Journal homepage: https://ejournal. id/academica/index Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku Incest pada Era Digital Sela Fajar Ariani 1*. Firda Fitrotunnisa 1. Desi Mifatkuljanah 1. Hanifah MutiAoah 1. Laela Nur Aeni 5 UIN Raden Mas Said Surakarta. Indonesia *Corresponding author: selaffajar@gmail. ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords Pendidikan Islam. Incest. Digital Islam Era Revolusi Industri 4. 0 membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi sosial dan konsumsi informasi, yang turut memunculkan berbagai bentuk penyimpangan moral, termasuk fenomena fantasi inses . yang semakin mudah diakses melalui media digital. Meskipun bersifat imajinatif, fenomena ini merefleksikan problematika serius dalam dimensi spiritual, etika, dan psikologis, terutama ketika konten terkait mengalami normalisasi di ruang virtual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis pendidikan Islam dalam upaya pencegahan dan pembinaan moral terhadap fenomena tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka terhadap literatur keislaman, pendidikan, psikologi, dan media digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang berorientasi pada penguatan tauhid, internalisasi akhlak, dan pembiasaan adab memiliki kapasitas signifikan dalam membentuk kesadaran etis, memperkuat kontrol diri, serta membangun daya kritis generasi muda dalam menghadapi arus konten digital yang menyimpang. Strategi yang direkomendasikan meliputi integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum pendidikan, optimalisasi peran keluarga sebagai basis pendidikan moral, serta pengembangan literasi digital berbasis nilai Article history Received: Agustus 2024 Revised: September 2024 Accepted: Oktober 2024 Available online: Desember Copyright A 2024 Authors This is an open access article under CC-BY-NC 4. 0 license Pendahuluan Perkembangan Revolusi Industri 4. 0 telah membawa transformasi signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, terutama dalam bidang teknologi digital, komunikasi, dan akses informasi. Internet dan media sosial tidak hanya mempermudah proses pertukaran informasi, tetapi juga membentuk pola baru dalam https://doi. org/10. 22515/academica. Vol, 08. No. 02, 2024: 133 - 150 | 166 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA cara individu berpikir, berinteraksi, dan membangun identitas diri. Idealnya, digitalisasi membuka peluang bagi peningkatan kualitas hidup, perluasan wawasan, serta penguatan jejaring sosial lintas batas. Namun, realitasnya, kemajuan teknologi juga turut menghadirkan tantangan serius berupa krisis nilai, disorientasi moral, dan pergeseran etika sosial. Salah satu fenomena mengkhawatirkan yang muncul dalam ruang digital adalah meningkatnya eksposur terhadap konten bertema fantasi inses . ncest fantas. , yakni imajinasi seksual yang melibatkan figur keluarga atau kerabat dekat. Fenomena ini merepresentasikan bentuk penyimpangan moral dan spiritual yang kompleks, terutama ketika konten tersebut dinormalisasi dan didistribusikan secara luas melalui berbagai platform digital. Meskipun tidak selalu bermuara pada tindakan fisik, internalisasi fantasi semacam ini berpotensi membentuk pola pikir yang menyimpang serta mengikis batas etika dan kesucian relasi keluarga. Dalam perspektif psikologi. Sigmund Freud menjelaskan bahwa dorongan seksual terhadap figur keluarga dapat muncul dari dinamika alam bawah sadar yang tidak tersublimasi secara sehat, lalu termanifestasi dalam bentuk fantasi yang Sementara itu, dalam perspektif Islam, konstruksi etika seksual tidak hanya dibatasi pada ranah perbuatan fisik, melainkan juga mencakup dimensi Nabi Muhammad saw. menegaskan bahwa pandangan, niat, dan anganangan yang tidak terjaga dapat tergolong sebagai zina al-qalb . ina hat. , sehingga kontrol terhadap pikiran dan imajinasi seksual merupakan bagian integral dari kesalehan personal. Secara empiris, temuan ECPAT Indonesia . menunjukkan bahwa satu dari enam remaja di Indonesia pernah terpapar konten pornografi bertema inses secara tidak sengaja, sementara 12% di antaranya mengaksesnya secara aktif melalui berbagai platform digital, seperti media sosial dan forum daring. Fakta ini menunjukkan bahwa ekosistem digital saat ini menyediakan akses yang relatif mudah terhadap konten menyimpang dan berpotensi merusak konstruksi moral generasi Selain itu, laporan media nasional mengungkap keberadaan kelompok daring yang secara terbuka melegitimasi dan merayakan fantasi inses sebagai bentuk Auekspresi diriAy, dengan jumlah anggota mencapai puluhan ribu. Fenomena ini mengindikasikan lemahnya literasi digital serta rendahnya daya selektif masyarakat dalam menyikapi konten virtual yang melanggar norma agama dan sosial. Kondisi ini mengisyaratkan adanya kekosongan dalam proses internalisasi nilai moral dan spiritual, khususnya pada ranah pendidikan karakter. Dalam konteks ini, pendidikan Islam menjadi elemen strategis yang tidak hanya berfungsi sebagai https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 167 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA transmisi pengetahuan keagamaan, melainkan juga sebagai instrumen pembentukan kesadaran etis dan spiritual yang holistik. Sebagaimana dikemukakan oleh Herwati . , pendidikan Islam idealnya mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan spiritual secara terpadu. Effendi dkk. juga menegaskan bahwa pendidikan Islam tidak dapat lagi bersifat tekstual-normatif semata, tetapi harus menjawab realitas digital serta dinamika psikososial generasi muda secara kontekstual. Dari perspektif psikologi perkembangan. Santrock . menyatakan bahwa fase remaja ditandai oleh meningkatnya rasa ingin tahu seksual dan pencarian identitas diri. Tanpa bekal literasi digital yang memadai serta pendidikan moral berbasis nilai agama, individu pada fase ini sangat rentan terhadap internalisasi konten menyimpang. Data BPS . menunjukkan bahwa hanya 42% sekolah menengah di Indonesia yang telah mengintegrasikan literasi digital dan pendidikan seks berbasis nilai keagamaan ke dalam kurikulum. Kondisi ini memperlihatkan adanya celah struktural dalam sistem pendidikan nasional dalam menghadapi tantangan etika di era digital. Berbagai penelitian terdahulu telah menegaskan pentingnya peran pendidikan Islam dalam membendung dekadensi moral. Studi Ramadhan dan Yusuf . , misalnya, menempatkan guru Pendidikan Agama Islam sebagai aktor strategis dalam pembinaan moral melalui keteladanan, pendekatan psikologis, dan internalisasi nilai Al-QurAoan dan Hadis. Penelitian Daryanto dkk. mengungkap bahwa fenomena dekadensi moral siswa tercermin dalam penyalahgunaan media sosial, pergaulan bebas, serta merosotnya etika pendidikan, dengan faktor penyebab utama berasal dari keluarga, lingkungan, dan paparan digital. Namun demikian, sebagian besar kajian tersebut masih memposisikan pendidikan Islam dalam kerangka normatif dan generalistik sebagai sarana transfer Penelitian ini menawarkan perspektif baru dengan menempatkan pendidikan Islam sebagai instrumen strategis dalam merespons isu etika yang spesifik dan kompleks di era Revolusi Industri 4. 0, yakni fenomena fantasi inses di ruang digital. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak lagi dipahami sebatas aktivitas pedagogis formal, melainkan sebagai sistem nilai yang harus terintegrasi dengan literasi digital dan pendidikan seks berbasis nilai keagamaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis bagaimana pendidikan Islam dapat berperan strategis dalam mencegah dan merespons fenomena fantasi inses di era Revolusi Industri 4. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan pendidikan Islam yang kontekstual, sekaligus menawarkan rekomendasi praktis https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 168 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA dalam menguatkan ketahanan moral generasi muda di tengah kompleksitas ekosistem Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain kajian literatur yang komprehensif. Penelitian kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan (Milya & Asmendri. Kemudian data diperoleh melaui sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer dan sekunder meliputi berbagai literatur ilmiah, seperti buku, artikel ilmiah, laporan penelitian, dan karya tulis lain yang relevan yang membahas peran pendidikan Islam dalam membendung dekadensi moral. Teknik analisis data yang digunakan dalam naskah ini yakni teknik analisis interaktif dimulai dari pengumpulan data yang terdapat empat komponen yaitu: Pengumpulan data, data dikumpulkan dari studi literatur yang memuat informasi konseptual dan empirik mengenai fenomena fantasi sedarah, pendidikan Islam, serta tantangan etika di era digital. reduksi data, data yang sudah dikumpulkan kemudian disaring dan disederhanakan untuk difokuskan pada aspek-aspek yang paling relevan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. penyajian data, data yang telah direduksi lalu disusun dengan sistematis agar mudah dianalisis lebih lanjut serta mendukung penarikan kesimpulan yang terarah. penariakan Inferensi, proses ini dilakukan untuk menggali makna dari data yang telah disusun, berguna untuk merumuskan mengenai kontribusi konseptual pendidikan Islam dalam menangkal penyimpangan fantasi seksual di era Revolusi Industri 4. Hasil dan Diskusi Fenomena Fantasi Sedarah (Incest Fantas. Fenomena fantasi sedarah di Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah terungkapnya keberadaan sejumlah grup Facebook yang secara terbuka mengangkat narasi dan konten bertema fantasi seksual terhadap anggota keluarga, dengan jumlah anggota mencapai puluhan ribu. Keberadaan komunitas daring semacam ini menunjukkan bahwa penyimpangan moral tidak lagi berlangsung secara individual, melainkan telah menemukan ruang kolektif dalam ekosistem digital. Situasi ini menegaskan urgensi penguatan literasi digital, kesadaran etis, serta internalisasi nilai-nilai agama sebagai langkah preventif terhadap penetrasi konten menyimpang di ruang virtual. https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 169 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA Secara konseptual, fantasi sedarah merujuk pada imajinasi seksual yang melibatkan figur keluarga dekat, seperti orang tua, saudara kandung, atau kerabat dekat lainnya. Dalam perspektif psikologis, fenomena ini dikategorikan sebagai bentuk penyimpangan imajinatif yang melampaui batas kewajaran relasi keluarga. Dari sudut pandang sosiokultural, fantasi semacam ini bertentangan dengan nilainilai dasar masyarakat yang menjunjung kesucian institusi keluarga. Dalam perspektif Islam, fenomena ini dinilai sebagai perilaku batin yang tercela karena bertentangan dengan tujuan utama syariat . aqAid al-syarAoa. , khususnya dalam menjaga keturunan . ife al-nas. dan kehormatan . ife al-Aoir. Selain itu, fantasi menyimpang berpotensi menjadi pintu masuk bagi perilaku yang lebih destruktif apabila tidak dikendalikan secara dini (Septiasari & Dumpratiwi, 2. Meskipun sebagian pihak beranggapan bahwa fantasi semata tidak selalu berujung pada tindakan nyata, ajaran Islam menegaskan bahwa lintasan pikiran dan dorongan batin yang mengarah pada perbuatan dosa harus diantisipasi sejak awal. Ajaran tazkiyatun nafs menempatkan pengendalian pikiran dan hati sebagai fondasi utama kesalehan individu. Islam memandang bahwa pikiran, jika dibiarkan berulang dan dipelihara, dapat membentuk kecenderungan batin yang akhirnya terwujud dalam perilaku nyata. Prinsip ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad yang menegaskan bahwa zina tidak hanya terbatas pada perbuatan fisik, melainkan juga mencakup dimensi batiniah, seperti pandangan, ucapan, dan angan-angan, yang semuanya dapat menjadi AubagianAy dari zina sebelum ia menjelma dalam tindakan fisik. Riwayat Ibnu AoAbbas juga menegaskan bahwa dosa bermula dari saluran-saluran nonfisik, sehingga pencegahan seharusnya tidak hanya dilakukan pada perilaku lahiriah, tetapi juga pada wilayah pikiran dan perasaan (Saputra, 2. Dengan demikian. Islam tidak memandang enteng dimensi imajinal dalam penyimpangan moral, sebab ia merupakan tahap awal dari disorientasi etika yang lebih luas. Fantasi sedarah pada hakikatnya merupakan distorsi terhadap makna hubungan keluarga yang seharusnya dibangun di atas kasih sayang . , penghormatan, dan perlindungan timbal balik. Ketika relasi keluarga direduksi menjadi objek hasrat seksual, nilai-nilai luhur kekeluargaan menjadi rusak, dan tujuan syariat dalam menjaga kehormatan serta keberlanjutan keturunan terancam. Oleh karena itu. Islam memerintahkan pengendalian diri sejak tingkat pikiran dan hati, agar penyimpangan batin tidak berkembang menjadi niat dan tindakan nyata. Secara psikologis, kemunculan fantasi sedarah tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkelindan. Pengalaman traumatis https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 170 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA masa kecil, seperti pelecehan seksual atau paparan perilaku seksual yang tidak wajar dalam lingkungan keluarga, dapat membentuk jejak psikologis yang menetap dalam alam bawah sadar. Faktor lain berupa lemahnya batas interaksi dalam keluarga, seperti kurangnya adab pergaulan, pengabaian batas aurat, atau kedekatan fisik yang tidak proporsional, turut berkontribusi dalam mengaburkan batas antara kasih sayang dan hasrat seksual. Selain itu, lemahnya kontrol diri pada fase remaja, ditambah paparan konten pornografi bertema inses di media digital, semakin memperkuat potensi terbentuknya imajinasi seksual yang menyimpang. Sigmund Freud, melalui teori psikoanalisisnya, mengemukakan bahwa fantasi seksual kerap muncul dari konflik bawah sadar yang tidak tersublimasi secara sehat. Dalam konteks ini. Freud memperkenalkan konsep Oedipus complex, yang menjelaskan kemungkinan ketertarikan anak terhadap orang tua lawan jenis sebagai gejala ketidaksadaran psikologis (Susanto, 2. Meskipun teori ini menuai kritik karena dianggap terlalu menekankan aspek seksual dalam relasi keluarga, pendekatan Freud tetap memberikan gambaran bahwa fantasi sedarah dapat berakar pada dinamika psikologis yang dalam dan kompleks. Berdasarkan uraian tersebut, fantasi sedarah tidak dapat dipandang sebagai sekadar gejala individual, melainkan sebagai refleksi krisis moral dan spiritual dalam masyarakat digital. Islam menegaskan bahwa menjaga pikiran, hati, dan imajinasi merupakan bagian integral dari menjaga kesucian diri. Oleh karena itu, penguatan pendidikan Islam yang berorientasi pada pembinaan akhlak, adab, dan kesadaran spiritual menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa pendidikan yang menyentuh dimensi batiniah, generasi muda berisiko kehilangan orientasi nilai dan menjadi korban arus globalisasi digital yang tidak terkendali. Pendidikan Islam sebagai Mekanisme Proteksi Moral terhadap Fantasi Sedarah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses terencana untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan sosial. Sejalan dengan itu. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan pendidikan sebagai proses membimbing dan melatih individu menuju kedewasaan. Pendidikan, dengan demikian, tidak hanya dimaknai sebagai transmisi pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan kepribadian dan internalisasi nilai moral (Pristiwanti et al. , 2. Dalam konteks Revolusi Industri 4. 0, pendidikan Islam dituntut untuk berperan lebih strategis dalam menjaga identitas keagamaan sekaligus menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan global. Sari et al. menegaskan bahwa https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 171 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA pendidikan Islam yang berlandaskan filosofi tauhid, keadilan, kasih sayang, dan akhlak mulia berfungsi sebagai fondasi pembentukan karakter sekaligus filter nilai terhadap arus budaya global. Tauhid memperkuat orientasi hidup peserta didik, sedangkan akhlak menjadi kerangka etik dalam membentuk perilaku sosial yang Sejalan dengan itu. Najamudin dan Hidayat . menyatakan bahwa pendidikan Islam harus mampu mengintegrasikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengorbankan nilai-nilai transendental Islam. Pendidikan agama Islam diarahkan untuk membentuk individu yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan etis. Tujuan akhirnya adalah terbentuknya pribadi insan kAmil, yakni manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab secara sosial. Dalam praktiknya, pendidikan agama Islam berfungsi sebagai instrumen strategis pembentukan kesadaran moral peserta didik. Melalui internalisasi nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kesabaran, dan kasih sayang, peserta didik diarahkan untuk mengembangkan integritas kepribadian yang kuat (Nabila et , 2. Pendidikan Islam bukan sekadar sarana penyampaian materi keagamaan, melainkan proses pembentukan sikap, nilai, dan karakter yang menuntun individu dalam menghadapi problematika moral kontemporer. Di era digital, peran pendidikan Islam semakin signifikan dalam membekali peserta didik dengan kecakapan literasi digital berbasis nilai. Suhendi . menekankan bahwa institusi pendidikan Islam harus mendorong pemanfaatan teknologi sebagai sarana dakwah, pengembangan wawasan keilmuan, dan penguatan ukhuwah Islamiyah. Literasi digital yang berorientasi pada kemaslahatan berfungsi sebagai mekanisme proteksi moral terhadap paparan konten menyimpang, termasuk fantasi sedarah yang marak di ruang virtual. Urgensi pendidikan Islam semakin menguat ketika pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek normatif, tetapi juga transformatif. Pendidikan Islam yang efektif harus mampu menyentuh ranah kognitif, afektif, dan perilaku peserta didik secara simultan, sehingga nilai tauhid, adab, dan tanggung jawab sosial terinternalisasi sebagai prinsip hidup. Dalam konteks ini, pendidikan Islam berfungsi sebagai agen peradaban yang tidak hanya memelihara moralitas individu, tetapi juga menyiapkan peserta didik sebagai aktor perubahan sosial yang bermartabat. Salah satu fungsi utama pendidikan Islam adalah pembentukan kesadaran etis. Kesadaran etis dimaknai sebagai kemampuan individu untuk memahami, menginternalisasi, dan mengamalkan nilai-nilai moral dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 172 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA (Kusuma, 2010. Muawanah, 2. Individu yang memiliki kesadaran etis tidak hanya mengenali nilai-nilai normatif, tetapi juga mampu menilai implikasi moral dari setiap tindakan, termasuk dalam interaksi digital. Pembentukan kesadaran etis dipengaruhi oleh faktor internal seperti kemampuan bernalar moral dan pengalaman hidup, serta faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, institusi pendidikan, dan budaya sosial (Iswarini & Mutmainah. Winata et al. , 2. Dalam konteks Revolusi Industri 4. 0, lingkungan digital menjadi faktor eksternal yang sangat dominan. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu mengintegrasikan literasi digital berbasis nilai ke dalam kurikulum, pembiasaan ibadah, serta keteladanan guru agar peserta didik memiliki Aufilter batinAy yang efektif dalam menolak konten yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya berperan sebagai media transmisi ilmu agama, tetapi juga sebagai benteng moral yang proaktif dalam menghadapi kompleksitas era digital. Melalui pembinaan akhlak, penguatan spiritualitas, dan literasi digital berbasis nilai, pendidikan Islam berkontribusi signifikan dalam mencegah dan menangkal penyimpangan fantasi sedarah, sekaligus membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan tangguh menghadapi tantangan zaman. Dalam era globalisasi ini, menurut (Sari, dkk. dasar filosofis yang kuat menjadi kunci pendidikan Islam, yang tidak hanya mempertahankan identitas agama tetapi juga memberdayakan generasi muda untuk berpartisipasi aktif dalam membangun masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai moral dan etika Islam. Pendidikan Islam dengan dasar filosofis memberikan ruang untuk menerapkan nilainilai agama yang kaya dan mendalam. Dalam situasi ini, filosofi pendidikan Islam berpusat pada nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, keadilan, tauhid . eyakinan kepada Tuhan yang Es. , dan akhlak mulia. Tauhid mendorong pembelajaran, memperkuat berbagai pengetahuan sambil menyelaraskan ajaran agama. Akhlak menginternalisasi prinsip moral dan perilaku yang baik dalam semua aspek Dalam (Najamudin & Hidayat, 2. melalui pendidikan dan kemajuan teknologi serta ilmu pengetahuan, seseorang dapat mengatur hidupnya sesuai dengan prinsip Islam tanpa mengorbankan prinsip-prinsip Islam yang telah ditetapkan Allah. Pendidikan agama Islam, menurut Chabib Thoha dan Abdul MuAothi, adalah upaya yang disengaja untuk mengajarkan siswa untuk menghormati agama lain dan membantu mereka mempercayai, memahami, menghayati, dan menghayati nilai-nilai agama Islam. https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 173 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA Selanjutnya. Pendidikan Agama Islam bertujuan membimbing dan membina peserta didik agar mampu memahami, menghargai, dan menghayati nilai-nilai ajaran Islam. Sasaran utama pembinaan ini adalah membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Allah, memiliki kesadaran sebagai khalifah di muka bumi, serta berpegang pada prinsip moral yang jujur dan adil. Tujuan utamanya adalah melahirkan manusia paripurna atau AuInsan KamilAy yaitu individu yang murni akidahnya, luhur akhlaknya, serta mampu mengemban amanah dan memberikan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Konsep ini menempatkan Pendidikan Agama Islam bukan hanya sebagai sarana penguasaan pengetahuan agama, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter yang utuh secara spiritual, moral, dan Selain itu, pendidikan Islam memiliki tujuan untuk menumbuhkan kepekaan peserta didik sehingga prinsip-prinsip moral dan spiritual Islam menjadi landasan utama dalam mengatur sikap dan perilaku mereka. Kepekaan ini diharapkan membentuk integritas kepribadian, di mana setiap tindakan tidak hanya diukur dari manfaat material, tetapi juga dari kesesuaiannya dengan nilai-nilai Islam. Peserta didik dibimbing untuk menjadi pribadi yang logis dalam berpikir, taat dalam beribadah, serta mampu menjalankan peran sosial secara bertanggung jawab baik dalam keluarga, komunitas, maupun kehidupan berbangsa dengan menjunjung tinggi moralitas, etika, dan spiritualitas. Pendidikan Islam tidak hanya mendorong pemenuhan rasa ingin tahu intelektual dan pencapaian keberhasilan materi, tetapi juga memastikan bahwa keduanya selaras dengan prinsip syariat. Landasan utama tujuan ini adalah iman yang kokoh kepada Allah SWT, yang menjadi sumber motivasi dan pengendali perilaku. Melalui pendidikan agama, peserta didik mempelajari prinsip-prinsip etika dan moral yang mengatur hubungan vertikal . dengan Allah, serta hubungan horizontal . dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Kemudian pendidikan agama Islam memainkan peran penting dalam membangun kesadaran moral siswa. Pendidikan agama Islam memiliki peran yang signifikan dalam membangun karakter dan etika siswa di Indonesia. Pendidikan Islam tidak hanya memberi siswa pengetahuan tentang ajaran agama, tetapi juga mempengaruhi sikap, nilai, dan perilaku mereka. Menurut Bakar dalam (Nabila, dkk. dalam pendidikan agama Islam, penerapan nilai-nilai etika memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan perilaku siswa. Siswa belajar tentang nilainilai etika Islam seperti kejujuran, keadilan, kasih sayang, kesabaran, kerja keras, tolong-menolong, dan saling menghormati di sekolah agama Islam. Mengembangkan https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 174 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA sikap dan perilaku yang positif serta memperkuat identitas keagamaan siswa adalah tujuan dari penerapan nilai-nilai etika ini. Selain itu, institusi pendidikan Islam harus mendorong siswa untuk menggunakan teknologi secara produktif. Ini termasuk menggunakan media digital untuk menyebarkan dakwah, berbagi informasi berguna, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. (Suhendi, 2. Mengingat maraknya paparan terhadap konten-konten seksual menyimpang, termasuk fantasi sedarah yang beredar luas melalui media digital dan fiksi modern, pendidikan Islam hadir sebagai mekanisme perlindungan moral yang sangat penting. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi ilmu agama, tetapi juga sebagai mekanisme internalisasi nilai moral yang mendalam. Urgensi pendidikan Islam semakin tampak ketika individu tidak hanya dibekali dengan hafalan ajaran agama, tetapi juga dilatih untuk merefleksikan nilainilai tersebut dalam konteks sosial dan budaya kontemporer. Pendidikan Islam yang transformatif harus mampu menyentuh ranah afeksi, kognisi, dan perilaku peserta didik agar nilai-nilai tauhid, adab, dan tanggung jawab sosial menjadi prinsip hidup yang terinternalisasi secara utuh. Tanpa kesadaran etis yang kokoh, peserta didik rentan terombang-ambing dalam arus globalisasi yang sering kali membawa nilainilai bertentangan dengan ajaran Islam. Pendekatan pendidikan Islam yang menyeluruh dan kontekstual tidak hanya dibutuhkan, tetapi mendesak untuk dikembangkan sebagai fondasi dalam membentengi generasi muda dari bentukbentuk penyimpangan moral, termasuk yang terselubung dalam kemasan budaya populer dan media digital. Pendidikan Islam perlu tampil sebagai agen peradaban yang tidak hanya menjaga moralitas individu, tetapi juga mengarahkan mereka untuk menjadi pelaku perubahan sosial yang beradab dan bertanggung jawab. Pendekatan lain yang strategis dalam pendidikan Islam adalah pembelajaran terkait pemanfaatan teknologi secara bijak dan berorientasi pada kemaslahatan. Islam mengajarkan umatnya untuk menggunakan setiap sarana yang ada dengan penuh tanggung jawab, menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, dan mengoptimalkan potensi teknologi untuk tujuan produktif. Dalam konteks pencegahan penyimpangan moral, pendidikan Islam dapat membimbing peserta didik agar mampu membedakan antara konten yang positif dan negatif, serta mendorong mereka menggunakan teknologi untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kontribusi Integrasi literasi digital ke dalam Pendidikan Agama Islam berperan penting dalam membentengi generasi muda dari paparan konten yang bertentangan dengan https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 175 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA ajaran Islam. Peserta didik dapat dilatih untuk memanfaatkan internet sebagai sarana menuntut ilmu, mengakses sumber rujukan terpercaya, mengikuti seminar daring, dan berpartisipasi dalam forum ilmiah. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Islam yang menempatkan pencarian ilmu sebagai kewajiban setiap Muslim, sekaligus memperkuat daya kritis mereka terhadap arus informasi global. Pendidikan Islam tidak hanya berfungsi sebagai penanam nilai moral dan spiritual, tetapi juga sebagai benteng pertahanan moral yang proaktif dalam era Peran ini krusial untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan tangguh menghadapi tantangan zaman, sekaligus mampu mencegah dan menangkal berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merusak diri dan masyarakat. Dalam konteks ini, penguatan kesadaran etis menjadi aspek yang sangat penting. Kesadaran etis dimaknai sebagai kemampuan individu untuk memahami, menghayati, dan menerapkan prinsip-prinsip moral serta nilai-nilai yang menjadi landasan perilaku yang terhormat, adil, dan bertanggung jawab (Kusuma, 2010. Muawanah, 2. Individu yang memiliki kesadaran etis tidak hanya mengenali nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, penghormatan, dan empati, tetapi juga peka terhadap isu-isu moral yang muncul di sekitarnya, termasuk yang bersifat digital seperti paparan konten fantasi sedarah. Melalui refleksi kritis, mereka mampu mengevaluasi setiap pilihan tindakan berdasarkan nilai-nilai universal dan norma sosial, serta mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang daripada sekadar mengikuti dorongan sesaat. Faktor pembentuk kesadaran etis tidak hanya bersumber dari dalam diri, seperti penalaran moral, tingkat idealisme, dan pengalaman hidup, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, budaya sekolah, kode etik, serta iklim moral di masyarakat (Iswarini & Mutmainah, 2013. Winata dkk. , 2. Dalam era Revolusi Industri 4. 0, lingkungan digital menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan, mengingat arus informasi yang cepat dan paparan media tanpa batas menuntut kemampuan individu untuk menyaring, menolak, dan menghindari konten yang melanggar nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, pendidikan Islam yang efektif harus mengintegrasikan pembentukan kesadaran etis ini melalui kurikulum, pembiasaan ibadah, teladan perilaku, serta literasi digital yang berlandaskan syariat, sehingga peserta didik memiliki benteng moral internal yang bekerja secara otomatis, mampu menolak perilaku menyimpang seperti fantasi sedarah bukan hanya karena takut sanksi, tetapi karena meyakini hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama, nilai moral, dan martabat dirinya. https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 176 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya berfungsi sebagai penanam nilai moral dan spiritual, tetapi juga sebagai benteng pertahanan moral yang proaktif dalam era digital. Peran ini krusial untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan tangguh menghadapi tantangan zaman, sekaligus mampu mencegah dan menangkal berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merusak diri dan masyarakat. Strategi Pendidikan Islam untuk Mengatasi Pengaruh Negatif Fantasi Sedarah Pendidikan Islam menekankan penanaman nilai-nilai tauhid sebagai fondasi utama (Qomaria, 2. Tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi juga pedoman hidup yang mengarahkan seluruh perilaku agar selaras dengan kehendak Allah swt. Dalam upaya menangkal pengaruh negatif fantasi sedarah yang dapat mengikis kesadaran moral generasi muda, strategi pendidikan islam perlu diarahkan pada penguatan nilai-nilai tauhid sejak dini. Penguatan ini bertujuan agar peserta didik memiliki kesadaran bahwa setiap pikiran, ucapan, dan tindakan selalu berada dalam pengawasan Allah, sehingga mereka terdorong untuk menghindari perilaku yang dilarang syariat. Strategi ini dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan yang saling melengkapi, di antaranya: Integrasi Nilai-Nilai Islam dalam Kurikulum Strategi utama dalam menghadapi pengaruh negatif fantasi sedarah adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam secara holistik dalam kurikulum pendidikan, baik di tingkat dasar hingga menengah (Zahra et al. , 2. Integrasi ini tidak hanya terbatas pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, tetapi juga disisipkan dalam setiap bidang studi, seperti bahasa, sains, dan seni, sehingga peserta didik memahami bahwa ajaran Islam relevan dalam seluruh aspek Pendekatan pembelajaran harus mencakup ranah kognitif, afektif, dan Pada ranah kognitif, siswa dibekali pengetahuan yang benar tentang larangan zina, termasuk fantasi sedarah, beserta dalil Al-QurAoan dan Hadis. Pada ranah afektif, ditanamkan rasa malu dan takut kepada Allah melalui pembiasaan ibadah, kisah teladan, dan diskusi moral. Sedangkan pada ranah psikomotor, siswa dilatih keterampilan mengelola pikiran, emosi, dan perilaku, seperti membatasi akses pada konten negatif serta membangun interaksi yang sehat dengan lawan jenis dan anggota keluarga. Pembentukan karakter Islami sejak dini menjadi kunci keberhasilan strategi ini, karena masa kanak-kanak adalah periode fondasi moral terbentuk. Guru dan orang tua perlu memberikan keteladanan akhlak, seperti menjaga https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 177 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA pandangan, menghormati anggota keluarga, dan membiasakan komunikasi yang Adab berpakaian, berbicara, dan bergaul harus menjadi bagian rutin dari pembinaan di sekolah. Kesadaran moral yang ditanamkan bukan sekadar hafalan aturan, tetapi juga pemahaman mendalam mengenai bahaya fantasi sedarah secara psikologis, sosial, dan spiritual, sehingga siswa memiliki motivasi internal untuk menghindarinya. Upaya ini harus didukung oleh sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Orang tua diberikan edukasi parenting Islami agar dapat menjadi pengawas sekaligus teladan bagi anak, sementara masyarakat membangun budaya saling mengingatkan dan menjaga norma, sehingga tercipta lingkungan yang melindungi generasi muda dari perilaku menyimpang. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam buku yang berjudul AuThe Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of EducationAy menyatakan bahwa pendidikan Islam tidak hanya dipahami sebagai proses penyampaian ilmu . aAoli. atau sekadar pengasuhan . , melainkan memiliki makna yang lebih dalam, yakni sebagai proses taAodib yaitu pembentukan karakter dan penanaman adab mulia dalam kehidupan peserta didik. TaAodib menempatkan manusia pada posisi yang tepat sesuai fitrahnya, mengajarkan bagaimana menggunakan ilmu dengan bijak, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan nilai-nilai etika serta spiritualitas. Dalam konteks pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang taAodib, kurikulum pendidikan Islam harus diarahkan pada pembentukan manusia yang berakhlak dan beradab, sehingga memiliki filter moral yang kuat untuk menolak konten atau fantasi menyimpang seperti incest . antasi sedara. yang jelas bertentangan dengan syariat. Pembentukan karakter ini memerlukan integrasi nilai-nilai Islam yang memperhatikan dimensi psikologis, sosial, dan spiritual peserta didik. Pendidikan tentang konsep mahram, batas pergaulan, serta konsekuensi hukum dari hubungan sedarah perlu dihadirkan secara kontekstual dalam mata pelajaran Fikih dan Akhlak, agar siswa memahami relevansi ajaran Islam dengan realitas kehidupan mereka. Tidak hanya itu, asesmen pendidikan harus mencakup evaluasi kepribadian, kepatuhan terhadap norma agama, dan kemampuan peserta didik untuk menolak ajakan atau pengaruh menyimpang. Evaluasi ini dilakukan secara berkelanjutan sehingga perkembangan moral peserta didik dapat dipantau dan dibina secara konsisten. Dengan penerapan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam secara komprehensif, peserta didik tidak hanya dibekali kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan moral yang menjadi benteng dari perilaku menyimpang. Strategi ini menjadi investasi https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 178 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA jangka panjang yang selaras dengan tujuan syariat Islam, yaitu menjaga agama, akal, jiwa, keturunan, dan kehormatan manusia. Pendidikan Keluarga Pendidikan keluarga memegang peran sentral dalam membentuk karakter dan moral anak sejak dini. Keluarga merupakan madrasah pertama dan utama yang memberikan fondasi nilai, norma, serta kebiasaan yang akan melekat kuat dalam diri anak hingga dewasa (Olfah, 2. Fondasi moral ini dibangun bukan hanya melalui pengajaran verbal, tetapi terutama melalui keteladanan nyata yang diperlihatkan oleh orang tua dalam keseharian. Dalam menghadapi pengaruh negatif seperti fantasi sedarah, keluarga memiliki tanggung jawab strategis dalam prinsip-prinsip antaranggota keluarga. Orang tua harus menjadi teladan utama dalam menjaga adab pergaulan di dalam rumah, baik melalui sikap, ucapan, maupun kebiasaan sehari-hari. Penanaman pemahaman tentang batas-batas interaksi antara mahram dan non-mahram perlu dilakukan secara konsisten, sehingga anak memahami aturan tersebut bukan sekadar larangan yang membatasi kebebasan, tetapi bagian dari penjagaan diri, kehormatan pribadi, dan martabat keluarga. Pendidikan seks berbasis nilai Islam sebaiknya dimulai dari lingkungan rumah, disampaikan secara bertahap sesuai usia, tingkat perkembangan, dan kapasitas pemahaman anak. Materi ini mencakup pengenalan anggota tubuh, konsep aurat, pentingnya menjaga pandangan, serta pemahaman tentang konsekuensi spiritual dan sosial dari pelanggaran batas pergaulan. Dengan bimbingan yang tepat, anak tidak hanya mendapatkan informasi yang benar, tetapi juga belajar memaknai nilai-nilai tersebut sebagai pedoman hidup yang harus dijaga sepanjang hayat. Pemahaman ini akan membentuk benteng kesadaran moral yang bekerja secara internal, sehingga anak mampu menolak perilaku menyimpang bukan karena takut hukuman semata, tetapi karena meyakini kebenaran nilai tersebut. Keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak menjadi kunci penting dalam pencegahan pengaruh negatif seperti fantasi sedarah. Komunikasi yang hangat, penuh kepercayaan, dan tidak menghakimi akan membuat anak merasa aman untuk bertanya atau bercerita tentang apapun yang mereka temui, sehingga tidak perlu mencari jawaban dari sumber yang keliru seperti internet atau teman sebaya yang minim pemahaman nilai agama. Suasana rumah yang harmonis, dipenuhi kasih sayang, namun tetap disiplin dalam penerapan nilai-nilai syariah, https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 179 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA akan membentuk pribadi anak yang kuat secara emosional, matang secara sosial, dan kokoh secara spiritual. Keteladanan orang tua dalam mempraktikkan adab dan menjaga batasan syarAoi menjadi pembelajaran nyata bagi anak dalam keseharian. Sikap saling menghormati antaranggota keluarga, menjaga privasi masing-masing, hingga adab berpakaian di rumah akan secara tidak langsung membentuk persepsi anak tentang pentingnya menjaga kehormatan diri. Dengan pendidikan keluarga yang kokoh, anak tidak hanya memahami larangan terhadap perilaku menyimpang, tetapi juga memiliki kesadaran moral yang kuat untuk menolaknya secara Hal ini menjadi benteng efektif terhadap maraknya konten dan fantasi sedarah yang kini kerap tersebar secara terselubung melalui media digital, sekaligus menjadi fondasi utama dalam membangun generasi yang tangguh menghadapi tantangan moral di era Revolusi Industri 4. Pemanfaatan Media Digital: Konten Positif Pemanfaatan media positif dapat menjadi strategi yang sangat efektif dalam membentengi anak-anak dan remaja dari pengaruh negatif, termasuk fenomena fantasi sedarah yang marak di ruang digital. Strategi ini menuntut pembiasaan sejak dini untuk mengakses konten edukatif bernuansa Islami, baik dalam bentuk ceramah dari ulama terpercaya, animasi yang mengajarkan nilainilai akhlak, podcast bertema keislaman, film keluarga bernilai syariah, hingga platform pembelajaran Al-QurAoan dan hadis yang interaktif dan mudah diakses. Dengan demikian, media tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga sumber ilmu dan nilai moral yang secara konsisten membentuk karakter serta menginternalisasikan kesadaran etis pada diri generasi muda. Peran guru dan orang tua dalam proses ini sangatlah vital, bukan hanya sebagai pengarah yang memilihkan konten positif, tetapi juga sebagai produsen dan penyebar nilai melalui media digital. Guru dapat mengintegrasikan penggunaan media positif ke dalam proses pembelajaran, sedangkan orang tua dapat mencontohkan bagaimana menggunakan media sosial untuk tujuan produktif dan berlandaskan syariat. Dengan keterlibatan aktif kedua pihak ini, narasi-narasi yang membangun dapat muncul dan bersaing di tengah derasnya arus konten yang menyimpang, sehingga tercipta keseimbangan informasi di ruang maya. Menurut M. Quraish Shihab, media modern bukan sekadar sarana informasi, tetapi juga medan dakwah baru yang menuntut umat Islam untuk Aumenghadirkan nilainilai ilahiyah dalam ruang digital agar tidak dikuasai oleh nilai-nilai yang merusakAy (Arifin, https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 180 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA Pandangan ini menegaskan bahwa pengelolaan media digital tidak dapat dipandang remeh, sebab ruang maya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Pemanfaatan media secara positif dapat dilakukan dengan cara menyebarkan konten edukatif Islami, menghidupkan diskusi daring yang membangun, serta memproduksi karya kreatif seperti artikel, video pendek, infografis, dan film pendek yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Upaya ini sejatinya merupakan bentuk nyata jihad intelektual, yakni perjuangan menjaga akidah, akhlak, dan moral umat bukan dengan senjata, melainkan melalui ilmu, kreativitas, dan teknologi. Dalam konteks melawan pengaruh destruktif seperti fantasi sedarah, pemanfaatan media positif berfungsi sebagai benteng preventif yang memperkuat daya seleksi moral generasi muda. Dengan kesadaran ini, mereka akan lebih memilih konten yang mendidik, menginspirasi, dan membentuk kepribadian Islami, daripada konten yang menyesatkan dan merusak. Pada akhirnya, keberhasilan strategi ini bergantung pada kolaborasi seluruh pihak keluarga, pendidik, tokoh agama, dan masyarakat untuk menghadirkan ekosistem digital yang sehat, produktif, dan selaras dengan nilai-nilai Ilahiyah Kesimpulan Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam mencegah penyimpangan fantasi sedarah di era Revolusi Industri 4. 0 melalui internalisasi nilai tauhid, akhlak, dan adab sebagai fondasi pembentukan karakter dan benteng moral generasi muda. Pendidikan Islam tidak hanya berfungsi sebagai transmisi pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen transformasi etis yang mengarahkan peserta didik untuk mengendalikan dorongan nafsu, membentuk kesadaran moral, serta menumbuhkan tanggung jawab spiritual dalam menghadapi tantangan era digital. Upaya preventif yang dapat dilakukan meliputi integrasi nilainilai Islam ke dalam kurikulum berbasis literasi digital dan pendidikan seks Islami, penguatan peran keluarga sebagai pusat pembinaan karakter, serta optimalisasi media digital sebagai sarana dakwah dan edukasi yang konstruktif. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan Islam diharapkan mampu merespons dinamika sosial dan teknologi secara adaptif tanpa kehilangan orientasi spiritual dan moralnya. Namun demikian, penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena berlandaskan kajian literatur sehingga belum menyajikan data empiris mengenai implementasi pendidikan Islam dalam konteks nyata. Selain itu, kajian ini masih bersifat konseptual dan belum merumuskan model operasional yang aplikatif dalam praktik pendidikan. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menggunakan pendekatan empiris melalui survei, wawancara, dan studi kasus guna https://doi. org/10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 166-183 | 181 Ariani et al. Peran Pendidikan Islam dalam Pencegahan Perilaku IncestA memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Kajian berikutnya juga perlu difokuskan pada pengembangan model integratif antara pendidikan Islam, literasi digital, dan pendidikan seks Islami agar dapat memberikan kontribusi praktis bagi sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membina generasi muda secara berkelanjutan di era digital. Daftar Pustaka