Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. Jembrana. Bali I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Universitas Dhyana Pura Bali Email: raiutama@undhirabali. Abstract This study is about touristAos motivation to visit Blimbingsari Village. Jembrana, in West Bali. This study has aim to determine the push factors, and pulls factors to visit Blimbingsari Village. The respondents are 100 people. Based on their genders, there are 46% male and 54% Domestic tourists are 46%, and 28% Australian, and the other nationalities. Student visitors are 28%, 18% are retired, and 64% are workers in various sectors. The result of structural equation modelling (SEM) analysis indicates that the push factor correlation has not significantly affect to the tourist visiting to the Tourism Village of Blimbingsari. The correlations between attractiveness factors have significantly affect to the tourist visiting to the Tourism Village of Blimbingsari. Therefore, the management of Blimbingsari Tourism Village maybe directed to highlight the attractiveness of the village e. the uniqueness of the village, the village community activities, culture or traditions, natural beauty of the village, the availability of lodging, culinary, public facilities, visitor center, distance from the airport, the distance from the capital, and availability of Keyword: Agro Tourism. Tourism Village, push factor, pull factor, tourist attraction, tourist activity Abstrak Penelitian ini adalah tentang motivasi wisatawan yang mendorong, dan yang menarik wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari. Jembrana di Bali Barat. Tujuannya adalah untuk menentukan faktor-faktor yang mendorong, dan yang menarik wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari. Responden penelitian berjumlah 100 orang. Berdasarkan perbedaan jenis kelamin, terdapat 46% laki-laki, dan 54% perempuan. Wisatawan domestik JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 sebesar 46%, 28% berkebangsaan Australia, dan sisanya berkebangsaan lain. Pengunjung mahasiswa sebesar 28%, 18% adalah pensiunan, dan 46% adalah pekerja di berbagai Hasil analisis structural equation modelling (SEM) membuktikan bahwa faktor pendorong wisatawan tidak berpengaruh nyata terhadap kedatangan wisatawan ke Desa Wisata Blimbingsari. Namun, faktor daya tarik Desa Blimbingsari berpengaruh nyata terhadap kedatangan wisatawan ke desa ini. Pengelolaan Desa Wisata Blimbingsari sebaiknya diarahkan untuk menonjolkan daya tarik desa seperti keunikan desa, aktivitas masyarakat desa, budaya/adat/tradisi, keindahan alam desa, ketersediaan penginapan, kuliner, fasilitas umum, visitor center, jarak dari bandara, jarak dari ibu kota Provinsi Bali, dan ketersediaan Keyword: agrowisata, desa wisata, faktor pendorong, faktor penarik, motivasi berwisata, daya tarik wisata, aktivitas Pendahuluan abupaten Jembrana adalah salah satu dari sembilan kabupaten dan kota yang ada di Propinsi Bali yang terletak di bagian barat pulau Bali, dan memiliki luas wilayah sekitar 841. 800 kmA atau 14,96 % dari luas wilayah pulau Bali. Secara Administratif. Kabupaten Jembrana terbagi menjadi lima kecamatan, yang terbentang dari barat ke timur yaitu Kecamatan Melaya. Kecamatan Negara. Kecamatan Jembrana. Kecamatan Mendoyo. Kecamatan Pekutatan (Pemkab Jembrana, 2. Hampir tiap daerah kecamatan memiliki daya tarik wisata, baik yang belum, sedang, dan sudah Berkaitan dengan potensi pariwisata. Kabupaten Jembrana memiliki beberapa daya tarik wisata yang cukup menarik dan sebagian besar berupa daya tarik alam berupa pantai. Daya tarik wisata yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana sebagai daya tarik wisata adalah seperti pada Tabel 1. berikut ini: Tabel 1. 1 Daftar Daya Tarik Wisata Kabupaten Jembrana JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. Nama daya tarik wisata Bunut Bolong Pantai Medewi Pantai Delodbrawah Jenis Alam Alam Alam Rambut Siwi Perancak Pantai Baluk Rening Pantai Candikusuma Alam dan Sepiritual Alam dan Sepiritual Alam Alam Bendungan Palasari Teluk Gilimanuk Museum Manusia Purba Situs Gilimanuk Pantai Pekutatan Pantai Pengeragoan Buatan Alam Buatan Pantai Pangyangan Air Terjun Juwuk Manis Wisata Air Gumbrih Air Terjun Yeh Embang Kangin Makam Tua ( Buyut Lebai ) Rumah Panggung Peninggalan Suku Bugis Bendungan Benel Monumen Lintas Laut Taman Nasional Bali Barat Karang Sewu Alam Desa Wisata Blimbingsari Buatan Negara Melaya Melaya Melaya Melaya Pekutatan Pekutatan PengerPekutatan Alam Gumbrih Pekutatan Minat khusus SangkaraNegara Buatan Yeh Embang Mendoyo Kangin Alam Pangyangan Pekutatan Alam Juwuk Pekutatan Manis Alam Gumbrih Pekutatan Alam Yehembang Mendoyo Kangin Buatan Loloan Ba- Negara Buatan Loloan Ba- Negara Buatan Benel Melaya Buatan Gilimanuk Melaya Alam Gilimanuk Melaya Baluk Candikusuma Ekasari Gilimanuk Gilimanuk Alam Alam Pantai Gumbrih Desa Wisata Sangkaragung Rest Area Rambut Siwi Lokasi desa Kecamatan Manggissari Pekutatan Medewi Pekutatan DelodMendoyo Yeh Embang Mendoyo Kangin Perancak Negara Gilimanuk Blimbing Sari Melaya Melaya Sumber: Pemkab Jembrana . Walaupun Kabupaten Jembrana telah memiliki 26 daya JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 tarik wisata, namun pengembangan sektor pariwisata Jembrana masih mengalami beberapa kendala. Kendala yang cukup berat bagi Jembrana adalah jarak yang cukup jauh dari dari pusat Kota Denpasar sebagai ibukota Provinsi Bali. Wisatawan yang telah berkunjung ke Kabupaten Jembrana tentunya memiliki beberapa motivasi yang mendorong mereka berkunjunjung, dan tentunya daya tarik wisata yang mereka kunjungi memiliki keunikan yang dapat menarik mereka untuk berwisata. Menurut Fandeli, . motivasi berwisata merupakan faktor pendorong dari dalam diri seseorang untuk melakukan perjalanan wisata dan faktor penarik seseorang untuk melakukan perjalanan wisata. Faktor penarik merupakan daya tarik dari sebuah destinasi wisata. Mengetahui motivasi perjalanan wisata dapat menentukan faktor-faktor yang mendorong dan faktor-faktor yang menarik seseorang untuk melakukan perjalanan wisata ke suatu destinasi wisata. Begitu juga menurut Pitana . motivasi merupakan hal yang mendasar dalam studi tentang pariwisata, sebab motivasi merupakan pemicu dari proses perjalanan wisata. Motivasi wisata semakin penting untuk diketahui jika dihubungkan dengan pariwisata sebagai fenomena masyarakat dunia, dimana prilaku masyarakat dipengaruhi oleh berbagai motivasinya. Penelitian ini adalah tentang motivasi wisatawan yang terdiri atas faktor-faktor yang mendorong, dan yang menarik wisatawan berkunjung ke salah satu daya tarik wisata di Jembrana yakni Desa Wisata Blimbingsari, yang bertujuan untuk menentukan faktorfaktor yang mendorong, dan yang menarik wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari. Desa Wisata Blimbingsari adalah sebuah desa wisata yang ditetapkan pada 16 Desember 2011 oleh Gubernur Bali dan diresmikan oleh Bupati Jembrana pada tanggal 25 Desember 2011. Desa Wisata Blimbingsari memiliki beberapa keunikan yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk Keunikan Desa Wisata Blimbingsari di antaranya adalah berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional Bali Barat, berpenduduk mayoritas beragama Kristen Protestan, memiliki gedung gereja dengan arsitektur Bali, menyediakan akomodasi wisatawan yang menyatu dengan rumah-rumah penduduk, dan daya tarik lainnya. Desa wisata ini juga memiliki jalinan kerjasama dengan beberapa organisasi gereja di luar negeri seperti di Australia. Jerman, dan Jepang. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. Sejak ditetapkannya sebagai desa wisata, belum dilakukan penelitian yang terkait dengan wisatawan khususnya terkait dengan hal-hal yang mendorong dan menarik wisatawan datang ke Desa Blimbingsasri. Penelitian terkait dengan desa wisata ini, dilakukan oleh Cristina dan Adikampana . namun hanya meneliti tentang strategi pemasaran Desa Wisata Blimbingsari dengan menggunakan pendekatan bauran pemasaran dari perspektif pengelola saja, bukan perspektif wisatawan. Menurutnya. Desa Wisata Blimbingsari masih memiliki kelemahan dibidang promosi, minimnya informasi tentang desa ini, dan masih rendahnya tingkat kunjungan wisatawan ke desa ini. Rendahnya tingkat kunjungan wisatwan, dimungkinkan karena pengelolaan Desa Wisata Blimbingsari masih mengandalkan pengelolaan berdasarkan kebiasaan masyarakat setempat sehingga belum menyentuh secara langsung harapan para wisatawan. Penelitian tentang faktor-faktor yang mendorong, dan menarik wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari diharapkan dapat mengatasi rendahnya tingkat kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Blimbingsari. Metode analisis yang digunakan untuk dapat memecahkan masalah tersebut adalah analisis kuantitatif berupa analisis faktor konfirmatori yang lebih dikenal dengan SEM (Structural Equation Modelin. , dan dilengkapi dengan analisis kualitatif sebagai penguat terhadap hasil kuantitatif. Penelitian ini diarahkan untuk memberikan kontribusi secara teoritis dan praktis terhadap pengelolaan Desa Wisata yang sesuai dengan harapan wisatawan dan masyarakat lokal. Berdasarkan pokok permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan penelitian ini adalah: untuk menentukan faktorfaktor yang mendorong dan menarik wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari. Penelitian ini juga diarahkan untuk memberikan kontribusi secara teoritis dan praktis terhadap hubungan antara faktor pendorong terhadap keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari, dan hubungan antara factor penarik terhadap keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari. Tinjauan pustaka, teori, dan konsep Menurut Pitana, . motivasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan pariwisata, karena motivasi merupakan pemicu dari proses perjalanan wisata, walau JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 motivasi ini acapkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri. Seseorang melakukan perjalanan wisata dimotivasi dan disebabkan oleh beberapa hal. Motivasi-motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar sebagai berikut: . motivasi yang bersifat fisik antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai dan sebagainya. Motivasi budaya yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain. Motivasi yang bersifat sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi, melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang membosankan dan seterusnya. Motivasi fantasi yaitu adanya motivasi di daerah lain sesorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan dan yang memberikan kepuasan psikologis (Pitana, 2. Menurut Kester . bahwa agrowisata adalah bagian dari desa wisata dan terkait dengan aktivitas pertanian. Pengembangan agrowisata dapat menjadi aktivitas tambahan bagi para penduduk desa untuk mendapatkan pendapatan tambahan melalui penjualan produk pertanian mapun produk yang terkait dengan kebutuhan Filosopi agrowisata adalah meningkatkan pendapatan kaum tani, dan meningkatkan kualitas alam menjadi hunian yang benar-benar dapat diharapkan sebagai hunian yang berkualitas, memberikan kesempatan masyarakat untuk belajar kehidupan pertanian yang menguntungkan dan ekosistemnya (Lobo et al. Wilayah agrowisata dapat secara otomatis berfungsi sebagai pasar yang mempertemukan antara para petani sebagai penghasil produk pertanian dengan para wisatawan sebagai penikmat Produk yang dimaksud tidak sebatas yang berwujud seperti buah-buahan atau sayur-sayuran, tetapi dapat berupa jasa misalnya mengukir buah, jasa lokal guide, dan mungkin atraksi tari-tarian para petani lokal yang mengekpresikan kehidupan bertani mereka (Utama, 2. Desa wisata adalah rural tourism yang merupakan jenis daya tarik wisata yang terdiri dari keseluruhan pengalaman pedesaan, atraksi alam, tradisi, dan unsur-unsur yang unik yang dapat menarik minat wisatawan (Joshi, 2. Menurut Giampiccoli dan Kalis . , strategi community based-tourism lebih sering JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. digunakan dalam pengembangan rural tourism yang didasarkan pada pengembangan masyarakat dengan cara mengandalkan mereka sendiri, pemberdayaan, keberlanjutan, konservasi dan peningkatan budaya untuk meningkatkan mata pencaharian Community based-tourism merupakan pariwisata yang dikelola dan dimiliki oleh masyarakat, untuk masyarakat, dengan tujuan agar wisatawan dapat meningkatkan kesadaran mereka dan belajar tentang kehidupan masyarakat lokal serta dapat meningkatkan ekonomi masyarakat lokal (Putri dan Manaf, 2. Metode penelitian Penelitian ini berlokasi di Desa Wisata Blimbingsari di Kecamatan Melaya. Kabupaten Jembrana. Provinsi Bali. Populasi pada penelitian ini adalah wisatawan yang mengunjungi Desa Wisata Blimbingsari. Jumlah populasi tidak diketahui dengan pasti sehingga untuk menentukan keterwakilan dari anggota sampel, ditentukan berdasarkan teknik sampling non probabilitas. Teknik nonprobabilitas dibenarkan dalam penelitian, sepanjang tidak bertujuan untuk melakukan generalisasi hasil penelitian (Santoso dan Tjiptono, 2001:. Sampel pada penelitian ini dipilih berdasarkan teknik sampling purposive yang merupakan salah satu dari teknik sampling non-probabilitas dengan mempertimbangkan jumlah sampel minimal pada analisis SEM yaitu antara 100 hingga 200 sampel. Jumlah sampel penelitian ini adalah sebasar 100 orang. Jumlah tersebut telah dianggap cukup memadai karena sesuai ketentuan minimum kecukupan alat analisis SEM-AMOS. Kondisi seperti ini, memungkinkan penggunaan teknik ML . aksimum likehoo. atau GLS . enerelaized least square. (Ferdinand, 2002:. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan data Jenis data ini diambil dari sumber data primer yang didapatkan secara langsung dari hasil survei. Data kuantitatif menurut Sudjana . adalah data yang berbentuk bilangan yang dapat dilakukan perhitungan dengan alat bantu statistik atau Data kualitatif adalah data yang berbentuk transkrip hasil wawancara, komentar para wisatawan, keterangan-keterangan atau kategori yang mengandung makna kualitas dan bukan berbentuk bilangan (Sudjana, 1. yang tidak dapat dilakukan perhitungan dengan alat bantu statistik atau matematika. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 Penelitian ini menggunakan dua variabel laten eksogen yakni variabel motivasi berwisata dan variabel daya tarik wisata, serta satu variabel laten endogen yakni variabel keberlanjutan Variabel motivasi wisata terdiri atas indikator: (X1. beristirahat dan relaksasi, (X1. mengunjungi tempat-tempat baru, (X1. belajar hal-hal baru, (X1. menjauhkan diri dari stress, (X1. melarikan diri dari kegiatan sehari- hari, (X1. menemui orang-orang dan bersosialisasi, (X1. meningkatkan kesehatan, (X1. mencoba tantangan/pengalaman dan petualangan, (X1. memperkaya intelektualitas, (X1. melatih fisik, dan (X1. mengunjungi keluarga dan teman-teman. Variabel daya tarik wisata Desa Wisata Blimbingsari terdiri atas indikator: (X2. keunikan desa, (X2. areal perkebunan desa, (X2. aktivitas masyarakat desa, (X2. budaya/adat/tradisi, (X2. keindahan alam desa, (X2. penginapan, (X2. kuliner, (X2. fasilitas umum, (X2. visitor center, (X2. jarak dari bandara, (X2. jarak dari ibu kota, (X2. ketersediaan transportasi, (X2. pelayanan biro perjalanan, (X2. pelayanan pramuwisata lokal, dan (X2. keterlibatan masyarakat desa. Variabel keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari terdiri atas indikator: (Y1. kesediaan merekomendasi teman atau keluarga, (Y1. keinginan berkunjung kembali, (Y1. dukungan masyarakat lokal, dan (Y1. dukungan Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, daftar pertanyaan tertutup berupa angket penelitian. Jawaban responden dibuat dengan menggunakan skala likert, yaitu dengan rentangan 1 sampai dengan 5. Tanggapan yang paling positif . angat setuj. diberi nilai paling tinggi, dan tanggapan paling negatif . angat tidak setuj. diberi nilai paling rendah. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif, analisis SEM, dan analisis deskriptif kualitatif sebagai pelengkap. Statistik deskripsi adalah analisis yang dilakukan dengan menggambarkan sekumpulan data secara visual, yang dapat dilakukan dalam dua bagian, yaitu deskripsi dengan numerik, teks dan grafik. Setelah survei dilakukan dan sejumlah data didapat, maka dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM). Kelloway . mengemukakan model struktur kovarians JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. dapat digunakan untuk menguji berbagai model yang kompleks. SEM adalah model statistik yang menjelaskan hubungan diantara sejumlah variabel, dengan menguji struktur dari hubungan diantara variabel-variabel (Hair et al. , 2. Hasil penelitian dan analisis Hasil penelitian dan analisis tentang motivasi wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari. Jembrana Bali, dijelaskan sebagai berikut ini: Gambaran umum desa wisata Blimbingsari Desa Wisata Blimbingsari adalah sebuah desa wisata yang ditetapkan pada 16 Desember 2011 oleh Gubernur Bali dan diresmikan oleh Bupati Jembrana pada tanggal 25 Desember 2011. Desa Wisata Blimbingsari secara keseluruhan luasnya 443 ha. Luasan itu memuat di dalamnya tanah pemukiman seluas 55,88 ha . ,61%), tanah perkebunan seluas 351,12 ha . ,26%), tanah sawah tadah hujan 10 ha . ,26%), tanah adat 20 ha . ,51%) serta tanah pemerintahan 6 ha . ,35%). Gambar 4. 1 Sebuah Spanduk Penyambut Tamu di Desa Wisata Blimbingsari (Foto-foto Penuli. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 Desa Wisata Blimbingsari mempunyai dua banjar dinas yaitu Banjar Dinas Blimbingsari dan Banjar Dinas Ambyarsari. Banjar Dinas Blimbingsari berlokasi di tengah-tengah Desa Wisata Blimbingsari, berdekatan lapangan alun-alun dan juga Gedung Gereja Pniel Blimbingsari, serta SDK Maranatha Blimbingsari. Banjar Dinas Ambyarsari berlokasi agak dipinggiran Desa Wisata Blimbingsari, kira-kira 2 km dari Banjar Dinas Blimbingsari. Data kependudukan Kabupaten Jembrana . merinci bahwa jumlah penduduk Desa Wisata Blimbingsari adalah 1. Lakilaki berjumlah 518 . 2%) dan perempuan berjumlah 557 . 8%). Lihat Tabel 4. 1 di bawah ini. Tabel 4. 1 Data Agregat Kependudukan Desa Wisata Blimbingsari Desa/ Kelurahan Gilimanuk Melaya Laki-Laki Perempuan Jumlah Penduduk (Satuan Jiw. ,2%) 557 . ,8%) Ekasari Nusasari Warnasari Candikusuma Tuwed Tukadaya Manistutu ,7%) ,9%) Blimbingsari TOTAL Sumber: Database Kependudukan Kabupaten Jembrana, 2016 Desa Wisata Blimbingsari memiliki kekayaan seni-budaya seperti desa lainnya di wilayah lain di Bali. Kesenian khas yang dimiliki oleh Desa Wisata Blimbingsari adalah tarian yang biasanya diringi oleh gamelan Bali. Bahan musik gamelan ini terbuat dari perunggu dan bagian depan gamelan berisikan hiasan atau ukiran bali dan biasanya memainkan musik ini dilakukan sambil duduk. Seni dan budaya lainnya adalah seni jegog. Seni jegog ini adalah alat musik ciri khas kabupaten Jembrana. Bahan musik jegog ini terbuat dari bambu pilihan yang ukurannya berdiameter 18-20 cm JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. dan bagian depan jegog berisikan hiasan atau ukiran bali. Beda dengan gambelan, seni jegog biasanya memainkan musik jegog ini dilakukan sambil berdiri. Jumlah peserta yang memainkan musik antara gamelan dan jegog hampir sama jumlahnya. Penduduk Desa Wisata Blimbingsari memiliki pekerjaan yang beragam, diantaranya da yang bertani, dan beternak. Sebagian warga ada yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan Desa Wisata Blimbingsari memiliki kekayaan senibudaya selayaknya wilayah lain di Bali. Seni dan budaya yang berkembang adalah seni jegog. Seni Jegog ini adalah alat musik ciri khas kabupaten Jembrana. Bahan musik jegog ini terbuat dari bambu pilihan yang ukurannya berdiameter 18-20 cm . ergantung kebutuha. dan bagian depan jegog berisikan hiasan atau ukiran Beda dengan gambelan, seni jegog biasanya memainkan musik jegog ini dilakukan sambil berdiri. Jumlah peserta yang memainkan musik antara gamelan dan jegog hampir sama jumlahnya. Profil responden penelitian Responden yang telah berpartisipasi pada penelitian ini berjumlah 100 orang dan telah sesuai dengan kebutuhan jumlah sampel penelitian. Berdasarkan perbedaan jenis kelamin, 46% pengisi angket penelitian adalah laki-laki, 54% oleh responden Gambar 4. 2 Wisatawan Mancanegara di Desa Wisata Blimbingsari JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 Berdasarkan perbedaan kelompok umur, 62% pengisi angket berumur kurang dari 40 tahun, dan 38% oleh responden berumur lebih dari 40 tahun. Gambar 4. 3 Aktivitas Tracking di Desa Wisata Blimbingsari Berdasarkan perbedaan kewarganegaraan, dominan responA den adalah wisatawan domestik (WNI) 46%, dan 28% berkebangsaan Australia, sisanya berkebangsaan lainnya. Berdasarkan perbedaan jenis pekerjaan, dominan responden adalah mahasiswa 28%, dan 28% adalah pensiunan, sisanya pekerjaan lainnya. Berdasarkan pengalaman mereka berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari, dominan responden adalah baru pertama kalinya datang adalah 52%, dan 48% pernah datang. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. Gambar 4. 4 Keunikan Gedung Gereja di Desa Wisata Blimbingsari Persepsi Wisatawan terhadap Desa Wisata Blimbingsari Analisis statistik deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui tingkat distribusi responden berdasarkan hasil kuesioner yang dibesar kepada 100 responden dan berhasil ditarik sebesar 100% (Lihat Tabel 4. Tabel 4. 2 Deskriptif Statistik Indikator Penelitian Faktor dan Indikator Penelitian Rata-rata Keterangan Faktor Pendorong Istirahat dan rileksasi 4,21 Sangat terdorong Mengunjungi tempat baru 4,20 Terdorong Mencari pengalaman 4,32 Terdorong Menghindari Stres 4,27 Terdorong Keluar dari rutinitas 4,17 Terdorong Bersosialisasi 3,91 Terdorong Meningkatkan kesehatan 3,29 Netral JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Faktor dan Indikator Penelitian Hlm. 165Ae186 Rata-rata Keterangan Petualangan 3,70 Terdorong Meningkatkan pengetahuan 4,26 Sangat Terdorong . Latihan fisik 4,23 Sangat Terdorong . Mengunjungi teman dan 3,95 Terdorong Faktor Penarik Keunikan desa 4,21 Sangat tertarik Lahan pertanian dan 4,20 Tertarik Aktivitas masyarakat desa 4,04 Tertarik Tradisi dan budaya desa 3,60 Tertarik Keindahan alam pedesaan 4,08 Tertarik Fasilitas penginapan desa 3,93 Tertarik Kuliner desa 3,52 Tertarik Fasilitas umum 3,34 Netral Pusat informasi wisata desa 3,34 Netral Jarak dari bandara 3,06 Netral Jarak dari ibukota provinsi 2,98 Netral Ketersediaan transportasi 3,18 Netral Pelayanan Biro perjalanan wisata 3,99 Tertarik . Pemandu wisata lokal 3,81 Tertarik . Keterlibatan masyarakat 4,28 Sangat Setuju Faktor Keberlanjutan Desa Wisata Niat merekomendasi teman 4,26 Sangat Setuju Niat berkunjung kembali 4,22 Sangat Setuju Dukungan pemerintah daerah 3,60 Setuju Dukungan dan keterlibatan masyarakat desa 4,19 Setuju Catatan: Interval . ,00 Ae 1,. Sangat Tidak Setuju, . ,81 Ae 2,. Tidak Setuju, . ,61 Ae 3,. Netral, . ,41 Ae 4,. Setuju, . ,21 Ae 5,. Sangat Setuju JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. Pengujian model teoritis Metode estimasi yang dipilih pada penelitian ini adalah Maximum Likelihood Estimates (MLE). Setelah dilakukan pengujian model dengan hanya menyertakan indikator-indikator yang memiliki nilai Standardized Regression Weights lebih besar dari 0,5 maka terbentuklah model yang dinyatakan fit. Hasil modifikasi model seperti Gambar 4. 5 berikut: Gambar 4. 5 Konstruk Model Desa Wisata Blimbingsari Dari beberapa kriteria untuk mengukur model yang fit, yakni X2-Chi Square. RMSEA. CMIN/DF. TLI, dan CFI menunjukkan bahwa model dapat dikatakan fit atau disimpulkan bahwa model teoritis sesuai dengan fakta empiris dari penelitian yang telah dilakukan . ihat Tabel 4. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 Tabel 4. 3 Hasil Modifikasi Model Goodness of Fit Index Cut off Value Result Keputusan X2-Chi Square Diharapkan Kecil 259,572 Fit/Sesuai RMSEA O 0,08 0,078 Moderate GFI Ou 0,90 0,806 Kurang Sesuai AGFI Ou 0,90 0,747 Kurang Sesuai CMIN/DF O 3,00 1,612 Fit/Sesuai Sumber: Hasil Uji Konstruk Modifikasi Model Setelah semua asumsi dapat dipenuhi, maka selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis sebagaimana diajukan pada bagian Pengujian dua hipotesis penelitian ini dilakukan sebagai berikut. Tabel 4. 4 Bobot Regresi Hubungan Struktural Hubungan SRW Y (KeberA E 1 (Faktor Pendoron. -0,218 -1,764 Y (KeberA E 2 (Faktor Penari. 0,732 4,452 P-Value Keputusan 0,078 Tidak Signifikan *** Signifikan Sumber: Hasil Uji Konstruk Modifikasi Model. SRW = Standardized Regression Weights Faktor pendorong wisatawan berkunjung ke desa wisata Blimbingsari Parameter estimasi untuk pengujian pengaruh (X. motivasi terhadap (Y. keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari ditunjukkan oleh nilai CR . ritical rati. sebesar Ae1,764 dan dengan probabilitas sebesar 0,078. Kedua nilai tersebut tidak memenuhi syarat untuk penerimaan H1 yaitu nilai CR yang lebih kecil dari 1,96 dan probabilitas yang lebih besar dari 0,05. Kesimpulannya adalah (X. Faktor motivasi tidak berpengaruh signifikan terhadap (Y. Keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari. Hubungan teoritis kedua variabel tersebut dinyatakan tidak sesuai fakta empiris sehingga hubungan yang terjadi dapat dikatakan tidak signifikan. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. Kesimpulan lain yang dapat dinyatakan adalah faktor motivasi yang dimiliki oleh wisatawan belum mampu mengarahkan tujuan kunjungannya ke Desa Wisata Blimbingsari, dan diduga faktor lainlah yang menyebabkan para wisatawan mengarahkan kunjungannya ke Desa Wisata Blimbingsari. Faktor penarik wisatawan berkunjung ke desa wisata Blimbingsari Parameter estimasi untuk pengujian pengaruh (X. Faktor Penarik terhadap (Y. Keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari ditunjukkan oleh nilai CR . ritical rati. sebesar 4,452dan dengan probabilitas sebesar ***. Kedua nilai tersebut telah memenuhi syarat untuk penerimaan H1 yaitu nilai CR yang lebih besar dari 1,96 dan probabilitas yang lebih kecil dari 0,05. Kesimpulannya adalah (X. Faktor Daya Tarik Desa Wisata Blimbingsari berpengaruh signifikan terhadap (Y. keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari. Hubungan teoritis kedua variabel tersebut dinyatakan telah sesuai dengan fakta empiris sehingga hubungan yang terjadi dapat dikatakan Kesimpulan lain yang dapat dinyatakan adalah faktor daya tarik yang dimiliki oleh Desa Wisata Blimbingsari telah mampu mengarahkan tujuan wisatawan berwisata ke Desa tersebut. Faktor keberlanjutan desa wisata Blimbingsari Secara empiris, keberlanjutan desa wisata Blimbingsari ditentukan oleh tiga indikator penting. Tiga indikator tersebut adalah kesediaan para pengunjung untuk merekomendasi teman atau keluarganya agar bersedia berwisata ke daya tarik wisata Blimbingsari, adanya niat atau keinginan para wisatawan untuk berkunjung kembali di masa yang akan datang, dan yang paling penting adanya dukungan masyarakat lokal dalam mengelolaan Desa Wisata. Hubungan faktor pendorong dan penarik terhadap keberlanjutan desa wisata Blimbingsari Hubungan faktor pendorong dan penarik terhadap keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari dapat dijelaskan sebagai berikut ini: Indikator-indikator dari faktor pendorong wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari dapat dijadikan alasan yang kuat untuk melakukan pengembangan dan inovasi Desa Wisata Blimbingsari (Lihat Gambar 4. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 Dukungan masyarakat lokal Berkunjung kembali Merekomendasi Keunikan Desa Aktivitas Masyarakat Desa Keberlanjutan Mengunjungi keluarga dan teman- teman Budaya/Adat/Tradisi Melatih fisik Keindahan Alam Desa Penginapan Intelektualitas Kuliner Fasilitas umum Daya Tarik Pendorong Bersosialisasi Visitor Center Jarak dari Bandara Jarak dari Ibu Kota Belajar hal baru Tempat baru Ketersediaan Transportasi Gambar 4. 6 Hubungan Faktor Pendorong dan Penarik terhadap Keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari Terdapat enam indikator yang mendorong wisatawan datang ke desa tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut: . mengunjungi tempat-tempat baru, . belajar dan mengalami hal-hal baru, . menemui orang-orang dan bersosialisasi, . memperkaya intelektualitas, . melatih fisik, dan . mengunjungi keluarga dan teman- teman. Indikator tersebut menunjukkan bahwa fasilitas atau daya tarik wisata buatan . an mad. dapat dikembangkan untuk memenuhi keinginan para pengunjung/ Indikator-indikator dari faktor penarik wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari dapat dijadikan alasan yang kuat juga untuk melakukan pengelolaan dan pengembangan Desa Wisata Blimbingsari yang lebih baik. Indikator-indikator tersebut adalah keunikan desa, aktivitas masyarakat desa, budaya/adat/tradisi, keindahan alam desa, ketersediaan penginapan, kuliner, fasilitas umum, visitor center, jarak dari bandara, jarak dari ibu kota, dan ketersediaan transportasi. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. Indikator-indikator dari faktor keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari dapat dijadikan alasan yang kuat juga untuk melakukan pengelolaan dan pengembangan Desa Wisata Blimbingsari di masa yang akan datang adalah kesediaan merekomendasi teman atau keluarga, keinginan berkunjung kembali, dandukungan masyarakat lokal. Penutup Hasil pengujian hubungan antara faktor pendorong dan penarik terhadap keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari membuktikan bahwa faktor pendorong wisatawan tidak berkorelasi nyata terhadap keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari, namun factor penarik . aya tari. Desa Wisata Blimbingsari yang justru berkorelasi nyata terhadap keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari. Wisatawan yang datang ke Desa Wisata Blimbingsari termotivasi untuk . mengunjungi tempat-tempat baru, . untuk belajar dan mengalami hal-hal baru, . menemui orang-orang dan bersosialisasi, . alasan untuk memperkaya intelektualitas, . melatih fisik, dan . motif mengunjungi keluarga dan teman- teman. Daya Tarik Desa Wisata Blimbingsari adalah . keunikan desa, . aktivitas masyarakat desa, . budaya/adat/tradisi, . keindahan alam desa, . tersedianya penginapan, . tersedianya kuliner, . fasilitas umum. Empat Indikator lainnya seperti . visitor center yang masih terbatas, . jarak dari bandara yang cukup jauh yakni 120 km, . jarak dari ibu kota yang cukup jauh yakni kisaran 3 jam lama perjalanan, dan . ketersediaan transportasi yang menuju ke desa wisata Blimbingsari. Empat indikator tersebut merupakan indikator yang menjadi kelemahan bagi desa wisata blimbingsari. Keberlanjutan Desa Wisata Blimbingsari adalah . kesediaan merekomendasi teman atau keluarga, . keinginan berkunjung kembali, dan . dukungan masyarakat lokal. Pengelolaan Desa Wisata Blimbingsari sebaiknya diarahkan untuk menonjolkan daya tarik desa daripada variabel lainnya dengan cara membuat usaha-usaha yang dapat meningkatkan penampilan desa. Usaha usaha yang dapat dilakukan untuk merespon faktor penarik wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari adalah dengan tetap melestarikan tradisi dan budaya JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 yang diaktualisasi dengan kondisi masyarakat setempat, melatih masyarakat dengan ketrampilan kepariwisataan. Usaha-usaha untuk mengatasi kelemahan yang ada saat ini adalah melatih komite pariwisata dengan ketrampilan administrasi, database, dan internet, serta menawarkan paket wisata menginap di Desa Wisata Blimbingsari, misalnya paket tiga malam dengan jadual kegiatan yang terkonsentrasi di Desa Blimbingsari. Ucapan terima kasih Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian RISTEKDIKTI atas pendanaan penelitian ini melalui Skema Penelitian Produk Terapan (PPT) tahun anggaran 2016 sehingga dapat dilaksanakan dengan baik dan menghasilkan publikasi ilmiah. Terima kasih juga kepada dua reviewer anonim Jurnal Kajian Bali atas saran dan masukannya yang berguna untuk penyempurnaan artikel ini. Daftar pustaka Ratu. Adikampana. , 2016. AuStrategi Pemasaran Desa Wisata Blimbingsari Kabupaten JembranaAy. Jurnal Destinasi Pariwisata: , pp. Universitas Udayana. Denpasar. Kependudukan dan Demografi Kecamatan Melaya. AuDatabase Kependudukan Kabupaten Jembrana. Negara. BaliAy. Diakses dari http://jembranakab. id/ pada tanggal 20 Juni 2016. Fandeli. Chafid. Basics of Tourism Management of Natural (Dasar-dasar Managemen Kepariwisataan Ala. Yogyakarta: Liberty. Ferdinand. Agusty. Structural Equation Modeling Dalam Penelitian Manajemen. Semarang: BP UNDIP. Ghozali. Imam. Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Hair. Joseph F. William C. Black. Barry J. Babin. Raplh E. Anderson. and Ronald L. Tatham. Multivariate Data Analysis, 6th ed. Upper Saddle River. New Jersey: Pearson Education. Inc. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 Hlm. 165Ae186 Motivasi wisatawan mengunjungi desa wisata Blimbingsari. Indonesian Agricultural Department. AuAgrowisata Meningkatkan Pendapatan PetaniAy. Diakses dari http://database. pada 12 November 2006. Giampiccoli. Kalis. , 2012. AuCommunity-based tourism and local culture: the case of the amaMpondoAy. PASOS Revista de Tourism y Patrimonio Cultural, 10. , pp. South Africa : Nort- West University and Walter Sisulu University. Joshi. , 2012. AuA stakeholders networking for sustainable rural tourism development in Konkan Region of Maharashtra State India:Ay. Golden Research Thoughts, 1. , pp. Narayangaon: College of Agricultural Economics and Marketing Hall. Kelloway. , 1995. AuStructural equation modelling in perspectiveAy. Journal of Organizational Behavior, 16. , pp. Kester. AuInternational Tourism Results and Prospects for 2013Ay. United Nations World Tourism Organization (UNWTO). Madrid. Lobo. Goldman. Jolly. Wallace. Schrader. Parker. , 1999. AuAgritourism benefits agriculture in San Diego countyAy. California Agriculture, 53. , pp. Pitana. and Gayatri. , 2005. Sosiologi pariwisata: kajian sosiologis terhadap struktur, sistem, dan dampak-dampak pariwisata. Yogyakarta: Andi. Putri. Hemas Prabawati Jakti. Manaf. Asnawi. AuFaktor Ae faktor Keberhasilan Pengembangan Desa Wisata di Dataran Tinggi DiengAy. Jurnal Teknik PWK Volume 2 Nomor 3 2013: Undip. Semarang. Santoso. Tjiptono. , 2001. Riset Pemasaran konsep dan Aplikasi dengan SPSS. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Solimun. Structural equation modeling (SEM) Lisrel dan Amos. Malang: Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Solomon. M,. Consumer Behavior, 3rd edition. Engelwood Cliffs: Prentice-Hall. Sudjana. , 1996. Metode Penelitian. Bandung: Tarsito. Utama. Agrotourism as an alternative form of tourism in Bali Indonesia. Germany : Scholar-Press JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017 I Gusti Bagus Rai Utama dan I Wayan Ruspendi Junaedi Hlm. 165Ae186 Utama. , 2016. AuKeunikan Budaya dan Keindahan Alam sebagai Citra Destinasi Bali menurut Wisatawan Australia Lanjut UsiaAy. Jurnal Kajian Bali, 6. Universitas Udayana. Denpasar. Utama. Metodologi Penelitian Pariwisata dan Hospitalitas: dilengkapi studi kasus penelitian. Denpasar: Pustaka Larasan. Utama. , 2016. Pengantar Industri Pariwisata. Yogyakarta: Deepublish. JURNAL KAJIAN BALI Volume 07. Nomor 01. April 2017