Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No.1 , 9 - 16 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 HUBUNGAN MOTIVASI DAN SUPERVISI DENGAN KEPATUHAN PERAWAT MELAKUKAN HAND HYGIENE Wiwin Nur Aeni1*, Bestina Nindy Virgiani2 Andrey Mulyana3 1 STIKes Indramayu, wiwinnuraeni505@gmail.com 2STIKes Indramayu, ns.bestina08@gmail.com 3STIKes Indramayu, mulyanaandrey1@gmail.com INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel : Diterima : 06 Januari 2022 Disetujui : 25 Januari 2022 Kata Kunci : Hand hygieine, Kepatuhan, Motivasi, Supervisi Hand hygiene merupakan salah satu upaya menegakkan prinsip patient safety. Kepatuhan perawat yang masih rendah dalam melakukan hand hygiene berisiko menyebarkan infeksi nosokomial baik bagi pasien maupun petugas kesehatan. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan motivasi dan supervisi dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah perawat di ruang rawat inap RSUD Kabupaten Indramayu. Penentuan sampel menggunakan teknik proporsional sampling sebanyak 104 responden. Analisa data menggunakan Chi square. Hasil penelitian menunjukan motivasi tinggi sebanyak 60 perawat (57,7%), supervisi baik sebanyak 62 perawat (59,6%) dan ketidakpatuhan dalam hand hygiene sebanyak 98 perawat (94,2%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara motivasi dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene (P value=0.696), dan tidak ada hubungan supervisi dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene (P value = 0,683). ARTICLE INFO ABSTRACT Article History : Received : 06 January 2022 Accepted : 25 January 2022 Keywords: Hand hygiene, motivation, supervision Hand hygiene is one of the efforts to enforce the principle of patient safety. Nurses who are still low in performing hand hygiene are at risk of spreading nosocomial infections for both patients and health workers. The purpose of this study was to determine the relationship between motivation and supervision with nurses' compliance of hand hygiene at the Indramayu District Hospital. This study used a quantitative method with a cross sectional approach. The research population was nurses in the inpatient room at the Indramayu District Hospital. Determination of the sample using proportional sampling technique as many as 104 respondents. Data analysis used Chi square. The results showed high motivation as many as 60 nurses (57.7%), good supervision as many as 62 nurses (59.6%) and non-compliance in hand hygiene as many as 98 nurses (94.2%). The results of the bivariate analysis showed that there was no relationship between motivation and nurses' compliance of hand hygiene (P value = 0.696), and there was no relationship between supervision and nurses' compliance with hand hygiene (P value = 0.683). 9 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No.1 , 9 - 16 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 1. PENDAHULUAN Infeksi nosokomial merupakan masalah yang cukup serius. Menurut World Health Organisation (WHO), infeksi nosokomial menyebabkan 1,4 juta kematian perhari di seluruh dunia. Dampak dari infeksi nosokomial di Eropa adalah 16 juta hari ekstra rawat di rumah sakit (rata-rata 4 hari per infeksi), peningkatan biaya sekitar 7 miliar per tahun dan lebih dari 100.000 kematian setiap tahun. Dampak infeksi nosokomial di Amerika Serikat berupa peningkatan biaya sekitar $6.5 miliar, angka kematian sejumlah 99.000. Di negara berpendapatan rendah dan menengah berdampak pada perpanjangan lama rawat 530 hari dengan tingkat kematian 23,6% (Depkes RI, 2011). Di Indonesia, infeksi nosokomial memperpanjang keperawatan di rumah sakit selama 5-30 hari dengan tingkat kematian 23,6% selain itu dampak dari infeksi nosokomial adalah tidak akan ada penggantian perawatan bagi pasien dari pihak asuransi yang perawatannya berlangsung karena infeksi nosokomial (Darmadi, 2008). Hasil analisis longitudinal pada tahun 2013-2015, menunjukkan bahwa infeksi nosocomial menurun secara signifikan bersamaan dengan peningkatan kepatuhan hand hygiene oleh perawat (Sickbert-Bennett, E. E., DiBiase, L. M., Willis, T. M., Wolak, E. S., Weber, D. J., & Rutala, 2016). WHO memperkuat pernyataan bahwa salah satu pencegahan infeksi nosokomial ialah dengan meningkatkan kemampuan dalam menerapkan kewaspadaan standar (standar precaution) dengan komponen utamanya yang merupakan salah satu metode paling efektif untuk mencegah penularan phatogen berkaitan dengan pelayanan kesehatan adalah dengan melakukan praktik kebersihan (WHO, 2017). Perawat dalam bekerja sangat dituntut untuk menaati ketentuan hand hygiene. Hal tersebut salah satu dituangkan dalam standar operasional tindakan keperawatan yang selalu diawali dan diakhiri dengan hand hygiene. Fakta yang didapatkan menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan hand hygiene oleh petugas kesehatan masih tergolong rendah (Zottele, Caroline, Magnago, Tania Solange Bosi de Souza, Dullius, Angela Isabel dos Santos, Kolankiewicz, Adriane Cristina Bernat, & Ongaro, 2017). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan melakukan hand hygiene baru mencapai 54,2% sehingga diperlukan adanya pendekatan dari beberapa aspek yang mampu meningkatkan hasil kepatuhan hand hygiene. Kepatuhan terhadap hand hygiene yang dilakukan oleh perawat ruang rawat inap di salah satu rumah sakit di Malang masih dikategorikan rendah yakni 35% (Ernawati, E., Rachmi, A.T., Wiyanto, 2014). Kepatuhan cuci tangan rendah dominan terjadi pada momen cuci tangan sebelum kontak dengan pasien. Kepatuhan dalam hand hygiene di salah satu rumah sakit di Kabupaten Indramayu tahun 2018 didapatkan hasil bahwa tingkat kepatuhan perawat dalam melakukan hand hygiene baru mencapai 18,20%. Nilai ini sangat jauh dari harapan dan standar kepatuhan yakni 100% (PPI, 2018). Kepatuhan hand hygiene perlu ditingkatkan. Peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimanakah hubungan motivasi dan supervise kepala ruang terhadap kepatuhan perawat melaksanakan hand hygiene. Hal ini didasarkan pada teori yang menyimpulkan dari beberapa psikologi bahwa motivasi sebagai konstruk hipotesis yang digunakan untuk menjelaskan keinginan, arah insensitas, dan keajegan perilaku yang diarahkan oleh tujuan (Hamzah, 2013). Kemudian supervisi meliputi segala bantuan dari pimpinan atau penanggung jawab keperawatan yang ditujukan untuk perkembangan para perawat dan staf lain dalam mencapai tujuan keperawataan mendapat pelayanan yang bermutu (Arsyad, 2018). Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal 11 Maret 2019 didapatkan hasil dari 10 perawat terdapat 6 perawat tidak melakukan cuci tangan sebelum melakukan tindakan aseptik, 6 perawat tidak melakukan cuci tangan sebelum kontak dengan pasien, 6 perawat tidak melakukan cuci tangan setelah kontak dengan pasien dan 7 perawat tidak melakukan cuci tangan setelah kontak dengan lingkungan pasien. 10 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No.1 , 9 - 16 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 2. METODE Metode penelitian kuantitatif desain analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional (Dharma, 2011). Populasi penelitian adalah perawat rawat inap di rumah sakit di Kabupaten Indramayu sejumlah 139 orang. Pemilihan sampel menggunakan teknik proporsional sampling berdasarkan jumlah perawat dari 12 ruangan rawat inap. Penentuan jumlah sampel menurut rumus slovin berdasarkan pada tingkat kepercayaan 5% dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 104 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner untuk variable motivasi dan supervise serta instrument lembar observasi untuk variable hand hygiene. Kuesioner motivasi menggunakan skala likert pilihan jawaban selalu, sering, jarang, tidak pernah. Kuesioner supervisi menggunakan skala likert pilihan jawaban selalu, sering, jarang, tidak pernah. Kuesioner telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas kepada 20 responden perawat rawat inap. Hasil r tabel 0,443, tingkat kemaknaan 0,05 (5%), dari 9 pernyataan instrumen motivasi terdapat 1 pertanyaan yang tidak valid, dari 8 pernyataan instrumen supervisi terdapat 1 pernyataan yang tidak valid, maka peneliti menghapus pernyataan tersebut karena sudah terwakili oleh pernyataan yang lain. Sehingga instrument motivasi berjumlah 8 pernyataan dan supervisi 7 pernyataan. Kemudian uji Cronbach’s Alpha didapatkan hasil pada kuesioner motivasi 0,877 dan pada supervisi 0,873 maka seluruh pernyataan dinyatakan reliable. Analisa data bivariate menggunakan Chi square. Peneliti telah menerapkan etikaetika sebagai berikut Right to selft determination, Right to privacy, Right to anonymity and confidentiality, Right to fair treatment, Right to protection from discomform and harm. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Berdasarkan Umur dan Lama Kerja Kara kteris tik Umur Lama Kerja n 104 104 Mea Me dia n n 33,8 32, 2 00 SD (Min - 95% Max) CI 6,29 0 25 – 53 6,6 00 6,60 5 1– 25 8,02 32,59 – 35,04 6,73 – 9,30 Berdasarkan tabel 1 didapatkan rata – rata umur responden adalah 33,82 tahun (95% CI:), dengan standar deviasi 6.2 tahun. Umur termuda 25 tahun dan umur tertua 53 tahun. Sedangkan rata – rata lama kerja responden adalah 8,02 tahun, dengan standar deviasi 6,605, lama kerja terpendek 1 tahun dan terlama 25 tahun. Tabel 2. Karakteristik Jenis Kelamin, Pendidikan Jabatan dan Mengikuti Pelatihan PPI Kategori F % Jenis Kelamin Laki-laki 31 29,8 73 70,2 Perempuan Jumlah 104 100% Pendidikan D3 41 39,5 S.Kep Ners 63 60,6 Jumlah 104 100% Jabatan Katim 13 12,5 Perawat Pelaksana 91 87,5 Jumlah 104 100% Pelatihan PPI Ya 78 75,0 Tidak 26 25,3 Jumlah 104 100% Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa responden lebih banyak berjenis kelamin Perempuan yaitu 73 responden (70,2%), kategori status Pendidikan lebih 11 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No.1 , 9 - 16 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 banyak S.Kep Ners yaitu 63 responden (60,6%), kategori jabatan lebih banyak perawat pelaksana yaitu 90 responden (87,5%), dan kategori untuk mengikuti pelatihan PPI lebih banyak yang mengikuti yaitu 78 responden (75,0%). 3.2 Hasil Univariat Tabel 3. Distribusi Frekuensi Motivasi Responden F % Kategori Motivasi Rendah 44 42.3 Motivasi Tinggi 60 57,7 Jumlah 104 100% 3.3 Hasil Bivariate Tabel 6. Hubungan Motivasi Dengan Kepatuhan Melakukan Hand Hygiene Kepatuhan P Tidak Total Patuh Val Patuh ue Motivasi F % F % F % Rendah Tinggi Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa motivasi perawat di RSUD Kabupaten Indramayu sebanyak 60 responden (57,7%) memiliki motivasi tinggi. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Supervisi Responden Kategori F % Tidak Baik 42 40,3 Baik 62 59,6 Jumlah 104 100% Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa supervisi perawat di RSUD Kabupaten Indramayu sebanyak 62 responden (59,6%) memiliki supervisi baik. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kepatuhan Responden Kategori % F Tidak Patuh 98 94,2% Patuh 6 5,8% Jumlah 104 100% Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa kepatuhan perawat di RSUD Kabupaten Indramayu sebanyak 98 responden (94,2%) tidak patuh dalam melakukan hand hygiene sebelum dan sesudah tindakan asuhan keperawatan. Total 93, 2 95, 57 0 94, 98 2 41 3 6,8 44 100 3 5,0 60 100 6 5,8 10 4 100 0,6 96 Berdasarkan hasil tabel 6 diatas, dapat diketahui bahwa dari 44 perawat yang memiliki motivasi rendah terdapat 41 perawat tidak patuh melakukan hand hygiene, sedangkan dari 60 motivasi tinggi terdapat 57 perawat tidak patuh melakukan hand hygiene. Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value = 0,696 dari uji Fisher’s Extract Test dikarenakan uji Chi-Square terdapat 2 cells dan memiliki nilai ecpected <5, sehingga dengan nilai p-value 0,696 ≥ α (0,05) artinya tidak ada hubungan antara motivasi dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu tahun 2019. Tabel 7. Hubungan Supervisi Dengan Kepatuhan Melakukan Hand Hygiene Kepatuhan Supe rvisi Tidak Patuh F % Tidak Baik 39 Baik 59 Total 98 92, 9 95, 2 94, 2 Patuh Total F % F 3 7,1 42 3 4,8 62 6 5,8 10 4 % 10 0 10 0 10 0 P Val ue 0,6 83 Berdasarkan hasil tabel 7 diatas, dapat diketahui bahwa dari 42 supervisi tidak baik terdapat 39 perawat tidak patuh melakukan 12 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No.1 , 9 - 16 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 hand hygiene, sedangkan dari 62 supervisi baik terdapat 59 perawat tidak patuh melakukan hand hygiene. Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value = 0,683 dari uji Fisher’s Extract Test dikarenakan uji ChiSquare terdapat 2 cells dan memiliki nilai ecpected <5, sehingga dengan nilai p-value 0,683 ≥ α (0,05) hipotesis diterima artinya tidak ada hubungan antara supervisi dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu tahun 2019. 3.4 Pembahasan Motivasi Hasil penelitian yang dilakukan pada 104 perawat di RSUD Kabupaten Indramayu didapatkan bahwa 60 responden (57,7%) memiliki motivasi yang tinggi dalam melakukan hand hygiene. Hal ini menunjukan bahwa perawat di RSUD Kabupaten Indramayu memiliki motivasi yang tinggi dalam melakukan kegiatan hand hygiene untuk membersihkan tangan yang kotor dan mencegah terpapar infeksi nosokomial bagi pasien dan bagi perawat itu sendiri. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan di ruang Bedah RSUD Kabupaten Indramayu dari 30 responden didapatkan sebanyak 20 responden (66,7%), masuk kedalam kategori motivasi tinggi (Suwanto, 2017). Hal ini menunjukan bahwa perawat di ruang Bedah RSUD Kabupaten Indramayu memiliki konsisten motivasi yang tinggi dalam menjaga kebersihan tangan untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial yang dapat ditularkan melalui tangan, seperti yang kita ketahui bahwa tangan yang kotor merupakan tempat bersarangnya kuman dan bakteri. 3.5 Pembahasan Supervisi Hasil penelitian yang dilakukan pada 104 perawat di RSUD Kabupaten Indramayu didapatkan bahwa 61 responden (59,2%) memiliki supervisi baik dalam melakukan hand hygie. Ini menunjukan kepala ruangan di RSUD Kabupaten Indramayu memiliki supervisi yang baik dalam pengawasan perawat melakukan hand hygiene untuk pencegahan terpaparnya infeksi nosokomial bagi pasien dan bagi perawat itu sendiri. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Misi Rangkas Bitung didapatkan bahwa dari 76 terdapat 39 responden (51,3%) memiliki supervisi baik dalam melakukan hand hygiene (Eko, 2015). Dimana supervisi sangat penting dilakukan untuk mengawasi kegiatan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien, untuk mengingatkan petugas rumah sakit yang lalai dalam melakukan hand hygiene. 3.6 Pembahasan Kepatuhan Hasil penelitian yang dilakukan pada 104 perawat di RSUD Kabupaten Indramayu didapatkan bahwa 97 responden (94,2%) tidak patuh dalam melakukan hand hygiene, hal ini menunjukan bahwa perawat di RSUD Kabupaten Indramayu tidak patuh dalam melakukan hand hygiene. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan tim PPI RSUD Kabupaten Indramayu sekitar 36,6% yang melakukan hand hygiene. Nilai tersebut merupakan nilai yang tidak patuh dalam melakukan hand hygiene (PPI, 2018). Sehingga beresiko menyebarkan HAIs baik bagi pasien maupun untuk petugas. Untuk meningkatkan nilai kepatuhan diperlukan resosialisasi kembali kepada para petugas rumah sakit. 3.7 Pembahasan Hubungan Motivasi dengan Kepatuhan Perawat Melakukan Hand Hygiene. Berdasarkan hasil penelitian pada analisa bivariat di RSUD Kabupaten Indramayu pada 104 responden, didapatkan 98 responden (94,2%) tidak patuh dalam melakukan hand hygiene, dan mempunyai motivasi yang tinggi 60 responden (57,7%). Berdasarkan angka – angka tersebut meski dalam motivasi yang tinggi perawat tidak patuh dalam melakukan hand hygiene. Pada hasil uji statistik menggunakan chi-square, maka dapat disimpulkan artinya tidak ada hubungan motivasi dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu tahun 2019. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya dimana diperoleh bahwa ada hubungan antara motivasi perawat dengan kepatuhan 13 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No.1 , 9 - 16 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 melakukan hand hygiene di RSI Klaten (Nasrul and Pratiwi M.R, 2017). Berdasarkan hasil observasi didapatkan bahwa motivasi tidak memiliki hubungan dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene dimungkinakan karena keterbatasan waktu untuk melakukannya sehingga tidak dilakukan hand hygiene sebelum dan sesudah tindakan keperawatan. Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa responden mengatakan bahwa sebelum tindakan asuhan keperawatan tidak melakukan hand hygiene dikarenakan ketika tindakan keperawatan menggunakan sarung tangan sehingga sering terlewatkan melakukan hand hygiene. Faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan selain motivasi seperti sikap, ketersedian fasilitas dan prilaku dari faktor tersebut dapat mempengaruhi kepatuhan perawat melakukan hand hygiene. 3.8 Pembahasan Hubungan Supervisi Perawat dengan Kepatuhan Perawat Melakukan Hand Hygiene. Berdasarkan hasil penelitian pada analisa bivariat di RSUD Kabupaten Indramayu pada 104 responden, didapatkan 62 responden (59,6%) baik dalam melakukan supervisi, dan 98 responden (94,2%) tidak patuh dalam melakukan hand hygiene. Supervisi tidak mampu memberikan pengaruh terhadap kepatuhan hand hygiene karena upaya penyadaran untuk mematuhi hand hygiene yang diberikan melalui kepemimpinan tim dalam hal ini melalui model supervise hanya mampu memberikan pengaruh selama 6 bulan (Doronina et al., 2017). Berdasarkan angka – angka tersebut meski dalam supervisi yang baik tetapi perawat tidak patuh dalam melakukan hand hygiene. Pada hasil uji statistik menggunakan chi-square, maka dapat disimpulkan artinya tidak ada hubungan antara supervisi dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu tahun 2019. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa responden yang tidak patuh melakukan cuci tangan lebih banyak dijumpai pada kelompok dengan kategori pengawasan pimpinan (supervisi) yang menurut responden dikategorikan kurang baik (72,0%) dibandingkan dengan adanya pengawasan pimpinan baik (supervisi) (51,1%) (Amelia, Widagdo and Syamsulhuda, 2016). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengawasan pemimpin (supervisi) dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti perawat sering melupakan kewajibannya melakukan hand hygiene sebelum dan sesudah tindakan asuhan keperawatan ketika sedang tidak dilakukan supervisi dan ketika kepala ruangan tidak ada diruangan atau pengawasan yang kurang dari pihak rumah sakit, sehingga banyak perawat yang tidak melakukan hand hygiene sebelum dan sesudah tindakan asuhan keperawatan karena tidak ada yang menegur dari pimpinan maupun dari pihak rumah sakit bahkan memberikan sanksi bagi perawat yang tidak melakukan hand hygiene, hal ini bisa menyebabkan meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial karena kurang patuhnya perawat dalam menjaga kebersihan tangan dalam melakukan hand hygiene sebelum dan sesudah tindakan asuhan keperwatan. 4. PENUTUP 4.1 Kesimpulan a. Motivasi perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu, sebanyak 60 responden (57,7%) termasuk dalam kategori motivasi tinggi. b. Supervisi perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu, sebanyak 62 responden (59,6%) termasuk dalam kategori supervisi baik. c. Kepatuhan Perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu, sebelum tindakan keperawatan yaitu 98 responden (94,2%) termasuk dalam kategori tidak patuh melakukan hand hygiene. d. Tidak ada hubungan antara motivasi dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu e. Tidak ada hubungan supervisi dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene di RSUD Kabupaten Indramayu, 14 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No.1 , 9 - 16 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 4.2 Saran a. Bagi Perawat Perawat diharapkan dapat mempertahankan motivasi dan supervisi tentang hand hygiene agar dapat diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan. Melakukan pemberian edukasi dan pengawasan dalam meningkatkan kepatuhan perawat dalam melakukan hand hygiene untuk menunjang kinerja sebagai perawat yang profesional dan keselamatan pasien dari penyebaran infeksi nosokomial. b. Bagi Pendidikan Keperawatan Bagi penyelenggara pendidikan diharapkan meningkatkan pengetahuan dalam melakukan hand hygiene dan pentingnya kepatuhan perawat melakukan hand hygiene untuk menjaga keselamatan pasien dan perawat. c. Bagi Peneliti Lain Harapan peneliti pada peneliti lain dapat meneliti faktor – faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan perawat melakukan hand hygiene seperti pengetahuan, sikap, fasilitas, dan perilaku. Apabila peneliti lain ingin menggunakan kuesioner yang dalam penelitian ini maka sebaiknya peneliti melakukan uji validitas kembali. 5. DAFTAR PUSTAKA Amelia, R., Widagdo, L. and Syamsulhuda (2016) ‘Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kepatuhan Perawat Melakukan Cuci Tangan DI RSUP DR Kariadi Semarang’, Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(3). Arsyad (2018) Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Bumi Medika. Jakarta: Bumi Medika. Darmadi (2008) Infeksi Nosokomial : Problematika dan Pengendaliannya. Jakarta: Salemba Medika. Depkes RI (2011) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/Menkes/Per/Viii/2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Dharma, K. K. (2011) Metodologi Penelitian Keperawatan : Pedoman Melaksanakan dan Menerapkan Hasil Penelitian. Jakarta: CV.Trans Info Media. Doronina, O. et al. (2017) ‘Interventions to Improve Hand Hygiene Compliance of Nurses in the Hospital Setting’, Journal of Nursing Scholarship, 49(2), pp. 143–152. Eko, S. (2015) ‘Kepatuhan Hand Hygiene di Rumah Sakit Misi Rangkas Bitung’, Junal Kesehatan Caring and Enthusiasem, 1(1). Ernawati, E., Rachmi, A.T., Wiyanto, S. (2014) ‘Penerapan Hand Hygiene Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit’, Jurnal Kedokteran Brawijaya, 28(1), pp. 88–94. Available at: https://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/artic le/view/523. Hamzah (2013) Teori Motivasi dan Pengukurannya, PT. Bumi Aksara. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Nasrul, F. and Pratiwi M.R (2017) ‘Hubungan Motivasi Perawat Dengan Tingkat Kepatuhan Melakukan Cuci Tangan: STIKes Kusuma Husada Surakarta’, Jurnal Provisional Islam, 14(2), pp. 11–18. PPI (2018) Kepatuhan Hand Hygiene Berdasarkan Profesi Di RSUD Kabupaten Indramayu. Indramayu. Indramayu. Sickbert-Bennett, E. E., DiBiase, L. M., Willis, T. M., Wolak, E. S., Weber, D. J., & Rutala, W. A. (2016) ‘Reduction of Healthcare-Associated Infections by Exceeding High Compliance with Hand Hygiene Practices. Emerging infectious diseases’, 22(9), pp. 1628– 1630. Suwanto (2017) Hubungan Motivasi Dengan Kepatuhan Perawat Dalam Praktik Kebersihan Tangan Di Ruang Bedah RSUD Kabupaten Indramayu. STIKes Indramayu. WHO (2017) Guidelines On Hand Hygiene In Health Care. Available at: https://www.who.int/gpsc/5may/tools/ 9789241597906/en/. Zottele, Caroline, Magnago, Tania Solange Bosi de Souza, Dullius, Angela Isabel dos Santos, Kolankiewicz, Adriane 15 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No.1 , 9 - 16 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 Cristina Bernat, & Ongaro, J. D. (2017) ‘Hand hygiene compliance of healthcare professionals in an emergency department’, Revista da Escola de Enfermagem da USP. doi: https://dx.doi.org/10.1590/s1980220x2016027303242. 16