2025. : 90-98 E-ISSN 2722709x https://jurnal. id/index. php/herbapharma/index Review Artikel : Potensi Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L. ) Terhadap Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif Rosari Resalia1. Zulpakor Oktoba1*. Afriyani1. Muhammad Iqbal1 Program Studi S1 Farmasi. Universitas Lampung. Bandar Lampung. Indonesia *E-mail : zulpakor. oktoba@fk. ABSTRAK Tanaman mentimun (Cucumis sativus L. ) termasuk dalam famili Cucurbitaceae dan tersebar luas di seluruh Asia. Mentimun telah digunakan sejak zaman dahulu sebagai pengobatan herbal. Mentimun digunakan untuk perawatan dermatologis, termasuk ruam dan jerawat, penyembuhan luka, sebagai antidiare, aplikasi kosmetik, antigonore, efek pencahar, hemostasis, pengobatan hipertensi, dan fungsi antibakteri. Artikel ini bertujuan untuk mengkonsolidasikan dan menilai temuan penelitian tentang kandungan fitokimia dan aktivitas antibakteri Cucumis sativus L. diterbitkan dalam dekade terakhir. Data diperoleh dari PubMed. ScienceDirect, dan Google Scholar, mencakup publikasi dari tahun 2015 hingga 2025. Seleksi dilakukan melalui kriteria inklusi dan eksklusi, menghasilkan total 10 publikasi yang relevan. Data tersebut dianalisis secara deskriptif dan kualitatif. Mentimun mengandung metabolit sekunder termasuk saponin, flavonoid, alkaloid, terpenoid, steroid, dan tanin. Semua komponen tanaman menunjukkan sifat antibakteri, dengan zona inhibisi yang berbeda terhadap bakteri gram-positif (Staphylococcus aureus. Bacillus cereus. Streptococcus pneumonia. dan bakteri gram-negatif (Escherichia coli. Salmonella typhi. Pseudomonas aeruginosa. Klebsiella pneumonia. Peningkatan konsentrasi ekstrak secara konsisten meningkatkan inhibisi antibakteri. Cucumis sativus L. kemanjuran antibakteri yang cukup besar yang disebabkan oleh komposisi fitokimia yang Temuan ini menunjukkan bahwa mentimun perlu dieksplorasi lebih lanjut sebagai sumber alami untuk pengobatan antibakteri. Kata Kunci: antibakteri, ekstrak, fitokimia, fraksi, mentimun ABSTRACT The cucumber plant (Cucumis sativus L. ) belongs to the Cucurbitaceae family and is prevalent across Asia. Cucumbers have been utilized since antiquity as a herbal therapy. They are utilized for dermatological care, including rashes and pimples, wound healing, as an antidiarrheal, cosmetic applications, antigonorrheal purposes, laxative effects, hemostasis, hypertension therapy, and antibacterial functions. This article aims to consolidate and assess research findings on the phytochemical contents and antibacterial activity of Cucumis sativus L. published in the recent decade. Data were sourced from PubMed. ScienceDirect, and Google Scholar, encompassing publications from 2015 to 2025. Selection was performed via inclusion and exclusion criteria, yielding a total of 10 pertinent publications. The data were subjected to descriptive and qualitative analysis. Cucumber comprises secondary metabolites including saponins, flavonoids, alkaloids, terpenoids, steroids, and tannins. All plant components exhibited antibacterial properties, with differing inhibition zones against gram-positive bacteria (Staphylococcus aureus. Bacillus cereus. Streptococcus pneumonia. and gram-negative HERBAPHARMA, 2025. : 90-98 bacteria (Escherichia coli. Salmonella typhi. Pseudomonas aeruginosa. Klebsiella pneumonia. Elevating extract concentration consistently improved antibacterial inhibition. Cucumis sativus L. demonstrates considerable antibacterial efficacy attributed to its varied phytochemical These findings suggest that cucumber should be further explored as a natural source for antibacterial therapy. Keywords: antibacterial, cucumber, extract, fractions, phytochemicals PENDAHULUAN Mentimun (Cucumis sativus L. ) merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Cucurbitaceae, tanaman ini merupakan semusim yang tergolong tanaman yang merambat, mudah untuk ditanam dan dibudidayakan. Daun mentimun memiliki bentuk yang lebar, bulat dan tunggal dengan panjang 7-8 cm dengan lebar daunnya yaitu 7-15 cm (T. Sari, 2. Ukuran buah mentimun bervariasi, namun umumnya memiliki ketebalan yang relatif sama pada bagian tengah dan mengecil pada kedua ujungnya. Permukaan buah berkilau dan halus, serta terkadang memiliki tonjolan atau gumpalan berwarna putih atau hijau. Tanaman mentimun banyak dibudidayakan di daerah beriklim sedang (Sahu dan Sahu, 2. Tanaman mentimun ini berasal dari benua asia (Amin, 2. Mentimun telah dimanfaatkan sejak zaman dahulu di berbagai negara sebagai sayuran dari keluarga labu-labuan. Umumnya, mentimun sering dimanfaatkan untuk bahan umum dalam salad terutama dikonsumsi dalam bentuk mentah atau bisa juga dimasak dalam berbagai Bagian yang paling sering dikonsumsi adalah buahnya karena memiliki kandungan gizi yang tinggi (Idemudia dan Enogieru, 2. Selain rasanya yang lezat, mentimun kaya akan nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan. Mentimun dimanfaatkan dalam kecantikan dan perawatan kesehatan, serta digunakan untuk mengobati berbagai penyakit (Amin, 2. Mentimun telah lama digunakan sebagai tanaman obat karena memiliki potensi terapeutik dan digunakan sebagai pengobatan tradisional. Seluruh bagian tanaman, termasuk biji, daun, buah, dan akar, dapat dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional (Raheman, 2. Bagian buah mentimun sering dimanfaatkan untuk menyembuhkan kulit ruam dan jerawat, serta membantu penyembuhan luka termasuk luka bakar dan luka dingin. Budaya tradisional juga telah memanfaatkan buah mentimun dalam bidang kosmetik karena buah mentimun memiliki kandungan air yang tinggi dan sifatnya melembabkannya sehingga dijadikan sebagai obat alami untuk perawatan kulit (Idemudia dan Enogieru, 2. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, semua bagian mentimun seperti daun, batang, dan akar dimanfaatkan karena khasiatnya sebagai antidiare dan antigonore, serta efek pemurniannya yang membantu mengurangi pembengkakan dan meningkatkan buang air kecil (Idemudia dan Enogieru, 2. Mentimun juga telah popular di India sejak zaman dahulu untuk pengobatan tradisional karena kandungan airnya yang sangat tinggi dan kalori yang rendah (T. Sari, 2. Secara tradisional, mentimun juga dimanfaatkan sebagai agen pendingin, hemostatik, tonik, emolien, dan pencahar. Di wilayah Indo-Cina, buah mentimun banyak dimanfaatkan untuk mengobati disentri pada anak-anak, mengatasi rasa terbakar, hiperdipsia, insomnia, bronkitis, penyakit kuning. Sedangkan di di Bangladesh, buah mentimun dimanfaatkan untuk mengobati gangguan menstruasi (Raheman, 2. Di Indonesia, mentimun juga telah dimanfaatkan secara empiris sebagai obat tradisional. Di Sulawesi Tenggara, masyarakat menggunakan seluruh bagian tanaman mentimun untuk mengobati hipertensi dengan cara direbus, diseduh, diparut, atau dikonsumsi langsung (Abeng et al. , 2. Oleh karena itu, tinjauan literatur ini disusun sebagai untuk mengkaji kandungan senyawa fitokimia dan aktivitas farmakologi mentimun (Cucumis sativus L. ) sebagai dasar pengembangan tanaman mentimun sebagai terapi komplementer di masa depan. Au HERBAPHARMA, 2025. : 90-98 BAHAN DAN METODE Artikel ini disusun dengan berdasarkan studi literatur yang diperoleh melalui beberapa basis data seperti PubMed. ScienceDirect dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan untuk memperoleh artikel rujukan adalah kombinasi dari kata antibakteri, ekstrak, fitokimia, fraksi, dan mentimun dengan literatur yang diperoleh dalam rentang 10 tahun terakhir yaitu 2015-2025. Data yang diperoleh kemudian dievaluasi secara kualitatif . Pencarian awal di tiga basis data 473 artikel, yang kemudian disaring berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, menghasilkan 10 makalah yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi mencakup penelitian yang dalam rentang 10 tahun terakhir . , artikel yang membahas mengenai ekstrak dan fraksi tanaman mentimun (Cucumis sativus L. ) dan aktivitas antibakterinya, serta artikel yang tersedia dalam full text. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang meliputi identifikasi kandungan senyawa fitokimia dan uji aktivitas antibakteri disajikan pada Tabel 1. dan Tabel 2. sebagai berikut: Jenis Ekstrak/Pelarut Ekstrak etanol 96% mentimun Ekstrak metanol Tabel 1. Kandungan Fitokimia Buah Mentimun Kandungan Keterangan Kuantitatif Fitokimia/Hasil Uji Saponin, alkaloid. Tidak ada data kuantitatif steroid, triterpenoid Senyawa fenolik 262,31 mg/g total fenolik Referensi (Hakim dan Saputri. Senaen et al. (Nasrin et al. , 2. HERBAPHARMA, 2025. : 90-98 Jenis Ekstrak/Pelarut Homogenat buah mentimun Bagian Tanaman Buah Buah Buah Daun Buah Kandungan Fitokimia/Hasil Uji Steroid, glikosida, resin . Keterangan Kuantitatif Referensi A Gula pereduksi: 574,36 A 3,88 mg/g A Terpenoid: 26,27 A 1,37 mg/g A Steroid: 11,69 A 1,80 A Glikosida: 50,70 A 8,82 mg/g A Resin: 32,23 A 0,41 A Saponin: 2,01 A 0,08 A Alkaloid: 2,22 A 0,96 A Flavonoid: 2,14 A 0,56 mg/g Tanin: 1,26 A 0,07 mg (Uzuazokaro et al. Tabel 2. Hasil Aktivitas Antibakteri Tanaman Mentimun Diameter Metode Metode Konsentra Zona Ekstraksi Penguji Target Bakteri Hambat /Pelarut . Staphylococcus Perkolasi/ Difusi Etanol sumuran Propionibacterium Bacillus cereus Maserasi/ Difusi Etanol cakram Salmonella thypii Staphylococcus 5,85 Maserasi/ Difusi Fraksinasi 7,05 7,43 9,92 Propionibacterium 9,61 9,76 Maserasi/ Difusi 10,78 Etanol sumuran Staphylococcus 9,85 10,28 10,53 Escherichia coli 200 mg/ml Maserasi/ Difusi Pseudomonas 200 mg/ml Etanol Referen (Senja et (Endarini et al. (Viogent a et al. (Widiaw ati et al. (Olubun mi et al. HERBAPHARMA, 2025. : 90-98 Bagian Tanaman Metode Ekstraksi /Pelarut Metode Penguji Daun Maserasi/ Etanol Difusi Target Bakteri Propionibacterou m acnes Escherichia coli Kulit buah Maserasi/ Etanol Difusi Pseudomonas Streptococcus Salmonella thypii Escherichia coli Bunga Maserasi/ Fraksinasi Etil Asetat Difusi Escherichia Bacillus sereus Klebsiella Streptococcus Buah Ekstrasi Metanol Difusi Staphylococcus Escherichia coli Bacillus sereus Konsentra 10 mg/ml 20 mg/ml 30 mg/ml 10 mg/ml 20 mg/ml 30 mg/ml 10 mg/ml 20 mg/ml 30 mg/ml 10 mg/ml 20 mg/ml 30 mg/ml 40 mg/ml 10 mg/ml 20 mg/ml 30 mg/ml 40 mg/ml 10 mg/ml 20 mg/ml 30 mg/ml 40 mg/ml 10 mg/ml 20 mg/ml 30 mg/ml 40 mg/ml 10 AAg 25 AAg 50 AAg 75 AAg 100 AAg 10 AAg 25 AAg 50 AAg 75 AAg 100 AAg 10 AAg 25 AAg 50 AAg 75 AAg 100 AAg 10 AAg 25 AAg 50 AAg 75 AAg 100 AAg 10 AAg 25 AAg 50 AAg 75 AAg Diameter Zona Hambat . 5,83 7,76 11,35 3,83 4,63 6,43 10,26 Referen (Mahula uw et al. (Anjani (Muruga (Tuama Moham HERBAPHARMA, 2025. : 90-98 100 AAg Bagian Tanaman Metode Ekstraksi /Pelaru Metode Penguji Etanol n-heksan Biji Diklorome Etil asetat Difusi Staphylococcus 20 mg Diameter Zona Hambat Shigella flexneri 20 mg Pseudomonas 20 mg Escherichia coli 20 mg Salmonella thypii Staphylococcus 20 mg 20 mg Shigella flexneri 20 mg Pseudomonas 20 mg Escherichia coli 20 mg 18,25 Salmonella thypii Staphylococcus 20 mg 20 mg 10,15 Shigella flexneri 20 mg Pseudomonas 20 mg 7,15 Escherichia coli 20 mg 16,25 Salmonella thypii Staphylococcus 20 mg 20 mg Shigella flexneri 20 mg Pseudomonas 20 mg Escherichia coli 20 mg Salmonella thypii 20 mg Target Bakteri Konsentra Referen (Begum et al. Pengaruh Metode dan Pelarut Ekstraksi terhadap Aktivitas Antibakteri Berbagai metode ekstraksi dan pelarut telah digunakan dalam evaluasi antibakteri tanaman mentimun. Perbedaan teknik ekstraksi dan pelarut telah menunjukkan dampak yang signifikan terhadap kemanjuran antibakteri tanaman mentimun. Diameter zona inhibisi diklasifikasikan sebagai sangat kuat (>20 m. , kuat . -20 m. , sedang . -10 m. , dan lemah (<5 m. (Geofani et al. , 2. Buah mentimun, yang diekstrak melalui metode perkolasi Ay HERBAPHARMA, 2025. : 90-98 menggunakan pelarut etanol 70%, menunjukkan zona inhibisi terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis mulai dari sedang, dengan diameter 9 mm, hingga kuat, dengan diameter 10,2 mm, 12,1 mm, dan 13,1 mm. Kemanjuran antibakteri yang sebanding terlihat terhadap Propionibacterium acnes, dengan diameter zona inhibisi mulai dari sedang 8,9 mm hingga pengukuran kuat 11,5 mm, 13,1 mm, dan 14,1 mm. Peningkatan zona inhibisi berkorelasi dengan peningkatan konsentrasi ekstrak (Senja et al. , 2. Sementara itu, ekstrak buah mentimun dengan pelarut etanol 96% melalui proses maserasi menunjukkan peningkatan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Bacillus cereus dan Salmonella thypi dengan daya hambat tertinggi dihasilkan sebesar 18-19 mm yang termasuk dalam kategori kuat (Endarini et al. , 2. Metode ekstraksi dingin dengan pelarut metanol menunjukkan bahwa ekstrak metanol buah mentimun memiliki kemanjuran yang signifikan terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Efek inhibisi optimal diamati pada konsentrasi 100 AAg, dengan diameter zona inhibisi paling signifikan tercatat untuk bakteri Klebsiella pneumoniae. Streptococcus pneumoniae. Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli yang memiliki kategori kuat dengan diameter zona hambat berturut-turut yaitu 18 mm, 20 mm, 20 mm, dan 19 mm (Tuama & Mohammed, 2. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pelarut yang lebih polar, seperti etanol 96% dan metanol, dapat mengekstrak senyawa metabolit sekunder dari mentimun dalam jumlah yang lebih besar, sehingga meningkatkan aktivitas antibakteri. Pengaruh Metode Pengujian Antibakteri terhadap Zona Hambat Metode pengujian antibakteri juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi besar kecilnya zona hambat yang terbentuk. Pengujian dengan menggunakan difusi sumuran cenderung menghasilkan zona hambat yang lebih besar karena terjadi kontak langsung antara sampel uji dengan media agar yang digunakan sehingga difusi senyawa aktif menjadi lebih optimal (Sari dan Febriawan, 2. Hal tersebut ditunjukkan pada penelitian yang menggunakan ekstrak etanol daun mentimun dengan metode difusi sumuran yang mampu menghasilkan zona hambat hingga 29 mm pada bakteri Propionibacterium acnes (Mahulauw et al. , 2. Sebaliknya, metode difusi cakram memiliki keterbatasan dalam penyerapan ekstrak karena kertas cakram yang digunakan sebagai media penyerapan ekstrak hanya mampu menyerap ekstrak dalam jumlah terbatas (Sari dan Febriawan, 2. Oleh karena itu, hasil pengujian aktivitas antibakteri dengan menggunakan difusi cakram cenderung menghasilkan zona hambat yang lebih rendah dibandingkan dengan metode difusi sumuran. Aktivitas Antibakteri Berdasarkan Jenis Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif Efektivitas antibakteri ekstrak dan fraksi mentimun menunjukkan hasil yang bervariasi terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif. Pada bakteri gram-positif, termasuk Staphylococcus aureus. Staphylococcus epidermidis. Bacillus cereus, dan Streptococcus pneumoniae, sebagian besar ekstrak menunjukkan zona penghambatan yang serupa dengan peningkatan konsentrasi. Sebaliknya, pada bakteri gram-negatif termasuk Escherichia coli. Pseudomonas aeruginosa. Klebsiella pneumoniae, dan Salmonella thypi , efektivitas antibakteri ekstrak dan fraksi mentimun menunjukkan variabilitas yang lebih besar. Fluktuasi diameter zona penghambatan diyakini terkait dengan sifat struktural dinding sel bakteri gram-negatif, yang memiliki lapisan lipopolisakarida (LPS) yang berfungsi sebagai penghalang masuknya zat eksternal, termasuk agen antibakteri. Keberadaan lapisan lipopolisakarida ini membuat dinding sel bakteri Gram-negatif lebih rumit, sehingga meningkatkan ketahanan mereka terhadap agen antibakteri dibandingkan dengan bakteri Gram-positif (Lestari et al. , 2. Aktivitas Antibakteri Berdasarkan Konsentrasi dan Bagian Tanaman Mentimun Setiap bagian dari tanaman mentimun menunjukkan tingkat aktivitas antibakteri yang Bagian buah mentimun menunjukkan aktivitas antibakteri yang konsisten terhadap HERBAPHARMA, 2025. : 90-98 bakteri gram positif dan gram negatif. Daun mentimun menunjukkan aktivitas antibakteri yang paling tinggi terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan diameter zona hambat mencapai 29 mm. Adapun. Biji mentimun juga menunjukkan aktivitas antibakteri dengan kategori kuat pada bakteri Escherichia coli dan Salmonella thypi. Sementara itu, kulit buah dan bunga mentimun menunjukkan aktivitas antibakteri dengan kategori sedang hingga kuat yang dipengaruhi oleh konsentrasi dan jenis bakteri yang digunakan. Berdasarkan hasil dari seluruh penelitian yang dianalisis, peningkatan konsentrasi ekstrak tanaman mentimun secara konsisten berbanding lurus dengan peningkatan diameter zona hambat. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, maka semakin besar zona hambat yang dihasilkan, yang menunjukkan peningkatan aktivitas antibakteri. KESIMPULAN Berdasarkan berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa mentimun telah digunakan sejak zaman kuno sebagai obat untuk menjaga kesehatan, meningkatkan penampilan, dan mengobati berbagai penyakit. Mentimun mengandung metabolit sekunder, termasuk saponin, alkaloid, flavonoid, tanin, steroid, dan terpenoid, yang meningkatkan efektivitas antibakterinya terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Hal ini menunjukkan bahwa mentimun memiliki potensi yang signifikan sebagai obat alami yang dapat diintegrasikan ke dalam produk farmasi, terutama sebagai agen antibakteri. REFERENSI