Jurnal Peduli Masyarakat Volume 5 Nomor 2. Juni 2023 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM PELATIHAN PROGRAM LAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT TENTANG PALIATIF DAN SCRENING PALIATIF UNTUK PENGURUS PANTI Wijanarko Heru Pramono. Emilia Puspitasari Sugiyanto*. Candra Hadi Prasetyo Program Studi Di Keperawatan. Fakultas Keperawatan Bisnis dan Teknologi. Universitas Widya Husada Semarang. Jl. Subali Raya No. Krapyak. Semarang Barat. Semarang. Jawa Tengah 50146. Indonesia *ummu_kifah @yahoo. ABSTRAK Angka kejadian penyakit degenerativ semakin meningkat. Permasalahan yang terjadi salah satunya adalah ketidak tahuan penderita akan kondisi kesehatanya. Panti wreda harapan ibu adalah panti yang mengasuh para lansia yang dititipkan oleh keluarga, sebagian besar landsia yang dirawat adalah lansia dengan penyakit kronis dan terminal. Dari hasil pengkajian didapatkan beberapa kasus penyakit degeneratif dan paliatif pada lansia di panti harapan ibu ngaliyan semarang. Dari hasil wawancara didapatkan minimnya tingkat pemahaman dan pengetahuan pengurus tentang penatalaksanaan penyakit krinis dan terminal sehingga menyebabkan lansia mengalami kurang Ketrampilan dan pengetahuan diantaranya meliputi perawatan dan pengelolaan pasien paliatif lansia. Metode penulisan dengan menggunakan metode deskriptif menjalaskan kegiatan pelatihan yang dilakukan pada pengurus lansia di panti wreda harapan ibu Ngaliyan Semarang. Kegiatan dilakukan pada 10 petugas panti wreda harapan Ibu Ngaliyan Semarang. Tujuan dari kegiatan adalah meningkatnya pengetahuan pengurus panti tentang pelayanan kesehatan lansia dengan paliatif. Hasil kegiatan adalaah meingkatnya pengetahuan dan ketrampilan keluarga dalam penatalaksanaan kegawatan pasien kanker dirumah. Kata kunci: paliatif. pengurus panti. program layanan kesehatan masyarakat COMMUNITY HEALTH SERVICE PROGRAM TRAINING ON PALIATIVE AND PALIATIVE SCRENING FOR INSTITUTE MANAGERS ABSTRACT The incidence of degenerative diseases is increasing. One of the problems that occurs is the patient's ignorance of his health condition. The Harapan Ibu Nursing Home is an orphanage that takes care of the elderly who are entrusted by their families, most of the elderly who are cared for are elderly people with chronic and terminal illnesses. From the results of the study, it was found several cases of degenerative and palliative diseases in the elderly at the Harapan Ibu Ngaliyan Semarang home. From the results of the interviews, it was found that the level of understanding and knowledge of the management regarding the management of chronic and terminal diseases was minimal, causing the elderly to experience a lack of care. Skills and knowledge include caring for and managing elderly palliative patients. The writing method uses the descriptive method to describe the training activities carried out for elderly caretakers at the Hope Nursing Home. Mrs. Ngaliyan. Semarang. The activity was carried out on 10 officers from the hopeful nursing home. Ms. Ngaliyan. Semarang. The purpose of the activity is to increase the knowledge of the orphanage management about palliative elderly health services. The result of the activity is an increase in family knowledge and skills in the emergency management of cancer patients at home. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group Keywords: caretaker of the orphanage. community health service program. PENDAHULUAN Paliatif adalah penyakit kronis dan menjelang ajal, penyakit paliatif tidak hanya pasien dengan kanker atau HIV termasuk juga lansia dengan penyakit kronis dengan tingkat kehidupan rendah. (Tejawinata, 2. menjelaskan bahwa lansia merupakan salah satu kelompok paliatif dimana lansia mempunyai kecenderungan kondisi frailty dimana lansia mengalami penurunan fungsi tubuh karena proses degeneraasi, banyak lansia ditemukan dengan penyakit komplikasi dan kronis. Angka kejadian penyakit degenerativ semakin Banyak permasalahan kesehatan yang dialami oleh lansia paliatif diantaranya adalah perubahan fisik, perubahan psikologis hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan da ketrampilan pengurus dalam memberi pelayanan maupun perawatan pada pasien lansia paliatif. Tampubolon et al. , . menjelaskan bahwa hambatan pelayanan pasien paliatif karena minimnya pengetahuan pasien dan pemberi perawatan tentang perawatan paliatif. Prinsip pelayanan paliatif salah satunya adalah peningkatan kualitas hidup dan mengurangi penderitaan yang dialami paseien karena kondisi sakitnya. (Peranginangin, 2. penderitaan yang dialami pasien paliatif salah satunya adalah karena pasien tidak mendapatkan pelayanan paliatif dengan baik. Dampak lanjut dari perawatan pasien paliatif antara lain beban care giver yang muncul akibat dari perawatan pasien paliatif. (Sugiyanto et al. , 2. menjelaskan beban keluarga pasien paliatif salah satunya muncul karena kurang pengetahuan terkait perawatan paliatif. panti wreda Harapan ibu ngaliyan semarang terletak di daerah semarang barat dengan jumlah lansia sebanyak 43 lansia . Hasil pengkajian didapatkan banyak didapatkan kasus penyakit dgeneratif dan paliatif. Hasil wawancara didapatkan minimnya tingkat pemahaman tentang penyakit paliatif sehingga pengurus mengalami hambatan perawatan lansia. Beberapa lansia mengalami stroke dengan keterbatasan fisik dan hambatan mobilitas dan masalah perawatan diri selain itu juga ditemukan permasalahan mental emosional yang diakibatkan oleh karena proses penyakit Uraian diatas menjelaskan bahwa perlu adanya program untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pengurus panti wreda. PKM ini menawarkan solusi permasalahan klien dengan melakukan kegiatan pelatihan pelayanan kesehatan lansia paliatif. Tahapan pada kegiatan ini dimulai dengan studi pendahuluan, penyusunan proposal, perijinan, persiapan bahan pelatihan, kegiatan pelatihan, evaluasi, penyusunan laporan dan publikasi kegiatan. Tujuan dari kegiatan pelatihan ini adalah meningkatkan kemampuan keluarga dalam penatalaksanaan kegawatan pada pasien paliatif. METODE Metode penulisan dengan menggunakan metode deskriptif menjalaskan tentang prosedur kegiatan dan hasil pelaksanaan kegiatan pelatihan pelayanan kesehatan pasien degenaratif dan paliatif yang dilakukan pada pengurus lansia di panti wreda harapan ibu Ngaliyan Semarang. Kegiatan dilakukan pada 10 petugas panti wreda harapan Ibu Ngaliyan Semarang. Tahapan pada kegiatan ini dimulai dengan studi pendahuluan, penyusunan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group proposal, perijinan, persiapan bahan pelatihan, kegiatan pelatihan, evaluasi, penyusunan laporan dan publikasi kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan dilaksanaka pada 10 pengelola panti wreda harapan ibu ngaliyan semarang, pada tanggal 25 oktober 2022. Hasil kegiatan didapatkan adanya peningkatan kemampuan keluarga dalam melakukan perawatan pasien paliatif dan penilaian screening pasien Gambar 1. Gambar Kegiatan 10 pengelola panti wreda harapan ibu ngaliyan semarang Perawatan paliatif selama ini hanya dikenal untuk penderita kanker, padahal WHO menyebutkan bahwa perawatan paliatif juga diberikan pada pada penyakit kronis dan kerentanan karena usia tua yang tidak dapat diobati. Misalnya, penyakit gagal ginjal, penyakit paru obstrukstif (PPOK) dan demensia. WHO . WHO pada tahun 2015 menyatakan bahwa, secara global, lebih dari 29 juta orang meninggal karena penyakit yang membutuhkan perawatan paliatif dan 69 persen dari mereka adalah individu berusia 60 tahun ke atas. Populasi global menunjukkan penduduk yang berusia 60 tahun atau lebih mencapai 962 juta pada 2017. Jumlah ini diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2050, mencapai hampir 2,1 miliar dan akan terus mengalami kenaikan. WHO juga menjelaskan tentang pelayanan paliatif meliputi kemampuan menilai siapa saja yang berhak mendapatkan pelayanan paliatif. (Sugiyanto, 2. menjelaskan bahwa peningkatan pengetahuan kader dalam pelayanan paliatif dengan cara pemberian pendidikan, pelatihan terdiri dari penjelasan tentang paliatif, deteksi pasien paliatif, dan cara perawatan pasien Care giver atau pengurus panti berperan penting dalam membantu memenuhi kebutuhan harian lansia paliatif seperti kebersihan diri, makan, mandipemenuhan kebutuhan spiritual, dan pemberian obat-obatan pada lansia dalam kondisi paliatif. (Sugiyanto et al. , 2. Ada jenis unit pelayanan paliatif diantanya adalah rumah sakit, hospes, panti dan tempat tinggal rumah, perlu pemahaman, pengetahuan dan ketrampilan khusus perawatan paliatif yang harus dimiliki oleh care giver. (Kemenkes RI, 2. Di Indonesia pelayanan paliatif telah Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Republik Indonesia. No. 812/Menkes/SK/ VII/2007. Saat ini pelaksanaan pelayanan paliatif di Indonesia masih dalam tahap pengembangan awal dan masih terbatas. (Tampubolon et al. , 2. menjelaskan hambatan pelayanan paliatif diantaranya masih terbatas pada unit pelayanan RS tertentu dan belum Kebutuhan pelayanan perawatan lansiatif sangat kompleks, perlu pendekatan yang holistic sehingga tujuan perawatan tercapai. (Clamor, 2. menjelaskan perlunya pendekatan yang holistic dalam perawatan lansia paliatif di panti jompo. Rumah jompo di Indonesia masih belum menawarkan perawatan paliatif di dalam pelayanannya. (Tampubolon et al. , 2. juga menjelaskan beberapa hambatan ditemukan dalam perawatan lansia paliatif diantaranya hambatan yang dirasakan perawat dalam memberikan perawatan paliatif yang baik dan efektif bagi lansia di panti jompo adalah keterbatasan pengetahuan perawat, komunikasi yang tidak efektif dan keterbatasan sumber daya obat dan tenaga dokter. (Ariani, 2. Perawatan paliatif mencakup seluruh Aspek baik Aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, serta kebutuhan spiritual. WHO . pelayanan yang dapat diberikan pada pasien penyakit paliatif dianytaranya adalah kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. (Ikahardika et al. , 2. menjelaskan lebih lanjut pengalaman merawat lansia dipanti hasil penelitianya didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi perawatan lansia dipanti diantaranya adalah . Adanya kerjasama dari instansi terkait terutama instansi kesehatan. Adanya respon positif dari lansia di Panti Jompo. SDM pendamping yang berkualitas. Sedangkan faktor penghambat, dalam melaksanakan kegiatannya antara lain, . Sarana dan prasarana yang kurang memadai. Kurangnya personil pendamping. Kurangnya bantuan dari keluarga lansia dalam pelaksanaan pendampingan. (Sugiyanto & Mulyono, 2. dampak lain dari care gifer dalam merawat lansia antara lain stress karena kebutuhan fungsional dan psikologis serta penyakit kronik yang dialami lansia. (Melastuti & Amal, 2. menjelaskan perlunya peningkatan pengetahuan care giver dalam perawatan pasien paliatif, pengetahuan yang baik dalam perawatan paliatif akan mempengaruhi sikap, peran, kemampuan komunikasi, empati, dan manajemen nyeri perawat menjadi lebih (Peranginangin, 2. Semakin baik tingkat pengetahuan tentang paliatif, maka semakin baik perlayanan yang diberikan kepada pasien paliatif. Agar pelayanan paliatif dapat diimplementasikan secara efektif pada lansia di panti jompo. Dibutuhkan Pendidikan dan pelatihan untuk pengelola panti sangat dibutuhkan. Dengan pendidikan kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pengurus terhadap perawatan kansia paliatif. SIMPULAN Terdapat Peningkatan kemampuan care giver dalam merawat lansia paliatif di panti wreda harapan ibu ngaliyan. Saran pelaksanaan perawatan lansia dipanti bisa dilakukan bersama dengan lansia yang sehat. DAFTAR PUSTAKA