SAINTEKES Ae VOLUME 04 NOMOR 04 . MENGUATKAN KETAHANAN PANGAN MELALUI PANGAN LOKAL : STUDI KASUS DI KECAMATAN SURALAGA. LOMBOK TIMUR Lalu Amrullah1*. Marsahip2 Institut Teknologi Kesehatan dan Aspirasi. Lombok Timur. Indonesia STITI ISPINI. Lombok Timur . Indonesia Article Information Article history: Received 19 Oktober 2025 Approved 31 Oktober 2025 Keywords: Bamboo leaf ash. Soil fertility. Silica. Sustainable agriculture ABSTRACT Food security is a crucial global issue, especially in developing countries like Indonesia, which still rely on rice as a staple food. This dependence makes communities vulnerable to fluctuations in rice production and distribution. East Lombok, a region in West Nusa Tenggara, boasts a diverse range of local food crops, including corn, cassava, sweet potatoes, peanuts, mung beans, and various local vegetables and fruits. This study aims to analyze the role of local food crop diversification in improving household food security in East Lombok. The study used a qualitative descriptive approach using literature studies, field observations, and limited community interviews. The results indicate that local food diversification can increase food availability, strengthen family nutrition, and reduce household vulnerability to food crises. The main obstacles to implementing this strategy are low public interest in non-rice food consumption and limited market access. ABSTRAK Ketahanan pangan menjadi isu global yang sangat penting, terutama di negara berkembang seperti Indonesia yang masih bergantung pada beras sebagai pangan Ketergantungan tersebut membuat masyarakat rentan terhadap fluktuasi produksi maupun distribusi beras. Lombok Timur, sebagai salah satu daerah di Nusa Tenggara Barat, memiliki potensi tumbuhan pangan lokal yang cukup beragam seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, serta berbagai jenis sayuran dan buah lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran diversifikasi tumbuhan pangan lokal dalam meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga di Lombok Timur. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi literatur, observasi lapangan, serta wawancara terbatas dengan Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi pangan lokal mampu meningkatkan ketersediaan pangan, memperkuat gizi keluarga, serta mengurangi kerentanan rumah tangga terhadap krisis pangan. Kendala utama dalam implementasi strategi ini adalah rendahnya minat konsumsi masyarakat terhadap pangan non-beras dan terbatasnya akses pasar. A 2025 SAINTEKES *Corresponding author email: laluamrullah@itka. org/10. 55681/saintekes. AMRULLAH ET AL - VOLUME 04 NOMOR 04 . 207 - 217 PENDAHULUAN Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang memiliki peran fundamental dalam menjaga keberlangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan tidak hanya mencakup ketersediaan bahan pangan dalam jumlah yang cukup, tetapi juga meliputi aspek kualitas, keamanan, keterjangkauan, distribusi yang merata, serta kemampuan masyarakat untuk mengakses dan Menurut Food and Agriculture Organization (FAO, 2. , ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi serta preferensi pangan mereka guna menjalani kehidupan yang aktif dan sehat. Dengan demikian, ketahanan pangan bersifat multidimensional karena melibatkan dimensi ketersediaan . , akses . , pemanfaatan . , dan stabilitas . yang saling berinteraksi dalam sistem pangan suatu negara (World Bank. FAO, 2. Di Indonesia, tantangan ketahanan pangan masih sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik alamiah maupun sosial-ekonomi. Ketergantungan yang tinggi terhadap beras sebagai sumber pangan utama menyebabkan kerentanan terhadap guncangan produksi dan distribusi, terutama ketika terjadi gangguan iklim atau fluktuasi harga global. Padahal. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan potensi sumber pangan lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal, seperti umbi-umbian, sagu, jagung, dan berbagai jenis kacang-kacangan (Badan Pangan Nasional, 2. Selain itu, perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu, ketidakpastian curah hujan, dan degradasi lahan org/10. 55681/saintekes. pertanian turut memperburuk produktivitas (Badan Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika, 2. Oleh karena itu, diversifikasi pangan berbasis potensi lokal menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, mengurangi ketergantungan pada beras, serta mendorong pembangunan pangan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan lingkungan (FAO. Bappenas, 2. Penguatan ketahanan pangan nasional memerlukan pendekatan kebijakan yang holistik pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan Pemerintah Indonesia telah mengarahkan berbagai strategi melalui berkelanjutan, serta penguatan kelembagaan petani dan ketahanan pangan rumah tangga (Kementerian Pertanian, 2. Pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci dalam mengoptimalkan sumber daya lokal dan mendorong kemandirian pangan melalui pemanfaatan lahan pekarangan, pengembangan pertanian organik, serta diversifikasi pangan lokal yang bernilai ekonomi tinggi (FAO, 2023. Bappenas, 2. Selain itu, edukasi gizi masyarakat dan inovasi teknologi pertanian digital juga berperan penting dalam memperkuat sistem pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar global (World Bank, 2022. OECD, 2. Dengan demikian, sinergi antara kebijakan nasional dan partisipasi masyarakat menjadi fondasi utama dalam mewujudkan ketahanan AMRULLAH ET AL - VOLUME 04 NOMOR 04 . 207 - 217 pangan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan di Indonesia. Kabupaten Lombok Timur, sebagai salah satu daerah agraris di Provinsi Nusa Tenggara Barat, keanekaragaman tumbuhan pangan lokal yang cukup tinggi. Wilayah ini menghasilkan berbagai komoditas pangan, mulai dari padi, jagung, kacang-kacangan, hingga umbi-umbian. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat masih sangat berorientasi pada beras, sementara pangan lokal lain seperti jagung, ubi kayu, dan kacangkacangan kurang dimanfaatkan secara optimal. Diversifikasi pangan lokal memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan rumah tangga. Diversifikasi tidak hanya memperkaya pola konsumsi dan memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian sumber daya lokal, penguatan ketergantungan pada satu komoditas utama. Menurut Badan Ketahanan Pangan . , diversifikasi pangan berbasis potensi lokal merupakan salah satu pilar utama untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini difokuskan pada peran diversifikasi tumbuhan pangan lokal dalam mendukung ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran empiris mengenai kondisi aktual produksi, pola konsumsi, serta pemanfaatan pangan lokal di tingkat rumah tangga, sekaligus menawarkan rekomendasi strategi penguatan diversifikasi pangan berbasis potensi lokal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan tujuan untuk menganalisis kondisi ketahanan pangan masyarakat serta potensi pengembangan pangan org/10. 55681/saintekes. lokal sebagai upaya diversifikasi pangan Metode ini dipilih karena mampu menggambarkan secara mendalam fenomena sosial, ekonomi, dan lingkungan yang memengaruhi sistem pangan di tingkat rumah tangga maupun komunitas (Creswell & Poth. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di wilayah keanekaragaman pangan lokal tinggi, seperti daerah pertanian dan agroekosistem lahan kering di Kabupaten Lombok Timur. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi ini dipilih secara purposive berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakatnya masih memanfaatkan sumber pangan lokal secara tradisional, namun belum optimal dalam konteks ketahanan pangan Penelitian dilakukan selama enam bulan, mulai dari Januari hingga Juni 2025. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. dengan petani, tokoh masyarakat, dan perangkat desa, serta observasi lapangan terhadap praktik budidaya dan konsumsi pangan Data sekunder diperoleh dari laporan pemerintah daerah, publikasi Badan Pangan Nasional, serta dokumen dari FAO. Bappenas, dan Kementerian Pertanian yang terkait dengan ketahanan pangan dan diversifikasi pangan Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data meliputi: Wawancara semi-terstruktur, memperoleh pandangan responden terkait persepsi, kebiasaan konsumsi, dan upaya pelestarian pangan lokal. Observasi partisipatif, guna mengamati langsung proses produksi. AMRULLAH ET AL - VOLUME 04 NOMOR 04 . 207 - 217 pengolahan, dan distribusi bahan pangan lokal. Studi dokumentasi, mencakup analisis laporan statistik pertanian, kebijakan pangan, dan hasil penelitian terdahulu. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan food system framework untuk melihat keterkaitan antara aspek produksi, distribusi, konsumsi, serta faktor lingkungan dan sosial-ekonomi (FAO, 2. Selain itu, triangulasi data digunakan untuk meningkatkan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan data dokumenter (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Berdasarkan hasil observasi dan jenissumber pangan lokal yang masih dikonsumsi masyarakat setempat. Tabel 1. Hasil temuan Jenis Pangan Lokal Nama Lokal Katagori Kandungan Gizi Utama Tingkat Pemanfaatan (%KK) Ubi jalar (Ipomoea batata. Ubi Umbiumbian Karbohidrat. Singkong (Manihot esculent. Ambon Pati, serat pangan Talas (Colocasia esculent. Lomak Umbiumbian Umbiumbian Karbohidrat. Jagung lokal (Zea mays var. jagung Serelia Karbohidrat, protein nabati Kacang tanah (Arachis hypogae. Kacang Legume Protein, zat bes Kacang ijo Vigna radiat. Antab ijo Legume Protein, zat besi Sorgum (Sorghum bicolo. Sorgum Serelia Karbohidrat. Pisang (Musa sp. Labu Puntik (Cucurbita perenggi Buah Sayursayuran Kalium,serat -karoten, vitamin Sagu aren (Arenga pinnat. Nao Pati Karbohidrat Ketela rambat ungu Kacang karom Umbiumbian Legume Antosianin, serat Ambon Komak Protein, amino esensial Sumber: Data primer hasil observasi dan wawancara . org/10. 55681/saintekes. AMRULLAH ET AL - VOLUME 04 NOMOR 04 . 207 - 217 Data menunjukkan bahwa meskipun masyarakat masih sangat bergantung pada beras, terdapat kecenderungan positif dalam mempertahankan konsumsi bahan pangan lokal, terutama singkong, ubi jalar, dan jagung lokal yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan pokok alternatif, terutama saat musim paceklik. sejalan dengan pandangan FAO . dan Bappenas . bahwa pelestarian pangan lokal merupakan bagian penting dari sistem pangan berkelanjutan dan kedaulatan pangan Ketahanan Pangan dan Peran Diversifikasi Pangan Lokal Tingkat Ketahanan Pangan Rumah Tangga Analisis terhadap 60 rumah tangga menunjukkan bahwa ketahanan pangan rumah tangga bervariasi tergantung pada pendapatan, diversifikasi pangan, dan akses lahan. Berdasarkan Household Food Security Index (HFSI) yang diadaptasi dari FAO . , sebanyak 58% rumah tangga tergolong tahan pangan, 30% rawan pangan ringan, dan 12% rawan pangan berat. Tabel 2. Hasil analisis Kategori Jumlah Persentase Ketahanan KK . = (%) Pangan Tahan pangan Rawan Rawan Persepsi Masyarakat Terhadap Pangan Lokal Sebagian besar responden . %) memiliki persepsi positif terhadap pangan lokal sebagai sumber pangan alternatif yang bergizi dan lebih murah dibandingkan beras. Namun, masih terdapat kendala berupa rendahnya pengetahuan tentang pengolahan modern pangan lokal, serta kurangnya dukungan pasar dan kebijakan harga yang menguntungkan petani lokal. Responden juga mengakui bahwa pangan lokal memiliki nilai budaya dan simbol identitas kedaerahan yang perlu dilestarikan. Hal ini org/10. 55681/saintekes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga di wilayah Suralaga masih mengandalkan beras sebagai memanfaatkan berbagai jenis pangan lokal seperti singkong, ubi jalar, dan jagung lokal. Temuan ini memperlihatkan bahwa diversifikasi pangan berbasis potensi lokal telah menjadi strategi adaptif masyarakat dalam menghadapi fluktuasi harga beras dan perubahan iklim yang berdampak pada produksi padi. Hal ini sejalan dengan temuan FAO . bahwa diversifikasi sumber pangan berbasis keanekaragaman hayati lokal dapat meningkatkan ketahanan pangan melalui penyediaan alternatif bahan pangan bergizi, berkelanjutan, dan sesuai dengan kondisi ekologis setempat. Pangan lokal seperti umbi-umbian dan serealia non-beras mengandung karbohidrat kompleks, serat, serta mikronutrien yang berperan penting dalam pencegahan malnutrisi dan peningkatan kualitas gizi masyarakat (Bapanas. Dengan keberagaman pangan lokal tidak hanya memperkuat dimensi availability . dalam sistem pangan, tetapi juga mendukung dimensi utilization . dan stability . melalui pemanfaatan sumber daya AMRULLAH ET AL - VOLUME 04 NOMOR 04 . 207 - 217 lokal yang tahan terhadap tekanan iklim dan pasar global. Gambar 1. Grafik Hubungan ketahanan pangan dan deverivikasi pangan local di kecamatan Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat ketahanan pangan rumah tangga dengan diversifikasi pangan lokal di Kecamatan Suralaga. Rumah tangga yang termasuk kategori tahan pangan memiliki skor diversifikasi pangan lokal tertinggi . , menunjukkan bahwa mereka cenderung mengonsumsi berbagai jenis bahan pangan lokal seperti ubi jalar, singkong, jagung, dan kacang-kacangan. Sementara itu, rumah tangga yang rentan pangan memiliki skor diversifikasi sedang . , dan rumah tangga tidak tahan pangan menunjukkan skor terendah . Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kemampuan rumah tangga dalam memanfaatkan sumber pangan lokal yang beragam, semakin baik pula ketahanan Kondisi tersebut sejalan dengan temuan Fitriani et al. yang menegaskan bahwa diversifikasi pangan merupakan strategi efektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis pangan utama, terutama beras, yang ketersediaannya sering kali fluktuatif di wilayah pedesaan. org/10. 55681/saintekes. Selain itu, data ini memperlihatkan bahwa ketahanan pangan di tingkat rumah tangga sangat bergantung pada perilaku konsumsi dan ketersediaan pangan lokal. Rumah tangga dengan diversifikasi tinggi cenderung memiliki pola makan lebih seimbang dan asupan gizi yang lebih baik, karena memanfaatkan potensi hasil pertanian lokal yang beragam. Menurut FAO . , diversifikasi pangan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem lokal melalui pemanfaatan keanekaragaman hayati. Dalam konteks Kecamatan Suralaga, hasil ini menunjukkan pentingnya upaya pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengoptimalkan produksi serta edukasi konsumsi pangan lokal sebagai strategi jangka panjang mewujudkan kemandirian pangan berbasis sumber daya Faktor Sosial-Ekonomi dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Analisis terhadap Household Food Security Index (HFSI) memperlihatkan bahwa tingkat ketahanan pangan rumah tangga dipengaruhi oleh luas lahan garapan, pendapatan, dan variasi konsumsi pangan. Rumah tangga dengan diversifikasi pangan tinggi cenderung memiliki skor ketahanan pangan yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa diversifikasi konsumsi bukan hanya berdampak pada keberlanjutan ekologi, tetapi juga pada stabilitas ekonomi keluarga melalui pengurangan ketergantungan terhadap satu komoditas (World Bank, 2. Selain itu, penelitian menemukan bahwa rumah tangga yang memanfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya pangan lokal menunjukkan tingkat ketahanan pangan yang lebih baik dibandingkan rumah tangga nonpetani. Fakta ini memperkuat pandangan Kementerian Pertanian . bahwa konsep urban farming dan pekarangan pangan lestari AMRULLAH ET AL - VOLUME 04 NOMOR 04 . 207 - 217 merupakan strategi efektif dalam menjaga ketahanan pangan mikro di tingkat rumah Pengelolaan sumber daya pangan lokal secara mandiri juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai gizi dan keberlanjutan Berikut pembahasan ilmiah berdasarkan grafik AuFaktor Sosial-Ekonomi dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Kecamatan SuralagaAy: Gamabr 2. Faktor sosial ekonomi Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial-ekonomi memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat ketahanan pangan rumah tangga di Kecamatan Suralaga. Dari hasil menunjukkan korelasi paling kuat . = 0,. dengan ketahanan pangan, yang berarti semakin tinggi pendapatan, semakin besar kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan yang cukup, aman, dan bergizi. Hal ini sejalan dengan temuan FAO . yang menyatakan bahwa daya beli merupakan indikator utama dalam menentukan akses dan kualitas konsumsi pangan di negara Selain itu, tingkat pendidikan kepala rumah tangga juga berperan penting . = 0,. , karena pendidikan memengaruhi diversifikasi pangan, serta kemampuan org/10. 55681/saintekes. mengelola sumber daya rumah tangga secara Selanjutnya, terhadap pangan lokal memiliki korelasi kuat . = 0,. , menunjukkan bahwa ketersediaan pangan lokal yang mudah dijangkau secara geografis dan ekonomis dapat meningkatkan stabilitas ketahanan pangan masyarakat. Sebaliknya, menunjukkan hubungan negatif . = Ae0,. , yang mengindikasikan bahwa semakin banyak tanggungan dalam satu rumah tangga, semakin besar pula beban pengeluaran untuk pangan, sehingga berpotensi menurunkan ketahanan Faktor jenis pekerjaan juga berpengaruh sedang . = 0,. , di mana berpenghasilan stabil memberikan jaminan lebih besar terhadap keamanan pangan keluarga. Temuan ini mendukung penelitian Hidayati & Lestari . yang menegaskan bahwa peningkatan ekonomi, pendidikan, dan akses pangan lokal merupakan tiga pilar utama dalam membangun ketahanan pangan rumah tangga pedesaan secara berkelanjutan. Tantangan Pemanfaatan dan Pelestarian Pangan Lokal Meskipun potensi pangan lokal di Kabupaten Lombok Timur tergolong tinggi, penelitian ini mengungkapkan bahwa masih terdapat sejumlah hambatan mendasar dalam pemanfaatan dan pengembangannya. Hambatan tersebut terutama berasal dari kurangnya pengetahuan pengolahan modern, keterbatasan akses pasar, serta lemahnya dukungan kebijakan lintas sektor yang berorientasi pada penguatan pangan lokal. Secara umum, sebagian besar masyarakat di Lombok Timur masih memandang pangan lokal sebagai makanan kelas bawah yang dikonsumsi hanya saat paceklik atau ketika AMRULLAH ET AL - VOLUME 04 NOMOR 04 . 207 - 217 harga beras meningkat. Stigma sosial ini menjadi tantangan kultural yang signifikan, karena persepsi negatif tersebut menyebabkan rendahnya minat generasi muda untuk mengonsumsi maupun mengembangkan pangan Hasil survei lapangan menunjukkan bahwa 67% responden lebih memilih pangan berbasis beras atau gandum karena dianggap lebih praktis dan bergengsi. Temuan ini sejalan dengan laporan OECD . yang menegaskan bahwa persepsi masyarakat terhadap pangan lokal di negara berkembang masih didominasi oleh faktor sosial dan status ekonomi. Oleh karena itu, edukasi gizi dan promosi pangan lokal bernilai tambah perlu digalakkan melalui kampanye sosial, pendidikan formal, dan pelibatan pelaku UMKM dalam promosi kuliner Selain faktor budaya, kurangnya inovasi teknologi pengolahan juga menjadi penghambat Sebagian besar masyarakat masih menggunakan metode tradisional tanpa dukungan teknologi pascapanen yang memadai. Akibatnya, produk pangan lokal memiliki daya simpan yang rendah, tidak seragam secara kualitas, dan sulit memenuhi standar pasar Misalnya, pengolahan singkong, sorgum, atau ubi jalar di Lombok Timur umumnya masih terbatas pada produk mentah tanpa diferensiasi nilai tambah. Padahal, potensi pengembangan produk turunan seperti tepung mocaf, cookies, dan minuman fermentasi sangat besar dan memiliki peluang pasar yang Menurut Rahmawati & Puspitasari . , penguatan kapasitas masyarakat dalam bidang teknologi pengolahan pangan lokal dapat meningkatkan nilai ekonomi hingga 40Ae60% melalui diversifikasi produk dan peningkatan daya simpan. Dengan demikian, pelatihan pengemasan higienis, menjadi strategi penting org/10. 55681/saintekes. dalam meningkatkan daya saing pangan lokal di pasar domestik maupun nasional. Dari sisi struktural, akses pasar yang terbatas juga menjadi kendala serius. Banyak pelaku usaha kecil yang kesulitan menembus pasar modern karena terbentur oleh standar kualitas, sertifikasi, dan kemasan produk. Distribusi yang masih bergantung pada pasar tradisional membuat produk pangan lokal sulit berkembang secara berkelanjutan. Kurniawan et . menekankan bahwa keterbatasan infrastruktur logistik dan promosi menjadi faktor utama yang menghambat ekspansi pasar pangan lokal di tingkat kabupaten. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah perlu mendorong integrasi produk lokal ke dalam platform digital seperti e-commerce atau marketplace daerah yang mempermudah koneksi antara produsen dan konsumen. Selanjutnya, dukungan kebijakan lintas sektor masih belum optimal. Program ketahanan pangan daerah umumnya masih berfokus pada peningkatan produksi padi, sementara potensi komoditas lokal seperti ubi kayu, jagung, dan sorgum belum mendapat perhatian yang Dalam konteks ini, peran Badan Pangan Nasional (Bapanas, 2. menjadi sangat penting untuk memperkuat rantai nilai pangan lokal dari hulu ke hilir. Dukungan kebijakan dapat berupa pengaturan harga minimum, penyediaan insentif bagi pelaku UMKM pangan lokal, serta penguatan lembaga keuangan mikro untuk memberikan akses pembiayaan produktif. Dari sisi ekonomi, pengembangan agroindustri berbasis komunitas di tingkat desa menjadi salah satu solusi potensial. Agroindustri memungkinkan transformasi produk pangan mentah menjadi komoditas bernilai tambah tinggi, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di sektor pedesaan. Menurut Hidayati & Lestari . , model agroindustri skala kecil yang memanfaatkan bahan baku lokal dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga hingga AMRULLAH ET AL - VOLUME 04 NOMOR 04 . 207 - 217 25Ae35% dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis sumber daya lokal. Namun, membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, lembaga penelitian, dan sektor swasta dalam hal pelatihan, pemasaran, dan pendampingan teknis. Secara sosial, pelestarian pangan lokal juga berkaitan erat dengan identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat Lombok Timur. Berbagai bahan pangan lokal seperti talas, pisang, dan sorgum tidak hanya memiliki nilai gizi tinggi, tetapi juga berperan dalam ritual adat dan tradisi kuliner lokal. Hilangnya minat generasi muda terhadap pangan tersebut berpotensi mengikis pengetahuan tradisional yang telah diwariskan selama berabad-abad. Oleh karena itu, pelestarian pangan lokal seharusnya tidak hanya dilihat dari aspek biodiversitas pangan daerah. Dalam konteks ketahanan pangan berkelanjutan, pendekatan yang diperlukan Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan ekosistem pangan lokal yang Pendidikan formal di sekolah dapat memasukkan materi tentang keanekaragaman pangan lokal dan manfaatnya bagi gizi Sementara itu, lembaga penelitian dapat berperan dalam mengembangkan teknologi pengolahan yang efisien dan ramah Di sisi lain, masyarakat dan UMKM dapat dilibatkan dalam program branding produk lokal melalui festival pangan dan promosi wisata kuliner berbasis lokalitas. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa tantangan utama dalam pemanfaatan pangan lokal bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga terkait dengan transformasi sosial, ekonomi, dan budaya. Tanpa adanya perubahan paradigma masyarakat terhadap nilai pangan lokal, serta dukungan org/10. 55681/saintekes. kebijakan dan teknologi yang memadai, potensi besar yang dimiliki pangan lokal akan sulit Dengan mengintegrasikan aspek pengetahuan, pasar, dan kebijakan, pangan lokal di Lombok Timur berpeluang menjadi pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan daerah yang mandiri, adaptif, dan berkelanjutan. Sinergi Kebijakan dan Partisipasi Masyarakat Penguatan ketahanan pangan berbasis pangan lokal membutuhkan sinergi antara kebijakan pemerintah dan partisipasi aktif Hasil penelitian menunjukkan bahwa program diversifikasi pangan akan lebih berhasil jika disertai peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan, akses modal, dan Pendekatan community-based food security yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama terbukti mampu meningkatkan kemandirian pangan sekaligus melestarikan identitas pangan tradisional (FAO. Bappenas, 2. Dengan demikian, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan inklusif. Pemerintah berperan dalam penyusunan regulasi dan penyediaan insentif, sementara masyarakat menjadi penggerak utama melalui inovasi dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Gambar 3. Tantangan Pemanfaatan dan Pelestarian Pangan Lokal Grafik AuTantangan Pemanfaatan dan Pelestarian Pangan LokalAy menunjukkan bahwa AMRULLAH ET AL - VOLUME 04 NOMOR 04 . 207 - 217 kurangnya pengetahuan mengenai pengolahan modern . %) menjadi hambatan utama dalam mengoptimalkan potensi pangan lokal. Banyak masyarakat masih menggunakan teknik tradisional yang sederhana, sehingga produk pangan lokal sulit bersaing dengan pangan komersial yang memiliki nilai tambah dan daya simpan lebih tinggi. Menurut Suryana et al. , rendahnya literasi teknologi pangan komersialisasi produk lokal di tingkat rumah tangga maupun UMKM. Selanjutnya, stigma sosial terhadap pangan lokal sebagai Aumakanan kelas bawahAy . %) juga menjadi kendala signifikan. Pola pikir masyarakat yang menganggap pangan lokal kurang bergengsi dibanding produk impor menyebabkan menurunnya minat konsumsi dan Hasil penelitian Putri & Rahardjo . menegaskan bahwa persepsi sosial ini dipengaruhi oleh gaya hidup modern dan perubahan preferensi pangan di kalangan generasi muda. Selain itu, akses pasar yang terbatas . %) menghambat distribusi dan pemasaran pangan lokal, terutama di wilayah pedesaan. Infrastruktur logistik yang belum optimal serta kurangnya dukungan promosi menyebabkan produk pangan lokal sulit mencapai pasar yang lebih luas (Kurniawan et al. , 2. Terakhir, tidaknya adanya insentif harga . %) membuat pelaku usaha enggan mengembangkan produk lokal karena margin keuntungan yang rendah. Diperlukan kebijakan pemerintah untuk memberikan subsidi, pelatihan, dan fasilitasi pasar guna meningkatkan nilai ekonomi pangan lokal (FAO, 2. Secara keseluruhan, tantangan-tantangan tersebut menunjukkan bahwa upaya pelestarian masyarakat, inovasi teknologi, intervensi kebijakan, serta penguatan nilai budaya pangan lokal sebagai bagian dari identitas nasional. org/10. 55681/saintekes. SIMPULAN Temuan ini menegaskan pentingnya diversifikasi pangan lokal sebagai strategi adaptif dalam menghadapi ancaman ketahanan pangan nasional. Model penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas yang menekankan partisipasi lokal, inovasi teknologi sederhana, dan sinergi kebijakan dapat menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan pangan di daerah lain dengan kondisi serupa. Selain itu, penelitian ini juga memberikan dasar empiris untuk pengembangan program desa mandiri pangan yang lebih terarah dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA