semakin menyadari pentingnya tanggung jawab sosial dan keberlanjutan. E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 232 Grand theory di atas adalah Hockerts's model dari niat wirausaha sosial/sosial entrepreneurial intention, yang mengusulkan bahwa motif sosial, seperti empati dan kewajiban moral, self efikasi wirausaha sosial, dukungan sosial yang dipersepsikan, prioritas pengalaman adalah pendahulu langsung dari niat kewirausahaan sosial. Selain itu, empati, kewajiban moral, self-efikasi wirausaha dipersepsikan dan keamanan finansial yang dipersepsikan memediasi hubungan antara prioritas pengalaman dan niat wirausaha sosial. Niat wirausaha sosial (NWS) adalah dorongan atau motivasi yang mendorong sesorang untuk memulai atau terlibat dalam usaha bisnis dengan tujuan utama untuk memberikan dampak positif pada masyarakat atau lingkungan sekitar. Niat ini tidak sematamata untuk mencari keuntungan finansial semata, tetapi juga untuk menyelesaikan atau mengatasi masalah sosial yang ada. Penelitian tentang niat wirausaha sosial telah membuat kemajuan yang signifikan, membuka jendela untuk pemahaman lebih mendalam tentang bagaimana niat wirausaha sosial seseorang berkembang (Hockerts, 2017. Ip et al. , 2017a. Kruse, 2020. Mair dan Noboa, 2. Upaya ini melibatkan pemahaman ciri kepribadian dan faktor institusi yang beragam, seperti ekstroversi, keterbukaan terhadap pengalaman, dan pendapatan per kapita, yang diketahui memiliki pengaruh positif terhadap (Hoogendoorn, 2016. Hsu dan Wang. Beberapa penelitian lebih lanjut mendekati pemahaman melalui teori perilaku terencana (Ajzen, 1. , menyoroti peran sikap pribadi, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan dalam membentuk niat wirausaha sosial (Kruse, 2. Prioritas pengalaman (PP) adalah pengalaman atau partisipasi individu dalam bekerja dengan perusahaan atau organisasi sosial yang sebagian besar menangani masalah sosial (Lacap et al, 2. Kegiatannya meliputi pengalaman menjadi sukarelawan dan melakukan pekerjaan sosial. Memiliki prioritas pengalaman dengan masalah sosial, seseorang dapat melakukan kewajiban moral, dan self-efikasi sosial ISSN: 2337778X (Lukman et al, 2. keamanan finansial yang dipersepsikan, yang diartikan sebagai cara individu memandang pendapatan dan menjaga keberlanjutan sumber pendapatan untuk masa depan, terutama dalam konteks tanggung jawab keluarga (Carter et al. , 2003. Munyon et , 2. Meskipun misi utama perubahan sosial, dan penciptaan nilai (Dacin et al. , 2010. Dees dan Anderson, 2. , kita tidak dapat mengabaikan pentingnya potensi ekonomi dalam wirausaha sosial (Dacin et al. , 2010. Meewella dan Sandhu, 2012. Zahra et al. Wirausaha sosial yang mampu mencapai keberlanjutan finansial dapat memberikan dukungan yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Meskipun demikian, fokus terlalu berat menimbulkan risiko terhadap misi sosial (Dees dan Anderson, 2. , seperti yang terjadi pada Grameen Bank yang keuangannya (Pearl dan Phillips, 2. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan menganggap keamanan finansial sebagai tujuan jangka panjang yang krusial (Au et , 2. Terkait dengan keamanan finansial (KF), penelitian menunjukkan variasi mengartikulasikan keinginan mereka, baik keuntungan minimum (Dencker et al. Higgins, 1. Oleh karena itu, perlu dibedakan antara memperoleh kesuksesan finansial dan mempertahankan keamanan finansial sebagai dua aspek wirausaha sosial, meskipun tidak terlalu tergerak oleh keuntungan finansial, tetap menginginkan keamanan finansial pada tingkat individu (Au et al. , 2021. Boluk dan Mottiar, 2. E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 233 Self Efikasi Wirausaha Sosial (SEWS),adalah keyakinan yang dimiliki seseorang dengan kemampuannya sendiri yang mampu menyelesaikan tugas yang bermanfaat dan bisa menguasai atas apa yang dikerjakan pada wirausaha sosial. Adanya Self efikasi di suatu usaha dapat memahami seberapa minat seseorang dalam berwirausaha (Zhao et al, 2. Model Penelitian Model penelitian ini adalah sebagai SEWS 2. populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa S2 MM STIE BPD jateng, tahun 2022- 2024, sebesar 432 orang. Sampel adalah bagian dari jumlah yang dimiliki oleh populasi tersebut, maka sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar representative atau mewakili (Sugiyono, 2. Untuk mengetahui banyaknya sampel yang akan digunakan untuk mewakili populasi dalam riset ini dapat ditetapkan dengan rumus Slovin sebagai berikut: n=N/. Ne. Keterangan: n = ukuran sampel N = Jumlah populasi e = batas toleransi kesalahan H5 ,H6 NWS H4,H7 Gambar 1 Model Penelitian Metode Penelitian Metode penelitian meliputi waktu, lokasi, teknik pengumpulan data, teknik sampling, definisi operasional variabel dan teknik analisis data. Sub bagian dapat diberikan penomoran bertingkat bila Sub-bab metode kualitatif dalam bagian ini dapat dibuat atau disesuaikan dengan isi penelitian, misalnya populasi dan sampel, teknik pengambilan data atau teknik sampling, definisi operasional variabel dan alat analisis, dll. Populasi keseluruhan dari unit yang akan diteliti yang merupakan sekumpulan unsur atau elemen yang menjadi informasi serta permasalahan dalam penelitian (Sugiyono. ISSN: 2337778X Dengan demikian besar sampel dalam penelitian ini dapat dihitung sebagai n = N/. Ne. n = 432 / . 432 x . ) n = 432 / 5,32 = 81,2 Berdasarkan hasil perhitungan menunjukan jumlah sampel minimal adalah sampel 81,2 responden. Namun untuk dalam penelitian ini jumlah responden dibulatkan menjadi 100 Selanjutnya Teknik penarikan sampel dari populasi yang ada dalam riset non-probability Sugiyono mengemukakan bahwa Non-probability sampling merupakan suatu Teknik yang tidak memberi kesempatan yang sama kepada semua elemen atau individu dari populasi untuk dijadikan sebagai sampel. Jenis sampling yang digunakan adalah dengan metode probability sampling Tabel 1 Pengaruh Langsung Hipote Hubungan Variabel Sampel Asli (O) Mean(M) STDEV O/STDE V (T Values Statisti. E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 234 PP iKF 0,328 0,330 2,9180 0,002 5. Hasil dan Pembahasan Prioritas pengalaman terhadap keamanan finansial PPiSEI 0,361 0,361 0,112 3,229 0,001 Prioritas pengalaman merujuk KF i SEI 0,110 0,104 0,095 1,159 0,123 menginvestasikan waktu dan uang dalam SEWSiSEI 0,412 0,417 0,101 4,080 0,000 kegiatan yang memberikan kepuasan emosional dan memori yang berharga. Sumber: Data primer yang diolah 2024. seperti perjalanan, hobi, atau pendidikan. Sedangkan Keamanan finansial adalah Untuk melakukan pengujian mediasi atau kondisi di mana seseorang merasa aman Hipotesis H6 dan H7 dalam penelitian ini dengan kondisi keuangan mereka saat ini dilakukan dengan melihat pengaruh secara dan di masa depan, termasuk memiliki Hasil cukup tabungan, investasi, dan asuransi pengaruh tidak langsung dalam penelitian untuk menghadapi berbagai situasi tak ini dapat diketahui dari Tabel berikut: Memprioritaskan pengalaman dapat menyebabkan pengeluaran impulsif Tabel 2. Perhitungan Pengaruh Tidak yang mengabaikan rencana keuangan Langsung jangka panjang. Namun, jika diatur Sampe Mean 0/STDEV( STDEV Hipote Hubungan dengan baik, ini dapat menjadi investasi l Asli T(M) P Values Variabel (O) mengorbankan keamanan finansial. Secara PPi 0,3 0,31 teori,bagimana H6 SEWS 0,083 3,739 0,000 keputusan finansial berdasakan prioritas iSEI pengalaman menunjukkan adanya trade of antara pengalaman dan keamanan PPi 0,0 0,03 finansial dengan faktor . sia, pendapatan. H7 KFi 0,083 3,799 0,142 (Smith & Johnson, 2. SEI Hasil penelitian menunjukan bahwa prioritas pengelaman berpengaruh positif Sumber: Data primer yang diolah 2024. dan signifikan terhadap keamanan Tabel 3. Nilai Koefisien Jalur Hasil penelitian ini sejalan Hipotesis Hubungan C (EWS-SEI) A (PPB (PPdengan penelitian Chen & Wang . Variabel SEI) EWS) yang menemukan bahwa individu yang cenderung mengutamakan pengalaman PPi SEWS 0. memiliki tingkat kesejahteraan finansial iSEI yang lebih rendah dalam jangka panjang dibandingkan dengan individu yang lebih Pengaruh Langung = 0. fokus pada keamanan finansial. Selain itu, juga sejalan dengan Lee. Lim, dan Pengaruh Tidak Langsung = 0. Kim . yang menyoroti pentingnya mempertimbangkan keseimbangan antara mengejar pengalaman hidup yang Pengaruh total = 0. memuaskan dan memastikan keamanan (BxC) finansial jangka panjang. Prioritas Pengalaman terhadap self Nilai VAF . ariance account fo. = 0. ycEyceycuyciycaycycEa ycNyccyco yaycaycuyciycycycuyci efikasi wirausaha sosial ycOyaya = ycEyceycuyciycaycycEa ycNycuycycayco Prioritas keputusan untuk lebih fokus pada Sumber: Data primer yang diolah 2024. PPiSEWS ISSN: 2337778X 0,750 0,755 0,050 14,863 0,000 E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 235 pengalaman hidup dibandingkan dengan pencapaian material. Dalam konteks wirausaha sosial, ini bisa berarti lebih mengutamakan pembelajaran, jaringan, dan pengalaman praktis daripada hanya Sedangkan Self-efikasi dalam wirausaha sosial adalah keyakinan diri seorang individu terhadap kemampuannya untuk mengembangkan usaha yang berorientasi pada dampak sosial. Ini melibatkan tantangan dan mencapai tujuan yang berdampak pada masyarakat. Dalam dunia wirausaha sosial, self-efikasi memainkan keberhasilan individu dan organisasi. Tingginya self-efikasi dapat meningkatkan kinerja seorang wirausaha sosial, karena keyakinan diri yang kuat membuat mereka lebih tahan terhadap tekanan, lebih kreatif dalam mencari solusi, dan lebih gigih dalam mencapai tujuan. Pengalaman memiliki peran penting dalam membentuk dan meningkatkan self-efikasi. Seorang wirausaha sosial yang memprioritaskan pengalaman akan lebih siap menghadapi tantangan dan memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat. Pengalaman positif, seperti kesuksesan dalam proyek-proyek sebelumnya, dapat meningkatkan selfefikasi, sedangkan pengalaman negatif, jika dikelola dengan baik, juga dapat menjadi sumber pembelajaran yang memperkuat self-efikasi. Secara teori, prioritas pengalaman mempengaruhi perkembangan self-efikasi wirausaha sosial dari waktu ke wktu. Indiidu yang konteks wirausaha sosial memiliki kecenderungan memiliki SEWS yang lebih tinggi. (Smith & Johnson, 2. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terhadap self efikasi wirausaha. Hasil ini sejalan dengan penelitian Chen L & Wang . yang menunjukkan bahwa individu memiliki lebih banyak peluang belajar ISSN: 2337778X yang kemudian meningkatkan self-efikasi dalam konteks wirausaha sosial. Demikian juga penelitian Garcya, & Lee . yang menunjukkan bahwa faktor-faktor budaya dapat memoderasi hubungan antara prioritas pengalaman dan self - efikasi wirausaha sosial Prioritas Pengalaman Terhadap Niat Wirausaha Sosial Dalam konteks wirausaha sosial, pemahaman dan empati terhadap masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Sedangkan Niat wirausaha sosial adalah keinginan dan tekad seseorang untuk memulai dan mengembangkan usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga bertujuan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat dan Niat ini sering kali menjadi langkah awal yang penting dalam perjalanan wirausaha sosial. Pengalaman hidup sering kali menjadi fondasi dari niat untuk berwirausaha sosial. Pengalaman tidak hanya memberikan wawasan tetapi juga membentuk motivasi untuk membuat perubahan yang berarti. Pengalaman memberikan gambaran nyata tentang tantangan yang dihadapi masyarakat, sehingga mendorong individu untuk mengambil tindakan melalui wirausaha Pengalaman ini juga meningkatkan Studi kasus menunjukkan terinspirasi untuk memulai usaha mereka setelah mengalami atau menyaksikan secara langsung masalah sosial yang Contoh-contoh memperlihatkan bagaimana pengalaman membentuk niat dan tekad untuk Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prioritas pengalaman memiliki pengaruh signifikan terhadap niat seseorang untuk menjadi wirausaha sosial. Dengan pengalaman yang kaya dan relevan, niat untuk memulai usaha yang berdampak pada masyarakat dapat tumbuh kuat, membawa perubahan positif yang E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 236 Keamanan Finansial Terhadap Niat Wirausaha Sosial Keamanan finansial sering kali menjadi salah satu pertimbangan utama bagi individu yang ingin terjun ke dunia wirausaha sosial. Keamanan finansial adalah kondisi di mana seseorang stabilitas ekonomi memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memiliki ketenangan berlebihan terhadap masalah keuangan. Ini penghasilan tetap, dan proteksi terhadap risiko keuangan yang tak terduga. Niat wirausaha sosial adalah tekad dan motivasi seseorang untuk memulai usaha yang berorientasi pada pemecahan masalah sosial sambil tetap berusaha menciptakan nilai ekonomi. Niat ini sering kali didorong oleh dorongan untuk membuat perubahan positif dalam keuntungan finansial. Stabilitas keuangan memberikan landasan yang diperlukan untuk mengambil risiko yang terlibat dalam wirausaha sosial. Keamanan mempengaruhi tingkat keyakinan dan kesiapan seseorang untuk memulai usaha Tanpa keamanan finansial yang memadai, niat untuk berwirausaha sosial Seseorang yang memiliki keamanan finansial yang kuat lebih mungkin untuk mengambil langkah konkret menuju wirausaha sosial. Mereka merasa lebih mampu untuk menghadapi ketidakpastian dan tantangan yang mungkin muncul. Para ahli menyarankan bahwa keamanan finansial merupakan elemen penting yang dapat mendukung niat berwirausaha Mereka menekankan pentingnya perencanaan dan pengelolaan keuangan keberlanjutan usaha sosial. Dengan keamanan finansial yang kuat, individu dapat lebih siap dan termotivasi untuk menghadapi tantangan dalam wirausaha ISSN: 2337778X sosial, memastikan bahwa mereka dapat mencapai tujuan sosial dan ekonomi secara bersamaan. Self efikasi wirausaha sosial terhadap niat wirausaha sosial Self-efikasi, atau keyakinan individu melakukan tugas tertentu, merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi niat seseorang untuk memulai wirausaha Self-efikasi wirausaha sosial adalah menjalankan dan mengembangkan usaha yang berfokus pada pemecahan masalah Keyakinan kemampuan untuk mengatasi tantangan, memecahkan masalah, dan menciptakan dampak positif melalui wirausaha sosial. Keyakinan pada kemampuan diri dapat mendorong seseorang untuk mengambil langkah berani dalam memulai usaha Ketika seseorang memiliki selfefikasi yang tinggi, mereka lebih termotivasi untuk memulai usaha sosial karena mereka percaya pada kemampuan mereka untuk mencapai kesuksesan dalam bidang tersebut. Keyakinan diri yang kuat membantu seseorang untuk mengatasi ketakutan dan keraguan yang sering kali muncul dalam proses berwirausaha sosial. Hal ini membuat mereka lebih cenderung untuk mewujudkan niat mereka. Pengalaman sukses dalam kegiatan sosial atau usaha sebelumnya dapat meningkatkan selfefikasi seseorang. Pembelajaran dari pengalaman ini membantu membangun keyakinan diri yang lebih kuat. Selfefikasi memberikan keyakinan pada tantangan dan hambatan yang mungkin muncul dalam perjalanan wirausaha sosial, sehingga memperkuat niat untuk memulai dan melanjutkan usaha tersebut. Beberapa self-efikasi refleksi pada pencapaian sebelumnya, menetapkan tujuan yang realistis, dan E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 237 secara aktif mencari peluang untuk belajar dan berkembang. Dengan self-efikasi yang tinggi, individu memiliki keyakinan diri yang kuat untuk menghadapi tantangan dan memberikan dampak positif melalui wirausaha sosial. Ketika seseorang memiliki pengalaman yang memperkuat keyakinan pada kemampuannya, selfefikasi meningkat. Peningkatan selfefikasi ini kemudian memediasi hubungan antara pengalaman dan niat, sehingga pengalaman menjadi lebih berdampak dalam mendorong niat wirausaha sosial. Wirausaha sosial seringkali dihadapkan pada tantangan yang unik, salah satunya adalah memastikan keseimbangan antara misi sosial dan keberlanjutan finansial. Pengalaman masa lalu sangat penting dalam membentuk niat seseorang untuk terjun ke dunia wirausaha sosial. Namun, memainkan peran kritis sebagai mediator dalam hubungan ini. Peran Mediasi Self Efikasi Wirausaha Sosial Pada Hubungan Prioritas Pengalaman Dengan Niat Wirausaha Sosial Pengalaman sering kali menjadi mempengaruhi niat seseorang untuk memulai wirausaha sosial. Namun, pengalaman saja tidak cukup untuk mendorong seseorang berani mengambil langkah tersebut. Self-efikasi, atau memainkan peran penting sebagai mediator yang memperkuat hubungan antara pengalaman dan niat wirausaha Pengalaman yang positif, seperti sebelumnya, dapat mendorong individu untuk mempertimbangkan wirausaha sosial sebagai pilihan karir yang nyata. Sebaliknya, pengalaman negatif juga dapat memberikan pelajaran berharga yang mengarahkan pada niat yang lebih matang dan terukur. Self-efikasi berperan sebagai mediator yang menghubungkan ISSN: 2337778X berwirausaha sosial. Pengalaman yang diprioritaskan oleh individu dapat meningkatkan self-efikasi, yang pada gilirannya memperkuat niat untuk memulai usaha sosial. Mediasi dalam konteks ini mengacu pada peran selfefikasi sebagai penghubung antara pengalaman dan niat wirausaha sosial. Self-efikasi menjadi jembatan yang mengubah pengalaman menjadi keyakinan yang mendorong tindakan. Prioritas pada pengalaman masa lalu, dikombinasikan dengan self-efikasi yang kuat, dapat secara signifikan mempengaruhi niat seseorang untuk memulai wirausaha Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa self efikasi wirausaha sosial mampu berperan sebagai mediasi pada hubungan antara prioritas pengalaman dengan niat wirausaha sosial. Self-efikasi wirausaha sosial dapat berperan sebagai mediasi dalam hubungan antara prioritas pengalaman dan niat wirausaha sosial karena keyakinan diri yang terbentuk dari pengalaman relevan dapat memengaruhi niat seseorang untuk berwirausaha sosial. Ketika seseorang memiliki pengalaman dalam proyek sosial atau bekerja dengan komunitas, pengalaman tersebut dapat meningkatkan keyakinan diri mereka terhadap kemampuan untuk sukses dalam wirausaha sosial, yang disebut self-efikasi. Self-efikasi yang tinggi kemudian mendorong individu untuk lebih berani dan percaya diri dalam mengejar niat mereka untuk terlibat dalam wirausaha Dalam hal ini, self-efikasi menghubungkan pengalaman dengan niat, di mana pengalaman meningkatkan selfefikasi, dan self-efikasi yang kuat pada akhirnya memperkuat niat seseorang wirausaha sosial. Oleh karena itu, selfefikasi wirausaha sosial merupakan faktor penting yang memediasi hubungan antara prioritas pengalaman dan niat wirausaha sosial, memperkuat hubungan tersebut dan E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 238 meningkatkan kemungkinan individu untuk terlibat dalam kegiatan wirausaha Peran mediasi keamanan finansial pada Prioritas Pengalaman dengan Niat Wirausaha Sosial Wirausaha dihadapkan pada tantangan yang unik, keseimbangan antara misi sosial dan keberlanjutan finansial. Pengalaman masa lalu sangat penting dalam membentuk niat seseorang untuk terjun ke dunia wirausaha Namun, faktor keamanan finansial juga memainkan peran kritis sebagai Pengalaman masa lalu berperan penting dalam membentuk niat untuk memulai wirausaha sosial. Individu yang memiliki pengalaman yang diprioritaskan dengan baik cenderung lebih percaya diri dan termotivasi untuk mengejar usaha sosial. Keamanan finansial berperan penting memberikan stabilitas yang diperlukan Tanpa keamanan finansial, niat untuk memulai wirausaha sosial akan terhambat oleh kekhawatiran tentang risiko dan ketidakpastian. Keamanan pelajaran dari pengalaman menjadi keputusan yang berorientasi pada aksi. Pengalaman yang berfokus pada aspek keuangan, seperti manajemen dana dan pengelolaan risiko, dapat meningkatkan keamanan finansial. Keamanan finansial ini kemudian memediasi hubungan antara pengalaman dan niat, dengan memastikan bahwa individu merasa cukup stabil secara finansial untuk mengejar usaha Keamanan finansial memainkan peran penting sebagai mediator dalam hubungan antara prioritas pengalaman dan Dengan memprioritaskan pengalaman yang tepat dan memastikan stabilitas keuangan, individu dapat memperkuat niat mereka untuk memulai dan mengembangkan usaha sosial yang berdampak. ISSN: 2337778X Hasil bahwa keamanan financial tidak mampu memediasi hubungan prioritas pengalam dan Niat Wirausaha Sosial. Hal ini dikarenakan wirausaha sosial sering kali didorong oleh motivasi non-finansial, seperti keinginan untuk memberikan dampak sosial dan membantu masyarakat. Dalam wirausaha sosial, fokus utamanya adalah pada pencapaian tujuan sosial daripada keuntungan finansial, sehingga meskipun keamanan finansial penting, hal ini mungkin tidak menjadi faktor utama yang mempengaruhi niat untuk terlibat dalam wirausaha sosial. Sebaliknya, pengalaman yang relevan dalam konteks menghadapi masalah sosial atau bekerja dengan komunitas, cenderung memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap niat seseorang untuk berwirausaha sosial. Oleh karena itu, meskipun keamanan finansial dapat memberikan dukungan, peran pengalaman dalam membentuk niat untuk terjun ke wirausaha sosial lebih dominan, sehingga keamanan finansial tidak cukup kuat untuk memediasi hubungan ini secara efektif. Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dijabarkan, maka kesimpulan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Prioritas pengalaman berpengaruh positif dan signifikan terhadap keamanan Persepsi prioritas pengalaman yang semakin baik akan meningkatkan persepisi terhadap keamanan financial. Prioritas pengalaman berpengaruh positif dan signifikan terhadap self-efikasi wirausaha sosial. Persepsi prioritas pengalaman yang semakin baik akan meningkatkan persepsi terhadap selfefikasi wirausaha sosiual. Prioritas pengalaman berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat wirausaha Persepsi prioritas pengalaman yang semakin baik akan meningkatkan persepsi terhadap niat wirausaha social. E - ISSN: 2685 - 1504 Jurnal Magisma Vol. XII No. 2 Ae Tahun 2024 | 239 Keamanan finansial tidak berpengaruh terhadap niat wirausaha sosial Hal ini menunjukan keamanan finansial tidak menjadi faktor penentu untutk memiliki niat berwirausaha sosial. Self-efikasi wirausaha sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat wirausaha sosial. Semakin baik self meningkatkan niat wirausaha social. Keamanan finansial tidak mampu memediasi hubungan antara prioritas pengalaman dengan niat wirausaha sosial. Self-efikasi wirausaha sosial mampu memediasi hubungan antara Prioritas pengalaman dan niat wirausaha sosial. DAFTAR PUSTAKA