Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 Prodi Pendidikan Sosiologi Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Resiliensi Keluarga Perantau dalam Mewujudkan Ketahanan Keluarga di Desa Mario Kabupaten Bone Jusnawati1. Bahrul Amsal2. Abidah R Delu3 Sosiologi. Universitas Negeri Makassar Email: Jusnawati@unm. Sosiologi. Universitas Negeri Makassar Email: bahrul. amsal@unm. Ilmu Kesejahteraan Sosial. Universitas Teknologi Sulawesi Email: abidahrdelu@utsmakassar. Abstract. The decision to go abroad is of course based on careful consideration for a family because it has the potential to cause problems within the family. Family resilience is very important in facing these problems. This research aims to provide an overview of the problems faced by migrant families and the factors that influence the resilience of migrant families. The research method used is a qualitative method with data collection techniques through direct observation, interviews and documentation. Research data was analyzed through stages: . data reduction, . data presentation and . drawing conclusions. The research results show that several problems experienced by migrant families are economic problems, double burdens, children's educational needs, and problems with third parties or infidelity. The factors driving the resilience of migrant families are, firstly, the belief that family members have and have been instilled in the family from an early age, secondly, the organizational pattern in the family includes the pattern of managing problems by holding deliberations and brainstorming to find the right solution, the connection between family members and the social, as well as managing the family economy by prioritizing the family's basic needs, as well as investing in the future through gold savings and livestock. The third pattern of family communication includes clarity of information and truth, an open or honest attitude, and the third is collaborative problem solving where each family member has a shared responsibility in helping find solutions and implementing agreed Keywords : Resilience. Migrant Families Abstrak. Keputusan untuk pergi merantau tentu didasari oleh pertimbangan yang matang bagi sebuah keluarga karena berpotensi melahirkan persoalan dalam keluarga. Resiliensi keluarga sangat penting dalam menghadapi persoalan tersebut. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran persoalan yang dihadapi keluarga perantau dan faktor-faktor yang memengaruhi resiliensi keluarga perantau. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Data penelitian dianalisis dengan melalui tahap: . reduksi data, . sajian data dan . penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian menunjukkan beberapa persoalan yang dialami keluarga perantau adalah persoalan ekonomi, beban ganda, kebutuhan pendidikan anak, dan isu orang ketiga atau perselingkuhan. Adapun faktor-faktor pendorong resiliensi keluarga perantau, pertama keyakinan yang dimiliki anggota keluarga dan telah ditanamkan sejak dini dalam keluarga, kedua pola organisasi dalam keluarga meliputi pola pengelolaan masalah dengan melakukan musyawarah dan curah pendapat untuk menemukan solusi yang tepat, keterhubungan antar anggota keluarga dan lingkungan sosial, serta pengelolaan ekonomi keluarga dengan memprioritaskan kebutuhan pokok keluarga, serta investasi masa depan melalui tabungan emas dan peliharaan hewan ternak. Ketiga pola komunikasi keluarga yang mencakup kejelasan informasi dan kebenaran, sikap terbuka atau jujur, dan ketiga penyelesaian masalah secara kolaboratif di mana setiap anggota keluarga memiliki tanggungjawab bersama dalam membantu menemukan solusi dan menjalankan solusi yang telah disepakati. Keyword : Resiliensi. Keluarga Perantau Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 PENDAHULUAN Desa Mario adalah salah satu desa yang terdapat di kecamatan Libureng kabupaten Bone. Desa yang asri dengan mata pencarian penduduknya adalah pertanian, peternakan, pedagang, dan pegawai negeri sipil. Namun. Sebagian besar penduduk desa Mario bekerja sebagai petani dan beternak sapi. Hal ini dilatar belakangi oleh sumber daya alam yang tersedia dan letak geografis yang pada umumnya adalah wilayah pertanian dan pelosok. Para petani yang memiliki kebun maupun sawah yang mendapatkan pengairan air dari bendungan, bisa tetap bertani tanpa harus mengandalkan curah hujan. Tetapi tidak bagi sebagian petani yang sawah dan kebunnya tak mendapatkan jalur pengairan air bendungan, sehingga lahan petani terpaksa ditelantarkan jika musim kemarau berkepanjangan. Pada situasi demikian. Petani yang memiliki hewan ternak dapat beternak dan menjadikan salah satu alternatif pekerjaan untuk menopang perekonomian keluarga. Sedangkan petani yang tidak memiliki ternak memilih untuk merantau, mengadu nasib ke luar daerah bahkan hingga ke luar Merantau bagi suku Bugis bukanlah hal yang asing. Masyarakat suku Bugis telah lama dikenal sebagai salah satu suku yang memiliki jiwa perantau yang kuat. Hal ini dikemukakan oleh Omar bahwa orang Bugis sejak berabad-abad terkenal mempunyai jiwa perantau. Sifat seperti ini tergambar dalam karya agung sastra Bugis yaitu rangkaian cerita yang dikenal dengan nama La Galigo yang menggambarkan pengembaraan tokoh mitos Bugis. Sawerigading, yang mengelilingi lautan dengan perahunya yang luar biasa Wakka tana WalinonoE. Merantau bagi masyarakat Bugis dikenal dengan istilah maAosompeAo yang berarti AuberlayarAy(Omar et al. , 2. Bagi keluarga perantau Bugis desa Mario, penyebab mereka pergi merantau tak hanya karena desakan ekonomi dan tidak adanya pekerjaan alternatif yang dapat dilakukan, ketika lahan atau sawah terpaksa berhenti digarap akibat kemarau panjang. Tetapi juga didasarkan pada keinginan untuk meraih kesuksesan atau meningkatkan perekonomian keluarga daripada yang dimiliki saat ini. Meskipun jika dilihat apa yang dimiliki sebelum melakukan perantauan sudah terbilang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal tersebut dimotivasi melalui pengalaman tetangga maupun keluarga lainnya yang pulang dari merantau, dan membawa kesuksesan atau peningkatan kesejahteraan hidup. Faktor pendorong lainnya adalah harga diri atau siriAo dan keinginan untuk mencari pengalaman Bagi keluarga perantau Bugis, mereka lebih baik meninggalkan kampung halaman daripada menetap di kampung tanpa pekerjaan. Selain faktor pendorong, hadir juga faktor daya tarik daerah Salah satu daya tarik yang banyak dikemukakan keluarga perantau adalah terkait kemudahan mencari nafkah di daerah rantau dibandingkan di daerah asal. Kemudahan tersebut seperti. kemudahan yang didapatkan dalam bertani di daerah rantau, struktur tanah yang lapang dan subur, proses transaksi atau jual beli hasil tani yang mudah, dan harga pasar hasil pertanian yang tinggi. balik kenyamanan tersebut tentu keputusan untuk pergi merantau tidaklah mudah. Hal ini disebabkan menyangkut optimalisasi fungsi keluarga. Pelaksanaan fungsi keluarga mengalami perubahan karena ketidakhadiran salah satu anggota keluarga dan berada jauh dari keluarga inti dalam kurun waktu yang cukup lama. Situasi tersebut menjadi problem dilematis bagi keluarga perantau. Dimana fungsi-fungsi keluarga hendaknya dijalankan secara langsung oleh masing-masing anggota keluarga. Tujuannya agar harmonisasi dan keutuhan dalam keluarga dapat tercapai. Sunarti mengemukakan Ketahanan dan kesejahteraan keluarga dapat terwujud apabila keluarga dapat mengoptimalkan pelaksanaan fungsi keluarga. Pelaksanaan dan Pemenuhan fungsi keluarga yang optimal sangat penting bagi setiap keluarga (Herawati et al. , 2. Fungsi keluarga terdiri atas fungsi ekonomis, fungsi sosial, fungsi edukatif, fungsi proyektif, fungsi religius, fungsi rekreatif, dan fungsi afeksi (Awaru, 2. Tentunya dalam pelaksanaan fungsi keluarga ini, orangtua menjadi kunci utama agar fungsi keluarga sukses dijalankan. Fahrudin menyatakan bahwa orang tua memiliki peran paling penting dalam keberfungsian keluarga. Nilainilai yang terdapat dalam fungsi keluarga dapat diajarkan dan ditanamkan orang tua kepada anak dalam kehidupan sehari-hari (Herawati et al. , 2. Fungsi keluarga yang mampu dijalankan dengan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 baik oleh orang tua dapat memengaruhi anggota keluarga lain terutama anak. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang mengatakan bahwa fungsi keluarga berpengaruh terhadap perilaku anak. Namun sebaliknya. Jika fungsi keluarga tidak dapat dilakukan dengan optimal maka akan timbul berbagai hal yang negatif baik bagi anggota keluarga maupun bagi masyarakat (Herawati et al. Disfungsi keluarga akan berakibat pada munculnya beragam persoalan keluarga. Layaknya keluarga pada umumnya, keluarga perantau juga tak lepas dari ragam persoalan keluarga yang mengancam keutuhan keluarga. Hal ini selaras dengan penelitian terdahulu yang dikemukakan Hermanto bahwa persoalan keluarga perantau mulai dari perselingkuhan, penghasilan yang tak kunjung berkecukupan, dan musibah yang dialami keluarga perantau seperti adanya anggota keluarga yang meninggal (Hermanto & Saleh, 2. Masalah, tuntutan, atau kerugian yang dialami keluarga memiliki kemungkinan untuk melemahkan fungsi dan hubungan keluarga, atau sebaliknya, memperkuat keluarga untuk mengatasinya melalui aksi dan komitmen Bersama (Herdiana, 2. Hal ini dapat bergantung pada bagaimana faktor pendukung resiliensi yang dimiliki keluarga. Resiliensi keluarga lebih dari sekedar bertahan dari krisis, tetapi juga menawarkan potensi bertumbuh dari kesulitan. Walsh mengemukakan, dalam mengatasi krisis bersama, sebuah keluarga dapat memunculkan lebih banyak cinta, lebih kuat, dan lebih banyak solusi dalam menghadapi tantangan (Herdiana, 2. Hal tersebut dapat dicapai dengan terlaksanakanya fungsi keluarga secara baik. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Fasa bahwa fungsi-fungsi keluarga yang dapat dilaksanakan secara baik akan berdampak langsung pada penguatan resiliensi keluarga (Fasa, 2. Ada kalanya tuntutan keluarga melebihi kemampuan keluarga. Ketika ketidakseimbangan ini ada, beberapa kemampuan dapat menggantikan yang lain dalam memperoleh kembali kondisi ekuilibrium (Herdiana, 2. Berdasarkan fenomena di atas penulis tertarik untuk menganalisis persoalan yang dialami keluarga perantau dan faktor yang mempengaruhi resiliensi keluarga perantau di desa Mario kecamatan Libureng kabupaten Bone. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif Agar mendapatkan data yang relevan dengan fokus dan tujuan penelitian maka penelitian dilakukan melalui tahapan. melakukan observasi langsung, wawancara mendalam terhadap informan yakni anggota keluarga perantau yang masih menetap di desa Mario, dan dokumentasi. Adapun teknik penentuan informan dengan menggunakan teknik Snowball Sampling, yakni dilakukan dengan menentukan informan pertama yang sesuai dengan fokus penelitian, lalu mendapatkan informan kedua dari informasi informan pertama, begitu selanjutnya sampai data yang dikumpulkan dianggap telah terpenuhi atau cukup. Lokasi penelitian ini dilakukan di desa Mario kecamatan Libureng kabupaten Bone, dengan mempertimbangkan bahwa di desa ini memiliki banyak keluarga perantau. Berdasarkan data yang didapatkan, selanjutnya dilakukan analisis data keluarga perantau dengan menguraikan data yang ada berdasarkan pengklasifikasian dari setiap data yang diperoleh sesuai fokus penelitian dan mencari hubungan antara data yang diperoleh dan sumber lainnya yang ada kaitannya dengan fokus penelitian dan terakhir penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama peneliti melakukan penelitian di desa Mario kecamatan Libureng kabupaten Bone. Adapun hasil penelitian yang didapatkan sebagai berikut: Hasil Penelitian Persoalan yang Dialami Keluarga Perantau Resiliensi keluarga dapat diketahui dengan menelusuri terlebih dahulu persoalan keluarga yang dialami oleh keluarga perantau. Layaknya keluarga pada umumnya, keluarga perantau juga mengalami sejumlah persoalan keluarga yang cukup kompleks. Hidup berjauhan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 dengan anggota keluarga lainnya dalam rentang waktu yang cukup lama, menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga perantau. Berikut ini sejumlah persoalan keluarga yang dialami: Persoalan ekonomi Masalah ini menjadi suatu dilema bagi keluarga perantau, karena pada dasarnya anggota keluarga pergi merantau karena desakan ekonomi, dengan harapan kepergiannya di tanah rantau dapat mengatasi persoalan ekonomi keluarga. Namun kenyataanya masalah tersebut masih saja mendera keluarga perantau. Hal ini dikemukakan oleh HR bahwa ia dan keluarganya telah merantau lebih dari 10 tahun bahkan suaminya masih di tanah rantau karena persoalan ekonomi dan tuntutan biaya hidup yang masih dialaminya saat ini. selain berperan sebagai ibu rumah tangga, ia juga memelihara ternak di kampung untuk membantu perekonomian keluarganya. Demikian pula yang dialami oleh keluarga SA. Sejak suaminya meninggal. SA berjuang untuk melanjutkan hidup dan membiayai keempat Ia telah melakukan perantauan sejak puluhan tahun dan saat ini menetap di kampung halaman. Sedikit berbeda dengan JM, setelah bercerai dengan suaminya, ia memilih untuk merantau ke negeri tetangga untuk menyambung hidup dan sesekali pulang ke kampung halaman untuk menemui anak-anaknya. Beban Ganda Beban ganda merupaka salah satu persoalan yang dialami oleh keluarga perantau. Sebagaimana yang dirasakan HR dan suaminya. Hidup berjarak dengan kurun waktu yang lama, di mana suami HR harus bertahan hidup di negeri rantau mengurus segala keperluan sehari-harinya sendiri dan menanggung sepi. Demikian HR di kampung halaman juga harus mengatur waktu mengasuh kedua anaknya sekaligus mengurus ternaknya. Tak jauh berbeda dengan yang dialami keluarga SA dan JM. Selama di negeri rantau, mereka harus mencari nafkah sekaligus mengurus domestik secara mandiri dan telah belasan tahun dilakoninya. Aktivitas yang harus dilakoninya atas desakan tuntunan biaya hidup demi keberlangsungan Mereka memilih bertahan dengan kondisi tersebut untuk menghindari keterpurukan ekonomi yang lebih jauh daripada yang dialami saat ini. Kebutuhan Pendidikan anak Bagi keluarga perantau, ketika anak telah menginjak masa sekolah, maka mereka harus memulangkan anak ke kampung halaman agar dapat menempuh pendidikan. Hal ini disebabkan, kelengkapan administrasi sekolah formal di tanah rantau yang tak dapat Sehingga bagi sebagian orangtua perantau, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah salah satu orangtua anak mendampingi pendidikan anaknya di kampung halaman. Sebagaimana yang dihadapi oleh HR. Berbeda dengan HR. SA dan JM pada masa melakukan perantauan menitipkan keempat anaknya pada orangtuanya di kampung halaman, agar dapat mencari nafkah dengan pergi merantau. Situasi demikian berpotensi menimbulkan masalah baru. Sebagaimana yang dirasakan oleh kedua anak HR. HR mendaku, anak lakilakinya kurang percaya diri dan memiliki keberanian yang rendah, serta pada situasi tertentu sulit mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Sedangkan JM memiliki anak yang terlibat dalam pergaulan bebas dan kenakalan anak remaja. Persoalan isu orang ketiga atau perselingkuhan Rumor atau desas-desus orang ketiga dapat menjadi akar pertengkaran antar pasangan. Konsekuensi memiliki pasangan yang hidup berjauhan adalah berita tentang kedekatan dengan orang ketiga yang belum tentu kebenarannya. Hal ini menjadi tantangan dalam menguji kesetiaan dan kepercayaan kedua belah pihak. Tetapi pada kasus perselingkuhan yang terbukti, orangtua keluarga perantau memilih untuk bercerai. Layaknya JM, ia menjadi korban perselingkuhan suaminya yang telah lama merantau. Keputusan untuk berpisah ditempuhnya setelah JM melakukan penyelidikan dan memiliki bukti-bukti yang kuat. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 Resiliensi Keluarga Perantau Hasil penelitian menunjukkan, resiliensi keluarga perantau di desa Mario didukung oleh beberapa faktor yakni: Ajaran agama yang diyakini oleh anggota keluarga terkait pengelolaan hidup, rezeki yang telah diatur oleh Tuhan yang Maha Kuasa, dan kesabaran dalam menghadapi segala Selain itu hadirnya nilai dan norma yang menjadi pedoman tingkah laku para anggota keluarga. Dan kultur perantau suku bugis yang telah lama melekat terkait prinsip yang harus menjadi pegangan dan benteng bagi perantau yaitu kejujuran, keberanian, dan kehormatan . Hal ini diungkapkan oleh HR dan suaminya. SA, dan JM. Adanya pola pengaturan atau pengorganisasian dalam keluarga. Pertama, adanya musyawarah dan tanggungjawab bersama dalam mengatasi masalah. Kedua, keterikatan atau keterhubungan antara anggota keluarga yang dibangun melalui komunikasi baik secara langsung maupun melalui telefon. Selain itu, tetap memperhatikan agenda mudik yang dilakukan oleh perantau untuk kembali menjenguk anggota keluarga di kampung Bentuk perhatian lainnya adalah saling mengirimkan ole-ole kepada anggota Keterhubungan yang dibangun anggota keluarga perantau tidak hanya pada internal keluarga tetapi juga kepada lingkungan sosial, sebagaimana yang dilakukan oleh suami HR yang membangun hubungan baik dengan masyarakat asli di tanah rantau. Sehingga mendukung perilaku sosial ekonomi suami HR. Interaksi yang dijalin tanpa memandang suku bangsa sehingga terbangun solidaritas dan sikap gotong royong pada acara-acara keluarga di tanah rantau. Ketiga, pengelolaan ekonomi keluarga. Hal ini dilakukan karena tidak adanya kejelasan pendapatan tiap bulan. Karena bagi keluarga perantau, pekerjaan petani hanya mengandalkan kondisi alam dan pergerakan perekonomian di negeri rantau. Adapun hasil yang didapatkan sebagian dijadikan investasi atau tabungan masa depan anak berupa emas, dan ternak yang dikelola istri atau anggota keluarga di kampung. Komunikasi intens dan terbuka. Bagi keluarga perantau, teknologi merupakan hal yang sangat membantu dalam melakukan komunikasi dengan anggota keluarga yang berada di negari rantau. Hal penting yang perlu menjadi prioritas dalam komunikasi tersebut yakni komunikasi yang didasari oleh informasi yang jujur dan keterbukaan kedua belah pihak. Dimana masing-masing anggota keluarga dapat mengungkapkan pendapat dan perasaannya tanpa adanya beban atau hal yang disembunyikan. Selain itu, musyawarah bersama dalam keluarga juga dilakukan untuk memunculkan pemikiran ide yang kreatif dari para anggota keluarga dan menemukan mufakat serta solusi atas persoalan keluarga. Pembahasan Persoalan yang Dialami Keluarga Perantau Keluarga sebagai suatu sistem sosial tentunya dipengaruhi oleh perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Perubahan ini mempengaruhi banyak aspek dalam keluarga, mulai dari perubahan peran maupun perubahan kebutuhan dalam keluarga. Tuntutan keluarga untuk dapat beradaptasi dari perubahan yang terjadi inilah, yang kerap menjadi pertimbangan bagi suatu keluarga untuk pergi merantau. Istilah merantau dapat juga dipahami sebagai migrasi. Budaya merantau di kalangan suku Bugis dipengaruhi oleh faktor pendorong dan faktor Faktor pendorong meliputi. faktor ekonomi keluarga yang tidak mencukupi kebutuhan keluarga, faktor kelangkaan sumberdaya alam sehingga tidak ada lahan yang bisa digarap, faktor kurangnya lapangan pekerjaan, faktor rendahnya pendidikan. Adapun faktor penarik meliputi. adanya akses lapangan pekerjaan yang lebih baik di daerah tujuan, sarana dan prasarana yang lebih maju dan berkembang di tanah rantau, motivasi dari pengalaman perantau yang telah pulang dengan membawa kesuksesan dan peningkatan kesejahteraan keluarganya di kampung halaman. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 . Persoalan ekonomi Pada prosesnya, keluarga perantau juga kerap diterpa beragam persoalan keluarga. Tak jauh berbeda sebagaimana persoalan yang dialami oleh keluarga pada umumnya. Persoalan tersebut diantaranya adalah masalah ekonomi. Hal ini menjadi ancaman terhadap ketahanan Ketidakstabilan pendapatan mengakibatkan tekanan ekonomi yang mempengaruhi ketahanan keluarga (Ningsih et al. , 2. Ketahanan ekonomi merupakan salah satu komponen penguat ketahanan keluarga (Alie & Elanda, 2. Situasi tersebut menjadi suatu dilema bagi keluarga perantau, karena pada dasarnya anggota keluarga pergi merantau karena desakan ekonomi, dengan harapan kepergiannya di tanah rantau dapat mengatasi persoalan ekonomi keluarga. Namun kenyataanya masalah tersebut masih saja mendera keluarga perantau. Hal ini dikemukakan oleh HR bahwa ia dan keluarganya telah merantau lebih dari 10 tahun bahkan suaminya masih di tanah rantau karena persoalan ekonomi dan tuntutan biaya hidup yang masih dialaminya saat ini. HR selain berperan sebagai ibu rumah tangga, ia juga memelihara ternak di kampung untuk membantu perekonomian keluarganya. Demikian pula yang dialami oleh keluarga SA. Sejak suaminya meninggal. SA berjuang untuk melanjutkan hidup dan membiayai keempat anaknya. Ia telah melakukan perantauan sejak puluhan tahun dan saat ini menetap di kampung halaman. Beban Ganda Masih sehubungan dengan persoalan ekonomi, keluarga perantau juga mengalami persoalan beban ganda bagi masing-masing pasangan. Hidup berjarak dengan kurun waktu yang lama, di mana suami HR harus bertahan hidup di negeri rantau mengurus segala keperluan sehari-harinya sendiri dan menanggung sepi. Demikian HR di kampung halaman juga harus mengatur waktu mengasuh kedua anaknya sekaligus mengurus ternaknya. sebagai istri menanggung beban ganda lebih berat dibanding suaminya. Selain mengurus kedua anaknya yang telah sekolah, ia harus membagi waktu mengurus ternaknya untuk membantu menopang perekonomian keluarga. Sebagai keluarga miskin, beban ganda ini harus ditanggung oleh perempuan. Praktek demikian dilihat sebagai bentuk ketidakadilan gender (Fakih, 2. Desakan kebutuhan ekonomi menjadi penyebab perempuan mengemban beban ganda (Arfa et al. , 2. Tak jauh berbeda dengan yang dialami keluarga SA dan JM. Selama di negeri rantau, mencari nafkah sekaligus mengurus domestik secara mandiri telah belasan tahun dilakoninya. Aktivitas yang harus dilakoninya atas desakan tuntunan biaya hidup demi keberlangsungan keluarga. Kebutuhan Pendidikan anak Persoalan lainnya adalah sehubungan dengan Pendidikan anak. Pendidikan yang dimaksud baik kebutuhan pendidikan formal maupun pendidikan pengasuhan yang seharusnya didapatkan oleh anak dari kedua orangtuanya. Bagi keluarga perantau, ketika anak telah menginjak masa sekolah, maka mereka harus memulangkan anak ke kampung halaman agar dapat menempuh pendidikan. Hal ini disebabkan, kelengkapan administrasi sekolah formal di tanah rantau yang tak dapat dipenuhi. Sehingga bagi sebagian orangtua perantau, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah salah satu orangtua anak mendampingi pendidikan anaknya di kampung halaman. Sebagaimana yang dihadapi oleh HR. Berbeda dengan HR. SA dan JM pada masa melakukan perantauan menitipkan keempat anaknya pada orangtuanya di kampung halaman, agar dapat mencari nafkah dengan pergi Situasi demikian berpotensi menimbulkan masalah baru, sebagai dampak dari ketiadaan pendampingan salah satu orangtua, maupun kedua orangtua anak perantau di kampung Masalah tersebut menyangkut perkembangan karakter anak. Sebagaimana yang dirasakan oleh kedua anak HR. HR mendaku, anak laki-lakinya kurang percaya diri dan memiliki keberanian yang rendah, serta pada situasi tertentu sulit mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Sedangkan JM memiliki anak yang terlibat dalam pergaulan bebas dan kenakalan anak remaja. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 . Persoalan isu orang ketiga atau perselingkuhan Rumor atau desas-desus orang ketiga dapat menjadi akar pertengkaran antar pasangan. Konsekuensi memiliki pasangan yang hidup berjauhan adalah berita tentang kedekatan dengan orang ketiga yang belum tentu kebenarannya. Hal ini menjadi tantangan dalam menguji kesetiaan dan kepercayaan kedua belah pihak. Tetapi pada kasus perselingkuhan yang terbukti, orangtua keluarga perantau memilih untuk bercerai. Layaknya JM, ia menjadi korban perselingkuhan suaminya yang telah lama merantau. Keputusan untuk berpisah ditempuhnya setelah JM melakukan penyelidikan dan memiliki bukti-bukti yang kuat. Selaras dengan hasil penelitian Hermanto bahwa isu hadirnya orang ketiga sering sekali menjadi pemicu keretakan rumah tangga seseorang yang berakhir dengan peceraian. Isu perselingkuhan atau hadirnya orang ketiga sering dialami oleh pasangan suami istri perantauan (Hermanto & Saleh, 2. Resiliensi Keluarga Perantau Resiliensi memiliki beragam pemaknaan, sesuai dengan sudut pandang yang lahir dari objek yang dianalisis. Secara umum resiliensi dapat dipahami sebagai kemampuan untuk beradaptasi atas perubahan kondisi dan menahan serta pulih dari gangguan secara cepat yang diakibatkan oleh keadaan darurat. Zohuri mendefenisikan resiliensi merupakan kemampuan dari sebuah individu/entitas . sset, organisasi, komunitas, agam. , untuk mengantisipasi, menolak, menyerap, merespons, beradaptasi, dan memulihkan diri dari sebuah masalah. Sedangkan Wolff dalam memandang resiliensi sebagai trait, merupakan kapasitas yang muncul dalam keadaan tertentu untuk pencegahan kehancuran dalam diri seseorang dan melindungi dalam segala rintangan kehidupan (Dewi et al. , 2. Resiliensi tidak hanya berada pada tataran individu tapi juga keluarga dan komunitas. Sehingga dapat dipahami bahwa resiliensi adalah proses dinamis dengan melibatkan peran dari individu, komunitas, keluarga untuk bersatu dan menjadi suatu kekuatan dan ketangguhan individu lain untuk bangkit dari permasalahannya. Hal ini dapat ditemukan pada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh para tokoh. Banaag misalnya, mendefenisikan sebagai suatu proses interaksi antara faktor individu dengan faktor lingkungan. Meichenbaum, mengungkapkan resiliensi merupakan Interaksi secara menyeluruh dengan mempergunakan berbagai ciri dari peran . ndividu, keluarga, maupun masyarakat lua. Selain itu. Luthar, dkk mengemukakan resiliensi adalah Proses dinamis dengan melibatkan proses adaptasi secara positif dalam kondisi susah atau krisis yang mengandung bahaya atau hambatan secara signifikan. Adapun Grotberg mendefenisikan resiliensi sebagai kemampuan beradaptasi atau bertahan diri untuk memecahkan dan menghadapi permasalahan setelah mengalami kesusahan (Dewi et al. , 2. Kadiyono memaknai resiliensi keluarga sebagai Kemampuan suatu keluarga dapat bangkit pada setiap permasalahan kemudian menjadi lebih kuat dan mampu mengambil hikmah dari permasalahan yang dihadapi masa lalu. Resiliensi keluarga berperan sebagai pengembangan diri dan hubungan terhadap orang lain. Walsh menyampaikan ada 3 elemen utama dalam resiliensi keluarga yakni, keyakinan atau kepercayaan (Belie. , pola organisasi (Organizational Pattern. , proses komunikasi (Communication proces. (Dewi et al. , 2. Pada keluarga perantau, ketiga elemen tersebut menjadi faktor resiliensi keluarga dan terinternalisasi pada masing-masing anggota keluarga. Keyakinan atau Kepercayaan (Belie. Pada keluarga perantau, jauh sebelum keputusan untuk pergi merantau, keyakinan atas jalan rezeki yang diberikan Tuhan akan selalu ada bagi orang-orang yang mau dan tekun Telah ditanamkan kepada semua anggota keluarga. Termasuk nilai dan norma yang menjadi pedoman tingkah laku para anggota keluarga. Selain itu, bagi kultur perantau suku bugis, mereka yang hendak pergi merantau harus memegang prinsip. keberanian, dan kehormatan . Hal inilah yang menjadi benteng bagi anggota keluarga perantau. Baik bagi anggota keluarga yang pergi meninggalkan kampung halaman maupun anggota keluarga yang Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 Sistem keyakinan ini sebagaimana yang dikemukakan Walsh bahwa, sistem keyakinan yang dipengaruhi oleh cultural belief yang diterapkan di dalam keluarga dan dalam interaksi sosial berpengaruh penting dalam resiliensi keluarga. Sistem keyakinan ini mencakup nilai, pendirian, sikap, prasangka, dan asumsi yang membentuk respon emosi, sebuah keputusan, dan menjadi pedoman tingkah laku. Pola Organisasi (Organizational Pattern. Pola organisasi dalam keluarga perantau mencakup. pertama, pengelolaan masalah yang muncul. Hal ini diwujudkan dengan dilakukannya musyawarah atau komunikasi terbuka antar anggota keluarga dan bersama-sama menemukan solusi tanpa merugikan anggota keluarga manapun. Pada problem yang darurat, seperti yang dialami oleh JM. Pengeloaan masalah dilakukan dengan melibatkan kerabat dan teman yang dapat dipercaya untuk mencari solusi yang tepat. Sehingga keputusan yang diambil tidak menimbulkan risiko yang lebih besar. Kedua, keterhubungan. Keterhubungan baik antara anggota keluarga dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada dan teknologi, maupun keterhubungan dengan lingkungan sosial. Hal inilah yang dilakukan oleh HR. SA, dan JM. Keterhubungan antaranggota keluarga dilakukan dengan tetap menjalankan fungsi keluarga secara maksimal baik secara langsung maupun dengan memanfaatkan teknologi. Edukasi nilai dan norma yang harus dipatuhi oleh anaknya intens dilakukan. Demikian pula dalam rangka membangun kedekatan emosional antara anak dan ayahnya yang berada ditanah rantau. HR intens melakukan komunikasi melalui telfon dengan melibatkan anaknya. Hal ini dilakukan Agar keterikatan antar anggota keluarga tetap bisa terjalin dan anak-anak mendapatkan perhatian dari orangtua yang tidak berada di sisi anak. Langkah lain yang ditempuh adalah agenda mudik yang dilakukan oleh perantau kembali ke kampung halamannya. Keterhubungan antar anggota keluarga juga diwujudkan dengan saling mengirimkan ole-ole kepada anggota keluarga. Hal ini dilakukan dengan menitipkan pada kerabat atau tetangga yang akan kembali ke kampung halaman, maupun yang akan kembali berangkat ke negeri atau daerah rantau. Selain itu, diwujudkan melalui interaksi dengan lingkungan sosial Hal ini dilakukan sebagai proses membentuk hubungan sosial dalam masyarakat yang heterogen dan plural (Ekawati et al. , 2. Sebagaimana yang dilakukan oleh suami HR yang membangun hubungan baik dengan masyarakat asli di tanah rantau. Sehingga mendukung perilaku sosial ekonomi suami HR. Ketiga, pengelolaan ekonomi keluarga. Manajemen ekonomi bagi keluarga perantau tentu sangat diperlukan. Hal ini dilakukan karena tidak adanya kejelasan pendapatan tiap Karena bagi keluarga perantau, pekerjaan petani hanya mengandalkan kondisi alam dan pergerakan perekonomian di negeri rantau. Adapun hasil yang didapatkan sebagian dijadikan investasi atau tabungan masa depan anak berupa emas, dan ternak yang dikelola istri di kampung. Tak hanya sampai di situ, pengelolaan ekonomi keluarga perantau diwujudkan dalam bentuk partisipasi perempuan dalam mencari nafkah. Di mana peran perempuan sangat berkontribusi dalam membantu perekonomian dan ketahanan keluarga. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Jusnawati bahwa peran perempuan dalam usaha ekonomi produktif rumahtangga memberi kontribusi penting dalam meningkatkan perekonomian keluarga (Jusnawati & Amsal, 2. Proses Komunikasi (Communication proces. Orang tua yang sibuk bekerja memerlukan strategi efektif untuk tetap berinteraksi bermakna dengan anak-anak (Milta & Abidin, 2. Bagi keluarga perantau, teknologi merupakan hal yang sangat membantu dalam melakukan komunikasi pada anggota keluarga yang berada di negari rantau. Hal penting yang perlu menjadi prioritas dalam komunikasi tersebut yakni komunikasi yang didasari oleh informasi yang jujur dan keterbukaan kedua belah pihak. Dimana masing-masing anggota keluarga dapat mengungkapkan pendapat dan perasaannya tanpa adanya beban atau hal yang disembunyikan. Hal ini diperlukan agar Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 anggota keluarga dapat memahami perasaan dan informasi yang disampaikan dengan tepat dan mendapatkan respon positif. Proses demikian sangat dibutuhkan, terutama bagi anak-anak yang tentunya membutuhkan kepedulian dari kedua orangtuanya. Sebagai salah satu alternatif yang dapat ditempuh keluarga perantau, agar anak-anak tetap mendapatkan dukungan emosional dari ayahnya meskipun dari jarak yang jauh. Hal ini sejalan penjelasan Walsh bahwa komunikasi memiliki 3 aspek penting yaitu kejelasan atau transparansi, pengungkapan emosional, penyelesaian masalah secara kolaboratif (Dewi et al. , 2. Pertama, kejelasan atau Kejelasan dalam penyampaian informasi. Kedua, pengungkapan emosional dimana para anggota keluarga dapat mengungkapkan perasaannya secara terbuka dan antar anggotanya juga mampu memahami dari berbagai respons yang muncul. Sehingga dalam proses ini keluarga menunjukkan rasa kepedulian dan menghargai perbedaan anggota Ketiga. Penyelesaian masalah secara kolaboratif. Bagi keluarga perantau, hal ini ditunjukkan dengan adanya musyawarah bersama dalam keluarga untuk memunculkan pemikiran ide yang kreatif dari para anggota keluarga dan menemukan mufakat serta solusi atas persoalan keluarga. Ketiga elemen resiliensi keluarga yang dimiliki dan dijalankan oleh keluarga perantau ini merupakan wujud aktualisasi maksimal keberfungsian keluarga sehingga mampu mewujudkan ketahanan keluarga. Sebagaimana Roman mengemukakan Keberfungsian keluarga mengacu pada bagaimana seluruh anggota keluarga dapat saling berkomunikasi satu sama lain, saling berkaitan satu sama lain, mempertahankan hubungan dan mengambil keputusan serta menyelesaikan masalah bersama (Dewi et al. , 2. Sisi positif yang ditemukan dari resiliensi keluarga perantau ini adalah anggota keluarga memiliki tingkat kepedulian yang tinggi, anak-anak memiliki sikap pekerja keras, kehidupan keluarga yang sederhana, dan tumbuh menjadi keluarga yang bijaksana. Herdiana menyebutnya sebagai peristiwa unik dalam resiliensi keluarga, dimana beberapa keluarga yang kerap mengalami tekanan atau persoalan justru menjadi lebih kuat dan bijaksana (Herdiana, 2019. Walsh menjelaskan bahwa. AoAokeluarga yang dapat menghadapi dan mengelola pengalaman yang mengganggu serta dapat bergerak maju dengan kehidupan, maka akan memengaruhi adaptasinya terhadap kelangsungan hidup dan kesejahteraan tiap anggota keluargaAoAo. Hal ini pulalah yang dialami oleh keluarga HR dan SA. Meski dengan ragam persoalan yang dialami, hingga saat ini masih bisa menjaga keberlangsungan kehidupan keluarganya. Demikian JM yang masih bisa melanjutkan kehidupannya dan berinteraksi bersama anak-anaknya meskipun harus berpisah dari suaminya. KESIMPULAN Resiliensi keluarga perantau merupakan kemampuan keluarga beradaptasi atau bertahan diri memecahkan dan menghadapi permasalahan setelah mengalami kesusahan. Keluarga dapat bangkit menjadi lebih kuat dan mampu mengambil hikmah dari permasalahan yang dihadapi masa lalu. Resiliensi diperlukan dalam menghadapi persoalan keluarga. Beberapa persoalan yang dialami keluarga perantau adalah persoalan ekonomi, beban ganda, kebutuhan pendidikan anak, dan isu orang ketiga atau perselingkuhan. Adapun faktor-faktor yang mendorong resiliensi keluarga perantau adalah, pertama keyakinan atau kepercayaan yang dimiliki anggota keluarga dan telah ditanamkan sejak dini dalam keluarga, kedua pola organisasi dalam keluarga meliputi pola pengelolaan masalah dengan melakukan musyawarah dan curah pendapat untuk menemukan solusi yang tepat, keterhubungan antar anggota keluarga dan lingkungan sosial, serta pengelolaan ekonomi keluarga dengan memprioritaskan kebutuhan pokok dan pendidikan anak, serta investasi masa depan melalui tabungan emas dan peliharaan hewan ternak. Ketiga pola komunikasi keluarga yang mencakup kejelasan informasi dan kebenaran, sikap terbuka atau jujur, dan ketiga penyelesaian masalah secara kolaboratif di mana setiap anggota keluarga memiliki tanggungjawab bersama dalam membantu menemukan solusi dan menjalankan solusi yang telah disepakati. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 DAFTAR PUSTAKA