Jurnal Peduli Masyarakat Volume 7 Nomor 4. Juli 2025 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM PELAKSANAAN SCREENING MATA GRATIS DI DESA MARGALUYU: WUJUD NYATA KEPEDULIAN TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT Nova maulana*. Della Meira. Eka Alfian Nursanto. Aisyah Putri Vara Dhifa. Neng Cahya Yulianti Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Bina Bangsa. Jl Raya Serang - Jakarta. KM. 03 No. Cipocok Jaya. Serang. Banten 42124. Indonesia *novamaulana6@gmail. ABSTRAK Gangguan penglihatan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di daerah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan risiko kecelakaan dan ketergantungan pada orang lain. Keterbatasan fasilitas kesehatan, minimnya tenaga medis yang terlatih, serta rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan dan penanganan gangguan penglihatan memperburuk situasi ini. Oleh karena itu, diperlukan intervensi kesehatan masyarakat yang terencana dan berkesinambungan, seperti kegiatan pemeriksaan, edukasi, dan penanganan gangguan penglihatan, guna mengurangi angka kejadian serta mencegah komplikasi yang lebih serius. Kegiatan screening mata gratis oleh Mahsiswa KKM Kelompok 61 UNIBA di Desa Margaluyu bertujuan mendeteksi gangguan penglihatan dan meningkatkan kesadaran Masyarakat. Kegiatan ini diikuti 80 peserta dengan pemeriksaan tajam penglihatan, serta deteksi katarak. Hasil menunjukkan 15 % peserta mengalami katarak, 73% rabun jauh atau dekat, dan 12% mata normal. Edukasi kesehatan mata dan rujukan di berikan kepada peserta dengan gangguan penglihatan. Kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran Masyarakat, di mana 89% peserta baru pertama kali melakukan pemeriksaan mata. Kata kunci: gangguan penglihatan. kesehatan masyarakat. screening mata FREE EYE SCREENING IMPLEMENTATION IN MARGALUYU VILLAGE: A REAL SHOW OF CONCERN FOR PUBLIC HEALTH ABSTRACT Visual impairment remains a significant public health problem, particularly in rural areas with limited access to healthcare. This condition can impact quality of life, reduce productivity, and increase the risk of accidents and dependency on others. Limited health facilities, a lack of trained medical personnel, and low public knowledge regarding the prevention and treatment of visual impairment exacerbate this situation. Therefore, planned and sustainable public health interventions, such as screenings, education, and treatment of visual impairment, are needed to reduce the incidence and prevent more serious A free eye screening activity conducted by UNIBA Group 61 students in Margaluyu Village aimed to detect visual impairment and raise public awareness. Eighty participants participated in the activity, which included visual acuity tests and cataract detection. Results showed that 15% of participants had cataracts, 73% were nearsighted or farsighted, and 12% had normal vision. Eye health education and referrals were provided to participants with visual impairments. This activity successfully raised public awareness, with 89% of participants undergoing their first eye examination. Keywords: eye screening. public health. visual impairment PENDAHULUAN Mata merupakan organ vital yang berperan penting dalam kehidupan manusia, karena sebagian besar informasi dari lingkungan sekitar diterima melalui indera penglihatan (Nur Solikah & Trisnowati, 2. Diperkirakan sekitar 95% informasi yang diproses oleh otak berasal dari rangsangan visual yang diterima mata (Lisberger, 2. Kemampuan penglihatan yang baik Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group memungkinkan seseorang beraktivitas secara optimal, sedangkan kehilangan penglihatan dapat menimbulkan rasa tidak berdaya, terutama ketika berada di lingkungan yang asing atau dalam kondisi tanpa cahaya (Radiani, 2. Kesehatan mata menjadi salah satu aspek penting yang mempengaruhi kualitas hidup secara Gangguan penglihatan dapat berdampak pada produktivitas kerja, akses pendidikan, interaksi sosial, dan kesejahteraan ekonomi individu (Natari, 2. Menurut WHO, . , lebih dari 2,2 miliar orang di seluruh dunia mengalami gangguan penglihatan, dan sekitar 1 miliar di antaranya sebenarnya dapat dicegah atau ditangani jika terdeteksi secara dini. Di Indonesia, gangguan penglihatan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, prevalensi kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, katarak, serta gangguan penglihatan akibat penyakit mata lainnya masih tinggi, terutama di daerah pedesaan. Keterbatasan fasilitas kesehatan mata, minimnya tenaga medis yang kompeten di bidang oftalmologi, serta rendahnya kesadaran masyarakat mengenai deteksi dini menjadi faktor yang memperburuk kondisi ini (Kemenkes RI, 2. Gangguan penglihatan yang tidak tertangani dapat menyebabkan penurunan produktivitas, kesulitan dalam aktivitas sehari-hari, hingga risiko kecacatan permanen. Dampak ini pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup penderita sekaligus menambah beban sosial dan ekonomi masyarakat (Supit, 2. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif, seperti kegiatan skrining kesehatan mata, sangat penting dilakukan, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan, guna mendeteksi dini dan mencegah komplikasi gangguan penglihatan (Soedjatmiko, 2. Kegiatan skrining dan edukasi kesehatan mata tidak hanya bertujuan untuk mengidentifikasi gangguan secara dini, tetapi juga meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan penglihatan (Masitha et al. , 2. Melalui pendekatan ini, diharapkan angka kejadian gangguan penglihatan dapat ditekan, kualitas hidup masyarakat meningkat, serta beban sosial-ekonomi akibat masalah penglihatan dapat berkurang secara signifikan (Putri, 2. Desa Maragaluyu. Kabupaten Lebak. Banten, merupakan salah satu desa yang memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan mata. Sebagian besar masyarakat desa ini memiliki tingkat kesehatan yang relative rendah, sehingga kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mata secara rutin juga masih minim. Hal ini di perburuk dengan jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan dengan pelayanan spesialis mata, sehingga Masyarakat cenderung hanya memeriksa diri ketika gejala penyakit mata sudah berat. Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputu Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan KKM, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi langsung dalam pemecahan masalah yang ada di masyrakat, salah satunya di bidang kesehatan (BPS, 2. Kegiatan pengabdian ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan, termasuk kesehatan mata. Mahasiswa KKM Kelompok 61 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) mengambil inisiatif untuk melaksanakan kegiatan screening mata gratis di Desa Margaluyu. Kegiatan ini dilatebelakangi oleh tingginya kebutuhan masyrakat akan akses pemeriksaan kesehatan mata serta rendahnya angka deteksi gangguan penglihatan di desa Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan kesehatan Masyarakat melalui pendekatan prmotif dan preventif. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Pelaksanaan screening mata gratis ini bertujuan untuk mendeteksi adanya gangguan penglihatan atau penyakit mata yang mungkin dialami Masyarakat. Selain itu, kegiatan ini memberikan edukasi kepada Masyarakat mengenai cara menjaga kesehatan mata, mengenali gejala gangguan penglihatan, dan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. METODE Kegiatan pengabdian Masyarakat dilakukan dengan metode penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan pada tanggal 29 Juli 2025, tempat kegiatan di Kantor Desa Margaluyu Lebak-Banten. Adapun kegiatan yang dilakukan: Mengajukan surat ijin ke Rumah Sakit Achmad Wardi Mengajukan surat ijin ke Balai Desa Margaluyu Menyebarkan Undangan kepada Masyarakat umtuk hadir sebagai peserta Pembukaan oleh Kepala Desa Maragaluyu Pembukaan oleh DPL Kelompok 61 Pembukaan oleh pihak Rumah Sakit Achmad Wardi Penyuluhan Kesehatan Tentang Pencegahan dan Pengobatan Katarak Pengukuran Gula Darah. Pengukuran Tekanan Darah, yang bekerja sama dengan petugas kesehatan Pemberian Solusi untuk yang Penderita Katarak HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan dari fasilitas pelayanan kesehatan mitra serta dukungan perangkat desa. Masyarakat yang terindentifikasi memiliki gangguan penglihatan atau kelainan mata lainnya diberikan rujukan ke layanan kesehatan lanjutan untuk mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif. Pendekatan ini diharapkan dapat memutus rantai keterlambatan diagnosis yang sering terjadi di wilayah pedesaan. Pelaksanaan screening mata gratis di Desa Margaluyu juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dapat mengasah keterampilan komunikasi, koordinasi, dan manajemen program kesehatan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan rasa kepedulian sosial siswa terhadap Masyarakat, sesuai dengan nilai yang diusung oleh KKM. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, diharapkan Masyarakat Desa Margaluyu dapat lebih peduli terhadap kesehatan mata mereka. Hasil dari kegatan ini diharapkan dapat menjadi data awal untuk pemetaan masalah kesehatan mata di wilayah tersebut serta menjadi inspirasi untuk kegiatan desa lain. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat mengurangi angka gangguan penglihatan yang dapat dicegah serta meningkatkan kualitas hidup Masyarakat secara menyeluruh. Pada pengabdian Masyarakat ini telah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang screening mata gratis yang dilaksanakan oleh Mahasiswa KKM Kelompok 61 UNIBA di Desa Margaluyu diikuti 80 peserta yang terdiri dari berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga lanjut usia. Dari total peserta, 63% merupakan Perempuan dan 37% laki-laki. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan tajam penglihatan . isual acuit. , pemeriksaan refraksi sederhana, serta pemeriksaan dasar untuk mendeteksi katarak, dan kelainan mata lainnya. World Health Organization (WHO, 2. yang menekankan pentingnya deteksi mata sebagai pencegahan gangguan penglihatan di masyrakat. Hasil screening menunjukkan bahwa 15% peserta mengalami katarak pada satu atau kedua matanya, dan 73% menunjukan adanya rabun jauh atau dekat. Sebanyak 12% peserta memiliki kondisi mata normal tanpa gangguan. Peserta yang teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan diberikan edukasi serta rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Temuan ini sejalan dengan laporan Riskesdas . yang Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group menunjukkan bahwa kelainan katarak dan rabun jauh atau dekat merupakan penyebab utama gangguan penglihatan di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Gambar 1. Screening kesehatan mata pada masyarakat Desa Margaluyu Selain pemeriksaan, peserta diberikan penyuluhan terkait pentingnya menjaga kesehatan mata, pola hidup sehat, dan penggunaan kacamata yang sesuai resep bagi penderita gangguan ringan. Peserta yang memiliki katarak yang lebih serius diarahkan untuk pemeriksaan lanjutan di rumah sakit Achmad Wardi. Edukasi yang diberikan terbukti dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan mata secara rutin (Mulyani & Pratama, 2. Gambar 3. Pembukaan penyuluhan tentang katarak Kegiatan ini berdampak signifikan terhadap peningkatan keadaran masyarakat mengenai kesehatan mata. Sebelum kegiatan, sebagian besar peserta . %) mengaku belum pernah melakukan pemeriksaan mata, umumnya karena keterbatasan biaya dan jarak. Setelah kegiatan, minat Masyarakat untuk melakukan pemeriksaan lenjutan meningkat, terutama pada peserta yang mengalami masalah penglihatan. Hasil ini mendukung temuan Vision Liss Expert Group . yang menyatakan bahwa screening berbasis komunitas dapat meningkatkan deteksi dini serta mendorong Masyarakat untuk mencari layanan kesehatan lebih lanjut. Gambar 2. Penyuluhan Tentang Katarak Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Meskipun kegiatan berjalan dengan baik, terdapat beberapa kendala yang dihadapi, di antaranya keterbatasan peralatan kesehatan yang hanya memungkinkan pemeriksaan dasar. Selain itu, kesadaran Masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mata masih rendah, terbukti dari sebagian peserta yang hadir hanya yang mendapat undangan dari perangkat desa. Hambatan ini sama dengan yang ditemukan dalam penelitian Sari dan Widodo . , yang menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya dan rendahnya pengetahuan masyrakat menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan screening di wilayah pedesaan. Gambar 4. Pengecekan kesehatan tensi darah dan gula darah Pelaksanaan screening mata gratis ini mendukung program Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yang menargetkan penurunan angka kebutaan akibat katarak dan kelainan refraksi melalui deteksi mata dan intervensi cepat (Kemenkes RI, 2. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa prevalensi gangguan penglihatan di Desa margaluyu cukup tinggi, sehingga memerlukan perhatian khusus dari pemerintah daerah dan tenaga kesehatan. Selain memberikan manfaat langsung kepda Masyarakat, kegiatan KKM ini juga dapat menjadi inspirasi untuk pemerintah memberikan pengecekan kesehatan mata gratis kedepannya di wilayah pedesaan. SIMPULAN Kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran Masyarakat, di mana 89% peserta baru pertama kali melakukan pemeriksaan mata. DAFTAR PUSTAKA