Jurnal Ilmu Masyarakat. : 101-109 Arianto ME. Septiadi JD, & Nurhasanah A / Kesehatan Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. : 101-109 Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journa. Journal Homepage: http://journals. id/index. php/jikm Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Aman Berkendara pada Pengemudi Bus Trans Machfudz Eko Arianto1. Julian Dwi Saptadi2*. Amelia Nurhasanah3 Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Ahmad Dahlan Abstrak Bus Trans tidak hanya berdampak positif bagi masyarakat tetapi memiliki dampak negatif. Adanya pengemudi yang ugal-ugalan saat bekendara, berbelok dengan tajam, bus menguasai jalan dan sebagainya, hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pengguna jalan umum dan dapat menimbulkan kecelakan lalu lintas. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor Ae faktor apa yang mempengaruhi perilaku aman berkendara pengemudi bus trans. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah pengemudi bus trans, penentuan sampel menggunakan rumus slovin didapatkan jumlah 55 sampel. Penentuan sampel dengan metode sampel random Instrumen penelitian ini kuesioner yang telah diuji validitas dan reabilitasnya. Analisis yang dilakukan yaitu analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara masa kerja . ilai p = 0,. , dukungan keluarga . ilai p = 0,. , dan kondisi kendaraan . dengan perilaku aman Hanya faktor pengetahuan yang memiliki hubungan bermakna dengan perilaku aman berkendara . ilai p = 0,. Rekomendasi penelitian ini, diharapkan bagi perusahaan untuk tetap meningkatkan kegiatan sosialisasi dan edukasi, serta meningkatkan pengawasan berkala terhadap pengemudi. Pengemudi diharapkan selalu mematuhi tata tertib lalu lintas dan SOP yang sudah diberlakukan di perusahaan. Kata Kunci: Dukungan keluarga. Kondisi kendaraan. Masa kerja. Pengetahuan. Perilaku aman berkendara Abstract The existence of the Trans Bus does not only have a positive impact on society, but also has a negative impact. Drivers who are reckless while driving, turn the road sharply, bus rule the road, and so on. This matters discomfort for public road. The purpose of this research is to analyze Aofactors that influence safe driving behavior of trans bus driversAo. This type of research is a quantitative research with a cross sectional approach. The sample of this research is the Trans bus drivers, determination of the sample using Slovin formula obtained a total of 55 samples by random sampling method. The instrument of this research is a questionnaire that has been tested for validity and reliability, valid if the value of r arithmetic > r table, and reliable if the value of Cronbach's Alpha > 0. The analysis carried out is univariate and bivariate analysis with chi-square test. The research results showed that there was no relationship between length of service . value = 0. , family support . value = . , and vehicle condition . with safe driving behavior. Only the knowledge factor has a significant relationship with safe driving behavior . value = 0. The recommendation from this research is that it is hoped that the company will continue to increase socialization and education activities, as well as increase regular supervision of drivers. Drivers are expected to always obey traffic rules and SOPs that have been enforced at the company. Keywords: Family support. Vehicle condition. Working period. Knowledge. Safe driving behavior Korespondensi*: Julian Dwi Saptadi. Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Ahmad Dahlan. Kampus 3 UAD. Jl. Prof. Soepomo. Janturan. Umbulharjo. Yogyakarta. E-mail: saptadi@ikm. https://doi. org/10. 33221/jikm. Received : 27 Oktober 2022 / Revised : 25 April 2023 / Accepted : 5 Februari 2024 101 2252-4134, e-ISSN: 2354-8185 Copyright @ 2024. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, p-ISSN: Arianto ME. Septiadi JD, & Nurhasanah A / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. : 101-109 Pendahuluan Kecelakaan lalu lintas yaitu kejadian atau peristiwa yang terjadi di jalan dan tidak dapat diduga maupun tidak juga Kendaraan dengan pengguna jalan lainnya yang dapat mengakibatkan korban manusia atau kerugian suatu harta benda. Berdasarkan Global Status Report on Road Safety (GSRS) tahun 2018 yang dirilis Word Health Organization (WHO), dilaporkan bahwa setiap 24 detik terdapat satu nyawa melayang dan pada setiap tahunnya terdapat sejumlah 1,35 juta korban meninggal akibat kecelakaan lalu Kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab kematian nomor satu didunia untuk anak usia 5-14 tahun dan remaja usia 15 Ae 29 tahun. Sebesar 54 % dari jumlah korban ialah pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara sepeda motor. Menurut Data Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Korlantas Polr. pada tahun 2020 terdapat 028 kasus kecelakaan lalu lintas (Lakalanta. di Indonesia dengan korban luka ringan sebanyak 113. 518, korban luka berat sebanyak 10. 751, dan kasus meninggal dunia sebanyak 23. Pada tahun 2019 tercatat kecelakaan lalu lintas 411 kasus dengan kasus luka ringan sebanyak 206. 447 korban, korban luka berat sebanyak 12. 475, dan kasus meninggal dunia sebanyak 25. Dari data tersebut dapat disimpulkan jika kecelakaan di indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya baik dari kasus luka ringan hingga meninggal dunia. Berdasarkan data dari Badan Perencaan Pembangunan. Penelitian dan Pengembangan Daerah (BAPPEDA) Yogyakarta jumlah kecelakaan pada tahun 2019 berjumlah 5. 944 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 419 jiwa, luka ringan sebanyak 7. 259, luka berat sebanyak 9 jiwa, dan kerugian materi sebanyak Rp. Pada tahun 2020 jumlah kecelakaan sebanyak 559,00 kasus dengan korban meninggal sebanyak 346,00 jiwa, luka ringan 715,00 dan luka berat sebanyak 1 jiwa, dengan kerugian materi sebanyak Rp. Pada tahun 2021 terhitung sampai dengan bulan November jumlah kecelakaan sebanyak 3. 700 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 338 jiawa, luka ringan sebanyak 4. 428 jiwa dan luka berat sebanyak 6 jiwa, dengan Rp. Berdasarkan data tersebut kecelakaan mengalami penuruan pada setiap tahunya, kecuali pada korban luka ringan mengalami peurunan pada tahun 2020 dan mengalami kenaikan pada tahun Faktor perilaku mempunyai peran yang sangat penting untuk menentukan Pengendara yang berperilaku tidak baik ketika berkendara juga mempengaruhi Perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu masa kerja, pengetahuan, kondisi kendaraan dan dukungan keluarga. Pengetahuan menjadi domain yang sangat penting dalam menentukan perilaku seseorang, karena perilaku yang dilandasi oleh pengetahuan pasti akan lebih bertahan lama dari pada yang tidak dilandasi. Senioritas atau masa kerja yaitu lamanya waktu seorang karyawan menyumbangkan tenaganya untuk suatu perusahaan Bus komponen kendaraan yang menjadi salah satu syarat integritas berkendara. 7 Selain itu dukungan kelurga juga memiliki peran dalam perubahan perilaku. Dukungan keluarga yaitu suatu bantuan yang dapat diberikan kepada anggota keluarga lainnya dalam bentuk barang, jasa, informasi, dan nasihat agar mereka yang menerima dukungan merasa dicintai, dihargai, dan Dari perusahaan sudah memberikan training atau pelatihan terhadap pengemudi atau pramudi pada setiap satu bulan sekali. Setiap armada yang beroperasi sudah melewati proses pengecekan mesin oleh Arianto ME. Septiadi JD, & Nurhasanah A / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. : 101-109 Tabel 1. Distribusi Responden teknisi pada perusahaan. Perusahan melakukan pengawasan terhadap perilaku Selanjutnya dari hasil obeservasi yang menumpangi Bus Trans didapatkan hasil peneliti menemukan bahwa terkadang bus berpindah jalur secara mendadak, bus melaju dengan cepat dengan kecepatan mendekati 60 km/jam, yang mana standar kecepatan lalu lintas menurut Peraturan Mentri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 111 Tahun 2015 menyatakan bahwa batas kecepatan paling tinggi adalah 50 km/jam pada area perkotaan. Bus juga berbelok dengan tajam, terdapat bus yang telalu menguasai jalan. Terdapat pramudi yang mengoperasikan handphone saat berada dilampu mera. Berdasarka latar belakang tersebut, maka bertujuan untuk faktor-faktor berhubungan dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi bus trans. Variabel Usia Pendidikan Kepemilikan SIM Masa Kerja Pengetahuan Dukungan Keluarga Kondisi Kendaraan Perilaku Kategori 20 Ae 30 31 Ae 40 41 Ae 50 SMP SMA B1 Umum B2 Umum Baru Lama Rendah Tinggi Rendah Tinggi Kurang Baik Baik Kurang Baik Baik Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa distribusi frekuensi responden berdasarkan umur pada pengemudi dengan jumlah terendah yaitu pada usia 20 Ae 30 tahun sebanyak 9 orang . ,4%) dan jumlah tertinggi usia 41 Ae 50 sebanyak 24 responden . ,6%). Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikan pada pengemudi dengan jumlah paling rendah yaitu pada kategori pendidikan S1 sebanyak 1 responden . ,8%) dan jumlah tertinggi yaitu pada kategori tingkat pendidikan SMA sebanyak 52 responden . ,5%). Distribusi berdasarkan kepemilikan SIM pada pengemudi Bus Trans dengan dengan jumlah tertinggi yaitu pada kepemilikan SIM B1 Umum sebanyak 42 responden . ,4%). Distribusi frekuensi responden berdasarkan masa kerja dengan kategori paling banyak yaitu pada kategori lama dengan jumlah sebanyak 38 responden . ,1%). Distribusi frekuensi responden berdasarkan variabel tingkat pengetahuan diperoleh jumlah nilai banyak yaitu pada variabel pengetahuan dengan kategori tinggi sebanyak 33 responden . %). Distribusi berdasarkan variabel dukungan keluarga diperoleh nilai tertinggi yaitu pada kategori keluarga tinggi sebanyak 29 responden Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan design cross Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengemudi bus trans sebanyak 120 pengemudi. Sampel dihitung menggunakan rumus slovin dan didapatkan sejumlah 55 sampel yang diambil dengan teknik random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner dan lembar observasi. Kuisioner telah dilakukan uji validitas dan uji reabilitas terlebih dahulu. Analisis yang dilakukan yaitu analisis univariat dan bivariat dengan Uji chi-square. Hasil Distribusi berdasarkan karakteristik usia, pendidikan, kepemilikan sim, variabel bebas . asa kerja, pengetahuan, dukungan keluarga, dan kondisi kendaraa. dan variabel terikat . erilaku berkendar. dapat dilihat pada Arianto ME. Septiadi JD, & Nurhasanah A / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. : 101-109 %). Distribusi frekuensi responden berdasarkan kondisi kendaraan mengenai perilaku aman berkendara pada pengemudi bus trans diperoleh hasil dengan nilai tertinggi yaitu pada kategori kondisi kendaraan baik sebanyak 36 armada . %). Distribusi frekuensi responden berdasarkan perilaku aman berkendara dijalan raya diperoleh nilai tertingi pada kategori perilaku baik sebanyak 32 responden . %). Hasil tabulasi silang antara variabel independen dengan perilaku berkendara dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 2. Analisis Bivariat Variabel Masa kerja Tingkat Pengetahuan Dukungan Keluarga Kondisi kendaraan Perilaku berkendara Kurang baik Baik Kategori Baru Lama Rendah Tinggi Rendah Tinggi Kurang sesuai Sesuai Berdasarkan tabel 2, variabel masa kerja baru dengan kategori kurang baik sebanyak 6 responden . ,2%) dan pada kategori baik sebanyak 11 responden . ,8%). Untuk kategori masa kerja lama dengan kategori perilaku kurang baik sebanyak 16 responden . ,1%) dan pada kategori perilaku baik diperoleh hasil sebanyak 22 responden . ,9%). Sehingga diperoleh nilai p = 0,769. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara masa kerja dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi bus trans. Variabel tingkat pengetahuan rendah dengan kategori perilaku kurang baik didapatkan hasil sebanyak 4 responden . ,2%) dan pada katrgori perilaku baik diperoleh sebanyak 18 responden . ,7%). Dan pada kategori tingkat pendidikan tinggi dengan kategori perilaku kurang baik sebanyak 18 responden . ,5%) dan pada kategori perilaku baik sebanyak 15 responden . ,5%). Sehingga diperoleh nilai p = 0,011. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi bus trans. Pada variabel dukungan keluarga rendah dengan kategori perilaku kurang baik diperoleh sebanyak 12 responden Nilai p 0,769 0,011 0,420 0,564 ,2%) dn pada kategori perilaku baik diperoleh sebanyak 14 responden . ,8%). Pada variabel dukungan kelurga tinggi dengan kategori perilaku kurang baik diperoleh 10 responden . ,5%) dan pada kategori perilaku baik diperoleh sebanyak 19 responden . ,5%). Sehingga diperoleh nilai p = 0,420. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi bus trans. Variabel kondisi kendaraan baik dengan kategori perilaku kurang baik diperoleh hasil sebanyak 9 responden . ,4%) dan pada kategori baik sebanyak 10 responden. Pada variabel kondisi kendaraan baik dengan kategori perilaku kurang baik diperoleh sebanyak 13 responden . ,1%) dan pada kategorik perilaku baik sebanyak 23 responden . ,9%). Sehingga diperoleh nilai p = 0,564. hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara kondisi kendaraan dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi bus trans. Pembahasan Hasil uji hubungan yang dilakukan antara masa kerja dengan perilaku aman berkendara diperoleh hasil bahwa tidak Arianto ME. Septiadi JD, & Nurhasanah A / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. : 101-109 terdapat hubungan antara masa kerja dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi Bus Trans. Hal ini disebabkan karena pengemudi yang mempunyai masa kerja yang lama mereka akan cenderung meremehkan atau menyepelekan dan mengabaikan bahaya dan risiko yang mungkin akan terjadi pada saat pengemudi tersebut melakukan suatu pekerjaannya karena mereka merasa sudah memiliki suatu pengalaman lebih dan mereka memiliki berpresepsi bahwa pengemudi tersebut telah menguasai kendaraan dan medan yang ada di tempat kerja. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian bahwa masih terdapat responden yang memiliki masa kerja lama namun berperilaku tidak aman. Pada menunjukan hasil bahwa masih terdapat pengemudi dengan masa kerja yang lama akan tetapi masih berperilaku tidak aman. Kurangnya pengawasan yang diberikan perusahaan terhadap pengemudi juga menjadi faktor yang menyebabkan pengemudi dengan masa kerja lama tetapi masih berperilaku tidak aman saat Pengemudi tidak merasa diawasi sehingga mereka berperilaku semau mereka yang dianggap sudah benar dan mudah, banyak pengemudi yang mengemudikan bus dengan perilaku yang mereka anggap memudahkan pekerjaan mereka tanpa memperhatikan SOP yang Peran rekan kerja juga menjadi faktor yang meyebabkan pengemudi dengan masa kerja lama tetapi masih berperilaku tidak Mereka cenderung akan menirukan cara berperilaku rekan saat bekendara tanpa menyadari bahwa perilaku yang dikuti aman atau tidak, sehingga hal ini juga yang menjadi faktor seseorang dengan masa kerja baru akan tetapi berperilaku Dapat dibuktikan pada hasil analisis statistik bahwa pada pengemudi dengan masa kerja baru akan tetapi berperilaku Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Lawrence Green dalam sebeumnya yang menyatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor merupakan masa kerja. Masa kerja juga dapat artikan sebagai bentuk loyalitas karyawan terhadap suatu perusahaan. Lama waktu masa kerja yang sudah cukup, akan sama dengan orang yang memiliki pengalaman yang luas baik hambatan dan Waktu membentuk pengalaman seseorang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukanan oleh peneliti menunjukan tidak terdapat hubungan antara masa kerja dengan perilaku safety driving pada pengemudi Bus Rapid Transit Trans Semarang Koridor I. 10 Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara masa kerja dengan perilaku keselamatan bermuatan semen di PT Energi Sukses Abadi Cilacap. Hasil penelitian ini tidak sejalan sebelumnya yang menyatakan bahwa ada hubungan antara masa terhadap perilaku safety driving. 12 Penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa yang ada pengaruh masa kerja pengemudi mobil tangki terhadap perlaku safety driving. Masa kerja pengemudi yang lebih lama, maka akan semakin tinggi skill dan pengalaman yang dimiliki untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas pada pengemudi. Pengemudi dengan masa kerja yang sedikit atau pengemudi yang masih baru biasanya berkendara dengan selamat. Dari hasil uji hubungan diketahui bahwa ada hubungan antara pengetahuan terhadap perilaku aman berkendara. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang . vert behavio. Pengemudi Arianto ME. Septiadi JD, & Nurhasanah A / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. : 101-109 pengetahuan yang tinggi akan cenderung lebih paham tentang tata cara bagaimana berperilaku yang aman saat mengemudikan bus, dan mereka dapat menerapkan Sedangkan pengetahuan yang rendah cenderung akan berperilaku tidak aman saat mengemudi dikarenakan yang mereka kemudikan. mereka tidak memperhatikan aspek keselamatan dalam berkendara. Mereka cenderung melakukan pekerjaannya hanya untuk memenuhi kewajibannya mereka Berdasarkan penelitian di lapangan responden dengan pengetahuan yang tinggi dapat dilihat dari responden yang menjawab pertanyaan mengenai perilaku aman berkendara, baik mengenai informasi umum tentang tata tertib lalu lintas ataupun mengenai Safety driving. Hasil penelitian dilapangan menunjukkan 45,5% responden yang mempunyai pengetahuan tinggi dan Hal dikarenakan responden yang memiliki pengetahuan tinggi mengenai Safety driving akan lebih memahami serta tahu bagaimana dan apa saja yang dilakukan berkendara dan setelah berkendara. Pengemudi yang memiliki pengetahuan yang baik tentang Safety driving cenderung akan berperilaku yang aman karena mereka mengetahui apa saja komponen dari Safety driving. Dari hasil penelitian masih terdapat responden yang memiliki pengetahuan yang tinggi dan berperilaku baik, akan tetapi terdapat juga rersponden dengan pengetauan rendah namun berperilaku Menurut asumsi peneliti hal ini disebabkan oleh masih banyaknya faktor lain yang berhubungan dengan perilaku misalnya pengaruh dari rekan kerja. Responden yang memiliki pengetahuan yang rendah namun berteman atau sering bersama dengan responden yang memiliki pengetahuan tinggi dan berperilaku baik mereka cenderung akan sering ikut-ikutan dengan perilaku temannya yang memiliki pengentahuan tinggi dan berperilaku baik Sehingga hal ini menyebabkan mereka yang berpengatahuan rendah tetapi berperilaku baik. Rekan kerja juga akan responden seperti hal nya responden dengan pengetahuan tinggi juga akan berperilaku buruk jika mereka berada pada lingkungan rekan kerja yang berperilaku tidak baik, sehingga mereka juga cenderung akan ikut ikutan berperilaku tidak baik. Penelitian pernyataan Green dalam penelitian seseorang memiliki pengetahuan yang baik akan memberikan pengaruh yang baik bagi Meningkatnya pengetahuan tidak selalu menyebabkan suatu perubahan perilaku, akan tetapi sangat pentingnya pengetahuan diberikan sebelum tindakan dilakukan oleh individu. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku safety driving pada sopir bus trayek manado-tondano diterminal Tidak adanya hubungan dapat saja disebakan oleh beberapa faktor, responden yang dijadikan sampel sudah memahami betul menganai perilaku aman berkendara, pengawasan perusahaan yang baik juga menjadikan pemicu tidak adanya hubungan yang signifikasn terhadap pengetahuan dan perilaku. Pengemudi merasa diawasi selalu sehinggan timbul kebiasaan baik untuk selalu berperilaku Hasil motivasi/dukungan perilaku safety driving diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi Bus Trans. Tidak adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku berkendara dikarenakan pada saat bekerja kebanyakan dari pengemudi cenderung jarang bahkan tidak Arianto ME. Septiadi JD, & Nurhasanah A / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. : 101-109 pekerjaannya dan apa yang terjadi pada saat bekerja pada keluarga sehingga pengemudi jarang mendapatkan masukan, sara dan nasihat, serta keluarga jarang mengingatkan untuk selalu mengemudi secara aman. Dampak dari hal ini dapat membuat pengemudi merasa kurang termotivasi untuk melakukan pekerjaannya karena keluarga, motivasi mereka bekerja lebih untuk mencari uang, sehingga tidak berdampak atau berpengaruh dalam melakukan praktik mengemudi dengan Dapat penelitian bahwa responden dengan kategori dukungan keluarga tinggi tetapi masih banyak yang berperilaku kurang baik, dan juga sebaliknya pengemudi dengan kategori dukungan keluarga rendah tetapi berperilaku baik. Pengemudi cenderung tidak akan meceritakan aktivitasnya saat berkendara atau bekerja, karena menurut mereka hal tersebut tidak akan berpengaruh pada pekerjaannya. Karena pengemudi menganggap bahwa mengenai apa aktivitas yang mereka Pengemudi akan lebih bercerita kepada rekan kerja yang sama Ae sama memahami akan aktivitas mereka. Berdasarkan hasil dalam penelitian ini, dukungan keluarga tidak berhubungan dengan perilaku mengemudi tidak aman. Hal ini tidak sesuai dengan Teori Snehandu B. Karr dalam penelitian terdahulu. Menurut teori ini, terdapat lima determinan perilaku yang salah satunya adalah dukungan sosial dari masyarakat Dalam suatu kehidupan bermasyarakat, perilaku seseorang akan memerlukan dukungan dari masyarakat Jika suatu perilaku tidak didukung oleh masyarakat sekitar, maka orang tersebut akan merasa tidak nyaman terhadap perilakunya tersebut. Pengemudi dengan dukungan atau lingkungan sosial yang baik umumnya memiliki perilaku yang baik. Para pengemudi lebih menghargai pendapat atau teguran dari petugas terminal atau aparat kepolisian dari pada dukungan keluarga dikarenakan memberikan dampak kepada mereka berupa hukuman jika tidak Akan tetapi perilaku yang dipaksakan tidak akan bertahan lama atau tidak akan dilaksanakan setiap saat. Hasil dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu yang menunjukan tidak adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku mengemudi tidak amanpada supir bus trayek Jemberkencong-Lumajang. 11 Hal ini sejalan juga dengan penelitian sebelumnya yang menunjukan hasil uji hubungan antara motivasi/dukungan perilaku safety driving yang menunjukkan motivasi/dukungan perilaku safety driving pada pengemudi Bus Rapid Transit Trans Semarang Koridor I. Hasil uji hubungan antara kondisi kendaraan dengan perilaku safety driving pengemudi diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan antara kondisi kendaraan dengan perilaku aman berkendara bus trans. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa tidak terdaoatnya hubungan antara kondisi kendaraan dengan perilaku safety driving disebabkan karena semua kendaraan bus Trans yang digunakan oleh pengemudi sudah siap operasional dengan dilakukan pengecekan oleh pihak Pengecekan Bus Trans melalui Formulir Berita Acara Pemeriksan Laik Jalan (BAPLJ) pada setiap harinya setelah bus dioperasikan, hal ini membuat pengemudi berpersepsi bahwa kendaraan yang akan dioperasikan oleh pengemudi dalam keadaan yang baik dan siap, sehingga kondisi kendaraan tidak mengemudinya, karena pengemudi tidak mengkhawatirkan masalah kendaraannya selama mengemudi. Pada kendaraan Bus Trans semua dalam kondisi yang baik. Pada setiap bus selesai beroperasi dilakukan pengecekan berkala di gudang mechanical trans yang terletak Arianto ME. Septiadi JD, & Nurhasanah A / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. : 101-109 di pool purosani gamping. Bus beroperasi dari pukul 07. 00 Ae 20. 00 WIB. Setelah bus selesai dioperasikan, kendaraan diparkir oleh pengemudi pada halaman pool Lalu dimasukan kedalan gudang pengecekan oleh mechanical yang bertugas pada bagian parkir kendaraan. Setelah semua bus sudah dimasukan kedalam gudang pengecekan, semua bus diperiksa dan jika ditemukan terdapat bus yang bermasalah makan akan dilakukan tindakan perbaikan. Pengecekan yang dilakukan yaitu: suara klakson, ketelan ban dan angin, pemeriksaan AC, pemeriksaan mesin, pemeriksaan rem. Selain Itu maintenen juga memeriksa lembar keluhan Setelah selesai dilakukan pengecekan, bus yang tidak bermasalah akan dipakirkan lagi dihalaman pool purosani untuk beroperasi keesokan Selain itu, uji KIR dilakukan secara rutin yaitu setiap enam bulan sekali dan semua bus tidak melebihi batas uji. Pemantauan kondisi kendaraan juga berjalan dengan baik oleh pihak Sehingga sudah dipastika jika bus yang beroperasi sudah dalam kondisi yang baik dan layak digunakan. Hanya beberapa bus yang terlihat masih terdapat kekurangannya, misal tidak ditemukannya kotak p3k dan apar pada beberapa Dari hasil pengamtan pengemudi bus juga tidak terlalu memperhatikan kondisi kendaraan yang mereka operasikan. Masih banyak pengemudi yang tidak tahu jika didalam nya terletak apar dan kotak p3k, yang artinya mereka hanya bekerja memperhatikan kondisi didalam bus. Hal tersebut dapat saja menjadi faktor tidak adanya hubungan antara kondisi kendaraan dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi bus trans. dapat dibuktikan dari hasil penelitian jika kondisi kendaraan dengan kategori sesuai namun masih saja terdapat responden yang berperilaku kurang baik. Penelitian ini tidak sejalan dengan Menurut teori WHO dalam penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa terdapat berperilaku salah satunya yaitu Sumber daya yang tersedia. Adanya sumber daya seperti fasilitas, uang, waktu, tenaga kerja akan mempengaruhi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Pengaruh ini dapat bersifat positif maupun negatif. Fasilitas yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu pada kondisi kendaraan. Kondisi kendaraan yang baik cenderung akan menumbuhkan rasa nyaman sehingga pengemudi dapat berperilaku baik. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian terdahulu yang menyatakan kondisi kendaraan sopir bus tidak berhubungan atau berpengaruh terhadap perilaku mengemudi tidak aman seorang Pada Sopir Bus Trayek Jember Kencong Lumajang (Influence Factor Of Unsafe Driving On Bus Driver Jember-Kencong-Lumajang Rout. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuwan Martus yang dilakukan pada pengemudi Bus Rapid Transit Trans Semarang Koridor II, i. VI yang menunjukan adanya hubungan antara kondisi kendaraan dengan defensive Yuwan mengatakan pengemudi yang cenderung berperilaku defensif ketika bus yang di kemudikannya dalam keadaan baik yang sesuai checklist pemeriksaan dan dinyatakan aman untuk dikemudikan. Sehingga semakin baik kondisi bus maka semakin baik pula penerapan defensif Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hanya faktor pengetahuan yang berhubungan dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi Bus Trans. Sedangkan faktor masa kerja, dukungan keluarga, dan kondisi kendaraan tidak berhubungan. Saran Berdasarkan penelitian yang telah Arianto ME. Septiadi JD, & Nurhasanah A / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. : 101-109 Lumente DI. Telew A, & Bawiling NS. FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Perilaku Aman Berkendara (Safety Ridin. Pada Pengemudi Ojek Online Di Kota Manado. Epidemia : Jurnal Kesehatan Masyarakat Unima. Misgiyanto & Susilawati. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Penderita Kanker Serviks Paliatif. Jurnal Keperawatan, 5. Notoatmodjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Aulia SN. Kurniawan B, & Wahyuni I. FaktorFaktor yang Berhubungan dengan Perilaku Safety Riding Driver Ojek Online di Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undi. : 625-631. Arianto ME & Feriana S. Pengetahuan Keselamatan Berkendara. Masa Kerja Dan Peran Manajemen Dengan Perilaku Keselamatan Berkendara Pada Pengemudi Truk Bermuatan Semen Di PT. Energi Sukses Abadi Cilacap. An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat . -Journa. : 14-20. Puteri AD & Nisa AM. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Safety Driving Pada Supir Travel Di Pt . Libra Wisata Transport. Jurnal Kesehatan Masyarakat. : 1Ae10. Elmayanti. Andi Nuddin, & Makhrajani Majid. Analisis Kondisi Internal-Eksternal Pengemudi Mobil Tangki Dalam Peningkatan Safety Driving Pt Elnusa Petrofin Di Kota Parepare. Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan. Adi Yuwono A. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Safety Driving Pada Sopir Bus Di Terminal Tirtonadi. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Alni Walewangko S. faktor-faktor yang berhubungan dengan safety driving pada supir manado-tondano Jurnal Kesehatan Masyarakat. : 20Ae23. Adventus. Jaya. made merta, & Mahendra. Buku Ajar Promosi Kesehatan. Noviandi AAR. Hartanti RI, & Ningrum PT. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Mengemudi Tidak Aman Pada Sopir Bus Trayek Jember Kencong Lumajang. In Jurnal Kesehatan. (Vol. Issue . Yuwan Martus Tegar Charisma. Ekawati. Faktor Ae Faktor Yang Berhubungan Dengan Defensive Driving Pada Pengemudi Bus Rapid Transit (Br. Trans Semarang Koridor Ii, i. Dan Vi. Jurnal Kesehatan Masyarakat . Journa. : 365Ae373. dilakukan saran yang dapat diberikan adalah Bagi pengemudi diharapkan untuk selalu mematuhi tata tertib lalu lintas dan SOP yang sudah diberlakukan di perusahaan, diharapkan pengemudi dapat menceritakan masalah atau hal yang dialami saat bekerja kepada keluarga agar senantiasa mendapatkan dukungan dari pihak keluarga. Bagi perusahaan, terus meningkatkan kegiatan berupa sosialisasi dan kegiatan edukasi kepada pengemudi agar senantiasa menekankan pengendara agar senantiasa melaksanakan safety driving dalam berkendara agar terhindar dari kecelakaan lalu lintas, terus mempertahankan pengecekan kondisi kendaraan secara berkala yang sudah rutin dilakukan oleh perusahaan, diharapkan terhadap perilaku berkendara pengemudi dengan selalu memperhatikan CCTV yang berada didalam bus dan memberikan kontak saran atau pengaduan untuk penumpang atau pengguna jalan jika dilihat pengemudi mengemudikan bus kurang baik. Bagi peneliti lainnya, diharapkan untuk dapat melakukan penelitian lanjutan tentang faktor yang berhubungan dengan perilaku aman berkendara pada pengemudi bus trans dengan variabel lain yang berbeda. Daftar Pustaka