WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Hasil Belajar IPAS di Tinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD Kadek Erlin Dwi Cahayanita Institut Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja kadekerlin86@gmail. Putu Sanjaya Institut Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja putusanjaya947@gmail. Nyoman Lisna Handayani Institut Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja lisnahandayani201@gmail. Abstrak- Penelitian ini bertujuan untuk: . menganalisis perbedaan hasil belajar IPAS antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dan pembelajaran konvensional, . menguji pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar, . menganalisis perbedaan hasil belajar pada siswa bermotivasi tinggi, dan . pada siswa bermotivasi rendah, berdasarkan model pembelajaran yang digunakan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Gugus VI Sutasoma. Kecamatan Kubutambahan. Kabupaten Buleleng. Desain penelitian menggunakan kuasi-eksperimen dengan pendekatan faktorial 2y2. Hasil analisis menunjukkan: . terdapat perbedaan signifikan hasil belajar IPAS antara kelompok inkuiri terbimbing dan kelompok konvensional, . terdapat interaksi signifikan antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar, . siswa bermotivasi tinggi yang mengikuti inkuiri terbimbing memperoleh skor lebih tinggi secara signifikan dibanding kelompok konvensional, dengan selisih rata-rata 12,824 poin . < 0,. , dan . siswa bermotivasi rendah yang mengikuti inkuiri terbimbing juga menunjukkan peningkatan hasil belajar secara signifikan dibanding kelompok konvensional, dengan selisih rata-rata 1,588 poin . < 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing efektif meningkatkan hasil belajar IPAS, baik pada siswa dengan motivasi tinggi maupun rendah. Kata Kunci: inkuiri terbimbing, hasil belajar, motivasi belajar PENDAHULUAN Pendidikan adalah pondasi esensial bagi pembangunan bangsa, berfungsi tidak hanya sebagai transfer ilmu, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang membentuk individu berdaya saing global dengan identitas kebangsaan yang kuat. Tilaar dalam (Santika, 2. menekankan peran sentral pendidikan dalam menciptakan masyarakat yang demokratis dan produktif, prioritas nasional. Tujuan utamanya adalah memaksimalkan potensi individu . ntelektual, kedewasaan optimal, membekali mereka kemandirian, dan tanggung jawab (Sujana et al, 2. Pembentukan moral bangsa yang baik membutuhkan kesadaran dan kontribusi WIDYA ACCARYA 2026 dari semua pihak, termasuk pemerintah, guru, masyarakat, orang tua, dan peserta didik (Santika, 2. Di era globalisasi dan Revolusi Industri 0, pendidikan dituntut untuk adaptif, tidak hanya sebagai transmisi pengetahuan tetapi juga pembentuk karakter dan inovasi (Suyanto. Kurikulum Merdeka di Indonesia memfokuskan pada pengembangan kompetensi abad 21 melalui enam dimensi Profil Pelajar Pancasila: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia. berkebinekaan global. bernalar kritis. dan kreatif. Pembelajaran harus memberikan pengalaman bermakna yang menumbuhkan daya cipta . , daya rasa . , dan daya karsa . , sebagaimana diatur dalam Permendikbud (Sutika et al. , 2. Mata pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. di SD merupakan gabungan P a g e 21 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index IPA dan IPS, bertujuan membangun literasi sains dan keterampilan inkuiri untuk memecahkan masalah melalui aksi nyata (Sugih et al. , 2. Meskipun IPAS kemampuan berpikir siswa, implementasinya seringkali terpisah dan kurang memotivasi, sehingga berdampak pada hasil belajar. IPAS mengacu pada Profil Pelajar Pancasila, mendorong siswa mengerjakan tugas mandiri, bergotong royong, dan bernalar kritis. Motivasi sangat krusial dalam proses belajar dan berpengaruh langsung pada hasil Siswa dengan motivasi tinggi kemampuannya untuk hasil optimal (Lestari. Namun, banyak siswa SD masih kurang termotivasi, yang berkorelasi dengan rendahnya hasil belajar. Hasil studi PISA 2022 menunjukkan peningkatan peringkat literasi sains Indonesia, namun skor menurun, kualitas pembelajaran lebih lanjut. Berdasarkan wawancara dengan guru kelas V di Gugus VI Sutasoma. Kubutambahan, rata-rata nilai sumatif IPAS siswa semester I masih rendah . , yang termasuk kategori rendah berdasarkan kriteria penilaian. Rendahnya hasil belajar ini juga terlihat dari kurangnya kemampuan berpikir kritis siswa: jarang bertanya, kesulitan memecahkan masalah, tidak mampu menghubungkan informasi logis, lebih mengandalkan hafalan, pasif menyampaikan pendapat. Beberapa penyebab masalah meliputi pembelajaran yang masih teacher-centered, kurangnya pemanfaatan teknologi, model pembelajaran konvensional yang tidak menarik, dan kurangnya reward dari guru (Hanafiah & Suhana, 2. Kesenjangan menunjukkan perlunya solusi, salah satunya adalah penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa, kurikulum, dan mampu membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata. Model pembelajaran Inkuiri Terbimbing diyakini dapat menjadi solusi, karena karakteristiknya memperoleh ilmu, mendorong berpikir logis dan kritis, serta menumbuhkan sikap ilmiah melalui proses penyelidikan sederhana dan pengalaman bermakna . ong term memor. WIDYA ACCARYA 2026 Guru yang mampu mengkombinasikan berbagai model pembelajaran dapat membuat proses belajar menjadi menarik dan bermakna (Adim. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap hasil belajar IPAS, ditinjau dari motivasi belajar siswa kelas V SD Gugus Sutasoma. Kecamatan Kubutambahan. Kabupaten Buleleng. Permasalahan yang diidentifikasi meliputi pendekatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru, model pembelajaran konvensional, siswa kurang aktif, rendahnya nilai sumatif IPAS, faktor internal siswa seperti pola belajar hafalan, serta kurangnya pemberian reward oleh Penelitian ini dibatasi pada hasil belajar IPAS siswa kelas V, dengan fokus pada motivasi belajar sebagai faktor internal dan model pembelajaran inkuiri terbimbing sebagai Rumusan mencakup perbedaan hasil belajar IPAS antara terbimbing dan konvensional, pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan motivasi, serta perbedaan hasil belajar pada kelompok siswa dengan motivasi tinggi dan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis hal-hal tersebut. II. METODE Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen dengan desain eksperimen semu . uasi-experimen. , yaitu Post Test Only Control Group Design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus VI Sutasoma Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng, yang terdiri dari 8 Sekolah Dasar dengan total 209 siswa. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik random sampling pada tingkat kelas, bukan individu, dengan mempertimbangkan sulitnya merubah kelas yang sudah terbentuk. Setelah pengundian kelas. SD Negeri 1 Tunjung. SD Negeri 1 Mengening. SD Negeri 1 Tajun, dan SD Negeri 4 Tajun terpilih Instrumen . uesioner motivasi belajar dan tes hasil belajar IPAS) dikembangkan sendiri oleh peneliti dan melalui expert judgement oleh dua pakar untuk menjamin validitas dan Untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis, data kuantitatif yang terkumpul akan dianalisis menggunakan uji prasyarat statistik dan uji hipotesis. P a g e 22 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Uji hipotesis akan menggunakan Analisis Varian (Anav. Dua Jalur. Dasar pemikiran Anava dua jalur adalah varians total subjek dalam eksperimen dapat diurai menjadi varians antar kelompok dan varians dalam kelompok. Anava dua jalur ini dapat digunakan untuk menguji perbedaan dua mean atau lebih. Varians dan simpangan baku menunjukkan tingkat sebaran data antar kelompok, dengan A1 memiliki sebaran yang sedikit lebih besar. Ketika dilihat berdasarkan motivasi, kelompok A1B1 . nkuiri terbimbing dengan motivasi tingg. mencapai rata-rata tertinggi . , menunjukkan hasil belajar yang sangat baik dan variasi nilai yang lebih Sebaliknya. A2B2 . onvensional dengan motivasi renda. memiliki rata-rata terendah . Ini mengindikasikan bahwa baik model pembelajaran inkuiri terbimbing maupun motivasi belajar tinggi secara individual cenderung berkorelasi dengan hasil belajar yang lebih baik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Secara umum, kelompok A1 . nkuiri terbimbin. menunjukkan rata-rata hasil yang lebih tinggi . dibandingkan kelompok A2 . Tabel 1 Tabel Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar IPAS Kode Jumlah (N) Rentang Minimum Maksimum Rata-rata Simpangan Baku Varians 71,59 6,205 38,507 67,47 5,501 30,265 A1B1 84,41 5,292 28,007 A1B2 69,06 5,080 25,809 A2B1 70,18 4,447 19,779 A2B2 64,29 5,022 25,221 Keterangan : Hasil belajar IPA siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing. : Hasil belajar IPA siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. : Hasil belajar IPA siswa dengan mengikuti model pembelajaran Inkuiri terbimbing A1B1 yang memiliki motivasi belajar tinggi. : Hasil belajar IPA siswa dengan mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing A1B2 yang memiliki motivasi belajar rendah. : Hasil belajar IPA siswa dengan mengikuti pembelajaran konvensional yang memiliki A2B1 motivasi belajar tinggi. : Hasil belajar IPA siswa dengan mengikuti pembelajaran konvensional yang memiliki A2B2 motivasi belajar rendah. Langkah selanjutnya adalah pengujian hipotesis, namun sebelum melakukan analisis hipotesis dengan Anava dua jalur, perlu dilakukan uji prasyarat untuk memastikan data memenuhi asumsi statistik yang diperlukan. Uji normalitas dilakukan untuk memeriksa apakah sebaran data dari setiap kelompok mendekati distribusi normal. Hasil analisis menyatakan semua kelompok data dalam penelitian ini berdistribusi normal, baik berdasarkan uji Kolmogorov-Smirnov WIDYA ACCARYA 2026 maupun Shapiro-Wilk. Dengan demikian, asumsi normalitas terpenuhi, dan data dapat dianalisis lebih lanjut menggunakan metode statistik parametric . Uji homogenitas varians menggunakan uji Levene bertujuan untuk memastikan bahwa varians antar kelompok data adalah sama. Hasil uji menyatakan nilai signifikansi (Sig. ) yang dihasilkan dari uji Levene lebih besar dari 05, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan varians yang signifikan antar Dengan kata lain, asumsi P a g e 23 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index homogenitas varians terpenuhi. Oleh menggunakan metode statistik parametrik karena itu, data hasil belajar IPAS dari seperti ANOVA. keenam kelompok memiliki varians yang homogen dan valid untuk dianalisis Tabel 2 Hasil Uji Hipotesis 1 Jumlah Kuadrat (Sum of Rata-rata Kuadrat (Mean Sig. Sumber Variasi Square. Squar. Hitung Antar Kelompok 144,118 1 144,118 4,191 0,040 Dalam Kelompok 1100,353 32 34,386 1244,471 Pengujian hipotesis pertama ini dilakukan dengan menggunakan Anava A (Analisis Varian satu arah untuk efek utama model pembelajara. nilai signifikansi . yang diperoleh adalah 0. Karena nilai p . lebih kecil dari tingkat signifikansi =0. 05, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Sehingga terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPAS antara Total Sumber 33 Ae Ae Ae kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus VI Sutasoma Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng. Ini menunjukkan bahwa model pembelajaran memiliki efek yang berbeda terhadap hasil belajar siswa. Tabel 3 Hasil Uji Hipotesis 2 Jumlah Kuadrat Tipe Rata-rata Kuadrat F Hitung Sig. i (Sum of Square. (Mean Squar. Partial Eta Squared Model yang Diperbaiki 3831,926 3 1277,309 51,704 Intercept 352368,015 1 352368,015 14263,576 0,000 0,996 1534,250 1 1534,250 62,105 0,000 0,492 1916,485 1 1916,485 77,578 0,000 0,548 A*B 381,191 1 381,191 15,430 0,000 0,194 Error 1581,059 64 24,704 Total 357781,000 68 Ae Ae Ae Ae Total yang 5412,985 67 Ae Diperbaiki Pengujian hipotesis kedua ini menggunakan rumus Anava AB (Analisis Varian dua jalu. untuk menguji efek utama model pembelajaran (A), efek utama motivasi belajar (B), dan efek interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar (A*B). hasil analisis menyatakan adanya interaksi yang signifikan . =0. (I) Kelas (J) Kelas pembelajaran terhadap hasil belajar IPAS tidak sama untuk semua tingkat motivasi Karena hasil uji interaksi (Hipotesis . signifikan, dilanjutkan dengan uji post-hoc Uji Dunnett untuk mengetahui perbedaan spesifik antar kelompok pada setiap tingkat Tabel 4 Hasil Uji Hipotesis 3 Perbedaan RataStandar Interval Sig. rata (I-J) Error Kepercayaan 95% WIDYA ACCARYA 2026 0,000 0,708 Batas Bawah Batas Atas P a g e 24 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index (I) Kelas A1B1 (J) Perbedaan RataStandar Kelas rata (I-J) Error 12,824* 1,840 -1,412 1,840 Hasil analisis untuk pengujian A1B1 (Inkuiri Terbimbing dengan Motivasi Tingg. dan (Rata-rata Inkuiri Terbimbin. menunjukkan perbedaan ratarata sebesar 12. 824 dengan nilai signifikansi A2B1 Interval Batas Kepercayaan 95% Bawah 0,000 8,63 17,02 Sig. Batas Atas 0,662 -5,60 2,78 p=0. Karena p<0. 05, perbedaan ini Ini mengindikasikan bahwa siswa dengan motivasi tinggi yang diajar dengan inkuiri terbimbing memiliki hasil belajar yang lebih baik dibandingkan rata-rata kelompok inkuiri terbimbing secara keseluruhan. Tabel 5 Hasil Uji Hipotesis 4 (I) (J) Perbedaan Standar Interval Kepercayaan Batas Batas Sig. Kelas Kelas Rata-rata (I-J) Error Bawah Atas 1,588 1,785 0,000 -2,48 5,66 A1B2 A2 -3,176 1,785 0,144 -7,25 0,89 A2B2 A2 Hasil Uji Dunnett untuk Hipotesis 4 mengamati, bertanya, menyelidiki, dan juga menyatakan bahwa perbandingan menarik kesimpulan, dengan bimbingan dari antara A1B2 (Inkuiri Terbimbing dengan guru (Suarningsih et al, 2. Motivasi Renda. dan A2 (Rata-rata Model inkuiri terbimbing dinilai lebih kelompok Konvensiona. menunjukkan mampu mengakomodasi kebutuhan belajar perbedaan rata-rata sebesar 1. 588 dengan siswa karena mengembangkan pemahaman nilai signifikansi p=0. Karena p<0. konseptual, keterampilan proses sains, berpikir Ini kritis, dan pemecahan masalah. Hal ini selaras mengindikasikan bahwa siswa dengan dengan pandangan Jerome Bruner tentang motivasi rendah yang diajar dengan inkuiri discovery learning yang penting untuk terbimbing memiliki hasil belajar yang lebih pengalaman belajar bermakna. Pendekatan ini baik dibandingkan rata-rata kelompok membuat pembelajaran lebih kontekstual dan konvensional secara keseluruhan. meningkatkan hasil belajar (Laksana, 2. Pembahasan Hasil analisis statistik menunjukkan Temuan ini juga mendukung pendekatan perbedaan yang signifikan dalam hasil konstruktivistik, di mana siswa belajar lebih belajar IPAS antara siswa yang mengikuti efektif saat aktif terlibat dalam proses model pembelajaran inkuiri terbimbing dan yang mengikuti mereka sendiri melalui eksplorasi dan refleksi konvensional . =0. 040, yang sedikit berbeda dari nilai 0. 049 yang disebutkan di bagian Analisis pembahasan, namun keduanya lebih kecil pengaruh interaksi yang signifikan antara dari =0. Ini berarti hipotesis nol (H. model pembelajaran dan motivasi belajar ditolak dan hipotesis alternatif (H. terhadap hasil belajar IPAS (F=15. Perbedaan ini bukan disebabkan oleh p=0. Nilai signifikansi ini jauh di bawah kebetulan, melainkan oleh perlakuan =0. 05, sehingga hipotesis nol (H. ditolak pembelajaran yang berbeda. dan hipotesis alternatif (H. Ini Secara kualitatif, model inkuiri berarti model pembelajaran dan tingkat terbimbing memberikan pengaruh positif motivasi belajar siswa tidak bekerja secara yang lebih besar. Dalam pembelajaran terpisah, melainkan saling memengaruhi konvensional, siswa cenderung pasif sebagai dalam menentukan hasil belajar. eacher-centere. Secara kualitatif, efektivitas suatu Sebaliknya, inkuiri terbimbing melibatkan model pembelajaran sangat bergantung pada siswa secara aktif dalam membangun karakteristik internal siswa, khususnya pengetahuan melalui aktivitas seperti motivasi belajar (Wahyuni et al. , 2. Model WIDYA ACCARYA 2026 P a g e 25 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index inkuiri terbimbing sangat efektif pada siswa dengan motivasi belajar tinggi, karena mereka memiliki inisiatif, kemandirian, dan kemampuan mengelola belajar (Kapoh et al. Namun, siswa dengan motivasi rendah tetap mendapat manfaat, meskipun efektivitasnya sangat ditentukan oleh bimbingan dan dukungan guru. Temuan interaksionisme dalam pembelajaran, yang menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil interaksi antara faktor instruksional . odel pembelajara. dan karakteristik siswa . otivasi, kemampuan awa. Ini juga memperkuat konsep Aptitude-Treatment Interaction (ATI) oleh Cronbach & Snow . , yang menyebutkan bahwa efektivitas tergantung pada karakteristik individu siswa. Siswa bermotivasi tinggi merespons lebih baik terhadap inkuiri terbimbing, sementara siswa bermotivasi rendah juga menunjukkan peningkatan dengan bimbingan terstruktur. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa kelompok A1B1 . nkuiri terbimbing dengan motivasi tingg. memiliki skor hasil belajar IPAS yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol A2B1 . onvensional dengan motivasi Selisih rata-rata sebesar 12. 824 poin dengan nilai signifikansi p<0. Ini berarti hipotesis ini diterima: terdapat perbedaan signifikan hasil belajar IPAS pada siswa bermotivasi tinggi antara kedua model Secara terbimbing, terutama pada siswa dengan motivasi tinggi. Siswa bermotivasi tinggi memiliki dorongan intrinsik, keingintahuan, dan kemauan untuk tantangan. Model inkuiri terbimbing menyediakan ruang eksplorasi yang luas namun terarah, yang sesuai dengan karakteristik ini (Kandia, 2. Keterlibatan aktif dalam bertanya, mengobservasi, merumuskan hipotesis, dan bereksperimen merangsang kognitif dan metakognitif siswa. Bagi mereka yang termotivasi, ini memberikan tantangan intelektual dan otonomi, sesuai teori self-determination (Deci & Rya. Sebaliknya, konvensional yang cenderung satu arah kurang memfasilitasi potensi maksimal siswa bermotivasi tinggi untuk belajar aktif dan berpikir kritis, sehingga hasil belajar WIDYA ACCARYA 2026 kelompok inkuiri terbimbing jauh lebih tinggi. Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPAS siswa dengan motivasi belajar rendah pada dua kelompok perlakuan. Kelompok A1B2 . nkuiri terbimbing dengan motivasi renda. menunjukkan hasil belajar yang lebih kelompok A2B2 . onvensional dengan motivasi renda. Perbedaan rata-rata sebesar 588 poin dengan nilai signifikansi p<0. Ini berarti hipotesis ini diterima: terdapat perbedaan signifikan hasil belajar IPAS pada siswa bermotivasi rendah antara kedua model Secara menunjukkan bahwa pendekatan inkuiri terbimbing mampu mengatasi tantangan siswa bermotivasi rendah yang cenderung pasif dalam pembelajaran konvensional. Model inkuiri terbimbing memungkinkan siswa terlibat aktif dalam eksplorasi, observasi, dan pemecahan masalah, tetapi tetap dalam arahan dan bimbingan guru. Panduan ini memberikan struktur belajar tanpa membebani siswa dengan tuntutan inkuiri mandiri penuh. Pendekatan ini juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa dan memberikan membantu meningkatkan keterlibatan kognitif dan berdampak positif pada hasil belajar. Untuk siswa dengan motivasi rendah, strategi ini terbukti efektif karena menyeimbangkan antara arahan guru dan partisipasi aktif siswa. IV. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan diatas dapat di kemukakan beberapa temuan yaitu: . Terdapat perbedaan hasil belajar IPAS antara kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensioanal pada siswa Kelas V SD Gugus VI Sutasoma Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng. Hasil perhitungan statistik diperoleh nilai P = 0,049. Nilai ini lebih kecil dari batas signifikansi yaitu = 0,05. Terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar IPAS pada siswa kelas V SD Gugus VI Sutasoma Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng. Hasil perhitungan statistisk diperoleh Koefisien F untuk variasi P a g e 26 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index A*B atau interaksi (FAB) sebesar 15,430 dengan nilai signifikasi sebesar 0. Nilai signifikansi ini berada jauh di bawah tingkat probabilitas atau = 0,05, . Terdapat perbedaan hasil belajar IPAS antara kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan pembelajaran konvensional siswa kelas V SD Gugus Sutasoma Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng pada kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi. Hasil perhitungan diperoleh Kelompok A1B1, yaitu kelompok siswa dengan motivasi belajar tinggi yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing secara statistik dan praktis memiliki skor hasil belajar IPAS yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (A2B. , yakni kelompok siswa bermotivasi tinggi yang mengikuti pembelajaran konvensional dengan selisih rata-rata sebesar 12. 824 poin . < 0. Terdapat perbedaan hasil belajar IPAS antara kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan pembelajaran konvensioanal siswa kelas V SD Gugus VI Sutasoma Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng pada kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah. Hasil perhitungan statistik diperoleh Kelompok A1B2 . elompok eksperimen dengan motivasi belajar rendah yang mengikuti pembelajaran inkuiri terbimbin. terbukti secara statistik dan praktis memberikan dampak positif yang signifikan terhadap skor, dibandingkan dengan kelompok A2B2 . elompok kontrol dengan motivasi belajar rendah yang dengan selisih rata-rata sebesar 1. 588 poin . < 0. DAFTAR PUSTAKA