http://journal. id/index. php/anterior RELEVANSI PENDEKATAN TEORI HUMANISTIK DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN INKLUSI: SEBUAH KAJIAN FILM TAARE ZAMEEN PAR The Relevance of Humanistic Approach Theory in the Implementation of Inclusive Education : A Study of Movie Taare Zameen Par Holy Ichda Wahyuni1* Endah Hendarwati *1, 2 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya,Surabaya. Jawa Timur. Indonesia *email: holyichdawahyuni@umsurabaya. Kata Kunci: Pendidikan inklusi Pendekatan humanistis Taare Zameen Par Keywords: Inclussive education Humanistic Approach Taare Zameen Par Abstrak Pendidikan inklusi merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan oleh pemerintah yang disediakan bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi menjadi wadah bagi pemerataan pengembangan potensi peserta didik. Peserta dengan kebutuhan khusus kerap memiliki kendala dalam belajar, seperti mereka yang Film Taare Zamen Par menjadi media percontohan public tentang pelaksanaan pendidikan inklusi dan permasalahan yang terjadi dalam menghadapi anak dengan kebutuhan khusus, seperti paradigma masyarakat yang masih mendiskreditkan anak dengan kebutuhan khusus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat determinasi dan mengevaluasi relevansi pendekatan teori humanistic dalam pelaksanaan pendidikan inklusi, melalui studi dalam film Taare Zamen Par. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan dalam menganalisis adalah dengan metode semiotik. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan humanistic relevan diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan inklusi. Mengacu dari hasil review film menunjukkan beberapa wujud pendekatan humanistic antara lain. mengatasi harga diri rendah, mengenal pribadi siswa dan lingkungannya melalui sense dan sensibility, membangun empati, melibatkan keluarga sebagai support sistem, dan menggali bakat siswa. Abstract Inclusive education is a form of educational service provided by the government for students with special needs. Inclusive education is a forum for equalizing the development of students' Students with special needs often have obstacles in learning, such as those with The film Taare Zamen Par is a public exemplary media about the implementation of inclusive education and the problems that occur in dealing with children with special needs, such as the paradigm of society that still discredits children with special needs. The purpose of this study is to determine and evaluate the relevance of the humanistic theory approach in the implementation of inclusive education, through a study in the film Taare Zamen Par. This type of research is qualitative descriptive research. The method used in the analysis is the semiotic method. This study shows that the humanistic approach is relevant to be applied in the implementation of inclusive education. Referring to the results of the film review, it shows several forms of the humanistic approach, including. low self-esteem, getting to know students' personalities and their environment through sense and sensibility, building empathy, involving families as a support system, and exploring students' talents. A2025 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). PENDAHULUAN Pendidikan inklusi adalah salah satu bentuk layanan pendidikan yang disediakan pemerintah untuk peserta didik berkebutuhan khusus. Layanan ini bertujuan agar mereka mendapatkan hak dan menjalankan kewajiban sebagai warga negara dalam bidang ilmu pengetahuan. Melalui pendidikan inklusi, pemerintah berupaya menciptakan kesempatan yang setara untuk mengembangkan potensi peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional (Kurniawan. Ketentuan undang-undang mendukung hal ini dengan menegaskan bahwa pendidikan adalah hak dasar bagi setiap warga negara Indonesia, termasuk bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 5 Ayat 1 dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang Anterior Jurnal. Volume 24 Special Issue I. Februari 2025. Page 34 Ae 39 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Peran pemerintah dalam menyediakan pendidikan yang merata sangat penting dan berpengaruh dalam perkembangan pendidikan. Sejarah berdirinya pendidikan inklusi berawal dari realitas di lapangan, di mana selama ini anak-anak berkebutuhan khusus difasilitasi dengan pendidikan khusus sesuai tingkat dan jenis kebutuhan mereka melalui Sekolah Luar Biasa (SLB) (Tarnoto, 2. Namun. Sekolah Luar Biasa (SLB) masih menjadi tembok pemisah bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak pada umumnya, hal ini menghambat proses interaksi di antara mereka (Darma & Rusyidi, 2. Tembok pemisah ini menjadikan anak berkebutuhan khusus terisolir. Masalah lain dalam mendukung pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah kurangnya kepekaan dari orang tua dan guru dalam menanggapi kebutuhan mereka. Hal ini mencakup sikap penolakan dari orang tua yang masih merasa sulit menerima kenyataan tentang disabilitas pada anak mereka (Udin et al. , n. Membahas tentang pendidikan inklusi, terdapat salah satu film yang pernah popular berjudul Taare Zameen Par telah mengangkat isu ini. Film yang ditulis oleh Amole Gupte dan disutradarai oleh Aamir Khan, mengisahkan perjalanan seorang siswa sekolah dasar bernama Ishaan. Ishaan mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis, yang dikenal dengan istilah disleksia. Sayangnya, orang tua Ishaan tidak memahami kondisi tersebut dan tetap menuntutnya belajar seperti anak-anak lain pada umumnya. Baik orang tua maupun lingkungan sekolahnya menganggap Ishaan sebagai anak yang malas dan nakal, sehingga ia tidak mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya. Namun, titik balik terjadi ketika seorang guru bernama Nikumbh hadir dalam kehidupan Ishaan. Dengan menggunakan pendekatan yang berpusat pada sisi kemanusiaan dan penuh empati. Nikumbh berusaha memahami Ishaan secara lebih mendalam, lalu menerapkan strategi pembelajaran yang cocok bagi Ishaan. Berkat pendekatan yang penuh perhatian ini. Ishaan akhirnya mampu meraih keberhasilan dalam pendidikannya. Ulasan ini menarik untuk dibahas lebih lanjut. Secara umum, film adalah salah satu bentuk media massa berbasis audio-visual yang memiliki karakteristik sangat kompleks. Sebagai karya seni, film bukan hanya menawarkan estetika tetapi juga berfungsi sebagai media informasi. Film bisa berperan sebagai hiburan, alat propaganda, serta sarana politik. Selain itu, film juga berfungsi sebagai media rekreasi dan edukasi, serta dapat menjadi sarana untuk menyebarluaskan nilai-nilai budaya baru (Chandra et al. , 2. Sama halnya dengan keberhasilan tokoh guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa difabel dalam film tersebut dapat menjadi sebuah media dan inspirasi dalam pengambilan keputusan penggunaan pendekatan atau metode yang tepat. Sejumlah penelitian telah menyoroti pentingnya kepedulian dan paradigma guru dalam menjalankan pendidikan Misalnya, penelitian oleh Stuart Woodcock dan rekan-rekannya di New South Wales. Australia, menunjukkan bahwa pemahaman guru terhadap makna inklusivitas dalam pembelajaran merupakan kunci utama untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan inklusif (Woodcock et al. , 2. Penelitian lain di Finlandia mengungkapkan bahwa sikap guru terhadap pendidikan inklusif, rasa percaya diri pribadi . elf-efficac. , serta efikasi kolektif dalam manajemen perilaku turut mempengaruhi cara mereka memperlakukan siswa dengan kebutuhan khusus. Salah satu kendala signifikan yang dihadapi guru adalah terkait perhatian siswa, terutama dalam kasus gangguan perhatian . efisit perhatia. (Gylsyn et al. Penelitian lain menegaskan bahwa keyakinan dan sikap guru adalah komponen esensial dalam pengembangan dan keberhasilan pendidikan inklusif (Hassanein et al. , 2. Sebuah penelitian lain dalam bentuk meta-analisis mengkaji kaitan sikap guru terhadap pendidikan inklusif untuk siswa penyandang disabilitas. Penelitian ini mencakup sampel total 40. 512 guru yang sudah bekerja atau belum bekerja dari 55 negara yang berbeda. Secara global, sikap para guru adalah positif. Analisis meta-regresi menunjukkan bahwa sikap tersebut telah mengalami kemajuan yang signifikan dari tahun 2000 hingga 2020. Selain itu, sikap guru lebih baik ketika Indeks Pembangunan Manusia (IPM) negara lebih tinggi(Guillemot et al. , 2. Dilihat dari penelitian tersebut terdapat satu kesimpulan bahwa rasa kepedulian guru memainkan peranan penting dalam pelaksanaan pendidikan inklusi. Kepedulian dapat diwujudkan dalam sebuah pendekatan humanistic dalam belajar. Dalam sebuah penelitian mengungkapkan bahwa teori belajar humanistik membantu peserta didik untuk senang belajar pada suatu objek atau materi pelajaran dalam mengembangkan potensi diri peserta didik ke arah yang lebih baik. Teori belajar humanistik menekankan pada pendidikan membimbing, mengembangkan dan mengarahkan potensi dasar peserta didik baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor (Yuliandri, 2. Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa relevansi pendekatan humanistic dalam implementasi pendidikan inklusi, dikaji dari review film Taare Zameen Par. METODOLOGI Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam menganalisis adalah dengan metode deskriptif, yakni dengan menggambarkan atau mendeskripsikan data-data yang diperoleh melalui pengamatan. Data yang diperoleh dipaparkan menggunakan kata-kata, ataupun kalimat dan bukan dalam bentuk angka-angka atau hitungan. Peneliti melakukan analisis isi film Taare Zameen Par yaitu mendeskripsikan permasalahan difabel yang dialami, kemudian menganalisis metode dan pendekatan humanistik sebagai visual yang bermakna konotatif yang digunakan oleh guru dalam manajemen kelas (Kusuma & Nurhayati, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Film Taare Zameen Par bercerita tentang seorang anak bernama Ishaan Nandkishore Awasthi (Darsheel Safar. , seorang anak laki-laki berusia 8 tahun yang kerap dimarahi oleh gurunya di sekolah karena kesulitan dalam belajar dan sering gagal dalam ujian. Ishaan memiliki kakak bernama Yohaan (Sachet Enginee. , yang selalu berhasil meraih prestasi Holy Ichda Wahyuni dan Endah Hendarwati. Relevansi Pendekatan Teori Humanistik Dalam Pelaksanaan Pendidikan Inklusi: Sebuah Kajian Film Taare Zameen Par di semua mata pelajaran dan aktif di bidang olahraga, khususnya tenis. Merasa tidak mampu mendidik dan malu menghadapi kesulitan belajar Ishaan, orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke sekolah asrama. Di asrama. Ishaan bertemu dengan seorang guru bernama Ram Shankar Nikumbh (Aamir Kha. yang memiliki pendekatan berbeda dalam mendidik anak-anak. Tertarik pada perilaku dan kesulitan yang dialami Ishaan. Nikumbh mulai meneliti tugas-tugas Ishaan dan menemukan bahwa Ishaan sebenarnya bukan anak pemalas atau nakal, atau dalam istilah lain AobodohAo, tetapi mengalami disleksia. Disleksia merupakan sebuah gangguan dalam membaca dan menulis. Selain itu. Nikumbh menyadari bahwa Ishaan memiliki bakat luar biasa dalam seni lukis. Nikumbh kemudian menawarkan bantuan kepada Ishaan dengan mengajarinya membaca dan menulis melalui berbagai metode yang kreatif dan adaptif. Melalui proses ini. Ram berhasil menumbuhkan kembali rasa percaya diri Ishaan, membantunya berkembang menjadi anak yang berprestasi. Film ini menunjukkan pentingnya ketekunan dan pendekatan khusus dalam mendidik anak dengan disleksia, dan menginspirasi para guru agar tidak mudah menyerah. Pendekatan yang diterapkan Nikumbh dalam mendidik Ishaan antara lain: menunjukkan kepekaan terhadap kesulitan siswa, membangun empati, mengatasi masalah rendah diri pada anak berkebutuhan khusus, melibatkan keluarga sebagai sistem pendukung, serta menggali minat dan bakat unik siswa sebagai bentuk keunggulan masing-masing anak. Sense dan sensibility terhadap permasalahan siswa Dalam film ini terdapat adegan yang tersaji dalam gambar 1 dan gambar bawah, yang mana menunjukkan adegan guru Ram Shankar Nikumbh menganalisis tulisan Ishaan. Melihat semua tugas Ishaan dan mencoba menemukan pola kesalahan yang sama pada setiap tulisannya. Hingga dia mengetahui bahwa Ishaan adalah seorang disleksia. Gambar 1 di atas, secara konotasi memiliki makna bahwa guru Ram Shankar Nikumbh sedang melakukan tahapan sense dan sensibility dalam membangun kepekaan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Hal ini relevan dengan salah satu karakteristik dalam teori humanistic. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya(Nast & Yarni, 2. Gambar 1. Adegan guru Ram Shankar Nikumbh menganalisis permasalahan Ishaan Gambar 2. Adegan guru Ram Shankar Nikumbh menganalisis pola kesalahan dalam tugas Ishaan Membangun rasa empati dan memberi inspirasi Terdapat juga adegan guru Ram Shankar Nikumbh sedang bercerita kepada seluruh siswa tentang tokoh-tokoh terkenal di dunia yang memiliki kesulitan dalam belajar. Dalam adegan ini tampak juga guru Ram Shankar Nikumbh mendekati Ishaan saat sedang sendirian, bahwa ia sebagai guru, dulunya juga seorang disleksia yang kesulitan membaca dan menulis. Adegan ini ditunjukkan dalam gambar 3. Secara konotasi menunjukkan rasa empati dari guru Ram Shankar Nikumbh. Rasa empati tersebut ditunjukkan melalui pemberian cerita inspiratif kepada Ishaan. Maksud guru Nikumbh melakukan itu tentu saja untuk membentuk rasa percaya diri Ishaan, bahwa dalam keterbatasan Ishaan tetap memiliki kesempatan menjadi orang hebat seperti tokoh-tokoh dunia yang dicontohkan. Teori belajar humanis menjadi sebuah pendekatan pembelajaran yang menghormati harkat dan martabat manusia termasuk anak-anak, bahkan janin yang ada dalam kandungan, mereka tetap dipandang sebagai manusia utuh (Perni, 2. Anterior Jurnal. Volume 24 Special Issue I. Februari 2025. Page 34 Ae 39 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Gambar 3. Adegan guru Ram Shankar Nikumbh mencontohkan tokoh-tokoh disleksia yang berhasil dalam hidup Mengatasi sikap harga diri rendah pada siswa difabel Tersaji juga dalam gambar 4 yang menunjukkan adegan guru Ram Shankar Nikumbh bersama seluruh siswa melihat karya Ishaan yang terbuat dari barang bekas. Karya tersebut adalah mainan perahu yang bisa berjalan di atas permukaan air danau. Mereka semua tampak kagum dengan karya Ishaan. Pada gambar b tampak lukisan karya Ishaan dalam perlombaan melukis. Gambar 4 menunjukkan bahwa Guru Ram Shankar Nikumbh yang bersemangat mengajak siswa lainnya mendekati tepi danau. Dia memperlihatkan karya Ishaan kepada semua teman-temannya. Memberikan apresiasi Selain itu, guru Ram Shankar Nikumbh juga menginisiasi lomba melukis, menjadi sebuah ajang untuk menunjukkan bakat siswa, terutama Ishaan yang kehilangan kepercayaan diri. Pendekatan ini menjadi bagian dari pendekatan humanistik, yakni menghargai sekecil apapun karya anak, untuk mereduksi menumbuhkan kepercayaan diri pada anak yang mengalami harga diri rendah. Hal ini relevan dengan sebuah penelitian yang dilakukan pada siswa dengan masalah self esteem di Kota Cirebon. Dalam penelitian ini, pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan konseling eksistensial-humanistik. karakteristik low self-esteem yaitu, ketidaksadaran diri, kurang percaya diri, takut mengambil resiko, mudah putus asa, pesimis, merasa kesepian dan terasingkan(Muzaki & Nuraldina, 2. Gambar 4. Adegan guru Ram Shankar Nikumbh memberi apresiasi dan mengajak siswa lain melihat karya Ishaan Melibatkan lingkungan keluarga sebagai support sistem Guru Ram Shankar Nikumbh dalam salah satu adegan film juga tampak mengajak diskusi keluarga Ishaan tentang permasalahan Ishaan. Guru Ram Shankar Nikumbh bertanya lebih dalam tentang kegemaran Ishaan, kelebihan Ishaan, dan kendala Ishaan. Bukan hanya itu pada adegan ini guru Ram Shankar Nikumbh juga memberikan pengertian kepada keluarga tentang kondisi Ishaan. Hal ini tersaji dalam gambar 5. Gambar 5 secara konotasi menunjukkan bahwa guru Ram Shankar Nikumbh memiliki keyakinan, bahwa keluarga menjadi aspek penting dalam perkembangan anak. Keluarga menjadi support sistem yang harus memiliki paradigma humanistic juga dalam menghadapi kelebihan dan kendala anak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Turki. Melibatkan 16 guru yang bekerja di bidang pendidikan khusus, 8 konselor psikologi dan 15 keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Hasil penelitian menegaskan pengakuan yang berkembang dari para profesional bahwa dukungan utama untuk anak-anak ini adalah keluarga mereka(Uslu & Girgin, 2. Holy Ichda Wahyuni dan Endah Hendarwati. Relevansi Pendekatan Teori Humanistik Dalam Pelaksanaan Pendidikan Inklusi: Sebuah Kajian Film Taare Zameen Par Gambar 5. Adegan guru Ram Shankar Nikumbh melibatkan keluarga untuk membahas permasalahan Ishaan Pendekatan teori humanistic Teori humanistik berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar, secara Kuncinya adalah pada memanusiakan manusia secara layak, khususnya dalam hal ini adalah seorang anak. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal(Perni, 2. Tujuan utama para pendidik dalam sudut pandang teori humanistic adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Pendekatan humanistik menganggap peserta didik sebagai a whole person atau orang sebagai suatu kesatuan. Dengan kata lain, pembelajaran tidak hanya mengajarkan materi atau bahan ajar yang menjadi sasaran, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan diri mereka sebagai manusia. Seperti dalam adegan yang menunjukkan kedekatan secara emosional antara Ishaan dan Guru Nikumbh . Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didik sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan peserta didik. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada peserta didik dan mendampingi peserta didik untuk memperoleh tujuan pembelajaran(Magdalena et al. , 2. Gambar 6. Adegan guru Ram Shankar Nikumbh menunjukkan kasih sayang dan dukungan Relevansi pendekatan humanistik dalam implementasi pendidikan inklusi Melihat berbagai ulasan dan pengertian dari pendekatan humanistic menunjukkan bahwa pendekatan ini sangat relevan diimplementasikan dalam pelaksanaan pendidikan inklusi. Mengacu percontohan dalam film Taare Zameen Par memperlihatkan beberapa konsep pendekatan humanistic yang efektif diterapkan untuk siswa dengan kendala belajar. Seperti mengatasi harga diri rendah, mengenal pribadi siswa dan lingkungannya melalui sense dan sensibility, membangun empati, melibatkan keluarga sebagai support sistem, dan menggali bakat siswa. Teori humanistic memandang anak sebagai manusia utuh yang memiliki kemerdekaan, dan memiliki kelebihan atau keistimewaan, bukan menjadi bejana kosong. Hal ini sejalan dengan visi dari pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, disebutkan bahwa: Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama Anterior Jurnal. Volume 24 Special Issue I. Februari 2025. Page 34 Ae 39 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 dengan peserta didik pada umumnya(Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 70, 2. Implikasi suksesnya program inklusi adalah adanya guru yang mengakomodasi dan memberi dukungan untuk kebutuhan semua siswa dalam kelas, tidak terlalu banyak paksaan dan tidak mengurangi hak siswa(Schmidt & Venet, 2. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa studi film Taare Zameen Par menunjukkan bahwa tokoh guru Ram Shankar Nikumbh menerapkan pendekatan humanistic dalam pembelajaran yang di dalamnya terdapat siswa dengan Secara semiotika beberapa hal yang diterapkan adalah mengatasi harga diri rendah, mengenal pribadi siswa dan lingkungannya melalui sense dan sensibility, membangun empati, melibatkan keluarga sebagai support sistem, dan menggali bakat siswa. Hal ini sejalan dengan visi dari pendidikan inklusi yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya yang didukung dengan peranan guru untuk mengakomodasi dan memberi dukungan untuk kebutuhan semua siswa dalam kelas, tidak terlalu banyak paksaan dan tidak mengurangi hak siswa. Sehingga pendekatan humanistic dalam pelaksanaan pendidikan inklusi adalah relevan. REFERENSI