Jurnal E-Bis:Ekonomi Bisnis Vol. 9 No. https://jurnal. politeknik-kebumen. id/index. php/E-Bis p-ISSN : 2580-2062 e-ISSN : 2622-3368 Internal Locus Of Control. Dukungan Teman Sebaya. Status Sosial Ekonomi Keluarga terhadap Kematangan Karir pada Mahasiswa Tingkat Akhir Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2. Pendidikan Ekonomi. Universitas Negeri Padang. Indonesia *Email: yuniheresda@gmail. com*1, sriarita69@gmail. Doi: https://doi. org/10. 37339/e-bis. Diterbitkan oleh Politeknik Piksi Ganesha Indonesia Info Artikel Diterima : 2025-08-14 Diperbaiki : 2025-08-19 Disetujui : 2025-08-23 ABSTRAK Fakta bahwa kematangan karier mahasiswa tergolong rendah meski memiliki locus of control internal tinggi dan dukungan teman sebaya yang memadai. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi dampak dukungan teman sebaya, status sosial ekonomi keluarga, serta internal locus of control terhadap kematangan karier mahasiswa akhir Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang. Penelitian diterapkan dengan pendekatan kuantitatif, desain korelasional, serta teknik sampel acak bertingkat proporsional. Pengumpulan data dilakukan lewat kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi Temuan menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut berpengaruh signifikan, baik secara simultan maupun parsial, dengan setiap peningkatan faktor terkait berkorelasi positif terhadap kematangan karier mahasiswa. Kata Kunci : Internal Locus of Control. Dukungan Teman Sebaya. Status Sosial Ekonomi Keluarga. Kematangan Karir ABSTRACT The fact that students' career maturity is relatively low despite having a high internal locus of control and adequate peer support. This study aims to explore the impact of peer support, family socioeconomic status, and internal locus of control on the career maturity of final year students at the Faculty of Economics and Business. Padang State University. The study employed a quantitative approach, correlational design, and proportional stratified random sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using multiple The findings indicate that all three factors have a significant influence, both simultaneously and partially, with each increase in the related factor positively correlating with students' career maturity. Keywords: Internal Locus of Control. Peer Support. Family Socioeconomic Status. Career Maturity Alamat Korespondensi Jl. Letnan Jenderal Suprapto No. 73 Kebumen. Jawa Tengah. Indonesia 54311 PENDAHULUAN Era globalisasi saat ini membawa pengaruh signifikan terhadap perkembangan dunia, baik dari segi ekonomi, teknologi, maupun budaya. Meskipun menghadirkan peluang positif seperti percepatan arus informasi, keterhubungan ekonomi global, dan pertukaran budaya yang memperluas wawasan, globalisasi juga memunculkan tantangan yang kompleks. Di antaranya adalah ketimpangan pembangunan, kerentanan sosial, serta tekanan terhadap keberagaman Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 Tantangan ini mengharuskan Indonesia untuk tidak hanya fokus pada kemajuan ekonomi, namun sekaligus merawat jati diri bangsa serta menguatkan mutu potensi insan. Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa tingkat akhir berada pada fase transisi penting menuju dunia kerja. Fase ini menuntut adanya kematangan karier, yaitu kesiapan individu dalam merencanakan, memilih, dan mengembangkan karier secara mandiri dan rasional. Namun, realitas menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa tingkat akhir masih menghadapi kebingungan dalam menentukan arah karier. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya eksplorasi diri, rendahnya kepercayaan diri, dan terbatasnya informasi tentang dunia kerja. Mahasiswa tingkat akhir berada pada titik kritis di mana mereka harus mampu menyatukan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan jaringan sosial untuk menyusun strategi karier yang efektif. Namun, dalam kenyataannya, banyak mahasiswa yang masih gamang dan ragu dalam menentukan langkah ke depan. Kegamangan ini dapat disebabkan oleh minimnya pengalaman kerja, kurangnya paparan terhadap informasi peluang karier, atau bahkan masih banyak yang merasa kurang percaya diri dengan kemampuannya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa keberhasilan lulusan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh faktor kemampuan akademik semata, tetapi juga sejauh mana mereka mampu memanfaatkan faktor internal dan eksternal yang mendukung proses pengambilan keputusan karier. Kesiapan karier yang optimal juga memerlukan dukungan dari lingkungan sosial terdekat, termasuk teman sebaya dan keluarga. Teman sebaya sering menjadi sumber referensi penting bagi mahasiswa dalam mencari informasi peluang kerja, magang, atau pelatihan, sekaligus menjadi pendamping emosional dalam menghadapi keraguan karier. Sementara itu, keluarga, terutama dalam hal status sosial ekonomi, dapat memengaruhi akses mahasiswa terhadap fasilitas pendidikan tambahan, pelatihan, atau sumber informasi karier yang relevan. Dengan kata lain, dukungan sosial dan kondisi ekonomi yang memadai dapat memperkuat proses perencanaan karier, sedangkan keterbatasan di aspek tersebut dapat menjadi hambatan signifikan. Dari data yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statiti. , persentase pengangguran terbuka lulusan universitas dan diploma dari 9,43 persen menjadi 12,12 persen pada Februari 2024, meskipun secara nasional tingkat pengangguran terbuka menurun. Fakta ini menunjukkan adanya permasalahan dalam kesiapan lulusan memasuki dunia kerja, termasuk ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar . orizontal mismatc. Salah satu penyebab dari dalamyang berpengaruh terhadap karier yang matang adalah internal locus of control keyakinan bahwa keberhasilan dan kegagalan ditentukan oleh usaha pribadi. Selain itu, faktor eksternal seperti dukungan teman sebaya dan status sosial ekonomi keluarga juga memegang peranan Dukungan teman sebaya dapat membantu mahasiswa dalam memperoleh informasi, motivasi, dan validasi dalam pengambilan keputusan karier. Sementara itu, status sosial ekonomi keluarga dapat mempengaruhi akses terhadap sumber daya pendidikan dan kesempatan pengembangan diri. Berdasar hasil pengamatan awal pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang, teridentifikasi bahwa mayoritas belum mencapai kematangan karier secara maksimal meskipun memiliki locus of control internal serta dukungan teman sebaya yang tinggi. Kondisi ini mengisyaratkan adanya peran faktor sosial ekonomi keluarga terhadap kesiapan karier mereka. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan menelaah Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 keterkaitan sosial ekonomi keluarga dengan tingkat kematangan karier mahasiswa akhir, dukungan teman sebaya, dan lokus kendali internal. Temuan ini diharapkan dapat berkontribusi, baik secara teoretis maupun praktis, terhadap penyusunan rencana pengembangan karier di pendidikan tinggi. Data menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa belum memiliki kematangan karier Rata-rata hanya 42,2 persen yang memiliki gambaran jelas, rencana karier, dan rasa percaya diri menghadapi dunia kerja. Hal ini menandakan perlunya intervensi pembinaan karier yang lebih efektif. Internal locus of control yang cukup tinggi, dengan keyakinan kuat bahwa usaha dan keputusan pribadi mempengaruhi masa depan mereka. Namun, hal ini belum sepenuhnya diikuti oleh kesiapan karier yang matang. Mayoritas mahasiswa merasakan dukungan signifikan dari teman sebaya, baik dalam bentuk diskusi, bantuan emosional, maupun berbagi informasi karier. Dukungan ini berpotensi membantu kematangan karier jika dimanfaatkan secara optimal. Data tersebut memperlihatkan keberagaman status sosial ekonomi keluarga mahasiswa. Sebagian menghadapi keterbatasan pendapatan dan pendidikan orang tua, yang dapat memengaruhi akses terhadap fasilitas pendidikan dan informasi karier. Fenomena rendahnya kematangan karier pada mahasiswa tingkat akhir Walau memiliki locus of control internal yang cukup kuat, ditopang dukungan rekan sebaya serta berasal dari latar sosial ekonomi beragam, tetap terlihat jurang antara potensi diri dan kesiapan nyata memasuki dunia kerja. Kesenjangan ini menjadi semakin relevan untuk dikaji mengingat persaingan di pasar kerja saat ini tidak hanya menuntut kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan nonteknis seperti pengambilan keputusan, perencanaan karier, serta adaptabilitas terhadap perubahan dunia kerja yang cepat. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, lulusan perguruan tinggi berisiko mengalami mismatch pekerjaan, pengangguran terdidik, atau bahkan terjebak pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang keilmuannya. Hal ini bukan hanya berdampak pada individu yang bersangkutan, tetapi juga berimplikasi pada efektivitas pendidikan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas, serta menurunkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tingkat global. Peralihan dari lingkungan akademik menuju ranah pekerjaan merupakan tahap krusial dalam perjalanan profesional seseorang. Pada momen ini, mahasiswa dihadapkan pada beragam opsi dan tekanan, baik dari dalam diri berupa keraguan, maupun dari luar seperti tuntutan keluarga atau dinamika pasar kerja. Kematangan karier menjadi bekal utama agar fase ini dapat dilalui dengan arah dan strategi yang jelas. Tanpanya, keputusan cenderung tergesa, tidak fokus, atau sekadar mengikuti arus tanpa menimbang kesesuaian dengan potensi serta tujuan jangka Penelitian ini menelaah tiga aspek penting locus of control internal, dukungan teman sebaya, serta kondisi sosial ekonomi keluarga untuk memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai faktor yang memengaruhi kematangan karier mahasiswa tingkat akhir. Dengan pemahaman tersebut, pihak kampus, dosen pembimbing, maupun lembaga karier dapat merancang intervensi yang lebih tepat dan efektif. Terdapat banyak temuan yang mendukung hubungan positif antara internal locus of control dengan kematangan karir misalnya penelitian (Arina Salsabila Santoso & Siti Rahmawati, 2. dan (Hartia Adinda Tamara Putri ,2. yang menemukan pengaruh Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 signifikan internal locus of control terhadap kematangan karir mahasiswa. Selain itu, beberapa studi menunjukkan bahwa hubungan tersebut bisa dimediasi oleh konstruk psikologis lain seperti self-efficacy . penelitian (Nibrasabiyya dkk. , 2. , sehingga hubungan langsung antara locus of control dan kematangan karir tidak selalu berdiri sendiri melainkan dapat bekerja melalui variabel perantara. Temuan-temuan ini tercantum dalam bagian penelitian relevan dan memberikan dasar kuat bahwa kendali internal berperan penting dalam kesiapan karir. Di sisi dukungan teman sebaya, sejumlah penelitian yang dikutip dalam draf menunjukkan efek positif dukungan teman terhadap kematangan karir dan adaptabilitas karir . Wijayanti & Lucky Abrorry. Dessy Barita & Sawitr. Namun beberapa studi juga memperlihatkan nuansa penting: ada penelitian yang menemukan bahwa secara simultan peer support dan locus of control berhubungan dengan kematangan, tetapi secara parsial hanya dukungan teman yang signifikan . Laraswati et al. , 2. Temuan kontradiktif semacam ini menyoroti bahwa Audukungan temanAy bukan konstruk tunggal yang dampaknya selalu homogeny kualitas dukungan . mosional vs instrumental vs guidanc. , konteks institusional (SMK vs universita. , dan karakteristik sampel . ahasiswa reguler vs bidikmis. memengaruhi hasil. Ada data observasi awal yang mengindikasikan tingkat dukungan teman sebaya cukup tinggi di sampel FEB UNP, namun belum jelas jenis dukungan mana yang dominan dan bagaimana perannya relatif terhadap variabel lain. Untuk status sosial ekonomi keluarga, juga menunjukkan hasil campuran: beberapa studi menunjukkan pengaruh positif status sosioekonomi terhadap perencanaan dan kematangan karir (Pratama et al. , 2022. Abdinoor, 2. KAJIAN PUSTAKA Kematangan Karier Kematangan karier adalah kesiapan individu dalam menentukan arah karier secara logis, realistis, dan sesuai dengan tahap perkembangan. Super . menyebutkan bahwa kematangan karier mencakup kesadaran diri, kesadaran akan peluang kerja, serta kemampuan merencanakan masa depan. Dalam teori Life-Span. Life-Space (Super, 1. , perkembangan karier dipandang berlangsung sepanjang hidup dengan melibatkan berbagai peran individu. Pada usia 15Ae24 tahun, seseorang berada pada tahap eksplorasi yang krusial untuk merancang jalur karier. Kematangan karier tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga emosional dan Faktor seperti keyakinan diri, pengendalian diri, dukungan sosial, serta kondisi lingkungan memengaruhi proses pengambilan keputusan karier (An Naafi, 2. Savickas & Porfeli . menambahkan bahwa kematangan karier merupakan bentuk penyesuaian karier . areer adaptabilit. , yaitu kesiapan individu menghadapi tantangan karier. Indikator kematangan karier menurut Super . meliputi: . career planning, . career exploration, . decision making, . world of work information, dan . knowledge of occupational group. Sementara itu. Savickas & Porfeli . membaginya ke dalam empat dimensi: concern, curiosity, confidence, dan consultation. Dengan demikian, kematangan karier mahasiswa tingkat akhir adalah kemampuan merencanakan, mengeksplorasi, dan mengambil keputusan karier yang realistis, ditopang oleh kesiapan afektif, kognitif, serta dukungan Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 Internal Locus of Control Konsep locus of control diperkenalkan oleh Rotter . sebagai keyakinan seseorang mengenai sumber kendali atas hidupnya. Individu dengan internal locus of control percaya bahwa keberhasilan atau kegagalan ditentukan oleh usaha pribadi, bukan faktor eksternal seperti nasib atau keberuntungan. Internal locus of control mendorong kemandirian, tanggung jawab, serta proaktivitas dalam merencanakan karier (Patintingan & Saman, 2. Pinasti . menyebutkan bahwa locus of control internal memperkuat strategi individu dalam mencapai tujuan karier. (Budiman et al. , 2. menemukan bahwa faktor ini menyumbang 27,5% terhadap kesiapan karier mahasiswa pendidikan teknik. Karakteristik individu dengan locus internal menurut (Crider dalam Ghufron & Risnawita, 2. antara lain: bekerja keras, memiliki inisiatif, berusaha menemukan solusi, berpikir efektif, serta memiliki keyakinan pada usaha pribadi. Indikator locus of control internal (Rotter, 1966. RifaAoi & Anni dalam Rofifah, 2. meliputi: . keyakinan pada kemampuan diri, . percaya bahwa usaha keras menghasilkan kesuksesan, . proaktif mencari informasi, . bertanggung jawab atas keputusan, dan . kemampuan mengendalikan perilaku diri. Dukungan Teman Sebaya Dukungan teman sebaya merupakan bentuk bantuan emosional, informasional, maupun instrumental dari rekan yang sebaya. (Santrock, 2. menekankan bahwa teman sebaya berperan sebagai sumber informasi, motivasi, dan validasi pilihan karier. (Lent. Brown, & Hackett, 1. dalam Social Cognitive Career Theory menyebutkan bahwa interaksi sosial berpengaruh terhadap efikasi diri dan tujuan karier melalui mekanisme pembelajaran sosial. Penelitian (Pramanasari, 2. menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya menyumbang 36,1% terhadap kematangan karier. Temuan serupa diperoleh (Wijayanti & Lucky Abrorry, 2. yang membuktikan semakin besar dukungan sebaya, semakin tinggi pula tingkat kematangan karier. (Weiss dalam Wahyuni et al. , 2. menjelaskan enam bentuk dukungan sebaya: reliable alliance, guidance, reassurance of worth, emotional attachment, social integration, dan opportunity to provide nurturance. Keseluruhan dimensi ini memperkuat kepercayaan diri, memberikan akses informasi, serta menciptakan kenyamanan psikologis dalam mengambil keputusan karier. Status Sosial Ekonomi Keluarga Status sosial ekonomi keluarga merujuk pada posisi keluarga dalam masyarakat, ditentukan oleh pekerjaan, pendidikan, pendapatan, serta kepemilikan aset (Mahmud, 2017. Hartina, 2. Super dalam (Santrock, 2. menegaskan bahwa status sosial ekonomi keluarga berpengaruh besar terhadap eksplorasi karier anak. Fittari et al. menemukan bahwa keluarga bukan hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga bimbingan karier. (Pratama et al. , 2. menambahkan bahwa status sosial ekonomi keluarga memengaruhi perencanaan karier mahasiswa karena keterlibatan orang tua dalam mengarahkan potensi anak. Indikator status sosial ekonomi menurut (Nurwati & Listari 2. mencakup: . pendidikan orang tua, . pekerjaan orang tua, dan . pendapatan keluarga. Faktor ini Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 menentukan akses individu terhadap pendidikan, informasi, dan peluang karier. METODE Penelitian ini menelaah pengaruh dukungan sebaya, kondisi sosial-ekonomi keluarga, serta kontrol diri internal terhadap kematangan karier mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang dengan pendekatan kuantitatif berdesain asosiatif-kausal. Studi dilaksanakan pada semester genap 2024/2025 dengan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis dan sample sebanyak 300 Data utama diperoleh melalui kuesioner skala Likert yang berisi pernyataan terkait variabel, sementara operasionalisasi indikator mencakup aspek perencanaan, eksplorasi, pengambilan keputusan, hingga pemahaman dunia kerja dan bidang profesi yang dipilih, dan kepercayaan diri digunakan untuk mengukur kematangan karier. Reliabilitas alat penelitian ini dinilai menggunakan koefisien Alpha Cronbach, dan validitasnya diuji menggunakan teknik korelasi momen-produk Pearson. Pengujian inferensial dengan regresi linier berganda diterapkan guna menilai dampak parsial maupun simultan antar variabel, sedangkan analisis deskriptif dipakai untuk menggambarkan ciri responden serta sebaran nilai tiap variabel. Demi menjamin kelayakan model, dilakukan uji asumsi klasik meliputi normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas sebelum regresi dijalankan. Dengan melihat arah koefisien regresi, tingkat signifikansi, dan koefisien determinasi (R. , temuan analisis diinterpretasikan. Hasilnya, ditarik kesimpulan mengenai hubungan antara lokus kendali internal mahasiswa tingkat akhir, dukungan sebaya, status sosial ekonomi keluarga, dan kematangan karier. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menargetkan mahasiswa aktif yang memenuhi kriteria sedang menempuh tahap akhir studi dan telah menuntaskan sebagian besar mata kuliah inti di sebuah perguruan tinggi di Kota Padang. Melalui purposive sampling, 300 mahasiswa dipilih untuk menilai hubungan variabel: pengaruh status sosial ekonomi keluarga terhadap kematangan karier, dukungan teman sebaya, dan locus of control internal. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Bagian ini memaparkan temuan uji hipotesis terkait dampak Internal Locus of Control (XCA). Dukungan Sebaya (XCC), dan Status Sosial-Ekonomi Keluarga (XCE) terhadap Kematangan Karier (Y), dengan analisis menggunakan regresi linear berganda yang menghasilkan persamaan, statistik uji simultan (F), uji parsial . , serta koefisien determinasi (RA). Tabel 1 menampilkan informasi mengenai identitas responden yang telah mengisi kuesioner secara umum berdasarkan jurusan : Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jurusan Keahlian/ Konsentrasi Jumlah Persentase Akuntansi 19,33% Pendidikan Ekonomi Manajemen Ekonomi Pembangunan 25,67% Sumber : Data Primer setelah dilakukan tabulasi data, 2025 Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 Berdasarkan tabel 1 dari total 300 responden, sebanyak 30% diantara mereka merupakan mahasiswa dari jurusan manajemen, dan sisanya dari jurusan akuntansi, pendidikan ekonomi dan ekonomi pembangunan. Meskipun proporsinya tidak sama persis, hal tersebut tidak mempengaruhi hasil analisis, karena fokus penelitian terletak pada karakteristik responden secara keseluruhan. Hasil Penelitian Tabel 2. Hasil Test Data Validitas Instrumen Indikator No Item r hitung Concern 0,658 0,759 0,723 0,654 Curiosity 0,654 0,364 0,654 0,364 Confidence 0,634 0,658 0,759 0,723 Consultation 0,658 0,759 0,723 0,654 Internalokus Percaya 0,453 0,638 0,562 Minat 0,764 0,694 0,521 Melakukan Usaha 0,630 0,262 0,428* 0,540 Dukungan Dukungan Emosi 0,613 Teman Sebaya 0,606 0,623 Dukungan 0,554 Penghargaan 0,823 0,823 Dukungan 0,422 Instrumental 0,546 0,823 Dukungan 0,713 Informasi 0,543 0,832 Status Sosial Jabatan Jenis 0,733 Ekonomi Pekerjaan 0,469 Keluarga 0,640 Tingkat Pendidikan 0,507 0,608 0,686 Tingkat Kekayaan 0,733 0,733 Variabel Kematangan Karir Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis r tabel 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 0,113 A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 Variabel Indikator Kepemilikan atas Barang-Barang Berharga Sumber : Sofware SPSS 25, 2025 No Item r hitung 0,469 0,733 0,469 0,640 r tabel 0,113 0,113 0,113 0,113 Berdasarkan hasil analisis validitas instrumen pada tabel 2, menunjukkan bahwa masing Ae masing item yang diuji memiliki nilai r hitung lebih besar daripada r tabel. Maka dapat disimpulkan bahwa keseluruhan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan sah dan valid. Artinya, setiap item mampu mengukur konstruk yang dimaksud dengan tepat yang pada akhirnya nanti data yang dihasilkan dapat mencerminkan kondisi sebenarnya dan layak digunakan untuk proses analisis lebih lanjut. Tabel 3. Hasil Test Data Reliabilitas Instrumen Variabel CrobachAos Alpha Kematangan Karir 0,864 Internal locus of Control 0,742 Dukungan Teman Sebaya 0,878 Status Sosial Ekonomi Keluarga 0,848 Sumber : Sofware SPSS 25, 2025 Tabel 3 menunjukkan hasil uji reliabilitas instrumen yang mengindikasikan bahwa setiap instrumen variabel yang dilakukan pengujian memiliki nilai CrobachAos Alphalebih besar hal ini membuktikan bahwa semua instrumen variabel dapat diandalkan dan konsisten sehingga dapat digunakan untuk analisa lebih lanjut dalam menguji hipotesis yang Persamaan Regresi (Ringkasan Hubungan dan Arah Pengaru. Model regresi yang diperoleh adalah: Y = 0,917 0,306XCA 0,193XCC 0,569XCE Koefisien positif pada ketiga variabel bebas menegaskan bahwa peningkatan pada masing-masing X berkorelasi dengan peningkatan Kematangan Karier, ceteris paribus. Konstanta 0,917 menggambarkan nilai dasar Kematangan Karier saat ketiga prediktor berada pada titik acuan . ol skala pengukura. Secara substantif, koefisien terbesar dimiliki Status Sosial Ekonomi Keluarga . , diikuti Internal Locus of Control . , dan Dukungan Teman Sebaya . mengisyaratkan bobot kontribusi relatif yang berbeda ketika faktor lain Uji F (Simulta. : Kelayakan Model dan Pengaruh Gabungan Sumber Variasi Regresi Residual Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis Tabel 4. Anovaa Sum of Squares Mean Square Fhitung 1467,776 Sig. 0,00b A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 Total Depedent Variable Predictors (Constan. X3. X2. X1 Uji F mengevaluasi apakah ketiga prediktor secara bersama-sama menjelaskan variasi Kematangan Karier secara bermakna. Hasil menunjukkan F hitung = 1. 467,776 dengan p = 0,000 < 0,05. Secara statistik, ini berarti kombinasi XCA. XCC, dan XCE memberikan pengaruh simultan yang signifikan terhadap Y. model layak digunakan untuk penarikan kesimpulan Secara konseptual, temuan ini mengafirmasi bahwa kematangan karier mahasiswa tidak berdiri pada satu faktor saja, melainkan terbentuk dari interaksi dimensi psikologis . ontrol interna. , dukungan sosial sebaya, dan kondisi struktural keluarga. Uji t (Parsia. : Kontribusi Unik Tiap Prediktor Tabel 5. Coefficientsa Model B Std. Error (Constan. Internal Locus of Control (XCA) Dukungan Teman Sebaya (XCC) Status Sosial Ekonomi (XCE) Depedent Variable: Y Beta 7,487 5,238 16,785 Sig. 0,000 0,000 0,000 Analisis uji t memperlihatkan t = 7,487 dengan p = 0,000 < 0,05. sehingga secara parsial. Internal Locus of Control memberikan dampak positif yang signifikan terhadap Kematangan Karier. Artinya, semakin kuat keyakinan mahasiswa bahwa hasil ditentukan oleh usaha/kemampuannya, semakin matang pula sikap dan keputusan kariernya misalnya dalam perencanaan, eksplorasi pilihan, dan kesiapan menghadapi transisi ke dunia kerja. Secara praktis, koefisien 0,306 mengindikasikan kenaikan yang konsisten pada skor kematangan karier untuk setiap peningkatan satu satuan kontrol internal, dengan prediktor lain ditahan konstan. Uji parsial untuk XCC menghasilkan t = 5,238 dengan p = 0,000 < 0,05. Oleh karena itu, bantuan dari rekan sebaya memberikan dampak positif yang nyata terhadap perkembangan kematangan karier. Secara numerik, koefisien 0,193 menunjukkan bahwa peningkatan dukungan sebaya meski kontribusinya lebih kecil dibanding XCA dan XCE tetap berdampak nyata pada kenaikan skor kematangan karier. Pengujian untuk XCE menunjukkan t = 16,785 dengan p = 0,000 < 0,05. Dengan kata lain. Tingkat Ekonomi-Keluarga memberikan dampak positif dan berarti terhadap Kedewasaan Karier. Koefisien 0,569 yang terbesar di antara predictor menggambarkan bahwa akses sumber daya keluarga . endidikan, jaringan, fasilitas belajar, dan stabilitas finansia. berkontribusi kuat dalam menyiapkan mahasiswa pada fase penetapan pilihan karier. Koefisien Determinasi (R. Tabel 6. Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors . X3. X1. X2 Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 Depedent Variable Y Model memiliki R Square = 0,937 dan Adjusted R Square = 0,936. Secara substantif. OO93,7% variasi Kematangan Karier mahasiswa dapat dijelaskan bersama-sama oleh tiga prediktor dalam model. sekitar 6,3% sisanya terkait faktor lain di luar model . isal efikasi diri, pengalaman magang, minat karier, dukungan orang tua secara spesifik, kualitas layanan karier kampus, dan lain-lai. Nilai RA yang tinggi ini mengindikasikan daya prediksi model yang kuat dalam konteks data penelitian Pembahasan Internal Locus of Control terhadap Kematangan Karir Berdasarkan hasil analisis. Internal Locus of Control (XCA) terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kematangan karir, dengan koefisien regresi sebesar 0,306 dan nilai signifikansi 0,000 (<0,. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan individu terhadap kemampuan dan usahanya sendiri berperan penting dalam meningkatkan kematangan karir. Individu dengan internal locus of control yang tinggi cenderung lebih bertanggung jawab dalam mengambil keputusan karir, mampu menetapkan tujuan secara jelas, dan proaktif dalam Temuan ini sejalan dengan penelitian (Hidayat, 2. yang menyatakan bahwa internal locus of control berkontribusi positif terhadap career maturity. Selain itu, teori Super . alam Savickas, 2. juga mendukung hasil ini dengan menjelaskan bahwa kematangan karir dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti keyakinan diri. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengembangan internal locus of control pada mahasiswa dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi dunia kerja. Dukungan Teman Sebaya terhadap Kematangan Karir Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya (XCC) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kematangan karir, dengan koefisien regresi 0,193 dan nilai signifikansi 0,000 (<0,. Dukungan ini dapat berupa motivasi, pertukaran informasi, atau dorongan moral yang membantu mahasiswa mengatasi keraguan dalam mengambil keputusan karir. Interaksi positif dengan teman sebaya juga membuka peluang untuk memperluas wawasan karir melalui berbagi pengalaman. Temuan ini didukung oleh penelitian di Provinsi NTB . yang menyatakan bahwa dukungan sosial dari teman sebaya berkontribusi terhadap kematangan karir, meskipun pengaruhnya tidak sebesar faktor psikologis. Social Cognitive Career Theory (Lent. Brown, & Hackett, 1. juga menjelaskan bahwa dukungan sosial dapat meningkatkan selfefficacy, yang pada akhirnya mendorong individu untuk membuat keputusan karir yang lebih Oleh karena itu, membangun jaringan pertemanan yang positif dan suportif dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesiapan karir mahasiswa. Status Sosial Ekonomi Keluarga terhadap Kematangan Karir Status sosial ekonomi keluarga (XCE) terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kematangan karir, dengan koefisien regresi tertinggi yaitu 0,569 dan nilai signifikansi 0,000 (<0,. Keluarga dengan kondisi ekonomi yang lebih baik umumnya mampu memberikan Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 dukungan finansial, akses pendidikan, dan fasilitas pengembangan diri yang memadai, sehingga memungkinkan mahasiswa untuk mengeksplorasi peluang karir secara lebih luas. Temuan ini sejalan dengan teori Super . alam Savickas, 2. yang menyatakan bahwa faktor lingkungan, termasuk status ekonomi keluarga, memengaruhi perencanaan karir individu. Namun, penelitian (Sholikah dan Muhyadi, 2. menunjukkan bahwa pengaruh status sosial ekonomi dapat bervariasi tergantung pada faktor psikologis dan dukungan sosial yang dimiliki individu. Dengan demikian, meskipun status sosial ekonomi berperan penting, upaya untuk meningkatkan kematangan karir juga perlu mempertimbangkan faktor lain seperti motivasi internal dan dukungan dari lingkungan sosial. Internal Locus of Control. Dukungan Teman Sebaya, dan Status Sosial Ekonomi Keluarga terhadap Kematangan Karir Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa ketiga variabel independen, yaitu Internal Locus of Control (XCA). Dukungan Teman Sebaya (XCC), dan Status Sosial Ekonomi Keluarga (XCE), secara simultan memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap Kematangan Karir (Y). Hal ini dibuktikan dengan nilai F hitung sebesar 1. 467,776 pada tingkat signifikansi 0,000 . < 0,. Nilai F hitung yang besar ini mengindikasikan bahwa model regresi yang digunakan memiliki kekuatan prediktif yang sangat baik dalam menjelaskan variasi Kematangan Karir pada mahasiswa. Hasil ini mengungkapkan bahwa kombinasi ketiga faktor tersebut mampu menjelaskan sebagian besar varians dalam Kematangan Karir. Artinya, interaksi antara keyakinan diri . nternal locus of contro. , dukungan sosial dari teman sebaya, dan sumber daya ekonomi keluarga menciptakan suatu sinergi yang kuat dalam membentuk kesiapan karir Temuan ini sejalan dengan teori ekologis Bronfenbrenner yang menekankan pentingnya interaksi berbagai sistem lingkungan dalam perkembangan individu. Pengaruh simultan ini juga mendukung pendekatan holistik dalam memahami perkembangan karir. Internal Locus of Control berperan sebagai faktor intrapersonal yang membentuk sikap dan perilaku proaktif terhadap perencanaan karir. Sementara itu. Dukungan Teman Sebaya berfungsi sebagai sistem mikro yang memberikan pengaruh langsung melalui interaksi sosial dan pertukaran informasi. Status Sosial Ekonomi Keluarga mewakili sistem eksosistem yang mempengaruhi akses terhadap sumber daya dan kesempatan pengembangan Hasil ini juga memperkuat temuan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Sholikah dan Muhyadi, 2. yang menunjukkan bahwa faktor psikologis dan sosial-ekonomi saling berinteraksi dalam mempengaruhi kesiapan karir. Namun, penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menunjukkan bahwa kombinasi ketiga faktor tersebut memiliki daya prediksi yang lebih kuat dibandingkan ketika faktor-faktor tersebut diuji secara terpisah. Implikasi praktis dari temuan ini adalah pentingnya pendekatan komprehensif dalam program pengembangan karir di perguruan tinggi. Intervensi sebaiknya tidak hanya fokus pada pengembangan karakteristik individu . eperti locus of contro. , tetapi juga memperkuat jaringan dukungan sosial dan memfasilitasi akses terhadap sumber daya bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi. Dengan demikian, upaya peningkatan kematangan karir akan lebih efektif dan inklusif. Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis A Yuni Herisdawati1*. Sri Arita2 SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa internal locus of control, dukungan teman sebaya, dan status sosial ekonomi keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kematangan karir mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang. Secara parsial, locus of control internal mendorong mahasiswa untuk lebih percaya diri dan mandiri dalam menentukan pilihan karir, sementara dukungan teman sebaya memberikan kontribusi pada aspek emosional dan informatif dalam proses pengambilan keputusan. Status sosial ekonomi keluarga juga berperan penting dalam memberikan akses, dukungan finansial, serta orientasi karir yang lebih jelas. Ketiga faktor tersebut, baik secara simultan maupun parsial, saling melengkapi dalam meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Secara manajerial hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pihak universitas dan fakultas untuk merancang strategi pembinaan karir yang lebih komprehensif. Fakultas diharapkan dapat memperkuat layanan konseling karir, memperluas akses terhadap program magang, serta menyelenggarakan pelatihan soft skills yang menekankan pentingnya kemandirian, kepercayaan diri, serta jaringan sosial. Selain itu, institusi juga dapat mengembangkan program mentoring sebaya . eer mentorin. yang terstruktur, sehingga dukungan teman sebaya tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga informatif dan praktis. Dukungan terhadap mahasiswa dengan latar belakang ekonomi rendah juga perlu diperkuat melalui beasiswa, program kerja sama dengan dunia industri, serta fasilitas pengembangan karir berbasis inklusi. Meski menghasilkan temuan penting, penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Pertama, penelitian hanya berfokus pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi ke fakultas lain atau universitas berbeda. Kedua, metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen kuesioner, sehingga belum menggali secara mendalam pengalaman personal mahasiswa terkait proses pengambilan keputusan karir. Ketiga, penelitian ini hanya menyoroti tiga variabel utama, padahal faktor lain seperti pengalaman organisasi, bimbingan akademik, atau akses terhadap dunia kerja juga berpotensi memengaruhi kematangan karir mahasiswa. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar cakupan responden diperluas ke berbagai fakultas maupun universitas agar hasilnya lebih representatif. Penelitian juga dapat menggunakan pendekatan campuran . ixed method. dengan menambahkan wawancara mendalam untuk mendapatkan pemahaman lebih komprehensif mengenai dinamika kematangan karir mahasiswa. Selain itu, variabel baru seperti pengalaman kerja paruh waktu, keterlibatan organisasi, efikasi diri, dan dukungan dosen dapat ditambahkan untuk melihat pengaruhnya terhadap kesiapan karir. REFERENSI