PENENTUAN KADAR AIR LAPIS TUNGGAL MENGGUNAKAN PERSAMAAN BRUNAUER-EMMETT-TELLER (BET) DAN GUGGENHAIM-ANDERSON-deBOER (GAB) PADA BUBUK TEH Hatmiyarni Tri Handayani1. Purnama Darmadji2 Email: hatmiyarnitri@gmail. Email: PDarmadji@ugm. Universitas Muhadi Setiabudi. Jalan P. Diponegoro Km 2 Wanasari. Pesantunan Kota Brebes 52252. Indonesia Telp . 6199000 Universitas Gadjah Mada. Jalan Flora No. 1 Bulaksumur. Sleman 55281. Indonesia Telp Abstrak Pada era globalisasi, industri teh Indonesia akan menghadapi persaingan yang sangat ketat dengan akan diadakannya perdagangan bebas dan semakin mudahnya mobilitas faktor produksi sebagai akibat kemajuan di bidang teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi. Upaya-upaya untuk meningkatkan eksistensi dan daya saing teh Indonesia di pasar Internasional dapat dilakukan melalui perbaikan mutu dan fleksibilitas produk teh sesuai dengan selera konsumen. Bubuk teh merupakan hasil pengeringan pucuk teh hijau segar dengan spray dryer. Selama penyimpanan maupun distribusi, bubuk teh mudah mengalami kerusakan akibat penyerapan uap air dari lingkungannya, sehingga menyebabkan turunnya mutu bubuk teh dan berpengaruh terhadap tingkat penerimaan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk penentuan penyimpanan dan distribusi bubuk teh. Untuk menentukan kadar air lapis tunggal BET (Brunauer-Emmet-Telle. diperlukan data aw / . Selanjutnya dibuat kurva regresi linier dengan aw sebagai sumbu X dan aw / . -a. M sebagi sumbu Y, sehingga dari kurva tersebut didapat persamaan garis lurus. Sedangkan untuk menentukan kadar air lapis tunggal GAB (Guggenhaim-Anderson-deBoe. diperlukan program GAB (Guggenhaim-AndersondeBoe. yang selanjutnya data aw dan kadar air seimbang tersebut dimasukkan ke dalam program dan nantinya akan dihasilkan nilai Mo. C dan K. Selanjutnya dibuat kurva regresi linier dengan a w sebagai sumbu X dan aw / . -a. M sebagi sumbu Y sehingga dari kurva tersebut didapat persamaan garis lurus. Hasil penelitian kadar air lapis tunggal (M. untuk persamaan BET pada sampel Tanpa MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr dan sampel MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr setelah jadi bubuk. Sampel Tanpa MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr dan sampel MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr saat masih jadi larutan berturut Ae turut adalah 3,6% . dan berada pada aw = 0,22. 3,6% . dan berada pada aw = 0,22. 3,6% . dan berada pada aw = 0,2. dan 3,8% . dan berada pada aw = 0,23. Sedangkan untuk kadar air lapis tunggal GAB berturut Ae turut adalah 2,7% . dan berada pada aw = 0,1. 2,7% . dan berada pada aw = 0,1. 2,7% . dan berada pada aw = 0,095. 3,1% . dan berada pada aw = 0,11 Kata kunci : Bubuk Teh. Kadar Air Seimbang. Aktivitas Air. Kadar Air Lapis Tunggal BET. Kadar Air Lapis Tunggal GAB Pendahuluan Pada era globalisasi, industri teh Indonesia akan menghadapi persaingan yang sangat ketat dengan akan diadakannya perdagangan bebas dan semakin mudahnya mobilitas faktor produksi sebagai akibat kemajuan di bidang teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi supaya komoditi teh Indonesia tetap eksis di pasar teh internasional (Haryanto, et al. Upaya-upaya untuk meningkatkan eksistensi dan daya saing teh Indonesia di pasar Internasional dapat dilakukan melalui perbaikan mutu dan fleksibilitas produk teh sesuai dengan selera konsumen. Bubuk teh merupakan diversifikasi produk teh yang dihasilkan dari mengolah pucuk teh yang diperoleh dari mengekstrak pucuk teh segar dengan ditambah air sehingga diperoleh ekstrak teh, yang selanjutnya dilakukan pengeringan dan akhirnya diperoleh bubuk teh . nstant te. yang diharapkan dapat memperbaiki mutu teh. Sebagai bahan makanan kering, bubuk teh bersifat higroskopis. Produk ini akan menyerap uap air dari lingkungannya selama penyimpanan dan distribusi. Akibatnya, kadar air dan aktivitas air dalam bubuk teh meningkat. Peningkatan tersebut dapat menimbulkan perubahan sifat bubuk teh yang disebabkan oleh faktor fisik seperti kelembaban, suhu, oksigen, cahaya, debu. CO2. Kerusakan menyebabkan perubahan tekstur, warna, kontaminasi, timbul reaksi kimia atau percepatan reaksi kimia dan percepatan pertumbuhan mikrobia. Perubahan sifat yang terjadi selama penyimpanan dan distribusi mengakibatkan bubuk teh tidak dapat diterima pasar karena dinilai sudah tidak memenuhi selera. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap pola perubahan sifat bubuk teh sangat diperlukan untuk dapat menentukan penyimpanan dan distribusi yang baik khususnya pada bahan kering yang berkaitan dengan kadar air seimbang dan aktivitas air. Pemahaman mengenai sifat tersebut dapat dilakukan dengan menentukan kadar air lapis tunggal dengan persamaan BET (Brunauer-EmmetTelle. dan GAB (Guggenhaim-AndersondeBoe. Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan penelitian untuk penentuan kadar air lapis tunggal dengan persamaan BET (Brunauer-Emmet-Telle. GAB (Guggenhaim-Anderson-deBoe. Metode Penelitian Alat & Bahan Bahan penelitian ini adalah pucuk teh segar yang dipetik dari Kebun Teh PT. Sari Kemuning. Karanganyar. Jawa Tengah. Maltodekstrin, bahan antikempal yaitu PEG 6000. Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini adalah LiCl. K2CO3. NaNO2. NaCl. KCl, dan toluena serta untuk mengukur permeabilitas kemasan digunakan silica gel. Alat yang digunakan adalah alat preparasi . ain saring, timbangan analitis, pisau, erlenmeyer, blender, microwave, dan gelas uku. dan spray dryer. Penentuan Kadar Air Seimbang Satu sampai dua gram bubuk teh dimasukkan ke dalam cawan aluminium yang sebelumnya telah dioven sampai berat konstan. Selanjutnya cawan aluminium berisi sampel dimasukkan toples yang telah terisi oleh larutan garam jenuh pada berbagai tingkat aw. Larutan garam jenuh sebelumnya diinkubasi terlebih dahulu selama 24 jam. Kemudian toples ditutup rapat dan disimpan pada suhu 28AC. Aktivitas air . beberapa larutan garam jenuh pada suhu 28AC ditunjukkan pada Tabel berikut : Tabel 1. Aktivitas Air . Beberapa Larutan Garam Jenuh pada Suhu 28 0C Larutan Garam Jenuh LiCl K2CO3 NaNO3 NaCl KCl Aktivitas Air . 0,1124 0,4412 0,6495 0,7562 0,8447 Selama penyimpanan, perubahan berat sampel dipantau mulai hari ke-7 dan selanjutnya tiap hari sampai berat konstan. Pada toples dengan larutan garam yang mempunyai RH lebih dari 60%, diberi 5 ml toluena yang dimasukkan dalam cawan Toluena yang ditambahkan dimaksudkan agar sampel tidak ditumbuhi Setelah mencapai berat konstan, maka dilakukan analisis kadar air . untuk masing-masing sample. Kadar air ini dinamakan kadar air seimbang . quilibrium moisture conten. Penentuan Kadar Air Lapis Tunggal BET Data yang didapat dari penentuan kurva ISL adalah aw dan kadar air Untuk menentukan kadar air lapis tunggal BET (Brunauer-EmmetTelle. diperlukan data aw / . -a. Selanjutnya dibuat kurva regresi linier dengan aw sebagai sumbu X dan aw / . - a. M sebagi sumbu Y, sehingga dari kurva tersebut didapat persamaan garis Kadar air lapis tunggal BET (Brunauer-Emmet-Telle. dengan menggunakan rumus (Labuza. Mo A I AS Keterangan : Mo = Kadar air lapis tunggal BET, % berat kering . = Intersep kurva regresi linier = Slope kurva regresi linier Penentuan Kadar Air Lapis Tunggal GAB Data yang didapat dari penentuan kurva ISL adalah aw dan kadar air Untuk menentukan kadar air lapis tunggal GAB (GuggenhaimAnderson-deBoe. diperlukan program GAB (Guggenhaim-Anderson-deBoe. yang selanjutnya data aw dan kadar air seimbang tersebut dimasukkan ke dalam program dan nantinya akan dihasilkan nilai Mo. C dan K. Selanjutnya dibuat kurva regresi linier dengan aw sebagai sumbu X dan aw / . -a. M sebagi sumbu Y sehingga dari kurva tersebut didapat persamaan garis lurus. Kadar air lapis tunggal GAB (Guggenhaim-Anderson-deBoe. ditentukan dengan menggunakan rumus (Labuza, 1. Mo Au. A k . a w ). A k . a w A c. a w )Ay Keterangan : = kadar air berat kering () Mo = kadar air lapis tunggal = aktivitas air c,k = konstanta Hasil dan Pembahasan Kadar Air Seimbang dan Aktivitas Air Besarnya kadar air seimbang untuk masing-masing aktivitas air berbedabeda. Semakin tinggi harga aktivitas air . , maka kadar air seimbangnya semakin tinggi juga. Perbedaan besar kecilnya kadar air seimbang untuk masing-masing kelembaban relatif (RH) dapat dijelaskan sebagai berikut. Sampel bubuk teh apabila dibiarkan dalam suatu ruangan akan menyerap uap air dari lingkungan sampai terjadi keseimbangan antara kadar air bubuk teh dengan kadar air dalam ruangan. Besar kecilnya kadar air yang diserap oleh bubuk teh untuk kelembaban relatif (RH) ruangan. Semakin tinggi kelembaban ruangan maka jumlah uap air yang diserap bahan untuk mencapai keseimbangan semakin Tabel 2. Kadar Air Seimbang Bubuk teh dalam Berbagai aw pada Suhu 28oC Sampel Tanpa MD 100 gr dengan PEG 3,5 gr setelah jadi MD 100 gr PEG 3,5 gr setelah jadi Tanpa MD 100 gr dengan PEG 3,5 gr saat masih jadi MD 100 gr PEG 3,5 gr saat masih jadi 0,1124 0,4412 0,6495 0,7562 0,8447 Kadar Air Seimbang () 2,9389 4,9408 8,8771 14,8237 24,7452 0,1124 0,4412 0,6495 0,7562 0,8447 2,9919 4,9468 8,8022 15,0208 23,9444 0,1124 0,4412 0,6495 0,7562 0,8447 3,0594 4,8791 8,6392 15,2840 24,2782 0,1124 0,4412 0,6495 0,7562 0,8447 3,1222 5,0276 11,4705 14,9778 24,4450 Kadar Air Lapis Tunggal BET dan GAB Air dalam bahan makanan terdapat dalam tiga bentuk, yaitu air terikat primer, sekunder, dan tersier. Air yang terikat secara primer sering disebut air lapis tunggal. Kadar air lapis tunggal suatu produk pangan dapat diketahui dengan mengikuti konsep BET yaitu teori tentang adsorpsi molekul gas oleh benda padat. Kadar air lapis tunggal BET dapat diperhitungkan dari isotherm sorpsi lembabnya. Gambar 1. Kurva Hubungan antara aw dengan . w /. - a. M] Bubuk Teh Keterangan : . Sampel Tanpa MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr setelah jadi . Sampel MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr setelah jadi bubuk. Sampel Tanpa MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr saat masih jadi . Sampel MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr saat masih jadi Data S dan I pada BET dimasukkan dalam rumus, maka didapatkan kadar air lapis tunggal dari bubuk teh, dan untuk nilai aw Ae nya didapatkan dari menarik garis lurus ke bawah pada sumbu x pada nilai kadar air lapis tunggalnya. Data kadar air lapis tunggal dan nilai aw nya untuk masingmasing sampel adalah sebagai berikut : C Sampel Tanpa MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr setelah jadi bubuk : Mo sebesar 3,6% . dan berada pada aw = 0,22. C Sampel penambahan PEG 3,5 gr setelah jadi bubuk : Mo sebesar 3,6% . dan berada pada aw = 0,22. C Sampel Tanpa MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr saat masih jadi larutan : Mo sebesar 3,6% . dan berada pada aw = 0,2. C Sampel penambahan PEG 3,5 gr saat masih jadi larutan : Mo sebesar 3,8% . dan berada pada aw = 0,23. Persamaan GAB mempertimbangkan posisi molekul air terserap tunggal dan air terserap banyak. Persamaan ini mampu menjelaskan secara baik posisi sorpsi pada zona air terikat sampai aw 0,9 untuk berbagai macam bahan makanan kering. Untuk nilai aw monolayer didapatkan dari menarik garis lurus ke bawah pada sumbu x pada nilai kadar air lapis tunggalnya. Nilai Mo dan aw, untuk masing-masing sampel adalah sebagai berikut : C Sampel Tanpa MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr setelah jadi bubuk = Mo sebesar 2,7% . dan berada pada aw = 0,1 C Sampel penambahan PEG 3,5 gr setelah jadi bubuk = Mo sebesar 2,7% . dan berada pada aw = 0,1 C Sampel Tanpa MD 100 gr dengan penambahan PEG 3,5 gr saat masih jadi larutan = Mo sebesar 2,7% . dan berada pada aw = 0,095 C Sampel penambahan PEG 3,5 gr saat masih jadi larutan = Mo sebesar 3,1% . dan berada pada aw = 0,11 Kadar air lapis tunggal sangat penting artinya dalam penyimpanan dan distribusi Apabila berdasarkan daerah isothermnya, air lapis tunggal bubuk teh tersebut berada dalam daerah IL-1, dimana air bersifat ionik. Air dalam bubuk teh tersebut terikat dengan erat sekali sehingga tidak dapat digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme perusak, reaksi kimia, enzimatis, maupun reaksi biologis, sehingga bahan makanan menjadi Jadi agar umur simpan bubuk teh menjadi lama, maka salah satu caranya adalah dengan mengeringkan bubuk teh tersebut minimal sampai kadar air lapis tunggalnya yaitu sampai kadar air 3,6% . atau 3,8% . untuk persamaan BET dan minimal sampai kadar air lapis tunggalnya sampai kadar 2,7% . atau 3,1% . untuk persamaan GAB. Sebaliknya apabila pengeringan bubuk teh belum mencapai kadar air lapis tunggalnya, maka kemungkinan stabilitas bubuk teh terhadap reaksi kerusakan akan Hal ini dapat disebabkan karena bubuk teh masih mengandung air bebas yang cukup banyak dan zat-zat yang terlarut didalamnya mulai bersifat mobil, sehingga reaksi-rekasi biokimia, enzimatis, maupun mikrobiologis yang mengarah pada proses kerusakan mulai dapat berlangsung (Adnan. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa air lapis tunggal bubuk teh berada dalam daerah IL-1, dimana air bersifat ionik. Air dalam bubuk teh tersebut terikat dengan erat sekali sehingga tidak dapat digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme perusak, reaksi kimia, enzimatis, maupun reaksi biologis, sehingga bahan makanan menjadi Salah satu cara untuk memperpanjang umur simpan bubuk teh adalah dengan mengeringkan bubuk teh tersebut minimal sampai kadar air lapis tunggalnya yaitu sampai kadar air 3,6% . atau 3,8% . untuk persamaan BET dan minimal sampai kadar air lapis tunggalnya sampai kadar 2,7% . atau 3,1% . untuk persamaan GAB. Daftar Pustaka