JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X ANALISIS PENERAPAN ASESMEN FORMATIF PADA MATA PELAJARAN IPAS UNTUK SEKOLAH DASAR Dhika Mukhlis Muamar1*. Sry Suryaningsih2, & Widia3 SDN 3 Nunggi. Wera. NTB. Indonesia STKIP Harapan Bima. NTB. Indonesia Email: muamardhika@gmial. Artikel Info Abstrak Sejarah Artikel Diterima: 11 Sep 2025 Direvisi: 01 Okt 2025 Dipublikasi: 15 Okt 2025 Penerapan asesmen formatif di sekolah dasar merupakan faktor kunci dalam peningkatan mutu pembelajaran, karena tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi tetapi juga sebagai sarana untuk terus meningkatkan proses belajar mengajar. Namun, di Kabupaten Wera, praktik asesmen formatif masih menghadapi berbagai tantangan, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana guru mata pelajaran IPAS di sekolah dasar memahami dan menerapkan asesmen formatif dalam pembelajaran, serta mengidentifikasi kebutuhan pengembangan profesional guru terkait asesmen tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 50 responden . uru IPAS) melalui observasi dan penyebaran angket, serta dilengkapi dengan analisis kualitatif atas temuan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih bergantung pada buku paket . %), tidak menggunakan hasil asesmen sebagai dasar perbaikan proses pembelajaran . %), serta belum menjadikan indikator capaian siswa sebagai tolok ukur keberhasilan . % berharap adanya pelatiha. Kesimpulannya, penerapan asesmen formatif di Kecamatan Wera belum optimal dan lebih bersifat administratif. Rekomendasi penelitian ini adalah perlunya pelatihan berkelanjutan, penyusunan pedoman asesmen formatif berbasis kebutuhan siswa, serta pendampingan praktis bagi guru agar asesmen benar-benar berfungsi sebagai instrumen peningkatan mutu Kata kunci: Asesmen Formatif. Guru Sekolah Dasar. IPAS. Pembelajaran. Pelatihan Guru Article Info Abstract Article History Received: Sep 11st, 2025 Revised: Oct 01st, 2025 Published: Oct 15st, 2025 The implementation of formative assessment in elementary schools is a key factor in improving the quality of learning, as it functions not only as an evaluation tool but also as a means of continuously enhancing the teaching and learning process. However, in Wera District, the practice of formative assessment still faces various challenges in both planning and implementation. This study aims to analyze the extent to which IPAS subject teachers in elementary schools understand and apply formative assessment in their teaching, as well as to identify teachersAo professional development needs related to its implementation. descriptive quantitative approach was employed, involving 50 respondents (IPAS teacher. through observations and questionnaires, complemented by qualitative analysis of field The results revealed that most teachers still relied on textbooks . %), did not use assessment results as a basis for improving the learning process . %), and had not adopted student achievement indicators as measures of success . ith 100% of respondents expressing the need for trainin. In conclusion, the implementation of formative assessment in Wera District remains suboptimal and largely administrative in nature. The study recommends continuous training, the development of student-centered formative assessment guidelines, and practical mentoring for teachers to ensure that assessment truly functions as an instrument for improving learning quality. Keywords: Formative Assessment. Elementary Schools. Teacher Professional Development. Learning Improvement PENDAHULUAN Pendidikan dasar merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Pada jenjang ini, anak-anak mulai membangun literasi, numerasi, rasa ingin tahu, dan kebiasaan belajar yang akan berpengaruh besar terhadap perjalanan intelektual dan karakter mereka di masa depan. Untuk memastikan fondasi tersebut kuat, proses pembelajaran tidak boleh sekadar berorientasi pada capaian angka, melainkan perlu didampingi oleh asesmen yang sensitif terhadap perkembangan siswa. Salah satu instrumen penting yang berperan besar dalam hal ini adalah asesmen formatif, yakni proses penilaian berkelanjutan yang memberikan umpan balik terhadap proses belajar siswa. Asesmen formatif bukan hanya untuk menilai hasil, melainkan menjadi sarana reflektif bagi guru dan siswa agar pembelajaran lebih bermakna (Black & Wiliam, 2018. Wiliam, 2. JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X Namun, kenyataan di lapangan sering kali jauh dari harapan. Hasil observasi awal di beberapa Sekolah Dasar di Kecamatan Wera. Kabupaten Bima menunjukkan problematika yang cukup serius. Pertama, asesmen formatif masih dilaksanakan dengan hanya mengacu pada isi buku paket, tanpa adaptasi sesuai kebutuhan siswa. Kedua, pelaksanaannya lebih bersifat rutinitas administratif daripada didasarkan pada kebutuhan belajar yang nyata. Ketiga, hasil asesmen tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki proses pembelajaran maupun treatment yang diberikan guru. Keempat, asesmen formatif tidak dianggap sebagai indikator keberhasilan siswa, sehingga keberadaannya lebih berfungsi sebagai pelengkap. Kondisi ini jelas menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep ideal asesmen formatif dengan implementasi nyata di sekolah (Wahyuni & Suryadi, 2021. Wasis, 2. Situasi tersebut menimbulkan konsekuensi yang Ketika asesmen formatif dijalankan hanya sebagai rutinitas tanpa makna, tujuan pendidikan sulit tercapai. Guru kehilangan sumber informasi penting untuk menuntun intervensi pedagogis yang tepat waktu, sementara siswa kehilangan kesempatan menerima umpan balik yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Tidak sedikit guru akhirnya terjebak pada penilaian sebagai syarat administrasi atau sekadar alat pengukur akhir, bukan sebagai sarana untuk memahami dan membimbing proses belajar siswa (Rusman, 2020. Kemendikbudristek, 2. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya menyadarkan kembali fungsi sejati asesmen formatif sebagai jantung proses pembelajaran. Berbagai kajian telah menegaskan bahwa asesmen formatif berperan signifikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Umpan balik yang konstruktif memungkinkan siswa mengenali kelebihan dan kelemahannya, sekaligus memotivasi mereka untuk melakukan perbaikan. Guru juga memperoleh dasar yang kuat dalam merancang strategi pembelajaran berikutnya, sehingga tidak lagi terjebak pada pendekatan satu arah (Sadler, 2019. Carless, 2. Wiliam . bahkan menekankan bahwa asesmen formatif yang dirancang secara terencana membantu guru menyesuaikan pengajaran secara real time. Dengan demikian, asesmen formatif bukan sekadar pengumpulan data, melainkan strategi pedagogis interaktif yang menjembatani proses belajar dengan capaian hasil belajar. Selain itu, perkembangan teknologi juga membuka peluang besar dalam mendukung asesmen formatif. Kajian literatur menunjukkan bahwa asesmen formatif berbasis daring mampu mempercepat pemberian umpan balik, mempermudah pelacakan perkembangan, serta menyajikan data agregat yang berguna untuk analisis kelas (Gikandi. Morrow, & Davis. Vendlinski et al. , 2. Akan tetapi, potensi tersebut kerap terbatas oleh kendala infrastruktur dan literasi digital guru, sehingga efektivitas penerapan teknologi masih belum merata (Stacey. Steinle, & Brown. Hal ini memperlihatkan bahwa teknologi bukanlah solusi tunggal, melainkan perlu diiringi peningkatan kapasitas guru dan dukungan lingkungan belajar yang memadai. Meski beragam inovasi telah diperkenalkan, praktik di lapangan menunjukkan bahwa perbaikan belum berjalan optimal. Pelatihan guru dan penyediaan perangkat asesmen memang dilakukan, tetapi implementasi kerap terhambat oleh keterbatasan waktu, beban administrasi, serta kurangnya instrumen yang praktis digunakan di kelas (Wasis, 2020. Wahyuni & Suryadi, 2. Oleh sebab itu, intervensi perbaikan asesmen formatif tidak cukup dengan menyediakan perangkat teknis, melainkan juga harus mempertimbangkan kondisi nyata guru, dinamika kelas, serta kemudahan operasional agar asesmen benarbenar menjadi bagian organik dalam pembelajaran sehari-hari. Pada akhirnya, membenahi asesmen formatif di Sekolah Dasar bukan semata persoalan teknis, melainkan perubahan paradigma. Paradigma ini menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran yang aktif, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang memahami dinamika emosi, motivasi, serta kebutuhan belajar anak. Jika paradigma tersebut terwujud, asesmen formatif akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, reflektif, dan bermakna, bukan sekadar evaluasi nilai. Dengan demikian, pendidikan dasar akan lebih berpeluang melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh, kreatif, dan berkarakter (Kemendikbudristek, 2. Meskipun demikian, hasil-hasil penelitian tersebut juga memperlihatkan adanya keterbatasan dalam penerapan asesmen formatif. Banyak guru yang masih menganggap asesmen hanya sebagai alat administratif, bukan sebagai instrumen reflektif untuk memperbaiki pembelajaran (Brookhart, 2017. Rusman, 2. Maka, tujuan dari penelitian ini adalah memperbaiki kualitas pembelajaran dasar, terutama pada proses asesmen pembelajaran sekolah dasar. Untuk itu, agar permasalahan penelitiana tidak membias. JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X dibuatkan pertanyaan penelitian sebagai berikut: . Bagaimana model asesmen formatif yang kontekstual dan adaptif yang diterapkan di seoklah? . Bagaimana tindaklanjut dari asesmen yang dilakukan?. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pemilihan desain ini bertujuan untuk menggali secara mendalam fenomena implementasi asesmen formatif pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di Sekolah Dasar se-Kecamatan Wera. Kabupaten Bima, dengan subyek penelitian 50 guru sebagai responden. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk memahami realitas praktik di lapangan secara kontekstual, naturalistik, dan humanis, sehingga dapat menghasilkan gambaran yang utuh mengenai tantangan dan peluang penerapan asesmen formatif (Creswell & Poth, 2. Tahapan penelitian dilakukan sebagai berikut: . Persiapan: melakukan studi literatur tentang asesmen formatif, menyusun instrumen penelitian . edoman observasi, pedoman wawancara, dan kuesioner sederhan. , serta mengurus izin penelitian di sekolah yang dituju. Observasi awal: mengamati pelaksanaan asesmen formatif pada mata pelajaran IPAS di beberapa sekolah dasar di Kecamatan Wera untuk mendapatkan gambaran umum. Pengumpulan data utama: meliputi wawancara mendalam dengan guru, siswa, dan kepala sekolah. observasi praktik pembelajaran. serta telaah dokumen (RPP, catatan penilaian, hasil pekerjaan sisw. Triangulasi data: memverifikasi temuan dari berbagai sumber . uru, siswa, dokume. agar data lebih valid. Analisis dan refleksi: menganalisis data untuk menemukan pola, tema, serta kesenjangan antara konsep ideal asesmen formatif dan praktik lapangan. Pelaporan: menyusun hasil penelitian berupa rekomendasi aplikatif yang relevan dengan konteks sekolah dasar di daerah rural. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: . Pedoman observasi: untuk mencatat pelaksanaan asesmen formatif, strategi guru dalam memberikan umpan balik, serta keterlibatan siswa dalam proses refleksi. Pedoman wawancara: digunakan untuk menggali persepsi guru, kepala sekolah, dan siswa tentang makna, tantangan, dan manfaat asesmen formatif. Lembar telaah dokumen: menelaah RPP, perangkat asesmen, serta catatan penilaian siswa yang digunakan guru. Angket respon: untuk memetakan pandangan umum guru tentang kesulitan dan kebutuhan mereka dalam mengimplementasikan asesmen formatif. Teknik Pengumpulan Data, menggukan . Observasi partisipatif: dilakukan secara langsung dalam kelas, khususnya saat pembelajaran IPAS. Wawancara mendalam . n-depth intervie. : dilakukan dengan guru kelas, kepala sekolah, dan beberapa siswa untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif. Studi dokumentasi: menelaah catatan asesmen, perangkat pembelajaran, serta data hasil belajar siswa. Sedangkan Teknik Analisis Data menggunakan analisis tematik (Braun & Clarke, 2. , melalui langkahlangkah: . Membaca dan menelaah ulang seluruh data hasil observasi dan dokumentasi. Memberi kode . pada data sesuai tema yang muncul . isalnya: pemahaman guru, praktik asesmen, hambatan, pemanfaatan hasi. Mengelompokkan kode menjadi kategori dan subtema. Menarik kesimpulan sementara yang kemudian diverifikasi dengan data lain . Menyusun narasi penelitian yang menggambarkan kondisi aktual serta rekomendasi perbaikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Temuan Hasil Observasi Berdasarkan observasi awal pada beberapa Sekolah Dasar di Kecamatan Wera. Kabupaten Bima, ditemukan bahwa praktik asesmen formatif belum sepenuhnya berjalan sesuai konsep yang ideal. Pertama, penerapan asesmen formatif masih sebatas mengacu pada buku paket tanpa adanya adaptasi terhadap kebutuhan siswa. Kedua, asesmen formatif dilaksanakan lebih sebagai formalitas administrasi dan tidak dirancang berdasarkan kebutuhan belajar individual siswa. Ketiga, hasil asesmen tidak digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran maupun treatment yang diberikan guru. Keempat, asesmen formatif tidak dipandang sebagai indikator keberhasilan siswa, melainkan hanya pelengkap dari keseluruhan proses pembelajaran. JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X Hasil Angket Data angket yang diberikan kepada 50 guru IPAS di Kecamatan Wera memperkuat temuan observasi Pertama, sebanyak 75% responden menyatakan penerapan asesmen formatif masih mengacu pada buku paket, 20% sudah mencoba mencari sumber lain seperti internet atau buku tambahan, sedangkan hanya 5% yang berinisiatif mengembangkan instrumen sesuai kebutuhan siswa. Kedua, 80% responden tidak menggunakan hasil asesmen formatif untuk memperbaiki proses belajar mengajar, sementara 20% hanya memperbaiki instrumen tes untuk asesmen sumatif di akhir semester. Ketiga, 90% responden mengakui tidak menetapkan indikator capaian ketika melakukan asesmen formatif untuk mengidentifikasi permasalahan belajar siswa, sedangkan hanya 10% yang melakukannya. Keempat, 100% responden berharap adanya pelatihan atau workshop terkait fungsi, tujuan, dan implementasi asesmen Aspek Temuan Sumber Kesesuaian Dasar proses pembelajaran Indikator keberhasilan siswa Tabel 1. Ringkasan Hasil Temuan Penelitian Hasil Observasi Hasil Angket Hanya mengacu pada 75% responden masih menggunakan format dari buku buku paket 20% mencari dari sumber lain . uku/interne. 5% mulai mengembangkan sendiri sesuai kebutuhan Tidak berdasarkan 80% responden tidak menggunakan hasil asesmen kebutuhan belajar siswa formatif untuk memperbaiki proses pembelajaran. hanya memperbaiki instrumen untuk asesmen sumatif akhir semester Tidak dijadikan sebagai 90% responden tidak menetapkan indikator capaian memperbaiki untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa. hanya 10% proses dan treatment yang mulai menetapkan indikator Tidak dijadikan indikator 100% responden berharap adanya pelatihan/workshop tentang fungsi, tujuan, dan implementasi asesmen Pembahasan Asesmen Formatif dan Realitas Lapangan Temuan penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep asesmen formatif yang ideal dengan implementasi nyata di lapangan. Black dan Wiliam . menekankan bahwa asesmen formatif sejatinya berfungsi memberikan umpan balik berkelanjutan, sehingga guru dapat menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Namun, temuan di Wera menunjukkan praktik asesmen formatif masih sebatas formalitas dan belum digunakan sebagai alat diagnostik pembelajaran. Hal ini sejalan dengan penelitian Wahyuni dan Suryadi . yang menemukan bahwa guru cenderung menggunakan asesmen formatif sebagai kewajiban administratif, bukan sebagai instrumen pedagogis. Ketergantungan pada Buku Paket Ketergantungan guru pada buku paket . %) memperlihatkan rendahnya inisiatif inovasi dalam merancang asesmen. Padahal. Brookhart . menyebut bahwa asesmen formatif harus bersifat adaptif, fleksibel, dan kontekstual agar sesuai dengan gaya belajar siswa. Situasi ini juga diperkuat oleh studi Carless . yang menegaskan pentingnya kreativitas guru dalam merancang instrumen yang tidak hanya mengukur, tetapi juga membimbing siswa untuk belajar lebih baik. Pemanfaatan Hasil Asesmen Hasil temuan bahwa 80% guru tidak memanfaatkan hasil asesmen untuk memperbaiki pembelajaran menegaskan lemahnya fungsi asesmen sebagai alat refleksi. Menurut Wiliam . , tanpa pemanfaatan hasil asesmen untuk pengambilan keputusan, asesmen formatif kehilangan makna dasarnya. Studi Sadler . menambahkan bahwa feedback yang konstruktif adalah kunci untuk mengurangi kesenjangan antara JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X hasil belajar siswa dengan target capaian. Dalam konteks ini, guru di Kecamatan Wera melewatkan peluang emas untuk menjadikan asesmen sebagai sarana perbaikan berkelanjutan. Tidak Ada Indikator Capaian Temuan bahwa 90% guru tidak menetapkan indikator capaian menunjukkan kelemahan serius dalam perencanaan pembelajaran. Hal ini bertentangan dengan prinsip asesmen formatif yang berbasis pada tujuan dan indikator pembelajaran yang jelas (Andrade & Cizek, 2. Tanpa indikator capaian, guru sulit mengidentifikasi kesenjangan belajar siswa dan tidak mampu memberikan intervensi yang tepat. Penelitian Wasis . dalam konteks IPA di sekolah dasar juga mengungkap bahwa tanpa indikator capaian, asesmen hanya berfungsi sebagai catatan nilai, bukan sebagai alat pembelajaran. Harapan terhadap Pelatihan Guru Menariknya, seluruh responden . %) berharap adanya pelatihan atau workshop tentang asesmen Fakta ini menunjukkan adanya kesadaran guru terhadap pentingnya asesmen, meski belum diimbangi dengan kompetensi praktis. Penelitian Gikandi. Morrow, dan Davis . menekankan bahwa pelatihan guru sangat penting dalam mengoptimalkan asesmen, terutama di era digital yang menuntut pemanfaatan teknologi dalam proses evaluasi. Hal ini relevan dengan kebijakan Kemendikbudristek . yang menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas guru dalam pembelajaran dan asesmen Kurikulum Merdeka. Triangulasi Data Triangulasi antara hasil observasi dan angket menunjukkan konsistensi data: asesmen formatif di Kecamatan Wera masih minim inovasi, jarang dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar, tidak berbasis indikator capaian, tetapi di sisi lain ada keinginan kuat guru untuk belajar dan memperbaiki praktik Hal ini memberikan dasar kuat untuk menyusun program intervensi berupa pelatihan dan penyusunan instrumen asesmen formatif yang humanis, adaptif, dan sesuai kebutuhan siswa. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mendeskripsikan kelemahan praktik asesmen formatif, tetapi juga memberikan arah solusi berbasis kebutuhan guru dan siswa. Gambar 1. Hasil Responden Tentang Penerapan Asesmen Formatif JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X Hasil observasi dan angket menunjukkan bahwa praktik asesmen formatif di SD Kecamatan Wera masih jauh dari fungsi idealnya. Mayoritas guru masih menggunakan asesmen formatif hanya berdasarkan buku paket . %), sementara sangat sedikit yang mengembangkan instrumen sesuai kebutuhan murid . %). Hal ini mengindikasikan adanya kecenderungan asesmen yang bersifat administratif, bukan Padahal, menurut Black dan Wiliam . , asesmen formatif seharusnya bersifat reflektif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan individual siswa. Lebih lanjut, data angket menunjukkan bahwa 80% guru tidak menjadikan hasil asesmen formatif sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran. Fenomena ini sejalan dengan temuan Sadler . , bahwa tanpa tindak lanjut, asesmen formatif kehilangan makna dan hanya menjadi pengulangan Padahal, studi terbaru dari Hattie dan Timperley . menegaskan bahwa feedback dari asesmen formatif merupakan salah satu faktor paling berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar. Dengan demikian, guru perlu memahami bahwa nilai utama asesmen formatif terletak pada penggunaan hasilnya untuk memperbaiki pembelajaran. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah indikator capaian. Data menunjukkan 90% guru tidak menetapkan indikator capaian saat melakukan asesmen formatif. Hal ini menunjukkan lemahnya pemetaan tujuan pembelajaran dan kebutuhan murid. Penelitian Carless dan Boud . menegaskan bahwa asesmen formatif harus berbasis tujuan yang jelas . oal-reference. , sehingga siswa dan guru sama-sama memahami arah pembelajaran. Tanpa indikator capaian, guru sulit mengidentifikasi kelemahan belajar siswa, dan asesmen hanya berhenti pada angka, bukan makna. Menariknya, meskipun praktik masih minim, 100% responden menyatakan harapan untuk mendapatkan pelatihan/workshop tentang fungsi, tujuan, dan implementasi asesmen formatif. Fakta ini menguatkan bahwa guru memiliki kesadaran awal akan pentingnya asesmen formatif, meski keterampilan praktiknya masih terbatas. Hal ini sejalan dengan studi Lopez-Pastor et al. yang menekankan pentingnya pengembangan profesional guru dalam asesmen formatif melalui pelatihan berkelanjutan. Jika triangulasi dilakukan antara hasil observasi, data angket, dan teori, tampak adanya kesenjangan antara pengetahuan dan praktik guru. Observasi menunjukkan asesmen formatif masih dilaksanakan secara prosedural, data angket menguatkan bahwa hasil asesmen tidak digunakan secara reflektif, sementara teori menegaskan bahwa asesmen formatif efektif bila digunakan sebagai strategi pembelajaran yang Dengan demikian, penelitian ini menegaskan perlunya intervensi berupa pelatihan berbasis praktik nyata yang mendorong guru menggunakan asesmen formatif sebagai bagian integral dari proses pembelajaran, bukan sekadar formalitas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan bahwa penerapan asesmen formatif masih belum optimal karena sebagian besar guru masih berorientasi pada buku paket . %), tidak menggunakan hasil asesmen untuk memperbaiki proses pembelajaran . 90%), serta belum menjadikan indikator capaian sebagai tolok ukur keberhasilan siswa, sehingga asesmen lebih bersifat administratif daripada pedagogis. Selain itu, 100% responden menyatakan membutuhkan pelatihan atau workshop tentang fungsi, tujuan, dan implementasi asesmen formatif, yang menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman guru terhadap makna asesmen formatif sebagai instrumen peningkatan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan perlunya pengembangan kompetensi guru melalui pelatihan berkelanjutan, penyusunan pedoman asesmen formatif berbasis kebutuhan siswa, pendampingan profesional melalui supervisi akademik atau coaching, serta integrasi asesmen formatif dengan prinsip Kurikulum Merdeka agar benar-benar mampu mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa, berorientasi kompetensi, dan berkelanjutan. JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X DAFTAR PUSTAKA