DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Peran Literasi Keuangan Digital dan Tren Investasi Digital terhadap Investasi Cryptocurrency pada Generasi Muda Kholid Walwii An Nuqman, 2Tri Fatma Hapsari, 3Ratih Pratiwi Prodi Manajemen. Universitas Wahid Hasyim. Semarang E-mail: 1Kholidwalwii117@gmail. com, 2fatmahapsari9@gmail. com, 3rara@unwahas. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah memengaruhi pola perilaku keuangan generasi muda, termasuk dalam pengambilan keputusan investasi pada aset cryptocurrency. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran literasi keuangan digital dan tren investasi digital terhadap keputusan investasi cryptocurrency di kalangan generasi muda Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap tujuh informan berusia 18Ae25 tahun yang aktif melakukan investasi kripto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan digital yang dimiliki informan masih beragam, sebagian besar masih bersifat fungsional dan belum mencapai tingkat Di sisi lain, tren investasi digital yang tersebar melalui media sosial terbukti memiliki pengaruh besar dalam mendorong keputusan investasi, terutama karena efek FOMO dan tekanan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa literasi keuangan digital yang baik dapat menjadi faktor penyeimbang dalam menghadapi arus tren investasi yang spekulatif. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya edukasi literasi digital finansial yang lebih kontekstual dan berbasis pengalaman generasi muda. Kata kunci : Literasi keuangan digital, tren investasi digital, investasi cryptocurrency, generasi ABSTRACT The development of digital technology has influenced the financial behavior patterns of young generations, particularly in their investment decisions involving cryptocurrency assets. This study aims to analyze the role of digital financial literacy and digital investment trends on cryptocurrency investment decisions among Indonesian youth. A descriptive qualitative approach was employed, using in-depth interviews with seven informants aged 18Ae25 years who are actively engaged in cryptocurrency investments. The findings reveal that the informantsAo digital financial literacy levels vary, with most possessing functional but not yet critical Furthermore, digital investment trends disseminated through social media have a significant impact on investment decisions, primarily driven by FOMO effects and peer pressure. The study highlights that sound digital financial literacy can serve as a balancing factor in the face of speculative investment trends. This research recommends the urgency of implementing contextual and youth-centered digital financial education programs. Keyword : Digital financial literacy, digital investment trends, cryptocurrency investment, youth. PENDAHULUAN Sejak memasuki dekade 2010-an, sektor keuangan global mengalami perubahan besar yang dipicu oleh perkembangan teknologi digital. Tren tersebut mencapai titik penting pada tahun Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 2017 ketika nilai Bitcoin meroket hingga melampaui USD 20. 000 per koin, sehingga mendorong lonjakan adopsi investasi kripto di berbagai negara. AoRavikumar et al. , . Situasi pandemi COVID-19 pada periode 2020Ae2021 semakin mempercepat transformasi ini. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. sebab pembatasan aktivitas fisik membuat masyarakat beralih ke layanan digital, termasuk dalam urusan finansial dan Di Indonesia, posisi strategis dalam ekosistem kripto terlihat jelas. Global Crypto Adoption Index 2025 yang dirilis Chainalysis menempatkan Indonesia pada urutan ketujuh dunia, setelah India. Amerika Serikat. Pakistan. Vietnam. Brasil, dan Nigeria. Hal ini menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari tren global, tetapi juga berperan penting di kawasan Asia-Pasifik yang mencatat lonjakan transaksi kripto tertinggi dengan kenaikan hingga 69% per tahun Ao(Chainalysis Team, 2. Pada level nasional, adopsi aset kripto menunjukkan pertumbuhan signifikan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2025 mencatat jumlah investor kripto mencapai 15,85 juta orang, naik 5,18% dibandingkan Mei 2025 yang sebesar 15,07 juta orang. Namun, nilai transaksi pada periode yang sama justru turun dari Rp49,57 triliun menjadi Rp32,31 triliun, pertengahan 2025 sebesar Rp224,11 triliun Ao(DetikFinance, 2. Fakta ini menunjukkan adanya konsistensi pertumbuhan jumlah investor masyarakat, meskipun nilai transaksi berfluktuasi akibat kondisi pasar. Dengan pengguna utama. Indonesia diproyeksikan akan terus memainkan peran penting dalam peta adopsi kripto global di masa Potensi tersebut semakin besar jika dilihat dari bonus demografi. Dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270,2 juta orang pada tahun 2020, sekitar 27,94% di antaranya merupakan Generasi Z Ao(Badan Pusat Statistik, 2. Dengan dominasi jumlah penduduk muda yang melek digital dan semakin aktif dalam berinvestasi. Generasi Z berpotensi mendorong pertumbuhan ekosistem keuangan digital nasional maupun Namun, di balik tren tersebut, muncul tantangan serius, yakni rendahnya tingkat literasi keuangan digital . igital financial literacy/DFL) di kalangan investor muda. AoRavikumar et al. , menegaskan bahwa minimnya pemahaman terhadap konsep dasar keuangan, risiko digital, dan banyak keputusan investasi dilakukan secara impulsif dan tidak berdasarkan DFL bukan hanya mencakup kemampuan teknis menggunakan aplikasi keuangan digital, tetapi juga mencakup pemahaman akan informasi, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab Ao(Pratitrasari & Yuhertiana, 2. AoLiestyowati et al. , dalam studinya di Bandung menemukan bahwa meskipun minat investasi kripto sangat tinggi, mayoritas responden muda tidak memiliki pemahaman memadai tentang strategi jangka panjang dan diversifikasi Aspek sosial juga turut berperan. tekanan teman sebaya dan pengaruh konten digital terbukti dapat mendorong generasi muda berinvestasi hanya karena tren, bukan karena pertimbangan rasional Ao(Zega & Satato, 2. Meningkatnya minat Generasi Z terhadap investasi cryptocurrency dapat dijelaskan oleh kombinasi faktor aksesibilitas teknologi, pengaruh sosial, dan karakteristik demografis. Kemudahan akses platform digital membuat proses investasi menjadi sederhana dan cepat, sehingga kripto tampil sebagai instrumen yang ramah bagi investor muda yang terbiasa dengan ekosistem digital. Media sosial juga berperan penting dalam membentuk minat ini, karena paparan terhadap konten influencer keuangan dan testimoni keuntungan sering kali menjadi pemicu awal ketertarikan berinvestasi. Selain itu. Generasi Z memiliki profil risiko yang relatif tinggi dengan kecenderungan overconfidence dalam Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Ao(Danurwenda & Suhartini, 2. Sikap ini membuat mereka lebih berani masuk ke instrumen dengan volatilitas ekstrem seperti kripto, meskipun sering kali tanpa analisis mendalam. Faktor demografi juga turut memperkuat fenomena ini: sebagai generasi digital-native. Gen Z merasa lebih percaya diri mengelola investasi melalui aplikasi seluler dengan fitur perdagangan real-time. Dengan demikian, alasan utama meningkatnya partisipasi Gen Z dalam kripto adalah kombinasi antara daya tarik keuntungan cepat, eksposur intensif terhadap tren digital, dan karakter generasi yang berani mengambil Adopsi cryptocurrency memiliki dampak ganda. Di satu sisi, kripto memperluas inklusi keuangan dengan membuka akses investasi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi. Namun, rendahnya literasi keuangan digital justru meningkatkan risiko perilaku impulsif dan spekulatif. Studi menunjukkan adanya korelasi negatif antara tingkat literasi keuangan dan kecenderungan berinvestasi dalam kripto, sehingga individu dengan pemahaman terbatas lebih rentan terjebak dalam FOMO dan spekulasi berlebihan Ao. A, 2. Oleh karena itu, demokratisasi keuangan, keberhasilannya tetap bergantung pada peningkatan literasi dan edukasi finansial yang memadai. Di tengah derasnya literatur yang membahas perilaku finansial generasi muda, masih terdapat kekosongan . yang signifikan. Pertama, secara teoritis, literacy dan tren investasi digital dalam cryptocurrency, khususnya di kalangan generasi Z. Padahal, kelompok ini merupakan digital native yang sangat terpapar oleh teknologi finansial Ao(Lieanto & Kohardinata, 2. Kedua, dari sisi metodologi, sebagian besar studi terdahulu menggunakan pendekatan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 kuantitatif deskriptif, padahal pendekatan kualitatif eksploratif sangat diperlukan untuk menggali pengalaman dan motivasi Ao(Caballero et al. , 2. Ketiga, masih minim penelitian yang fokus pada populasi usia 18Ae25 tahun di Indonesia, padahal kelompok ini adalah pengguna awal . arly adopter. dalam ekosistem kripto lokal. Terakhir, masih sedikit menghasilkan rekomendasi kebijakan investasi digital yang aman dan bertanggung jawab. Karena adanya fenomena dan celah tersebut, penelitian ini dilakukan untuk memahami seberapa besar pengaruh pemahaman tentang keuangan digital dan tren investasi digital terhadap keputusan generasi muda dalam memilih aset Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah minimnya pemahaman tentang keuangan digital di kalangan investor muda, sehingga keputusan investasi sering kali lebih dipengaruhi oleh tren media sosial, euforia pasar, dan tekanan sosial daripada analisis yang rasional. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana tingkat literasi keuangan digital generasi muda Indonesia dalam konteks investasi cryptocurrency, sejauh mana tren investasi digital melalui media sosial dan komunitas online memengaruhi keputusan mereka, serta bagaimana keterkaitan antara literasi keuangan digital dan tren investasi digital dalam membentuk perilaku investasi kripto? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini bertujuan . menganalisis tingkat literasi keuangan digital generasi Indonesia cryptocurrency, . mengetahui pengaruh tren investasi digital terhadap keputusan investasi generasi muda, dan . menggali keterkaitan antara literasi keuangan digital dan tren investasi digital dalam Dengan demikian, hasil P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. penelitian ini diharapkan mampu mengisi research gap yang ada, memperkaya literatur akademik, serta memberikan panduan praktis bagi institusi pendidikan, pelaku industri keuangan, maupun mengembangkan sistem investasi digital yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. LANDASAN TEORI Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavio. Teori Perilaku Terencana Yang AoAjzen menjelaskan bahwa niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif, serta persepsi tentang kontrol perilaku. Dalam konteks ini, perilaku investasi cryptocurrency pada generasi muda dapat dipengaruhi oleh sikap positif terhadap keuntungan kripto, tekanan sosial dari teman sebaya atau influencer digital, serta kepercayaan diri mereka dalam menggunakan teknologi keuangan digital Ao(Lieanto & Kohardinata, 2. Model Penerimaan Teknologi (Technology Acceptance Mode. Model ini menjelaskan bahwa adopsi teknologi ditentukan oleh persepsi terhadap kegunaan . erceived usefulnes. kemudahan penggunaan . erceived ease of Dalam konteks investasi digital, generasi muda cenderung lebih mudah menerima aplikasi investasi jika platform tersebut userfriendly dan dirasa memberi manfaat dalam mencapai tujuan finansial Ao(PitchayaAuckarakhun et al. , 2. Teori Keuangan Perilaku (Behavioral Finance Theor. Teori ini beranggapan bahwa keputusan keuangan tidak sepenuhnya rasional dan sering dipengaruhi oleh bias psikologis dan Ao(Friederich mengidentifikasi bahwa generasi muda cenderung terdorong oleh emosi seperti FOMO (Fear of Missing Ou. dalam mengambil keputusan investasi, terutama Konsep Literasi Keuangan Digital Literasi keuangan digital merupakan kombinasi dari kemampuan memahami konsep keuangan serta keterampilan menggunakan teknologi digital untuk mengelola keuangan. Ao(Lyons & KassHanna, 2. Membuat definisi literasi keuangan digital sebagai kemampuan informasi finansial yang berbasis digital secara tepat, agar bisa membuat keputusan ekonomi yang bermanfaat. Konsep ini meliputi pemahaman terhadap: penggunaan aplikasi mobile banking dan investasi digital, keamanan siber dalam transaksi keuangan, manajemen risiko investasi digital. Tren Investasi Digital Tren investasi digital mencerminkan pergeseran preferensi generasi muda dari instrumen tradisional ke aset digital seperti saham online, reksa dana digital, dan cryptocurrency. AoHamid et al. mencatat bahwa eksistensi influencer keuangan dan kemudahan akses aplikasi investasi telah membentuk pola konsumsi informasi finansial baru di kalangan anak Tren ini juga sering dikaitkan dengan bentuk eksistensi sosial dan pencitraan diri dalam komunitas digital. Investasi Cryptocurrency Investasi bentuk investasi dalam aset digital terenkripsi berbasis blockchain. Aset ini bersifat terdesentralisasi, tidak diatur oleh bank sentral, dan memiliki volatilitas Dalam konteks generasi muda, investasi kripto sering dipandang sebagai peluang mendapatkan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat, namun disertai risiko besar Ao(Meriacri, 2. METODOLOGI Penelitian Pendekatan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. bertujuan untuk memahami fenomena secara mendalam dalam situasi yang alami, di mana peneliti berperan sebagai alat utama dalam proses Penelitian dalam pengumpulan dan interpretasi data. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggali secara mendalam persepsi, pengalaman, serta motivasi investor muda cryptocurrency, literasi keuangan digital, dan tren investasi digital. Data mendalam yang dilakukan Secara Teknik wawancara semiterstruktur digunakan untuk memberikan keleluasaan bagi informan dalam mengarahkan pembahasan sesuai fokus Informan dalam penelitian ini adalah tujuh orang investor muda berusia antara 18Ae25 tahun yang aktif melakukan investasi pada aset cryptocurrency. Para informan berasal dari latar belakang pendidikan dan profesi yang beragam, termasuk mahasiswa, pekerja lepas, dan pelaku usaha digital. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut: memiliki pengalaman investasi cryptocurrency minimal 6 bulan, . aktif menggunakan aplikasi investasi digital, dan . memiliki pemahaman atau ketertarikan terhadap isu literasi keuangan digital. Para informan dipilih karena dinilai memiliki perspektif yang relevan dan representatif terhadap generasi muda pengguna teknologi keuangan digital. Seluruh identitas informan dalam penelitian ini disamarkan untuk menjaga privasi dan etika penelitian. Proses wawancara berlangsung selama 20Ae35 menit untuk setiap Seluruh percakapan direkam . engan persetujuan informa. dan dilengkapi dengan catatan lapangan. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Setelah wawancara selesai, rekaman ditranskrip secara verbatim untuk Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis tematik, di mana data dikategorikan ke dalam tematema utama yang sesuai dengan fokus penelitian, yaitu: literasi keuangan digital, tren investasi digital, dan keputusan investasi cryptocurrency. Untuk meningkatkan keabsahan data, dilakukan teknik triangulasi sumber dan member check. Peneliti juga melakukan refleksi diri dan menjaga audit trail dalam dokumentasi proses penelitian dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Seluruh data hasil wawancara, transkrip, dan catatan lapangan disimpan secara terorganisir pada penyimpanan daring yang dapat diakses melalui tautan Google Drive https://drive. com/drive/folders/1V WeYGI789en5JpK8ccVyTKapOPCqPmA HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk keuangan digital dan tren investasi digital cryptocurrency pada generasi muda Indonesia. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan tujuh informan berusia 18Ae25 tahun yang aktif berinvestasi di aset kripto, ditemukan beberapa tema utama yang menunjukkan keterkaitan antara literasi digital, eksposur terhadap tren, serta kecenderungan perilaku investasi. Tingkat Literasi Keuangan Digital yang Bervariasi Mayoritas informan menunjukkan pemahaman dasar tentang fungsi aplikasi investasi dan dompet digital. Mereka mampu mengoperasikan aplikasi seperti Ajaib Kripto. Tokocrypto, atau Indodax secara mandiri. Namun demikian, hanya sebagian kecil yang memahami fitur P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. lanjutan seperti staking, limit order, atau Hal menunjukkan bahwa literasi keuangan digital masih bersifat fungsional, belum mencapai tingkat kritis. Sebagaimana AoPratitrasari dan Yuhertiana . , literasi digital keuangan yang tinggi tidak hanya ditandai dengan kemampuan teknis, tetapi juga dengan kemampuan pengambilan keputusan yang rasional. Hal ini sesuai dengan temuan AoLieanto dan Kohardinata . , yang menyebut bahwa banyak investor muda masih belajar dari media sosial atau grup Telegram tanpa validasi akademik atau Tren Investasi Digital dan Sosial Media Semua informan mengaku pernah tertarik berinvestasi karena terpapar konten di media sosial, seperti TikTok atau Instagram. Mereka mengamati rekomendasi dari influencer keuangan . inancial membagikan profit dari investasi kripto. Keputusan untuk membeli aset kripto umumnya tidak didasarkan pada analisis fundamental, tetapi karena alasan tren dan ketertinggalan (FOMO Ae Fear of Missing Ou. Fenomena ini sejalan dengan teori Behavioral Finance, di mana keputusan keuangan dipengaruhi oleh bias kognitif dan faktor emosional Ao(Zhu, 2. Dalam konteks ini, media digital tidak hanya menjadi saluran informasi, tetapi juga sumber tekanan sosial dan penguat ekspektasi keuntungan tinggi secara cepat Strategi Investasi dan Persepsi Risiko Meskipun menyadari bahwa cryptocurrency bersifat fluktuatif, hanya dua dari tujuh informan yang secara sadar menerapkan strategi pengelolaan risiko, seperti diversifikasi atau penggunaan fitur stop-loss. Informan lainnya lebih memilih pendekatan spekulatif, dengan harapan memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat. Hal ini mengonfirmasi peringatan dari AoSaid et al. , bahwa investasi kripto sering kali dilakukan tanpa prinsip kehati-hatian, bahkan bisa mengandung unsur maysir . pekulasi berlebiha. Informan kecenderungan untuk meminimalkan perasaan rugi dengan tidak membuka aplikasi saat harga sedang turun, yang menunjukkan adanya loss aversion dalam perilaku investasi mereka. Keterkaitan Antara Literasi. Tren, dan Keputusan Investasi Berdasarkan hasil wawancara, tampak bahwa literasi digital dan tren investasi tidak bekerja secara terpisah, tetapi saling memengaruhi. Informan yang memiliki literasi digital lebih baik cenderung lebih kritis terhadap informasi tren dan lebih selektif dalam memilih aset. Sebaliknya, mereka yang literasinya rendah lebih mudah terbawa arus dan berinvestasi hanya karena mengikuti rekomendasi komunitas atau konten viral. Temuan ini mendukung kerangka Theory of Planned Behavior Ao(Ajzen, 1. , di mana niat dan perilaku investasi dipengaruhi oleh sikap terhadap risiko, tekanan sosial, dan persepsi terhadap kemampuan diri sendiri dalam mengelola Simpulan dari temuan ini adalah bahwa penguatan literasi keuangan digital sangat penting untuk menyeimbangkan pengaruh tren yang bersifat populis dan Generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar akses ke teknologi. mereka memerlukan pemahaman yang kritis dan kesadaran etis dalam KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran literasi keuangan digital dan tren investasi digital dalam Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. memengaruhi keputusan generasi muda Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam terhadap tujuh informan, diperoleh beberapa temuan penting yang mencerminkan dinamika perilaku finansial generasi muda di era Pertama, literasi keuangan digital di kalangan investor muda cenderung masih terbatas pada kemampuan fungsional, seperti penggunaan aplikasi investasi, tetapi belum sepenuhnya mencakup pemahaman yang kritis terhadap risiko dan strategi investasi jangka panjang. Kedua, tren investasi digital yang berkembang melalui media sosial berperan besar dalam membentuk motivasi dan keputusan investasi, sering kali lebih bersifat emosional dan impulsif daripada rasional dan analitis. Ketiga, sebagian besar informan belum memiliki strategi pengelolaan risiko yang memadai, dan keputusan investasi lebih banyak dipengaruhi oleh euforia pasar dan tekanan sosial. Keempat, ditemukan keterkaitan erat antara tingkat literasi digital dan kemampuan menyaring pengaruh tren, di mana individu dengan literasi lebih tinggi menunjukkan kecenderungan untuk lebih selektif dan berhati-hati dalam berinvestasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan memainkan peran penting dalam membentuk perilaku investasi yang bijak, khususnya dalam menghadapi derasnya arus tren investasi digital di media sosial. Peningkatan literasi ini perlu menjadi perhatian bagi institusi pendidikan, pelaku industri keuangan, dan pembuat kebijakan dalam merancang program edukasi keuangan yang adaptif, kontekstual, dan berbasis teknologi. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 kepada Universitas Wahid Hasyim, khususnya Program Studi Manajemen, atas segala bentuk dukungan yang telah diberikan selama proses penelitian ini Ucapan terima kasih juga penulis tujukan kepada para informan pengalaman berharga, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Selain itu, penulis sangat menghargai setiap bantuan, saran, maupun dorongan semangat dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang menjadi bagian penting dalam perjalanan penyusunan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA