INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 SOFYAN SAURI Sejarah Perkembangan Bahasa Arab dan Lembaga Islam di Indonesia ABSTRAKSI: Artikel ini Ae menggunakan pendekatan kualitatif, studi literatur, dan analisis deskriptif Ae menunjukkan bahwa bahasa Arab adalah salah satu bahasa tertua yang masih ada sampai sekarang. Ini terjadi karena negara-negara yang berbahasa Arab secara geografis terletak secara strategis di antara tiga benua: Asia. Eropa, dan Afrika. Selain itu, negara-negara tersebut memiliki posisi penting dalam ekonomi dunia, karena mereka memasok sebagian besar minyak dunia. Faktor terpenting yang membuat bahasa Arab tetap eksis dan dipelajari oleh sebagian besar orang Indonesia adalah fungsinya sebagai bahasa untuk layanan keagamaan (Isla. Pendakwah dan pedagang dari Gujarat. India, membawa bahasa Arab ke kepulauan Indonesia Ae beberapa sejarawan mengatakan bahwa mereka langsung dari Arab dan Mesir. Kemudian, tulisan Arab menjadi lingua franca di kepulauan Indonesia/Melayu. Sampai saat ini, bahasa Arab masih sering dipelajari oleh Muslim Indonesia, baik melalui pendidikan formal maupun non-formal. Dalam pendidikan formal, bahasa Arab dipelajari di Indonesia mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sementara di pendidikan non-formal, bahasa Arab dipelajari di lembaga-lembaga, seperti Pesantren dan Madrasah. Khusus untuk Pesantren dan Madrasah di Indonesia, ia memiliki sejarah yang sangat panjang, bersama dengan perjuangan bangsa Indonesia. Oleh karena itu. Pesantren dan Madrasah adalah institusi yang menanamkan nilai agama Islam dan menanggapi tantangan masyarakat Indonesia dengan segala dimensinya. Pesantren dan Masdrasah juga mengalami dinamika yang berubah, seiring dengan muncul dan berkembangnya ide-ide pembaharuan Islam di Indonesia. KATA KUNCI: Bahasa Arab. Penyebaran Islam. Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. ABSTRACT: AuHistory of the Development of Arabic Language and Islamic Institutions in IndonesiaAy. This article Ae using the qualitative approach, literature study, and descriptive analysis Ae showed that Arabic is one of the oldest languages that still exist until now. This happens because geographically Arabic-speaking countries are located strategically among three continents: Asia. Europe, and Africa. Besides that, the Arabs countries have an important position in the world economy, because they supply most of the world oil. The most important factor that keeps Arabic exist and makes it be learned by most of Indonesian people is its function as a language for religious services (Isla. Preachers and merchants from Gujarat. India, brought Arabic to Indonesia archipelago Ae some historians said that they were directly from Arab and Egypt. Then. Arabic writing became lingua franca in the Indonesian/Malay archipelago. Until recently. Arabic has frequently been learned by Indonesian Moslem, either through formal or non-formal education. In the formal education. Arabic is learned in Indonesia started from kindergarten to college. While in nonformal education. Arabic is learned in the institutions, such as Islamic Boarding School (Persantre. and Islamic Modern School (Madrasa. Specifically for Islamic Boarding School and Islamic Modern School in Indonesia, it has very long history, along with the struggle of Indonesia nation. Therefore. Islamic Boarding Schools and Islamic Modern Schools are institutions that instill the values of Islam and respond to the challenges of Indonesian society with all its dimensions. Islamic Boarding School and Islamic School also experience the changing dynamic together with the emergence and development of Islamic ideas of reform in Indonesia. KEY WORD: Arabic Language. Spreading of Islam. Islamic Education Institutions in Indonesia. About the Author: Prof. Dr. Sofyan Sauri adalah Dosen di Departemen Pendidikan Bahasa Arab FPBS UPI (Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastera. Universitas Pendidikan Indonesi. Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154. Jawa Barat. Indonesia. Untuk kepentingan akademik. Penulis bisa dihubungi melalui alamat emel: sofyansauri@upi. Suggested Citation: Sauri. Sofyan. AuSejarah Perkembangan Bahasa Arab dan Lembaga Islam di IndonesiaAy in INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February, pp. Bandung. West Java. Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, with ISSN 2443-1776 . and ISSN 2657-0491 . Article Timeline: Accepted (December 27, 2. Revised (January 25, 2. and Published (February 28, 2. A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita SOFYAN SAURI. Sejarah Perkembangan Bahasa Arab PENDAHULUAN Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia, yang dituturkan oleh lebih dari 200,000,000 umat Bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang-lebih 20 negara di Dunia. Dan karena Bahasa Arab juga merupakan bahasa kitab suci Al-QurAoan dan tuntunan agama bagi umat Islam seDunia, maka tentu saja ianya merupakan bahasa yang paling besar signifikansinya bagi ratusan juta Muslim di Dunia, baik yang berkebangsaan Arab maupun bukan (Ghazzawi, 1992:1. Sauri, 2007. Qomaruddin, 2. Di Afrika, misalnya. Bahasa Arab ini dituturkan dan menjadi bahasa pertama di negara-negara semacam Mauritania. Maroko. Aljazair. Libya. Mesir, dan Sudan. Di semenanjung Arabia, bahasa ini merupakan bahasa resmi di Oman. Yaman. Bahrain. Kuwait. Saudi Arabia. Qatar. Emirat Arab. dan jauh ke utara digunakan juga di Jordan. Irak. Syria. Libanon, dan Palestina. Menurut Hilary Wise . , dan sarjana lainnya. Bahasa Arab juga merupakan bahasa bagi orangorang di India Utara, sebagian orang Turki. Iran. Portugal, dan Spanyol (Wise, 1987:1. Khoirurrijal, 2015. dan Pane, 2. Bahasa Arab berasal dari rumpun Bahasa-bahasa Semit (Semitic Language/ Samia. dan mempunyai anggota penutur yang terbanyak. Bahasa-bahasa Semit yang lain termasuk Hebrew (Bahasa Yahud. , yakni bahasa yang dituturkan kini di Israel. Amrahic yang dituturkan di Etiopia. Akkadian yang dituturkan oleh masyarakat Assyria dan Babilonia, tetapi sekarang sudah punah. dan AuAramikiAy (Aramai. yang dituturkan oleh penduduk tanah suci di masa Nabi Isa AS (Alaihi Sala. , yang kini masih dipakai oleh penduduk beberapa kampung di Syria. Bahasa Arab kini digunakan oleh kebanyakan penduduk di wilayah-wilayah yang tersebut terakhir, di mana bahasa-bahasa Semit lainnya dituturkan sebelumnya (Ghazzawi, 1992. Sauri, 2003a. MutaAoali. Khoirurrijal, 2015. dan Rezi & Amrina, 2. Mengenai perkembangan Bahasa Arab di Indonesia, fakta dan data menunjukkan bahwa Bahasa Arab sudah mulai dikenal sejak masuknya agama Islam ke wilayah Tanah Air Nusantara. Bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Bahasa Arab bukanlah Aubahasa asingAy, karena muatannya menyatu dengan kebutuhan umat Islam. Sayangnya, sikap dan pandangan sebagian besar kaum Muslim Indonesia masih beranggapan bahwa Bahasa Arab hanyalah bahasa agama, sehingga perkembangan bahasa ini terbatas di lingkungan kaum Muslimin yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan agama (Sauri, 2003b. Wahab, 2014. dan Amin & Ananda, 2. Hanya lingkungan kecil yang menyadari betapa Bahasa Arab Ae selain sebagai bahasa agama Ae merupakan bahasa ilmu pengetahuan dan sains yang berhasil melahirkan karya-karya besar ulama di berbagai bidang ilmu pengetahuan, filsafat, sejarah, dan sastra. Karena itu, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa Bahasa Arab merupakan peletak dasar bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan modern, yang berkembang cepat dewasa ini (Izzan, 2004:vii. Wahab, 2014. dan Anshori, 2. Artikel ini Ae dengan menggunakan pendekatan kualitatif, studi literatur, dan analisis yang deskriptif (Moeleong, 2002. Subandi, 2011. dan Muslim & Perdhana, 2. Ae mau menjelaskan tentang Sejarah Perkembangan Bahasa Arab di Indonesia. A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 dengan menumpukan kajiannya pada: . Sejarah dan Nilai Fungsional Bahasa Arab di Indonesia. Pengajaran Bahasa Arab di Indonesia. Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam dan Bahasa Arab di Indonesia. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Sejarah dan Nilai Fungsional Bahasa Arab di Indonesia. Bahasa Arab masuk dan berkembang di wilayah Indonesia bersamaan dengan penyebaran agama Islam ke wilayah ini. Melalui para daAoi dari Gujarat . ebagian menyatakan langsung dari Arab dan Mesi. pada abad ke-13, masyarakat Nusantara mengenal Bahasa Arab. Dalam perkembangan berikutnya, bahasa ini sempat menjadi lingua franca dalam pergaulan antar pulau dan bangsa di Nusantara. Selain itu pula, tulisan Arab digunakan sebagai pengganti tulisan Pallawa dari India, yang telah berkembang sebelumnya (Suwirta, 2002. Arsyad, 2004. Amin & Ananda, 2018. Fadhly, 2018. Syam, 2. Kedatangan bangsa Barat ke wilayah Nusantara pada abad ke-16 mulai menggeser dan mengurangi peranan Bahasa Arab dalam masyarakat. Bangsa Portugis, misalnya, yang menguasai Malaka pada tahun 1511 M (Maseh. , kemudian meluaskan pengaruhnya ke daerah Maluku di Indoensia Timur, telah banyak mengurangi pengaruh dan peranan Bahasa Arab dalam berbagai aspek. Pengurangan peranan Bahasa Arab dalam berbagai aspek kehidupan dilakukan secara sistematis oleh pemerintah kolonial Belanda, yang menguasai Indonesia selama 350 tahun. Kondisi seperti ini terus dialami sampai pada masa pendudukan Jepang . , walau tidak sekuat penetrasi pemerintah kolonial Belanda (Suwirta, 1989 dan 2002. Ambary. Azra, 1999. MasAoud, 2014. Miftakhuddin, 2. Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 memunculkan harapan baru bagi berkembangnya Bahasa Arab dalam kehidupan nasional di Indonesia. Pemerintah Indonesia mengapresiasi keinginan sebagian masyarakat yang mayoritas Muslim untuk menjadikan Bahasa Arab sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah, walaupun terbatas hanya pada sekolah-sekolah di bawah lingkungan Departemen Agama (Saleh. Anshori, 2019. dan Zainuri, 2. Namun demikian. Bahasa Arab sebenarnya banyak dipelajari di sekolahsekolah non-pemerintah, seperti madrasah, pesantren, atau kursus-kursus yang sifatnya non-formal. Semakin hari Bahasa Arab semakin diminati untuk dipelajari, baik untuk tujuan keagamaan, pendidikan, ekonomi, politik, dan budaya maupun untuk tujuan-tujuan yang lainnya (Azra, 1999. Abdullah, 2018. dan Jaya, 2. Tingginya minat masyarakat Muslim Indonesia untuk mempelajari Bahasa Arab karena lima alasan berikut ini: Pertama. Keagamaan. Fungsi utama Bahasa Arab bagi masyarakat Muslim Indonesia adalah sebagai bahasa agama. Sumber utama ajaran agama Islam adalah Al-QurAoan dan Al-Hadits. Kedua kitab ini menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Seseorang yang mau memahami dengan baik dan sempurna kedua kitab ini harus mempelajari Bahasa Arab. Bahasa Arab juga digunakan pada beberapa ritual keagamaan, seperti adzan, shalat, khutbah, doAoa, dan ritual-ritual keagamaan lainnya. Pada ritual-ritual tersebut bahasa yang digunakan mestilah Bahasa Arab (Andriani, 2015. Rozak. A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita SOFYAN SAURI. Sejarah Perkembangan Bahasa Arab dan Rozak & JaAofar, 2. Kedua. Pendidikan. Bahasa Arab mempunyai peranan penting dalam pendidikan, terutama pendidikan Islam. Berbagai referensi yang berkaitan dengan pendidikan Islam, sebagian besar menggunakan Bahasa Arab. Orientasi dan referensi dalam kajian pendidikan Islam, sebagian besar, juga mengacu kepada tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh ulamaulama Timur Tengah (Akmansyah, 2015. Andriani, 2015. dan Mudlofir, 2. Ketiga. Ekonomi. Dewasa ini, posisi negara-negara Arab mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat strategis dalam perdagangan internasional. Posisi tersebut muncul dikarenakan negara-negara Arab termasuk kategori kaya secara ekonomi. Dewasa ini, muncul berbagai lembaga yang mengajarkan Bahasa Arab untuk tujuan khusus, seperti untuk tujuan perdagangan, perminyakan, rumah tangga, dan sebagainya (Ruslin, 2013. Abdullah, 2018. dan Budiyono, 2. Keempat. Budaya. Kebudayaan Indonesia, sebagian besar, merupakan sumbangan dari kebudayaan Islam. Akar kebudayaan Islam adalah budaya Arab yang muncul dari komunitas Arab pada zaman Nabi Muhammad SAW (Salallahi AoAlaihi Wassala. Oleh karena itu, kebudayaan Indonesia sangat erat kaitannya dengan kebudayaan ArabIslam, walaupun tidak persis sama. Kajian terhadap kebudayaan Indonesia akan sangat lengkap, jika di dalamnya dikaji pula masalah kebudayaan Islam, baik dalam konteks lokal Indonesia maupun global (Sunarti, 2013. MasAoud, 2014. Ummatin, 2. Kelima. Politik. Wilayah Timur Tengah mempunyai posisi strategis pada berbagai aspek, termasuk aspek politik. Berbagai peristiwa politik sekecil apa pun di wilayah tersebut akan berpengaruh dan mendapat perhatian yang luas dari masyarakat Hal ini dikarenakan wilayah tersebut merupakan jantung dunia. sana tempat munculnya tiga agama besar, tempat bertemunya tiga benua, dan posisi ekonominya yang strategis. Hal-hal ini telah menempatkan wilayah tersebut mempunyai posisi politik yang penting (Wise, 1987. Arsyad, 2004. Falahi, 2012. Ruslin, 2013. dan Sahide, 2. Pengajaran Bahasa Arab di Indonesia. Bahasa Arab sudah dikenal luas di seluruh lapisan masyarakat, sejak masih kecil sampai orang dewasa. Hal ini dikarenakan Bahasa Arab telah dipelajari oleh sebagian masyarakat Indonesia, baik di lembaga-lembaga formal seperti sekolah dan perguruan tinggi maupun di lembagalembaga non-formal seperti pesantren, tempat-tempat kursus, majelis taklim, dan lembaga-lembaga lainnya (Wahab, 2014. Farikah. Baihaqi & Sari eds. , 2017. Hasnida, 2. Pada lembaga-lembaga formal. Bahasa Arab diajarkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, sejak TK (Taman Kanak-kana. sampai PT (Perguruan Tingg. Pengajaran Bahasa Arab, secara langsung, disampaikan melalui mata pelajaran Bahasa Arab. sedangkan secara tidak langsung dipelajari, baik melalui pendidikan agama Islam atau mata pelajaran-pelajaran lainnya . f Taufik. Bakri, 2017. dan Chemae, 2. Pada sekolah-sekolah yang berada di bawah Departemen Agama. Bahasa Arab merupakan mata pelajaran wajib yang diajarkan sejak Taman Kanakkanak sampai dengan Perguruan Tinggi. Sedangkan sekolah-sekolah yang berada di bawah Departemen Pendidikan dan A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 Kebudayaan tidak semuanya mewajibkan mata pelajaran Bahasa Arab untuk diajarkan di sekolah-sekolah yang berada di bawahnya. Bahasa Arab hanya diberikan pada kelas bahasa dan kelas-kelas yang memilih Bahasa Arab sebagai pilihannya. Selain itu pula. Bahasa Arab biasanya diberikan pada sekolah-sekolah umum yang berada di bawah yayasan ke-Islam-an (Yusuf, 2016. Tajuddin, 2018. dan Wekke & Abdullah, 2018/2. Selain pada tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Bahasa Arab juga diajarkan di Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi yang mengajarkan Bahasa Arab, pada umumnya, adalah Perguruan Tinggi yang berada di bawah yayasan keIslam-an. Selain itu pula. Bahasa Arab diajarkan di beberapa Perguruan Tinggi di bawah Depdikbud RI (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesi. , yang membuka Program Studi atau Jurusan Bahasa Arab. Di antaranya adalah UI (Universitas Indonesi. di Jakarta. UGM (Universitas Gadjah Mad. di Yogyakarta. UPI (Universitas Pendidikan Indonesi. di Bandung. UNPAD (Universitas Padjadjara. Bandung. UNJ (Universitas Negeri Jakart. UM (Universitas Negeri Malan. di Jawa Timur. UNESA (Universitas Negeri Surabay. di Jawa Timur. UNM (Universitas Negeri Makassa. di Sulawesi Selatan, dan USU (Universitas Sumatera Utar. di Medan (Wahida, 2017. Ernawati, 2018. dan Seff, 2. Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam dan Bahasa Arab di Indonesia. Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, antara lain, ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang amat sederhana sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern dan Lembaga pendidikan Islam telah memainkan fungsi dan perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan Perkembangan lembagalembaga pendidikan tersebut telah menarik perhatian para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk melakukan studi ilmiah secara komprehensif (Akhiruddin, 2015. Khairuddin, 2019. dan Mukhlis, 2. Kini sudah banyak hasil karya penelitian para ahli yang menginformasikan tentang pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut. Tujuannya selain untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan yang bernuansa keIslam-an, juga sebagai bahan rujukan dan perbandingan bagi para pengelola pendidikan Islam pada masa-masa berikutnya . f Ali, 1995. Mustafa & Aly. Azra, 1999. Maksum, 1999. Saleh. Suwendi, 2004. dan Mukhlis, 2. Hal ini sejalan dengan prinsip yang umumnya dianut oleh masyarakat Islam Indonesia, yaitu mempertahankan tradisi masa lampau yang masih baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik lagi. Dengan cara demikian, upaya pengembangan lembaga pendidikan Islam tersebut tidak akan tercerabut dari akar kulturnya secara radikal (Madjid, 1997. Akhiruddin, 2015. dan Mukhlis, 2. Adapun tujuan utama dari didirikannya lembaga-lembaga pendidikan Islam ini, salah satunya, adalah untuk mengajarkan Bahasa Arab sebagai bahasa agama Islam. Oleh karena itu, maka hubungan antara lembaga-lembaga pendidikan Islam ini erat hubungannya dengan Bahasa Arab. Oleh karena itu pula, mengkaji mengenai sejarah perkembangan A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita SOFYAN SAURI. Sejarah Perkembangan Bahasa Arab berdirinya lembaga pendidikan Islam dengan Bahasa Arab menjadi penting. Namun, lembaga pendidikan yang akan menjadi bahasan dalam kajian ini adalah Pesantren dan Madrasah, yang merupakan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang mewajibkan penggunaan Bahasa Arab dalam sitem pembelajarannya, baik dari segi buku sumbernya maupun dari segi penuturannya (Akhiruddin, 2015. Hawi, dan Hidayat. Rizal & Fahrudin, 2. Mengenai Pesantren. Menurut asal katanya. AupesantrenAy berasal dari kata santri yang mendapat imbuhan awalan pe dan akhiran an yang menunjukkan Dengan demikian. Pesantren artinya tempat para Santri (Rahardjo ed. Dhofier, 1986. dan Madjid, 1. Sedangkan menurut Sudjoko Prasodjo et . menjelaskan tentang pesantren itu adalah sebagai berikut: Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam Bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok . dalam pesantren tersebut (Prasodjo et al. , 2001:. Dengan demikian, dalam lembaga pendidikan Islam, yang disebut AupesantrenAy tersebut, sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur: . Kyai, santri dan masjid sebagai tempat penyelenggaraan . Pondok atau asrama sebagai tempat tinggal para santri. Kitab-kitab klasik sebagai sumber atau bahan pelajaran (Dhofier, 1986. Prasodjo et al. , 2001. dan SyafeAoi, 2. Kehadiran pesantren tidak dapat dipisahkan dari tuntutan umat Islam di Indonesia. Karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya, sehingga keberadaannya di tengah-tengah masyarakat tidak menjadi terasing. Dalam waktu yang sama, segala aktivitasnya pun mendapat dukungan dan apresiasi penuh dari masyarakat sekitarnya. Semuanya itu memberi penilaian tersendiri bahwa sistem pendidikan pesantren adalah merupakan sesuatu yang bersifat AuasliAy atau indigenous Indonesia, sehingga dengan sendirinya bernilai positif dan harus dikembangkan (Madjid, 1997:103. Basri, 2017. Ferdinan, 2. Menurut Suwendi . , dan sarjana lainnya, dari perspektif kependidikan, pesantren merupakan satu-satunya lembaga kependidikan yang tahan terhadap berbagai gelombang modernisasi. Dengan kondisi demikian itu pula, kata Azyumardi Azra . dan sarjana lainnya, yang menyebabkan pesantren tetap survive sampai hari ini (Azra, 1999:95. Suwendi, 2004:157. Dahlan. Ferdinan, 2018. dan Mukhlis, 2. Sejak dilancarkannya perubahan atau modernisasi pendidikan Islam di berbagai bidang di Dunia Islam, tidak banyak lembaga-lembaga pendidikan tradisional Islam, seperti pesantren, yang mampu Kebanyakannya lenyap setelah tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan umum atau sekuler. Nilai-nilai progresif dan inovatif diadopsi sebagai suatu strategi untuk mengejar ketertinggalan dari model pendidikan lain. Dengan demikian, pesantren mampu bersaing dan sekaligus bersanding dengan sistem pendidikan modern (Sauri, 2005. Basyit, 2017. Ferdinan, 2. Di sisi lain, ciri-ciri pesantren berikut unsur-unsur kelembagaannya tidak bisa dipisahkan dari sistem kultural dan A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 tidak dapat pula dilekatkan pada semua pesantren secara uniformitas, karena setiap pesantren memiliki keunikannya masingmasing, tetapi pesantren secara umum memiliki karakteristik yang hampir sama. Di antara karakteristik pesantren itu, dari segi jenjang pendidikan, dalam pesantren tidak dibatasi seperti dalam lembagalembaga pendidikan yang memakai sistem Umumnya, kenaikan tingkat seorang santri ditandai dengan tamat dan bergantinya kitab yang dipelajari. Jadi, jenjang pendidikan tidak ditandai dengan naiknya kelas seperti dalam pendidikan formal, tetapi pada penguasaan kitab-kitab yang telah ditetapkan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi (Dhofier. Madjid, 1997. Anwar, 2016. Basri, dan Mukhlis, 2. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran Sebagai lembaga pendidikan, pesantren menyelenggarakan pendidikan formal . adrasah, sekolah umum, perguruan tingg. dan non-formal. Sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat Muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menerima tamu yang datang dari masyarakat umum dengan motif yang berbeda-beda. Sebagai lembaga penyiaran agama Islam, masjid pesantren juga berfungsi sebagai masjid umum, yakni sebagai tempat belajar agama dan ibadah bagi para jamaah (SyafeAoi, 2017. Furqan, and Yudiawan, 2. Di samping fungsi di atas, dalam perspektif sejarahnya, pesantren juga mempunyai peranan yang sangat besar dalam merespons ekspansi politik imperialis Belanda dalam bentuk menolak segala sesuatu yang AuberbauAy Barat, dengan menutup diri dan menaruh sikap curiga terhadap unsur-unsur asing. Dan lebih dari itu, pesantren sebagai tempat mengobarkan semangat jihad untuk mengusir para penjajah dari Tanah Air Indonesia (Azra, 1999. Saleh, 2000. Mukhlis, 2. Mengenai Madrasah. Sejarah dan perkembangan madrasah di Indonesia akan dibagi dalam dua periode, yaitu: periode sebelum kemerdekaan. periode sesudah kemerdekaan. Mengenai periode sebelum kemerdekaan, pendidikan dan pengajaran agama Islam dalam bentuk pengajian Al-QurAoan dan pengajian kitab diselenggarakan di rumahrumah, surau, masjid, pesantren, dan lain-lain. Pada perkembangan selanjutnya mengalami perubahan bentuk, baik dari segi kelembagaan, materi pengajaran . , metode maupun struktur organisasinya, sehingga melahirkan suatu bentuk baru yang disebut madrasah (Maksum, 1999. Kosim, 2007. Supani, 2. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam berfungsi menghubungkan sistem lama dengan sistem baru, dengan jalan mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik serta yang masih dapat dipertahankan, dan mengambil sesuatu yang baru dalam ilmu, teknologi, dan ekonomi yang bermanfaat bagi kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, isi kurikulum madrasah pada umumnya adalah apa yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam . urau dan pesantre. ditambah dengan beberapa materi pelajaran yang disebut dengan ilmu-ilmu umum (Ali, 1995:49. Akhiruddin, 2015. dan Siregar, 2. Sementara itu, menurut Maksum . dan sarjana lainnya, latar belakang pertumbuhan madrasah di Indonesia A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita SOFYAN SAURI. Sejarah Perkembangan Bahasa Arab dapat di kembalikan pada dua situasi, sebagai berikut: Pertama, adanya gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Gerakan ini muncul pada awal abad ke-20, yang dilatarbelakangi oleh kesadaran dan semangat yang kompleks. Sebagaimana juga diuraikan oleh Karel A. Steenbrink . , dan sarjana lainnya, bahwa gerakan pembaruan Islam di Indonesia itu didorong oleh empat faktor, antara lain: . Keinginan untuk kembali kepada Al-QurAoan dan Al-Hadist. Semangat nasionalisme dalam melawan . Memperkuat basis gerakan sosial, budaya, dan politik. Pembaruan pendidikan Islam di Indonesia (Steenbrink, 1991. Maksum, 1999:82. dan Kosim, 2. Bagi tokoh-tokoh pembaharuan Islam, pendidikan kiranya senantiasa dianggap sebagai aspek yang strategis untuk membentuk sikap dan pandangan ke-Islam-an masyarakat. Oleh karena itu, pemunculan madrasah tidak bisa lepas dari gerakan pembaharuan Islam, yang dimulai oleh usaha beberapa orang tokoh-tokoh intelektual agama Islam, yang selanjutnya dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam (Maksum, 1999. Akhiruddin, 2015. dan Basyit, 2. Kedua, adanya respons pendidikan Islam terhadap kebijakan politik pendidikan kolonial Belanda di Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa pertama kali bangsa Belanda datang ke Nusantara hanya untuk berdagang, tetapi karena kekayaan alam Nusantara yang sangat banyak, maka tujuan utama untuk berdagang tadi berubah untuk menguasai wilayah Nusantara dan menanamkan pengaruh di Nusantara, sekaligus dengan mengembangkan fahamnya yang terkenal dengan semboyan AuTiga GAy, yaitu: . Glory atau kemenangan dan kekuasaan. Gold atau emas atau kekayaan bangsa Indonesia. Gospel atau upaya salibisasi terhadap umat Islam di Indonesia (Ali, 1995:94. Akhiruddin, 2015. Hasnida, 2. Dalam menyebarkan misi-misinya itu, pihak Belanda atau VOC (Vereenigde OostIndische Compagni. mendirikan sekolahsekolah Kristen. Misalnya di Ambon. Kepulauan Maluku. Indonesia Timur, jumlah sekolahnya mencapai 16 sekolah dan 18 sekolah di sekitar pulau-pulau Ambon. di Batavia (Jakarta sekaran. ada sekitar 20 sekolah, padahal sebelumnya sudah ada sekitar 30 sekolah. Dengan demikian, untuk daerah Batavia saja, sekolah Kristen sudah berjumlah 50 buah. Melalui sekolah-sekolah inilah, pemerintah kolonial Belanda menanamkan pengaruh di daerah jajahannya (Ali, 1995:95. Leirissa et , 2004. dan Matanasi, 2. Pada perkembangan selanjutnya, di awal abad ke-20, atas perintah Gubernur Jenderal Van Heutsz, sistem pendidikan diperluas dalam bentuk Sekolah Desa, walaupun masih diperuntukkan terbatas bagi kalangan anak-anak bangsawan. Namun, pada masa selanjutnya, sekolah ini dibuka secara luas untuk rakyat umum dengan biaya yang murah (Nasution, 1985. Rahmat, 2014. dan Akhiruddin, 2. Dengan terbukanya kesempatan yang luas bagi masyarakat umum untuk memasuki sekolah-sekolah yang diselenggarakan secara tradisional oleh kalangan Islam, hal ini mendapat tantangan dan saingan berat, terutama karena sekolah-sekolah pemerintah kolonial Belanda dilaksanakan dan dikelola secara modern, terutama dalam hal kelembagaan, kurikulum, metodologi. A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 sarana, dan lain-lain. Perkembangan sekolah yang demikian jauh dan merakyat menyebabkan tumbuhnya ide-ide di kalangan intelektual Islam untuk memberikan respons dan jawaban terhadap tantangan tersebut, dengan tujuan untuk memajukan pendidikan Islam (Azra, 1999. Maksum, 1999. Saleh, 2000. Akhiruddin, 2015. dan Hasnida, 2. Ide-ide tersebut muncul dari tokohtokoh yang pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah atau pendidikan Belanda. Mereka mendirikan lembaga pendidikan, baik secara perorangan maupun secara kelompok/ organisasi, yang dinamakan madrasah atau sekolah Islam modern. Madrasahmadrasah yang didirikan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: Madrasah Adabiyah School. Madrasah ini didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1907 di Padang Panjang. Sumatera Barat. Belum cukup satu tahun madrasah ini gagal berkembang dan dipindahkan ke Padang. Pada tahun 1915, madrasah ini mendapat pengakuan dari Belanda dan berubah menjadi HIS atau Hollands Inlandsche School (Akhiruddin. Satria, 2019. dan Siregar, 2. Sekolah Agama (Madras Schoo. Didirikan oleh Syekh M. Thaib Umar di Sungayang. Batusangkar. Sumatera Barat, pada tahun 1910. Madrasah ini pada tahun 1913 terpaksa ditutup dengan alasan kekurangan tempat. Namun pada tahun 1918. Mahmud Yunus mendirikan Diniyah School sebagai kelanjutan dari Madras School (Fadhil, 2007. Masyhudi, dan Akhiruddin, 2. Madrasah Diniyah (Diniyah Schoo. Madrasah Diniyah didirikan pada tanggal 10 Oktober 1915 oleh Zainuddin Labai El Yunusiy di Padang Panjang. Sumatera Barat. Madrasah ini merupakan madrasah sore, yang tidak hanya mengajarkan pelajaran agama, tetapi juga pelajaran umum (Rahmat, 2014. Nizah, 2016. Saragih. Mukti & Zubaiah, 2. Madrasah Muhammadiyah. Madrasah ini tidak diketahui berdirinya dengan pasti, namun diperkirakan berdiri pada tahun 1918, dan yang mendirikannya adalah organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta (Muarif, 2012. Akhiruddin, dan Arifin, 2. Arabiyah School. Madrasah ini didirikan pada tahun 1918 di Ladang Lawas. Sumatera Barat, oleh Syekh Abbas (Akhiruddin, 2015. Kosim, 2015. Satria, 2. Sumatera Thawalib. Madrasah ini didirikan oleh Syekh Haji Abdul Karim Amrullah, ayahnya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrulla. , pada tahun 1921 di Padang Panjang. Sumatera Barat. Sumatera Thawalib ini tidak hanya berdiri di Padang Panjang, tetapi juga di Bukit Tinggi. Padang Panjang. Sungayang/ Batusangkar, dan Maninjau di Sumatera Barat (Naim, 1990. Sardiman et al. , 2012. dan Abbas & Asnawi, 2. Madrasah Diniyah Putri. Madrasah ini didirikan di Padang Panjang. Sumatera Barat, pada tahun 1923 oleh Rangkayo Rahmah El Yunusiah. Madrasah ini merupakan madrasah putri yang pertama di Indonesia (Ajisman, 2002. Hamruni, dan Zuraya, 2. Madrasah Salafiyah. Didirikan oleh (Kyai Haj. Hasyim AsyAoari pada tahun 1916 di Tebu Ireng. Jombang. Jawa Timur. Madrasah ini berada di bawah naungan organisasi NU atau Nahdlatul Ulama (Misrawi, 2010. Mukhlis, 2019. dan Nurfadilah, 2. Madrasah-madrasah di atas merupakan A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita SOFYAN SAURI. Sejarah Perkembangan Bahasa Arab pionir dalam pendirian madrasahmadrasah di berbagai daerah lainnya untuk melakukan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia (Ali, 1995. Fadjar, 1998. Maksum, 1999. Kosim, 2007. Akhiruddin, dan Mukhlis, 2. Sementara itu, perkembangan madrasah sesudah kemerdekaan Indonesia . dapat dijelaskan, terutama dengan dibentuknya Kementerian Agama pada tanggal 3 Januari 1946. Kementerian ini diberi tugas dan tanggung jawab, antara lain, untuk mengurus masalah keberagamaan di Indonesia, termasuk di dalamnya pendidikan, khususnya madrasah. Namun pada perkembangan selanjutnya, madrasah, walaupun sudah berada di bawah naungan Departemen Agama, lembaga ini hanya sebatas pembinaan dan pengawasan (Kosim, 2007. Mukhlis, dan Nurfadilah, 2. Sungguh pun pendidikan Islam di Indonesia telah berjalan lama dan mempunyai sejarah panjang, namun dirasakan bahwa pendidikan Islam masih tersisih dari sistem pendidikan nasional. Keadaan ini berlangsung sampai dengan dikeluarkannya SKB (Surat Keputusan Bersam. 3 Menteri pada tanggal 24 Maret 1975 yang tersohor itu, yaitu antara Menteri Agama. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Menteri Dalam Negeri, yang berusaha mengembalikan ketertinggalan pendidikan Islam untuk memasuki mainstream pendidikan nasional (Fadjar, 1998:xi. Tilaar, 2000:147. Siregar, 2. Kebijakan ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi madrasah, karena: ijazah dapat mempunyai nilai yang sama dengan sekolah umum yang sederajat. sekolah madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum yang setingkat lebih tinggi. dan siswa madrasah dapat pindah ke sekolah umum yang setingkat (Saleh, 2000:114. Akhwan, 2008. dan Nursikin, 2. Terbitnya SKB 3 Menteri itu bertujuan, antara lain, untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam, khususnya untuk bidang non-agama. Di dalam usaha peningkatan komponen pendidikan non-agama perlu dicermati agar tidak jatuh dari ekstrem yang satu ke ekstrem yang lainnya. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang baik supaya selalu terdapat keseimbangan antara ciri khas pendidikan Islam dengan niat untuk meningkatkan mutu pendidikan yang diminta oleh perubahan zaman. Dengan SKB 3 Menteri tersebut juga madrasah memperoleh definisi yang semakin jelas sebagai lembaga pendidikan yang setara dengan sekolah, sekalipun pengelolaannya tetap berada di bawah Departemen Agama (Arif, 2013. Yahya, dan Huda, 2. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, pada akhir dekade 1980an, dunia pendidikan Islam memasuki era integrasi dengan lahirnya UU (Undang-Undan. No. 2 tahun 1989 tentang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasiona. , yakni bahwa eksistensi madrasah sebagai lembaga pendidikan yang bercirikan Islam semakin mendapatkan tempat. Tetapi ini menjadi kendala, seperti dikhawatirkan oleh Malik Fadjar . dan sarjana lainnya, yang menyatakan bahwa ketika format madrasah dari waktu ke waktu menjadi semakin jelas sosoknya, sementara isi dan visi ke-Islam-an terus mengalami perubahan (Fadjar, 1998. Yahya, 2014. dan Bashori, 2. A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. Volume 5. February 2020 KESIMPULAN 1 Paparan di atas menunjukkan bahwa Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua di dunia. Sampai sekarang. Bahasa Arab tetap digunakan, walaupun bahasabahasa serumpun lainnya telah punah. Peristiwa terpenting dalam sejarah perkembangan Bahasa Arab adalah dengan datangnya Islam dan tersiarnya agama ini sampai meluas ke berbagai daerah dari Asia Tengah sampai Afrika Barat. Kedatangan Islam dan turunnya Al-QurAoan, yang disusul oleh Al-Hadist pada beberapa abad kemudian Ae yang menggunakan Bahasa Arab standar Ae menjadikan Bahasa Arab mempunyai arti penting serta tetap eksis sampai sekarang. Pentingnya Bahasa Arab bisa kita lihat, baik sebagai bahasa agama maupun sebagai bahasa komunikasi dalam pergaulan Adapun mengenai perkembangan Bahasa Arab di Indonesia, maka beberapa fakta dan data menunjukkan bahwa bahasa ini sudah mulai dikenal sejak masuknya Islam ke wilayah Tanah Air Nusantara. Bahasa Arab masuk dan berkembang di wilayah Indonesia bersamaan dengan penyebaran Islam Sebuah Pengakuan: Artikel ini Ae sebelum diedit-ulang dan dikemas-kini dalam bentuknya sekarang Ae sebelumnya pernah diterbitkan dalam HISTORIA: Journal of Historical Studies. Vol. IX. No. 1 [June 2. Saya mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada pihak Redaksi Jurnal INSANCITA di Bandung, yang demi kepentingan diseminasi karya ilmiah, akhirnya mau menerbitkan kembali artikel saya ini. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Andi Suwirta. Hum. , mantan Managing Editor Jurnal HISTORIA, 2000-2008, dan sekarang sebagai Dosen Senior di Deparemen Pendidikan Sejarah FPIPS UPI (Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Universitas Pendidikan Indonesi. di Bandung, yang telah membantu mengedit-ulang artikel ini dengan cara memutakhirkan sumber-sumber rujukan, sebagaimana nampak dalam Daftar Pustaka atau Referensi. Walau bagaimanapun, semua isi dan interpretasi dalam artikel ini tetap menjadi tanggung jawab akademik saya sendiri secara pribadi, dan tidak ada kena-mengenai dengan berbagai bantuan yang telah diberikan oleh pihak lain. ke wilayah ini. Melalui para daAoi dari Gujarat . ebagian menyatakan langsung dari Arab dan Mesi. pada abad ke-13, masyarakat Nusantara mengenal Bahasa Arab. Dalam perkembangan berikutnya, bahasa ini sempat menjadi lingua franca dalam pergaulan antar pulau dan bangsa di Nusantara. Selain itu pula, tulisan Arab digunakan sebagai pengganti tulisan Pallawa dari India yang telah berkembang Bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Bahasa Arab bukanlah Aubahasa asingAy, karena muatannya menyatu dengan kebutuhan umat Islam. Sayangnya, sikap dan pandangan sebagian besar kaum Muslim Indonesia masih beranggapan bahwa Bahasa Arab hanyalah bahasa agama, sehingga perkembangan Bahasa Arab terbatas hanya di lingkungan kaum Muslimin yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan agama. Hanya lingkungan kecil yang menyadari betapa Bahasa Arab Ae selain sebagai bahasa agama Ae merupakan bahasa ilmu pengetahuan dan sains yang berhasil melahirkan karya-karya besar ulama di berbagai bidang ilmu pengetahuan, filsafat, sejarah, dan sastra. Karena itu, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa Bahasa Arab merupakan peletak dasar bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan modern yang berkembang cepat dewasa ini. Bahasa Arab sudah dikenal luas di seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Hal ini dikarenakan Bahasa Arab telah dipelajari oleh sebagian masyarakat Indonesia, baik di lembaga-lembaga formal seperti sekolah dan perguruan tinggi maupun lembaga-lembaga nonformal seperti pesantren, madrasah, tempat-tempat kursus, majelis taklim, dan lembaga-lembaga lainnya. A 2020 Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung. West Java. Indonesia p-ISSN 2443-2776, e-ISSN 2657-0491, and w. com/index. php/insancita SOFYAN SAURI. Sejarah Perkembangan Bahasa Arab Pada lembaga-lembaga formal. Bahasa Arab diajarkan baik secara langsung maupun tidak langsung sejak Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi. Pengajaran Bahasa Arab secara langsung disampaikan melalui mata pelajaran Bahasa Arab, sedangkan secara tidak langsung dipelajari melalui pendidikan agama Islam atau mata pelajaran-pelajaran Referensi