Jurnal Pengabdian Masyarakat https://ojs. id/index. php/jukeshum/index E-ISSN: 2774-4698 Vol. 5 No. Januari 2025 Hal. IMPROVING TEENAGERS' SELF-CAPACITY TOWARDS ZERO STUNTING THROUGH THE IMPLEMENTATION OF THE "SI-TELUR PETIS" APPLICATION AS A SCREENING FOR NON-COMMUNICABLE DISEASES IN SELOPAMIORO VILLAGE PENINGKATAN KAPASITAS DIRI REMAJA MENUJU ZERO STUNTING MELALUI IMPLEMENTASI APLIKASI AuSI-TELUR PETISAy SEBAGAI SKRINING PENYAKIT TIDAK MENULAR DI KELURAHAN SELOPAMIORO Mei Rianita Elfrida Sinaga1. Daning Widi Istianti2. Resta Betaliani Wirata3 1,2,3 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yakkum Yogyakarta. Indonesia E-mail Author: mei@stikesbethesda. Submitted: 23/10/2024 Reviewed: 23/12/2024 Accepted: 31/01/2025 ABSTRACT The demands of learning tasks for today's teenagers spend a lot of time on activities using gadgets while less physical activity, and less healthy eating patterns. This condition is one of the causes of the high incidence of anemia, hypertension and diabetes mellitus in adolescence. The purpose of this community service is to realize healthy adolescents by increasing the capacity of adolescents both knowledge and skills in the Prevention of non-communicable diseases using the application AuSi-Telur PetisAy. The method of dedication is carried out by training on the use of the AoSi-Telur PetisAy application, screening for non-communicable diseases, namely anemia, hypertension and diabetes mellitus, mentoring of adolescent cadres for home visits. It was found that the activities carried out increased knowledge by 88% in adolescents regarding the Prevention of non-communicable diseases, improved skills of adolescent cadres in screening 70%, understanding of adolescent cadres in using and accessing the application AuSi-Telur PetisAy 100%, confident adolescent cadres make home visits. The continuity of the implementation of Posyandu remaja needs support and assistance from the local health center. Increasing the self-capacity of adolescents is the key in preventing non-communicable diseases so that superior generations are realized. Keywords: Telenursing Application. Self-Capacity. Non-Communicable Diseases. Adolescence. Stunting ABSTRAK Tuntutan tugas pembelajaran bagi remaja saat ini menghabiskan banyak waktu untuk beraktivitas menggunakan gadget sementara aktivitas fisik kurang, dan pola makan kurang sehat. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab tingginya kejadian anemia, hipertensi dan diabetes melitus pada usia Adapun tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk mewujudkan remaja sehat dengan meningkatkan kapasitas diri remaja baik pengetahuan maupun keterampilan dalam pencegahan penyakit tidak menular menggunakan Aplikasi AuSi-Telur PetisAy. Metode pengabdian dilakukan dengan pelatihan penggunaan aplikasi AoSi-Telur PetisAy, skrining penyakit tidak menular yaitu anemia, hipertensi dan diabates melitus, pendampingan kader remaja untuk kunjungan rumah. Didapatkan hasil bahwa * Sinaga. M R . , . JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat kegiatan yang dilakukan terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 88% pada remaja mengenai pencegahan penyakit tidak menular, peningkatan keterampilan kader remaja dalam melakukan skrining 70%, pemahaman kader remaja dalam menggunakan dan mengakses aplikasi AuSi-Telur PetisAy 100%, kader remaja percaya diri melakukan kunjungan rumah. Keberlangsungan pelaksanaan posyandu remaja perlu mendapat dukungan dan pendampingan dari pihak puskesmas setempat. Peningkatan kapasitas diri remaja menjadi kunci dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular sehingga terwujud generasi unggul. Kata Kunci: Aplikasi Telenursing. Kapasitas Diri. Penyakit Tidak Menular. Remaja. Stunting PENDAHULUAN Remaja merupakan kelompok usia 10 sampai 18 tahun. Usia remaja termasuk usia kelompok kritis dan penting dalam tumbuh kembang yang dapat menentukan kualitas hidup sumberdaya manusia di masa depan. Upaya kesehatan yang dilakukan bagi remaja bertujuan untuk mempersiapkan remaja menjadi orang dewasa yang sehat, cerdas, berkualitas, dan produktif serta berperan dalam menjaga dan mempertahankan dan meningkatkan kesehatan Kesehatan remaja sangat penting diperhatikan dikarenakan pada masa ini remaja mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan sehingga perlu diperhatikan pola makan yang sehat, aktivitas fisik yang teratur (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, 2022. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, 2. , ditambah dengan adanya penyakit keluarga yang diturunkan terutama penyakit tidak menular yang sedikit banyak bisa mempengaruhi tingkat kesehatan para remaja apabila tidak dikontrol dengan baik. Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab kematian hampir 70% di dunia termasuk Indonesia dengan PTM tertinggi Hipertensi dan Diabetes Melitus (Ministry Of Health Of The Republic Of Indonesia, 2019. World Health Organization, 2. Data Dinkes Kota Yogyakarta menunjukkan penderita hipertensi berusia Ou 15 tahun sebanyak 311. kasus, tetapi yang mendapatkan pelayanan masih sebanyak 58,93%. Kasus diabetes melitus 668 kasus dan yang sudah mendapatkan pelayanan kesehatan sebesar 73,9%. Kondisi ini menempatkan DIY pada urutan keempat sebagai provinsi dengan kasus hipertensi yang tinggi diikuti dengan diabetes melitus (The Yogyakarta City Health Office, 2. Meningkatnya prevalensi PTM ini berkaitan dengan perilaku gaya hidup yang buruk seperti kurangnya aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayuran, faktor risiko pekerjaan dikarenakan terlalu lama duduk, bekerja terlalu lama di depan laptop, ditambah tekanan pekerjaan. Hal ini dialami oleh kelompok remaja yang lebih banyak melakukan aktivitas yang terlalu lama dengan posisi yang salah, tidak ada aktivitas fisik yang baik . arang berolahrag. , lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer/handphone dikarenakan tuntutan Selain itu kebiasaan konsumsi makanan cepat saji lebih sering dibanding makanan sehat (Kementerian Kesehatan Indonesia, 2. termasuk konsumsi gorengan yang tidak dibatasi seperti yang terlihat pada gambar 1. Dusun Nogosari Kelurahan Selopamioro memiliki potensi remaja yang tinggi untuk diberdayakan dengan usia remaja 10 sampai 18 tahun sebanyak 56 orang. Dusun Nogosari sudah memiliki posyandu remaja dengan kader kesehatan remaja yang baru terbentuk melalui pelatihan yang dilakukan oleh tim pengusul melalui program Hibah Kemendikbudristek Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat pendanaan Tahun 2023. Remaja di Dusun ini sangat antusias merespon masalah kesehatan dikarenakan program karangtaruna lebih berfokus pada kegiatan organisasi. Kelurahan Selopamioro ini memiliki angka stunting tertinggi di DIY yaitu 181 dari 915 balita (Sistem Informasi Desa/SID, 2. Populasi remaja jumlahnya sebanyak 29% penduduk dunia, dan 80% diantaranya tinggal di negara berkembang, sedangkan di Indonesia 17% penduduk terdiri dari remaja dan 60% dari populasi remaja tersebut tersebar di Pulau Jawa (Pratiwi. UNICEF, 2. Kelompok remaja karang taruna di Dusun Nogosari sudah dibentuk posyandu remaja dan kader remaja sudah dilatih meski baru berjalan sehingga masih perlu pendampingan, tidak pernah melakukan cek tekanan darah, gula darah atau hemoglobin. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengecek kesehatan secara rutin dan mengubah gaya hidup sehat yaitu melalui pemanfaatan teknologi informasi berbasis android yang didesain untuk mempermudah remaja mengakses dimanapun dan kapanpun di era digital saat ini terutama pada generasi Z. Aplikasi berbasis android ini diberi nama AuSi-Telur PetisAy merupakan singkatan dari Sistem Telenursing Pencegahan Hipertensi dan Diabetes Melitus yang didesain sebagai skrining untuk modifikasi perilaku pencegahan penyakit tidak menular yaitu diabetes melitus dan hipertensi dengan hasil yang menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi ini memiliki pengaruh signifikan sebagai modifikasi perilaku pencegahan diabetes melitus dan hipertensi (Sinaga et al. , 2. Selain pencegahan penyakit tidak menular, remaja juga masih perlu diberikan edukasi dan pendampingan dalam pencegahan stunting. Stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDG. yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan. Salah satu upaya yang telah dilakukan tim pengusul yaitu pemberdayaan kader remaja dengan pendekatan community participatory dengan hasil menunjukkan bahwa melalui pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan remaja terkait stunting, peningkatan keterampilan untuk mencegah terjadinya keturunan stunting, dan posyandu remaja terbentuk (Sinaga et al. , 2. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah penggunaan aplikasi Si-Telur Petis sebagai skrining penyakit tidak menular yaitu diabetes melitus dan hipertensi dengan melibatkan kelompok remaja karangtaruna FKPN secara aktif dalam pencegahan penyakit tidak menular untuk mewujudkan zero stunting. Kelompok remaja perlu dikenalkan dengan aplikasi tersebut supaya dapat dilakukan monitoring dan evaluasi tingkat kesehatan beserta perubahan apa saja yang perlu dilakukan oleh mereka dalam upaya mewujudkan remaja sehat yang berkualitas. Program ini diharapkan dapat memberikan pengalaman di luar kampus bagi mahasiwa dan hasil kerja dosen yaitu melalui aplikasi SiTelur Petis sebagai skrining PTM dapat digunakan oleh masyarakat/kelompok remaja bahkan mendapat rekognisi Internasional sehingga masing-masing peran dapat mengembangkan kapasitas diri dan memberikan manfaat bagi mitra. Pentingnya pemahaman dan keterampilan remaja tentang skrining kesehatan agar terhindar dari penyakit tidak menular dan mewujudkan zero stunting. Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Gambar 1. Remaja senang konsumsi gorengan dan minuman manis di malam hari Gambar 2 Pelatihan kader kesehatan posyandu remaja yang sudah terbentuk METODE Mitra dalam kegiatan ini adalah kelompok masyarakat tidak produktif yaitu kelompok remaja Karangtaruna Forum Komunikasi Pemuda Nogosari (FKPN) Dusun Nogosari Kelurahan Selopamioro yang berusia 10 sampai 18 tahun. Adapun solusi yang dilakukan dijelaskan dalam tahapan berikut. Tahap persiapan dan perencanaan meliputi koordinasi dengan mitra terkait perijinan dilanjutkan Forum Group Discussion (FGD) dengan kelompok remaja melibatkan tokoh Tim pelaksana mempersiapkan media, sarana dan prasarana yang diperlukan untuk pelatihan penggunaan aplikasi Si-Telur Petis dan skrining penyakit tidak menular . iabetes melitus dan hipertens. Tahap pelaksanaan meliputi: Pelatihan penggunaan aplikasi Si-Telur Petis Skrining penyakit tidak menular . iabetes melitus dan hipertens. dan anemia: melibatkan kader kesehatan remaja yang telah dibentuk dan dilatih sebelumnya oleh tim pengusul Kunjungan rumah remaja Tahap monitoring dan evaluasi Monitoring dan evaluasi melibatkan peran orangtua, tokoh masyarakat dan penanggung jawab karangtaruna FKPN. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perubahan perilaku pencegahan penyakit tidak menular . iabetes melitus dan hipertens. dan anemia pada kelompok remaja, mengevaluasi kemampuan kapasitas diri kader remaja dalam melakukan skrining untuk memperkuat pencapaian zero stunting. Keberlanjutan program akan bekerjasama dengan pihak puskesmas dalam hal pendampingan kader remaja melakukan Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat kunjungan rumah dan posyandu remaja sehingga keberlangsungan program dapat terus HASIL DAN PEMBAHASAN Sosialisasi aplikasi Si-Telur Petis pada kader remaja Kader remaja terlebih dahulu dibekali alur dan cara pengisian aplikasi Si-Telur Petis untuk skrining penyakit tidak menular sehingga dapat mengajarkan pada remaja-remaja lainnya. Gambar 1. Alur Penggunaan Aplikasi Si-Telur Petis dan Fitur Aplikasi Sebanyak 30 remaja yang hadir dapat melakukan instalasi dan mengisi aplikasi Si Telur-Petis merupakan aplikasi yang tergolong mudah untuk diakses oleh seluruh pengguna. Salah satu menu yang terdapat dalam aplikasi ini adalah kuesioner berisi pertanyaan seputar gaya hidup yang dilakukan oleh individu yang pada akhirnya akan merujuk pada kesimpulan apakah individu berisiko mengalami hipertensi dan/ atau diabetes atau tidak. Hal ini dimaksudkan supaya remaja dapat melakukan cek kesehatan secara mandiri dan sadar akan kebutuhan kesehatannya (Misbah et al. , 2. Menu edukasi juga dapat diakses untuk mengontrol hal-hal apa saja yang masih perlu dirubah demi mendapatkan kesehatan yang optimal di usia remaja. Pendidikan kesehatan membantu remaja memutuskan pemilihan gaya hidup sehat dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengimplementasikannya (Sumarwati et al. , 2. Fitur i-chat memungkinkan pengguna dapat melakukan konsultasi pribadi dengan ahli terkait masalah kesehatan yang dialami terutama penyakit tidak menular baik anemia, hipertensi, maupun diabetes melitus. Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Gambar 2. Sosialisai Penggunaan Aplikasi AuSi-Telur PetisAy Skrining Penyakit Tidak Menular . iabetes melitus dan hipertens. dan anemia Pada program sebelumnya kader remaja sudah terbentuk dengan pelatihan keterampilan sesuai sistem lima meja posyandu. Kader remaja mulai dapat mengaplikasikan keterampilan yang telah didapat sebelumnya dengan pendampingan Gambar 3. Kader Remaja Melakukan Skrining Adapun hasil skrining yang diperoleh adalah sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Remaja di Selopamioro No. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Jumlah Persentase (%) Data pada tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja berjenis kelamin perempuan sebanyak 24 orang . %). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan LiLA Remaja di Selopamioro No Jenis Kelamin Rerata LiLA Laki-laki 26,75 cm Perempuan 23 cm Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Data pada tabel 2 menunjukkan bahwa rerata hasil pengukuran lingkar lengan atas pada 30 remaja di Selopamioro adalah 26,75 cm bagi remaja laki-laki dan 23 cm bagi remaja perempuan. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan IMT Remaja di Selopamioro No. Karakteristik Jumlah Persentase (%) Laki-laki Kurus 33,33 Normal 16,67 Obesitas 50,00 Total Perempuan Sangat kurus 6,67 Kurus 46,66 Normal 26,67 Gemuk 6,67 Obesitas 13,33 Total Data pada tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja laki-laki sejumlah 3 orang masuk dalam kriteria obesitas dengan nilai IMT>27 dan sebagian besar perempuan sejumlah 7 orang masuk dalam kriteria kurus dengan IMT 17<18,5. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Hasil Hemoglobin. GDS. Asam Urat dan Kolestrol Remaja di Selopamioro No. Status Laki-laki Perempuan Tekanan darah Normal Elevated HT stage HT stage GDS Normal Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat No. Status Hemoglobin Rendah Normal Asam Urat Tinggi Normal Kolestrol Normal Laki-laki Perempuan Data pada tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja laki-laki dan perempuan memiliki tekanan darah normal. Sebagian besar remaja laki-laki memiliki nilai hemoglobin normal dengan angka >13 g/dl dan sebagian besar remaja perempuan memiliki nilai hemoglobin normal dengan angka >12 gr/dl. Nilai GDS sebagian besar remaja laki-laki dan perempuan memiliki nilai normal dengan angka <140mg/dl. Nilai asam urat sebagian besar laki-laki dan perempuan normal dengan angka 3,5-7 mg/dl dan 2,6-6 mg/dl. Nilai sebagian besar remaja laki-laki dan perempuan normal dengan angka <200 mg/dl. Berdasarkan hasil screening yang diperoleh, remaja di desa Selopamioro tetap memerlukan pendampingan dalam upaya peningkatan kesehatan. Meskipun hasilnya menunjukkan sebagian besar remaja memiliki nilai normal pada pemeriksaan Hemoglobin. GDS, asam urat, dan kolestrol, akan tetapi masih ada remaja yang memiliki nilai rendah pada keempat pemeriksaan tersebut sehingga pemantauan kesehatan perlu dilakukan. Remaja berisiko mengalami hipertensi dan diabetes melitus. Salah satu risiko DM adalah hipertensi dimana harus diwaspadai dan mendapatkan penanganan teliti supaya tidak terjadi masalah kesehatan yang lebih serius sebagai komplikasi dari hipertensi (Widodo et al. , 2. Hasil pemeriksaan tekanan darah menunjukkan ada remaja dengan kategori Hipertensi Stage 1 dan 2. Dengan deteksi dini pada remaja, risiko timbulnya penyakit dapat Faktor risiko lain yang dapat menyebabkan timbulnya diabetes melitus pada remaja adalah merokok, riwayat keluarga, jenis kelamin, pola makan, aktivitas fisik, obesitas, dan pengetahuan (Ulya et al. , 2. Sebagian besar nilai hemoglobin remaja di desa Selopamioro normal. Hal ini didukung oleh (Dewi et al. , 2023. Simanjuntak, 2. yang menunjukkan bahwa kadar hemoglobin paling banyak adalah normal. Adanya kadar hemoglobin yang normal dapat disebabkan karena kebiasaan sarapan pagi, istrirahat cukup dan tercukupinya asupan zat beso. Makanan mengandung zat besi dapat diperoleh dari sayuran hijau, kacang-kacangan, buah-buahan, dan daging segar . Remaja dengan kadar hemoglobin rendah sejumlah 5 orang. Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Usia remaja berisiko terkena anemia karena defisiensi zat besi akibat pertumbuhan yang cepat dan adanya perubahan hormonal yang dialami remaja menjelang usia dewasa. Remaja membutuhkan nutrisi terutama zat besi sehingga apabila kekurangan maka dapat menimbulkan anemia pada remaja (Giyanti, 2. Remaja Perempuan di desa selopamioro sebagian besar memiliki nilai asam urat normal walaupun 2 remaja laki-laki memiliki kadar asam urat yang tinggi. (Riswana & Mulyani, 2. menunjukkan bahwa umur, jenis kelamin dan IMT tidak berhubungan dengan kadar asam urat, tetapi asupan purin berhubungan kadar asam urat. Artinya semakin tinggi konsumi makanan mengandung purin maka semakin tinggi nilai kadar asam urat yang dimiliki. Pada nilai kolestrol baik remaja laki-laki maupun remaja perempuan, samasama memiliki nilai normal. Hal ini dapat terjadi apabila remaja di desa Selopamioro sudah membatasi konsumsi makanan yang dapat menyebabkan tingginya kadar kolestrol dalam tubuh. Kunjungan rumah remaja Peningkatan kesehatan di desa Selopamioro juga didukung dengan adanya kunjungan rumah yang dilakukan oleh kader remaja. Sebelum kader diterjunkan, kader memperoleh bekal terkait cara melakukan kunjungan rumah dan komunikasi efektif. Kunjungan rumah merupakan salah satu metode promotif dan preventif yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan kesehatan terutama bagi remaja di desa Selopamioro. Hal ini didukung oleh (Intening et , 2. bahwa peran kader sangat krusial dalam mewujudkan masyarakat KESIMPULAN Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini menyimpulkan bahwa penggunaan aplikasi telenursing saat ini pada usia remaja yang termasuk generasi Z memiliki peluang besar sebagai upaya modifikasi pencegahan penyakit tidak menular khususnya hipertensi dan diabetes Peningkatan kapasitas diri remaja menjadi potensi besar untuk menekan angka kejadian stunting dan penyakit tidak menular dan remaja juga menjadi role model karena sudah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih optimal. UCAPAN TERIMA KASIH Pengabdi mengucapkan terimakasih kepada Bapak Kepala Dusun Nogosari Kelurahan Selopamioro atas semua ijin, bantuan, peran aktif, dan kerjasamanya sehingga kegiatan berjalan dengan lancar. Terimakasih pula pengabdi ucapkan kepada DRTPM (Direktorat Riset. Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyaraka. atas kesempatan dan dukungan dana yang Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat REFERENSI