Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Universitas PGRI Semarang November 2023, hal 3038-3050 PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI BERDASARKAN GAYA BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF MATA PELAJARAN IPAS KELAS V SEKOLAH DASAR Agata Dwi Marshella1,*. Fenny Roshayanti2. Luthfaida Mayasari3 1,2PGSD. Pascasarjana. Universitas PGRI Semarang. Jl. Sidodari Timur No. 24 Semarang, 50232 3SD Negeri Bendungan Semarang. Jl. Veteran No. Semarang, 50231 E-mail : agatamarshella2000@gmail. com, 2fennyroshayanti@upgris. 3luthfaidamayasari51@guru. ABSTRAK Hasil belajar siswa pada pembelajaran IPAS masih rendah. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran belum mengakomodir kebutuhan belajar siswa sehingga rasa antusias siswa selama belajar menjadi berkurang dan pasif. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti menerapkan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa kelas V mata Pelajaran IPAS. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan observasi, kemudian Dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar siswa meliputi diferensiasi konten, proses dan produk dapat mengalami peningkatan dari hasil belajar kognitif. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan dalam pembelajaran pengkondisian kelas lebih ekstra agar pembelajaran berjalan dengan efisien dan memperoleh target proses pembelajaran yang diharapkan. Kata kunci: Hasil Belajar. IPAS. Pembelajaran Berdiferensiasi ABSTRACT Student learning outcomes in science and science learning are still low. This is because learning has not accommodated students' learning needs so that students' enthusiasm during learning becomes reduced and passive. To overcome this, researchers implemented differentiated learning based on student learning styles. This research aims to improve the cognitive learning outcomes of fifth grade students in science subjects. This research is classroom action research consisting of two cycles. Each cycle consists of three stages, namely planning, implementation and observation, then reflection. implementing differentiated learning based on student learning styles including differentiation of content, processes and products, cognitive learning outcomes can be improved. Based on the results of this research, it is recommended that classroom conditioning be extra in learning so that learning runs efficiently and achieves the expected learning process targets. Keywords : Differentiated Learning. Learning Outcomes. Science. PENDAHULUAN Pendidikan di Indonesia memiliki kurikulum yang berfungsi sebagai acuan dalam menjalankan proses pembelajaran agar tercapai pada tujuan pendidikan yang Kurikulum yang digunakan saat ini adalah kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka sebelumnya (Kurikulum 2. Kurikulum ini menjadi sebuah terobosan baru dari pemerintah akibat learning loss pada pembelajaran yang terjadi pasca Covid-19. Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum yang berdasarkan dari pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara. Pemikiran yang dimaksud adalah pembelajaran yang ideal menurut Ki Hajar Dewantara yaitu sebuah proses belajar mengajar yang memfasilitasi siswa agar tumbuh sesuai kodratnya. Selaras dengan pendapat Bapak Pendidikan Indonesia (Ki Hadjar Dewantara, 2. yang menyampaikan bahwa pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. Hal tersebut sejalan Handiyani . pendidikan saat ini sejalan dengan konsep Ki Hajar Dewantara yang menjadikan siswa sebagai manusia pembelajar dan guru sebagai fasilitator yang menuntun dan membimbing siswa sesuai potensi, minat, dan bakat serta kemampuan yang dimilikinya untuk berguna di masa Kurikulum Merdeka pada jenjang sekolah dasar ini menekankan pada terpenuhinya kebutuhan belajar siswa dan karakteristik siswa. Pada kurikulum Merdeka ini terdapat beberapa fase dimana fase A untuk kelas 1 dan 2, fase B untuk kelas 3 dan 4, dan fase C untuk kelas 5 dan Ahyar, dkk . menjelaskan bahwa penggunaan fase dalam kurikulum Merdeka bertujuan agar guru dapat mengelompokkan kemampuan siswa agar pembelajaran yang diinginkan sesuai tahap/level siswa. Peran guru dalam kurikulum Merdeka yaitu bertindak sebagai fasilitator yang harus bisa mengakomodir kebutuhan Setiap siswa memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda-beda. Pada pembelajaran umumnya, guru mengajar dengan memperlakukan antara satu siswa dengan siswa lainnya dengan cara yang sama untuk kebutuhan belajar siswa yang berbeda-beda. Hal tersebut membuat siswa dengan kemampuan yang lebih rendah atau memiliki gaya belajar yang berbeda Sementara itu, siswa dengan kemampuan yang lebih tinggi merasa kurang diperhatikan. Ketidaksesuaian tersebut menjadikan kesenjangan dalam hasil belajar siswa dan capaian tujuan Dengan adanya kurikulum Merdeka. Indonesia pembelajaran yang berlaku. Selain itu, mata pelajaran dan komponen-komponen yang ada di dalam kurikulum Merdeka mengalami perubahan yang diharapkan menuju yang lebih baik. Salah satunya adalah pada mata Pelajaran IPA dan IPS untuk siswa SD/MI yang mengalami perubahan yaitu menjadi satu kesatuan yang digabungkan menjadi IPAS (IPA dan IPS). Menurut Sartika mengemukakan bahwa penggabungan tersebut memiliki tujuan agar siswa dapat mengumpulkan lingkungan alam dan sosialnya dalam satu kepaduan serta menekankan pembelajaran yang berpusat pembelajaran yang bermakna. Pendidikan yang berpusat pada siswa, lebih menekankan aspek proses bagaimana siswa belajar dan hasil dari proses belajar tersebut bagi perkembangan siswa khususnya di pembelajaran IPA. Dalam pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk mencari tahu dan melakukan praktikum sehingga mampu menjelajahi dan memahami alam di lingkungan sekitar secara ilmiah. Sehingga dalam pembelajaran IPA melibatkan siswa secara aktif dalam aktivitas fisik (Praktiku. Selama belajar siswa akan mempunyai pengalaman belajar yang bermakna. Menurut Sutarto dan Syarifuddin . mengemukakan bahwa belajar yang berpusat pada siswa sangat efektif diterapkan pada lingkungan belajar siswa. Sebelumnya penulis telah berupaya dalam menerapkan pembelajaran yang menyenangkan dengan menggunakan media yang menarik seperti Slide presentasi yang ditayangkan melalui LCD Proyektor. Selain pembelajaran secara berkelompok dalam kegiatan praktikum. Namun hasil belajar siswa masih rendah. Menurut Rusman . hasil belajar adalah sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan Sementara itu. Suryosubroto . menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan satuan nilai yang menjadi ukuran untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa terhadap hasil belajar berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Hasil belajar tersebut dikelompokkan dalam dua kriteria yaitu tuntas dan belum Tuntas apabila hasil yang dicapai siswa dalam tes adalah sesuai dengan KKTP yakni 70. Dengan memperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga penggunaan metode pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran IPA salah satunya sangat menentukan hasil belajar Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada mata Pelajaran IPAS khususnya IPA di SD Negeri Bendungan Semarang kelas VA maka diperoleh bahwa guru belum menerapkan metode yang memfasilitasi siswa untuk mengolah, mengembangkan produk sesuai dengan gaya atau minat dari masing-masing siswa. Dalam hal ini, pembelajaran yang dilakukan masih terdapat kesenjangan terhadap beberapa siswa seperti dalam pembelajaran secara berkelompok siswa belum berdasarkan kebutuhan belajarnya. Selain itu, dalam pengelompokan semua kebutuhan belajar siswa belum terpenuhi. Pembagian kelompok masih berdasarkan urutan absen, memilih sendiri, dan Pembagian berdasarkan gaya belajar belum pernah diimplementasikan seperti gaya belajar Sehingga membuat siswa yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya akan terlihat mencolok. Sedangkan siswa yang tidak sesuai dengan kebutuhan belajarnya membuat siswa menjadi tidak antusias atau pasif, tidak memperhatikan dalam pembelajaran dan menjadikan siswa tidak memahami materi. Berdasarkan permasalahan tersebut, dalam proses pembelajaran ternyata siswa memiliki keunikan yang berbeda-beda antara siswa yang satu dengan yang Apabila dilihat dari gaya belajarnya, ada siswa yang memiliki kebutuhan belajar seperti suka melihat gambar berupa poster, suka menonton video, dan belajar sambil melakukan. Selain itu, terdapat karakteristik lainnya seperti ada siswa yang cepat dalam menyelesaikan tugas yang lebih cepat dari waktu yang diperkirakan dan ada siswa yang lambat dalam belajar sehingga sering tertinggal dalam pembelajaran dan memerlukan waktu yang lebih lama dalam menyelesaikan tugas. Kebutuhan belajar siswa yang belum terpenuhi menyebabkan siswa menjadi tidak antusias dan dalam menyelesaikan tugas belum maksimal serta dapat menghasilkan hasil belajar yang Permasalahan tersebut perlu adanya perbaikan agar siswa diharapkan dapat aktif selama kegiatan pembelajaran pembelajaran secara utuh dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Oleh karena itu, diperlukan sebuah pembelajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar karakteristik siswa kelas VA khususnya gaya belajar untuk pemahaman siswa agar hasil belajarnya dapat meningkat yaitu Pembelajaran menjadi solusi yang tepat untuk mengakomodir kebutuhan belajar siswa. Hal tersebut didukung oleh Purba, dkk . yang mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memperhatikan tiga komponen yaitu kesiapan belajar, gaya belajar, dan minat siswa. Sehingga dalam pembelajaran guru dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran, produk yang akan di buat oleh siswa dan media yang akan digunakan. Herwina . menjelaskan bahwa pembelajaran yang menyesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa. Dalam hal ini, guru memfasilitasi siswa sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda. Menurut Suwartiningsih khususnya siswa. Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tidak semua siswa dapat diperlakukan sama. Jika berdasarkan kebutuhan siswa maka akan menghambat kemajuan dan pembelajaran Dampak menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yaitu semua orang merasa diterima, siswa dari berbagai latar belakang merasa dihargai, merasa aman dan harapan untuk berkembang, kebutuhan belajar siswa difasilitasi dengan baik. Efek ini diharapkan dapat mengarah pada hasil belajar yang optimal. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, dapat menggunakan model merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Model pembelajaran yang dapat digunakan yaitu model pembelajaran problem based Menurut Duch dalam Shoimin . 4: . Problem Based Learning (PBL) adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh Model problem based learning menekankan pada pemecahan masalah pada proses pembelajaran. Siswa akan terbiasa menghadapi masalah dan merasa tertantang untuk menyelesaikan Dalam penyelesaian masalah siswa dapat menjumpai masalah yang harus diselesaikan melalui eksperimen. Hal ini akan membiasakan siswa dalam menerapkan metode eksperimen. Model pembelajaran yang akan digunakan ini membantu dalam sintaks pembelajaran terutama dalam penyelesaian masalah yang dihadapi oleh siswa. Dalam hal ini, peneliti menerapkan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan dilakukan oleh Anik Nawati, dkk . yang berjudul AuPengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Model Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar IPA pada Siswa Sekolah DasarAy. Penelitian tersebut didapat bahwa dengan menggunakan strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam konten, proses, dan produk yang berbasis model problem based learning terbukti dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa, mengembangkan kreativitas dan meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, pada penelitian oleh Miqwati, dkk . yang berjudul AuImplementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah DasarAy menyatakan bahwa melalui pembelajaran berdiferensiasi dengan diferensiasi konten, proses dan produk menjadikan keaktifan siswa lebih meningkat dan siswa dapat mengungkapkan pendapat dengan baik serta hasil belajar siswa meningkat. Berdasarkan fakta dan beberapa peneliti sebelumnya maka diketahui bahwa berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar siswa melalui pembelajaran diferensiasi konten, proses, dan produk maka dapat mengakomodir kebutuhan belajar siswa sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi dan hasil belajar lebih meningkat. Dengan demikian dilakukan penelitian serupa yang berjudul AuPenerapan Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Muatan IPAS kelas V Sekolah DasarAy. METODE PELAKSANAAN Penelitian penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS melalui pembelajaran diferensiasi . aya belaja. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Bendungan Semarang. Sasaran dalam penelitian ini adalah siswa kelas V dengan jumlah 26 yang terdiri dari 11 perempuan dan 15 laki-laki. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun Pelajaran 2023/2024 selama 3 bulan mulai dari bulan Juli 2023 sampai dengan September 2023. Penelitian ini menggunakan 2 prosedur yaitu pra tindakan dan pelaksanaan penelitian. Pada prosedur pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 tahap yaitu perencanaan, tindakan yang dilaksanakan secara bersamaan dengan observasi, dan refleksi. Dilakukan dalam dua siklus dimana satu siklus dibuat 2 pertemuan dalam 2 x 35 menit. Teknik pengumpulan data dalam observasi, tes dan dokumentasi. Sedangkan instrumen pengumpulan data meliputi lembar observasi aktivitas siswa, serta lembar tes evaluasi. Observasi, dilakukan untuk mengidentifikasi proses pembelajaran yang berlangsung di kelas VA SD Negeri Bendungan Semarang dengan Selain itu, observasi ini dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa dan guru pada saat pembelajaran di kelas. Observasi ini dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peneliti. Tes, tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan kognitif peserta didik pada mata Pelajaran IPAS. Jenis tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes . Dokumentasi, bentuk dokumen penting yang akan dimasukkan yaitu berupa foto kegiatan pembelajaran dan hasil nilai siswa. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskripsi komparatif. Teknik ini dilakukan dengan cara membandingkan hasil penelitian pra siklus dan tiap siklus yang telah dilaksanakan. Peneliti menetapkan indikator kinerja berupa indikator hasil dari penelitian ini adalah ketercapaian KKTP pada hasil tes kemampuan siswa, dimana KKTP yang akan diberikan dalam penelitian ini adalah Pemberian patokan keberhasilan 85 persen dari jumlah keseluruhan siswa dengan mencapai nilai Ou 70 berdasarkan hasil evaluasi tertulis siswa sebagai Dalam menggunakan uji ketuntasan hasil belajar. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan selama 2 siklus dengan menggunakan 2 prosedur yaitu pra tindakan dan pelaksanaan penelitian. Pada prosedur pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Materi yang diajarkan yaitu IPAS bab 1 Melihat karena Cahaya Mendengar karena Bunyi. Sebelum melakukan asesmen diagnostik untuk profiling siswa berdasarkan gaya belajar. Berikut adalah diagram gaya belajar siswa kelas VA SD Negeri Bendungan Semarang : Visual Auditori Kinestetik Gambar 1. Gaya Belajar Siswa kelas VA SD Negeri Bendungan Semarang Selanjutnya meningkatnya hasil belajar siswa dapat diketahui melalui tes evaluasi. Pada Putri . , menjelaskan instrumen penilaian hasil belajar kognitif berdasarkan kemampuan berpikir peserta didik dengan menggunakan penguasaan Hasil analisis tes tindakan pra siklus, siklus I, dan siklus II kategori hasil belajar yang selanjutnya dikategorikan menurut tingkat ketuntasan klasikal siswa Pra Siklus Kegiatan pra tindakan adalah kegiatan awal sebelum tindakan dengan tujuan mengetahui dan mendata permasalahan pembelajaran yang di kelas penelitian. Selain itu, mengidentifikasi permasalahan siswa seperti hasil belajar yang tidak mencapai KKM IPAS dan siswa kurang aktif dalam kelas. Kegiatan tersebut merupakan permasalahan yang menjadi hambatan dalam proses pembelajaran IPA sehingga mempengaruhi hasil belajar Pembelajaran pra-siklus ini dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa baik dalam pemahaman maupun hasil belajar yang dapat dilihat melalui tes evaluasi. Hasil tes pra-siklus dapat menggambarkan kondisi hasil belajar awal siswa terutama dalam pembelajaran IPAS bab 1 sebelum diberikan tindakan kelas atau sebelum penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Hasil belajar kognitif pada tindakan prasiklus dapat ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Belajar Siswa Pra Siklus Nilai Nilai Tertinggi Nilai terendah Pra Siklus Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa nilai tertinggi pada tes pra-siklus sebesar 87 dari nilai maksimal 100 dan nilai terendah Secara keseluruhan hasil evaluasi pra-siklus memperoleh nilai rata-rata sebesar 65,4. Hal kognitif siswa pada materi IPAS bab 1 masih kurang tinggi. Selain itu, terdapat 11 siswa . %) yang tuntas dan sebanyak 15 siswa . %) yang tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa siswa yang kurang maksimal dalam mengerjakan tes evaluasi. Hal tersebut disebabkan karena masih ada beberapa siswa yang tidak aktif, tidak memperhatikan saat proses pembelajaran berlangsung dan Untuk meningkatkan hasil belajar dan membantu siswa dalam memahami materi IPAS bab 1, diperlukan perbaikan dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Siklus I Pada siklus I terdiri dari 3 tahap dilaksanakan secara bersamaan dengan observasi, dan refleksi. Pelaksanaan siklus I dirancang untuk mengatasi permasalahan pada pembelajaran pra siklus yang dirancang dengan diintegrasikan dengan pembelajaran berdiferensiasi pada materi IPAS bab 1 topik B AuMelihat karena CahayaAy. Berikut adalah tahapan yang dilakukan pada siklus I : Perencanaan Berdasarkan permasalahan yang telah didapatkan, peneliti perlu membuat rencana tindakan dengan menggunakan RataRata Kriteria Tuntas % Tidak tuntas % Peneliti menggunakan kurikulum Merdeka mata Pelajaran IPAS bab 1 topik B Melihat karena Cahaya. Adapun Langkah-langkah rencana tindakan, antara lain : . menyusun perangkat pembelajaran IPAS bab 1 topik B Melihat karena Cahaya yaitu modul ajar berdasarkan refleksi pada tahap pra tindakan yang disesuaikan dengan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar siswa yang telah ditentukan sebelumnya melalui asesmen diagnostik non kognitif, . menyiapkan materi pembelajaran dan buku sumber atau buku ajar, . menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan sesuai gaya belajar yang telah ditetapkan hasilnya, . menyiapkan instrumen pengumpulan data hasil belajar siswa berupa LKPD . membuat tes evaluasi, . menyiapkan kamera untuk pengumpulan data . , . koordinasi dengan guru kelas VA sebagai mitra pelaksanaan penelitian. Tindakan dan Observasi Proses pembelajaran dimulai dengan salam, membaca doAoa, menanyakan kabar, menyanyikan lagu nasional yang berjudul Dari Sabang Sampai Merauke, apersepsi yang membahas tentang permasalahan kehidupan sehari-hari dengan mengaitkan pada materi pembelajaran, menyampaikan bab materi dan tujuan pembelajaran. Selanjutnya peneliti melanjutkan pada kegiatan inti dengan menggunakan model pembelajaran PBL (Problem Based Learnin. berdasarkan sintaknya dan masing-masing gaya belajar di mana pembelajaran . Orientasi siswa pada masalah, peneliti meminta siswa untuk mengamati mata teman sebangkunya. Setelah itu, meminta siswa untuk melihat di sekelilingnya dan melihat benda dalam kondisi terang dan gelap. Kegiatan tersebut dilakukan oleh seluruh siswa di kelas dengan 3 gaya belajar yang telah dikelompokkan sebelumnya yaitu gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Mengorganisasikan siswa untuk Melalui LKPD yang dibagikan oleh peneliti. Peneliti meminta siswa untuk menyelesaikan masalah melalui diskusi kelompok berdasarkan gaya Setiap kelompok difasilitasi media informasi yang berbeda sesuai dengan gaya belajar (Diferensiasi Konte. Siswa dengan gaya belajar visual difasilitasi dengan gambar mata yang terdapat penjelasannya. Pada gaya belajar auditori difasilitasi dengan video animasi tentang mata dan bagiannya yang disertai penjelasan dalam bentuk suara. Sedangkan gaya belajar kinestetik difasilitasi melalui kegiatan bermain tekateki berupa puzzle untuk mencari Membimbing individu maupun kelompok. Peneliti bertindak sebagai fasilitator siswa dengan gaya belajar yang berbeda. Dalam hal ini, peneliti memantau proses konstruksi pengetahuan siswa melalui gaya belajar masing-masing (Diferensiasi Prose. Berikut adalah kegiatan siswa dalam pelaksanaan diferensiasi proses secara berkelompok pembelajaran siklus I : Gambar 3. Gaya belajar Auditori Gambar 4. Gaya belajar Kinestetik . Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Siswa menyajikan hasil permasalahan yang diminta oleh peneliti yang telah didesain. Pada kelompok visual yaitu menyajikan pemecahan masalah atau hasil kerja berupa gambar atau poster yang diberikan sedikit keterangan. Pada kelompok auditori yaitu menyajikan hasil kerja berupa mind mapping atau bagan. Sedangkan pada kelompok Kinestetik dapat menyajikan sebuah alat peraga dari Produk yang dihasilkan siswa berkaitan dengan bagian-bagian mata yang kemudian akan dipresentasikan oleh setiap kelompok dengan dikaitkan dengan permasalahan yang telah diberikan oleh peneliti di awal berdiskusi (Diferensiasi Produ. Berikut adalah hasil diferensiasi produk yang telah dibuat oleh siswa : Gambar 5. Gaya belajar Visual Gambar 2. Gaya belajar Visual Gambar 6. Gaya belajar Auditori Gambar 7. Gaya belajar Kinestetik Menganalisis mengevaluasi proses pemecahan Peneliti membimbing siswa untuk mempresentasikan hasil karya. Selanjutnya kegiatan ditutup dengan siswa mengerjakan soal evaluasi. Pada kegiatan observasi dilakukan selama proses pembelajaran. Kegiatan observasi yang dilakukan yaitu dengan mengamati aktivitas siswa. Refleksi Berdasarkan hasil observasi peneliti mengetahui kekurangan yang ada pada siklus I. Hal tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk melaksanakan penelitian selanjutnya dan di siklus Setelah dilakukan pembelajaran berdiferensiasi pada siklus I, data hasil belajar siswa disajikan pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Belajar Siswa Siklus I Nilai Nilai Tertinggi Nilai terendah Siklus I Dari tabel 2. dapat diketahui nilai rata-rata kelas mencapai 75,8 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 50. Adapun siswa yang tuntas yaitu sebanyak 21 siswa . %) dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 5 siswa . %). Dikarenakan dilaksanakan pada siklus I belum bisa dikatakan berhasil dengan nilai ketuntasan belajar siswa masih dibawah target yaitu 81 %, maka dilaksanakan pembelajaran pada siklus II. Siklus II Pada dasarnya pelaksanaan siklus II sama dengan siklus I yaitu dengan perencanaan ulang dan perbaikan dari siklus I. Waktu pembelajaran pada siklus II sama seperti pembelajaran pada siklus I dengan materi IPAS bab 1 topik C AuBunyi dan SifatnyaAy. Berikut adalah langkahlangkah pada pelaksanaan siklus II antara Perencanaan Berdasarkan permasalahan yang telah didapatkan, peneliti perlu membuat RataRata Kriteria Tuntas % Tidak tuntas % rencana tindakan dengan menggunakan Peneliti menggunakan kurikulum Merdeka mata Pelajaran IPAS bab 1 topik Adapun Langkah-langkah dalam menyusun rencana tindakan, antara lain : menyusun perangkat pembelajaran IPAS bab 1 topik C yaitu modul ajar berdasarkan refleksi pada tahap siklus II yang disesuaikan dengan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar siswa yang telah ditentukan sebelumnya melalui asesmen diagnostik non kognitif, . menyiapkan materi pembelajaran dan buku sumber atau buku ajar, . menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan sesuai gaya belajar yang telah ditetapkan hasilnya, . menyiapkan instrumen pengumpulan data hasil belajar siswa berupa LKPD . membuat tes evaluasi, . , . koordinasi dengan guru kelas VA sebagai mitra pelaksanaan Yang membedakan dengan siklus I yaitu pada pembelajaran bagian pemberian permasalah untuk diselesaikan secara berkelompok yaitu siswa harus menyelesaikan game berupa puzzle yang berisi gambar. Selain itu, pada kegiatan evaluasi berbeda dengan siklus I dimana pada siklus I siswa diberikan soal berupa pilihan ganda. Sedangkan evaluasi pada siklus II ini siswa dapat memilih sebanyak 2 soal yaitu 1 pilihan ganda dan 1 uraian dengan penyajian yang berbeda. Tindakan dan Observasi Proses pembelajaran dimulai dengan salam, membaca doAoa, menanyakan kabar, menyanyikan lagu nasional yang berjudul Berkibarlah Benderaku, apersepsi yang kehidupan sehari-hari dengan mengaitkan pada materi pembelajaran, menyampaikan bab materi dan tujuan pembelajaran. Selanjutnya peneliti melanjutkan pada kegiatan inti dengan menggunakan model pembelajaran PBL (Problem Based Learnin. berdasarkan sintaknya dan masing-masing gaya belajar di mana . Orientasi siswa pada masalah, menyelesaikan permainan puzzle secara berkelompok yang berkaitan dengan sekelompok anak bermain alat musik. Setelah selesai, guru menyampaikan permasalahan dalam sebuah cerita yang berkaitan dengan gambar puzzle yang telah diselesaikan siswa. Kegiatan tersebut dilakukan oleh seluruh siswa di kelas dengan 3 gaya belajar yang telah dikelompokkan sebelumnya yaitu gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Mengorganisasikan siswa untuk Melalui LKPD yang dibagikan oleh peneliti. Peneliti meminta siswa untuk menyelesaikan masalah melalui diskusi kelompok berdasarkan gaya belajar. Setiap kelompok difasilitasi media informasi yang berbeda sesuai dengan gaya belajar yang berkaitan dengan sifat bunyi dan contoh peristiwa dalam kehidupan sehari-hari (Diferensiasi Konte. Siswa dengan gaya belajar visual difasilitasi dengan bacaan teks yang telah diberikan. Pada gaya belajar auditori difasilitasi dengan video animasi yang disertai penjelasan dalam bentuk suara. Sedangkan gaya belajar kinestetik difasilitasi melalui disampaikan oleh guru dan dipersilakan untuk menirukannya (Prakti. dengan baik dan benar. Dalam pembelajaran siklus ini, praktikum untuk membuktikan sifat-sifat Membimbing individu maupun kelompok. Peneliti bertindak sebagai fasilitator siswa dengan gaya belajar yang berbeda. Dalam hal ini, peneliti memantau proses konstruksi pengetahuan siswa melalui gaya belajar masing-masing (Diferensiasi Prose. Berikut adalah kegiatan siswa dalam pelaksanaan diferensiasi proses secara berkelompok pembelajaran siklus II : Gambar 8. Gaya belajar Visual Gambar 9. Gaya belajar Auditori Gambar 10. Gaya belajar Kinestetik . Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Siswa menyajikan hasil permasalahan yang diminta oleh peneliti yang telah didesain. Pada kelompok visual yaitu menyajikan hasil laporan poster yang diberikan sedikit keterangan. Pada kelompok auditori yaitu menyajikan hasil laporan berupa mind mapping. Sedangkan Kinestetik menyajikan sebuah alat peraga dan dipraktikkan di depan kelas dan membuat hasil kesimpulan dari hasil praktikum dengan sederhana. Produk yang dihasilkan siswa akan dipresentasikan oleh setiap kelompok dengan dikaitkan dengan permasalahan yang telah diberikan oleh peneliti di awal berdiskusi (Diferensiasi Produ. Berikut adalah hasil diferensiasi produk yang telah dibuat oleh siswa : Gambar 13. Gaya belajar Kinestetik . Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Peneliti Selanjutnya kegiatan ditutup dengan siswa mengerjakan soal evaluasi. Pada tahap observasi siklus II sama dengan tahap observasi yang ada pada di siklus I. Pada kegiatan observasi dilakukan selama proses pembelajaran. Kegiatan observasi yang dilakukan yaitu dengan mengamati aktivitas siswa. Refleksi Berdasarkan hasil observasi peneliti melaksanakan refleksi untuk mengetahui kekurangan yang ada pada siklus II. Hal tersebut dapat digunakan sebagai acuan selanjutnya dan di siklus selanjutnya. Gambar 11. Gaya belajar Visual Berikut adalah hasil belajar IPAS pembelajaran berdiferensiasi siklus II disajikan pada Tabel 3. Gambar 12. Gaya belajar Auditori Tabel 3. Hasil Belajar Siswa Siklus II Nilai Nilai Tertinggi Nilai terendah Siklus II Dari tabel 3. dapat diketahui nilai rata-rata kelas mencapai 84,6 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60. Pada pembelajaran siklus II, hasil belajar yang termasuk kategori tuntas yaitu sebanyak 24 siswa sedangkan yang tidak tuntas yaitu sebanyak 1 siswa. Siswa yang tidak tuntas ini memiliki kemampuan RataRata Kriteria Tuntas % Tidak tuntas % membaca dan menulis yang kurang sehingga dalam menyelesaikan soal Dikarenakan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II telah melebihi target yaitu 96% maka pembelajaran pada siklus II ini dapat dikatakan telah berhasil. Pembelajaran berlangsung mulai dari Pra Siklus sampai ke Siklus II dengan melihat hasil yang diperoleh pada setiap siklus dapat diuraikan secara detail seperti berikut: Hasil Pembelajaran Awal Dari data pertama yaitu pra siklus terlihat bahwa prestasi belajar siswa sangat rendah yaitu hanya 42% yang tuntas, sedangkan 58% siswa tidak tuntas karena tidak mencapai KKTP. Dengan menerapkan pembelajaran belajar, peneliti menyajikan diferensiasi dalam bentuk konten, proses dan produk dengan pembelajaran yang di kembangkan secara kreatif dan inovatif. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti berdiferensiasi yang dikhususkan pada mata Pelajaran IPAS bab 1 yang diterapkan pada siswa dengan cara sehari-hari. Serta membangun atau mendiskusikan ide. dan mengembangkan produk. Dengan demikian,siswa Hasil pembelajaran siklus I Pada siklus I ini, terdapat perubahan dari siswa dilihat dari perolehan nilai hasil belajarnya. Nilai peningkatan yang dapat dilihat dari rata-rata nilai kelas yaitu 74,6. Selain itu mengalami peningkatan yaitu 81% atau sebanyak 21 siswa. Untuk yang tidak tuntas yaitu 19 persen atau sebanyak 5 Dengan meningkatkan keaktifan siswa dalam bertanya, merangkai pemahamannya sendiri, kegiatan dalam menyelesaikan suatu masalah sehingga siswa andil dalam setiap pembelajaran di kelas. Dilihat dari potensi ketuntasan hasil belajar siswa yang belum mencapai target maka masih dapat dioptimalkan. Sehingga pembelajaran berdiferensiasi siklus II. Pembelajaran dengan respon siswa yang mengikuti dengan antusias dan menyenangkan. Dalam hal ini, peneliti melakukan perbaikan dan pengembangan dengan lebih menekankan pada metode yang akan digunakan. Hasil pembelajaran siklus II Penerapan berdiferensiasi yang dilakukan oleh peneliti ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan merangsang keaktifan siswa V. Hal tersebut dapat dilihat dari keaktifan dan rasa antusias siswa saat melakukan pembelajaran secara berkelompok yang dilakukan dengan diferensiasi berdasarkan gaya Sehingga siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pada siklus II. Pada sebelumnya di siklus I nilai rata-rata 74,6 meningkat menjadi 84,6. Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus II ini, siswa mengkonstruksi pengetahuannya dalam menyajikan hasil kerjanya yang berbeda sesuai dengan gaya belajar masingmasing. Hal ini menunjukkan bahwa siswa melakukan pembelajaran sendiri dengan mencoba untuk melakukan suatu kegiatan percobaan sebagai stimulus menggunakan media yang telah difasilitasi oleh peneliti sehingga proses belajar siswa yang terjadi sangat Dalam penelitian dan pembahasan yang dilakukan, menunjukkan bahwa dapat meningkatkan hasil belajar IPAS siswa, terutama pada materi IPAS bab 1 Melihat karena Cahaya. Mendengar karena Bunyi. Hal ini terbukti dari adanya peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa dari pra-siklus hingga siklus II. Pada awalnya, persentase ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 42%. Namun, setelah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada siklus I, hingga ada perbaikan yang dapat menjadikan persentase tersebut meningkat menjadi Pada siklus II, terjadi peningkatan signifikan lagi sehingga persentase ketuntasan belajar siswa mencapai Dalam hal ini dapat disimpulkan pembelajaran berdiferensiasi membawa pengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas VA SD Negeri Bendungan. Dari hasil belajar siswa kelas VA SD Negeri Bendungan yang telah dianalisis pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar pembelajaran siklus II. Hal tersebut serupa dengan penelitian Anik Nawati, dkk . yang berjudul AuPengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Model Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar IPA pada Siswa Sekolah DasarAy. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa dengan menggunakan strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam konten, proses, dan produk yang berbasis model problem based learning terbukti dapat meningkatkan keaktifan kreativitas dan meningkatkan hasil belajar siswa. Penerapan berdiferensiasi mata Pelajaran IPAS pada siswa kelas VA SD Negeri Bendungan terlihat pada pembelajaran yang mengambil diferensiasi berupa Diferensiasi diterapkan yaitu diferensiasi konten. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan dominan pada kegiatan berkelompok. Dengan menerapkan pembelajaran diferensiasi tersebut mempengaruhi aktivitas siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan kreatif dalam menyelesaikan tugas sesuai dengan gaya belajar masingmasing. Aktivitas belajar siswa dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa karena dengan terlibat aktifnya pembelajaran, siswa menjadi lebih memahami materi dan mencapai hasil belajar yang maksimal. Sehingga siswa lebih tertarik untuk belajar dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi pembelajaran yang berbeda-beda dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPA, terutama pada materi IPAS bab 1. Di samping itu, melalui metode pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar siswa, keaktifan dan pemahaman siswa lebih meningkat dan siswa dapat belajar dengan materi yang sama meskipun isi materi yang didapatkan berasal dari sumber yang berbeda-beda. Dalam pembelajaran yang telah dilakukan siswa yang lebih unggul dari siswa lain dapat membimbing dan mengarahkan teman-temannya untuk saling membantu melalui kegiatan berkelompok. Dalam hal ini, guru harus lebih ekstra dalam pengkondisian kelas dan harus optimis terhadap semua siswa untuk mencapai standar tujuan yang dicapai. Sehingga semua siswa mendapatkan pembelajaran dengan baik. DAFTAR PUSTAKA