P-ISSN: 2829-5102 E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. October 2025 doi: https://doi. org/10. 58223/icie. The Qowaid Learning Revolution: Blending Microlearning with Digital Economy Opportunities Siti Zumrotun Nisaul Mutiatul Karimah, nisakarimaa52@gmail. Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri. Indonesia Moh. Sholeh Afyuddin sholehafyuddin@gmail. Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri. Indonesia Intan NurAoaini ainiintan932@gmail. Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri. Indonesia Ela Febrian eellafebrian@gmail. Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri. Indonesia Alifatul Nur Dita Maharani alifatulnurdita30@gmail. Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri. Indonesia Abstract: The development of digital technology has brought significant transformation in the field of education, including Arabic language learning. One of the platforms widely utilized for learning is YouTube, which offers flexibility and ease of access. Qowaid, as a branch of Arabic linguistics encompassing nahwu . and sharaf . , is often considered complex and requires an effective learning approach. Microlearning, with its characteristics of being concise, focused, and structured, offers a solution to facilitate the understanding of qowaid material. The YouTube channel Yayasan BISA was selected as the subject of this study due to its popularity and systematic presentation of materials. This research aims to analyze the qowaid learning content on the Yayasan BISA YouTube channel through the lens of microlearning. The method used is qualitative with a content analysis approach. Data were collected through documentation of qowaid learning videos on the channel, which were then analyzed based on three microlearning elements: microcontent, pedagogy, and The findings reveal that out of 23 qowaid learning playlists on the Yayasan BISA channel, only two playlistsAiNahwu Animation and Sharaf AnimationAimeet the principles of microlearning. These videos are typically short in duration . Ae6 minute. , focused on a single topic, and presented with engaging animations. However, aspects International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. such as retention reinforcement, interactivity, and learning evaluation still need to be improved to support more comprehensive learning effectiveness. Keywords: Qowaid Learning. Yayasan BISA. Microlearning Abstrak: Perkembangan teknologi digital telah membawa transformasi signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk pembelajaran bahasa Arab. Salah satu platform yang banyak dimanfaatkan untuk pembelajaran adalah YouTube, yang menawarkan fleksibilitas dan kemudahan akses. Qowaid, sebagai cabang ilmu bahasa Arab yang mencakup nahwu dan sharaf, sering dianggap kompleks dan membutuhkan pendekatan pembelajaran yang efektif. Microlearning, dengan karakteristiknya yang singkat, terfokus, dan terstruktur, menjadi solusi untuk memudahkan pemahaman materi Channel YouTube Yayasan BISA dipilih sebagai objek penelitian karena popularitas dan penyajian materinya yang sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembelajaran qowaid dalam channel YouTube Yayasan BISA melalui perspektif microlearning. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis isi . ontent analysi. Data diperoleh melalui dokumentasi terhadap videovideo pembelajaran qowaid di channel tersebut, yang kemudian dianalisis berdasarkan tiga elemen microlearning: microcontent, pedagogi, dan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 23 playlist pembelajaran qowaid di channel Yayasan BISA, hanya dua playlist animasi nahwu dan sharaf, telah memenuhi prinsip-prinsip Video-video tersebut rata-rata memiliki durasi singkat . -6 meni. , fokus pada satu topik, dan disajikan dengan animasi yang menarik. Namun, penguatan retensi dan interaktivitas serta evaluasi pembelajaran, masih perlu ditingkatkan untuk mendukung efektivitas pembelajaran secara lebih menyeluruh masih perlu ditingkatkan. Kata kunci: Pembelajaran Qowaid. Yayasan BISA. Microlearning Pendahuluan Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar di berbagai bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Salah satu perubahan yang paling (Djollong et al. , 2. Saat ini, informasi termasuk materi pembelajaran dapat diakses dengan cepat dan mudah, kapan saja dan di mana Kemudahan ini membentuk kebiasaan masyarakat untuk mendapatkan segala sesuatu secara instan, termasuk dalam aktivitas pembelajaran. (Sodiqin. Situasi menghindari pembelajaran yang berdurasi panjang dan lebih memilih pendekatan pembelajaran yang memungkinkan belajar dalam waktu singkat, 279 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. interaktif dan menarik seperti video pendek berbentuk reels, short video atau video animasi yang sederhana. Dampak perkembangan teknologi, juga terasa pada pembelajaran bahasa Saat ini, kemampuan berbahasa asing menjadi keterampilan yang sangat penting, tidak hanya sebagai sarana berkomunikasi, tetapi juga sebagai sarana penghubung berbagai sumber ilmu pengetahuan serta sebagai pembuka akses ke sumber daya informasi global. (Saragih, 2. Salah satu bahasa asing yang semakin banyak dipelajari adalah bahasa Arab. PBB pada tahun 1973 telah menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa internasional. (Muhammad et al. Pada awalnya bahasa Arab dipelajari semata-mata untuk memahami ajaran agama, kini telah mengalami pergeseran orientasi seiring dengan perkembangan zaman. Saat ini, pembelajaran bahasa Arab tidak hanya berfokus pada aspek religius, tetapi mulai merambah ranah professionalisme dan ekonomis. (Hamidah & Marsiah, 2. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk mempelajari bahasa Arab, penting untuk memahami qowaid. Qowaid merupakan cabang ilmu bahasa Arab yang menjadi dasar dalam memahami struktur dan aturan bahasa untuk menunjang pemahaman mendalam terhadap konten bahasa tersebut serta memastikan akurasi dalam penggunaan bahasa. (Setyawan, 2. Dalam bahasa arab, yang menjadi inti ilmu dari qowaidnya adalah ilmu Nahwu dan Sharaf, keduanya memiliki kedudukan yang penting dalam pembuatan tulisan yang baik dan benar. (Sudrajat, 2. Apabila seseorang memiliki penguasaan qowaid yang baik, maka hal itu akan membantunya dalam menyusun dan memahami kalimat dengan lebih tepat dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam konteks akademik dan profesional. Namun, karena kompleksitasnya yang tinggi, pembelajaran qowaid sering kali dipandang rumit dan membutuhkan waktu yang lama untuk dikuasai. (Royyan & Nasiruddin, 2. Padahal masyarakat saat ini, cenderung menginginkan proses pembelajaran yang lebih cepat dan praktis. Untuk menjawab tantangan ini, pendekatan microlearning menawarkan solusi dengan menyajikan materi pembelajaran 280 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. dalam bentuk yang ringkas, fokus, dan mudah diakses kapan saja. (Yusnidar & Syahri, 2. Pendekatan ini memungkinkan pembelajaran qowaid dilakukan dengan cara yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa Microlearning memungkinkan pelajar untuk memahami pembelajaran qowaid yang kompleks secara bertahap dan sistematis, tanpa merasa terbebani. Pendekatan ini juga dapat membantu meningkatkan retensi informasi, karena setiap sesi belajar dirancang untuk langsung fokus pada inti pembelajaran dengan durasi yang singkat dan terukur. (Leong et al. , 2. Dalam upaya mendukung penerapan mirolearning. YouTube bisa dijadikan sebagai platform yang strategis. Popularitas YouTube sebagai media pembelajaran terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan Berdasarkan laporan We Are Social, ada 2,5 miliar pengguna YouTube di dunia per April 2024, dan Indonesia menempati posisi keempat (Dataindonesia_id, 2. Hal tersebut menjadikan YouTube sebagai platform yang paling banyak digunakan untuk konsumsi video online. Selain itu. YouTube juga unggul dalam aksebilitasnya yang memungkinkan pengguna untuk belajar tanpa terbatas ruang dan waktu. Tidak hanya itu, format visual yang ditawarkan juga mendukung penyampaian materi secara interaktif dan mudah dipahami. Saat ini, banyak channel YouTube yang menyediakan pembelajaran qowaid, diantaranya adalah Ruang Ngaji Online. ALMUSTARI-Madrasah Online. Maknawi Channel. Yayasan BISA. KEPO BAHASA ARAB, dan lainlain. Channel-channel ini menawarkan berbagai metode pengajaran yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat untuk belajar secara cepat dan efisien. Meskipun semua channel ini menyediakan materi pembelajaran qowaid, ada perbedaan cara penyampaian dan struktur Di antara channel-channel tersebut. Yayasan BISA memiliki pendekatan yang terstruktur dalam menyajikan materi pembelajaran qowaid, yang membuatnya menonjol. Selain itu, jumlah penonton yang tinggi dan 281 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. komentar positif dari pengguna, bahkan berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan melalui fitur search di YouTube dengan menggunakan kata kunci nahwu ataupun sharaf, channel Yayasan BISA terbukti menempati urutan Hal ini menjadi salah satu alasan utama dalam pemilihan channel ini, karena secara tidak langsung itu menunjukan efektivitas dan kualitas pembelajaran yang disajikan. Melihat hal tersebut, peneliti tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai cara penyampaian qowaid dalam channel YouTube Yayasan BISA, mengingat struktur video yang ringkas dan terfokus pada inti pembelajaran serta dilakukan secara bertahap. Meskipun tidak ada pernyataan langsung bahwa channel tersebut telah menerapkan prinsip-prinsip microlearning tetapi cara penyajian materi yang terstruktur dan mudah diakses menunjukkan bahwa secara tidak langsung video pembelajaran Qowaid khususnya Nahwu dan Sharaf pada channel tersebut mungkin telah didaptasi, sehingga hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian tentang microlearning dalam pembelajaran qowaid khususnya nahwu dan sharaf melalui channel YouTube Yayasan BISA, masih sangat terbatas, bahkan penelitian microlearning dalam pembelajaran bahasa arab secaraa umum masih belum banyak di eksplorasi. Meskipun terdapat penelitian yang memiliki kemiripan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Zamhuri . yang sama-sama menganalisis microlearning dalam media digital, namun pendekatannya tidak menggunakan kerangka microlerning melainkan menggunakan kerangka teori Ebbinghaus . epetisi mater. yang hanya mengukur kesesuaian interval repetisi. Selain itu, fokus materinya terhadap bahasa Arab secara umum bukan Qowaid. (Zamhuri, 2. Penelitian lain yang dijadikan sebagai rujukan adalah penelitian Amrullah dan tatang tentang pemanfaatan Aplikasi Yayasan BISA Nahwu Sharaf sebagai media pembelajaran nahwu sharaf, namun pembelajarannya tidak di analisis melalui perspektif microlearning,(Amrullah & Tatang, 2. begitu juga dengan penelitian Habibah tentang penggunan video Yayasan BISA sebagai media meningkatkan pembelajaran qowaid. (Habibah, 2. Sementara itu, penelitian 282 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. Nabila . mengembangkan video pembelajaran berbasis microlearning, namun fokusnya pada materi IPA . sam bas. bukan pembelajaran bahasa Arab. (Nabila, 2. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran qowaid pada channel YouTube Yayasan BISA video-video pembelajaran qowaid yng ada dalam channel tersebut yang di analisis secara mendalam melalui tiga elemen microlearning yakni microcontent, pedagogi, dan Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan sudut pandang baru dalam model maupun metode pembelajaran bahasa Arab digital . pembelajaran qowaid yang sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi secara teoritis maupun praktis, untuk pengembangan media pembelajaran yang lebih adaptif dan efektif di era digital. Metode Penelitian ini menggunakan metode analisis isi . ontent analysi. Menurut Kripendorf analisis isi . ontent analysi. merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menganalisis isi konten media dengan tujuan (Haryoko et al. , 2. Analisis isi . ontent analysi. dipilih karena penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dn menganalisis isi konten video pembelajaran qowaid khususnya nahwu dan sharaf dalam channel YouTube Yayasan BISA dengan mengacu pada elemen-elemen microlearning yaitu microcontent, pedagogi dan teknologi. Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yakni sumber primer dan sumber sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah video pembelajaran qowaid dalam channel YouTube Yayasan BISA dan sumber data sekundernya berupa referensi teoritis yakni buku, jurnal, dan artikel akademik. Data-data tersebut di peroleh melalui teknik dokumentasi dan dalam penelitian analisis isi . ontent analysi. , 283 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. dokumentasi tidak hanya sekedar mengumpulkan dan menuliskan atau melaporkan dalam bentuk kutipan-kutipan tentang sejumlah dokumen melainkan dokumen yang diperoleh dianalisis, dibandingkan dan dipadukan . dengan tujuan untuk membentuk satu kajian yang sistematis, terpadu (Nilamsari. Data menggunakan analisis data model Miles. Huberman, dan Saldana melalui tiga tahapan yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses penyaringan atau reduksi data dilakukan dengan melakukan seleksi terhadap seluruh playlist video dalam channel Yayasan BISA yang relevan dengan pembelajaran qowaid dan elemen-elemen microlearning berdasarkan indikator yang sudah ditetapkan yakni indikator microcontent meliputi struktur, swasembada, utuh, durasi pendek minimal 1 menit maksimal 15 menit, dan tersusun secara segmentasi. Indikator pedagogi meliputi kesederhanaan dan keterbukaan, alur instruksional . Interaksi dan keterlibatan, penguatan retensi, konten ringkas, spesifik dan mandiri. Indikator teknologi meliputi kualitas teknis video, kemudahan akses dan fleksibilitas, personalisasi, interaktivitas teknologi dan penggunaan media pendukung digital. Selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel klasifikasi video dan uraian naratif untuk memberikan gambaran data secara rinci. Pasca data disajikan, proses selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dari pola-pola yang muncul. Setelah seluruh prosedur analisis data dilakukan, proses terakhir yakni verifikasi data melalui perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan pengamatan, dan membandingkan data hasil dokumentasi melalui berbagai perspektif teori yang relevan . riangulasi teor. serta diskusi dengan teman sejawat untuk menghindari bias analisis. Pembahasan dan Diskusi Pembelajaran Qowaid Pembelajaran menurut Acep adalah proses membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik, serta usaha untuk menyalakan motivasi dan 284 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. mendorong mereka untuk aktif agar tindakan mereka dapat terus-menerus (Hermawan, 2. Sementara qowaid menurut bahasa berasal dari kata AuqowaidAy (A )COAyang berasal dari isim faAoil muannats yakni dari kata " - ACA A COA- A "OCAyang berarti duduk dan bentuk jamaknya adalah kata (A)CA. ,A(IOCOA )2017 Menurut istilah qowaid merupakan aturan-aturan dalam menyusun katakata dalam kalimat berbahasa Arab, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Setiawan mengemukakan bahwa pembelajaran qowaid adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, dalam hal ini adalah materi qowaid yang mengakibatkan perubahan perilaku pada peserta didik sehingga mereka dapat memahami, menyerap, dan menguasai qowaid. )2024 ,A (IOADengan demikian pembelajaran qowaid merupakan proses interaksi antara peserta didik dalam memahami materi qowaid yang berhubungan dengan lingkungan pembelajaran yang bertujuan membantu mereka memaham, menguasai, dan menerapkannya secara tepat agar mampu menggunakan bahasa Arab dengan baik dan benar. Qowaid merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dipahami agar seseorang dapat menguasai bahasa Arab dengan benar. ,UA(AO EOIA )2016 Pada hakikatnya, qowaid hadir sebagai respon terhadap kesalahan penggunaan bahasa. Kebutuhan merumuskan qowaid baru muncul ketika terjadi penyimpangan dalam penggunaan bahasa. Pembelajaran qowaid digunakan untuk menilai ucapan dan tulisan siswa agar mereka terbiasa mengunakan kosakata yaang benar sekaligus untuk mengasah pemikiran siswa dalam memahami sastra secara lebih dalam dengan struktur yang kompleks. Cakupan pembelajaran qowaid sangat luas, sebagaimana disampaikan oleh Ahmad RifaAoI, cakupan pembelajaran qowaid jumlahnya ada 13 diantaranya yakni Sharf . IAorab . nalisis gramatikal, yang bersama sharaf dikenal dengan nama nahw. Rasm . ata tuli. MaAoani . lmu makn. dan Bayan . lmu penjelasan makna. Dari semua ilmu tersebut, yang paling penting adalah sharaf dan i'rab atau nahwu. )2016 ,A(IA 285 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. Ilmu sharaf adalah ilmu yang mempelajari perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab yang tidak berkaitan dengan i/rab ataupun binaAo. )2016 ,A(IA sedangkan, nahwu merupakan cabang ilmu bahasa Arab yang mempelajari tentang bagaimana menyusun kalimat sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang benar yang mencakup posisi kata dalam kallimatmaupun bentuk akhir kata (IAora. )1994 ,A (IEOAAIlmu nahwu dan sharaf tidak dapat dipisahkan, keduanya sering disebut sebagai Auilmu alatAy karena keduanya merupakan alat untuk memahami bahasa Arab secara mendalam. )2016 ,A(IA Secara umum, metode pembelajaran qowaid yang sering digunakan yakni metode Induktif dan metode deduktif. Antoro dan Hamam mengemukakan bahwa metode induktif merupakan konsep pembelajaran yang dirancang dari khusus ke umum. Tujuanya agar siswa mampu menemukan kaidah melalui analisis terhadap contoh yang diberikan secara mandiri. Langkah-langkah pembelajarannya meliputi Pendahuluan. Penyajian. Pengaitan. Generalisasi atau Penyimpulan dan Penerapan. Sebaliknya, metode deduktif mengusung konsep pembelajaran dari umum ke khusus. )2023 ,UA (IOO & IOOAGuru menjelaskan kaidah terlebih dahulu, kemudian memberikan contoh, dan setelah itu siswa diarahkan untuk berlatih menerapkannya melalui berbagai Pembelajaran qowaid juga memiliki tantangan atau kesulitan tersendiri. Kesulitan pembelajaran qowaid disebabkan banyaknya aturan, pengecualian, dan penggunaan analisis logis yang terlalu rumit. Selain itu, belajar qowaid memerlukan banyak kosakata, padahal mayoritas siswa belum memiliki kosakata yang cukup dan sebagian besar guru terlalu fokus menghafal )2016 ,A(IA Microlearning Secara etimologis microlearning berasal dari bahasa inggris micro yang berarti kecil . dan learning yang berarti belajar atau pembelajaran. Jadi 286 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. secara harfiah microlearning adalah pembelajaran mikro atau aktivitas belajar dalam skala kecil. Pada dasarnya, sampai saat ini belum ada konsesus umum dalam mendefinisikan microlearning, namun dalam beberapa literatur, microlearning mengacu terhadap strategi pembelajaran dalam bentuk konten . icro (Darmayasa et al. , 2. Susilana dkk memaknai microlearning sebagai model pembelajaran yang didesain dalam bentuk segmen-segmen kecil dengan berbagai jenis media yang memungkinkan peserta didik memahami materi dengan cepat karena berbentuk konten mini dan dapat diakses secara fleksibel kapan saja dan dimana saja. (Susilana et al. , 2. Microlearning memanfaatkan model pembelajaran berbasis digital dengan berbagai jenis format pembelajaran dalam bentuk bagian-bagian kecil yang terstruktur agar peserta didik dapat memahami materi secara bertahap dan efisisen. Pembelajaran microlearning tidak terlepas dari elemen-elemen yang berperan didalamnya. Menurut Jero B. Darmayasa dalam bukunya, mengutip pendapat Alqurashi mengatakan bahwa terdapat tiga elemen penting dalam menghadirkan pembelajaran microlearning yakni microcontent, pedagogi, dan (Darmayasa et al. , 2. Elemen mcrocontent berkaitan dengan desain pembelajaran yakni materi disajikan dalam ukuran kecil dengan menerapkan satu konsep yang mudah dipahami yang memungkinkan peserta didik bisa mengakses dan mengulang materi sesuai dengan kebutuhannya. Merujuk pada pendapat Leene dalam Jero . , terdapat lima karakteristik utama yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi microcontent. (Darmayasa et al. , 2. Kriteria-kriteria tersebut yang pertama adalah fokus, yakni microcontent hanya memuat satu topik saja dengan fokus yang tajam dan tidak melebar ke pembahasan lain. Karakteristik yang kedua adalah struktur, microcontent harus disusun dengan metadata yang jelas seperti judul, label atau tag untuk memudahkan pencarian. Karakteristik yang ketiga adalah swasembada, konten yang disusun harus bersifat mandiri sehingga peserta didik bisa mendapatkan informasi penuh tanpa perlu merujuk ke sumber lain. Karakteristik yang 287 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. keempat yakni utuh, konten yang disajikan sudah berupa konten yang sangat singkat yang sudah tidak dapat dibagi lagi menjadi sub yang lebih kecil dan karakteristik yang terakhir yakni mudah dilacak . , konten mudah ditemukan melalui mesin pencari. Selain kelima hal tersebut, microcontent harus memuat dua hal lain yakni durasi pendek dan tersusun secara Video pembelajaran microlearning pada umumnya memiliki durasi yang singkat, menurut Rudi Susilana, durasi ideal microlearning berkisar antara 1-3 menit. (Susilana et al. , 2. Sementara itu, penelitian Max Bothe dkk . pada adaptasi konten MOOC, menyarankan durasi 4Ae6 menit sebagai rentang optimal untuk mempertahankan keterlibatan pembelajar . dengan batas maksimal 15 menit untuk menghindari beban kognitif berlebih . ognitive (Bothe et al. , 2. Segmentasi dalam microlearning berarti penyusunan konten microlearning harus berkaitan satu sama lainnya atau sistematis tidak boleh acak sesuai dengan prinsip sequential flow yang disampaikan oleh K Fujii. (Fujii, 2. Elemen pembelajaran microlearning. Konsep elemen pedagogi dalam microlearning ini di usung oleh Alqurashi. Namun. Alqurashi juga menyadari bahwa kerangka aspek pedagoginya masih terbatas bahkan kerangkanya masih diadaptasi dari teori konstruktivitisme Baumgartner. (Alqurashi, 2. Banyak para ahli yang berupaya melakukan analisis untuk melengkapi keterbatasan aspek tersebut, salah satunya Alias dan Razak, mereka mencoba mengeksplorasi penelitianpenelitian microlearning dan mengusulkan dua aspek utama yakni desain konten dan alur instruksional. (Alias & Razak, 2. Di sisi lain. Martin berdasarkan desain konten bukan sebaliknya. (Lindner & Bruck, 2. Sedangkan konsep desain konten microlearning mengacu terhadap kebutuhan dari peserta didik. Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa pedagogi microlearning bersifat fleksibel tidak seperti pedagogi pada teori umumnya. (Lindner & Bruck, 2. Berdasarkan hasil sintaksis dari literatur-literatur, maka indikator- 288 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. indikator pedagogy microlearning yakni kesederhanaan dan keterbukaan, alur instruksional jelas . , interaksi dan keterlibatan, penguatan retensi dan konten ringkas, spesifik dan mandiri. Selain ketujuh indikator tersebut, peneliti menemukan bahwa aspek evaluasi atau asesmen belum banyak dibahas dalam kajian pedagogi microlearning, termasuk dalam penelitian ini. Dalam studi yang dilakukan oleh Alias dan Razak, evaluasi hanya disebutkan dalam bentuk selfevaluation dari hasil penelitian lain, dan tidak dijelaskan lebih lanjut sebagai bagian dari struktur pedagogi yang mereka rumuskan. (Alias & Razak, 2. Padahal, sebagaimana yang di sampaikan oleh muslimah dan karimah aspek evaluasi atau assesment sangat penting karena kualitas pembelajaran sendiri dapat dilihat dari hasil penilaiannya. (Muslimah & Karimah, 2. Hal ini berarti, keberadaan asesmen seperti kuis singkat atau evaluasi mandiri sangar penting untuk membantu peserta didik mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi. Oleh karena itu, aspek evaluasi ini masih memiliki peluang untuk dikembangkan dalam penelitian selanjutnya. Elemen teknologi dalam microlearning merujuk pada media, platform, dan perangkat digital yang digunakan untuk menyampaikan konten kepada peserta didik. Teknologi disini bukan sekedar alat bantu, tetapi juga bagian (Darmayasa et al. , 2. Sebagaimana pedagogi, pembahasan elemen ini dalam microlearning juga masih terbatas. Berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan, secara umum elemen teknologi mengacu pada kualitas teknis video, . esuai interaktivitas teknologi, dan penggunaan media pendukung. (Iskandar et al. Microlearning Kelebihan microlearning adalah efisiensi waktu, fleksibilitas akses, meningkatkan retensi pengetahuan dan ketertarikan peserta didik, dan peserta didik jauh diberikan lebih banyak kebebasan. (Sinaga et al. , 2. Sedangkan kekurangannya ialah ketergantungan pada teknologi, membutuhkan disiplin dan motivasi tinggi dari peserta didik. (Susilana et al. , 2. 289 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. Analisis Pembelajaran Qowaid dalam Channel YouTube Yayasan BISA berdasarkan Perspektif Microlearning Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa terdapat 23 playlist dalam channel Yayasan BISA yang berisi tentang pembelajaran qowaid . ahwu dan shara. Namun, tidak seluruh playlist tersebut memenuhi elemen-elemen microlearning yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Oleh karena itu dilakukan seleksi lanjutan yang mengacu pada tiga elemen microlearing yakni microcontent, pedagogi dan teknologi. Setiap playlist berisi belasam hingga puluhan video, sehingga proses seleksi yang dilakukan masih dalam tahap awal dengan menggunakan acuan prinsip dari setiap elemen microlearning secara sederhana yakni penilaian elemen microcontent dilihat dari durasi video yang berdurasi dibawah 15 menit dan fokus pada satu pokok bahasan. Penilaian elemen pedagogi dilihat dari struktur pembelajaran yang jelas dan penilaian elemen teknologi dilihat dari kualitas video, dan kemudahan akses. Hasil analisis yang di dapatkan yakni dari total 23 playlist video pembelajaran qowaid yang ada dalam channel tersebut hanya 2 playlist saja yang memenuhi seluruh kriteria elemen-elemen microlearning, baik dari segi microcontent, pedagogi maupun teknologi. Sementara 21 playlist lainnya hanya memenuhi 1 dari total 3 elemen microlerning yakni dari segi pedagogi ataupun Secara umum, rata-rata durasi video dari ke-21 playlist tersebut memiliki durasi diatas 25 menit bahkan 1 jam lebih dan pembahasannya melebar lebih dari satu pokok bahasan, sehingga sangat tidak sesuai dengan prinsip dari elemen microcontent. Apabila kita lihat dari sisi pedagogi, dari segi alur instruksional sangat jelas dan sesuai, namun dari sisi desain materi masih jauh dari konsep pedagoginya microlearning. Lebih lanjut, dari sisi teknologi, kualitas video dan aksebilitas maupun fleksiilitas sangat baik, namun, penggunaan media pendukung seperti animasi masih belum ada. Berdasarkan data dari hasil analisis tersebut, playlist yang memenuhi kriteria ada 2 yakni playlist animasi pembelajaran bahasa Arab . dan 290 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. animasi pembelajaran bahasa Arab . dengan jumlah 28 video pada playlist animasi nahwu dan 26 video pada playlist animasi sharaf. Selanjutnya, analisis dilanjutkan ke setiap video yang ada dalam kedua playlist tersebut untuk melihat sejauh mana elemen-elemen microlearning diterapkan dalam setiap video dengan menggunakan analisis tahap yang detail melalui indikator setiap elemen yakni: . Microcontent: Struktur . ateri dibagi ke dalam satu topik yang jela. Swasembada . ateri dapat dipahami secara mandiri tanpa perlu merujuk ke sumber lai. Utuh . ateri tidak dapat dibagi lag. Durasi pendek . dealnya 4-6 meni. , dan Tersusun secara Segmentasi . ateri disusun secara bertahap dan berkesinambungan satu sama lainny. Pedagogi: Kesederhanaan dan Keterbukaan . ateri mudah dipaham. Alur Instruksional Jelas (Flo. enyajian materi runtut dan logis mencakup pembukaan . ujuan pembelajara. , isi . angsung ke int. , dan penutup agar memudahkan proses belaja. Interaksi dan Keterlibatan . eserta didik bisa berinteraksi. Penguatan Retensi dan Konten Ringkas. Spesifik. Mandiri. Teknologi: Kualitas Teknis Video . esolusi video tinggi, audio jernih dan editing yang mendukung penyampaian mater. Kemudahan Akses dan Fleksibilitas . ateri dapat diakses dimana saja, kapan saja melalui perangkat, peserta didik bebas memilih waktu dan cara belajarsesuai kebutuha. Personalisasi . ateri menyesuaikan pengalaman belajar sisw. Interaktivitas Teknologi . itur komentar atau kuis untuk melibatkan peserta didi. dan Penggunaan Media Pendukung Digital . nimasi dalam vide. Selain indikator-indikator microlearning, mulai dari kategori cukup microlearning, kategori microlearning, kategori paling microlearning dan kategori tidak microlearning. Hasil analisis pada tahap ini yakni dari total 28 video dalam playlist animasi nahwu, terdapat 13 video yang masuk kategori microlearnin, 4 video cukup microlearning dan 11 video yang dinilai paling microlearnig. Sedangkan untuk playlist sharaf dari total 26 video, 6 video diantaranya masuk kategori microlearning, 8 video cukup 291 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. microlearning, 10 video dinilai paling microlearning dan 2 video tidak termasuk Tahap selanjutnya yakni video-video yang masuk kategori paling microlearning dari kedua playlist tersebut yang akan menjadi fokus utama dalam analisis. Sebagaimana kita ketahui sebelumnya, video yang masuk dalam kategori paling microlearning sebanyak 21 video baik dari animasi nahwu maupun sharaf. Analisis dilakukan secara rinci dengan menggunakan seluruh indikator per elemen microlearning terhadap salah satu video yang masuk kategori dari playlist nahwu ataupun sharaf, kemudian di analisis ulang dari sisi teori-teori pembelajaran yang sudah mapan, dengan rincian sebagai Elemen Microcontent Analisis elemen microcontent dilakukan berdasarkan lima indikator yakni struktur, swasembada, utuh, durasi pendek, dan tersusun secara segmentasi. Secara umum, video-video yang masuk dalam kategori paling microlearning memiliki durasi yang sesuai dengan aturan microlearning bahkan masuk dalam kategori rentang waktu yang optimal yakni berkisar diantara 4-6 menit, sebagai contoh, video AuKeterangan wajib manshub (MafAoul Mutla. Ay dalam animasi pembelajaran nahwu yang berdurasi 4 menit 49 detik dan video Auwazan tashrif fiAoil Aoamr dan fiAoil nahiyAoAy dalam animasi pembelajaran sharaf yang berdurasi 5 menit 26 detiik. Secara penyajian isi, video-video tersebut memenuhi indikator struktur karena hanya membahas satu topik sesuai dengan judulnya tanpa mencampurkan materi lain. Materi juga disampaikan secara swasembada, karena dapat dipahami secara mandiri tanpa perlu merujuk ke sumber lain saat Penjelasan yan disampaikan sangat jelas dengan menggunakan bahasa yang sederhana, seperti yang disampaikan dala video animasi wazan tashrif fiAoil Aoamr dan fiAoil nahiy. Setiap tashrif diberikan rumus dari kata yang umum digunakan yang memudahkan peserta didik mengingat tanpa perlu mencari sumber lain sebagai penekanan. Demikian juga dalam video animasi nahwu 292 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. mafAoul mutlaq yang contohnya diambil dari Al-QurAoan dengan jumlah contoh yang sangat banyak. Secara umum video-video dalam kedua playlist tersebut utuh atau tidak dapat dibagi lagi, meskipun sebagian besar video membahas dua topik seperti dalam animasi sharaf wazan tashrif fiAoil Aoamr dan fiAoil nahiy dan dalam animasi nahwu mafAoul min ajlih dan mafAoul maAoah, kedua topik tersebut saling terkait satu sama lain sehingga dengan disatukan dalam video pembahasan jauh lebih Hal ini meminimalisir peserta didik mencari sumber rujukan lain. Selanjutnya, jika dilihat dari indikator kelim atau indikator terakhir, materi disusun secara bertahap dan tersegmentasi sehingga pembelajaran dapat diikuti secara sistematis. Seluruh materi dalam kedua playlist saling berhubungan satu sama lain. Materi dijelaskan mulai dari dasar sampai dengan tingkat lanjut. Sebagaimana animasi sharaf wazan tashrif fiAoil Aoamr dan fiAoil nahiy, sebelum pembelajaran tashrif fiAoil amr dan nahiy yakni diawali dengan animasi tashrif mashdar, faAoil dan mafAoul. Demikian pula dalam animasi nahwu keterangan wajib manshub . afAoul mutla. setelah pembelajaran tersebut dilanjutkan kedalam pembelajaran keterangan wajib yang lain yakni dharaf, haal, dan tamyiz. Berdasarkan uraian analisis video terhadap kelima indikator di atas, penerapan microcontent dalam video pembelajaran qowaid dalam animasi nahwu dan sharaf menunjukkan kualitas yang sangat baik. Jika ditelaah lebih lanjut, video dengan durasi optimal microlearning cenderung mendapatkan jumlah penayangan yang lebih tingi dibandigkan video berdurasi panjang. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan waktu singkat jauh lebih Feomena ini sejalan dengan teori kurva lupa . orgetting curv. yang di kembangkan oleh Herman Ebbinghaus . , bahwa manusia cenderung melupakan sebagian besar informasi yang di pelajari dalam waktu singkat setelah proses pembelajaran, terutama jika tidak ada pengulangan atau (Alias & Razak, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan microlearning terbukti efektif untuk mengatasi keterbatasan kemampuan dalam 293 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. memahami informasi, karena menyajikan materi dalam unit kecil yang mudah di ulang sesuai dengan kebutuhan, bahkan Alias dan Razak mengemukakan bahwa teori furgetting curve menjad dasar utama dalam pengembangan strategi microlearning. Konsep spacing effect dari Ebbinghaus yang menyajikan bahwa informasi akan lebih mudah disimpan dalam memori jangka panjang bila diberikan secara berkala. Dengan demikian, video pembelajaran qowaid dalam channel YouTube Yayasan BISA dalam playlist animasi nahwu dan sharaf, secara tidak langsung telah menerapkan prinsip singkat, terstruktur, dan mudah diakses kapan saja, sehingga mendukung efektivitas dan retensi belajar peserta didik. Elemen Pedagogi Analisis elemen pedagogi didasarkan pada lima indikator yakni kesederhanan dn keterbukaan, alur instruksional jelas . , interaksi dan keterlibatan, penguatan retensi, dan konten ringkas, spesifik, mandiri. Pertama, dari sisi kesederhanaan dan keterbukaan yang berkaitan dengan bahasa dalam penyampaian materi. Video-video dalam playlist animasi nahwu dan sharaf menggunakan bahasa sederhana yang mudah untuk dipahami. Hal ini dapat kita lihat dari pemilihan kata yang digunakan dalam menyampaikan materi, sebagaimana bisa kita lihat dalam video animasi sharaf tentang wazan tashrif fiAoil Aoamr dan fiAoil nahiy dalam pemilihan kata saat menyampaikan perubahan pada harokat dan huruf yang perlu ditambahkan. Kedua, dari segi alur instuksional jelas . , yang berkaitan dengan . ujuan pembelajara. , isi . angsung ke int. , dan penutup. Secara umum alur sudah sangat baik, hanya saja konsistensi model pembuka masih kurang dan sangat minim penguatan retensi dan jika ditelaah lebih jauh peneliti menemukan adanya lima pola alur instruksional yang muncul. Pola-pola ini disusun berdasarkan keberadaan unsur pembuka, tujuan, isi, retensi, dan penutup dalam video. 294 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. Pola 1: lengkap Ae mencakup pembuka, apersepsi, pemantik, tujuan, inti, retensi, dan penutup. Pola 2: pembuka, apersepsi, pemantik, tujuan, inti, penutup. Pola 3: pembuka, apersepsi, tujuan, inti, penutup. Pola 4: pembuka, tujuan, inti, retensi, penutup dan Pola 5: pembuka, tujuan, inti, penutup. Meskipun secara teori alur pembelajaran ideal disusun secara sistematis dari pembuka hingga penutup, dalam praktiknya video dengan struktur lebih sederhana tetap menunjukkan efektivitas, terbukti dari keterlibatan dan respons penonton yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks microlearning, fleksibilitas dalam penyusunan alur instruksional justru Ketiga yakni interaksi dan keterlibatan. Bentuk keterlibatan dan interaksi proses belajar menggunakan media YouTube masih terbatas melalui kolom komentar dan belum bisa chat secara pribadi, kecuali kalau ada tambahan link tes untuk mengetahui lebih jauh pemahaman penonton. Walaupun demikian, tingkat keterlibatan peserta sangat baik, komentar-komentar sangatlah positif dan hampir seluruh pertanyaan selalu dijawab. Perlu diketahui juga, walaupun secara umum, materi yang disampaikan dengan sangat baik, tidak jarang ada komentar koreksi dari penonton, dan hal tersebut juga tetap ditanggapi secara positif oleh admin serta langsung diberikan penjelasan. Sebagaimana komentar penonton dalam video animasi sharaf tashrif tsulasi mujarrod yang mengatakan: AuAfwan tadz utk bab 5 isim faAoil, isim mafAoul, fiAoil amr dan nahinya ga ada yaAy kemudian langsung dijelaskan oleh pengelola channel bahwa memang tidak ada karena secara makna tidak sesuai. Namun, hal ini masih belum optimal karena tidak seluruh komentar terjawab. Keempat yakni penguatan retensi, yang berkaitan dengan pengulangan atau rangkuman materi. Hasil analisis membuktikan bahwa mayoritas video dalam kedua playlist masih sangat minim penguatan retensi, sebagaimana sudah dijelaskan dalam alur instruksional sebelumnya. Setelah materi selesai disampaikan langsung ditutup dengan salam. Hal ini menjadi kekurangan dari 295 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. video yang ada dalam channel yayasan BISA jika ditinjau dari konsep Terakhir yakni konten ringkas, spesifik, dan mandiri yang berkaitan dengan bagaimana materi disajikan. Materi harus disajikan secara padat, jelas, dan fokus agar mudah dipahami dan tidak membingungkan. Sebagaimana dalam analisis-analisis dari sebelumnya pada aspek microcontent. Hampir seluruh penyajian materi dalam animasi, sudah sangat ringkas dan mandiri. Hanya 2 video saja yang melebihi batas namun, hal ini karena komplektisitas materi yang tinggi. Berdasarkan uraian dari kelima indikator tersebut, penerapan elemen pedagogis dalam video pembelajaran qowaid pada playlist Animasi Nahwu dan Sharaf menunjukkan kualitas yang cukup baik. Konten pembelajaran dirancang dengan alur yang jelas, penyampaian materi bertahap, serta penggunaan media visual yang menarik. Selain itu, kegiatan pembelajaran disampaikan dalam format mandiri yang memungkinkan peserta didik untuk masing-masing. Karakteristik ini hampir mirip dengan pendekatan asynchronous learning jika dilihat dari sisi peserta didik tidak harus hadir secara bersamaan dengan instruktur, namun dapat mengakses materi kapan saja dan dari mana saja. Seperti yang dijelaskan oleh Dianita . , pendekatan memberikan keleluasaan bagi peserta didik untuk mengelola waktu belajarnya pemahaman tanpa batasan waktu yang ketat. (Amiti, 2. Namun demikian, masih terdapat kekurangan yang cukup signifikan, terutama pada aspek penguatan retensi belajar. Hal ini terlihat dari belum adanya strategi eksplisit dalam video yang mendukung proses pengulangan, evaluasi, atau penguatan memori peserta didik setelah penyampaian materi Padahal, dalam pembelajaran berbasis asynchronous, penguatan retensi menjadi sangat krusial karena tidak ada interaksi langsung secara real-time yang dapat membantu memperjelas atau menguatkan pemahaman siswa. Dianita . juga menekankan bahwa kelemahan umum dalam asynchronous 296 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. learning adalah minimnya interaksi langsung dan kurangnya keterlibatan emosional, sehingga rentan menyebabkan menurunnya motivasi serta keterlibatan aktif peserta didik. Oleh karena itu, dalam konteks pembelajaran qowaid yang disampaikan melalui video YouTube, dibutuhkan inovasi pedagogis tambahan, seperti penyisipan kuis singkat, refleksi mandiri, atau aktivitas pengulangan materi di akhir video, agar daya retensi peserta didik dapat lebih optimal. (Amiti, 2. Tetapi perlu diingat bahwa konsep pedagogi dalam microlearning dari awal menekankan fleksibilitas tinggi dimana pedagogilah yang menyesuaikan desain bukan sebaliknya sehingga secara tidak langsung hal ini berarti konsep pedagogi microlearning jauh lebih fleksibel dari konsep pendekatan asynchronous learning. Dengan demikian, penerapan pedagogi dalam video pembelajaran ini sudah berjalan cukup baik dalam mendukung pembelajaran mandiri, namun masih perlu ditingkatkan dari sisi mekanisme penguatan retensi, agar proses pembelajaran tidak hanya selesai pada tataran kognitif jangka pendek, tetapi juga berpengaruh terhadap daya simpan jangka panjang peserta didik. Elemen Teknologi Analisis elemen teknologi mengacu pada lima indikator yaitu kualitas teknis video, kemudahan akses dan fleksibilitas, personalisasi, interaktivitas teknologi, dan penggunaan media pendukung digital. Jika dilihat dari indikator yang pertama yakni kualitas teknis video, rata-rata video dalam playlist animasi nahwu dan sharaf memiliki resolusi gambar yang tinggi, audio yang jernih, serta konsep editing yang rapi. Visualisasi animasi yang digunakan sangat membantu dalam memperjelas konsep yang disampaikan. Sebagaimana kita ketahui bahwa keunggulan utama pembelajaran berbasis YouTube adalah kemudahan akses, hal ini sangat sesuai dengan prinsip indikator kedua elemen teknologi yakni kemudahan akses dan fleksibilitas. Video-video dalam animasi nahwu dan sharaf bahkan seluruh video dalam channel Yayasan BISA sangat mudah untuk diakses dan fleksibel tanpa batasan, bahkan kalau kita ingin mengakses secara offline itu sangat bisa, karena video bisa di download di 297 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. Video di yayasan BISA bersifat publik sehingga kita bisa melihat tanpa batasan. Indikator ketiga, yakni personalisasi atau materi sesuai dengan kebutuhan siswa dan pengalaman mereka. Kesesuaian video dengan kebutuhan atau pengalaman belajar siswa dapat kita lihat dari peserta didik bebas memilih urutan video tanpa harus mengikuti urutan playlist, misalnya peserta didik ingin langsung belajar tentang tashrif fiAoil Aoamr terlebih dahulu, itu sangat Selain itu, dalam channel ini, contoh-contoh yang diberikan dalam video diambil dari kegiatan sehari-hari dan AL-QurAoan, sehingga peserta didik dapat mengaitkan materi dengan pengalaman mereka sendiri dan peserta didik dapat menyesuaikan proses belajar sesuai kebutuhan dan kecepatan belajar masing-masing. Selanjutnya, indikator keempat yakni interaktivitas teknologi yang berkaitan dengan fitur digital seperti animasi, kuis interaktif, komentar, polling yang disediakan untuk mendukung pengalaman belajar. Fitur interaktivitas dalam channel ini masih sangat terbatas pada kolom komentar saja, waalaupun begitu baik peserta didik maupun pengguna channel memanfaatkan kolom komentar dengan baik. Peserta didik aktif bertanya dan pengelola channel aktif merespon sehingga tercipta diskusi dua arah secara Indikator terakhir yakni penggunaan media pendukung digital seperti animasi menjadi keunggulan utama dalam playlist animasi nahwu dan sharaf. Seluruh video dalam playlist tersebut menggunakan animasi yang menarik, sebagaimana dalam AuAnimasi 13: Wazan Tashrif (FiAoil AoAmr dan Nahi. Ay, perubahan bentuk kata divisualisasikan secara bertahap dengan animasi, sehingga peserta didik dapat mengikuti proses tashrif dengan mudah dan Visualisasi ini membantu peserta didik yang memiliki gaya belajar visual untuk memahami materi yang bersifat abstrak. Berdasarkan kelima indikator yang telah dianalisis diatas, pembelajaran qowaid di channel Yayasan BISA telah mengintegrasikan teknologi dengan baik, terutama dalam hal visual, fleksibilitas akses, dan penyajian konten. Namun, fiturinteraktif 298 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. masih terbatas pada kolom komentar, meskipun penglola aktif memberikan respon, tidak semua komentar pengguna terbalas sehingga ruang komunikasi dua arah masih belum optimal. Selain itu, aspek personalisasi masih perlu Jika ditelaah dari segi keterkaitannya dengan teori pembelajaran berbasis teknologi, maka penerapan teknologi ini dapat dianalisis melalui kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Teori ini menekankan pentingnya integrasi antara tiga elemen utama, yaitu teknologi, pedagogi, dan konten dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Surahman dkk menjelaskan bahwa teknologi tidak cukup hanya digunakan sebagai media penyampai materi, melainkan harus mampu mendukung strategi pengajaran serta penyusunan konten yang selaras dengan kebutuhan peserta didik. Dalam hal ini, video pembelajaran qowaid sudah menunjukkan penerapan technological knowledge dan content knowledge yang kuat. Namun, dari sisi pedagogical use of technology, terutama dalam menghadirkan fitur interaktif dan pengalaman belajar yang dipersonalisasi, masih perlu dikembangkan lebih lanjut. (Surahman et al. , 2. Dengan demikian, penerapan elemen teknologi dalam video pembelajaran qowaid telah berhasil menarik minat belajar dan menyampaikan konten dengan cara yang menarik dan efisien. Akan tetapi, penguatan fitur interaktif dan upaya personalisasi benar-benar menyeluruh sesuai prinsip TPACK. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidak seluruh pembelajaran qowaid pada channel YouTube Yayasan BISA sesuai dengan pendekatan microlearning. Dari total 23 playlist yang memuat konten pembelajaran qowaid, hanya 2 playlist yakni playlist Animasi Nahwu dan Animasi Sharaf, yang sesuai dengan prinsip-prinsip microlearning, seperti 299 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. durasi video yang singkat, fokus pada satu topik utama, penyajian materi yang terstruktur dan bertahap, serta kemudahan akses bagi pembelajar. Hal ini memudahkan pembelajar untuk memahami materi secara bertahap tanpa merasa terbebani oleh kompleksitas materi yang biasanya dianggap sulit dan memerlukan waktu lama untuk dikuasai. Penilaian ini sepenuhnya didasarkan pada analisis karakteristik video, bukan pada klaim atau penerapan formal dari pihak pengelola channel, sehingga adaptasi unsur microlearning pada kedua playlist tersebut terjadi secara tidak langsung dan dapat membantu pembelajar memahami materi qowaid dengan cara yang lebih praktis dan efisien. Selain itu, format video yang singkat dan mudah diakses kapan saja membuat proses belajar menjadi lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan pembelajaran yang instan dan praktis, serta penggunaan platform YouTube sebagai media pembelajaran terbukti efektif karena jangkauan dan aksesibilitasnya yang tinggi, didukung oleh respons positif dari pengguna channel Yayasan BISA. Pendekatan microlearning yang secara tidak langsung diterapkan pada channel ini tidak hanya membantu meningkatkan retensi informasi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik dan relevan dengan perkembangan teknologi pendidikan Namun, dikembangkan, terutama dalam aspek interaktivitas dan pemberian umpan balik secara langsung. Selain itu, salah satu aspek yang belum banyak mendapat perhatian adalah aspek evaluasi atau asesmen dalam elemen pedagogi microlearning. Berdasarkan kajian Alias dan Razak, asesmen memang disebutkan dalam bentuk self-evaluation, namun belum dijelaskan secara menyeluruh sebagai bagian dari susunan pembelajaran. Padahal, keberadaan asesmen sederhana seperti kuis atau refleksi mandiri sangat penting untuk mengetahui sejauh mana peserta didik memahami materi yang disampaikan melalui pendekatan microlearning. 300 | P a g e Submitted: 30-07-2025. Revised: 20-09-2025. Accepted: 30-10-2025 International Conference on Islamic Economic P-ISSN: 2829-5102. E-ISSN: 2829-663X Vol. 4 No. 2 October 2025, doi: https://doi. org/10. 58223/icie. Daftar Pustaka