JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Konsep Aksiologi Ilmu dalam Perspektif Barat dan Islam serta Implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam Putri Firdaus Fahmi1. Fitria Faradina Kafa Aula2. Siti Fatimah3. Pitriatin4. Sumiran5 Institut Islam MambaAoul Ulum Surakarta. Indonesia Email: putrifirdausfahmi@gmail. ABSTRACT The development of contemporary science has generated divergent value orientations between Western and Islamic traditions. Western science emphasizes objectivity, value neutrality, and technical-empirical aspects, whereas the Islamic tradition integrates moral and spiritual values with the pursuit of public benefit . aqAid al-sharAoa. These differences have significant implications for Islamic Religious Education (IRE), particularly in shaping studentsAo character, ethics, and spirituality. This study aims to analyze the concept of the axiology of knowledge from Western and Islamic perspectives and to examine its implications for IRE practices. The research employs a qualitative approach through library research, involving a systematic review of primary and secondary literature on Western and Islamic philosophy of science, the axiology of knowledge, and education. Data were analyzed using descriptive-analytical and comparative methods to interpret value orientations, the purposes of knowledge, and their educational implications within both traditions. The findings indicate that Western science initially emphasized value neutrality and objectivity. however, contemporary discourse increasingly highlights the integration of ethics and moral values. In contrast, the Islamic scientific tradition consistently integrates revelation, reason, and empirical experience within a moral, spiritual, and public-benefit-oriented framework. These findings underscore that IRE should be developed holistically by integrating cognitive, ethical, and spiritual dimensions, enabling students to become not only intellectually competent but also morally grounded and socially responsible. The novelty of this article lies in its comparative analysis of Western and Islamic axiological paradigms as a means of strengthening IRE as a platform for character formation and a moral filter in responding to modern science and technology. Keywords: Axiology of Knowledge. Islamic Religious Education. Moral Values. Spirituality. Western Paradigm. Islamic Paradigm. MaqAid al-SharAoah ABSTRAK Perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer menimbulkan perbedaan orientasi nilai antara tradisi Barat dan Islam. Ilmu Barat menekankan objektivitas, netralitas nilai, dan aspek teknis-empiris, sedangkan tradisi Islam mengintegrasikan nilai moral, spiritual, dan tujuan kemaslahatan . aqAid al-syarAoa. Perbedaan ini memiliki implikasi signifikan terhadap Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya dalam pembentukan karakter, etika, dan spiritual peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep aksiologi ilmu dalam perspektif Barat dan Islam serta menilai implikasinya terhadap praktik PAI. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. , melibatkan seleksi literatur primer dan sekunder yang relevan mengenai filsafat ilmu Barat dan Islam, aksiologi ilmu, serta pendidikan. Analisis JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. dilakukan secara deskriptif-analitis dan komparatif untuk menafsirkan orientasi nilai, tujuan ilmu, serta implikasi pendidikan dari kedua tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ilmu Barat awalnya menekankan netralitas nilai dan objektivitas, namun pemikiran kontemporer mulai menekankan integrasi etika dan nilai moral. Sebaliknya, ilmu dalam tradisi Islam secara konsisten mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman empiris dengan orientasi moral, spiritual, dan kemaslahatan. Temuan ini menegaskan bahwa PAI sebaiknya dikembangkan secara holistik, mencakup aspek kognitif, etis, dan spiritual, sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga bermoral dan bertanggung jawab sosial. Kebaruan artikel ini terletak pada analisis komparatif antara paradigma aksiologi Barat dan Islam untuk memperkuat praktik PAI sebagai wahana pembentukan karakter dan filter moral terhadap ilmu serta teknologi modern. Kata Kunci: Aksiologi Ilmu. Pendidikan Agama Islam. Nilai Moral. Spiritualitas. Paradigma Barat. Paradigma Islam. MaqAid al-SyarAoah *** PENDAHULUAN Perkembangan peradaban manusia pada era kontemporer ditandai oleh perubahan yang cepat dalam bidang teknologi, sosial, ekonomi, dan budaya (Saturnus, 2. , yang tidak dapat dilepaskan dari kemajuan ilmu pengetahuan sejak era Pencerahan (Enlightenmen. di Barat. Pada masa ini, rasionalitas, empirisme, dan metodologi ilmiah sistematis menjadi fondasi utama dalam pencarian pengetahuan, sehingga ilmu dipandang sebagai aktivitas intelektual untuk menemukan fakta dan menciptakan inovasi teknologi (Gaukroger, 2020. Porter, 1990. Sahib & Rahmatia, 2. Paradigma ini menekankan bahwa ilmu bersifat netral dan bebas nilai . alue-fre. , karena kebenaran ilmiah diyakini dapat diverifikasi secara objektif melalui rasio dan pengalaman empiris (Comte, 1974. Putnam, 2. Konsekuensinya, ilmu sering diarahkan pragmatis sebagai instrumen kemajuan material dan efisiensi ekonomi, tanpa refleksi mendalam terhadap nilai moral dan tujuan manusia (Habermas, 1984. Taufik & Subagjo, 2. Pendekatan Barat ini telah mendorong kemajuan pesat dalam sains dan teknologi, namun pemisahan ilmu dari nilai dan etika menimbulkan berbagai masalah kontemporer, seperti krisis ekologis, penyalahgunaan teknologi digital, dehumanisasi pendidikan modern, dan reduksi manusia menjadi objek teknis (Beck, 1992. Winner, 1. dan (Puspa. Rahayu, & Parhan, 2. Dalam pendidikan, orientasi ini cenderung menekankan aspek kognitif dan keterampilan teknis, sementara pembentukan karakter, moral, dan spiritual sering terpinggirkan (Syafriandi. Fatimah, & Fitrisia, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Sebaliknya, tradisi keilmuan Islam memandang ilmu sebagai anugerah Ilahi . iAoma. yang senantiasa terkait nilai moral dan tujuan transendental. Ilmu bersumber dari integrasi wahyu . , akal (Aoaql. , dan pengalaman empiris . , yang diarahkan untuk mengenal Allah, membangun kemaslahatan, dan menegakkan keadilan dalam kehidupan manusia (Al-Attas, 1995. Nasr, 1. Oleh karena itu, ilmu dalam Islam sarat nilai dan tanggung jawab etis, serta berperan dalam pembentukan insan beriman, berilmu, dan berakhlak, selaras dengan prinsip maqAid al-syarAoah yang menekankan perlindungan agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta (Auda, 2008 dalam (Syihab, 2. Dalam kajian filsafat ilmu, aksiologi menempati posisi strategis karena membahas nilai, tujuan, dan manfaat ilmu bagi manusia. Aksiologi mempertanyakan tidak hanya Auuntuk apa ilmu digunakanAy, tetapi juga Auke arah mana ilmu harus diarahkanAy agar tetap memelihara tanggung jawab moral dan sosial (Asmah, 2. Pendekatan aksiologis menegaskan bahwa ilmu selalu mengandung nilai yang memengaruhi cara manusia berpikir, bertindak, dan membangun peradaban (Zuboff, 2. Dengan demikian, perbedaan orientasi aksiologi antara Barat dan Islam menjadi krusial untuk dipahami, terutama dalam konteks pendidikan. Dalam Pendidikan Agama Islam (PAI), kajian aksiologi ilmu sangat relevan. PAI bertujuan mentransmisikan pengetahuan sekaligus membentuk karakter, moral, dan kepribadian peserta didik sesuai nilai-nilai Islam (Nurdiyanto. Jamal. Isnaini, & Yulianti. Namun, praktik PAI saat ini sering terbatas pada pendekatan normatif dan kognitif, sementara internalisasi nilai dan kesadaran etis belum sepenuhnya terintegrasi (Ahwani. Syahlarriyadi, & Sutarto, 2. Dominasi paradigma ilmu Barat yang pragmatis juga berpotensi menggeser tujuan pendidikan Islam dari pembentukan insan kamil menjadi sekadar pencapaian akademik (Hidayat & Aprison, 2. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menekankan analisis aksiologi ilmu dalam perspektif Barat dan Islam sebagai landasan filosofis penguatan PAI. Pemahaman mendalam tentang perbedaan orientasi nilai dan tujuan ilmu diharapkan dapat memperkaya paradigma PAI, sehingga pendidikan Islam tidak hanya responsif terhadap perkembangan ilmu modern, tetapi juga berakar pada nilai moral, spiritual, dan Dengan demikian. PAI dapat berperan strategis dalam membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan global secara etis dan beradab. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. Metode ini dipilih karena objek kajian berupa konsep, gagasan, dan pemikiran filosofis mengenai aksiologi ilmu dalam perspektif Barat dan Islam serta implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam (PAI), yang menuntut analisis mendalam terhadap literatur tanpa pengumpulan data lapangan. Desain penelitian bersifat deskriptif-analitis dan komparatif, dengan tujuan mendeskripsikan konsep aksiologi ilmu dalam dua tradisi keilmuan berbeda sekaligus menganalisis orientasi nilai, tujuan, dan implikasi etis ilmu terhadap pendidikan, khususnya PAI. Populasi penelitian mencakup seluruh literatur yang membahas filsafat ilmu, aksiologi ilmu, filsafat pendidikan Islam, etika ilmu pengetahuan, serta implikasinya terhadap pendidikan. Sampel dipilih secara purposive sampling, yakni seleksi literatur berdasarkan kriteria: Relevansi tematik dengan fokus kajian. Otoritas keilmuan, termasuk karya primer tokoh klasik dan kontemporer. Periode publikasi . uku atau artikel dari abad ke-20 hingga terbaru, terutama 2000-2024 untuk literatur kontempore. Bahasa sumber (Bahasa Indonesia. Inggris, atau Ara. Sumber primer meliputi karya tokoh Barat seperti Auguste Comte. Jyrgen Habermas. Hilary Putnam. Ulrich Beck, dan Langdon Winner, serta tokoh Islam seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas. Seyyed Hossein Nasr. Al-Ghazali. Ibn Khaldun, dan Jasser Auda. Sumber sekunder berupa artikel jurnal nasional dan internasional, buku, dan penelitian terdahulu yang mendukung analisis aksiologi ilmu dan pendidikan Islam. Instrumen utama penelitian adalah peneliti sebagai human instrument, bertanggung jawab menyeleksi, memahami, dan menafsirkan literatur. Instrumen pendukung mencakup lembar dokumentasi literatur dan panduan kategorisasi konsep, yang memuat orientasi nilai, tujuan dan fungsi ilmu, serta implikasi pendidikan. Data dikumpulkan melalui dokumentasi literatur dengan tahap: identifikasi literatur, seleksi berdasarkan kriteria, pembacaan kritis, pencatatan informasi penting, dan klasifikasi sesuai kerangka analisis. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Analisis dilakukan secara kualitatif filosofis-komparatif, meliputi: Reduksi data untuk menyingkirkan informasi yang tidak relevan. Kategorisasi tema berdasarkan orientasi nilai, tujuan, dan implikasi pendidikan. Analisis deskriptif terhadap konsep dan gagasan. Analisis komparatif untuk menyoroti persamaan dan perbedaan antara tradisi Barat dan Islam. Analisis implikasi pendidikan khususnya terhadap PAI. Sintesis dan penarikan kesimpulan berdasarkan temuan literatur. Validitas dan Keandalan Data. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, konsistensi argumentasi, dan ketelitian sitasi sehingga validitas akademik, objektivitas, dan akurasi analisis tetap terjamin. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil analisis terhadap sumber data primer maupun sekunder, yang mencakup karya-karya tokoh Barat dan Islam serta literatur pendukung seperti artikel jurnal, buku, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian aksiologi ilmu dan implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam, dapat dilihat secara rinci pada Tabel 1. Tabel 1. Sumber Data Penelitian (Primer. Sekunder, dan Penelitian Terdahul. Jenis Sumber Primer Tokoh / Penulis Auguste Comte Primer Jyrgen Habermas Primer Hilary Putnam Tradisi/ Fokus Karya / Kajian Kontribusi Fokus Aksiologi / Hasil Pendidikan Penelitian Agama Islam Barat The Positive Philosophy Ilmu positif dan netralitas nilai Menjadi dasar kritik terhadap paradigma ilmu bebas nilai dalam Barat Knowledge and Human Interests Relasi ilmu, dan emansipasi Memberi kerangka etika dan rasionalitas kritis dalam Barat The Collapse of the Fact/Value Dichotomy Kritik dikotomi faktaAenilai Memperkuat integrasi nilai moral dalam ilmu dan PAI JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Barat Risk Society Barat The Whale and the Reactor Dimensi politik dan moral Dasar pendidikan kritis terhadap sains dan Primer Syed M. AlAttas Islam Islam and Secularism Ilmu adab dan tauhid Fondasi filosofis dan tujuan nilai Pendidikan Agama Islam Primer Seyyed Hossein Nasr Islam Knowledge and the Sacred Ilmu sakral dan nilai transenden Integrasi spiritualitas dan etika dalam PAI Primer AlGhazali Islam IhyaAo AoUlum al-Din Etika ilmu dan tujuan moral Pembentukan akhlak dan karakter peserta Islam Muqaddimah Ilmu, peradaban, dan Kontekstualisasi pendidikan Islam Islam Maqasid alShariah as Philosophy of Islamic Law Maqasid dan Orientasi nilai dan tujuan PAI Jurnal Nilai dalam Memperkuat argumen bahwa ilmu tidak bebas Mendukung dasar integrasi nilai dalam ilmu dan PAI Buku Filsafat ilmu Islam Integrasi ilmu, etika, dan Memperkuat integrasi nilai moral dan spiritual dalam PAI Buku Pendidikan Islam Landasan filosofis tujuan PAI Fondasi filosofis PAI Maqasid dan Orientasi nilai Islam Menegaskan dalam PAI Primer Ulrich Beck Primer Langdon Winner Primer Ibn Khaldun Primer Jasser Auda Putnam. Sekunder Nasr. Sekunder Al-Attas. Sekunder Menegaskan urgensi etika ilmu dalam Risiko modernitas dan Sekunder Jasser Auda Jurnal JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Mengingatkan pentingnya etika Sekunder Beck. Buku Risiko ilmu Kritik Sekunder Syafriandi Artikel Ilmiah Peran filsafat Menjadi arahan Sekunder Puspa Artikel Ilmiah Tranformasi Pendidikan Sebagai Tranformasi Menjadi acuan Indonesia emas Konsep Aksiologi Ilmu dalam Perspektif Barat Analisis literatur menunjukkan bahwa aksiologi ilmu Barat berkembang seiring perubahan paradigma epistemologis. Pada fase awal modernitas. Comte menekankan ilmu sebagai pengetahuan positif, objektif, dan bebas nilai (Comte, 1. , yang memfokuskan pendidikan pada aspek kognitif dan teknis. Kritik terhadap netralitas nilai ilmu muncul melalui Habermas, yang menegaskan bahwa pengetahuan selalu terkait kepentingan manusia (Habermas, 1. Putnam menolak dikotomi faktaAenilai, menekankan bahwa nilai moral melekat dalam praktik ilmiah (Putnam, 2. Beck dan Winner menyoroti risiko dan dimensi etis serta politik teknologi, menekankan pentingnya kesadaran etis dalam pendidikan modern (Beck, 1992. Winner, 1. Aksiologi ilmu Barat cenderung instrumental dan imanen, dengan pengakuan awal terhadap kesadaran etis, tetapi tanpa landasan transendental, sehingga pendidikan yang berbasis paradigma ini rentan menghadapi krisis nilai (Hidayat & Aprison, 2. Konsep Aksiologi Ilmu dalam Perspektif Islam Tradisi Islam menempatkan ilmu sebagai aktivitas yang normatif, etis, dan Al-Attas menekankan adab dan tauhid sebagai dasar ilmu. Nasr menyoroti dimensi sakral, dan Al-Ghazali menekankan fungsi moral dan spiritual ilmu (Al-Attas. Nasr, 1996. Al-Ghazali, 2. Ibn Khaldun menekankan orientasi sosial dan pembangunan peradaban, sementara Auda menegaskan penerapan maqAid al-syarAoah untuk kemaslahatan manusia (Ibn Khaldun, 2005. Auda, 2. dan (Syihab, 2. Aksiologi ilmu Islam bersifat integratif, memadukan wahyu, akal, dan pengalaman empiris, menekankan nilai moral, spiritual, dan sosial, sehingga pendidikan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Islam tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran etis peserta didik (Puspa. Rahayu, & Parhan, 2. Perbandingan dan Implikasi terhadap Pendidikan Agama Islam Analisis komparatif menunjukkan bahwa aksiologi ilmu dalam tradisi Barat dan Islam memiliki perbedaan mendasar terkait orientasi nilai dan tujuan ilmu. Dalam tradisi Barat, ilmu cenderung dipahami secara imanen dan bersifat instrumental, dengan fokus pada prediksi, kontrol, dan efisiensi. Ilmu dipandang sebagai sarana untuk memahami fenomena dan mengoptimalkan teknologi atau sistem sosial, namun orientasinya lebih menekankan aspek kognitif dan teknis daripada nilai moral atau spiritual. Sebaliknya, dalam tradisi Islam, ilmu menempati posisi transendental dan moral-spiritual, di mana pengetahuan tidak hanya dimaksudkan untuk penguasaan fakta, tetapi juga untuk membentuk insan kamil dan mewujudkan kemaslahatan umat. Ilmu Islam menekankan integrasi antara wahyu, akal, dan pengalaman empiris, sehingga setiap aktivitas ilmiah selalu terikat pada prinsip moral, etika, dan spiritual. Meskipun berbeda secara mendasar, kedua tradisi mengakui peran akal dan metodologi rasional sebagai sarana memperoleh pengetahuan. Perbedaan utama terletak pada landasan metafisis dan tujuan akhir ilmu: Barat bersifat sekuler dan pragmatis, sementara Islam menekankan tujuan transendental dan pembentukan karakter. Implikasi temuan ini bagi Pendidikan Agama Islam (PAI) sangat signifikan. Untuk menghadapi krisis aksiologis ilmu kontemporer. PAI perlu mengintegrasikan nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan secara holistik. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai mata pelajaran normatif, tetapi juga sebagai fondasi etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban. Dengan demikian, kurikulum, metode, dan evaluasi PAI harus dirancang secara integratif dan berorientasi kemaslahatan, agar peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kesadaran etis, karakter yang matang, dan kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu secara bertanggung jawab dalam kehidupan (Nasr, 2006. Putnam, 2. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari Tabel 1, dapat ditafsirkan bahwa konsep aksiologi ilmu dalam perspektif Barat dan Islam memiliki karakteristik yang JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. berbeda secara mendasar, namun keduanya memberikan kontribusi penting bagi Pendidikan Agama Islam (PAI). Analisis literatur primer, sekunder, dan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa paradigma aksiologi ilmu berpengaruh langsung terhadap orientasi nilai, tujuan pendidikan, dan praktik pembelajaran dalam konteks PAI. Dalam tradisi Barat, aksiologi ilmu berkembang dari paradigma positivisme yang menekankan netralitas nilai, sebagaimana dikemukakan oleh Auguste Comte. Comte menegaskan bahwa ilmu harus bersifat positif, objektif, dan bebas nilai, sehingga pendidikan lebih menitikberatkan pada penguasaan fakta dan pengembangan kemampuan kognitif teknis (Comte, 1. Paradigma ini menghasilkan peserta didik yang kompeten secara intelektual, tetapi sering kali kurang memiliki kesadaran moral atau tanggung jawab sosial (Hidayat & Aprison, 2. Kritik terhadap netralitas ilmu Barat muncul melalui pemikiran Jyrgen Habermas. Hilary Putnam. Ulrich Beck, dan Langdon Winner. Habermas . menekankan bahwa pengetahuan selalu terkait dengan kepentingan manusia baik teknis, praktis, maupun emansipatoris, sehingga ilmu tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan nilai moral. Putnam . menolak dikotomi faktaAenilai, dengan menyatakan bahwa setiap proses ilmiah mengandung implikasi etis. Beck . menyoroti risiko modernitas akibat penerapan ilmu tanpa kontrol moral, sedangkan Winner . menekankan dimensi politik dan moral teknologi yang memengaruhi struktur sosial. Temuan ini menegaskan bahwa paradigma Barat modern mulai menyadari perlunya integrasi nilai moral dalam ilmu, meskipun orientasinya tetap bersifat humanistik dan imanen tanpa landasan Sementara itu, paradigma aksiologi ilmu dalam tradisi Islam menempatkan nilai moral, spiritual, dan transendental sebagai inti ilmu. Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa ilmu harus berlandaskan adab dan tauhid, sehingga tujuannya bukan sekadar penguasaan fakta, tetapi pembentukan insan yang beriman dan berakhlak (AlAttas, 1. Pandangan ini diperkuat oleh Seyyed Hossein Nasr yang menunjukkan bahwa ilmu yang terlepas dari dimensi sakral kehilangan makna esensialnya (Nasr, 1. Pemikiran klasik Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu berfungsi sebagai sarana penyucian jiwa dan pembentukan akhlak. ilmu yang tidak menghasilkan kebaikan moral dianggap tidak bernilai (Al-Ghazali, 2. Ibn Khaldun menekankan peran ilmu dalam pembangunan peradaban dan tatanan sosial, sehingga pendidikan harus diarahkan pada JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. kemaslahatan umat (Ibn Khaldun, 2. Dalam konteks modern. Jasser Auda memperkuat gagasan ini melalui pendekatan maqAid al-syarAoah, menegaskan bahwa pendidikan dan ilmu harus mengutamakan perlindungan serta pengembangan nilai-nilai kemanusiaan (Auda, 2. Dengan demikian, aksiologi ilmu Islam bersifat integratif, memadukan wahyu, akal, dan pengalaman empiris dengan orientasi moral, spiritual, dan Perbandingan keduanya menunjukkan perbedaan mendasar: ilmu Barat menekankan objektivitas, prediksi, kontrol, dan efisiensi, dengan kesadaran etis yang relatif belakangan, sedangkan ilmu Islam menempatkan nilai moral, spiritual, dan kemaslahatan sebagai landasan utama. Kedua tradisi mengakui peran akal dan metodologi ilmiah, tetapi berbeda secara signifikan dalam landasan metafisis dan tujuan akhir ilmu (Nasr, 2006. Putnam, 2. Implikasi temuan ini bagi PAI sangat strategis. Integrasi nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan memungkinkan pendidikan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga berkarakter dan memiliki kesadaran etis. Pendidikan dapat mengurangi risiko instrumentalitas ilmu yang terlalu teknis atau pragmatis, sekaligus menyediakan landasan filosofis dan metodologis bagi perancangan kurikulum, metode pembelajaran, dan evaluasi yang holistik dan berorientasi Hasil penelitian terdahulu mendukung temuan ini, antara lain Auda . yang menekankan orientasi pendidikan pada kemaslahatan. Rahayu . yang menegaskan bahwa ilmu selalu membawa nilai moral, serta (Puspa. Rahayu, & Parhan, 2. yang menyoroti pentingnya integrasi nilai moral dalam praktik pendidikan modern. Secara teoretis, temuan ini konsisten dengan konsep aksiologi ilmu yang menekankan nilai, tujuan, dan manfaat pengetahuan bagi kehidupan manusia (Rahayu. Zuboff, 2. Perspektif Barat menegaskan kritik terhadap paradigma Auvalue-free scienceAy (Comte, 1. sekaligus menguatkan argumen Habermas . dan Putnam . tentang keterkaitan ilmu dengan kepentingan dan nilai manusia. Perspektif Islam menegaskan integrasi wahyu, akal, dan empirisme dengan tujuan moral dan kemaslahatan (Al-Attas, 1995. Nasr, 1996. Al-Ghazali, 2. , diperkuat oleh maqAid al-syarAoah (Auda, 2. sebagai landasan normatif agar pendidikan dan ilmu tidak terlepas dari prinsip etika dan moral universal. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Secara praktis, temuan ini memberikan pedoman bagi pengembangan PAI, antara lain: desain kurikulum yang menyertakan dimensi nilai, etika, dan spiritual. metode holistik seperti pembelajaran kontekstual, reflective learning, dan value-based serta evaluasi yang menilai tidak hanya penguasaan pengetahuan, tetapi juga karakter, etika, dan pengamalan nilai spiritual. Integrasi aksiologi ilmu Islam dalam PAI berperan sebagai filter etis terhadap ilmu dan teknologi modern, sehingga pendidikan tidak hanya menghasilkan inovasi teknis, tetapi juga manfaat moral, sosial, dan spiritual. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi perspektif aksiologi ilmu Barat dan Islam dapat membentuk paradigma pendidikan yang lebih lengkap: Barat menyediakan fondasi metodologis dan rasional, sementara Islam menambahkan dimensi moral, etis, dan spiritual. Kombinasi ini memungkinkan PAI menjadi wahana strategis untuk membentuk peserta didik yang cerdas, kritis, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan global dengan etis dan beradab (Zuboff, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa aksiologi ilmu dalam tradisi Barat cenderung menekankan netralitas nilai, objektivitas, dan pendekatan teknisempiris sebagaimana tercermin dalam pemikiran Comte. Habermas. Putnam. Beck, dan Winner. meskipun wacana kontemporer menunjukkan adanya kritik terhadap dikotomi fakta dan nilai serta meningkatnya kesadaran etis, paradigma Barat tetap berorientasi humanistik dan imanen tanpa rujukan transendental, yang berimplikasi pada praktik pendidikan yang kuat secara kognitif namun berpotensi mengalami krisis nilai jika tidak ditopang landasan moral yang kokoh. Sebaliknya, aksiologi ilmu dalam perspektif Islam secara konsisten mengintegrasikan dimensi moral, spiritual, dan intelektual, dengan menempatkan tauhid, adab, dan kemaslahatan . aqAid al-syarAoa. sebagai landasan utama sebagaimana ditegaskan oleh al-Attas. Nasr, al-Ghazali. Ibn Khaldun, dan Jasser Auda, sehingga ilmu diposisikan tidak hanya sebagai instrumen pemahaman realitas, tetapi juga sebagai sarana pembentukan akhlak, karakter, dan tanggung jawab sosial. Perbandingan kedua tradisi tersebut menunjukkan perbedaan mendasar dalam orientasi aksiologis objektivitas dan verifikasi dalam tradisi Barat berhadapan dengan integrasi nilai dan tujuan moral dalam tradisi Islam, namun keduanya sama-sama mengakui peran akal dan metode ilmiah, yang membuka ruang dialog epistemologis. Temuan ini JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. menegaskan bahwa Pendidikan Agama Islam perlu dikembangkan secara holistik melalui penguatan kurikulum, metode, dan evaluasi pembelajaran yang mengintegrasikan aspek kognitif, etis, dan spiritual agar mampu membentuk peserta didik yang intelektual, bermoral, dan bertanggung jawab secara sosial, sekaligus menjadi filter nilai terhadap dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi kontemporer. *** DAFTAR PUSTAKA