Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika AUTHENTIC HAPPINESS REMAJA PEREMPUAN DARI KELUARGA BROKEN HOME DALAM HUBUNGAN ROMANTIS Tri Ayuningrum1. Triyono2* Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Universitas Raden Mas Said Surakarta ARTICLE INFO ABSTRACT Article History Be accepted: Oct 2023 Approved: May 2024 Published: June 2024 The condition of a broken home family impacts the inability to fulfill the roles and functions of the family for its members. For teenage girls from broken home families, romantic relationships become a way to get the attention and affection they do not receive from their families. This research aims to describe the authentic happiness of teenage girls who are victims of broken homes and are in romantic relationships in Kartasura District. Sukoharjo Regency. Central Java. This study is a qualitative phenomenological research involving four teenage girls aged 18-22 years from broken home families who are currently in romantic relationships in the form of dating. Informants were selected using purposive sampling techniques. The data collection techniques for this research used semistructured interviews, participant observations, and documentation through social media. The credibility of the data was ensured using method triangulation techniques by comparing the results of interviews, observations, and Data analysis was performed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) techniques. The results of the study show that the authentic happiness of teenage girls from broken home families who are in romantic relationships is formed by their ability to rise from the adversity of family conditions, a positive interpretation of life, a desire to improve the future, and supportive social support from family, friends, and partners. External factors that influence this are religiosity and education. For teenage girls from broken home families, engaging in romantic relationships can minimize psychological problems due to family dysfunction. On the other hand, romantic relationships in teenage girls from broken home families face several obstacles that are prone to leading to toxic relationships. Keywords : broken home. toxic relationship. Alamat Korespondensi: Jl. Pandawa. Dusun IV. Pucangan. Kec. Kartasura. Kabupaten Sukoharjo. Jawa Tengah 57168 E-mail: p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 triayuningrum668@gmail. triyonoalarief@staff. Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 INFO ARTIKEL ABSTRAK Sejarah Artikel Diterima : Oktober 2023 Disetujui: Mei 2024 Dipublikasikan: Juni 2024 Kondisi keluarga yang broken home berdampak pada tidak terpenuhinya peran dan fungsi keluarga bagi anggota keluarga. Bagi remaja perempuan yang berasal dari keluarga broken home, hubungan romantis menjadi cara mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang tidak didapatkan dari keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran authentic happiness remaja perempuan korban broken home yang menjadi hubungan romantic di Kecamatan Kartasura. Kabupaten Sukoharjo. Jawa Tengah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologis yang melibatkan empat remaja perempuan berusia 18-22 tahun dari keluarga broken home yang sedang menjalin hubungan romantis dalam bentuk berpacaran. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengambilan data penelitian mengguanakan wawancara semi terstruktur, observasi partisipan, dan dokumentasi melalui sosial media. Kredibilitas data menggunakan teknik triangulasi metode dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa authentic happiness remaja perempuan dari keluarga broken home yang menjalani hubungan romantis terbentuk atas adanya kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan kondisi keluarga, pemaknaan kehidupan yang positif, keinginan memperbaiki masa depan, serta adanya dukungan sosial yang suportif dari keluarga, teman, dan kekasih. Faktor eksternal yang mempengaruhi adalah religiusitas dan pendidikan. Bagi remaja perempuan dari keluarga broken home, menjalani hubungan romantis mampu meminimalkan permasalahan psikologis akibat disfungsi keluarga. Disisi lain, hubungan romantis pada remaja perempuan dari keluarga broken home menemui beberapa kendala yang rentan mengarah pada toxic relationship. Kata Kunci: authentic happiness. PENDAHULUAN Broken home berkaitan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis. Broken home dapat disebabkan faktor kematian salah satu atau kedua orang tua, kedua orang tua berpisah atau bercerai . , hubungan kedua orang tua tidak baik . oor marriag. , hubungan orang tua dengan anak tidak baik . oor parent-child relationshi. , suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan . igh tension and low warmt. , orang tua sibuk dan jarang berada di rumah . arentAos absenc. dan salah satu atau kedua orang tua mempunyai kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan . ersonality or psychological disorde. (Detta & Abdullah, 2. Willis . mendefinisikan, broken home dalam dua aspek yaitu, keluarga yang tidak utuh yang disebabkan salah satu orang tua meninggal atau bercerai, dan anak yang orang tua tidak bercerai namun sering tidak memperlihatkan hubungan kasih sayang atau sering bertengkar. Bagi suami atau istri, broken home berdampak pada munculnya perasaan bersalah dan khawatir akan perkembangan psikologis anak karena kekurangan figur ayah/ibu, lebih selektif untuk menjalin hubungan kedepannya, dan trauma akan sisa kekerasan baik verbal maupun nonverbal dari pasangan dan keluarga pasangan (Sary & Rahmalia, 2. Selain itu, juga mengalami kesulitan mengontrol emosi di lingkungan sosial karena rasa malu dan tertekan akan status sosialnya yang baru (Faishol & Aryani, 2. Situasi broken home bagi anak secara afektif memunculkan rasa sedih, suka melamun menghayalkan keluarga yang utuh, mudah tersulut emosi, diliputi oleh perasaan negatif seperti marah, benci, depresi, merasa bersalah, sakit hati, bahkan dendam (Paramitha et al. , 2. Secara kognitif berupa terganggunya proses belajar karena konsentrasi belajar anak digantikan oleh harapan agar keluarganya kembali, menyalahkan takdir, serta ketidakpercayaan pada lingkungan sekitar akibat pengabaian dan ketidakjujuran orang tua (Zuraidah, 2. Adapun secara perilaku dampak yang terlihat adalah perilaku bermasalah dan menyimpang akibat dari penyesuaian diri yang salah, seperti rasa malu, gugup, tidak tenang, menarik diri baik verbal maupun nonverbal, hiperaktif, cenderung melanggar aturan sekolah, hingga dapat berpotensi Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 pada kenakalan remaja seperti merokok, narkoba, dan pergaulan bebas (Zuraidah, 2. Kondisi broken home bagi perempuan memiliki kerentanan psikologis lebih besar. Wykes . menyebut perempuan cenderung mudah hancur, lemah, dan tidak dapat berbuat apa-apa. Dapat dilihat juga dari kepribadian perempuan yang sangat kompleks, unik dan berbeda -beda antara perempuan satu dengan perempuan lain. Sejalan dengan beberapa pendapat peneliti menurut Erikson . alam Nurhayati, 2. , perempuan memiliki kepribadian yang pasif, merawat, membimbing, membela, menyayangi, lemah lembut, suka kedamaian. Rusydi . menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan sebongkah perasaan yang dapat dirasakan berupa perasaan senang, tenteram, dan memiliki kedamaian (Pujiwati, 2. Karena, kebahagiaan merupakan konstruksi yang dibentuk dari perasaan positif seperti kegembiraan, sukacita, harapan, minat, kepercayaan, cinta, dan jarang adanya perasaan negatif seperti kesedihan, rasa bersalah, kebencian, dan kemarahan, serta adanya kepuasan dalam kerja, pendidikan, dan kehidupan pribadi (Myers & Diener, dalam Permana, 2. Seligman . menjelaskan kebahagiaan sebagai AuAuthentic HappinessAy yakni sebuah kebahagiaan sejati yang tidak sementara dan mengacu pada emosi positif yang dirasakan individu melalui aktivitas aktivitas positif yang disukai oleh individu (Ardani & Istiqomah, 2. Seligman . mengklarifikasikan emosi positif menjadi 3 kategori yaitu hubungan dengan masa lalu, sekarang, dan masa depan. Emosi positif terkait dengan masa depan mencakup, optimisme, harapan, keyakinan dan kepercayaan. Emosi positif terkait masa lalu mencakup, kepuasan, pemenuhan, kebanggaan, dan ketenangan. Sedangkan emosi positif yang mencangkup masa kini adalah kesenangan (Ardani & Istiqomah, 2. Seligman . menguraikan authentic happiness dalam lima aspek , yakni terjalinnya hubungan positif dengan orang lain, keterlibatan penuh, penemuan makna dalam keseharian, optimis yang realistis, dan resiliensi. Remaja atau "adolescere" diartikan sebagai 'tumbuh menjadi dewasa' atau 'dalam perkembangan menjadi dewasa' (Desmita, 2. WHO (World Health Organizatio. mengungkapkan bahwa remaja berada dalam rentang usia 10-24 tahun (Ragita & Fardana, 2. Masa remaja dibaratkan sebagai masa topan badai . trum un dran. dengan gejolak pertentangan nilai diri dan kebudayaan yang tinggi dan menempati usia 12-25 tahun (Sarwono, 2. Pada fase remaja, dibutuhkan peran keluarga yang sangat besar terutama dalam hal pembentukan dan pengembangkan kepribadian remaja hingga nanti menginjak dewasa. Peran orang tua adalah membantu mereka mengenali potensi diri, mengajari tentang nilai-nilai, tujuan, dan identitas diri (IPPI-HIMPSI, 2. Serta membantu remaja memahami peran-peran tertentu yang akan menentukan cara bertingkah laku terhadap orang lain terutama dalam masyarakat luas (Gerungan, 2. Perkembangan psikososial pada masa remaja dikategorikan oleh Erik Erikson sebagai fase identitas versus kebingungan identitas yang identik dengan tergabungnya remaja dalam kelompok masyarakat untuk mengembangkan pikiran dan perasaannya dalam memperjelas identitasnya berbekal keterampilan yang telah dipelajari selama pertengahan masa kanak-kanak (Papalia & Fieldman, 2. Pada fase ini individu mulai menyadari adanya kesunyian dalam diri mereka yang membuat mereka berusaha mencari pemenuhan dengan menjalin hubungan interpersonal untuk menemukan penghayatan diri dan kemampuan kemandiriannya (Ali & Asrori, 2. Hubungan interpersonal ini membantu perkembangan dan pembentukan kepribadian Devito . mengungkapkan bahwa manusia membutuhkan kehadiran orang lain untuk memperoleh stimulasi atau rangsangan baik yang bersifat fisik maupun emosional serta masukan dari orang lain demi pengembangan ide-idenya (Wisnunwardhani & Mashoedi, 2. Rangsangan yang bersifat fisik itu seperti menyentuh atau disentuh untuk mengeksplorasi emosi yang dimilikinya seperti tertawa, menangis, kehangatan, persahabatan, dan cinta (Wisnuwardhani & Mashoedi, 2. Hubungan romantis dalam bentuk perilaku berpacaran menjadi salah satu hubungan interpersonal yang lazim dilakukan seseorang pada masa remaja. Hubungan romantis merupakan pengembangan dari hubungan interpersonal yang didasari oleh adanya cinta (Lestari & Kusuma. Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 Umumnya, fase percintaan di usia remaja berada pada tahap romantic love yang melibatkan intimacy . dan passion . tanpa adanya komitmen. Stenberg . alam Wisnuwardhani & Mashoedi, 2. mengemukakan bahwa terdapat tiga dimensi cinta, yakni intimacy . , passion . , dan commitment . Setiap komponen ini akan terbagi dan bervariasi dari segi intensitasnya sehingga tercipta tipe cinta yang berbeda (Wisnuwardhani & Mashoedi, 2. Berbeda dengan remaja pada umumnya, remaja yang berasal dari keluarga broken home memiliki pemahaman komitmen yang berbeda karena kurangnya peran orang tua. Karena, masa ketertarikan mereka akan cara orang tua membuat keputusan atau komitmen dijawab dengan konflik yang justru membuat mereka berpikir negatif akan komitmen itu sendiri. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja broken home cenderung memiliki permasalahan kepercayaan . rust issu. sehingga lebih selektif dalam membina hubungan. Hal ini karena perceraian, perpisahan, dan pertengkaran meninggalkan pandangan buruk terhadap diri sendiri, keluarga, dan pernikahan (Ndari, 2. Selain itu, terdapat rasa takut jika mendapat penolakan dari calon pasangan, takut ditinggalkan, dan takut mempercayai orang yang salah (Vidanska. Arifin, & Prihandini, 2. Studi pendahuluan yang dilakukan terhadap 3 perempuan remaja akhir dengan latar belakang keluarga broken home, yakni AL . SP . , dan PT . di Kartasura. Sukoharjo. Jawa Tengah mendapatkan temuan bahwa alasan menjalin hubungan romantis adalah pemenuhan kebutuhan kasih sayang, mendapatkan figur seorang ayah, dan untuk memperoleh kebahagiaan. Keberadaan pasangan mampu memberikan support system tersendiri bagi mereka dalam melanjutkan kehidupan (Wardani, 2. Hubungan romantis membantu ketiga informan lebih percaya diri untuk terjun di masyarakat, serta mampu menjadi tempat keluh kesah yang memberikan dukungan bagi mereka. Setelah menjalin hubungan romantis, ketiga informan merasa bahwa hariAehari mereka lebih bermakna dan bahagia. Hal ini karena mereka memiliki teman bercerita dan seseorang yang memprioritaskan mereka. Walaupun sebelumnya mereka telah memiliki dukungan dari teman maupun saudara. Ketika emosi negatif muncul baik dari lingkup keluarga maupun sosial mereka dapat menetralkannya dengan bercerita pada Dengan ini, mereka juga perlahan belajar memaafkan karena memiliki padangan tentang keluarga di kemudian hari. Mereka berpikir bahwa kerabat dekat dan sahabat juga memiliki kehidupan pribadi masingAemasing yang tidak selalu ada untuk mereka. Karena terkadang mereka juga membutuhkan figur seorang ayah untuk mengontrol aktivitas mereka agar tidak terjerumus pada hal negatif. Sejalan dengan faktor yang mempengaruhi kebahagiaan remaja broken home sendiri adalah adanya dukungan sosial dari keluarga, teman, dan kekasih (Wardani, 2. Selain itu kebahagiaan juga didapatkan karena adanya proses pemaafan dan pemaknaan dalam kehidupan (Christina Saliha & Kurniawan, 2. Van de Bongardt et al. menyebut hubungan romantis yang berkualitas pada remaja berdampak positif terhadap perasaan bahagia, harga diri, kompetensi sosial dan persepsi popularitas di kalangan teman sebaya, bahkan pacar bisa menjadi dukungan sosial baru yang penting. Hubungan romantis tidak selalu berakhir positif. Hubungan romantis yang dijalani oleh remaja broken home sedikit berbeda dengan remaja pada umumnya. Mereka sangat ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai dan mencintai karena cinta adalah satu hal yang belum pernah mereka alami dalam hidup mereka (Falculan et al. , 2. Di sisi lain, ada rasa takut akan memiliki akhir hubungan yang sama dengan orang tuanya (Papalia & Feldman,2. Seperti halnya hasil penelitian dari Mufidah dan Dewi . , yang menunjukkan bahwa salah satu informan terjebak dalam toxic relationship selama 6 bulan dari 19 bulan berpacaran karena ketergantungan informan pada kasih sayang dari kekasihnya. Akan tetapi, hubungan romantis memberikan kesempatan pada remaja untuk belajar bagaimana menjaga hubungan dan keintiman, mengontrol emosi, serta membangun konsep diri yang positif (Honghao. Po, & Tianyu, 2. Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 Penelitian ini ingin mengkaji kembali bagaimana gambaran kebahagiaan remaja perempuan dari keluarga broken home dalam hubungan romantis. Terlebih lagi, salah satu tugas perkembangan remaja adalah berhubungan sosial, menjadi lebih akrab dengan kawan dan menyelami hubungan dengan lawan jenis yang sangat penting bagi perkembangan psikososial (Ali & Asrori, 2. Sehingga perlu diteliti peran komponen Ae komponen sosial dalam Terutama pada remaja perempuan yang mengambil peran penting dalam kehidupan di mana mereka dituntut untuk memiliki aktivitas yang melibatkan pengek spresian emosi dalam konteks pengasuhan, seperti menjadi ibu, guru, dan lainnya (Amaliya, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana gambaran authentic happiness remaja perempuan dari keluarga broken home yang menjalin hubungan romantis dan bagaimana hubungan romantis berperan dalam authentic happiness remaja perempuan dari keluarga broken METODE Penelitian ini menggunakan perspektif kualitatif feomenologi yang bertujuan untuk mengetahui pemaknaan pengalaman hidup yang dimiliki oleh individu. Partisipan dalam penelitian ini adalah empat informan utama dan dua informan tambahan. Pemilihan informan penelitian ditentukan dengan teknik tekhnik purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut: Perempuan remaja akhir dari keluarga broken home akibat perceraian/pengabaian dan berusia 18-22 tahun yang belum menikah. Perempuan dikatakan lebih ekspresif dalam menanggapi suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan (Safarina & Nasution, 2. Hal ini, terkait peran perempuan dalam pengasuhan yakni sebagai ibu atau profesi lain seperti guru, perawat, dan lainnya. Pada usia ini, remaja berfokus pada dirinya sediri,lebih idealis, logis, abstrak, bercita-cita tinggi, mempunyai energi besar untuk menetapkan identitas diri, dan ingin mencapai ketidaktergantungan emosional (Diananda, 2. Bersamaan dengan ini itu, konflik dengan orang tua mulai berkurang dan mereka mulai menguji hubungan antara pria dan wanita terhadap kemungkinan hubungan yang permanen (Wulandari, 2. Sedang atau pernah menjalani hubungan romantis berpacaran lebih dari 1 tahun dan merasakan dukungan emosional dari kekasihnya. Hubungan yang lebih lama memiliki tingkat dukungan, ketergantungan, dan interaksi harian yang lebih besar. Dengan demikian, pasangan romantis semakin menonjol sebagai penyedia dukungan (Lantagne & Furman, 2. Sumber data primer dalam penelitian ini berupa wawancara mendalam . n-depth intervie. semi terstruktur pada informan utama dan significan others yakni sahabat informan dan observasi partisipan, yakni dalam observasi ini peneliti mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya. Teknik pencatatan yang digunakan adalah teknik narrative description dengan pola behaviour descriptive statement low inferential yang berfokus pada menggambarkan tingkah laku secara apa adanya yang menjadi target observasi secara narasi (Kusdiyati & Fahmi,2. Adapun sumber data sekunder sebagai pendukung dilakukan melalui metode dokumentasi yang diperoleh dari sosial media informan penelitian. Sebelum proses pengambilan data dimulai, informan diberikan informed consent. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dengan bantuan software ATLAS. ti dalam pengkodingannya. Teknik analisis data IPA dianggap sesuai karena teknik ini berusaha untuk meneliti bagaimana seorang individu memaknai pengalaman penting dalam hidupnya dalam latar alami (Smith. Flower & Larkin. Analisis data dengan teknik IPA, menurut Kahija . dengan tahapan: . Penghayatan . Pencatatan awal . nitial notin. Pencatatan dilakukan dengan membuat tiga kolom tabel, yakni : tabel transkrip orisinal, kolom tengah untuk catatan Ae catatan awal eksploratoris berupa . Descriptive comments. Linguistic comments. Conceptual comments. , dan kolom paling kanan adalah tema emergen. Merumuskan tema emergen. Perumusan tema . Mencari pola-pola yang sama antar kasus, . Mendeskripsikan tema Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis data yang dilakukan menunjukkan bahwa authentic happiness remaja perempuan dari keluarga broken home dalam hubungan romantis terbentuk atas beberapa hal, yakni : . Kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan, . Upaya memaknai kehidupan, . Upaya memperbaiki masa depan, . Dukungan sosial yang suportif. Adapun penjelasan hasil tema superordinat ialah sebagai berikut. Kemampuan Bangkit dari Keterpurukan Emosi negatif akibat disfungsi keluarga masih sering mereka rasakan hingga saat ini. Akan tetapi mereka dapat mengendalikannya hingga tidak berlarut-larut menyakiti mereka. SY telah memahami bahwa beberapa permasalahan seperti permasalahan perekonomian yang menyebabkan tertukarnya peran dalam rumah tangga. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan perselingkuhan ayahnya yang menghadirkan adik tiri di rumahnya telah menjadi penyebab retaknya keharmonisan keluarganya walaupun tidak berakhir dengan perceraian. Emosi negatif seperti perasaan iri ketika perhatian berpusat pada adik tirinya dan juga beberapa pertengkaran antara ayah dan ibunya dan dia harus menjadi penengah. Ketika emosi negatif itu datang SY mengalihkannya dengan berorganisasi, tidur, dan main bersama teman - temannya. Informan AF. AL, dan RN sampai saat ini masih belum mengetahui penyebab perceraian di keluarga mereka. Ketiga informan merasakan emosi negatif pasca perceraian seperti perasaan iri, kesepian, dan sedih. Informan RN dan AL berusaha mengalihkan rasa sedihnya dengan kegiatan produktif mengikuti UKM, organisasi kemahasiswaan, dan bekerja. Sedangkan AF berfokus pada kegiatan seperti makan, main hp, jalan-jalan sendirian dan menyelesaikan tugas Ketiganya juga sering berinteraksi dengan teman - temannya untuk mengalihkan rasa Keempat informan telah menerima dan memaafkan keputusan orang tua mereka. Hal ini karena bagi mereka sudah tidak ada lagi yang bisa diubah dan mereka harus melangkah maju dengan harapan permasalahan yang mereka alami tidak terjadi pada keluarga mereka dikemukakan hari. Keempat informan juga masih menjaga hubungan dengan keluarga. Bagi SY dan AL keluarga sangat penting. Walaupun berjauhan. AL masih menjaga komunikasi baik dengan mengunjungi di hari libur panjang maupun berkomunikasi secara daring dengan sosial media. RN juga masih berusaha menjaga komunikasi dengan keluarganya secara daring walaupun bisa dikatakan jarang. Bagi AF walaupun sedikit terbebani secara emosional karena interaksi mereka tidak melibatkan ikatan emosional, ia tetap berusaha untuk menikmati waktunya bersama Seperti membicarakan hal yang acak, berbagi tugas, dan perihal finansial. Sisi religiusitas juga mempengaruhi mereka dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dalam Ketika dilanda masalah keempat informan percaya bahwa mereka bisa mengatasinya. Mereka selalu berpikir positif bahwa Allah memiliki maksud tersembunyi dibalik kesulitan yang mereka alami. Seperti persepsi AL yang merasa bahwa terkadang kegagalan adalah upaya Allah SWT untuk menyelamatkan dirinya. Disisi lain, bagi RN Allah adalah tempat bercerita tentang beberapa hal yang tidak bisa dia ceritakan pada manusia. Terdapat perbedaan dalam hal cara untuk menyelesaikan masalah. AF selalu menerapkan berpikir positif dan LOA (Law of Attractio. disamping mencari solusi dalam menyikapi Tidak jauh berbeda. SY dan AL menyikapi permasalahannya dengan berpikir positif dan mencari solusi disamping menangis, mengeluh, dan berdoa. Berbeda dengan RN yang lebih memilih fokus pada masalahnya yakni dengan melakukan evaluasi dan memperbaikinya di kemudian hari. Upaya untuk Memaknai Kehidupan Keempat informan saat ini berupaya untuk memaknai kehidupan yang mereka jalani dengan berusaha menikmati kegiatan mereka sehari - hari. SY dan AL mengambil hal positif dari permasalahan keluarga yang mereka alami seperti sarana untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri. Mereka juga bersyukur dalam menjalankan keseharian mereka saat ini seperti masih berkecukupan dan tidak kekurangan, bisa bermain bersama teman-teman, dan bisa Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 merasakan kasih sayang keluarga. Saat ini mereka berfokus untuk mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan seperti menjalankan hobi dan memaknai waktu bersama keluarga. SY memiliki hobi menyanyi, olahraga, melihat konser, dan bermain sosial media. AL memiliki hobi olahraga, jalan - jalan, outbound, dan memasak. Berbeda dari kedua informan di atas. AF dan RN masih berusaha memaknai kesehariannya karena belum merasakan adanya perasaan senang yang dominan dalam kesehariannya. Bagi AF saat ini ia akan merasa bahagia jika ada yang bisa mengerti dirinya akan tetapi tidak banyak orang yang bisa mengerti dirinya secara emosional. Sehingga ia hanya bisa menerima keadaannya. Bagi RN perasaan dalam menjalani kesehariannya sebatas biasa saja. Hal ini karena ia masih mencari hal-hal yang membuatnya bisa memaknai kesehariannya dan masih ada beberapa impiannya yang belum terwujud. Akan tetapi tidak jauh berbeda dengan AL dan SY, mereka juga berusaha menikmati kesehariannya dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan bagi AF memiliki hobi make up, jajan, membuat video unboxing atau konten video lainnya, dan bermain bersama teman - temannya. Sedangkan RN fokus pada menikmati aktivitasnya yakni kuliah, bekerja, dan bermain bersama teman - temannya. Disisi lain, sisi spiritualitas juga membantu keempat informan untuk lebih memaknai Keempat informan lebih ikhlas dan sanggup menerima kehidupannya, lebih bersyukur dengan keadaan, dan mereka juga dapat mengambil hikmah dari takdir yang mereka jalani saat Selain itu mereka memetik hal positif dari rasa ikhlas yang mereka rasakan. SY menyadari beberapa kemudahan rezeki dan perasaan kehangatan dari keluarga setelah mengikhlaskan dan Begitupun AL yang merasa menjadi pribadi yang lebih baik setelah belajar dari Upaya Memperbaiki Masa Depan Keempat informan meyakini bahwa mereka mampu memiliki masa depan yang baik. Hal ini karena mereka menaruh kepercayaan pada diri mereka, memiliki impian yang positif, dan berupaya mempersiapkan masa depan mereka dari sekarang. Kepercayaan diri yang mereka miliki tidak lepas dari adanya sisi religiusitas, dukungan sosial, dan proses belajar dari pengalaman yang mereka miliki. Keempat informan yakin bisa mewujudkan impiannya dengan tekad yang mereka miliki dan bantuan Allah SWT. Di samping itu, bagi SY dukungan baik finansial dan psikologis dari orang tuanya turut membantunya. Sedangkan bagi AL, ketahanannya dalam menghadapi perjalanan kehidupannya hingga saat ini juga mampu membantunya mewujudkan impiannya. Keempat informan memiliki harapan positif pada diri sendiri dan masa depan karir serta masa depan keluarganya. Keempat informan berharap mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu menghadapi segala situasi yang ada di depan nantinya. Dalam hal karir. AF berharap dapat memiliki klinik, kantor MUA, dan butik suatu hari nanti. SY berkeinginan memiliki tempat praktik sendiri dengan pekerjaan yang tetap seperti ibunya. AL tidak menetapkan profesi khusus yang terpenting ia mampu sukses dengan pekerjaan yang baik dan halal. Sedangkan RN bertekad memiliki tempat usaha sendiri. Keempat informan juga telah mempersiapkan beberapa hal dari sekarang. Mereka berfokus pada pemenuhan aspek finansial dan non finansial. Seperti halnya RN yang telah berpikir untuk mencari modal dan menentukan tempat usaha lebih dahulu. Keempat informan juga memiliki keinginan untuk memiliki keluarga yang harmonis belajar dari pengalaman keluarga yang mereka miliki. Yakni keluarga yang saling support, saling menyayangi, dan memiliki komunikasi yang baik. Untuk itu mereka berupaya untuk belajar menjadi orang tua yang baik. Salah satu caranya adalah mencari pasangan yang baik sesuai kriteria mereka. AF juga belajar mengenai ilmu parenting walaupun tidak fokus untuk saat ini dan hanya random melalui sosial media. Selain itu, ia juga berupaya untuk memaafkan dirinya sendiri agar ia tidak membandingkan masa lalunya dengan anaknya nanti. Bagi SY, ia belajar dari orang tuanya sendiri terutama perihal komunikasi dan parenting yang tetap memfasilitasi anak untuk berekspresi seperti yang orang tuanya berikan padanya saat ini. Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 Walaupun demikian, keempat informan memiliki prioritas pada saat ini. Mereka mengutamakan pendidikan dan karirnya terlebih dahulu. Perihal pasangan mereka belum terlalu mempersiapkannya dengan detail. Dukungan Sosial yang Suportif Keempat informan memiliki dukungan sosial yang suportif dan mampu membantu mereka meminimalkan permasalahan psikologis, membantu memecahkan masalah, membantu sehat secara fisik, hingga mampu membantu membentuk harga diri yang positif. Dukungan ini berasal dari keluarga, teman, atau kekasih. AF merasakan dukungan sosial yang suportif dari kekasihnya. Hal ini karena kekasihnya mampu meminimalkan permasalahan psikologisnya dengan memvalidasi emosinya. Bagi, kekasihnya selalu ada untuknya, memprioritaskan dirinya, mampu memberinya semangat, dapat menjadi tempat bercerita, dan mampu membantunya mengatasi masalah. AF tidak merasakan dukungan emosional dari keluarganya. Karena setelah perceraian tidak ada anggota keluarganya yang bisa memvalidasi emosinya. Akan tetapi AF tetap mendapatkan dukungan finansial dari Seperti halnya AF. RN juga tidak merasakan dukungan emosional dari keluarga dengan Hal ini karena setelah perceraian mereka jarang berinteraksi bahkan secara daring. Akan tetapi. RN merasa terangkul dengan kehadiran tantenya. Tante RN sering menghubunginya, menanyakan kabar, bahkan membantunya memecahkan masalahnya. Berbeda dengan AF dan RN. SY mendapatkan dukungan sosial yang suportif lebih dominan dari keluarganya. Bagi SY keluarga adalah tempat pulang. SY merasakan bahwa orang tuanya telah berusaha untuk menebus kesalahannya dahulu dengan berusaha membangun kedekatan dengannya seperti pergi bersama, menyediakan sarapan, mengajak bercanda, mengobrol, dan lainnya. SY juga merasakan validasi emosi dari dua kakak laki-lakinya. Saudara yang menjadi tempat curhat baginya selama ini dan selalu memprioritaskan dirinya. AL menganggap keluarga juga memberikan dukungan penting baginya baik secara materi maupun emosional. Walaupun kasih sayang orang tuanya telah terbagi, ia juga memperoleh kasih sayang tambahan dari keluarga sambung ibu dan ayahnya. Seperti yang AL sampaikan bahwa ayah sambungnya sangat baik padanya. Keberadaan teman bagi AF tidak mampu membantunya mengatasi permasalahan psikologisnya. Definisi teman bagi AF berbeda, yakni teman mampu diandalkan, mampu memvalidasi emosinya, dan mampu meluluhkannya. Walaupun demikian. AF tetap berinteraksi dengan teman karena ia merasa lebih baik setelah berinteraksi dengan teman-temannya walaupun tidak secara emosional yang mendalam. Berbeda dengan AF, bagi AL. SY, dan RN teman adalah sumber dukungan sosial yang sangat suportif bagi mereka. RN dan AL yang jauh dari kedua orang tuanya dan tinggal bersama kakek dan neneknya sering kali menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Teman mampu memberikan semangat, motivasi, hiburan, dan mampu menjadi tempat cerita mereka yang utama. Walaupun keberadaan kekasih membuat mereka bahagia, teman tetap menjadi tempat cerita yang SY menganggap bahwa teman adalah sosok penting yang mampu membuatnya menikmati Walaupun ia lebih bisa terbuka saat bercerita jika dengan kekasihnya. Bahkan untuk hal-hal kecil seringkali ia ceritakan. Secara sederhana tema superordinat dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 Tabel 1. Tema Superordinat Tema Superordinat Tema Emergen Kemampuan untuk bangkit dari Kapasitas individu untuk bangkit dari keterpurukan Memaafkan Nilai Religiusitas Upaya Memaknai Kehidupan Berusaha menikmati keseharian Menikmati keseharian Memaknai setiap momen kehidupan Nilai spiritualitas Pendidikan Upaya memperbaiki masa depan Penilaian positif pada diri sendiri di masa depan Memiliki harapan positif pada masa depan Mempersiapkan masa depan Dukungan sosial yang suportif Memiliki dukungan sosial Dukungan dari keluarga Dukungan dari teman Dukungan dari kekasih Pendidikan Gambaran authentic happiness remaja perempuan korban broken home dalam hubungan romantis di Kecamatan Kartasura terbentuk atas proses pemaafan terhadap masa lalu, optimisme akan masa depan, perencanaan cita-cita, adanya pandangan positif mengenai kegagalan, dan terpenuhinya lima aspek authentic happiness dari Martin Seligman sebagaimana penelitian dari Saliha dan Kurniawan . Di sisi lain, faktor religiusitas dan spiritualitas turut mendukung terpenuhinya lima aspek tersebut. Honghao ,Po, & Tianyu . dalam penelitiannya mengemukakan hubungan romantis remaja berpengaruh positif terhadap pertumbuhan kemampuan interpersonalnya terutama perihal menjaga hubungan dan keintiman, mengontrol emosi, serta membangun konsep diri yang positif. Saikia . dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa keadaan keluarga broken home menyebabkan remaja mengalami kecenderungan menarik diri secara emosional dengan memendam perasaannya. Keempat informan memiliki kehati-hatian dalam hal terlibat secara emosional dengan orang lain. Informan SY meyakini bahwa semakin intens ia bertemu dengan teman-temannya maka akan terjadi konflik yang merenggangkan hubungan mereka. Di sisi lain, ia juga takut terlalu berekspektasi pada orang lain karena takut sakit hati jika ia tidak mendapatkan pendengar yang baik untuk cerita Ae ceritanya. Hal yang sama dialami AF yang telah lebih dulu membangun benteng secara emosional dengan keluarganya. Baginya, tidak ada yang mampu memahaminya secara emosional. Informan AL dan RN cenderung sedikit tertutup perihal kondisi emosionalnya bahkan pada orang Ae orang terdekatnya seperti pada teman dan orang tuanya. Ndari . dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa keadaan keluarga broken home menyebabkan remaja mengalami kesulitan mengontrol emosi karena di keluarga ia kesulitan melampiaskan emosinya. Informan SY menyadari bahwa ia lebih sensitif akibat keadaan SY sulit mentoleransi kesalahan orangAeorang yang di sekitarnya dan memilih untuk menjauhi orang tersebut jika terjadi masalah. Informan AF menjadi sensitif dalam pertemanan, ia akan merasa tidak dianggap jika teman dekatnya pergi bersama. Mistiani . mengungkapkan bahwa disfungsi keluarga melahirkan perasaan asing dan merenggangkan hubungan intim antara suami dan istri bahkan hingga komunikasi mereka benarbenar terputus serta fungsi mereka dalam keluarga dapat terabaikan. Orang tua keempat informan tidak pernah saling berkomunikasi atau bertemu. Orang tua RN dan AL memutuskan untuk Keempat informan merasakan pengabaian semenjak renggangnya hubungan orang tua mereka. RN dan AL berjauhan secara fisik dengan orang tua dan jarang bertemu. Akan tetapi, pada informan AL komunikasi dengan orang tua masih terjalin dengan baik hingga saat ini Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 walaupun kedua orang tuanya tidak berhubungan. Keempat informan menghadapi keadaan broken home tersulit pada fase remaja. Mereka mulai diperlihatkan dengan keadan keluarga yang harmonis di sekitarnya dan timbul emosi negatif seperti sedih, iri, dan kesepian. Oleh karena itu, keempat informan berusaha mengalihkan rasa sedih mereka dengan kegiatan Ae kegiatan di luar keluarga. Seperti halnya Informan AL dan SY yang menyibukkan diri dengan mengikuti ekstrakulikuler di masa SMA dan organisasi kemahasiswaan di bangku kuliah. Begitupun dengan RN yang menyibukkan diri dengan bekerja dan mengikuti kegiatan kemahasiswaan di kampusnya. Sebagaimana ungkapan Ali dan Asrori . bahwa pada fase ini individu mulai menyadari adanya kesunyian dalam diri mereka yang membuat mereka berusaha mencari pemenuhan dengan menjalin hubungan interpersonal untuk menemukan penghayatan diri dan kemampuan kemandiriannya (Ali & Asrori, 2. Kelompok menjadi sarana bagi remaja untuk mengembangkan pikiran dan perasaannya guna memperjelas identitasnya berbekal keterampilan yang telah dipelajari selama pertengahan masa kanak-kanak (Papalia & Feldman, 2. Jika dihadapkan dengan kelompok yang salah, remaja dapat terlibat dalam perilaku agresi, depresi, balas dendam, alkohol, kejahatan, narkoba, dan sebagainya serta mengalami beberapa masalah dalam fungsi sosial, emosional, dan pendidikan (Saikia, 2. Akan tetapi, lain halnya dengan keempat informan yang mampu bergabung dengan kelompok yang mampu mengarahkan mereka pada hal positif. Faktor yang mengiringi keberhasilan menjalani fase ini dari keempat informan adalah keberadaan dukungan sosial yang suportif. Erniati et al. mengartikan dukungan sosial sebagai kumpulan dukungan dari proses sosial, emosional, kognitif, dan perilaku yang berlangsung dalam sebuah hubungan yang berasal dari pasangan, anggota keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial. Dukungan sosial ini membuat informan mampu mengembangkan harga diri, meminimalkan masalah-masalah psikologis, mempelajari kemampuan pemecahan masalah yang adaptif, dan membuat individu menjadi sehat secara fisik sebagaimana ungkapan Ardani & Istiqomah . Mistiani . mengungkapkan, komunikasi setelah renggangnya keluarga mempunyai peranan yang sangat penting. AL masih merasakan dukungan emosional dari orang tuanya melalui komunikasi dan bertemu langsung saat hari libur panjang. Begitupun dengan SY, saat ini orang tuanya mulai membangun kembali komunikasi dan kelekatan emosi dengan mengganti waktu yang telah terbuang dahulu. Berbeda halnya dengan RN dan AF, setelah perceraian orang tua, mereka tidak mendapatkan dukungan emosional dari orang tuanya karena minimnya komunikasi di antara mereka. RN yang tinggal berjauhan jarang sekali berkomunikasi atau bertemu dengan orang tuanya secara langsung. Sedangkan AF, merasa diabaikan secara emosional dari keluarganya karena tidak mendapatkan validasi secara emosi. Leslie (Ramadhani & Krisnani, 2. mengungkapkan bahwa dampak yang dialami anak karena perceraian orang tua berkaitan dengan kualitas hubungan keluarganya sebelu m Anak yang merasakan kebahagiaan akan memiliki dampak negatif lebih berat daripada anak yang kurang bahagia dalam keluarga sebelumnya. Pada informan AL dan RN dampak negatif perceraian orang tua terpengaruhi oleh pengasuhan yang mereka dapatkan. menyadari perasaan kehilangan sosok orang tua saat kepergian neneknya karena sejak kecil tinggal dengan nenek dan kakeknya hingga baginya nenek dan kakeknya adalah orang tuanya sendiri yang selalu menemaninya. Pada informan RN, sejak kecil ia dididik untuk fokus pada permasalahan, memisahkan urusan pribadi dan umum, serta meminimalkan keluhan sehingga setelah perceraian ia bisa lebih fokus pada dirinya. Begitu pula AF, ia merasa lega karena perceraian orang tua dianggap solusi terbaik daripada ia harus menyaksikan pertengkaran yang menakutkan. Lain halnya dengan SY yang hidup diliputi kasih sayang keluarganya menolak ketika orang tuanya ingin bercerai dan memilih bertahan dengan kondisi keluarganya saat ini. Keempat informanan dapat bertahan dari keadaan broken home karena memiliki penerimaan diri dan resiliensi yang baik yang dipengaruhi oleh religiusitas dan dukungan emosional dari lingkungan sebagaimana penelitian dari Nurseha, et. Keempat Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 informan memiliki dukungan emosional dari teman, kekasih, dan keluarga dengan porsi yang Dukungan sosial membantu mereka meregulasi emosi. Ketika dihadapkan pada masalah mereka memiliki orang - orang terdekat yang siap menjadi tempat bercerita dan pendengar yang baik bagi mereka. Dukungan sosial juga membantu mereka mengalihkan rasa sedih mereka. Selanjutnya, dukungan sosial membantu mereka mencarikan solusi terbaik dalam setiap masalah serta mampu memotivasi mereka jika dalam keraguan. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Ting jie (Nurseha et al. , 2. yang mengungkapkan bahwa meningkatkan dukungan sosial membantu meningkatkan ketahanan atau resiliensi, dan mengurangi timbulnya kecemasan dan Disisi lain, sejalan dengan penelitian dari Sari & Ningsih . bahwa dukungan sosial terkhusus teman sebaya mampu membuat individu merasa nyaman, merasa dihargai, didukung secara materi dan jasa, dan dipedulikan dengan saran dan bimbingan terhadap mereka. Di sisi lain, pada masa ini mereka juga mencoba untuk menjalin hubungan romantis karena keinginan untuk lebih dicintai, sejalan dengan puncak dari fase perkembangan psikososial remaja yakni "kesetiaan" yang berwujud loyalitas, keyakinan, dan rasa memiliki seseorang yang dicintai (Papalia & Feldman, 2. Mereka merasa lebih nyaman karena memiliki perasaan lebih dicintai dengan keberadaan kekasih. Hubungan romantis keempat informan menurut teori segitiga cinta Stenberg memasuki tipe romantic love yang merupakan kombinasi dari dimensi intimacy dan passion, di mana ditandai dengan adanya ketertarikan fisik dan emosional seperti ingin selalu bersama dan merasa sangat Saat bersama kekasih keempat informan merasa dimengerti, dapat terbuka tanpa takut ditolak, merasa senang, merasa memiliki dukungan yang bisa diandalkan, dan mendapatkan kontrol yang wajar. Keempat informan masih memiliki kekhawatiran akan memiliki akhir hubungan yang sama dengan orang tua mereka. Akan tetapi, sejalan dengan penelitian Madia. Et. mereka sangat ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai dan mencintai karena cinta adalah satu hal yang belum pernah mereka alami dalam hidup mereka. Di sisi lain, adanya kebutuhan akan kasih sayang dari sosok yang mereka butuhkan. Seperti halnya Informan AF yang kehilangan kasih sayang dari sosok ayah sejak kecil membuatnya membutuhkan kasih sayang dari sosok laki-laki. AF menginginkan perasaan aman, dicintai, dan dilindungi. Bentuk dukungan sosial dari kekasih adalah perasaan aman, semangat, memperkuat keyakinan diri, sebagai teman bercerita, memberi dukungan secara materi, meluangkan waktu, dan membantu mengatasi masalah. Kekasih membantu keempat sehat secara psikologis dengan membantu meminimalkan permasalahan psikologis dan membantu mengembangkan harga diri yang positif. Sejalan dengan ungkapan Baron & Byrne . bahwa memiliki pasangan dapat memberikan umpan balik yang bersifat self enhancing . erasa bai. dan self verifying . eyakinan dir. yang dapat membantu membangun kehidupan seseorang. Dalam hubungan romantis remaja broken home memiliki beberapa kendala seperti rasa takut jika terdapat penolakan dari calon pasangan, takut ditinggalkan, dan takut mempercayai orang yang salah (Vidanska. Arifin, & Prihandini, 2. Informan AL terkadang merasa takut mendapatkan penolakan dari pasangan dan keluarga pasangannya kelak dengan latar belakang broken home yang ia miliki. Di sisi lain, ia juga khawatir akan diperlakukan kurang baik dengan latar belakang broken home yang ia miliki. Pada informan SY, timbul perasaan tidak layak dicintai dan mempertanyakan adakah yang bersedia mencintai dia selain kekasihnya saat ini yang sejalan dengan hasil penelitian dari Ndari . yang mengungkapkan bahwa broken home meninggalkan pandangan buruk pada diri sendiri. Terjebak dalam toxic relationship juga dialami oleh informan seperti halnya hasil penelitian dari Mufidah dan Dewi . yang mengungkapkan bahwa salah satu informan terjebak dalam toxic relationship selama 6 bulan dari 19 bulan berpacaran karena ketergantungan informan pada kasih sayang dari kekasihnya. Informan AL terjebak dalam toxic relationship selama 6 bulan terakhir berpacaran setelah menjalin hubungan selama tiga tahun. Ia mendapatkan kekerasan verbal, tekanan mental, dan Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 ketidakbahagiaan karena kontrol yang berlebih dalam lingkup pertemanan. RN juga merasakan toxic relationship beberapa bulan terakhir berpacaran baik yang bersumber dari kekasih maupun orang tua dari kekasihnya. Orang tua kekasih RN memberatkan beban akademik seperti pemberian contekan untuk kekasihnya. Pada informan SY, toxic relationship datang dari dirinya sendiri yang merasa curiga dan membuat batasan untuk kekasihnya dalam hubungan sosial. Informan SY membatasi ruang gerak kekasihnya dalam kegiatan kampus dan pergaulannya. Informan SY khawatir jika ia diselingkuhi akan tetapi ia tidak masalah jika ditinggalkan kekasihnya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari Saikia . bahwa salah satu dampak dari broken home bagi remaja adalah bermasalahnya rasa percaya pada calon pasangan. Hubungan romantis informan AF juga berliku karena ia pernah terlihat dalam hubungan tanpa rasa cinta dan diwarnai dengan perselingkuhan. Aspek religiusitas juga berperan dalam memupuk keyakinan mereka untuk bangkit dari setiap masalah ketika terpuruk. Keempat informan yakin bahwa mereka memiliki Allah yang akan membantu mereka dalam mengatasi masalah. Aspek religiusitas juga memainkan peran penting dalam proses penerimaan diri dan masa lalu informan. Keempat informan sepakat bahwa Allah memiliki peran penting bagi sebagai pelindung, tempat bercerita, pemberi rizki, dan pemilik takdir yang baik. Ketika dihadapkan dengan masalah selain bercerita keempat informan juga berdoa dan menyerahkan takdirnya pada Allah . Atas dasar inilah, keempat informan memiliki keyakinan bahwa mereka mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi. Mereka belajar menerima, memaafkan, dan mensyukuri apa yang telah terjadi dan apa yang mereka miliki saat ini. Pemaafan dan penerimaan diri ini yang membantu keempat informan merasakan makna hidup yang positif. Sebagaimana hasil penelitian dari Rahmania, et. yang mengungkapkan bahwa pemaafan dan penerimaan diri mampu merubah persepsi, emosi, asosiasi mental, dan makna akan peristiwa yang individu alami karena individu memiliki pandangan yang realistis terhadap dirinya tanpa adanya rasa bersalah. Aspek religiusitas juga membantu informan menemukan makna kehidupan. Keempat informan yakin bahwa setiap hal yang jalani adalah kehendak Allah yang terbaik. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Umam & Maemonah . yang mengungkapkan bahwa religiusitas membantu melupakan kekecewaan yang dihadapi, menemukan hikmah dari permasalahan yang terjadi, menemukan makna hidup, dan mempersiapkan diri untuk hidup baru. Di sisi lain, religiusitas mampu berkontribusi dalam meningkatkan sisi spiritualitas dalam diri individu karena religiusitas membuat individu menerima hal-hal positif dan membantu memperbaiki etika yang berguna bagi pemahaman diri, pemahaman kehidupan dan keterhubungannya dengan sekitar, hingga penemuan makna dalam kehidupan (Najoan, 2. Kebermaknaan dalam hidup memberi keempat informan kekuatan untuk melanjutkan kehidupannya lebih baik setelah adanya pengalaman keluarga yang mereka alami. Keempat informan merencanakan masa depan karir dan keluarga dengan matang. Mereka memiliki beberapa pekerjaan impian, mempersiapkan mental baik sebagai individu maupun sebagai orang tua yang baik nantinya. Keempat informan berfokus pada prioritasnya saat ini. Hal ini sejalan dengan Siddik et al. yang mengungkapkan bahwa kebermaknaan hidup memotivasi mereka untuk bangkit dari masalah, menjalani kehidupan yang lebih baik, dan melakukan hal yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Keempat informan berusaha memaknai kehidupannya dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan seperti menjalankan hobinya, bermain bersama teman dan kekasih, menikmati waktu bersama keluarga, dan menjalankan rutinitas kesehariannya. Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan bahwa adanya faktor pendidikan yang mempengaruhi authentic happiness dari keempat informan. Keempat informan merupakan mahasiswa di universitas negeri yang berlandaskan Islam dan dua di antaranya menempuh pendidikan psikologi. Sejalan dengan penelitian dari Nurmaisaroh . bahwa pendidikan formal baik untuk pembentukan konsep diri pada remaja karena selain mendapatkan wawasan ilmu pengetahuan, remaja juga diberikan teladan dan dukungan emosional langsung oleh teman sebaya dan pengajar. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Fernandasari & Dewi . yang menyatakan bahwa pada remaja Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 akhir dukungan yang berpengaruh dapat beralih pada dukungan non-parental youth-adult relationship yang berupa guru, mentor, pelatih, saudara, tetangga, maupun anggota keluarga noninti lainnya. SIMPULAN Kesimpulan dalam penelitian ini adalah authentic happiness remaja korban broken home dalam hubungan romantis yang tinggal di Kecamatan Kartasura. Kabupaten Sukoharjo. Jawa Tengah dipengaruhi oleh adanya dukungan sosial yang suportif dari teman, keluarga, dan kekasih. Dukungan ini menjadi sumber daya sosial yang responsif dalam membantu keempat informan beradaptasi dengan kondisi broken home yang dialami. Selain itu, adanya peran religiusitas dalam pemaknaan pengalaman keempat informan mengenai keadaan broken home yang dialami. Hubungan romantis mampu memberikan keuntungan bagi keempat informan akan tetapi, beberapa hubungan romantis pada remaja perempuan korban broken home sering menemui beberapa kendala seperti perasaan rendah diri, kurangnya rasa percaya pada kekasih, dan ketergantungan akan kasih Sehingga membuat remaja perempuan korban broken home dapat terjebak dalam hubungan yang membatasi mereka dari lingkup pertemanan yang lebih luas serta rentan terjebak dalam toxic Sehingga, sumber dukungan sosial dari teman dan orang tua dapat lebih diutamakan. Tri Ayuningrum1. Triyono2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 44-59 DAFTAR PUSTAKA