Ni Wayan Ratih Wahyuriani. Ni Luh Sustiawati, & Ida Ayu Trisnawati PENDIDIKAN SENI SEBAGAI ALAT PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN BUDAYA BATIK DI SMK NEGERI 4 PALANGKARAYA Ni Wayan Ratih Wahyuriani1. Ni Luh Sustiawati2 . Ida Ayu Trisnawati3 1,2,3Institut Seni Indonesia Bali wayanratihjegek@gmail. INFORMASI NASKAH Diterima Pada 27 Desember 2024 Disetujui Pada 29 Februari 2025 Vol. No. 1, 2025 Halaman 11-19 E-ISSN : A2025 Penulis. Dipublikasikan oleh Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali. Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC-BY-NC-SA ABSTRAK Pendidikan seni memiliki peran strategis dalam melestarikan dan mengembangkan budaya lokal seperti batik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana pendidikan seni di SMK Negeri 4 Palangkaraya dapat digunakan sebagai wadah untuk pelestarian dan pengembangan budaya batik. Penelitian ini menggunakan metodologi studi kasus yang dipadukan dengan metode deskriptif kualitatif. Analisis dokumen pembelajaran, wawancara guru dan siswa, serta observasi digunakan untuk mengumpulkan data. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Keahlian Kriya Kreatif Batik dan Tekstil SMK Negeri 4 Palangkaraya dengan penekanan pada mata pelajaran batik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran seni di SMK tidak hanya mengenalkan teknik pembuatan batik, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai budaya, sejarah, dan filosofi batik kepada siswa. Selain itu, keterlibatan siswa dalam kegiatan praktik langsung dan proyek berbasis komunitas menjadi faktor penting dalam mengembangkan potensi inovasi mereka terhadap desain batik kontemporer. Dengan demikian, pendidikan seni di SMK menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan budaya batik sekaligus meningkatkan kreativitas siswa. Kata Kunci: Pendidikan Seni. Pelestari Budaya dan Batik PENDAHULUAN Berdasar pada UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 menuliskan bahwa, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya berupa kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara, pendidikan merupakan usaha yang disengaja dan terencana untuk mewujudkan lingkungan belajar dan proses pembelajaran. Dengan demikian, sistem pendidikan nasional dirancang untuk memaksimalkan potensi kecerdasan bangsa, yang tidak dapat terwujud tanpa pendidikan. Ini berarti bahwa tingkat kecerdasan seseorang, masyarakat, dan negara akan sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidikannya. Tiga kata kunciAi "cerdas," "kreatif," dan "demokratis"Aitercantum dalam Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan seni dapat digunakan untuk mengajarkan pendidikan kreatif. Pendidikan berlangsung dalam berbagai lingkungan, dengan berbagai keadaan dan ciri. Keluarga adalah tempat pendidikan dimulai, diikuti oleh lingkungan masyarakat, yang berdampak pada pengembangan dan modifikasi perilaku tertentu. Selain membantu siswa mempertahankan nilai, pengetahuan, dan keyakinan yang dihargai oleh masyarakat dan negara mereka, lingkungan pendidikan yang strategis, khususnya sekolah juga akan membantu mereka mempersiapkan diri untuk masa depan dan lingkungan yang penuh dengan rintangan dan terus mengalami perubahan (Rohidi, 2. Sebagai salah satu lembaga pendidikan yang membantu orang tua dalam mendidik anak-anaknya, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengikuti perkembangan yang Ni Wayan Ratih Wahyuriani. Ni Luh Sustiawati, & Ida Ayu Trisnawati bermanfaat dan tetap mengikuti sejarah dan budaya sebagai landasan pengajaran. Artinya, agar dapat berkembang, sekolah harus siap menyesuaikan diri dengan kemajuan apa pun yang membawa perubahan tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya. Begitu pula dengan pendidikan seni (Yulianto, 2020 : 18 ). Terdapat mata pelajaran tentang pendidikan seni dalam kurikulum sekolah yakni pada mata pelajaran batik yang ada pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan yang disingkat menjadi SMK. SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan merupakan salah satu pendidikan formal yang diberi kepercayaan untuk meyiapkan SDM yang siap serta mampu terjun ke dunia kerja serta menjadi tenaga kerja yang produktif. Seperti halnya pada SMK Negeri 4 Palangkaraya yang merupakan satu satunya sekolah dari satu provinsi Kalimantan Tengah yang bergerak pada kelompok industri kerajinan. SMK Negeri 4 Palangkaraya membuka jurusan Kriya Kreatif Kayu dan Rotan serta Kriya Kreatif Batik dan Tekstil. Dengan keberadaan jurusan batik ini diharapkan mampu menjadi pelopor pemuda pemudi yang bisa mengembangkan batik dari masa kemasa. Pembelajaran produktif yang ada pada jurusan Kriya Kreatif Batik dan Tekstil ini diantaranya batik, tenun, sablon, serta jahit. Namun dalam hal ini, peneliti lebih memfokuskan pada salah satu mata pelajaran produktif yakni batik. Perlu diketahui sebelumnya bahwa batik merupakan salah satu benda peninggalan budaya dunia non-benda yang dimana telah mendapatkan pengesahan oleh United Nations Educational. Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2003 Semenjak saat itu, batik kemudian menjadi personalitas budaya bagi Indonesia (Suryanto. Setelah mendapat pengakuan dari UNESCO, sehingga ditetapkanlah tanggal 2 Oktober 2009 sebagai hari Batik Nasional berdasarkan Keputusan Presiden guna meningkatkan kesadaran terhadap seni dan budaya asli Indonesia. Namun, arus globalisasi membawa tantangan besar terhadap keberlanjutan budaya ini, terutama dikalangan generasi muda yang mulai kurang mengenali dan menghargai nilai-nilai tradisionalnya. Di sekolah menengah kejuruan (SMK) kriya, pendidikan seni berfungsi tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai medium yang mendorong pemahaman mendalam tentang makna serta budaya batik. Melalui kurikulum yang dirancang dengan baik, siswa tidak hanya mempelajari teknik pembuatan batik seperti batik tulis dan cap, tetapi juga mempelajari nilai filosofis dan historis di balik motif-motif batik. Misalnya, motif parang yang melambangkan kekuatan dan keberanian, atau motif kawung yang mencerminkan kebijaksanaan dan kesucian, serta motif Batang Garing yang melambangkan pohon kehidupan. Selain itu, pendidikan seni di SMK kriya juga menekankan pengembangan kreativitas siswa untuk berinovasi dalam desain batik. Dengan menggabungkan elemen tradisional dan kontemporer, siswa dapat menghasilkan karya seni yang tidak hanya mempertahankan identitas budaya tetapi juga menarik bagi pasar modern. Hal ini mendukung keberlanjutan budaya batik dengan menghadirkannya dalam bentuk yang relevan dan menarik bagi generasi muda. Lebih jauh lagi, kolaborasi antara sekolah, komunitas lokal, dan industri batik memberikan peluang bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan praktisi batik profesional. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar siswa, tetapi juga memperkuat hubungan antara pendidikan dan pelestarian budaya lokal. Pendidikan seni menjadi ruang di mana siswa belajar untuk menghargai budaya mereka sendiri sambil mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam pengembangan industri kreatif. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek ini, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Ni Wayan Ratih Wahyuriani. Ni Luh Sustiawati, & Ida Ayu Trisnawati lebih lanjut bagaimana pendidikan seni di SMK kriya dapat menjadi alat yang efektif untuk melestarikan dan mengembangkan budaya batik, serta mengatasi tantangan globalisasi yang mengancam keberlanjutan tradisi ini. METODE Prosedur penelitian pada hakikatnya adalah pendekatan ilmiah untuk mengumpulkan data demi tujuan tertentu. Dalam metodologi penelitian ilmiah terdapat ciri-ciri dan karakteristik tertentu. Menurut metode ilmiah, upaya penelitian didasarkan pada sifat-sifat ilmiah yang rasional, empiris, dan sistematis. Agar upaya penelitian ini dianggap rasional, maka harus dilakukan dengan cara yang masuk akal bagi penalaran manusia. Empiris mengacu pada teknik-teknik yang dapat langsung diamati oleh indera manusia, sehingga memungkinkan orang lain untuk meneliti, mempelajari, dan memahami data yang digunakan. Sistematis mengacu pada pemanfaatan langkah-langkah tertentu secara logis, konsisten, dan sinergis dalam proses yang digunakan dalam penelitian ini (Sugiyono, 2. Metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif merupakan langkah yang diambil dalam penelitian ini. Penelitian ini berlokasi di SMK Negeri 4 Palangkaraya pada jurusan Kriya Kreatif Batik dan Tekstil dengan fokus pada konsentrasi batik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi kelas, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, instruktur, dan siswa, serta rekaman proses pembelajaran membatik. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengintegrasian Nilai Budaya Dalam Kurikulum Batik Pelestarian merupakan suatu proses atau teknik yang didasarkan pada kebutuhan individu itu Kelestarian tidak dapat berdiri sendiri karena hal itu harus dikembangkan sendiri. Melestarikan suatu kebudayaan pun dengan cara mendalami atau paling tidak mengetahui tentang budaya itu sendiri. Mempertahankan nilai budaya, salah satunya dengan mengembangkan seni budaya tersebut disertai dengan keadaan yang kita alami sekarang ini yang bertujuan untuk menguatkan nilai Ae nilai budayanya (Suratmi, 2. Untuk memastikan bahwa siswa tetap terhubung dengan nilai-nilai budaya inti mereka, penting untuk memasukkan budaya lokal batik ke dalam mata pelajaran. Hal ini untuk memastikan anakanak mempertahankan akar sejarah mereka sembari memperoleh informasi dan pemahaman tentang realitas sosial dan lingkungan budaya mereka. Tujuan memasukkan kearifan lokal ke dalam proses pendidikan adalah untuk menjaga keberlanjutan kearifan lokal dalam menghadapi laju globalisasi yang cepat sekaligus meningkatkan persepsi kearifan lokal di masyarakat sekitar (Hanifa, 2. Seperti halnya dalam pembelajaran batik pada jurusan kriya kreatif batik dan tekstil di SMK Negeri 4 Palangkaraya saat ini. Pembelajaran batik dirusan kriya tekstil ini terlaksana sejalan dengan kurikulum merdeka belajar sekarang ini. Kurikulum pendidkan seni ialah salah satu bagian terpenting dalam upaya memberikan layanan kepada peserta didik yang harus disusun secara sistematis dan terstruktur. Kurikulum pendidikan seni merupakan sebuah kontribusi untuk dapat mengendalikan emosi dalam berkarya terutama oleh peserta didik tentunya dengan cara yang kreatif serta inovatif yang dimana kedepannya diharapkan mampu dijadikan sebagai modal kehidupan dilingkungan peserta didik berada. Capaian pembelajaran mata pelajaran batik seperti yang tercantum dalam kurikulum merdeka belajar saat ini yakni Ni Wayan Ratih Wahyuriani. Ni Luh Sustiawati, & Ida Ayu Trisnawati peserta didik mampu mendefinisikan dan menerapkan teori, keterampilan, dan sikap yang berkaitan dengan perancangan, produksi, pemasaran, hak kekayaan intelektual, dan kewirausahaan batik sebagai capaian pembelajaran untuk komponen Batik Tradisional dan Kontemporer . Peserta didik mampu memunculkan konsep, membuat desain, dan mempelajari teknik batik modern dan tradisional. Peserta didik mampu memahami tahapan pembuatan batik, bagaimana proses tersebut dikembangkan sesuai dengan standar, dan bagaimana fungsi batik dikembangkan berdasarkan pengujian produk, riset pasar, penilaian proses, dan penyajian hasil kerja (Kemdikbud. Pengintegrasian nilai nilai budaya dalam kurikulum pembelajaran batik yang terlaksana di jurusan kriya tekstil ini dilakukan dengan memberikan materi materi terkait sejarah batik, filosofis batik, jenis jenis batik, pelaksanaan pameran akhir semester, ikut serta dalam komunitas batik, serta pelaksanaan kunjungan industri ke tempat produksi batik yang relevan. Materi pembelajaran terkait sejarah dimulai dengan memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai awal mula batik dikenal oleh rakyak Indonesia sampai pada pengakuan budaya Batik yang telah disahkan oleh UNESCO sehingga ditetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda. Selanjutnya maka peserta didik diarahkan untuk memahami filosofi dari berbagai motif batik khas setiap daerah di Indonesia, mulai dari makna bentuknya, makna warna yang diterapkan sampai pada makna apa saja yang terkandung didalam motif batik tersebut. Pada bagian ini, pendidik berperan aktif dalam rangka memberikan pemahaman tersebut kepada peserta didik melalui media pembelajaran yang inovatif dan kreatif yang sesuai. Rangkaian proses pembelajaran selanjutnya yakni pemahaman mengenai jenis jenis batik yang berkembang di Indonesia. Jenis jenis batik seperti : batik tulis, batik cap, batik ikat celup, batik kombinasi, dan batik printing. Selain itu, pelaksanaan kunjungan industri juga menjadi point penting bagi peserta didik untuk mampu melihat, menganalisis, memahami sampai pada memaknai pentingnya kehadiran para pembatik diindustri batik saat ini. Pada akhir semester pembelajaran pada umumnya OSIS di SMK Negeri 4 Palangkaraya melaksanakan kegiatan pameran yang dimana ini sebagai wadah untuk para siswa saling berapresiasi terhadap karya karya yang mereka hasilkan. Tidak menutup kemungkinan juga menghadirkan tamu undangan dari dinas terkait. Kegiatan pameran seperti ini tidak hanya dlaksanakan dilingkungan sekolah saja namun juga dapat dilaksanakan diluar lingkungan sekolah seperti pada kegiatan-kegiatan hari hari besar pendidikan. Kegiatan pameran seperti ini selain dapat menghasilkan bagi peserta didik juga menjadi ajang penarikan minat bagi para siswa ditingkat bawah untuk dapat tertarik bergabung menjadi siswa SMK. Selain itu juga, kegiatan pameran luar sekolah menjadi jembatan relasi antar sekolah dengan dinas pendidikan untuk saling sekedar sharing mengenai konteks pendidikan sekarang ini. Ni Wayan Ratih Wahyuriani. Ni Luh Sustiawati, & Ida Ayu Trisnawati Gambar 1. Proses Pembelajaran Batik (Sumber : Dok. Pribadi 2. Praktik Pembuatan Batik Setelah peserta didik diberikan pemahaman mengenai teori teori dasar pada batik maka langkah selanjutnya adalah merealisasikan pengetahuan mereka kedalam karya nyata yakni sebuah batik. Pendidik terlebih dahulu memperlihatkan alat dan bahan apa saja yang diperlukan saat proses pembuatan batik berlangsung serta bagaimana cara melakukannya. Selanjutnya pendidik memberikan materi mengenai bahan bahna pewarna batik baik berupa pewarna alam ataupun pewarna buatan. Selain pewarna batik juga diperlukan bahan bahan kimia aktif lainnya yang berfungsi sebagai bahan fiksasi atau penguncian warna agar warna tetap bertahan sebagaimana mestinya. Materi pembelajaran terkait warna batik juga dilengkapi dengan takaran warna yang digunakan, karena masing masing jenis pewarna berbeda dari segi takaran kebutuhan kain. Sehingga pada bagian terpentingnya yakni memberikan praktik langsung bagaiman proses pembuatan batik tulis. Pembuatan batik tulis diawali dengan proses pembuatan desain, penjiplakan desain diatas kain/molani, mencanting . , proses pewarnaan sampai pada proses pelorodan lilin malam batik. Mengajarkan teknik membatik kepada peserta didik memungkinkan mereka untuk secara langsung merasakan pengalaman menorehkan lilin panas yang berada diatas wajan kompor batik menggunakan canting yang terbuat dari tembaga. Pendidik juga mencontohkan sedikit mengenai cara penggunaan canting, posisi canting yang tepat sata digunakan, serta posisi duduk yang benar saat mencanting yang berpengaruh terhadap kenyamanan dalam bekerja. Gambar 2. Proses Pembuatan Batik Tulis (Sumber : Dok. Pribadi 2. Ni Wayan Ratih Wahyuriani. Ni Luh Sustiawati, & Ida Ayu Trisnawati Gambar 3. Proses Membuat Batik Tulis (Sumber : Dok. Pribadi 2. Gambar 4. Proses Pembuatan Batik Tulis (Sumber : Dok. Pribadi 2. Gambar 5. Proses Pembuatan Batik Tulis (Sumber : Dok. Pribadi 2. Gambar 6. Proses Penjahitan Kain Batik (Sumber : Dok. Pribadi 2. Ni Wayan Ratih Wahyuriani. Ni Luh Sustiawati, & Ida Ayu Trisnawati Pengembangan Desain Batik Siswa didorong untuk berkreasi dan mengembangkan motif batik yang tidak hanya mengikuti pola tradisional tetapi juga menciptakan motif baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Sebagai contoh, pembuatan desain batik dapat dilakakukan dengan menggunakan aplikasi digital seperti Ibis Paint X. Corel Draw. PhotoShop. AutoCad. Canva dan masih banyak lagi. Peserta didik diarahkan untuk mampu bereksplorasi terhadap kearifan lokal suku Dayak baik dari segi destinasi wisata, keindahan alam, ornamen/ukiran, arsitektur bangunan masa lampau, serta properti/senjata masa kuno. Dalam hal ini, pendidik harus lebih tegas dalam hal pemilihan motof yang dibuat oleh peserta didik, khususnya dalam hal plagiasi karya orang lain. Kemampuan peserta didik akan dinilai dari bagaimana ia mampu menciptakan desain batik yang unik dan kreatif yang sarat akan makna makna baik dalam kehidupan. Terkait dengan hal ini, diperlukan pemahaman lebih mendalam mengenai hak Ae hak eksklusif yang dikenal dengan sebutan HaKI. HaKI merupakan singkatan dari Hak atas Kekayaan Intelektual, dimana ini merupakan wadah bagi mereka untuk dapat diberikan kebebasan memakai sendiri hasil karyanya atau melisensikan hal tersebut. Disamping sebagai hak eksklusif. HaKI juga melihat nama pencipta/inovator akan terus melekat bersama-sama dengan hasil karyanya (Hariyani, 2. Melalui pemahaman ini maka peserta didik akan lebih jeli lagi untuk mampu inovatif dalam menciptakan desain batik yang unik, desain yang tiada duanya, desain yang berbeda dengan lainnya, serta mampu melihat orisinalitas suatu karya batik. Gambar 7. Inovasi Desain Batik (Sumber : Dok. Pribadi 2. Kesempatan Berwirausaha Pembentukan diri wirausaha muda oleh satuan Pendidikan memainkan peran krisual , karena disamping pengetahuan akademis , keterampilan dan sikap juga perlu untuk dikembangkan untuk menjadi pengusaha yang sukses di era modern saat ini (Nasrullah, 2. Pendidikan memainkan peran krusial Dalam pembelajaran batik di SMK, peserta didik tidak hanya dilatih kemampuan hard-skillnya saja namun juga perlu mempertimbangkan kemampuan soft-skills yang ada dalam diri peserta didik. Pengembangan keterampilan soft-skills yang dimaksud seperti: kepemimpinan, komunikasi, kerjasama serta ketahanan mental peserta didik. Keterampilan menjadi dasar bagi peserta didik dalam berkontribusi pada hubungan bisnis yang kuat serta mampu mengatasi hambatan-hambatan yang nanti akan muncul sewaktu-waktu. Maka dari itu, melalui pembelajaran batik di SMK ini menjadi jalan yang akan membawa peserta didik Ni Wayan Ratih Wahyuriani. Ni Luh Sustiawati, & Ida Ayu Trisnawati menjadi seorang wirausaha mandiri Pendidikan seni juga memberikan siswa keterampilan yang dapat digunakan untuk berkarir di industri batik atau memulai usaha sendiri. Beberapa siswa yang berprestasi bahkan telah memasarkan produk batik mereka melalui media social. Sebagaimana seperti yang sudah diterapkan oleh peserta didik di SMK sekarang ini, dimana mereka diberikan kesempatan untuk melihat peluang bisnis lebih awal saat kegiatan magang/prakerin berlangsung. Melalui ini, peserta didik akan menelaah apa saja hal-hal yang perlu digagas untuk menghasilkan sebuah produk yang dapat menghasilkan. Gambar 8. Hasil Karya Siswa (Sumber : Dok. Pribadi 2. Gambar 9. Berwirausaha Melalui Kegiatan Pameran (Sumber : Dok. Pribadi 2. Ni Wayan Ratih Wahyuriani. Ni Luh Sustiawati, & Ida Ayu Trisnawati Gambar 10. Berwirausaha Melalui Kegiatan Pameran (Sumber : Dok. Pribadi 2. PENUTUP Pendidikan seni di SMK memainkan peran vital dalam pelestarian dan pengembangan budaya Dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya, praktik langsung, dan inovasi desain, siswa tidak hanya memahami warisan budaya mereka, tetapi juga mampu mengembangkannya menjadi sesuatu yang relevan dengan kebutuhan zaman. Oleh karena itu, pendidikan seni di SMK perlu terus didukung dan dikembangkan agar dapat menjadi instrumen yang efektif dalam melestarikan budaya lokal. DAFTAR RUJUKAN Hanifa. Mengintegrasikan Kearifan Budaya Lokal Batik Garutan Melalui Pembelajaran SBDP di Sekolah Dasar. Indo-MathEdu Intellectuals Journals, 5. : 1202-1203. Hariyani. Dkk. Buku Pintar HaKI dan Warisan Budaya. Gadjah Mada University Press. Merdeka Mengajar. CP & ATP Kriya Kreatif batik dan Tekstil SMK. Tersedia di https://guru. id/kurikulum/referensi-penerapan/capaianpembelajaran/smk/kriya-kreatif-batik-dan-tekstil/fase-f/ [Accessed 25 Desember Nasrullah. Entrepreneurship Education : Teori dan Penerapan Pendidikan Kewirausahaan. PT. Sonpedia Publishing Indonesia. Rohidi. Metodologi Pendidikan Seni. Cipta Prima Nusantara. Sugiyono. Prof. Dr. Metode Penelitian Pendidikan (Kuantitatif. Kualitatif. Kombinasi. R&D dan Penelitian Pendidika. Alfabeta. Suratmi. Dra. Multukultural : Karya Pelestarian Kearifan Lokal Kesenian Barongsai Ae Lion. Media Nusa Kreatif. Muharyati. & Husen. Pembelajaran Kriya Batik Tulis Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Kreatif Siswa Kelas 7a SMPN Satu Atap 1 Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya. Magelaran:Jurnal Pendidikan Seni, 2. : 2620-8598. Suryanto. Batik Indonesia Resmi Diakui UNESCO(Onlin. Tersedia di https://w. com/berita/156389/batik-indonesia-resmi-diakuiunesco [Accessed 25 Desember 2. Yulianto. Pendidikan Seni Untuk Membentuk Manusia Ideal Pada Sekolah Umum. Jurnal Imajinasi. XIV. : 17-21. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. UU_tahun2003_nomor020. Tersedia di https://jdih. id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/UU_tahun2003_nomor pdf [Accessed 25 Desember 2.