ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 COMPARISON OF ALVARADO SCORE AND RIPASA SCORE IN DIAGNOSIS OF ACUTE APPENDICITIS AT HJ. BUNDA HALIMAH HOSPITAL BATAM Muhammad Azmi Fanany1. Fachrul Jamal 2. Malahayati Rusli Bintang3. Raju Sabran4 Department of General Surgery. Faculty of Medicine. Batam University Email: muhamadazmi@univbatam. id, jamal61aceh@gmail. com, bintang@univbatam. 61121067@univbatam. ABSTRACT Background: Acute appendicitis is the most common abdominal surgical emergency, requiring rapid and accurate diagnosis to prevent serious complications. The Alvarado and RIPASA scores are widely used diagnostic tools, but they differ in characteristics and performance, particularly in Southeast Asian populations. This study sought to compare the Alvarado and RIPASA scores for diagnosing acute appendicitis at Hj. Bunda Halimah Hospital. Batam. Methods: This retrospective crossAcsectional analytic study included 125 patients with suspected acute appendicitis who underwent surgery at Hj. Bunda Halimah Hospital between 1 January 2022 and 31 December 2024. Histopathology served as the gold standard. Diagnostic metrics were calculated for an Alvarado cutAcoff Ou 7 and a RIPASA cutAcoff Ou 8 Results: The Alvarado score showed a sensitivity of 87. 7%, specificity of 63. PPV of 96. NPV of 33. 3%, and accuracy of 85. 6% with an AUC of 0. The RIPASA score has a higher sensitivity of 91. 2% but lower specificity of 54. PPV of 95. NPV of 37. 5%, accuracy of 88%, and an AUC of 0. The ROC comparison shows that the AUC value of RIPASA reflects better discriminatory ability in establishing the diagnosis of acute appendicitis. Conclusion: The RIPASA score has been shown to be more sensitive and provide better discriminatory performance. Although the Alvarado score is more specific, the higher sensitivity and accuracy of RIPASA make it a superior alternative in the initial evaluation of appendicitis. Keyword : Acute appendicitis. Alvarado score. RIPASA score ABSTRAK Latar Belakang: Apendisitis akut merupakan kasus bedah abdomen tersering yang memerlukan diagnosis cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi serius. Skor Alvarado dan RIPASA digunakan luas dalam penegakan diagnosis, namun keduanya memiliki karakteristik dan performa yang berbeda, terutama pada populasi Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan Skor Alvarado Dan Skor RIPASA dalam menegakan diagnosis pada pasien apendisitis akut di Rumah Sakit Hj. Bunda Halimah Batam. Metode: Penelitian observasional analitik potong lintang retrospektif melibatkan 125 pasien suspek apendisitis akut yang menjalani tindakan bedah di RS Hj. Bunda Halimah periode 1 Januari 2022 Ae 31 Desember 2024. Histopatologi digunakan sebagai standar emas. Nilai diagnostik dihitung untuk skor Alvarado Ou 7 dan RIPASA Ou 8. Hasil: Skor Alvarado menunjukkan sensitivitas 87,7 %, spesifisitas 63,6 %. PPV 96,1%. NPV 33,3% dan akurasi 85,6% dengan AUC 0,797. Skor RIPASA memiliki sensitivitas lebih tinggi 91,2 % namun spesifisitas lebih rendah 54,5 %. PPV 95,4%. NPV 37,5% dan akurasi 88% serta AUC 0,847. Perbandingan ROC menunjukkan nilai AUC RIPASA mencerminkan kemampuan diskriminatif yang lebih baik dalam menegakkan diagnosis apendisitis akut. Universitas Batam Page 280 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Kesimpulan: Skor RIPASA terbukti lebih sensitif dan memberikan performa diskriminatif lebih baik. Meskipun skor Alvarado lebih spesifik, sensitivitas dan akurasi RIPASA yang lebih tinggi menjadikannya alternatif yang lebih unggul pada evaluasi awal apendisitis. Kata kunci: Apendisitis akut. Skor Alvarado. Skor RIPASA PENDAHULUAN Apendisitis akut merupakan salah satu penyebab tersering dari kasus bedah abdomen akut di seluruh dunia. Pada tahun 2019, diperkirakan terdapat 17,7 juta kasus apendisitis akut dengan insiden 228 per 000 penduduk, serta lebih dari 33. ,43 per 100. Dari tahun 1990 hingga 2019, jumlah kasus dan insidennya meningkat masing-masing sebesar 38,8% dan 11,4%, meskipun angka kematian menurun sebesar 21,8%. Insiden tertinggi terjadi pada kelompok usia 15-19 tahun, dan tingkat kematian meningkat secara eksponensial (Wickramasinghe. Xavier and Samarasekera. Prevalensi apendisitis berdasarkan jenis kelamin menurut World Health Organization (WHO) tahun 2022 yaitu 819 kasus per 10. Kejadian Apendisitis akut dan kronis di negara berkembang tercatat lebih rendah dibandingkan dengan negara maju. Di Asia Tenggara. Indonesia kasus apendisitis menempati urutan pertama dengan prevalensi 05%, diikuti oleh Filipina sebesar 0. dan Vietnam sebesar 0. 02% (Dinata. Inayati and Ayubbana, 2. Di Indonesia berkisar 24,9 kasus per 10. 000 populasi. Apendisitis ini bisa menimpa pada laki-laki maupun apendisitis selama hidupnya mencapai 7-8%. Prevalensi tertinggi terjadi pada usia 20-30 tahun (Wijaya. Eranto and Alfarisi, 2. Apendiks merupakan organ tubular yang sempit dengan dinding berotot dan kaya jaringan limfoid. Meskipun fungsi pastinya belum sepenuhnya dipahami, struktur ini kerap menjadi sumber masalah kesehatan, terutama berupa proses inflamasi. Inflamasi akut pada apendiks disebut apendisitis akut. Apendisitis adalah suatu kondisi peradangan yang terjadi pada organ appendix vermicularis, yang terletak pada caecum di regio abdomen kanan bawah (Pattiiha and Selomo, 2. Dikarenakan peradangan yang terjadi pada Universitas Batam . menyebabkan gejala seperti mual, muntah, dan nyeri tajam di perut bagian kanan Apendisitis merupakan kondisi akut yang dapat mengarah pada komplikasi serius, termasuk syok septik dan kematian, jika tidak ditangani dengan tepat. Pengobatan standar untuk apendisitis adalah melalui tindakan bedah (Guan et al. Urgensi penegakan diagnosis pada kasus apendisitis akut harus tepat dan cepat, identifikasi dan intervensi medis berpotensi menimbulkan komplikasi berat seperti perforasi, abses peritoneal, atau peritonitis Meskipun apendisitis merupakan kondisi bedah yang umum, diagnosis praoperatif yang akurat masih menjadi tantangan, dan keterlambatan penanganan pascaoperasi (Bhangu et al. , 2. Dalam menjawab tantangan ini berbagai sistem penilaian klinis telah Salah satunya adalah skor Alvarado, yang diperkenalkan pada tahun 1986, yang bertujuan untuk mengurangi intervensi apendektomi yang tidak perlu dan mencegah keterlambatan dalam menangani kasus positif (Siregar. Wagiu and Lampus, 2. Meskipun sistem skor Alvarado telah lama digunakan secara luas dalam penegakan diagnosis apendisitis keterbatasannya dalam hal sensitivitas dan spesifisitas, terutama pada populasi nonBarat dan usia tertentu. Dalam hal ini skor Alvarado memiliki sensitivitas hanya sebesar 63,6% dan spesifisitas sebesar 78,5%, dengan tingkat keakuratan dibandingkan sistem skor lainnya, khususnya pada kelompok perempuan dan anak-anak (Singla et al. , 2. Selain itu. Malik et al. menyoroti bahwa skor Page 281 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Alvarado hanya mencakup delapan parameter mempertimbangkan usia serta hasil urinalisis, sehingga membatasi akurasinya dalam populasi yang lebih luas (Malik et al. , 2. Tabel 1. Skor Alvarado Parameter Gejala Migrasi Nyeri RIF Mual dan muntah Anoreksia Tanda RIF Tenderness Rebound Tenderness Demam Hasil laboratorium Leukositosis Neutrofilia Skor Interpretasi: <5 = Bukan apendisitis 5-6 = Kemungkinan apendisits 7-8 = Kemungkinan besar apendisitis 9-10 = Apendisitis Sumber: (Pifeleti. Hansell and Kaspar, 2. Sensitivitas Alvarado yang moderat terutama pada perempuan, anak-anak, dan populasi negara berkembang sering kali berujung pada dua konsekuensi ekstrem yaitu apendektomi negatif pada kasus yang sejatinya keterlambatan terapi yang meningkatkan risiko perforasi dan sepsis (Singla et al. , 2. Keterbatasan akses modalitas pencitraan yang modern di banyak rumah sakit Asia membuat penegakan diagnosis apendisitis sangat bergantung pada skor klinis (Mumtaz et al. Ketimpangan sosio demografis dan ekonomi khususnya jarak rujukan antarpulau di Indonesia dan keterbatasan asuransi kesehatan di pedesaan kian memperlebar celah antara kebutuhan diagnostik dan ketersediaan teknologi (Santosa. Selomo and Husen, 2. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem skor yang lebih adaptif terhadap karakteristik pasien Asia, sensitif dalam mendeteksi kasus Universitas Batam kompleks, dan tetap reliabel tanpa dukungan imaging mahal (Omari et al. Sebagai respon terhadap kekurangan ini, skor RIPASA (Raja Isteri Pengiran Anak Saleha Appendiciti. dikembangkan dengan menyertakan variabel tambahan seperti usia, jenis kelamin, durasi gejala, dan hasil urinalisis negatif. Skor ini dirancang khusus untuk populasi Asia, termasuk Asia Tenggara, dan menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan Alvarado dalam beberapa studi (Favara et al. , 2. Legesse . mendemonstrasikan nilai prediktif positif RIPASA 93,9%, kemampuan diagnostiknya yang hampir setara dengan pencitraan ultrasonografi (Legesse et al. , 2. Sebuah studi Metaanalisis oleh Mumtaz et al. mengonfirmasi bahwa skor RIPASA memiliki area under curve (AUC) yang lebih tinggi dibandingkan Alvarado, dengan kinerja yang lebih konsisten dalam berbagai kelompok pasien (Mumtaz et al. , 2. Dengan keunggulan tersebut. RIPASA dinilai sebagai alat skrining yang lebih efektif, khususnya dalam konteks sumber daya terbatas. Tabel 2. Skor RIPASA Parameter Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia C40 tahun >40 tahun Gejala Nyeri RIF Migrasi Nyeri Anoreksia Mual dan Muntah Durasi Gejala C48 jam >48 jam Tanda RIF Tenderness Guarding Rebound tenderness Rovsing sign Skor Page 282 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Demam Laboratorium Leukositosis Urinalisis negatif Kartu Identitas Nasional Asing Interpretasi: : Bukan apendisitis : Kemungkinan apendisits 7,5-11,5: Kemungkinan besar apendisitis >12 : Apendisitis Sumber: (Karami et al. , 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Rumah Sakit Hj. Bunda Halimah Batam selama periode tahun 2022 hingga 2024, tercatat sebanyak 430 kasus apendisitis Dengan memperhatikan kesenjangan pengetahuan dan belum adanya kajian komparatif secara lokal terhadap sistem penilaian Alvarado dan RIPASA dalam menegakkan diagnosis apendisitis akut, maka menjadi suatu urgensi untuk melakukan evaluasi sistematis terhadap kinerja kedua metode tersebut dalam konteks populasi pasien di wilayah Batam, khususnya yang dirawat di Rumah Sakit Hj. Bunda Halimah Batam. METODE PENELITIAN Penilitian ini merupakan penelitian jenis studi observasional analitik dengan desain cross sectional pendekatan retrospektif yang dilakukan di Rumah Sakit Hj. Bunda Halimah Batam. Teknik Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling kemudian didapat sampel yang berjumlah 125 responden. Penelitian ini dilakukan melalui rekam medik. Analisis data menggunakan uji diagnostik, kemudian untuk membandingkannya menggunakan kurva ROC (Receiver Operating Characteristi. untuk mendapatkan nilai AUC (Area Under the Curv. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi Frekuensi Alvarado dan RIPASA Skor Alvarado merupakan skor klinis klasik yang terdiri atas 8 parameter, meliputi gejala, tanda serta hasil laboratorium. Adapun Skor RIPASA dikembangkan pada populasi Universitas Batam Asia dan memperluas cakupan menjadi 14 parameter yang mengintegrasikan domain demografi usia, jenis kelamin. KINA, gejala, tanda dan hasil laboratorium Tabel 3. Distribusi Frekuensi Parameter Skor Alvarado dan RIPASA Parameter Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia C40 tahun >40 tahun Gejala Nyeri RIF Migrasi Nyeri Anoreksia Mual dan Muntah Durasi Gejala C48 jam >48 jam Tanda RIF Tenderness Guarding Rebound Rovsing sign Demam Laboratorium Leukositosis Urinalisis negatif Neutrofilia Shift To Left KINA f (%) 55 . %) 70 . %) 93 . ,4%) 32 . ,6%) 121 . ,8%) 105 . %) 81 . ,8%) 108 . ,4%) 58 . ,4%) 67 . ,6%) ,8%) ,6%) ,6%) ,4%) ,4%) Pada tabel 3 memaparkan jenis kelamin, terdapat 55 responden laki-laki . %) dan 70 responden perempuan . %). Berdasarkan usia, kelompok O40 tahun berjumlah 93 responden . ,4%) yang mana di dominasi kelompok usia berdasarkan DEPKES . yaitu remaja akhir usia 17Ae25 tahun mendominasi temuan dengan frekuensi tertinggi sebesar 27,2%, sedangkan kelompok >40 tahun berjumlah 32 responden . ,6%). Untuk gejala. Nyeri RIF ditemukan pada 121 responden . ,8%) Persentase nyeri RIF sebesar 96,8% ini sangat konsisten dengan sensitivitas tinggi nyeri pada RIF yang tercatat dalam banyak Page 283 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 studi klinis, di mana nilai sensitivitasnya berkisar antara 90% hingga 97%, dan dianggap sebagai penanda awal dengan nilai prediktif tinggi terhadap apendisitis akut (Mumtaz et al. Migrasi Nyeri pada 105 responden . %). Anoreksia pada 81 responden . ,8%), serta Mual dan Muntah pada 108 responden . ,4%). Pada durasi gejala. O48 jam tercatat pada 58 responden . ,4%) dan >48 jam pada 67 responden . ,6%). Untuk tanda. RIF Tenderness terdapat pada 101 responden . ,8%). Guarding pada 32 responden . ,6%). Rebound tenderness pada 60 responden . %). Rovsing sign pada 75 responden . %), dan Demam pada 115 responden . %). Pada hasil laboratorium. Leukositosis ditemukan pada 102 responden . ,6%). Urinalisis negatif pada 108 responden . ,4%) dan Neutrofilia Shift To Left pada 73 responden . ,4%). Terakhir, pada Kartu Identitas Nasional Asing (KINA) tercatat 0 kasus . %). Ketiadaan pasien WNA dalam studi ini berkontras dengan sensitivitas tinggi yang dilaporkan pada studi-studi sebelumnya yang menggunakan variabel ini dalam populasi Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan setting penelitian yang hanya mencakup fasilitas pelayanan domestik atau memang mencerminkan populasi homogen secara kewarganegaraa, ini menekankan bahwa latar belakang pasien asing mempengaruhi presentasi gejala dan waktu datang ke rumah sakit, yang relevan terhadap skor prediktif seperti RIPASA (Singla et al. , 2. Uji Diagnostik Skor Alvarado dan Skor RIPASA Analisis bivariat pada penelitian ini adalah analisa uji diagnostik antara hasil pemeriksaan histologi dan sistem skor pada pasien sebagai baku emas. Analisis ini digunakan untuk memperoleh nilai sensitivitas, spesifisitas, positive predictive value (PPV), negative predictive value (NPV) dan akurasi. Tabel 4. Uji Diagnostik Skor Alvarado dan Skor RIPASA Statistik Sensitivitas Spesifisitas Universitas Batam Alvarado 87,7 % 63,6 % RIPASA 91,2% 54,5% PPV NPV Akurasi 96,1% 33,3% 85,6 % 95,4% 37,5% Pada tabel 4 memaparkan sensitivitas alvarado sebesar 87,7%, ini menunjukkan validitas diskriminatif yang cukup baik dalam menyingkirkan apendisitis akut pada fase awal evaluasi IGD. Sensitivitas yang tinggi ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien yang benar-benar mengalami apendisitis akut akan teridentifikasi dengan skor Alvarado Ou 7, menjadikannya alat triase yang berguna di fasilitas tanpa akses imaging cepat seperti di IGD primer (Pifeleti. Hansell and Kaspar, 2. Hasil ini konsisten dengan studi meta-analisis menyatakan bahwa sensitivitas skor ini dapat mencapai >85% pada populasi rawat darurat dengan manifestasi khas seperti migrasi nyeri dan nyeri tekan di RIF (Bhangu et al. , 2. Temuan ini juga diperkuat oleh studi yang melaporkan bahwa 75,56% pasien dengan skor tinggi mengalami konfirmasi apendisitis saat operasi (Borse and Jayverdhan, 2. Spesifisitas skor Alvarado tercatat 63,6%, mengindikasikan bahwa sekitar sepertiga pasien tanpa apendisitis akut tetap berisiko diklasifikasikan sebagai AupositifAy dan dapat menjalani imaging atau intervensi invasif yang tidak perlu. Nilai ini menunjukkan keterbatasan skor dalam membedakan kondisi non-apendikular seperti gastroenteritis atau nyeri ovarium, terutama pada perempuan usia subur (Pifeleti. Hansell and Kaspar, 2. Dapat dijelaskan oleh pengaruh variabel demografis dan parameter seperti durasi nyeri dan rasio neutrofil yang tidak tertangkap dalam skor Alvarado (Chae et , 2. Studi tambahan juga menunjukkan bahwa usia lanjut dan onset lambat >48 jam menurunkan spesifisitas skor karena meredupnya tanda inflamasi lokal (Planas Dyaz et al. , 2. Dalam penerapan di klinis, rendahnya spesifisitas ini mendukung penggunaan skor Alvarado sebagai alat eksklusi . ule ou. , bukan konfirmasi diagnosis . ule i. , sehingga Page 284 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 dikombinasikan dengan modalitas lain seperti USG atau CT abdomen (Bhangu et al. , 2. Pada penelitian ini nilai positive predictive value (PPV) sebesar 96,154%, skor alvarado menunjukkan tingkat akurasi tinggi dalam mengonfirmasi diagnosis apendisitis akut ketika hasil skornya positif, yang berarti bahwa hampir semua pasien dengan skor tinggi memang menderita apendisitis, sehingga skor ini sangat berguna dalam menghindari apendektomi yang tidak perlu. Namun, nilai negative predictive value (NPV) 33,333%, mengindikasikan bahwa skor rendah tidak cukup dapat diandalkan untuk menyingkirkan diagnosis, dan sejumlah besar kasus tetap mungkin terlewatkan jika hanya bergantung pada skor ini. Ketidakseimbangan antara PPV dan NPV ini mencerminkan sensitivitas yang mungkin tinggi namun spesifisitas yang kurang pada skema penilaian ini, khususnya dalam populasi anak-anak atau pasien dengan presentasi atipikal. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa skor alvarado cukup efisien sebagai alat skrining awal di pengaturan terbatas sumber daya, tetapi penggunaannya harus diikuti dengan pencitraan tambahan seperti USG abdomen untuk menurunkan tingkat kesalahan diagnosis (Al-wageeh et al. , 2. Selain itu, studi retrospektif lain menyoroti bahwa meskipun sensitivitas dan NPV-nya tinggi. PPV-nya bersifat sedang, menandakan bahwa skor ini lebih tepat untuk rule out ketimbang rule in, terutama pada anak-anak (Mnofala et , 2. Temuan ini menekankan pentingnya penyempurnaan komponen skor dan perlunya validasi eksternal lintas populasi untuk meningkatkan ketepatan diagnostik. Kemudian temuan ini menuntut dokter untuk tidak mengandalkan skor alvarado secara tunggal dalam pengambilan keputusan klinis, khususnya dalam kasus dengan skor menengah atau gejala tidak khas, demi menghindari kasus perforasi atau intervensi bedah yang tidak perlu (Karami et al. , 2. Akurasi keseluruhan skor alvarado dalam penelitian ini mencapai 85,6%, menunjukkan performa klasifikasi yang baik namun belum ideal. Hasil ini mendukung tujuan khusus pada penelitian ini bahwa Universitas Batam sistem skor ini berguna dalam penegakan diagnosis dini apendisitis akut. Meski memunculkan implikasi penting, yaitu perlunya penunjang tambahan seperti USG atau CT abdomen untuk meningkatkan ketepatan diagnosis (Stringer, 2. sisi lain, faktor eksternal seperti usia pasien, gejala atipikal, dan adanya terapi antibiotik sebelumnya juga mempengaruhi interpretasi skor (Bhangu et al. , 2. Dengan demikian dalam penelitian ini mengukuhkan peran skor alvarado sebagai instrumen objektif dalam skrining kasus apendisitis di ruang gawat darurat, sekaligus mengingatkan bahwa skor ini menyeluruh, sehingga penerapan skor ini sangat membantu pengambilan keputusan cepat di fasilitas dengan keterbatasan akses imaging (Awayshih et al. , 2. Berdasarkan tabel 4 skor RIPASA sensitivitas yang dicapai sebesar 91,2 menunjukkan bahwa skor tersebut mampu apendisitis yang benar-benar terjadi, sehingga mendukung hipotesis awal bahwa sistem ini efektif dalam skrining awal apendisitis akut (Chae et al. , 2. Dalam sebuah studi yang mana lebih tinggi angka sensitivitas sebesar 96,75% (Mumtaz et al. Temuan ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik populasi studi, termasuk usia dan presentasi klinis Kekuatan menegaskan potensi RIPASA sebagai alat diagnostik awal yang efisien di klinik tanpa akses luas terhadap pencitraan canggih (Din et al. , 2. Hasil ini memperkuat argumentasi bahwa RIPASA cocok digunakan dalam populasi Asia dengan prevalensi tinggi apendisitis, dan secara praktis membantu mengefisiensikan triase bedah darurat (Karapolat, 2. Spesifisitas RIPASA dalam studi ini tercatat 54,5% jauh lebih rendah dibandingkan angka dari studi yang mencapai 69,86% (Malik et al. , 2. Angka ini mengindikasikan adanya risiko over diagnosis, terutama pada pasien dengan presentasi gejala non spesifik. Walaupun hal ini tidak menentang Page 285 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 hipotesis keakuratan RIPASA secara umum, hasil ini menggarisbawahi keterbatasan kemungkinan besar dipengaruhi oleh tingginya prevalensi penyakit lain yang menyerupai apendisitis di populasi setempat (Stringer, 2. Rendahnya spesifisitas ini menuntut kehati-hatian dalam penggunaan RIPASA satu-satunya pengambilan keputusan operatif, sehingga sebaiknya dikombinasikan dengan modalitas diagnosis lain seperti USG bila tersedia (Chae et al. , 2. Pada penelitian ini positive predictive value (PPV) sebesar 95,413% dan negative predictive value (NPV) hanya 37,500%, skor RIPASA menunjukkan kekuatan prediktif tinggi dalam mengonfirmasi diagnosis apendisitis akut, namun lemah dalam menyingkirkan kasus non-apendisitis. PPV tinggi mencerminkan bahwa ketika skor RIPASA kemungkinan besar pasien benar-benar mengalami inflamasi apendiks yang nyata patofisiologi nyeri berpindah dari epigastrium ke fossa iliaka kanan, nyeri tekan lokal, dan leukositosis, yang merupakan parameter integral dalam sistem RIPASA. Namun. NPV rendah mengindikasikan bahwa hasil negatif tidak cukup kuat untuk mengesampingkan apendisitis, sehingga risiko misdiagnosis tetap Ketimpangan ini menyiratkan bahwa RIPASA lebih tepat digunakan sebagai alat konfirmasi daripada eksklusi, terutama di fasilitas dengan keterbatasan radiologi Temuan ini konsisten dengan studi yang mencatat PPV 89,8% dan NPV 47,89%, serta menunjukkan bahwa integrasi skor klinis dengan pencitraan dapat menurunkan tingkat apendektomi negatif (Khulbey. Sarma and Joshi, 2. Demikian pula, temuan dalam studi lain melaporkan PPV 98,02% dan NPV 73,68% pada skor RIPASA, mengonfirmasi bahwa skor ini lebih bermanfaat untuk mengarahkan intervensi bedah daripada menunda tindakan (Mumtaz et al. , 2. Hasil ini mendukung hipotesis bahwa skor RIPASA dapat meningkatkan akurasi diagnosis klinis, namun menyoroti perlunya validasi tambahan atau integrasi dengan modalitas lain, khususnya pada pasien dengan Universitas Batam presentasi atipikal (Frountzas et al. , 2. Akurasi keseluruhan skor RIPASA dalam studi ini menunjukkan capaian 88%, memperkuat hipotesis bahwa sistem ini memiliki kinerja diagnostik yang handal dalam membedakan kasus apendisitis akut. Hasil ini selaras dengan temuan yang mencatat akurasi 95,12% dalam populasi Asia Tenggara, menunjukkan bahwa RIPASA memiliki keunggulan dalam konteks regional (Din et al. , 2. Selain itu, studi lain mencatat korelasi sangat kuat antara skor RIPASA dan derajat patologi histologis, yang memperluas aplikasinya tidak hanya sebagai alat diagnosis awal, tetapi juga dalam memperkirakan progresivitas klinis (Karapolat, 2. Validasi lebih lanjut dengan akurasi 95,3% menguatkan posisi RIPASA sebagai metode yang efisien secara klinis dan ekonomis di fasilitas dengan keterbatasan akses radiologis (Mumtaz et al. , 2. Bahkan pada studi lain dengan populasi non asia menunjukkan akurasi RIPASA tetap kompetitif 80%, mengindikasikan potensi lintas-etnis yang layak dieksplorasi lebih lanjut (Malik et al. , 2. Perbandingan Skor Alvarado dan RIPASA Pada penelitian ini, analisis ROC dan estimasi AUC digunakan sebagai kerangka statistik untuk menilai masingAcmasing skor diagnostik Page 286 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Alvarado dan RIPASA terhadap hasil baku emas histopatologi. ROC dan AUC menentukan titik potong uji diagnostik berupa grafik yang menggambarkan tawar-menawar antara sensitivitas dan spesifisitas (Sastroasmoro and Ismael. Kurva ROC memvisualisasikan trade off kedua parameter. Dengan demikian, perbandingan AUC kedua skor menyediakan dasar komparatif yang kuat untuk menentukan skor mana yang secara statistik lebih unggul dalam mendeteksi apendisitis akut pada keseluruhan responden yang diteliti. Gambar 1. Kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) Tabel 5. Perbandingan Skor Alvarado dan Skor RIPASA Variabel AUC RIPASA Alvarado 0,847 0,797 0,0597 0,0730 Berdasarkan tabel 5 perbandingan skor alvarado dan RIPASA pada penelitian ini didapatkan bahwa pada skor RIPASA dan alvarado nilai area under curve (AUC) untuk skor RIPASA adalah 0,847 dan untuk skor Alvarado adalah 0,797, dengan perbedaan antara kedua area tersebut sebesar 0,0506. Perbedaan ini menandakan nilai AUC RIPASA yang lebih tinggi mencerminkan kemampuan diskriminatif yang lebih baik, yang dapat dikaitkan dengan komposisi item skornya yang lebih komprehensif mencakup usia, jenis kelamin, durasi gejala, dan hasil faktor-faktor mencerminkan kompleksitas patofisiologi apendisitis dan variasi populasi asia (Karami et al. , 2. Skor RIPASA juga menunjukkan sensitivitas lebih tinggi, yang berkontribusi pada AUC yang lebih besar meskipun dengan penurunan spesifisitas Hal ini mendukung keunggulan RIPASA dalam konteks klinis dengan prevalensi tinggi apendisitis dan risiko keterlambatan diagnosis, terutama pada populasi dengan presentasi atipikal atau (Moniruddin et al. , 2. Temuan ini sejalan meta-analisis menegaskan sensitivitas RIPASA yang secara konsisten lebih tinggi namun dengan spesifisitas lebih rendah dibanding Alvarado, mengindikasikan nilai RIPASA dalam menurunkan angka negatif apendektomi Universitas Batam Bawah 0,772 0,715 Atas 0,905 0,863 terutama dalam konteks sumber daya terbatas (Favara et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan analisis yang telah pembahasan perbandingan skor Alvarado dan skor RIPASA terhadap penegakan diagnosis pada pasien apendisitis akut di Rumah Sakit Hj. Bunda Halimah Batam, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai Skor Alvarado memiliki sensitivitas 87,7%, spesifisitas 63,6%, positive predictive value (PPV) 96,154%, negative predictive value (NPV) 33,333%, dan akurasi 85,6%. Dengan spesifisitas yang tinggi dibandingkan RIPASA, skor alvarado lebih baik dalam menyingkirkan kasus non-apendisitis. Skor RIPASA menunjukkan kinerja diagnostik lebih tinggi dengan 91,2%, 54,5%, positive predictive value (PPV) 95,413% dan negative predictive value (NPV) hanya 37,500%, dan akurasi 88%, ini menandakan bahwa skor RIPASA memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik untuk mendeteksi apendisitis akut. Page 287 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Terdapat perbedaan sebesar 0,0506, yang mana Skor RIPASA memiliki AUC lebih tinggi 0,847 dibanding Skor Alvarado 0,797, ini menandakan skor RIPASA memiliki akurasi diagnostik yang unggul. Perbedaan ini disebabkan oleh parameter tambahan dalam RIPASA seperti durasi gejala, usia, jenis kelamin, dan hasil urinalisis, yang tidak terdapat dalam skor Alvarado. Dengan demikian. RIPASA lebih sesuai untuk populasi Asia Tenggara yang menjadi subjek dalam penelitian SARAN Pada pelayanan kesehatan diharapkan dapat menyusun protokol klinis berbasis bukti yang mengintegrasikan skor RIPASA dan Alvarado dalam algoritma triase dan diagnosis pasien dengan keluhan nyeri abdomen akut. Pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan tentang penerapan sistem skor ini perlu diprioritaskan, mengingat akurasi diagnosis praoperatif sangat menentukan outcome pasien. Rumah sakit juga dianjurkan untuk meningkatkan kolaborasi antara unit gawat darurat, laboratorium, dan radiologi guna mendukung pendekatan diagnostik multimodal yang lebih akurat, serta meminimalisir tindakan apendektomi negatif yang berimplikasi pada beban sumber daya dan risiko pasien. Pada Tenaga medis disarankan agar diberikan pelatihan khusus yang terstruktur mengenai penggunaan dan interpretasi skor Alvarado dan RIPASA sebagai alat bantu diagnostik apendisitis akut. Peningkatan kompetensi ini penting untuk memperkuat ketepatan deteksi klinis di lini pertama, mempercepat proses pengambilan keputusan penunjang yang bersifat mahal dan tidak selalu tersedia. Selain itu, pemahaman yang seragam terhadap parameter klinis yang koordinasi dan efektivitas komunikasi antarprofesi dalam praktik pelayanan kedokteran yang kolaboratif. Pada penelitian lanjutan disarankan untuk menggunakan desain prospektif Universitas Batam dengan jumlah sampel yang lebih besar dan populasi yang lebih heterogen guna mengevaluasi performa kedua skor dalam berbagai stratifikasi klinis, yang dalam studi ini belum dianalisis secara spesifik. Penambahan variabel biomarker inflamasi dan modalitas pencitraan sebagai parameter komparatif terhadap skor klinis juga dapat memperkaya pemahaman terhadap nilai diagnostik masing-masing skor. samping itu, studi cost-effectiveness terkait penerapan skor klinis dalam sistem pelayanan kesehatan perlu dilakukan untuk mendukung adopsi luas di fasilitas kesehatan primer dan sekunder. Bagi Institusi pendidikan kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, mengintegrasikan temuan penelitian ini ke dalam kurikulum pembelajaran klinis sebagai bagian dari modul evidence based diagnosis untuk kasus abdomen akut. Pengenalan komparatif antara skor Alvarado dan RIPASA perlu difasilitasi tidak hanya dalam konteks teori, tetapi juga dalam bentuk problem based learning (PBL) yang melibatkan skenario pasien dengan gejala atipikal dan kebutuhan diferensiasi diagnostik yang kompleks. DAFTAR PUSTAKA