Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/inde php/psikohumanika MENGINTEGRASIKAN DINAMIKA TIM KERJA DI DALAM KELUARGA DAN TANTANGAN REALITAS ERA DIGITAL GENERASI Z: MENAVIGASI PERAN IBU SEBAGAI WANITA KARIER Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* Fakultas Psikologi. Universitas Widya Dharma. Fakultas Psikologi. Unversitas Esa Unggul ARTICLE INFO ABSTRACT Article History Be accepted: Marc 2024 Approved: Dec 2024 Published: Dec 2024 In the fast-paced and dynamic modern era, the role of mothers as working women faces complex challenges in forming and managing teamwork within the family, especially with Generation Z children. This research explores mothers' experiences dealing with these dynamics and their strategies to manage their dual roles. Employing a phenomenological approach, this study deepens the understanding of the complexity of modern families and how mothers as working women adapt to their roles. Through in-depth interviews and phenomenological analysis, the research explores various aspects that influence mothers' ability to create effective teamwork within the family. The findings provide valuable insights into the role of mothers in managing the dynamics of modern families and their impact on the development of Generation Z children in the current digital era. By understanding the experiences and strategies of mothers as working women, this research makes a significant contribution to understanding the dynamics of modern families and the challenges parents face in raising their children in an ever-changing world. Keywords : role of mothers. Generation Z dual roles. Alamat Korespondensi: Jl. Ki Hajar Dewantara No. Desa. Macanan. Karanganom. Kec. Klaten Utara. Kabupaten Klaten. Jawa Tengah 57438. Imdonesia Jl. Arjuna Utara No. Duri Kepa. Kec. Kb. Jeruk. Kota Jakarta Barat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11510. Indonesia E-mail: ann4febr1@gmail. csintinjak@gmail. Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 INFO ARTIKEL Sejarah Artikel Diterima : Maret 2024 Disetujui: Desember 2024 Dipublikasikan: Desember 2024 Kata Kunci: peran ibu. anak-anak Generasi Z. kerja tim ABSTRAK Dalam era modern yang serba cepat dan dinamis, peran ibu sebagai wanita karir menghadapi tantangan kompleks dalam membentuk dan mengelola tim kerja di dalam keluarga, terutama dengan anak-anak generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi pengalaman ibu dalam menghadapi dinamika ini serta strategi yang mereka terapkan dalam mengelola peran ganda mereka. Menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian ini memaknai pemahaman tentang kompleksitas keluarga modern dan bagaimana ibu sebagai wanita karir beradaptasi dengan peran mereka. Melalui teknik wawancara mendalam dan analisis fenomenologis, penelitian ini mengeksplorasi berbagai aspek yang memengaruhi kemampuan ibu dalam membentuk tim kerja efektif di dalam Temuan penelitian memberikan wawasan yang berharga tentang peran ibu dalam mengelola dinamika keluarga modern serta dampaknya terhadap perkembangan anak-anak generasi Z di era digital saat ini. Dengan memahami pengalaman dan strategi ibu sebagai wanita karir, penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman tentang dinamika keluarga modern dan tantangan yang dihadapi oleh orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka di zaman yang terus berubah. PENDAHULUAN Dalam masyarakat kontemporer, keluarga menjadi lembaga utama untuk membentuk pemahaman individu tentang pengalaman hidup di luar lingkungan rumah mereka. Mulai dari pendidikan hingga karier profesional dan akhirnya pernikahan, keluarga memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian dan perilaku individu. Dalam kerangka ini, peran ibu menjadi sangat penting dalam membimbing dan merawat anak-anak agar menjadi individu yang mampu berinteraksi sosial dengan baik, dilengkapi dengan kemampuan untuk menavigasi kompleksitas hubungan antarpribadi dalam konteks keluarga maupun masyarakat, terutama di era digital (Hidayah & Maharani, 2. Namun, sesuaikan antara tuntutan karier dengan tanggung jawab sebagai ibu merupakan tantangan yang besar, terutama dalam membimbing pertumbuhan dan perkembangan anak-anak menjadi "generasi emas" di era digital. Tantangan ini bukanlah sekadar konjektur tetapi realitas yang nyata yang dihadapi oleh para ibu dewasa ini, seperti yang terbukti dari berbagai survei yang menunjukkan Indonesia sebagai salah satu konsumen media dan layanan internet terkemuka di Asia. Dengan separuh dari 264 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet dan hampir setengah dari mereka secara aktif terlibat dalam media social (Kusnandar, 2. , individu menghabiskan bagian besar dari kehidupan sehari-hari mereka tenggelam dalam dunia digital. Selain itu, komposisi penduduk Indonesia, seperti yang terungkap dalam Sensus Penduduk 2020, menegaskan dominasi Generasi Z (Gen Z), lahir antara tahun 1997 dan 2012, dan para Milenial, yang memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap dinamika sosial. Penelitian oleh Bruce Tulgan . selama periode 2003 hingga 2013 mengidentifikasi lima karakteristik utama yang membedakan Gen Z dari generasi sebelumnya. Pertama, media sosial merupakan jendela ke masa depan bagi Gen Z, memfasilitasi konektivitas dan interaksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kedua, hubungan interpersonal menempati prioritas tertinggi bagi individu Gen Z. Ketiga, terdapat kesenjangan keterampilan potensial dalam generasi ini, yang membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh untuk mentransfer keterampilan kritis seperti komunikasi antarpribadi dan pemikiran kritis dari generasi sebelumnya. Keempat, kemudahan navigasi virtual Gen Z mendorong pemikiran global, meskipun terdapat keterbatasan dalam eksplorasi fisik. Terakhir, keterbukaan mereka terhadap berbagai pandangan membuat definisi diri menjadi sulit, karena identitas tetap cair dalam menanggapi pengaruh eksternal. Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 Kerja tim, yang bertujuan untuk mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya, menjadi lambang dari upaya kolektif untuk melampaui tujuan pribadi dan mewujudkan tujuan bersama. Terutama, dalam setting keluarga, kerja tim menjadi konvergensi dari berbagai kepribadian menuju tujuan bersama. Namun, mendirikan kerja tim keluarga yang solid, sambil seimbang dengan tanggung jawab profesional dan rumah tangga, merupakan tantangan besar bagi wanita karier, terutama ibu (Siregar & Rahmawati, 2. Pada dasarnya fungsi keluarga berfokus pada proses yang dijalani oleh keluarga dalam mencapai tujuan keluarga tersebut (Perry, 2. Mencapai koherensi keluarga memerlukan waktu dan upaya bersama untuk membina komunikasi dan kolaborasi efektif di antara anggota keluarga, meskipun dihadapkan pada berbagai tuntutan yang dihadapi oleh para ibu. Dengan mengakui dan mengatasi tantangan ini, para ibu dapat menavigasi peran mereka sebagai wanita karier sambil membimbing perkembangan holistik anak-anak mereka, sehingga memupuk harmoni dan ketangguhan keluarga di era digital. Waktu kebersamaan di dalam keluarga dapat membangun waktu yang berkualitas dalam keluarga untuk meningkatkan kelekatan antar anggota keluarga seperti makan bersama, bersantai, hingga mengerjakan tugas bersama-sama untuk menciptakan kontinuitas dan stabilitas dalam kehidupan keluarga (McCubbin, 1. Russel . menjelaskan bahwa waktu yang menyenangkan bersama keluarga dapat menghasilkan dan meningkatkan kelekatan, penghargaan intrinsik, kebahagiaan, humor, pembelajaran, dan pengalaman yang menyenangkan. Tingkat koherensi keluarga yang tinggi akan berdampak pada peningkatan kemampuan keluarga untuk menyelesaikan masalah dan menggunakan berbagai sumber daya yang ada secara tepat. Keluarga juga akan mampu mempersepsikan masalah bukan sebagai tekanan melainkan tantangan yang dapat dihadapi(Bergh & Bjyrk, 2. Koherensi keluarga yang tinggi juga menyediakan basis motivational, perseptual, dan perilaku untuk pemecahan masalah fisik dan emosional yang baik sehingga mendorong pada kualitas hidup yang lebih baik dan mengurangi resiko depresi(Antonovsky & Sourani, 1. Peran seorang ibu sebagai wanita karier menuntut keseimbangan yang kompleks antara tanggung jawab keluarga dan karier profesional. Banyak ibu yang terlibat dalam peran ganda ini, menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara pekerjaan di luar rumah dan tugas-tugas sebagai ibu, terutama dengan kemajuan teknologi yang memengaruhi interaksi antara orang tua dan anak (Fitriyani. Nurwati, & Humaedi, 2016. Indira & Gunawan, 2. Wanita karier, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah perempuan dewasa yang terlibat dalam aktivitas profesi di luar rumah. Tantangan utama bagi ibu yang bekerja adalah memahami dan merespons perkembangan individual anak-anak, yang dipengaruhi oleh tahapan perkembangan mereka dan kemampuan imajinasi yang tinggi. Dalam mengatasi tantangan ini, ibu perlu memahami dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan minat unik setiap anak. Konsep tim merujuk pada kelompok yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Ada dua jenis tim, yaitu tim permanen yang berfokus pada fungsi tertentu secara berkelanjutan, dan tim sementara yang dibentuk untuk proyek jangka pendek (Oktaviani, 2. Langkah awal dalam membentuk tim yang efektif adalah memastikan setiap anggota memahami dengan jelas tujuan dan misi tim. Masing-masing anggota juga perlu mengetahui peran dan tanggung jawabnya dalam mencapai tujuan tersebut. Generasi Z, yang lahir dan tumbuh di era digital, memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari generasi sebelumnya. Mereka terbiasa dengan teknologi dan media sosial, memiliki kemampuan multitasking, dan cenderung ekspresif dan sosial. Namun, kecenderungan ini juga membawa risiko, terutama dalam menghadapi ambiguitas dan stres lingkungan (Fadlurrohim. Husein. Yulia. Wibowo, & Raharjo, 2. Generasi Z cenderung kurang toleran Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 terhadap ketidakpastian, karena terbiasa dengan pengasuhan yang protektif dan terlalu melindungi. Ini menyebabkan mereka cenderung labil dan sulit mengelola stress (Widyaning Tyas & Widyasari, 2. Dalam menghadapi tantangan ini, pendekatan yang holistik dan pemahaman mendalam tentang karakteristik generasi Z sangat diperlukan untuk membantu mereka berkembang secara optimal di era digital yang terus berubah (Sari & Zuhrinal, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengalaman ibu sebagai wanita karier dalam membentuk dan mengelola tim kerja di dalam keluarga, khususnya dengan anak-anak generasi Z di era digital. Dinamika peran ganda yang dijalani oleh ibu memunculkan berbagai tantangan, seperti tuntutan profesional di tempat kerja dan tanggung jawab pengasuhan di rumah. Dalam konteks ini, ibu dihadapkan pada kebutuhan untuk menyeimbangkan karier dan keluarga melalui strategi komunikasi, pembagian peran yang jelas, serta kolaborasi efektif di dalam keluarga. Generasi Z, yang lahir di era digital, memiliki karakteristik unik seperti ketergantungan pada teknologi, multitasking, dan gaya komunikasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Hal ini menambah kompleksitas dalam membangun tim kerja keluarga, di mana peran ibu menjadi sangat penting dalam membimbing anak-anak untuk memahami tanggung jawab, bekerja sama, dan mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Strategi yang digunakan ibu untuk membentuk kerja tim meliputi komunikasi terbuka, ketegasan dalam pembagian tugas, dan memberikan teladan nyata. Penelitian ini juga menyoroti faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembentukan tim kerja keluarga. Dukungan dari pasangan dan fleksibilitas kerja dapat membantu ibu mengelola peran ganda dengan lebih baik. Sebaliknya, beban kerja yang tinggi dan keterbatasan waktu dapat menjadi hambatan dalam menciptakan dinamika tim yang efektif di rumah. Dengan memahami pengalaman dan tantangan ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan berharga tentang bagaimana ibu sebagai wanita karier mampu menciptakan harmoni keluarga dan membentuk generasi Z yang tangguh di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang peran ibu sebagai pemimpin tim dalam keluarga serta pentingnya komunikasi efektif, kolaborasi, dan pembagian tugas dalam membangun keluarga yang kohesif. METODE Dalam penelitian ini, metode fenomenologi digunakan untuk menggali pengalaman ibu sebagai wanita karir dalam membentuk tim kerja dengan anak-anak generasi Z di dalam keluarga. Teknik pengumpulan data, analisis, dan verifikasi yang digunakan mencerminkan pendekatan kualitatif yang mendalam. Adapun responden tersebut yakni: Responden Tabel 1. Karakteristik responden Pekerjaan Domisili Ibu A Dosen Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* Semarang Jumlah Aktivitas Aktif media sosial. Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 Ibu B Wiraswasta bidang kuliner Bekasi Ibu C Pegawai kantor Klaten Ibu D Wiraswasta bidang fashion Wonogiri Ibu E Karyawan Bandung Aktif media sosial. Aktif media sosial Aktif media sosial Aktif media sosial Dengan melibatkan lima responden yang memiliki pengalaman langsung dalam situasi yang diteliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang tantangan dan strategi yang digunakan oleh ibu sebagai wanita karir dalam membentuk tim kerja di dalam keluarga, khususnya dengan anak-anak generasi Z. Dalam metode fenomenologi, teknik pengumpulan data utama adalah wawancara mendalam . n-depth interview. Wawancara dilakukan secara informal, interaktif, dan menggunakan pertanyaan terbuka. Wawancara dimulai dengan percakapan ringan untuk menciptakan suasana yang santai dan membangun kepercayaan dengan responden. Selanjutnya, responden diarahkan untuk fokus pada pengalaman mereka, termasuk kejadian yang berkesan, sehingga mereka dapat menceritakan pengalaman mereka secara menyeluruh. Teknik analisis dan interpretasi data mengikuti langkah-langkah yang disarankan oleh Pham . Ini meliputi: . Transkripsi wawancara, . Identifikasi pernyataan yang signifikan terkait dengan pengalaman emosional responden, . Bracketing fokus penelitian untuk mengenyampingkan hal-hal lain, . Horizontalization, di mana pernyataan responden dikelompokkan ke dalam unit-unit makna yang seimbang dan tidak berulang, . Pembentukan unit makna dengan deskripsi yang menggambarkan pengalaman yang dialami responden, . Merefleksikan unit makna melalui imaginative variation atau deskripsi struktural. Verifikasi dilakukan melalui member checks, di mana responden diminta untuk memeriksa deskripsi pengalaman mereka dengan seksama. Setelah itu, peneliti merevisi sintesis pernyataan berdasarkan masukan dari responden. Tahap selanjutnya adalah intersubjective validity, di mana pemahaman peneliti diuji kembali melalui interaksi timbal-balik dengan responden. Dengan pendekatan ini, penelitian ini berusaha mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang pengalaman ibu sebagai wanita karir dalam membentuk tim kerja dengan anak-anak generasi Z dalam konteks keluarga modern. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini telah dilakukan oleh peneliti berdasarkan hasil wawancara secara online melalui whatssaps baik videocall maupun chat, dan zoom mengingat informan berada di daerah yang berbeda agar diperoleh hasil secara maksimal. Peran ibu karir di dalam sebuah kerja tim Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 keluarga dengan pembagian tugas secara jelas diantara anggota keluarga yang lain. Hal ini terungkap dari analisa dari pernyataan subyek sebagai berikut : Tabel 2. Pernyataan responden Informan Gambaran Tim Kerja Tugas dibagi secara jelas kemampuan anak Tugas kemauan dan kemampuan anak Membebaskan pembagian jam dan tugas kerja sesuai jam pulang sekolah Cenderung anak-anaknya untuk berbagi tugas dan bergotong royong tugas pekerjaan rumah penuh Rutinitas sesuai jadwal dan tugas secara jelas Pertanyaan (Tantanga. Gen Z (Peran/penanganan Tantanga. Ibu Jawaban Informan Aktif tik tok dan Bersikap tegas dan berorganisasi di siap menjadi teman bagi anak-anaknya dengan mnjadi pendengar aktif serta berbagi . cerita mengenai kejadian di kantornya Aktif Memberikan teladan berorganisasi di dengan contoh nyata dan menyelesaikan pekerjaan bersama tempat tinggal Aktif sebagai Berusaha bersikap adil dan melakukan komunikasi terbuka terhadap anak-anaknya Aktif whatsapp. Memberikan pendapat kepada pasangan dan anakanaknya untuk Aktif Bersama sepakat memberikan aturan dan sangsi tegas kepada anak-anaknya Dinamika ibu bekerja di dalam keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya . enerasi Z). Keluarga adalah unit terkecil di masyarakat yang memiliki ikatan darah atas dasar pernikahan dan terdiri dari pasangan suami-istri dengan atau tanpa anak (Ligit, 2. Berdasar hasil wawancara mendalam diperoleh hasil bahwa peran ibu sebagai wanita karir tidak dapat lepas perannya sebagai ibu bagi anak-anaknya. Hal tersebut dapat nampak sebagai berikut Auanak-anak saya memang termasuk generasi milinealAehm generasi Z lahirnya udah jaman canggih ya. emm begini Bu. , dibandingkan kakaknya ya. Mereka keliatan beda dakam proses bekerja di rumah. Saya membiasakan untuk bisa saling bekerja membagi tugas bersama-sama. Jadi intinya saya merasa peran saya sangat luar biasa dibutuhkan untuk pertumbuhan dan juga perkembangannya ya. (W2020. Gen Z adalah mereka yang lahir setelah tahun 1995 (Beriansyah & Qibtiyah, 2023. Hartinah & Bambang Nurcahya, 2022. Hidayanto & Akbar, 2022. Karina et al. , 2. , atau seringkali disebut dengan generasi pasca-milenial. Raslie & Ting . mengungkapkan bahwa Gen Z cenderung tumbuh menjadi dewasa jauh lebih awal daripada Gen Y, karena mereka dibesarkan oleh orang tua Gen X yang lebih pragmatis yang mendorong anak-anak Gen Z mereka untuk lebih Gambar 1. Karakeristik Generasi Z (McKinsey, 2. Generasi Z lebih mengandalkan perangkat elektronik sehingga keterampilan sosial mereka Hal tersebut Nampak dari hasil wawancara berikut AuAkadang saya suka berpikir, anak saya ini memang sangat seneng dengan gadgetnya, susah kalo untuk diajak nonggo . Tapi mungkin juga kayanya karena laki-laki juga ya. tapi beneran Mb. Az kalo diajak bertemu siapa gituAsusah, ya berteman ke luar seperti kakanya lahAAy (W5-290. Kemajuan teknologi telah berdampak besar pada perilaku dan pemikiran generasi Z, yang membuat mereka berbeda dari generasi sebelumnya yakni generasi X dan Y. Akibatnya, generasi Z lebih memiliki kepercayaan diri dan harga diri yang tinggi, sangat menyadari tren, dan mahir secara teknologi karena pengenalan awal mereka terhadap teknologi dan adaptasi. Mereka melihat diri mereka sebagai orang yang cerdas, bagian dari desa global, menerima populasi yang beragam, dan peduli akan produk yang ramah lingkungan. Mereka secara konstan terlibat dalam berbagi informasi dengan memanfaatkan banyak platform terbuka. Perangkat seluler adalah preferensi mereka bersama dengan media yang dengannya mereka dapat berinteraksi berinteraksi (Szymkowiak. MeloviN. DabiN,Jeganathan, & Kundi, 2. Claude Shannon, seorang ilmuan Bell Laboratories yang juga Profesor di Massachusetts Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 Institute of Technology dan Warren Weaver, seorang konsultan pada sebuah proyek di Sloan Fondation, mendeskripsikan komunikasi sebagai proses yang linier atau searah. Pendekatan ini terdiri atas beberapa elemen kunci : sumber . , pesan . , dan penerima . (Saxena & Mishra, 2. Setiap individu memiliki Frame of Reference dan Frame of Experience yang terbentuk bertahun-tahun sejak kecil. Frame of Reference (FoR) terbentuk dari hasil interaksi dengan orang lain, buku bacaan, dan sebagainya, sedangkan Frame of Experience (FoE) terbentuk dari hasil pengalaman hidup sehingga perbedaan FoR dan FoE menyebabkan adanya perbedaan sikap ketika menghadapi situasi pada setiap individu terutama di saat akan membentuk sebuah tim kerja dalam keluarga. Contohnya ketika orang tua menghadapi anak yang minta ijin akan bermain Bersama teman-temannya. Ayah bilang tidak dengan alasan masih ada tugas rumah yang belum diselesaikan namun ibu mengiyakan karena menganggap akan tugas anaknya bisa diselesaikan seyelah anaknya Kembali ke rumah. Hal ini akan membingungkan anak dan bisa dimanfaatkan si anak untuk dekat ke ibunya saja karena permintaannya cenderung dituruti. Sehingga komunikasi orang tua ketika menghadapi anak-anaknya diharapkan dapat sejalan agar anak tidak dibuat bingung menghadapi peraturan dan perlakuan yang berbeda di kondisi yang sama. Komunikasi menjadi alat penting bagi kelangsungan hidup manusia termasuk ketika bekerja dalam tim. Komunikasi memiliki banyak makna. Beberapa tokoh mendefinisikan komunikasi diantaranya: Auwho says what to whom in what channel and with what effectAy (Raslie & Ting. Secara sederhana komunikasi dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui suatu media dengan efek tertentu. Komunikasi yang efektif adalah jika terjadi kesepahaman . utual understandin. antar komunikator dan komunikan. Pesan yang disampaikan komunikator dapat dipahami oleh komunikan. Komunikasi yang efektif dipengaruhi oleh frame of reference (FOR) dan field of experience (FOE). Frame of reference . merupakan bingkai referensi seseorang berdasarkan kebiasaan, budaya, agama, dan kepercayaan yang dianut. Sedangkan field of experience (FOE) adalah pengalaman informasi seseorang berdasarkan apa yang pernah dia alami. Kegiatan yang dilaksanakan secara tim kerja diantara anggota keluarga satu sama lain di dalam rumah akan memperoleh hasil yang lebih baik, lebih terarah dan meghasilkan komunikasi serta kinerja lebih maksimal terutama bagi sebuah pasangan ibu dan bapak di rumah dalam menghadapi anak-anak usia gen Z. Hal ini terungkap dari pernyataan berikut. AuSaya pasti lebih pilih untuk bisa sama-sama pasangan saya menghadapi Au ya MbakAkarena yang tidak bisa saya lakuin bisa dibantu suami terutama yakomunikasi dulu ya, jadinya ya bisa bagus malah kami disukain dan bisa langsung kasih teladan ke anak-anak kami. Jadi seru dan lucu ya kalo saya menggambarkan tim kerja dengan anak-anak juga. mereka seneng banget eA. Ay (W4190. Menurut Cipta . , tim kerja adalah sekelompok orang yang sportif, sensitif, dan senang bergaul, serta mampu mengenali aliran emosi yang terpendam dalam tim dengan sangat jelas. Tim kerja menghasilkan sinergi positif melalui usaha yang terkoordinasi. Usaha-usaha individual mereka menghasilkan satu tingkat kinerja yang lebih tinggi daripada jumlah masukan individual. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan tim membutuhkan keterampilan masing-masing anggota untuk memahami pentingnya sebuah aturan yang sudah ditetapkan bersama, terutama bila timbul masalah yang akan membutuhkan sebuah tim. Menurut Muspawi & Lestari . mempelajari aturan perlu terutama untuk memecahkan masalah. Pemecahan masalah merupakan perluasan yang wajar dari belajar aturan. Mahasiswa yang belajar menyelesaikan suatu masalah akan berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan dan menerapkan pengetahuan yang Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 dimilikinya (Andriyani, 2014. Istiyanto, 2016. Perdana & Dewi, 2. Pengalaman seorang ibu yang menjadi wanita karir sekaligus sebagai ibu rumah tangga memberikan beragam makna yang tergambar dari masing-masing subyek sebagi bentuk pembelajaran secara langsung bagi seorang ibu untuk mengasah lebih baik kemampuan bekerja secara tim di dalam keluarga dan mampu mengasah kemampuan komunikasi ketika bekerja dalam sebuah tim kerja pada saat di dalam rumah juga di tempat bekerja. SIMPULAN Dalam penelitian ini, berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan, ditemukan bahwa: Setiap keluarga memiliki metode unik dalam menerapkan pola pembagian tugas agar tim kerja di dalam keluarga dapat terlaksana meski peran sekaligus penanganan hambatannya bermacam-macam pula. tantangan pada generasi Z berbeda-beda Dalam perannya sebagai wanita karir, seorang ibu dihadapkan pada berbagai tantangan yang melibatkan manajemen waktu, komunikasi, dan pemecahan masalah, terutama saat membentuk tim kerja di dalam keluarga dengan anak-anak usia Gen Z. Dalam konteks ini, ibu tidak hanya berperan sebagai penyokong finansial keluarga, tetapi juga sebagai role model yang mengarahkan anak-anak dalam menghadapi permasalahan dan bekerja secara tim. Tantangan utama bagi ibu sebagai wanita karir adalah memahami kepribadian dan kebutuhan anak-anak Gen Z yang cenderung ingin tahu dan bersikap egosentris. Oleh karena itu, ibu perlu mengembangkan kemampuan untuk memahami dan menyelesaikan masalah yang timbul dengan bijaksana. Peran ibu sebagai role model dan pengarah dalam membentuk tim kerja di rumah sangat Kekompakan dan kohesivitas dalam tim keluarga, terutama dengan pasangan hidup, merupakan kunci keberhasilan dalam mendidik anak-anak untuk bekerja secara tim di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Namun, keberhasilan sebuah tim kerja dalam keluarga tidak hanya tergantung pada kehadiran ibu sebagai wanita karir. Dukungan dari semua anggota keluarga, termasuk suami, sangat diperlukan untuk membangun suasana yang positif dan solid dalam keluarga. Pembentukan tim dalam keluarga merupakan keterampilan personal yang melibatkan kemampuan soft skill, seperti kerjasama, pemecahan masalah, dan teladan yang diberikan kepada anak-anak. Sebagai saran, orang tua perlu terus mengasah kemampuan bekerja tim di dalam keluarga dengan berani menghadapi masalah, memberikan teladan positif kepada anak-anak, dan menciptakan atmosfer yang harmonis. Bagi peneliti selanjutnya, perlu untuk memperluas penelitian ke peran orang tua di tempat kerja dan membangun iklim organisasi yang baik serta mempererat keanggotaan dalam tim kerja di lingkungan kerja. Dengan demikian, semua pihak dapat berkontribusi dalam membentuk tim yang kuat dan solid, baik di dalam keluarga maupun di lingkungan kerja Anna Febrianty Setianingtyas1. Charli Sitinjak2* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 141-151 DAFTAR PUSTAKA