Jurnal Abdimas PHB Vol.5 No.1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Deradikalisme dan Toleransi Pada Generasi Muda di SMA Dharma Loka Pekanbaru William Wijaya1, Germent Basri2, Yudi3, Ronaldo Tan Virgian4, Kelvin Ariesryo5 1,2,3,4,5 Program Studi Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Internasional Batam Jl. Gajah Mada, Baloi Permai, Kec. Sekupang, Kota Batam Kepulauan Riau 29442, +627787437111 e-mail: *1williamwijaya25@gmail.com Abstrak Toleransi dan radikalisme merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal ini juga menjadi sebuah kekhawatiran untuk generasi muda di Indonesia, karena kita tidak begitu tahu seberapa besar pemahaman mereka tentang hal tersebut. SMA Dharma Loka Pekanbaru merupakan sekolah dengan siswa dominan buddhis, hal ini menjadikan sekolah tersebut sebagai objek yang tepat untuk melakukan sebuah penyuluhan webinar tentang toleransi dan radikalisme. Dengan bantuan bapak Komisaris Polisi Ferizal kami berhasil mengadakan sebuah sosialisasi ke siswa SMA Dharma Loka dengan hasil yang positif. Kata kunci: Toleransi dan Radikalisme, SMA Dharma Loka Pekanbaru, Webinar 1. PENDAHULUAN Secara harfiyah kata ‘Toleran’ bermakna sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian ( pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb.) seseorang yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Adapun kata ‘toleransi’ bermakna sikap atau sifat toleran. Modal dasar memupuk sikap toleransi antarsesama dalam kehidupan sosial. (Mutiara, 2016) SMA Dharma Loka merpupakan salah satu sekolah dimana 90% populasi siswa mereka beragama Buddha, menjadikan sekolah ini cukup cocok untuk menjadi objek observasi dimana kita dapat melihat pendapat setiap siswa yang tumbuh di Indonesia sebagai seorang minoritas dan pendapat mereka mengenai toleransi dan radikalisme. Dengan begitu kami akhirnya melakukan sebuah sosialisasi yang di bantu oleh pihak kepolisian wilayah Riau untuk menyediakan narasumbernya. Toleransi dan radikalisme merupakan 2 hal yang akan selalu saling berhubungan, toleransi adalah bermurah hati dalam pergAaulan, sabar, tenggang rasa, bersikap memberikan atau memberikan kebebasan kepada pendirian orang lain sekalipun bertentang dengan pendiri sendiri 1. Lalu menurut A Faiz Yunus dari Universitas Indonesia radikalisme merupakan paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau dratis.2 1 Agung Suharyanto, Peranan Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Membina Sikap Toleransi Antar Siswa, (Medan: Universitas Medan Area, 2013). Hal 198 2 A Faiz Yunus, Radikalisme, Liberalisme dan Terorisme: Pengaruh Terhadap Agama Islam, (Jakarta: Universitas Indonesia , 2017). Hal 80 7 Jurnal Abdimas PHB Vol.5 No.1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Dikarenakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia, dan juga memiliki kultur dan perbedaan dimana-mana, maka tidak jarang toleransi dan radikalisme menjadi sebuah topik yang sering terjadi di lingkungan Indonesia. Mulai dari diskriminisasi antar agama suku hingga pandangan yang berbeda. Tidak jarang juga terjadi beberapa tindakan radikalisme terutama organisasi yang mengaku mewakili sebuah pandangan dan melakukan tindakan terorisme untuk menerapkan pendangan mereka dengan metode yang biasanya berhubungan dengan kekerasa fisik ataupun sejenisnya. Tidak dapat dipungkiri lagi walaupun Indonesia merupakan negara yang sangat berbedabeda namun terdapat satu hal yang dapat di katakan sebagai sebuah mayoritas yaitu pembagian agama di Indonesia, meskipun pemerintah Indonesia sudah menyutujui beberapa agama yang dapat di pilih oleh setiap penduduk Indonesia, menurut World Population Review Indonesia memiliki 87% penduduk yang beragama muslim (Indonesia Population 2021, 2020). Tentu saja dengan jumlah segitu maka tidak asing lagi bahwa dalam beberapa masa ini terjadi beberapa tindakan radikalisme yang menginginkan perubahan negara Indonesia dari negara yang bervariasi menjadi negara yang hanya memiliki satu pandangan saja. dan juga biasanya pandangan tersebut akan di terapkan dengan cara kekerasan. Tujuan dari jurnal dan observasi ini adalah untuk mencari tahu bagaimana pengetahuan umum generasi muda tentang kedua hal tersebut, toleransi dan radikalisme. Namun tidak terbatas pada hal tersebut saja disini kami juga berusaha untuk secara tidak langsung membantu mereka untuk bisa mendapatkan setidaknya pengetahuan umum tentang yang Namanya toleransi dan radikalisme. Namun secara tidak langsungpun pengetahuan umum tentang adanya tindakan radikalisme di Indonesia menjadi sebuah isu yang sebenarnya cukup jarang di bahas, terutama mereka yang masih muda dan masih bersekolah, bahkan kadang kala juga ada beberapa organisasi yang memanfaatkan kurangnya pengetahuan tentang radikalisme untuk mendekati mereka yang masih dalam proses tumbuh untuk menumbuhkan rasa atau sikap radikalisme di dalam diri mereka sejak sekolah. 2. METODE Pengumpulan data ini bersifat kuantitatif dengan mengunakan Teknik pengumpulan data berupa obervasi langsung, wawancara, dokumentasi serta juga sedikit penulusuran data online terkait deskripsi tentang radikalisme dan toleransi. 2.1 Teknik pengumpulan data a. Obeservasi (more detail) Observasi atau pengamatan merupakan suatu Teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadpa kegiatan yang sedang berlangsung. 3 Dalam penelitian ini di gunakan obervasi langsung yaitu langsung mengunjungi tempat yang akan di obervasi yaitu sekolah yang akan menjadi objek dalam penelitian b. Dokumentasi Dokumentasi yaitu pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subjek penelitian, namun melalui dokumen, yaitu menghimpun data fisik terkait dengan permasalahan yang diteliti. Disini objek yang akan di dokumentasikan adalah mulai dari hasil wawancara dan juga tempat objek dari penelitian yaitu sekolah itu sendiri. 3 Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research, (Bandung: Alumni, 1995). Hal 170. 8 Jurnal Abdimas PHB Vol.5 No.1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X 2.2 Teknik pengolahan data a. Editting, Pemeriksaan Kembali data yang di peroleh terutama dalam segi kejelasan makna, keselarasan, dan relevansi dalam penelitian. b. Organizing, Menyusun Kembali data-data yang sudah di kumpulkan dalam proses penelitian dan sudah di atur dalam kerangka yang sudah di rencakan sebelumya. 2.3 Teknik analisis data Data yang akan di analisis adalah hasil wawancara antar penulis dan beberapa subjek yang berasal dari sekolah yang di tuju oleh penulis untuk obersvasi. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelumnya penulis menjelaskan bahwa toleransi dan radikalisme adalah dua hal yang akan selalu berhubungan maka dari itu pembahan dari kedua hal tersebut akan dipisahkan dan nantinya akan di bahas secara bersama lagi. 3.1 Toleransi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti dari toleransi adalah sifat atau sikap toleran. Lalu arti dari toleran itu sendiri adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbebda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Jadi dengan begitu kita dapat mengetahui kalau sikap toleransi adalah sebuah sikap dimana kita bisa menerima atau membolehkan sebuah padangan yang berbeda dari pandangan kita sendiri. Sejak dahulu tentu saja di perlukannya pengajaran tentang sikap toleransi dan menurut penulis, Indonesia adalah salah satu negara yang paling memerlukan pengajaran sifat tersebut, tidak hanya di karenakan perbedaan dalam pandangan saja, namun karena besarnya populasi indonesia dan luasnya wilayah indonesia juga secara langsung artinya memiliki berbagai macam perbedaan dalam segi tradisi, suku, agama, kondisi. Tentu saja dengan adanya sifat toleransi ini maka tidak akan adanya terjadi kasus diskriminasasi antar mayoritas dan minoritas. 3.2 Radikalisme Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, arti dari kata radikal dalam bidang politik adalah amat keras menuntut perubahan (undang-udang, pemerintahan). Jadi radikalisme juga bisa di artikan sebagai sebuah tindakan keras yang menuntut perubahan. Jadi deradikalisme adalah sebuah proses atau sebuah tindakan dimana kita membantu mereka yang memiliki sifat radicalism untuk bisa menghilangkan sifat tersebut. Secara tidak langsung juga sifat radikal merupakan sifat yang sangat bertentangan dengan sifat toleransi yang kita inginkan, di karenakan sifat radikal akan selalu menentang apapun yang berbeda dengan padnagan mereka. Maka dari itulah kenapa sifat toleran dan radikal akan selalu berhubungan seperti koin, dua sisi yang berbeda namun masih satu. Dengan meminta bantuan beberapa siswa SMA dari sekolah obeservasi, mereka di berikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan toleransi dan radikalisme, berikut adalah pertanyaan yang di berikan : 1. Menurut kalian, apa arti dari toleransi dan radikalisme ? 2. Selama masa sekolah hingga sekarang, pernah tidak kalian dikenalkan / diajari topik toleransi ataupun radikalisme ? a. Jika iya, bagaimana tanggapan kalian dengan pelajaran tersebut? 9 Jurnal Abdimas PHB Vol.5 No.1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X 3. Apakah kalian tinggal di linkungan yang bervariasi? (Agama, atau suku) a. Jika iya, gimana hubungan kalian dengan mereka yang berbeda? b. Jika tidak, apakah kalian merasa kalau tidak ada yang bervariasi karena adanya perbedaan? 4. Jika agama/suku kalian mayoritas di sekolah jawab pertanyaan A, jika tidak maka jawab pertanyaan B a. Bagaimana pandangan kalian terhadap keadaan kalian sndiri yang merupakan seorang mayoritas ? apakah kalian mungkin ada berharap sedikit lebih bervariasi? b. Bagaimana perasaan atau pandangan kalian sebagai seorang minoritas, apakah mungkin mendapatkan perlakuan yang berbeda ? atau kalian tidak keberatan atau tidak merasakan perbedaan apapun? 5. Hingga sekarang ,apakah kalian pernah melihat kasus yang berhubungan tentang toleransi atau radikalisme? Jika iya, bisa di jelaskan bagaimana kasusnya 6. Hingga sekarang, apakah kalian pernah melihat kasus yang berhubungan tentang toleransi atau radikalisme di luar lingkungan kalian? (berita atau sejenisnya), jika iya, bagaiman pendapat kalian tentang hal tersebut. 7. Menurut kalian, bagaiman keadaan pengetahuan tentang toleransi dan radikalisme di kalangan generasi muda? a. Jika menurut kalian masih buruk, apakah sekolah harus lebih mningkatkan pembelajaran tentang hal tersebut ? atau mungkin kalian punya pendapat lain? b. Jika menurut kalian sudah baik, apakah orang orang yang menerima pengetahuan tersebut mengerti apa yang di bahas? Atau mungkin saja bisa menerapkan hal tersebut? 8. Untuk kalian, bagaimana cara terbaik untuk mengenalkan atau mengajarkan tentang toleransi dan radikalisme kepada generasi muda? 9. Apakah kalian adalah seseorang yang memiliki sifat toleransi yang baik? Iya atau tidak, boleh di sebutkan alasannya (Ini adalah pertanyaan optional bisa di jawab ataupun tidak) 10. Pertanyaan terahir, bagaiman kalian bisa menjadikan diri kalian untuk bisa hidup atau berada di lingkungan yang berbeda-beda orangnya? (Pertanyaan ini dari asumsi penulis bahwa Sebagian besar waktu hidup para peserta hidup Bersama orang yang memiliki agama, suku dan pandangan yang sama) Setelah menginterview setidaknya 20 siswa dari SMA Dharma Loka ini adalah hasil rangkuman dari jawaban interview kami. 1. Semua peserta memiliki pendapat yang dalam apa arti toleransi sendiri, untuk radikalisme sendiri sebagian besar menjawab adalah sebuah tindakan yang dapat mengubah pandangan seseorang, namun juga ad yang memiliki pendapat yang hanya mengcopy paste arti radikal tersebut dari internet. 2. Disini semua peserta positif jika mereka pernah di ajarkan topik toleransi di sekolah mereka,dari pelajaran pendidikan kewarganegaraan ataupun agama masing-masing, namun untuk radikalisme sendiri hanya sedikit (sekitar 30%) pernah atau setidaknya membahas sedikit tentang topik radikalisme. 3. Semua peserta menjawa positif bahwa mereka tinggal di lingkungan yang bervariasi dan memiliki hubungan yang baik satu sama lain. 4. 40% peserta merupkaan seorang minoritas di sekolah, sednagkan sisanya adalah seorang mayoritas, semua dari mereka menjawab tidak ada perlakuan yang berbeda, 5. Hanya 20% peserta yang benar benar merespon selain jawaba belum pernah, atau pun tidak ada. Dan perserta tersebut menjelaskan tentang kasus toleransi(?), contohnya seperti gotong royong atau bermain dengan tentangga yang berbeda. 10 Jurnal Abdimas PHB Vol.5 No.1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X 6. Hanya satu peserta yang menjawab tidak pernah melihat kasus di luar lingkungannya, sebagian besar peserta (80%) lebih sering membahas tentang berita yang berhubungan dengan toleransi daripada radikalisme itu sendiri. Hanya 1 peserta lain yang membahas tentang kasus radikalisme. 7. Selain satu peserta yang hanya menjawab “iya”, semua peserta setuju kalau pengetahuan tntang toleransi dan radikalisme masih buruk di kalangan generasi muda, tapi tidak dalam bentuk praktek saja, melainkan sebagian besar (60%) berpendapat bahwa generasi muda sekarnag hanyalah tahu sebatas teori dan arti saja. 8. 60% peserta menjawab praktik langsung seperti, mempertemukan satu sama lain, lalu ada yang menjawab video(?), dan ada juga jawaban seperti sosialisai. 9. 20% peserta tidak menjawab pertanyaan ini, 40% tidak yakin dengan jawaban mereka sendiri, dan sisanya 40% positif bahwa mereka adalah orang yang toleran 10. Jawaban dari pertanyaan ini sangat bervariasi, namun terdapat dua kata kunci, menghormati dan menghargai. Setelah melakukan interview bersama beberapa siswa kami selanjutnya mencari waktu yang tepat untuk melakukan sosialisasi. Pada tanggal 23 April 2021, kami sukses melakukan sosialisasi dengan siswa SMA Dharma Loka, dikarenakan keadaan dimana tidak semua siswa bisa mengikuti sosialisasi maka dari itu total siswa yang mengikuti sosialisasi secara daring ini adalah 50 siswa. Sebelum memulai sosialisasi kami melakukan sebuah voting sederhana dimana para siswa ditanya tentang apakah mereka mengetahui tentang topik radikalisme. Dari 27 respon, 63% menjawab iya, mengerti apa itu radikalisme, 14.8% menjawab tidak mengerti apa itu radikalisme, dan 22.2% menjawab mungkin mereka tahu arti dari radikaslime. Setelah melakukan kuisoner tersebut , sosialisasi dimulai yang dibawakan oleh Komisaris Polisi Ferizal, dengan topik Toleransi dan Radikalisme. Gambar 1. Hasil kuisoner awal Sosialisasi berlangsung secara Daring menggunakan Google Meet, sosialisasi berjalan dengan lancar selama 50 menit tanpa ada masalah langsung dari narasumber maupun, para pendengar. Kompol Ferizal membawakan materi dengan baik dengan feedback positif dari siswa. Setelah sosialisasinya selesai, maka setiap pendengar diberikan lagi sebuah kuisoner, bertanya kepada mereka apakah sudah paham dengan topik tersebut, dan sedikit feedback langsung dari mereka. Dari 38 responden, 81.6% menjawab iya, paham dengan topik yang di sosialisasikan, 2.6 % menjawab tidak paham, dan 15.8% menjawab mungkin paham. 11 Jurnal Abdimas PHB Vol.5 No.1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Gambar 2. Hasil kuisoner akhir Dapat di perhatikan kalau sosialisasi dapat membantu siswa yang sebelumnya kurang paham dengan radikalisme dapat setidaknya mengerti garis besar dari radikalisme. Lalu juga terdapat beberapa feedback langsung dari para siswa, walaupun sebagian besar menjawab tidak ada feedback sama sekali, untuk mereka yang memberikan feedback mengatakan bahwa sosialisasi yang diadakan di sekolah mereka memiliki dampak yang positif untuk mereka. 4. KESIMPULAN Melalui proses interview yang di lakukan dapat di ambil bahwa sebagian besar siswa masih lebih mengerti tentang toleransi daripada radikalisme, dan dengan adanya sosialisasi ini di harapkan bahwa setiap siswa yang sebelumnya kurang paham tentang apa itu radikalisme dapat memahami hal tersebut, dan untuk mereka yang sudah mengerti dapat mempelajari hal tersebut lebih dalam. Dengan alasan bahwa generasi ini adalah generasi yang akan memegang kendali masa depan negara nantinya. 5. SARAN Pihak penting seperti kepolisian atau pemuka agama dapat lebih memperbayak hal-hal seperti penyuluhan dan sosialisasi dengan topik radikalisme, dalam sosialisasi diatas, narasumber juga berkata bahwa masih ada kasus-kasus radikal yang terjadi di Indonesia, maka dari itu maka lebih baik mencegah hal tersebut untuk terjadi di masa mendatang daripada menunggu untuk mencari solusinya setelah terjadi. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih sebesarnya kepada pihak SMA Dharma Loka untuk memberikan izin untuk melakukan observasi, terutama kepada Christine sebagai staff sekolah yang membantu untuk mengurus semua masalah sosialisasi seperti jadwal, narasumber, dan tempat. Kepada dosen pancasila, Winsherly Tan yang sudah membimbing dalam menulis artikel ini. DAFTAR PUSTAKA [1] Mutiara, Kholidia E. "Menanamkan Toleransi Multi Agama Sebagai Payung Anti Radikalisme: Studi Kasus Komunitas Lintas Agama Dan Kepercayaan Di Pantura Tali Akrab." Fikrah, vol. 4, no. 2, 2016, pp. 293-302. [2] Indonesia Population 2021. (2020, April 26). Retrieved from World Population Review: https://worldpopulationreview.com/countries/indonesia-population 12 Jurnal Abdimas PHB Vol.5 No.1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X [3] Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research, (Bandung: Alumni, 1995). Hal 170. [4] Agung Suharyanto, Peranan Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Membina Sikap Toleransi Antar Siswa, (Medan: Universitas Medan Area, 2013). Hal 198 [5] A Faiz Yunus, Radikalisme, Liberalisme dan Terorisme: Pengaruh Terhadap Agama Islam, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2017). Hal 80 13