Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan (JKPPK) Vol. No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal 116-125 DOI: https://doi. org/10. 59031/jkppk. Bentuk Penyajian Tari Gambyong Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Pada Pesta Perkawinan Di Desa Baru Puja Rahayu Universitas Negeri Padang Darmawati Darmawati Universitas Negeri Padang Alamat: Jl. Prof. Dr. Hamka. Air Tawar Barat. Padang. Indonesia Korespondensi penulis: rpuja6793@gmail. Abstract. This study aims to reveal and describe the form of presentation of Gambyong Dance in shadow puppet performances at weddings in Desa Baru. Ranah Batahan District. West Pasaman Regency. This research is qualitative research with descriptive method of analysis. The research instrument is the researcher himself and is assisted by supporting tools such as stationery and cameras. Data were collected through observation techniques, interviews, literature studies, and documentation. The steps of analyzing are carried out through data collection, data reduction and conclusion making. The results showed that the form of presentation of Gambyong Dance in Desa Baru was collaborated with a shadow puppet performance that told about Arjuna's marriage with Dewi Borosumbroto. Gambyong Dance was performed by 4 female dancers 1 puppeteer. The movements of this Gambyong dance are the Sekaran Rorok Asem movement, the Jamang Trap movement, the Sekaran Kawilan movement, the Egol movement, the Sekaran Kesetan Sampir Sampur movement and the Mentangan Seblak Sampur movement. The floor pattern of Gambyong Dance is a straight line floor pattern and a curved line floor pattern. The accompaniment music of Gambyong Dance is gong, drum, gamelang and telempong with the property of using shawls. The makeup used is beautiful makeup. The costume uses a pink Sampur uses a dongker blue sampur. Gambyong dance is performed in the wedding party area, which is in the yard of the house that holds the wedding party. Keywords: Presentation. Gambyong Dance. Wayang Kulit. Wedding Party Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan bentuk penyajian Tari Gambyong dalam pertunjukan wayang kulit pada pesta perkawinan di Desa Baru Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan alat pendukung seperti alat tulis dan kamera. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Langkah-langkah menganalisis dilakukan melalui pengumpulan data, reduksi data dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyajian Tari Gambyong di Desa Baru dikolaborasikan dengan pertunjukan wayang kulit yang menceritakan tentang pernikahan Arjuna dengan Dewi Borosumbroto. Tari Gambyong dibawakan oleh penari perempuan sebanyak 4 orang penari 1 orang dalang. Gerak dari tari Gambyong ini adalah gerak Sekaran Rorok Asem, gerak Trap Jamang, gerak Sekaran Kawilan. Gerak Egol, gerak Sekaran Kesetan Sampir Sampur dan gerak Mentangan Seblak Sampur. Pola lantai Tari Gambyong adalah pola lantai garis lurus dan pola lantai garis lengkung. Musik iringan Tari Gambyong adalah gong, gendang, gamelang dan telempong dengan properti menggunakan selendang. Rias yang digunakan adalah rias cantik. Kostum menggunakan kebaya berwarna merah muda. Sampur menggunakan sampur berwarna biru dongker. Tari Gambyong ditampilkan di area pesta perkawinan, yaitu di halaman rumah yang mengadakan acara pesta perkawinan Kata kunci: Penyajian. Tari Gambyong. Wayang Kulit. Pesta Perkawinan Received Desember 31, 2023. Accepted Januari 30,2024. Published April 30, 2024 * Puja Rahayu, rpuja6793@gmail. Bentuk Penyajian Tari Gambyong Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Pada Pesta Perkawinan Di Desa Baru LATAR BELAKANG Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang terdiri dari berbagai suku berbudaya yang secara turun temurun tinggal di wilayah geografis. Kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia hingga dewasa ini secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai tumpukan pengalaman dan pembangunan budaya yang terdiri dari lapisan-lapisan budaya yang terbentuk sepanjang sejarahnya (Sedyawati, 2010:. Kebudayaan merupakan hasil olah cipta rasa dan karya dari manusia. Menurut umar Kayam dalam Desfiarni & Darmawati . 3: . unsur-unsur dari kebudayaan yaitu bahasa, pengetahuan, organisasi, sistem sosial, sistem teknologi, system religi dan kesenian. Budaya sudah lahir sebelum tradisi tercipta. Hasil kebudayaan tersebut diwariskan secara turuntemurun. Budaya yang diwariskan secara turun temurun akan menjadi tradisi. Tradisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang, yang masih dijalankan oleh masyarakat, penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang ada merupakan yang paling baik dan benar (Endraswara, 2013: . Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut Putri & Darmawati . banyak budaya dan kesenian yang berkembang dan tumbuh pesat di masyarakat Minangkabau. Masing-masing kesenian dan budaya tersebut memiliki keunikan tersendiri. Keunikan itu yang nantinya menjadikan suatu kesenian yang memiliki ciri khas sebagai suatu Salah satu bentuk kebudayaan berupa kesenian yang merupakan wujud dari sebuah suatu kemampuan anggota masyarakat (Endraswara, 2013:. Kesenian sebagai unsur kebudayaan terdiri dari berbagai cabang seni, salah satu diantaranya yaitu seni tari. Menurut Pekerti . 4: 7. pengertian tari merupakan wujud ekspresi pikiran, kehendak, perasaan, dan pengalaman manusia yang cirinya menggunakan media gerak. Gerak merupakan unsur utama dalam tari yang dilengkapi dengan unsur Ae unsur pendukung sehingga membentuk suatu struktur yang disebut dengan tari (Pekerti, 2014: 7. Tari tradisional menurut Soedarsono . adalah tari yang telah berumur cukup lama dan berakar pada tradisi yang telah ada. Tari tradisional berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dimana tarian itu tumbuh dan berkembang, karena tari tradisional inilah yang menopang kebudayaan masyarakat tertentu sehingga menjadi aset daerah atau warisan tradisi yang menjadi ciri khas daerah tersebut sehingga perlu dikembangkan dan diwariskan kepada generasi muda. Apabila tari tradisonal hilang, akan hilang warisan budaya daerah dan ciri khas daerah tersebut. Menurut Indrayuda . , tari merupakan gerak yang mempunyai Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan Ae Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal 116-125 ritme ruang dan ritme waktu, artinya dalam tari terdapat irama dan dalam bergerak menggunakan ruang dan waktu. Sedangkan Sekarningsih dan Rohayani . , seni tari adalah tarian yang telah mengalami perjalanan dan memiliki nilai-nilai masa lampau yang dipertahankan secara turun-temurun serta memiliki hubungan ritual atau adat istiadat. Desa Baru Kecamatan Ranah Batahan merupakan bagian dari kabupaten Pasaman Barat dan salah satu daerah yang memiliki beragam bentuk dan jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Desa Baru mempunyai beberapa tarian tradisional, salah satunya tari Gambyong. Menurut informasi dari Sampir . awancara 27 Oktober, 2. ,bahwa tari gamyong dibawa oleh masyarakat jawa yang bertragmisgrasi ke desa baru sebagai salah satu bekal untuk sarana hiburan. Lebih lanjut sampir menjelaskan bahwa menurut asal-usulnya, tari gambyong pada masa dulu digunakan pada upacara pertanian yang bertujuan untuk kesuburan padi dan perolehan panen yang melimpah. Dalam tarian ini. Dewi Padi (Dewi Sr. digambarkan sebagai penari-penari yang bergerak dengan lemah gemulai. Dengan berubahnya fungsi tarian ini, tari Gambyong memiliki makna keindahan dari gerak lemah gemulai yang menggambarkan sebuah kelembutan dan keindahan seorang wanita. Menurut La Meri dalam Nazlen & Darmawati . 2: . tari adalah gerak, tanpa gerak tidak akan ada tari. Tetapi tidak semua gerak adalah tari dan setiap gerak belum tentu dikatakan tari. Bentuk dan fungsi selalu berhubungan erat dengan masyarakat. Tari Gambyong di Desa Baru ini awalnya berfungsi sebagai pertunjukan untuk menyambut tamu atau dipertunjukan dalam pagelaran seni. Namun demikian, seiring waktu tari Gambyong ini digunakan untuk acara pesta perkawinan yang dikolaborasikan dengan pertunjukan wayang kulit. Penggabungan Tari Gambyong dengan wayang kulit ini di lakukan pada tahun 2017, untuk memenuhi permintaan masyarakat yang membutuhkan, yaitu untuk menghilangkan suasana jenuh bagi para penonton dalam menyaksikan pertunjukan wayang kulit dikarenakan waktu pertunjukannya cukup lama dan bahkan sampai pagi. Wayang kulit dipertunjukan dalam acara pesta perkawinan adat Jawa, makanya penggabungan dengan tariannya adalah tarian yang juga berasal dari Jawa yaitu tari Gambyong. Tari Gambyong biasanya atau sebelum dikolaborasikan mempunyai pertunjukan tersendiri sebagaimana tarian yang ditarikan secara lepas ditempat pertunjukan. Artinya, pertunjukan Tari Gamyong tidak terkait dengan pertunjukan kesenian yang lain. Pertunjukan secara tersendiri ini, sebagaimana penari itu mempertunjukkan gerakangerakannya langsung dari awal tari sampai akhir. Bentuk Penyajian Tari Gambyong Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Pada Pesta Perkawinan Di Desa Baru Menurut Wikan . 7: 100Ae. kolaborasi adalah suatu proses kerjasama antara dua orang atau lebih untuk mencapai suatu keberhasilan bagi kedua belahpihak yang mana sebagai bentuk proses sosial yang saling membantu dalam kegiatan untuk mencapai tujuan Dan kolaborasi diartikan dengan suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama dari berbagai pihak lain untuk mencapai keinginan dari tujuan bersama. (Purwadarminta, 1985: Berdasarkan observasi di Desa Baru Kecamatan Ranah Batahan, bahwasannya Tari Gambyong merupakan salah satu tarian untuk pertunjukan yaitu untuk hiburan bagi para tamu pada pesta perkawinan. Dalam penyajian Tari Gambyong terkandung struktur pertunjukan yang unik karena sudah tergabung cerita atau dihantar melalui cerita wayang untuk dipertunjukkan, pertunjukkan tari gamyong berada ditengah kisah wayang karena tampak ketika tari gamyong selesai dipertunjukkan maka dalang menaiki pentas dan melanjutkan cerita wayang. Demikian juga terjadi penambahan penari dengan dalang laki laki . embawa cerita Dengan ini dapat dikatakan adanya gejala budaya yang unik budaya yang unik atau fenomena pada tari Gamyong, yakni adanya penari laki-laki dalam pertunjukkannya. Keunikan itulah yang membuat peneliti ingin melakukan penelitian terhadap Tari Gambyong. Untuk itu peneliti ingin melihat bagaimana tari Gambyong disajikan dalam urutan pertunjukan wayang kulit, yakni ingin mengkaji bentuk penyajian tari Gambyong di dalam pertunjukan wayang kulit pada pertunjukan acara pesta perkawinan di desa baru Baru Kecamatan Ranah Batahan ini. Sampai saat sekarang tari Gambyong merupakan kesenian yang selalu ditampilkan dalam pertunjukan wayang kulit pada pesta perkawinan dalam masyarakat jawa di Desa Baru Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat, baik dalam pesta perkawinan besar maupun pesta perkawinan kecil. KAJIAN TEORITIS Tari Menurut Soedarsonodalam Indrayuda . ,tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerak-gerak yang ritmis dan indah. Menurut Indrayuda . , tari merupakan gerak yang mempunyai ritme ruang dan ritme waktu, artinya dalam tari terdapat irama dan dalam bergerak menggunakan ruang dan waktu. Tari Tradisional Tari tradisional adalah semua tarian yang telah mengalami perjalanan sejarah cukup lama, yang selalu bertumpu pada pola-pola tradisi yang telah ada menurut Soedarsono Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan Ae Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal 116-125 . Sedangkan Amir Menurut Sekarningsih dan Rohayani . , seni tari adalah tarian yang telah mengalami perjalanan dan memiliki nilai-nilai masa lampau yang dipertahankan secara turun-temurun serta memiliki hubungan ritual atau adat istiadat. Kolaborasi Menurut Wikan . 7: 100Ae. kolaborasi adalah suatu proses kerjasama antara dua orang atau lebih untuk mencapai suatu keberhasilan bagi kedua belahpihak yang mana sebagai bentuk proses sosial yang saling membantu dalam kegiatan untuk mencapai tujuan Dan kolaborasi diartikan dengan suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama dari berbagai pihak lain untuk mencapai keinginan dari tujuan bersama. (Purwadarminta, 1985: Bentuk Penyajian Djelantik . mengatakan bahwa penyajian adalah bagaimana kesenian itu disuguhkan kepada yang menyaksikan atau penonton. Menurut Arini dikutip dalam jurnal Ananda Mutiara . bentuk penyajian adalah sesuatu yang mengandung nilai pembaharuan yang memperlihatkan hasil akhir berupa peralatan atau benda dalam suatu METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif adalah permasalahan penelitian yang dibahas tidak berkenaan dengan angka-angka,tetapi bertujuan untuk menggambarkan atau menguraikan tentang hal-hal yang berhubungan dengan keadaan atau status fenomena (Moleong,2011:. Data penelitian menggunakan data primer dan data sekunder. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan alat pendukung seperti alat tulis dan kamera. Moleong, . 4: 169-. manusia sebagai instrumen penelitian kualitatif kedudukanya dalam penelitian yaitu sebagai pelaksana, perencana, pengumpulan data, analisis penafsiran data yang akhirnya menjadi pelopor hasil penelitian. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Langkah-langkah menganalisis dilakukan melalui pengumpulan data, reduksi data dan Pengambilan Kesimpulan. Menurut Sugiyono . 0: . teknik analisis data adalah proses mencari data, menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Bentuk Penyajian Tari Gambyong Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Pada Pesta Perkawinan Di Desa Baru HASIL DAN PEMBAHASAN Elemen-elemen Tari Gambyong Penari Tari Gambyong dibawakan oleh penari perempuan sebanyak 5 orang yang terdiri dari 4 orang penari wanita dan 1 orang dalang yang ikut serta sebagai penari. Penari pada umumnya ditarikan oleh anak remaja yang berumur sekitar 15 tahun keatas. Gerak Tari Gambyong terdiri dari beberapa ragam, diantaranya: Gerak Sekaran Rorok Asem, adalah gerak yang menggambarkan kalau acara perkawinan ini sudah dimulai Gerak Trap Jamang, adalah gerak kaki kanan melangkah ke depan kaki kiri dilakukan berkebalikan, lengan tangan kanan atas kesamping kanan sedang, lengan tangan atas kesamping kiri sedang tangan disamping telinga kanan, tangan kiri trap jamang, tolehan kepala menghadap ke depan, lakukan berulang- ulang Gerak Sekaran Kawilan, adalah gerakan dengan satu tangan dalam posisi tangan kanan lurus kesamping sedangan tangan kiri ditekuk sejajar dengan dada sambil bejalan ke arah Posisi tangan kiri lurus kesamping sedangan tangan kanan ditekuk sejajar dengan dada sambil bejalan kearah kanan. Gerak Egol, adalah gerakan dengan tangan kiri lurus kesamping sedangkan tangan kanan ditekuk sejajar dengan dada sambil berpuat ditempat Gerak Sekaran Kesetan Sampir Sampur, adalah gerakan dengan tangan kiri lurus ke dengan sejajar dengan kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk dengan telapak tangan sejajar dengan telinga sambil berjalan di tempat. Gerak Mentangan Seblak Sampur, gerakan ini mirip seperti menyibak selendang atau sampur yang menggantung di sisi badan, selendang disingkap ke belakang sambil melakukan gerakan berputar membuat lingkaran. Desain lantai yang digunakan dalam Tari Gambyong sangatlah sederhana. Pola lantai Tari Gambyong adalah pola lantai garis lurus dan pola lantai garis lengkung. Perubahan pola lantai dilakukan sesuai dengan jumlah dan gerak para penari Gambyong. Hal ini dikarenakan tari tradisi galombang adalah tarian yang disuguhkan untuk penyambutan tamu. Tari Gambyong penarinya berjumlah 4 orang. Tari Gambyong menggunakan alat musik berupa gong, gendang dan gamelan. Properti dalam Tari Gambyong adalah selendang. Dalam jurnal Desfiarni dan Fuji . yang membahas tentang AuProperti sebagai Sumber Kreasi Tari Inspiratif Bagi Siswa Sekolah DasarAy mengatakan bahwa properti juga digunakan sebagai inspirasi untuk menghasilkan ide. Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan Ae Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal 116-125 Rias yang terdapat pada penari Gambyong adalah rias cantik atau korektif. Busana yang digunakan para penari Gambyong adalah kebaya. Rias yang digunakan adalah rias cantik atau corrective yang artinya untuk mempercantik wajah dan mempertebal garis-garis mata, alis dan memberikan aksen-aksen warna pada wajah sehingga wajah nampak lebih Kebaya yang digunakan adalah kebaya berwarna merah muda. Sampur yang digunakan adalah sampur berwarna biru dongker. Tari Gambyong ditampilkan di area pesta perkawinan, yaitu di halaman rumah yang mengadakan acara pesta perkawinan. Tari Gambyong ditampilkan pada acara pesta perkawinan dari awal acara setelah selesai acara. Bentuk Penyajian Tari Gambyong dalam Pertujukan Wayang Kulit pada Pesta Perkawinan Bentuk penyajian tari Gambyong dalam Pertujukan Wayang Kulit pada pesta perkawinan, di mana dalang menyampaikan kisah ceritanya. Pertujukan Wayang Kulit ini menceritakan tentang pernikahan Arjuna dengan Dewi Borosumbroto. Kisah ini menceritakan Arjuna ingin melamar Dewi Borosumbroto. Bersamaan dengan lamaran di Desa Browati dan dari Desa Astina, waktu itu sang Prabu Bolodewo mempunyai utusan lamaran Arjuna Raden Gatot Kaca yang saling merebut kebenaran untuk melaksanakan Maka dari itu terjadi selisih paham antara Prabu Bolodewo dengan Gatot Kaca dan terjadilah perkelahian dan peperangan. Akhirnya Prabu Krisna memutuskan siapa yang bisa menerima permintaan Dewi Sematra, maka itulah yang jadi suaminya. Ternyata yang dapat memenuhi permintaan adalah Arjuna, maka ialah yang akan melaksanakan pernikahan. Atas kemengan Arjuna tersebut, maka diadakanlah pertunjukan tari Gambyong. Selesainya Dalang turun pentas sambil memakai mic sebagai pembawa acara, untuk tampilnya pertunjukan tari Gambyong. Setelah itu, penari tari Gambyong masuk ke depan pentas sambil diiringi musik pengiring dengan bunyi yang lembut dan penari berjalan sampai ke halaman pentas di atas tanah ditengah-tengah area pertunjukan serelah itu masuk sepasang pengantin dan duduk di kursi disamping tempat pertunjukan tari Gambyong. Ketika pengantin sudah duduk maka tari Gambyong dimulai oleh para penari perempuan sebanyak 4 orang dan yang dipandu oleh dalang . kut serta menar. Dalang yang ikut di dalam tari Gambyong ini sebagai mengomandoi tari. Setelah dalang menyampaikan pembukaan pertunjukan tari Gambyong, lalu meletakkan mic dan ikut serta menari di depan para penari. Dalam hal ini terkesan dalang seperti motor dalam melakukan gerakan-gerakan tarian. Bentuk Penyajian Tari Gambyong Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Pada Pesta Perkawinan Di Desa Baru Setelah penari mulai melakukan gerakan Sekeran Rorok Asem dan Dalang berada disamping penari dengan membentuk posisi sejajar atau bersaf. Setelah itu penari langsung berputar dengan membentuk posisi yang sama kemudian Dalang berada didepan dan melakukan gerakan Trap Jamang. Setelah itu penari melakukan gerakan Engol dengan posisi maju mundur dan Dalang berputar kebelakang mengambil mic dan langsung bernyayi dan Dalang menuju kedepan dan ikut menari. Setelah itu penari melakukan gerakan membentuk posisi berbanjar dan melakukan gerak Sekaran Kesatan Sampir Sampur. Setelah itu penari melakukan gerakan lingkaran dan saling berhadap-hadapan dan penari melakukan gerakan Mentangan Seblak Sampur dengan posisi berbentuk lingkaran, kemudian penari langsung keluar dari area pertunjukan . Setelah itu, dalang naik ke atas pentas untuk melanjutkan cerita wayang yang menceritakan lanjutan cerita Arjuna tentang sayembara, bagaimana rangkaian-rangkaian sampai pada saat pertemuan untuk mendapatkan suatu mahar, seserahan beserta kembang mayang untuk persiapan pertemuan Arjuna dengan Dewi Sembrata. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa bentuk penyajian Tari Gambyong merupakan tari yang berasal dari di Desa Baru Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat dan tari ini dikolaborasikan dengan pertunjukan wayang kulit yang bertujuan untuk menghilangkan suasana jenuh bagi para penonton. Penari Tari Gambyong dibawakan oleh penari perempuan sebanyak 4 orang penari yang pada umumnya ditarikan oleh anak remaja yang berumur sekitar 15 tahun keatas dan 1 orang dalang. Tarian ini disewakan bagi masyarakat yang ingin memeriahkan acara pesta Sebelum tarian ini tampil dalam acara, anak-anak yang dipilih untuk tampil akan melakukan latihan terlebih dahulu agar penampilannya maksimal. Gerak dari tari Gambyong ini adalah gerak Sekaran Rorok Asem menggambarkan kalau acara perkawinan ini sudah dimulai, gerak Trap Jamang merupakan gerak kaki kanan melangkah ke depan kaki kiri dilakukan berkebalikan, lengan tangan kanan atas kesamping kanan sedang, lengan tangan atas kesamping kiri sedang tangan disamping telinga kanan, tangan kiri trap jamang, tolehan kepala meghadap ke depan, lakukan berulang- ulang, gerak Sekaran Kawilan gerakan dengan satu tangan dalam posisi tangan kanan lurus kesamping sedangan tangan kiri ditekuk sejajar dengan dada sambil bejalan ke arah kiri. Posisi tangan kiri lurus kesamping sedangan tangan kanan ditekuk sejajar dengan dada sambil bejalan kearah kanan, gerak Egol dengan gerakan dengan tangan kiri lurus kesamping sedangkan Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan Ae Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal 116-125 tangan kanan ditekuk sejajar dengan dada sambil berpuat ditempat, gerak Sekaran Kesetan Sampir Sampur dengan gerakan tangan kiri lurus ke dengan sejajar dengan kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk dengan telapak tangan sejajar dengan telinga sambil berjalan di tempat, gerak Mentangan Seblak Sampur mirip seperti menyibak selendang atau sampur yang menggantung di sisi badan, selendang disingkap ke belakang sambil melakukan gerakan berputar membuat lingkaran. Pola lantai Tari Gambyong adalah pola lantai garis lurus dan pola lantai garis Perubahan pola lantai dilakukan sesuai dengan jumlah dan gerak para penari Gambyong. Musik iringan Tari Gambyong adalah gong, gendang, gamelang dan telempong dengan properti menggunakan selendang. Rias yang digunakan adalah rias cantik atau corrective yang artinya untuk mempercantik wajah dan mempertebal garis-garis mata, alis dan memberikan aksen-aksen warna pada wajah sehingga wajah nampak lebih segar. Kostum yang digunakan penari adalah kebaya berwarna merah muda. Sampur yang digunakan adalah sampur berwarna biru dongker. DAFTAR REFERENSI Ananda. Bentuk Penyajian Musik Dalam Upacara Adat Perkawinan Pada Masyarakat Gayo Di Desa Umang Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah (Doctoral dissertation. UNIMED). Desfiarni. , & Darmawati. Upaya Pelestarian Tari Podang di Kelurahan Napar Nagari Koto Nan Gadang Kecamatan Payakumbuh Utara Kota Payakumbuh. Jurnal Sendratasik, 2. , 65-74. Djelantik. Rahzen. , & Suryani. Estetika: Sebuah Pengantar. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Endraswara. Folklor Nusantara. Yogyakarta: Ombak. Indrayuda. Tari Sebagai Budaya dan Pengetahuan. Padang: UNP Press Moleong. Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nazlen. , & Darmawati. Perubahan Tari Makan Sirih Ke Tari Persembahan Melayu Riau Di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Jurnal Sendratasik, 11. , 9-18. Pekerti Widya. Metode Pengembangan Seni. Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka. Purwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Bentuk Penyajian Tari Gambyong Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Pada Pesta Perkawinan Di Desa Baru Putri. , & Darmawati. Analisis Garapan Tari Sanggar Seni Sarai Sarumpun Di Kota Padang. Jurnal Sendratasik, 10. , 13-22. Sedyawati. Edi. Budaya Indonesia. Kajian Arkeologi. Seni dan Sejarah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Sekarningsih. , & Rohayani. Kajian Lanjutan Pembelajaran Tari dan Drama I. Bandung. Soedarsono, . Pengantar Pengetahuan dan Komposisi Tari. Jakarta: DepDikBud. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Tiba. Supadmi. , & Hartati. Bentuk Penyajian Tari Zapin Pekajang Di Sanggar Buana Kota Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni. Drama. Tari & Musik, 1. Widyarto. Analisis Deskriptif: Kerjasama Antara Konselor Dengan Guru Bidang Studi. Jurnal Nusantara of Research, 4. Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan Ae Vol. 2 No. 2 April 2024