Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 1. Januari 2025 BERITAKANLAH INJIL KEPADA SEGALA MAKHLUK Implikasi Injil Markus 16:15 Bagi Peran dan Tanggung jawab Gereja Terhadap Pemeliharaan dan Penyelamatan Lingkungan Hidup Anton Rumbewas STFT GKI I. S Kijne Jayapura anthonrumbewas21@gmail. ABSTRAK Lingkungan hidup yang semakin terancam oleh kerusakan akibat aktivitas manusia memerlukan perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk gereja sebagai institusi keagamaan. Gereja, yang memiliki pengaruh kuat dalam membentuk karakter dan moral jemaat, memiliki peran yang sangat penting dalam mengajarkan dan mengedukasi tentang tanggung jawab terhadap alam sebagai bagian dari panggilan iman. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana gereja dapat memainkan peran penting dalam pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup melalui pendekatan teologis yang tepat dan program-program yang relevan di tingkat jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis teologis dan evaluasi praktis. Artikel ini mengkaji teks-teks Alkitab yang berhubungan dengan pemeliharaan ciptaan dan tanggung jawab manusia terhadap alam. Analisis dilakukan untuk menggali prinsip-prinsip teologis yang dapat diterapkan dalam konteks gereja modern, diikuti dengan identifikasi berbagai program dan tindakan praktis yang dapat dilakukan oleh gereja dalam mendukung pelestarian lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja dapat memainkan peran strategis dalam pemeliharaan lingkungan hidup dengan mengembangkan program-program yang berbasis pada ajaran Alkitab mengenai ciptaan dan tanggung jawab manusia terhadap Gereja perlu menggalang gerakan penyadaran di antara jemaat dan masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Beberapa langkah praktis yang dapat diambil antara lain melalui pendidikan liturgis yang mengintegrasikan teologi lingkungan dalam ibadah, khotbah, dan pengajaran di sekolah minggu serta katekisasi. Kata Kunci : Lingkungan Hidup. Gereja. Pendekatan Teologis. Pemeliharaan. Penyelamatan. Teks Alkitab ABSTRACT The environment, which is increasingly threatened by damage caused by human activities, requires serious attention from all levels of society, including the church as a religious institution. The church, which has a strong influence in shaping the character and morals of the congregation, has a very important role in teaching and educating about responsibility towards nature as part of the call to faith. The purpose of this article is to explore how the church can play an important role in the care and preservation of the environment through appropriate theological approaches and relevant programs at the congregational level. This research uses a qualitative approach with theological analysis and practical evaluation. This article examines biblical texts relating to the care of creation and human responsibility towards nature. The analysis was carried out to explore theological principles that can be applied in the context of the modern church, followed by identifying various practical programs and actions that can be carried out by the church to support environmental The research results show that the church can play a strategic role in preserving the environment by developing programs based on Biblical teachings regarding creation and human responsibility towards The church needs to raise awareness movements among the congregation and the community regarding the importance of protecting and preserving the environment to prevent further damage. Several practical steps that can be taken include liturgical education that integrates environmental theology in worship, sermons and teaching in Sunday schools and catechisms. Keywords : Environment. Church. Theological Approach. Providence. Rescue. Biblical Text. PENDAHULUAN Permasalahan lingkungan hidup kini mendapat perhatian di hampir semua negara. ini terutama terjadi dalam dasawarsa 1970-an setelah diadakannya konperensi PBB tentang lingkungan hidup di stockholm dalam Hari pembukaan konperensi itu tanggal 5 juni, yang kemudian disepakati sebagai hari lingkungan hidup se dunia. Dalam konperensi tersebut telah disetujui banyak resolusi tentang lingkungan hidup yang digunakan sebagai landasan tindak lanjut. salah satu di antaranya ialah didirikannya badan khusus dalam PBB untuk mengurus permasalahan lingkungan, yaitu united nations environmental programme, disingkat UNEP. Badan ini bermarkas besar di Nairobi. Kenya. AuDi Indonesia perhatian tentang lingkungan hidup telah mulai muncul di media massa sejak tahun 1960an. Pada umumnya berita itu berasal dari dunia barat yang dikutip oleh media massa kita. Oleh karena itu, masalah lingkungan yang diliput oleh media massa adalah terutama yang mengenai pencemaran. Ay 2 Tonggak sejarah tentang permasalahan lingkungan hidup di Indonesia ialah diselenggarakannya Seminar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional oleh Universitas Padjadjaran di Bandung pada tanggal 15-18 Mei 1972 yang dihadiri oleh ilmuan dari berbagai universitas, pejabat pemerintah, cendekiawan dan tokoh masyarakat. Seminar ini merupakan seminar tentang lingkungan hidup yang pertama kali diadakan di Indonesia sebelum delegasi Indonesia ke Konperensi Stockholm. 3 AuDi Indonesia pada tahun 1993 dicanangkan sebagai tahun lingkungan hidup. Melalui komitmen ini, negara-negara maupun lembaga-lembaga agama dan organisasi masyarakat. NGO, dan LSM terus melalukan berbagai usaha dengan tujuan menghindari peningkatan perusakan alam semesta ini, demi masadepan umat manusia. Ay 4 Kenyataan yang disebutkan di atas mau menyadarkan kita bahwa isu lingkungan hidup memiliki fungsi yang sangat strategis, vital dan menentukan kehidupan berkelanjutan bagi setiap generasi umat manusia. Itulah sebabnya lingkungan hidup telah diresponsi oleh masyarakat, pemerintah. NGO, maupun lembaga-lembaga keagamaan pada aras internasional, nasional dan lokal sebagai isu global. Selain sebagai masalah global isu lingkungan hidup juga merupakan salah satu masalah kemanusiaan. Sebab perubahan yang besar dalam lingkungan hidup berpotensi krisis serta menjadi ancaman punahnya beribu jenis hewan dan tumbuhan, berpengaruh pada kesehatan dan berdampak kematian bagi manusia. Inilah gambaran suram dari krisis lingkungan hidup terhadap kehidupan manusia dan segala makhluk di bumi. Melihat pada akibat negatip yang ditimbulkan oleh krisis lingkungan hidup, maka pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan hidup sudah saatnya dijadikan sebagai agenda masyarakat, pemerintah. LSM, maupun lembaga-lembaga keagamaan, khususnya gereja dalam eksistensinya sebagai institusi maupun selaku persekutuan umat Allah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis teologis dan evaluasi praktis. Artikel ini mengkaji teks-teks Alkitab yang berhubungan dengan pemeliharaan ciptaan dan tanggung jawab manusia terhadap alam. Analisis dilakukan untuk menggali prinsip-prinsip teologis yang dapat diterapkan dalam konteks gereja modern, diikuti dengan identifikasi berbagai program dan tindakan praktis yang dapat dilakukan oleh gereja dalam mendukung pelestarian lingkungan. Penulis juga melakukan kajian literatur untuk memperkaya perspektif tentang bagaimana gereja dapat mengimplementasikan teologi lingkungan dalam berbagai aspek pelayanan, seperti ibadah, pendidikan, dan kolaborasi dengan lembaga lain. Data juga dikumpulkan melalui analisis terhadap kebijakan gereja dalam menghadapi isu lingkungan di berbagai wilayah, untuk menentukan relevansi dan efektivitas program-program yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN Arti Lingkungan Hidup Bagi Manusia Kenyataan yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa manusia tidak diciptakan sendirian dan Otto Soemarwoto. Ekologi. Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan, 2008, hl. Loc. Ibid. , hl. Karel Phill Erari. Tanggung jawab Profetis dan Advokasi Gereja dalam Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan, (Tim Penyusun. Karel Phill Erari, et. , dalam AuKeadilan bagi yang Lemah: Buku Peringatan Hari Jadi ke-67 Prof. Dr. Ihromi. Jakarta: . anpa penerbi. , 1995, hl. ditempatkan di dalam dunia untuk hidup sendirian pula, melainkan bersama dengan makhluk lain, yaitu tumbuhan, hewan dan jasad renik. Makhluk hidup yang lain itu bukan sekedar pendamping dan kawan hidup bersama secara netral atau pasif terhadap manusia, melainkan hidup manusia menjadi bagian yang integral, terkait erat pada mereka. Tanpa ciptaan yang lain . akhluk hidup dan benda takhidu. manusia tidak memiliki makna hidup. Jadi sebenarnya manusia yang membutuhkan makhluk lain demi kelangsungan hidupnya, bukan sebaliknya. Manusia memperoleh oksigen dari pohon, memperoleh makanan dari tumbuh-tumbuhan hijau dan hewan, kebutuhan dasar manusia berasal dari sumber-sumber alam yang tersedia. Berdasarkan ketergantungan hidup ini, maka sebenarnya manusia bukan penguasa alam, tetapi manusia diberi mandat oleh Sang Pencipta untuk melihara, melindungi, dan melayani lingkungan hidup demi kelangsungan hidupnya. Karena jika manusia menghancurkan, merusak serta mengabaikan tanggung jawabnya terhadap lingkungan hidup, ia bukan saja membinasakan dan memutuskan rantai kelangsungan hidupnya maupun generasi berikutnya, tetapi yang terutama ialah mengabaikan panggilan atau mandat Allah sebagai pemelihara, pelindung dan pengelola ciptaan-Nya secara bertanggung jawab. Jika manusia mengabaikan panggilan atau mandat Allah itu, maka pada gilirannya manusia akan menuai penderitaan bahkan kematian. AuInti permasalahan lingkungan hidup yang mestinya disadari oleh penghuni planet bumi ini adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan secara mendasar dibicarakan dalam ekologi. Ay5 Ekologi merupakan salah satu komponen dalam sistem pengelolahan lingkungan hidup yang harus ditinjau bersama dengan komponen lain . konomi, teknologi, politik, sosial buday. untuk mendapatkan keputusan yang seimbang. Ay 6 Hal ini membuktikan bahwa interaksi manusia dengan lingkungan hidup bersifat kompleks, karena dalam lingkungan hidup terdapat banyak unsur yang harus disikapi dengan bijaksana oleh manusia. Unsur-unsur lingkungan yang memberi hidup kepada manusia di antaranya: udara untuk pernapasan, air untuk minum, keperluan rumah tangga dan kebutuhan lain, tumbuhan dan hewan untuk makanan, tenaga dan kesenangan serta lahan untuk tempat tinggal dan produksi pertanian. Oksigen yang kita hirup dari udara, sebagian besar berasal dari tumbuhan dalam proses fotosintesis dan sebaliknya gas karbondioksida yang kita hasilkan dalam pernapasan digunakan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis. Menjadi jelas bahwa manusia adalah bagian integral dari lingkungan hidup. Manusia tak dapat terpisahkan dari padanya. Manusia tanpa lingkungan hidupnya adalah suatu abstraksi belaka. Manusia dapat berkembang dengan baik, dan hanya dengan manusia yang baik, lingkungan akan berkembang kearah yang optimal. Ay7 Lingkungan Hidup Dan Pergumulan Gereja Bertolak dari kesadaran akan ketergantungan manusia pada lingkungan hidup sebagai bagian dari amanat Allah, maka AuDewan Gereja-gereja se-Dunia dalam Sidang Raya VI 1983 di Vancouver Kanada, mengeluarkan mandat kepada gereja-gereja untuk melaksanakan tugas misioner gereja dalam setiap konteks, dengan mengacu pada rumusan tema oikumenis: Keadilan. Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan. Ay 8 Sidang Raya ini berpendapat bahwa masalah-masalah lingkungan hidup perlu ditanggulangi sama seperti persoalan tentang isu-isu keadilan, misalnya Hak Asasi Manusia, dan juga persoalan perdamaian, misalnya penggunaan sejata nuklir, dan termasuk dalam ketiga isu di atas adalah isu-isu etis. Gerejagereja memahami bahwa manusia dipanggil untuk hidup secara adil dan menerapkan prinsip-prinsip keadilan yang berlaku dalam Kerajaan Allah: solidaritas, mengasihi, mempedulikan, membantu, memihak kepada yang miskin dan tercecer, dan seterusnya sebagai panggilan yang terus-menerus demi tercapainya perdamaian bagi sesama manusia. Namun serentak dengan itu, manusia dipanggil untuk peduli terhadap alam semesta yang semakin tercemar dan rusak, yang akan berakibat mengancam masadepan hidup AuSecara kontekstual keprihatinan Sidang Raya Vancouver muncul dari suatu sikap instrumentalpraktis: bahwa bumi harus dikelola secara bijaksana untuk kepentingan manusia dengan menghormati nilai-nilai hakiki dari ciptaan. Ay 9 Istilah Aukeutuhan ciptaanAy yang lahir pada Sidang Raya DGD adalah suatu cara memperkuat keyakinan bahwa manusia adalah bagian dari keseluruhan ciptaan. Juga cara menciptakan rumus yang menjelaskan ketergantungan ciptaan dalam hubungan dengan Pencipta dan nilai Soemarwoto. Ibid. , hl. Ibid. , hl. Ibid. , hl. ata penganta. Erari. Op. , hl. Celia. Deane-Drummond. Teologi dan Ekologi: Buku Pegangan ( judul asli: A Handbook in Theology and Ecology, diterjemahkan oleh: Robert P. Borrong-Cet. Jakarta: BPK GM, 2001, hl. hakiki dari ciptaan. Istilah itu digunakan untuk menopang pandangan yang lebih AubiosentrikAy dibandingkan dengan pandangan yang Auantroposentrik. Ay Kebebasan umat manusia dari struktur yang menindas diperluas dan mencakup kebebasan alam dari manipulasi manusia. Dalam hubungan dengan itu, gereja-gereja memberi tanggapan terhadap rumusan Justice. Peace and Integrity of Creation (JPIC) sebagai tema-tema pokok dalam gerakan oikumenis pada semua aras. Pada Februari 1992 di Soul berlangsung World Convocation on Justice. Peace and Integrity of Creation, yang merupakan peristiwa global yang untuk pertama kali melibatkan wakil-wakil dari gereja-gereja dari berbagai aliran dan dedominasi . l: agama Yahudi. Kristen. Isla. JPIC Soul mengeluarkan seruan kepada gereja-gereja untuk menjabarkan dalam program pelayanan, aksi bersama perlindungan lingkungan hidup sebagai suatu gerakan umat Kristen demi masadepan dan keselamatan planet bumi. Dalam semangat solidaritas misi oikumenis, menjelang Sidang Raya XI. Surabaya 1989. PGI menjadikan KPKC sebagai bagian integral dari pokok-pokok tugas panggilan bersama gereja-gereja di Indonesia. Kemudian dalam Ausolidaritas gereja-gereja di Indonesia dengan umat manusia, maka gereja-gereja sejak Sidang Raya DGD VII di Canberra menggumuli tema: Datanglah Ya Roh Kudus. Baharuilah Seluruh Ciptaan. Ay Tema yang merupakan doa ini mengajak gereja-gereja dan umat Kristen di Indonesia untuk mewujudkan doa ini menjadi aksi yang nyata untuk suatu proses pembaruan sikap dan relasi antara manusia dengan lingkungan hidup. Gereja memerlukan paradigma pandangan dunia yang lebih konstruktif dan fungsional kearah tindakan nyata terhadap pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan Gereja sudah saatnya menilai dan merefleksikan kembali konsep-konsep teologi, penafsiranpenafsiran serta dogma-dogma gereja yang mempersempit maupun mengabaikan prinsip-prinsip misi kristiani yang holistik dan sejalan dengan kesaksian Alkitab. Kini gereja memerlukan paradigma berteologi yang tanggap terhadap realitas dunia serta kompleksitas permasalahannya yang berhubungan langsung dengan pergumulan dan kebutuhan hidup manusia bersama lingkungan hidupnya. AuGereja harus sadar dan mengakui bahwa perusakan yang secara sistematis terjadi atas alam semesta ini merupakan bagian dari persepsi Kristen yang sejak abad XVI sampai abad XX ini telah memberi tekanan pada peranan manusia menguasai dan mengelola alam raya ini, dan hanya sedikit memberi perhatian kepada aspek pemeliharaannya yang juga adalah mandat dari Pencipta. Ay12 Dengan demikian gereja-gereja memerlukan kesadaran baru, serta membutuhkan integritas yang aktual sebagai persepsi tentang relasi manusia dan lingkungan dengan menekankan suatu eko-teologi yang jelas dan tanggap terhadap lingkungan hidup yang bertolak dari kenyataan bahwa ia mudah rusak dan berakibat fatal bagi kelangsungan hidup manusia. Beritakanlah Injil Kepada Segala Makhluk (Mrk. Ada tiga tugas panggilan gereja-gereja di Indonesia, di semua tempat dan di sepanjang zaman sebagaimana dituangkan dalam Lima Dokumen Keesaan Gereja (LDKG) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Keputusan Sidang Raya XII PGI. Jayapura 21-30 Oktober 1994, yaitu: . Menampakkan keesaan mereka seperti keesaan Tubuh Kristus dengan rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh . Kor. Memberitakan Injil kepada segala makhluk (Mrk. , . Menjalankan pelayanan kasih dan usaha menegakkan keadilan (Mrk. 10:45. Luk. 4:18. 10:25-37. Yoh. Gereja-gereja memahami bahwa tugas panggilan ini adalah kelanjutan dari misi Yesus Kristus, yang telah diutus oleh Allah untuk menyelamatkan dunia ini dan mendamaikan segala sesuatu dengan Allah. Tugas panggilan gereja tidak pernah berubah di semua tempat dan dalam segala zaman. Sebab gereja hidup oleh Kristus dan bagi Kristus. Kristus tidak berubah, karena Ia adalah sama, kemarin, hari ini, besok dan selama-lamanya. Salah satu tugas panggilan gereja yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab gereja memelihara dan menyelamatkan lingkungan hidup adalah tugas panggilan gereja untuk menyampaikan Injil Kristus, yaitu Injil perdamaian yang adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan dan memperdamaikan segala sesuatu dengan Allah (Rm 1:16-17. Kol 1:. Gereja harus memberitakan Injil kepada segala makhluk, di seluruh dunia, sampai ke ujung bumi, di seluruh alam di bawah langit dan sampai kepada akhir zaman (Mat 29:18-20. Mrk 16:15. Kol 1:. Dalam LDKG PGI. Bab IV menjelaskan tentang: Bersaksi dan memberitakan Injil kepada segala makhluk. Ada dua hal pokok yang dibicarakan, yaitu: AuGereja harus memberitakan Injil kepada segala makhlukAy, dan AuArti Injil yang Ibid. , hl. Erari. Ibid. , hl. Loc. diberitakan kepada segala makhluk. Ay Gereja harus memberitakan Injil kepada segala makhluk Terkait dengan peran dan tanggung jawab gereja terhadap pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan hidup, maka tugas panggilan gereja yang bertolak dari kesaksian Injil Markus 16:15 mengandung suatu amanat untuk bersaksi tentang kehendak Allah yang tak terbatas pada manusia saja. Tetapi menuntut agar amanat itu mengharuskan gereja memberitakan Injil dengan tidak terbatas atau dibatasi, namun harus didengar dan diterima oleh seluruh ciptaan-Nya, sebab AuTUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnyaAy (Mzm. , serta agar Ausegala yang bernafas memuji TUHAN!Ay (Mzm. Jadi segala makhluk atau segala yang bernafas, termasuk manusia dan lingkungan hidup adalah karya tangan Tuhan sendiri yang dilindungi atau dipelihara oleh Penciptanya. Oleh karena itu, memberitakan Injil kepada segala makhluk mengandung amanat dari Allah bagi gereja supaya turut berpartisipasi, yaitu partisipasi di dalam tindakan Allah, yang telah menciptakan dan memelihara ciptaan-Nya. Gereja tidak saja menerima amanat Allah secara pasif, lalu mengagumi karya-karya Allah yang besar di dalam dunia. Gereja harus aktif sebagai pelaku dalam rangka memberitakan misi penciptaan dan penyelamatan-Nya kepada segala makhluk sebagai bagian dari ciptaan yang baik menurut pandangan Allah (Kej. 1:1-. Sikap nyata gereja untuk meresponi panggilan ini adalah menghormati dan melindungi ciptaan yang lain, serta mengelola alam lingkungan dengan bertanggung jawab sebagai sikap menghormati Allah Pencipta. Bertolak dari kesadaran teologis ini, maka gereja-gereja di Indonesia menegaskan bahwa Injil adalah Berita Kesukaan yang utuh dan menyeluruh, untuk segala makhluk, manusia dan alam lingkungan hidupnya serta keutuhannya: bahwa Injil yang seutuhnya diberitakan kepada manusia yang seutuhnya, sebab Injil itu menyangkut keseluruhan kehidupan manusia, tidak hanya kehidupan nanti di sorga tetapi kehidupan sekarang di dunia ini, bukan hanya jiwa atau roh manusia, tetapi juga mengenai seluruh keberadaannya, baik sebagai makhluk rohani, maupun sebagai makhluk politik, makhluk sosial, makhluk ekonomi, makhluk ilmu dan teknologi, makhluk kebudayaan, makhluk keamanan dan seterusnya. Jadi tugas panggilan gereja dalam misi Allah (Lat. missio De. adalah untuk dunia dan segala makhluk hidup maupun yang takhidup: tumbuhan atau hutan, hewan, air, tanah, dan semua yang diciptakan Tuhan dalam dunia ini. Jika gereja tidak sadar akan peran dan tanggung jawabnya sebagai pelopor, pelindung, pemelihara dan penyelamat bagi lingkungan hidup, itu berarti gereja kelihatan hidup tetapi pada hakekatnya telah kehilangan dinamikanya sebagai garam dan terangnya bagi segala makhluk, gereja telah mati secara spiritual. Sebab sasaran pemberitaan Injil dalam konteks teologi Kerajaan Allah itu menyangkut realitas kehidupan manusia sehari-hari dalam relasi dengan Allah, dengan segala makhluk dan lingkungan hidupnya atau ekosistem (=suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkunganny. Arti Injil yang diberitakan kepada segala makhluk Pertanyaan penting bagi gereja sebagai institusi ataupun persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus (Yun=ekklesi. di masakini adalah: Bagaimana Injil itu dapat diberitakan atau sampai kepada segala makhluk ?. Siapakah segala makhluk itu ?. Gereja merupakan sarana Allah di dalam dunia yang diberi peran dan tanggung jawab tidak terbatas pada konsep-konsep doktrinal atau teologi yang dualistis memandang dunia serta segala isinya rendah karena dihubungkan dengan kejatuhan ke dalam dosa sehingga mengabaikan kepedulian terhadap makhluk-makhluk hidup yang lain. Pandangan ini sungguh berbahaya karena mengandung stigma yang mempengaruhi sikap gereja akan peran dan tanggung jawabnya terhadap makhluk lain. Gereja dituntut mewujudkan panggilannya memberitakan Injil kepada segala makhluk dalam tindakan nyata lewat perbuatan, sikap serta perlakuan yang ramah bagi alam semesta dan segala makhluk. Panggilan gereja untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk bukan hanya dimaksud suatu pemberitaan teoritis yang dikhotbahkan, melainkan inti Injil itu harus berlanjut pada tindakan, realisasi yang sungguh-sungguh menyentuh kebutuhan dasar hidup manusia dan segala makhluk. Yesus datang ke dalam dunia bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani (Mat 20:28. Mrk 10:. Ia melayani bukan saja dengan perkataan, tetapi juga dengan perbuatan. Dalam pelayananNya kedua akta itu erat berhubungan, yang satu tidak dapat dipisahkan daripada yang lain. Perkataan-Nya adalah perbuatan, dan perbuatan-Nya adalah Berdasarkan teladan ini, gereja akan menjadi sarana Kerajaan Allah yang hidup, apabila ia melakukan amanat Allah secara nyata dan berpihak pada ciptaan-Nya . Yak 2:14-26. AuIman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah matiA. Injil yang adalah berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan yang tersedia bagi manusia (Mrk 1:. serta kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan yang dikehendaki Tuhan untuk dunia (Luk 4:18-. , itu bersifat utuh dan menyeluruh menyangkut keseluruhan kehidupan makhluk, tidak hanya perkara sorga tetapi juga perkara dunia. Dunia inilah . anusia dan segala makhlu. yang mendapat perhatian Allah, yang dikasihi sehingga Ia mengutus Yesus Kristus agar dunia diperdamaikan dengan Allah dan dunia serta segala makhluk tetap dipelihara kehidupannya (Yoh 3:16. AuKarena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,. Dengan demikian gereja atau orang-orang percaya mempunyai wibawa dan tanggung jawab untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk dalam tindakan yang konkrit. Panggilan gereja untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk dalam perspektif peran dan tanggung jawab memelihara dan menyelamatkan lingkungan hidup dapat kita pahami sebagai berikut: Memberitakan Injil kepada segala makhluk merupakan amanat untuk bertanggung jawab terhadap segala makhluk: lingkungan hidup, hewan, tanah, hutan, air, berbagai jenis spesies yang bernyawa maupun tak bernyawa adalah ciptaan Allah yang harus mengalami sentuhan tangan manusia yang penuh dengan pelayanan kasih, kebenaran dan keadilan sebagai pelaku misi Allah di dalam dunia. Memberitakan Injil kepada segala makhluk mengharuskan gereja dan orang percaya untuk menata, menghargai, menghormati, merawat, melindungi, mendukung proses kelangsungan hidup ciptaan dan pelestarian lingkungan hidup seperti pada diri sendiri. Memberitakan Injil kepada segala makhluk menyadarkan gereja dan orang percaya bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu di dalam Kristus dan Roh Kudus hadir di dalam ciptaan yang mengikat semua manusia dan seluruh ciptaan menjadi satu. Karena itu, gereja dan orang percaya bertanggung jawab kepada Allah di dalam dan kepada persekutuan hidup sehingga memahami dirinya sebagai hamba, pelayan dan penatalayan ciptaan serta lingkungan hidup. Gereja dan orang percaya terpanggil untuk menyikapi ciptaan dan lingkungan hidup dalam kerendahan hati, menghormati, menghargai, mengasihani dan berkarya untuk memperbaiki dan menyembuhkan ciptaan dan lingkungan hidup. Memberitakan Injil kepada segala makhluk merupakan panggilan kepada gereja dan orang percaya untuk bertobat dari penyalagunaan dan perlakuan kejam terhadap alam dan merefleksikan secara kritis pemahaman Alkitab dan sistem teologi yang telah digunakan membenarkan penyalagunaan dan perlakuan buruk terhadap segala makhluk dan lingkungan hidup. Memberitakan Injil kepada segala makhluk merupakan panggilan gereja dan orang percaya untuk melihat ketidakadilan dunia serta memperkukuh gereja untuk menentang dan berjuang melawan penindasan dan pengrusakan lingkungan hidup serta bertanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan. Sebab Tuhan memberi mandat untuk mengusahakan dan memelihara segala ciptaan-Nya (Kej 2:. Memberitakan Injil kepada segala makhluk, memelihara dan menyelamatkan lingkungan hidup tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa sikap yang ramah dan bertanggung jawab terhadap alam, mestinya dilihat sebagai suatu sikap iman gereja dan orang percaya sebagai jawaban terhadap panggilan Allah. Memberitakan Injil kepada segala makhluk mengisyaratkan gereja dan orang percaya bahwa segala makhluk penghuni planet ini, dan lingkungan hidup adalah bagian dari manusia yang berhak mendapat perlindungan, pemeliharaan dan kasih sayang. Mengapa gereja dan orang percaya perlu membangun kesadaran kepedulian atau mempersoalkan pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan hidup beserta eksistensi makhluk-makhluk yang lain? Kenyataan ini bertolak dari pengakuan iman gereja dan orang percaya bahwa alam ini diciptakan oleh Tuhan dan menjadi milik Tuhan. Jika demikian, maka gereja mempunyai tanggung jawab profetis . dalam menjalankan peran advokasi dalam upaya pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan Tugas dan tanggung jawab advokasi gereja terhadap lingkungan hidup adalah sebagai imam, nabi dan raja, sebagai berikut: Tugas imam atau imamat gereja adalah wakil sesama manusia dan sesama makhluk dihadapan Tuhan dan menjadi wakil Allah yang memberkati dan membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh Tugas nabi atau kenabian ialah mengoreksi dan memperbaiki situasi-situasi yang rusak akibat sikap dan perlakuan destruktif yang berakar dalam ketidakadilan dan kerakusan manusia. Gereja terpanggil untuk menciptakan kesadaran baru bagi sikap masyarakat. PGI. Lima Dokumen Keesaan Gereja (LDKG PGI): Keputusan Sidang Raya XII PGI Jayapura, 21-30 Oktober 1994. Jakarta: BPK GM, 2002, hl. Tugas sebagai raja adalah menjadi wali dari Allah yang menjalankan panggilan perwalian dengan penatalayanan . secara bertanggung jawab atas sesama manusia dan alam yang dipercayakan Allah kepadanya. Di hadapan Allah, manusia bukanlah raja yang berkuasa penuh atas ciptaan dan milik Allah. Ia adalah wakil Allah yang diberi kewenangan terbatas dan bertanggung jawab atas seluruh ciptaan Allah. Sekarang perlu disadari, bahwa: Gereja (= orang percay. bertanggung jawab kepada Allah di dalam dan kepada persekutuan hidup sehingga memahami dirinya sebagai hamba, pelayan, dan penatalayanan ciptaan. Gereja terpanggil untuk menyikapi ciptaan dalam kerendahan hati, dengan menghormati, menghargai, mengasihani, dan berkarya untuk memperbaiki dan menyembuhkan ciptaan selaku pendahuluan dan petunjuk arah kepada persekutuan segala sesuatu di dalam Kristus (Ef. Jadi memberitakan Injil kepada segala makhluk menuntut gereja dan orang percaya untuk mengkaji serta melahirkan eksegese atau hermeneutik baru yang berwawasan kontekstual serta memiliki nilai relevansi dengan kebutuhan hidup manusia dan segala makhluk sebagai bagian dari tugas gereja terhadap kehidupan semua ciptaan. Upaya ini sekaligus akan menjadi AuSuatu apresiasi baru teologi tentang ciptaan dan kesadaran yang segar akan tanggung jawab orang Kristen terhadap seluruh ciptaan, memperdalam iman dan memperkaya kehidupan dan kerja gereja. Ay15 Berdasarkan pengertian Injil yang dirumuskan di Pematang Siantar tahun 1971, maka dalam Sidang Raya PGI XI tahun 1989 di Surabaya, tugas pemberitaan Injil dirumuskan sebagai berikut: Memberitakan Injil kepada segala makhluk mengandung makna tanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan Tuhan. Tuhan memberi mandat untuk mengusahakan dan memelihara segala ciptaan Tuhan (Kej 2:. Karena dosa manusia, bumi pun ikut terkutuk (Kej 3:1. dan ditaklukkan kepada kesia-siaan dan perbudakan kebinasaan. Segala makhluk ikut mengerang merasa sakit bersalin nenanti kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm 8:20-. Allah menghendaki pulihnya kembali hubungan yang utuh dan menyeluruh antar segala makhluk (Yes 11:1-. Kristus datang untuk membarui segala sesuatu (Why 21:. dan di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru . Kor 5:. Jadi tugas pemberitaan Injil kepada segala makhluk menunjuk pada tugas pengelolaan dan pemeliharaan serta pelestarian segenap kehidupan segala makhluk dan lingkungan hidupnya. Injil yang diberitakan dipahami dalam realitas tindakan manusia sebagai pelaku untuk memelihara dan mengusahakan, bukan eksploitasi, bukan kekuasaan dan bukan sikap yang sewenang-wenang atas kehidupan segala makhluk. Kenyataan ini didasarkan pada pernyataan teologis, bahwa AuTitik tolak bagi peberitaan Injil kepada segala makhluk ialah proklamasi mengenai Yesus Kristus yang disalibkan, mati dan bangkit kembali, yang kepada-Nya segala kekuasaan telah diberikan dan Yesus Kristus yang akan datang kembali. Ay 17 Secara singkat dapat dikatakan bahwa jalan Yesus melalui salib tidak saja bagi manusia, tetapi juga seisi dunia, segala yang hidup dan yang bernapas . Maz. Dengan demikian, manusia sebagai makhluk yang diciptakan AusegambarAy dengan Allah, berkewajiban memberitakan Injil kepada segala makhluk dan memelihara kelangsungan hidup segala makhluk. Sebab. AuManusia tidaklah dapat hidup sendiri di dunia ini, melainkan haruslah hidup bersama makhluk hidup lainnya, sehingga manusia haruslah dapat memainkan peranannya dengan baik dalam nich ekologinya. Ay Jika kita memusatkan diri hanya pada manusia, kita dapat dengan mudah tergelincir ke dalam antroposentrisme yang sudah memaklumi penyalahgunaan dan pembasmian kehidupan nonmanusia dan sistem-sistem penopang kehidupan. kesejahteraan umat manusia tak dapat tidak terikat dengan kesejahteraan bumi. dengan demikian, sebuah etik global harus berakar di dalam sebuah kepedulian bagi manusia dan ekologi. KESIMPULAN Pelaksanaan tugas panggilan gereja dalam memelihara, menyelamatkan dan melestarikan lingkungan memang lebih relevan dilakukan ditingkat jemaat atau lokal, walaupun kebijakan umum dirumuskan pada aras nasional, atau pada tingkat sinodal. Peran dan tanggung jawab yang dimainkan gereja dalam memelihara lingkungan hidup sangat tergantung pada permasalahan lingkungan yang dihadapi setiap gereja dan jemaat. Robert P. Borrong. Etika Lingkungan dan Gereja: Ekologi dan Ekumene . alam: Robert P. Borrong, dkk penyunting. Berakar di dalam Dia dan Dibangun di atas Di. Jakarta: BPK GM, 1998, hl. Loc. Ibid. , hl. ikutip dari LDKG Sidang Raya PGI XII tahun 1994, di Jayapur. PGI. Dalam kemantapan Kebersamaan Menapaki Dekade Penuh Harapan (LDKG). Jakarta: BPK GM. Atas dasar keanekaragaman konteks permasalahan lingkungan, maka gereja dan tiap-tiap jemaat perlu merumuskan dan menentukan sendiri program-program pemeliharaan lingkungan yang relevan, dengan memperhatikan esensi tugas panggilan gereja dan saran-saran praktis yang dapat dikembangkan jemaat-jemaat ataupun lembaga-lembaga mitra gereja . LSM) dalam memelihara lingkungan alam. Di bawah ini adalah beberapa hal praktis yang kiranya menjadi agenda dalam pelayanan gereja terhadap upaya pemeliharaan lingkungan hidup: Gereja perlu menggalang gerakan penyadaran seluruh warga masyarakat akan perlunya pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan hidup untuk mencegah perusakan dan pegelolaan alam yang eksploratif. Gereja perlu melakukan upaya-upaya pemahaman yang mendalam tentang teologi lingkungan melalui ibadah-ibadah atau liturgi, pemahaman Alkitab, khotbah . ang diaktualisasikan dalam tindaka. , pendidikan sekolah minggu, pendidikan pada pemuda, katekisasi. Pendidikan Agama Kristen di sekolah maupun Pendidikan Agama Kristen dalam keluarga. Gereja melakukan identifikasi dan inventarisasi masalah-masalah yang menyangkut kerusakan lingkungan, lalu menentukan sikap terhadap permasalahan tersebut, yaitu tahu bagaimana cara Gereja perlu merumuskan teologi ciptaan yang berwawasan AuintegritasAy dan AukasihAy dalam kaitan dengan peran dan tanggung jawab gereja sebagai institusi maupun persekutuan umat yang adalah bagian dari masyarakat, agar pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan hidup dan segala makhluk dapat Gereja perlu memanfaatkan media massa untuk turut mempromosikan pencegahan dan penanggulangan perusakan lingkungan hidup sebagai bagian dari proses penyadaran masyarakat akan pentingnya memelihara, menyelamatkan dan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia Allah. Sikap yang ramah dan bersahabat dengan segala makhluk dan lingkungan hidup adalah sikap atau cara memberitakan Injil kepada segala makhluk. Memelihara lingkungan hidup dan menjaga kelestariannya, menjaga kebersihan lingkungan merupakan cara yang konkrit kita melayani, menghormati, bersyukur dan memuliakan Allah dalam otoritasnya sebagai Pencipta langit dan bumi serta segala isinya, segala yang diam di dalamnya. DAFTAR PUSTAKA