Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Peningkatan Kesehatan melalui Edukasi Sanitasi dan Hygiene serta Deteksi Dini Penyakit melalui Skrining dan Workshop Herbal di Desa Banjarsari. Kabupaten Bogor. Jawa Barat Kanita Putri Dwi Maylinka*1. Rio Rafindra Haryanto2. Bruno Kiik3. Maulidya Ferliyani4. Stephany Margaretta5. Dede Komarudin6 1,2,3,4,5,6Program Studi Farmasi. Fakultas Sains dan Teknologi. Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal Jakarta. Indonesia *e-mail: kanitaputridwimaylinka@gmail. Riorafindraharyanto@gmail. brunokiik59@gmail. Maulidyaferliani799@gmail. com4, stepany. ms@gmail. komarudin44@gmail. Artikel dikirim: 26 Mei 2025. Revisi-1: 07 Juni 2025. Revisi-2: 13 Juni 2025. Diterima: 16 Juni 2025. Dipublikasikan : 27 Juni 2025 Abstrak Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan di Desa Banjarsari. Ciawi-Bogor, merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif di bidang Program ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama anak-anak sekolah dasar, terhadap pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Edukasi sanitasi dan hygiene dilakukan melalui penyuluhan interaktif kepada siswa SDN Banjarsari 01 yang dilengkapi dengan evaluasi Pretest dan Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa, dengan rata-rata nilai postest mencapai 98,7 dari sebelumnya 69,7. Selain itu, kegiatan skrining kesehatan dilakukan kepada masyarakat umum untuk mendeteksi dini penyakit melalui pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Hasilnya menunjukkan sebagian masyarakat memiliki kadar kolesterol dan gula darah di atas Sebagai pelengkap, dilakukan workshop pembuatan jus herbal dari bawang putih tunggal dan bahan alami lainnya yang dikenal memiliki manfaat kesehatan. Workshop ini bertujuan memberdayakan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman tradisional sebagai upaya pencegahan penyakit secara alami. Kegiatan KKN ini berhasil meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta membangun hubungan yang harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan guna mendukung program kesehatan berbasis masyarakat. Kata Kunci: Herbal. Hygiene. Masyarakat. Penyuluhan Kesehatan. Sanitasi. Skrining Kesehatan Abstract The Community Service Program (KKN) conducted in Banjarsari Village. Ciawi-Bogor, is a form of student dedication to the community through promotive and preventive health approaches. The program aimed to raise awareness among the community, particularly elementary school students, about the importance of Clean and Healthy Living Behavior (PHBS). Sanitation and hygiene education was delivered through interactive counseling at SDN Banjarsari 01, evaluated using Pretest and Post-test assessments. The results showed a significant improvement in student understanding, with average Post-test scores increasing 7 to 98. Additionally, health screenings were conducted for the general public to enable early detection of diseases through blood sugar, cholesterol, and uric acid tests. The findings indicated that some residents had elevated levels of cholesterol and blood sugar. To complement the program, a workshop on making herbal juice using single-clove garlic and other natural ingredients was held, aiming to empower the community to utilize traditional plants for natural disease prevention. This KKN activity successfully enhanced knowledge, practical skills, and fostered harmonious relations between students and the community. It is expected that similar programs will continue to develop to support community-based health initiatives. Keywords: Herbal. Health Screening. Health Education. Hygiene. Public. Sanitation PENDAHULUAN Sanitasi dan hygiene merupakan dua komponen penting dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Keduanya saling berkaitan erat dan menjadi indikator utama dalam P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. penilaian lingkungan sehat, khususnya dalam pencegahan penyakit menular. Sanitasi mengacu pada serangkaian usaha untuk menciptakan dan memelihara kondisi lingkungan yang bersih dan sehat, termasuk pengelolaan air bersih, limbah, dan sampah (Hidayati, 2. Sementara itu, hygiene merujuk pada kebersihan individu yang meliputi praktik sehari-hari seperti mencuci tangan, mandi, menggosok gigi, dan menjaga kebersihan pakaian maupun alat makan (Ketut et al. Menurut World Health Organization (WHO). Praktik sanitasi dan hygiene yang baik akan menurunkan risiko penyebaran penyakit seperti diare, kolera, tifus, dan infeksi saluran pernapasan, yang menyumbang lebih dari 800. 000 kematian setiap tahunnya secara global (WHO. Di Indonesia, masalah sanitasi masih menjadi tantangan, terutama di wilayah pedesaan, di mana kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) belum merata (Kemenkes RI, 2. Minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), keterbatasan sarana dan prasarana kesehatan, serta kurangnya edukasi menjadi penyebab utama rendahnya kualitas sanitasi dan hygiene masyarakat. Selain itu, kebersihan lingkungan yang buruk juga dapat berdampak terhadap kualitas air bersih dan berkontribusi pada penyebaran penyakit akibat makanan, terutama melalui kontaminasi bakteri seperti Escherichia coli (Hidayati, 2. Anak-anak usia 6Ae12 tahun merupakan kelompok yang masih dalam proses pembentukan kebiasaan hidup. Memberikan edukasi tentang pentingnya mencuci tangan, menggunakan toilet dengan benar, serta menjaga kebersihan makanan dan lingkungan dapat membentuk pola pikir sehat sejak dini. Dengan pemahaman yang baik, siswa dapat menjadi agen perubahan di lingkungan rumah maupun sekolah. Edukasi sedini mungkin menjadi salah satu cara untuk membentuk perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini (Arini et al. , 2. Desa Banjarsari yang terletak di Kecamatan Ciawi. Kabupaten Bogor, merupakan salah satu wilayah dengan karakteristik masyarakat semi-perkotaan yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai buruh, petani, dan pekerja informal. Berdasarkan observasi awal, masih ditemukan praktik kebersihan yang kurang memadai, baik di lingkungan rumah tangga maupun Anak-anak usia sekolah dasar, yang seharusnya menjadi agen perubahan perilaku hidup bersih, seringkali belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai pentingnya mencuci tangan, menutup mulut saat batuk atau bersin, serta menjaga kebersihan pribadi secara umum (Sukesi et , 2. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah kesehatan di masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana penerapan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga menjadi wujud nyata pengabdian kepada masyarakat (Syardiansah, 2. Oleh karena itu, dalam KKN yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Farmasi Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal, kegiatan edukasi sanitasi dan hygiene dijadikan sebagai fokus utama, dengan sasaran utama siswa SDN Banjarsari 01 dan masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam pembangunan berkelanjutan melalui pengabdian langsung (Kemendikbud RI, 2. Skrining kesehatan menjadi bagian penting dari upaya preventif yang dapat mendeteksi masalah kesehatan secara dini terhadap penyakit tidak menular yang umum terjadi di masyarakat, seperti kolsterol, asam urat dan gula darah. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan gambaran awal mengenai status kesehatan masyarakat dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pemantauan rutin terhadap kondisi tubuh (Ismawatie et al. , 2. Selain edukasi dan skrining, program ini juga memfasilitasi workshop pembuatan jus herbal dari bawang putih tunggal sebagai edukasi kesehatan melalui pengobatan herbal. Pemanfaatan bahan alami dalam menjaga kesehatan. Bawang putih telah dikenal memiliki pencegah kolesterol, diabetes, asam urat dan hipertensi yang terbukti secara ilmiah (Amalia et al. Workshop pembuatan jus dari bahan alami juga menjadi bagian dari strategi promosi kesehatan berbasis kearifan lokal, yang dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dan mendorong mereka lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya (Syafruddin & Maulidya, 2. P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Pada workshop ini juga memiliki keuntungan dari segi ekonomi karena bahan bakunya mudah diperoleh dan dapat diolah secara mandiri oleh masyarakat. Pendekatan ini sangat sesuai diterapkan di desa, di mana akses terhadap fasilitas kesehatan modern dan obat-obatan farmasi sering kali terbatas. Dengan pelatihan yang tepat, masyarakat dapat memproduksi dan mengonsumsi jus herbal sebagai suplemen alami untuk menjaga kesehatan mereka. Secara keseluruhan, program KKN di Desa Banjarsari yang mengintegrasikan penyuluhan sanitasi dan hygiene, skrining kesehatan, serta pelatihan pembuatan minuman herbal telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan diri dan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis komunitas yang dilakukan secara partisipatif dan edukatif dapat menjadi strategi efektif dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat di wilayah pedesaan. Dengan meningkatnya kesadaran sanitasi dan hygiene melalui penyuluhan dan deteksi dini kondisi kesehatan, diharapkan masyarakat mampu mengadopsi perilaku hidup sehat secara Melalui penguatan pendidikan kesehatan, pelibatan anak-anak sebagai agen perubahan, dan pemanfaatan bahan alam lokal, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam menurunkan beban penyakit dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Desa Banjarsari. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode partisipatif-edukatif yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pengabdian masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) oleh mahasiswa Program Studi Farmasi Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal. Pendekatan ini dipilih untuk menggambarkan secara mendalam proses pelaksanaan edukasi sanitasi dan hygiene, skrining kesehatan, serta pelatihan pembuatan jus herbal kepada masyarakat Desa Banjarsari. Kecamatan Ciawi. Kabupaten Bogor. Gambar 1. Peta Lokasi Wilayah Ciawi-Bogor Kegiatan dilaksanakan di Desa Banjarsari. Kecamatan Ciawi. Kabupaten Bogor. Desa ini dipilih berdasarkan hasil survei awal yang menunjukkan rendahnya pemahaman masyarakat tentang sanitasi dan hygiene, serta minimnya akses terhadap fasilitas kesehatan preventif. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 12 hingga 14 Desember Lokasi kegiatan terbagi di dua tempat utama, yaitu SDN Banjarsari 01 untuk kegiatan edukasi sanitasi dan hygiene kepada siswa, serta PAUD Al-Jihad sebagai tempat pelaksanaan skrining kesehatan dan workshop pembuatan jus herbal. Sasaran Kegiatan Pada kegiatan ini terbagi menjadi dua kelompok sasaran utama. Pertama adalah siswasiswi kelas 6 SDN Banjarsari 01 yang berjumlah 33 orang dan berusia antara 11 hingga 12 tahun. Pemilihan kelas 6 dilakukan karena siswa pada jenjang ini dianggap lebih mampu menerima informasi dengan pendekatan edukatif aktif. Kelompok kedua adalah warga masyarakat umum. P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. khususnya orang dewasa dan lansia, yang berjumlah 21 orang. Mereka dipilih secara purposive sampling, yakni warga yang hadir secara sukarela dan memenuhi kriteria memiliki usia di atas 30 tahun, bersedia mengikuti pemeriksaan kesehatan dan pelatihan pembuatan jus herbal. Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan ini diawali dengan pemberian arahan dari Dosen Pembimbing KKN kepada mahasiswa peserta KKN tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk kegiatan penyuluhan, skrining kesehatan dan workshop herbal. Penyuluhan Sanitasi dan Hygiene Penyuluhan dilakukan kepada siswa SDN Banjarsari 01 menggunakan metode ceramah interaktif, demonstrasi, dan diskusi kelompok kecil. Materi yang disampaikan meliputi: pengertian sanitasi dan hygiene, ruang lingkup hygiene personal, bahaya sanitasi dan hygiene buruk, serta cara mencuci tangan yang benar. Setelah itu dilakukan evaluasi pengetahuan melalui soal Pretest . ebelum penyuluha. dan postest . etelah penyuluha. Penyuluhan diakhiri dengan demonstrasi cuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang dipandu oleh mahasiswa. Skrining Kesehatan Kegiatan skrining dilakukan di PAUD Al-Jihad dengan sasaran masyarakat umum. Skrining meliputi pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, kolesterol total, dan asam urat menggunakan alat digital strip test. Sebelum pemeriksaan, warga diminta mengisi formulir skrining dan menjawab pertanyaan tentang kebiasaan merokok, konsumsi buah dan sayur, aktivitas fisik, dan riwayat penyakit. Data hasil skrining dicatat untuk analisis kondisi kesehatan awal masyarakat. Workshop Pembuatan Jus Herbal Bawang Putih Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan cara membuat minuman herbal dari bawang putih tunggal sebagai upaya preventif alami. Workshop melibatkan masyarakat setempat yang diberi pelatihan langsung dalam proses pembuatan jus herbal dengan kombinasi bahan alami, seperti bawang putih, jahe merah, lemon, cuka apel, dan madu (Ulaen et al. , 2. Proses pembuatan dilengkapi dengan penjelasan manfaat masing-masing bahan berdasarkan literatur ilmiah. Produk akhir disimpan dalam botol kaca dan diberikan kepada warga sebagai sampel konsumsi. Dengan pendekatan metode ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai dampak kegiatan edukasi sanitasi dan hygiene serta pemanfaatan herbal terhadap perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat di wilayah pedesaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Farmasi Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal di Desa Banjarsari. Ciawi-Bogor, merupakan bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus sebagai sarana penerapan Melalui pendekatan edukatif, program ini berupaya menanamkan pemahaman kepada generasi muda dan masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan, deteksi dini penyakit tidak menular serta pemanfaatan bahan herbal sebagai alternatif pengobatan. P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Gambar 2. Kegiatan Penyuluhan Sanitasi dan Hygiene di SD Banjarsari 01 . Gambar 3. Skrining Kesehatan . Workshop Pembuatan Jus Herbal Bawang Putih . pembagian Jus Herbal . Pada Gambar 1 kegiatan penyuluhan pada tanggal 13 Desember 2024, oleh mahasiswa KKN mengenai sanitasi dan hygiene dilaksanakan di SDN Banjarsari 01 dengan peserta sebanyak 33 siswa kelas 6. Penyuluhan difokuskan pada definisi sanitasi dan hygiene, pentingnya mencuci tangan, cara menjaga kebersihan lingkungan sekolah, serta simulasi langsung mencuci tangan dengan sabun. Penggunaan alat bantu visual dan praktik langsung memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman siswa. Untuk mengukur efektivitas penyuluhan, dilakukan Pretest sebelum kegiatan dan postest setelah penyampaian materi. Hasil dari Pretest dan postest menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa. Tabel 1. Hasil Penyuluhan Sains dan Hygiene Jenis Tes Pretest Postest Rata-rata Nilai 69,7% 98,7% Keterangan Sebelum penyuluhan Setelah penyuluhan Hasil Pretest dan postest disajikan pada Tabel 1 menunjukkan bahwa siswa mampu menyerap materi yang diberikan dengan baik. Hal ini juga mengindikasikan bahwa metode penyuluhan interaktif yang digunakan efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Menurut penelitian (Ramadhani & Cahyani, 2. , intervensi PHBS yang dilakukan pada siswa sekolah dasar berdampak positif terhadap penurunan perilaku berisiko, seperti jarang mencuci tangan dan jajan sembarangan. Setelah penyuluhan, siswa tidak hanya menunjukkan peningkatan dalam skor postest, tetapi juga perubahan dalam perilaku. Beberapa guru SDN Banjarsari 01 menyatakan bahwa siswa mulai lebih disiplin mencuci tangan sebelum makan dan membuang sampah dengan benar. Ini menunjukkan bahwa penyuluhan berhasil mendorong perubahan perilaku yang nyata. Menurut (Febrianti & N, 2. , perubahan perilaku memerlukan proses pendidikan berulang dan didukung oleh lingkungan sosial seperti guru dan keluarga. Selain itu pada Gambar 2. menujukkan kegiatan pada tanggal 12 Desember 2024 berupa pemeriksaan skrining kesehatan terhadap 21 warga Desa Banjarsari yang datang secara sukarela untuk diperiksa di PAUD Al-Jihad. Pemeriksaan meliputi kadar gula darah sewaktu (GDS), kolesterol total, dan asam urat. Tabel 2. Hasil Skrining Kesehtan Masyrakat Banjarsari Ciawi Bogor Jenis Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu Kolesterol Total Asam Urat Jumlah Diperiksa Jumlah Abnormal Hasil skrining kesehatan masyarakan Desa Banjarsari Ciawi- Bogor yang di sajikan pada Table 2 menunjukkan bahwa sebagian warga mengalami kadar kolesterol dan asam urat di atas batas normal. Dari 21 warga yang diperiksa, hanya satu orang yang memiliki kadar gula darah P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. sewaktu di atas 200 mg/dL. Namun, hasil pemeriksaan kadar kolesterol menunjukkan bahwa 9 dari 15 orang memiliki kadar di atas ambang batas normal (>200 mg/dL), dan 6 orang memiliki kadar asam urat melebihi batas normal (>7 mg/dL untuk laki-laki dan >6 mg/dL untuk perempua. (S. M & Ratnaningsih, 2. Pada hasil ini mengindikasikan adanya risiko penyakit degeneratif seperti hiperkolesterolemia dan gout yang perlu ditindaklanjuti melalui edukasi gaya hidup sehat. Kegiatan skrining ini memberikan manfaat besar dalam promosi kesehatan. Selain mendeteksi risiko penyakit, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga pola makan, olahraga, dan pemeriksaan berkala. Selama kegiatan, beberapa warga menyatakan keinginan untuk melakukan pemeriksaan ulang secara mandiri di fasilitas kesehatan terdekat. Ini menandakan adanya kesadaran baru yang tumbuh setelah mereka mengikuti program skrining KKN. Untuk mendukung edukasi kesehatan secara menyeluruh, pada Gambar 2. menujukkan kegiatan workshop pembuatan jus herbal berbahan dasar bawang putih tunggal. Workshop ini tidak hanya bertujuan sebagai edukasi, tetapi juga sebagai upaya pemberdayaan masyarakat untuk mengenal dan memanfaatkan bahan alami di sekitar mereka sebagai alternatif pencegahan penyakit. Bawang putih dikenal memiliki kandungan allicin yang mampu menurunkan kolesterol dan tekanan darah serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dengan kombinasi bahan-bahan alami lainnya seperti lemon yang mengandung vitamin C dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan dan peluruh kolesterol (Handayani et al. , 2. Madu dan cuka apel bermanfaat untuk meningkatkan metabolisme tubuh, dan jahe merah yang berperan sebagai antiinflamasi dan penurun trigliserida (Ningsih & Yuliani, 2. Kombinasi bahan-bahan ini memberikan manfaat sinergis bagi sistem kesehatan tubuh. Kegiatan pembuatan jus herbal ini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari warga. Mereka tidak hanya aktif dalam proses pembuatannya, tetapi juga menunjukkan ketertarikan terhadap manfaat kesehatan dari bahan-bahan alami yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat terbuka terhadap edukasi berbasis kearifan lokal yang aplikatif dan tidak bergantung sepenuhnya pada pengobatan kimiawi. Inisiatif seperti ini memperkuat gagasan bahwa peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dengan pelatihan semacam ini, masyarakat dapat lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya. Secara keseluruhan, kegiatan KKN menunjukkan dampak positif dalam peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat, baik melalui edukasi langsung kepada siswa maupun skrining kesehatan terhadap warga. Peningkatan skor postest membuktikan bahwa siswa memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah dan lingkungan sekolah. Sementara itu, hasil skrining menunjukkan bahwa sebagian warga memiliki risiko terhadap penyakit tidak menular, yang kemungkinan besar disebabkan oleh pola makan, kurang olahraga, dan minimnya pemeriksaan kesehatan rutin. Kegiatan ini menunjukkan pentingnya deteksi dini sebagai upaya preventif yang dapat mencegah kondisi yang lebih serius. Edukasi herbal juga menjadi nilai tambah karena mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya lokal dalam menjaga kesehatannya. Dengan demikian, kegiatan KKN yang dilakukan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi aktif masyarakat terhadap pentingnya sanitasi, hygiene, dan kesehatan secara menyeluruh. Menurut studi (Rahmawati & Susanti, 2. ,yang menyatakan bahwa program pengabdian yang menggabungkan aspek edukasi dan praktik memiliki dampak lebih besar dibanding pendekatan edukasi satu arah saja. Masyarakat lebih mudah mengingat dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari ketika mereka ikut terlibat secara langsung. KESIMPULAN Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan di Desa Banjarsari. CiawiAeBogor, terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, khususnya siswa P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. sekolah dasar, mengenai pentingnya sanitasi dan hygiene. Hasil Pretest dan postest menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman siswa setelah diberikan penyuluhan. Selain itu, skrining kesehatan berhasil mengidentifikasi kondisi kesehatan masyarakat, seperti kadar kolesterol, gula darah, dan asam urat yang tinggi, yang sebelumnya tidak disadari. Workshop pembuatan jus herbal dari bahan alami seperti bawang putih dan jahe mendapatkan respons positif dan menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan. Secara keseluruhan, program ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif, preventif, dan partisipatif mampu menciptakan dampak nyata dalam upaya promosi kesehatan masyarakat. Diharapkan kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan dukungan pemerintah desa, puskesmas, dan institusi pendidikan guna mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan mandiri. UCAPAN TERIMA KASIH (Bila Perl. Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh mahasiswa, dosen, aparatur desa Banjarsari Ciawi Bogor yang telah berkontribusi dengan waktu dan tenaga dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini. DAFTAR PUSTAKA