JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 976-986 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah PENGARUH PERILAKU ASERTIF KEPALA SEKOLAH TERHADAP MOTIVASI KERJA GURU DI SMA/SEDERAJAT SE-KECAMATAN GONDANGWETAN Robbiatul Amalia1. Miftakhul Munir2. Siti Halimah3 1,2,3 Universitas PGRI Wiranegara. Indonesia Email: robbiatulamalia2002@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 July 2025 Final Revised: 11 August 2025 Accepted: 16 August 2025 Published: 24 September 2025 Keywords: Assertive Behavior School Principal Teacher Work Motivation ABSTRACT The principal's assertive behavior is an important factor that has the potential to influence teacher work motivation, through the ability to communicate openly, provide constructive appreciation, make decisions wisely, and deal with differences of opinion without conflict. Teacher work motivation is a crucial factor in creating effective and quality learning. However, low teacher motivation is still found in some schools, indicated by a lack of enthusiasm in teaching and participation in professional This study aims to examine the assertive behavior of school principals, the level of teacher work motivation, and the influence of principals' assertive behavior on teacher motivation in high schools or equivalent in Gondangwetan sub-district. This research employs an associative quantitative approach using a survey method, involving 65 teachers selected from 188 teachers across 10 schools through purposive The analysis results show that the assertive behavior of school principals has a positive and significant effect on teacher work motivation . egression coefficient = contribution 69%). These findings emphasize that leadership characterized by open communication and professional appreciation of teachers can significantly enhance teacher work motivation. ABSTRAK Perilaku asertif kepala sekolah menjadi salah satu faktor penting yang berpotensi memengaruhi motivasi kerja guru, melalui kemampuan berkomunikasi secara terbuka, memberikan apresiasi konstruktif, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan menghadapi perbedaan pendapat tanpa konflik. Motivasi kerja guru merupakan faktor penting dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan berkualitas. Namun, rendahnya motivasi kerja masih ditemukan di beberapa sekolah, ditandai dengan kurangnya antusiasme mengajar dan partisipasi dalam kegiatan profesional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku asertif kepala sekolah, tingkat motivasi kerja guru, serta pengaruh perilaku asertif kepala sekolah terhadap motivasi kerja guru di SMA/sederajat se-Kecamatan Gondangwetan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan metode survei, melibatkan 65 guru sebagai sampel dari 188 guru di 10 sekolah melalui purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku asertif kepala sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja guru . oefisien regresi = 0,845. kontribusi 69%). Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang mampu berkomunikasi terbuka dan menghargai guru dapat meningkatkan motivasi kerja guru secara signifikan. Kata kunci: Perilaku Asertif. Kepala Sekolah. Motivasi Kerja Guru. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Perilaku Asertif Kepala Sekolah Terhadap Motivasi Kerja Guru Di Sma/Sederajat Se-Kecamatan Gondangwetan PENDAHULUAN Pendidikan merupakan pilar utama dalam membentuk generasi yang unggul dan berdaya saing. Dalam ekosistem pendidikan, kepala sekolah memiliki peran strategis sebagai pemimpin yang menentukan arah dan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Kepemimpinan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh kecakapan manajerial, tetapi juga oleh keterampilan interpersonal yang mendorong lingkungan kerja yang sehat dan Salah satu aspek penting dari kepemimpinan ini adalah perilaku asertif, yaitu kemampuan menyampaikan pendapat, perasaan, dan keputusan secara tegas tanpa merugikan orang lain. Kepala sekolah yang memiliki perilaku asertif mampu mengomunikasikan harapan dengan jelas, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta menjaga hubungan profesional yang seimbang dengan guru, yang sangat penting dalam mengelola kinerja dan motivasi guru. Faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan motivasi, kualitas, dan profesionalisme guru antara lain kemampuan berkomunikasi yang baik, lingkungan kerja, komitmen dalam menjalankan tugas, dan keahlian dalam menggunakan media pembelajaran (Slamet Riyadi dan Aria Mulyapradana, 2. Pimpinan lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menetapkan arah dan perkembangan sekolah. Seorang kepala sekolah yang efektif tidak hanya mengurus program sekolah, tetapi juga memberi contoh dan motivasi kepada para guru untuk meningkatkan kinerja dan semangat mereka (Firdiansyah Alhabsyi , 2. Dalam menjalankan peran ini, kepala sekolah tidak hanya dituntut memiliki keterampilan manajerial, tetapi juga harus berlandaskan nilai-nilai moral dan spiritual, mampu membangun hubungan harmonis, serta memotivasi guru secara kuat. Perilaku asertif adalah tindakan mengekspresikan minat, kebutuhan, pendapat, pemikiran, dan perasaan dengan bijaksana, adil, dan efektif, sekaligus menjaga penghormatan terhadap kesetaraan dan hak-hak individu lainnya (Tri Widyastuti, 2. Definisi lain menyebut perilaku asertif sebagai keberanian jujur dan terbuka mengungkapkan kebutuhan, perasaan, serta pikiran, mempertahankan hak pribadi, dan menolak permintaan yang tidak sesuai (Rathus dan Nevid dalam Ayu Sulistyowati, 2. Perilaku asertif kepala sekolah menjadi salah satu faktor penting yang berpotensi memengaruhi motivasi kerja guru, melalui kemampuan berkomunikasi secara terbuka, memberikan apresiasi konstruktif, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan menghadapi perbedaan pendapat tanpa konflik. Motivasi kerja guru merupakan dorongan internal dan eksternal yang mendorong guru dalam mencapai tujuan tertentu (Hamzah B. Uno, 2. Dalam konteks sekolah, motivasi mendorong guru melaksanakan tugas dengan antusias, penuh tanggung jawab, dan Tanpa motivasi yang kuat, guru kurang optimal dalam memenuhi tuntutan profesional, seperti merancang pembelajaran menarik dan evaluasi yang efektif. Motivasi kerja juga sangat dipengaruhi oleh rasa pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi guru. Menurut David McClelland dalam Teori Kebutuhan (Need Theor. , motivasi ditentukan oleh kebutuhan akan prestasi, afiliasi, dan kekuasaan (Hasibuan, 2. Kepala sekolah yang asertif cenderung memberikan penghargaan yang adil, memperkuat motivasi kerja guru, dan mendorong inovasi serta kontribusi maksimal dalam pembelajaran. Dalam dunia pendidikan, motivasi kerja guru sangat berperan dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan berkualitas. Namun, rendahnya motivasi guru masih menjadi masalah nyata, tercermin dari kurangnya antusiasme mengajar, keterlambatan administrasi, dan minimnya partisipasi dalam pengembangan profesional. Kondisi ini menuntut peran kepemimpinan kepala sekolah untuk menciptakan lingkungan kerja kondusif dan mendukung motivasi guru. Idealnya, guru menunjukkan kedisiplinan. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Perilaku Asertif Kepala Sekolah Terhadap Motivasi Kerja Guru Di Sma/Sederajat Se-Kecamatan Gondangwetan partisipasi aktif, dan semangat dalam pembelajaran, tetapi kenyataannya masih banyak guru menghadapi penurunan motivasi yang diduga sebagian dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah, khususnya perilaku asertif. Ketika kepala sekolah tidak mampu menyampaikan arahan secara tegas namun tetap menghargai guru, ketegangan dan ketidakjelasan komunikasi dapat muncul, berdampak negatif pada semangat kerja guru. Penelitian terdahulu dan kajian empiris menunjukkan bahwa kepala sekolah yang efektif berperan sebagai motivator, mampu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, menerapkan penghargaan dan sanksi secara adil, serta mendorong pengembangan karier Strategi kepemimpinan yang komunikatif dan suportif terbukti meningkatkan motivasi dan kinerja guru secara signifikan (Marsono dkk, 2. (Febrianti dkk, 2. Dengan demikian, fokus penelitian ini adalah mengkaji perilaku asertif kepala sekolah sebagai gaya kepemimpinan humanis dan komunikatif, serta pengaruhnya terhadap motivasi kerja guru di SMA/sederajat se-Kecamatan Gondangwetan. Temuan diharapkan memberikan kontribusi strategis dalam pengembangan kepemimpinan sekolah yang efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan motivasi guru. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif dan metode survei. Pendekatan kuantitatif asosiatif dipilih karena bertujuan untuk menguji hubungan dan pengaruh antara dua variabel, yaitu perilaku asertif kepala sekolah sebagai variabel bebas (X) dan motivasi kerja guru sebagai variabel terikat (Y) (Sugiyono, 2. Metode survei digunakan untuk mengumpulkan data dari responden menggunakan kuesioner sebagai instrumen utama, memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang terukur dan representatif mengenai pengaruh perilaku asertif terhadap motivasi kerja guru (Masri Singarimbun & Sofian Effendi, 1. Populasi penelitian ini adalah seluruh guru di SMA/sederajat se-Kecamatan Gondangwetan. Kabupaten Pasuruan, yang berjumlah 188 orang dari 10 sekolah. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling jenis purposive sampling, dengan kriteria guru yang memiliki masa kerja minimal tiga tahun. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, sehingga diperoleh 65 Jumlah sampel tersebut didistribusikan secara proporsional di tiap sekolah untuk memastikan keterwakilan yang seimbang (Sugiyono, 2. Instrumen penelitian berupa angket tertutup yang disusun berdasarkan indikator perilaku asertif dan motivasi kerja guru dengan skala Likert lima poin. Validitas instrumen diuji menggunakan teknik korelasi product moment Pearson, sedangkan reliabilitas diuji dengan CronbachAos Alpha untuk memastikan konsistensi dan keandalan data (Kurniawan & Puspitaningtyas, 2. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan uji korelasi untuk mengukur hubungan antarvariabel, uji regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, serta uji t untuk menguji signifikansi pengaruh tersebut. Seluruh proses analisis data menggunakan perangkat lunak SPSS versi 22, yang umum digunakan dalam penelitian kuantitatif bidang Pendidikan (Ahmad Tanzeh, 2. Secara garis besar, prosedur penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Perilaku Asertif Kepala Sekolah Terhadap Motivasi Kerja Guru Di Sma/Sederajat Se-Kecamatan Gondangwetan Gambar 1. Prosedur Penelitian Dengan metodologi ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran empiris yang valid dan reliabel mengenai hubungan kedua variabel, serta mendukung pengambilan keputusan berdasarkan data yang akurat dan ilmiah. ASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pada Penelitian ini menggunakan analisis statistik dengan bantuan program SPSS versi 22 yang meliputi uji korelasi, regresi linear sederhana, dan uji t untuk menguji pengaruh perilaku asertif kepala sekolah terhadap motivasi kerja guru. Analisis Korelasi Tabel 1. Korelasi Nilai koefisien korelasi antara variabel perilaku asertif kepala sekolah (X) dengan motivasi kerja guru (Y) adalah sebesar 0,831, yang menunjukkan adanya korelasi positif yang sangat kuat antara kedua variabel tersebut. Hipotesis nol (H. menyatakan bahwa tidak terdapat korelasi antara perilaku asertif kepala sekolah dan motivasi kerja guru, sedangkan hipotesis alternatif (H. menyatakan terdapat korelasi positif. Karena nilai signifikansi . Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Perilaku Asertif Kepala Sekolah Terhadap Motivasi Kerja Guru Di Sma/Sederajat Se-Kecamatan Gondangwetan sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara perilaku asertif kepala sekolah dan motivasi kerja guru. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana Tabel 2. Coefficients Berdasarkan hasil uji signifikansi, koefisien konstanta . memiliki nilai sig. 0,056 yang berarti tidak signifikan pada alpha 0,05, sedangkan koefisien variabel X . erilaku asertif kepala sekola. memiliki nilai sig. 0,000, yang menunjukkan pengaruh signifikan terhadap motivasi kerja guru pada tingkat signifikansi 5%. Hal ini menegaskan bahwa perilaku asertif kepala sekolah memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap motivasi kerja guru. Tabel 3. Model Summary Hasil Analisis Regresi Linear sederhana Untuk menganalisis pengaruh perilaku asertif kepala skeolah terhadap motivasi kerja Guru di SMA/Sederajat se-kecamatan Penulis mengujinya dengan persamaan regresi linier sederahana: Y = a bX Y = 0. Nilai koefisien determinasi R2R2 sebesar 0,690 menandakan bahwa 69% variasi motivasi kerja guru dapat dijelaskan oleh variabel perilaku asertif kepala sekolah, sementara 31% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model penelitian ini. Uji t Tabel 4. Cofficients Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Perilaku Asertif Kepala Sekolah Terhadap Motivasi Kerja Guru Di Sma/Sederajat Se-Kecamatan Gondangwetan Uji statistik t dilakukan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Dengan taraf signifikansi 5%, nilai t tabel adalah 1,67. Berdasarkan output SPSS, nilai t hitung untuk variabel perilaku asertif kepala sekolah adalah 11,842, yang jauh lebih besar dari t tabel. Dengan demikian, hipotesis nol (H. yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh signifikan perilaku asertif kepala sekolah terhadap motivasi kerja guru ditolak, dan hipotesis alternatif (H. Ini berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara perilaku asertif kepala sekolah dengan motivasi kerja guru. Pembahasan Penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku asertif kepala sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja guru di SMA/sederajat Kecamatan Gondangwetan. Berdasarkan hasil analisis regresi, diperoleh koefisien sebesar 0,845, yang berarti semakin tinggi perilaku asertif kepala sekolahAimeliputi kemampuan menyampaikan permintaan secara jelas, memberikan pujian tepat, mengekspresikan diri secara terbuka, dan mengutarakan penolakan secara sehatAisemakin tinggi pula motivasi kerja guru dalam menjalankan tugas secara optimal. Data indikator perilaku asertif mendukung temuan ini. Indikator penyampaian permintaan memperoleh skor rata-rata 4,37, menunjukkan kepala sekolah mampu menyampaikan permintaan dengan jelas tanpa tekanan. Hal ini selaras dengan penelitian Dwiyanti . yang menyatakan bahwa komunikasi sopan dan jelas membuat guru merasa Indikator penolakan mendapat skor 4,22, menandakan kemampuan mengatakan AutidakAy dengan sehat sambil menjaga hubungan interpersonal, sesuai konsep ketegasan oleh Anghel dan Jitaru . Indikator pemberian pujian memperoleh skor 4,41, sejalan dengan temuan Siti Fatimatuz Zuhroh dan Ida Rindaningsih . bahwa apresiasi verbal konsisten meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi guru. Indikator ekspresi diri yang memungkinkan kepala sekolah menyampaikan pendapat terbuka tanpa merendahkan memperoleh skor 4,37. Komunikasi interpersonal efektif seperti penelitian Chandri et al. dapat menciptakan iklim kerja suportif sehingga guru terdorong berkontribusi optimal. Indikator partisipasi dalam pembicaraan juga bernilai 4,37, mendukung pandangan Mohzana et al. bahwa keterlibatan aktif guru dalam dialog meningkatkan motivasi dan loyalitas. Koefisien korelasi signifikan juga ditemukan pada dimensi kepala sekolah yang mengakui keberhasilan sebagai hasil kerja sama warga sekolah, menyampaikan pendapat bijak, menerima pujian rendah hati, serta memberikan masukan jujur tanpa menyinggung Sikap inklusif dan kolaboratif ini mendorong guru merasa dihargai dan memiliki rasa memiliki institusi, meningkatkan motivasi mereka. Menurut Palmer dan Frohner . , individu asertif mampu menyampaikan pikiran dan perasaan jujur dan tegas tanpa merugikan orang lain, menciptakan iklim kerja positif yang mendukung kinerja. Selaras dengan itu, teori McClelland . menyatakan bahwa kebutuhan prestasi, kekuasaan, dan afiliasi merupakan pendorong utama motivasi kerja. Perilaku asertif kepala sekolah memenuhi ketiga kebutuhan ini melalui komunikasi jelas, pemberian ruang pengaruh guru, serta iklim sosial harmonis dan suportif. Temuan pengaruh signifikan perilaku asertif kepala sekolah terhadap motivasi guru sejalan dengan penelitian Kasio . dan Dwiyanti . , serta didukung oleh Sadiman et . Nurhayati . , dan Sarinah et al. yang menunjukkan gaya kepemimpinan transformasional berkarakter asertif berdampak positif pada motivasi dan kinerja guru. Penelitian Suprayogi et al. dan Zahrah . juga menegaskan pentingnya Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Perilaku Asertif Kepala Sekolah Terhadap Motivasi Kerja Guru Di Sma/Sederajat Se-Kecamatan Gondangwetan komunikasi interpersonal efektif dan manajemen konflik. Dengan demikian, perilaku asertif tidak hanya meningkatkan motivasi secara langsung, tetapi juga menciptakan iklim kerja kondusif yang memperkuat hubungan kerja sehat dan produktif. Hasil ini memberikan bukti empiris bahwa pengembangan kapasitas komunikasi asertif kepala sekolah merupakan strategi efektif untuk mendorong semangat kerja guru di pendidikan menengah. Sebagai rekomendasi praktis, pelatihan komunikasi asertif bagi kepala sekolah sangat diperlukan agar mereka mampu menyampaikan pendapat tegas namun santun, memberikan umpan balik konstruktif, dan memfasilitasi partisipasi guru dalam pengambilan keputusan. Hal ini akan memperkuat motivasi guru, meningkatkan kinerja, dan berdampak positif pada mutu pendidikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif kepala sekolah memiliki pengaruh yang kuat dan signifikan terhadap motivasi kerja guru di SMA/sederajat se-Kecamatan Gondangwetan. Kepala sekolah yang menunjukkan perilaku asertifAidengan ciri komunikasi terbuka, penghargaan terhadap perbedaan, serta kemampuan memberikan arahan dan apresiasi secara bijaksanaAiterbukti mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih memotivasi. Hasil analisis regresi menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,845 dengan kontribusi sebesar 69%, yang menandakan bahwa perilaku asertif merupakan faktor dominan dalam memengaruhi motivasi kerja guru. Penelitian ini tidak hanya menegaskan pentingnya asertivitas dalam kepemimpinan pendidikan, tetapi juga memberikan bukti empiris dalam konteks pendidikan menengah di Indonesia. Temuan ini menegaskan perlunya integrasi pelatihan komunikasi asertif dalam program pengembangan kepemimpinan kepala sekolah, sekaligus menunjukkan kontribusi penelitian ini dalam memperkaya khazanah psikologi pendidikan melalui pemahaman tentang peran dinamika interpersonal dan perilaku kepemimpinan dalam membentuk motivasi dan kinerja profesional guru. REFERENSI