ORIGINAL ARTICLE - AACENDIKIA: Journal of Nursing AACENDIKIA: Journal of Nursing. Volume 4 . Juli 2025, p. https://doi. org/10. 59183/aacendikiajon. Maternal Practices and Stunting Prevention Among Toddlers: A Study in Wara Health Center. Palopo City, 2025 Nur Wildah Kaharuddin1*. Andi Sastria2. Asriadi2. Indra Amanah3 Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo Program Studi Profesi Ners. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo *Correspondence: Nur Wildah Kaharuddin. Address: Jalan Andi Ahmad. Kota Palopo. Sulawesi Selatan. Indonesia 91913. Email: nurwildahkaharuddin15@gmail. Received: 23 Juni 2025 U Revised: 28 Juni 2025 U Accepted: 3 Juli 2025 ABSTRACT Stunting is a condition in which the growth and development of toddlers are delayed due to chronic malnutrition, resulting in height that is not appropriate for age. Stunting remains a significant public health issue globally, nationally, and locally, with concerning prevalence rates despite a gradual decline in recent years. Mothers play a crucial role in stunting prevention, as they are the primary caregivers of toddlers. Inadequate maternal practices may increase the risk of stunting. This study aimed to determine the relationship between maternal knowledge, attitudes, and the role of posyandu . ntegrated health pos. cadres and maternal practices in stunting prevention among toddlers in the working area of Wara Public Health Center. Palopo City, in This quantitative study used a descriptive analytic design with a cross-sectional approach. A total of 83 respondents were selected using purposive sampling. Data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed significant relationships between maternal knowledge . = 0. , attitudes . = 0. , and the role of posyandu cadres . = 0. with maternal practices in preventing stunting. These findings indicate that knowledge, attitude, and the support of posyandu cadres are important factors influencing maternal efforts to prevent stunting in toddlers. ABSTRAK Stunting merupakan suatu kondisi dimana perkembangan balita berjalan lambat akibat kekurangan gizi sehingga menyebabkan pertumbuhan yang tidak sesuai dengan usianya. Masalah stunting pada balita merupakan masalah kesehatan yang signifikan baik di tingkat global, nasional, hingga daerah dengan angka prevalensi yang masih memprihatinkan meskipun telah terjadi penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pencegahan stunting melibatkan tindakan ibu sebagai orang terdekat dari balita, sehingga jika ibu tidak menerapkan tindakan yang tepat maka akan berpotensi terjadinya stunting. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan peran kader posyandu dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wara Kota Palopo tahun 2025. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 83 responden diambil dengan Teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil Analisa uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan . =0,. , sikap . =0,. dan peran kader posyandu . =0,. dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan pengetahuan, sikap, dan peran kader posyandu dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita bermakna diterima. Keywords: stunting, maternal knowledge, maternal attitude, posyandu cadres, stunting prevention, toddlers Pendahuluan Stunting merupakan suatu kondisi dimana perkembangan balita berjalan lambat akibat pertumbuhan yang tidak sesuai dengan usianya (Fadyllah & Prasetyo, 2. Stunting menjadi permasalahan karena dapat menyebabkan perkembangan otak yang tidak optimal sehingga intelektual, bahkan dapat meningkatkan risiko (Wulandari 20 | E-ISSN: 2963-6434 Kusumastuti, 2. Pencegahan stunting melibatkan tindakan ibu sebagai orang terdekat dari balita, sehingga jika ibu tidak menerapkan tindakan yang tepat maka akan berpotensi terjadinya stunting. Pendidikan, pengetahuan dan pemahaman ibu erat kaitannya dengan penurunan angka stunting, hal ini disebabkan karena pengetahuan dan perilaku ibu mengenai kesehatan dan nutrisi serta keberadaan layanan kesehatan berpengaruh pada tindakan ibu dalam pemberian makanan pada anak yang pada akhirnya A 2025 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Nur Wildah Kaharuddin et al. berpengaruh pada status gizi anak (Helmiyati, 2020 dalam Juliani et al. , 2. Dengan demikian, pencegahan stunting harus dilakukan secara komprehensif, karena stunting yang tidak pertumbuhan dan perkembangan pada balita. Masalah stunting pada balita merupakan masalah kesehatan yang signifikan baik di tingkat global, nasional hingga daerah dengan angka prevalensi yang masih memprihatinkan meskipun terjadi penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Di tingkat global, kasus stunting pada anak diseluruh dunia mencakup 22,3% atau setara dengan 148,1 juta anak di bawah 5 tahun (WHO. Menurut data survey status gizi nasional (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia mencapai angka 21,6% dimana angka ini menurun dibanding tahun sebelumnya yaitu 24,4%, namun angka tersebut masih terbilang tinggi karena belum mencapai target prevalensi stunting di tahun 2024 berdasarkan standar WHO sebesar dibawah 20% (Nuryuliani, 2. Prevalensi stunting di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2022 mencapai angka 27,2% dan tahun 2023 mencapai angka 27,4% (Bintang et al. , 2. Di Kota Palopo, terdapat sebanyak 421 kasus atau 4,20% pada tahun 2021, 334 kasus atau 3,24% pada tahun 2022, dan pada tahun 2023 turun menjadi 228 kasus atau 1,98% (Diskominfo. Berdasarkan pengambilan data awal di Dinas Kesehatan Kota Palopo, dari bulan Januari hingga September 2024 terdapat 108 kasus stunting, dengan Kecamatan Wara sebagai wilayah urutan kedua tertinggi dengan kasus Di wilayah kerja Puskesmas Wara, pada bulan Agustus hingga Oktober 2024 terdapat 492 balita dan terdapat 15 diantaranya yang mengalami stunting. Berdasarkan hasil wawancara terhadap salah satu penanggung jawab bagian gizi di Puskesmas Wara menerangkan bahwa masalah stunting di wilayah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah banyaknya 21 | E-ISSN: 2963-6434 ibu yang belum mengetahui tentang pencegahan Selain itu, masih ada beberapa ibu yang jarang membawa anaknya ke posyandu. Situasi posyandu seperti kurang kondusifnya lingkungan saat penyuluhan seringkali mengurangi efektivitas pesan yang disampaikan. Para ibu seringkali menghadapi kendala dalam pencegahan stunting akibat kesibukan sehari-hari. Banyaknya ibu yang merupakan pekerja menyebabkan waktu untuk memberikan ASI eksklusif menjadi terbatas. Disisi lain, meskipun kader posyandu telah aktif memberikan edukasi, masih terdapat penolakan dari sebagian keluarga karena persepsi yang keliru atau pandangan negatif tentang stunting. Berdasarkan hal tersebut, upaya pencegahan stunting masih diperlukan, sehingga pemahaman faktor-faktor berhubungan dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting sangat penting diketahui agar stunting dapat dicegah dengan baik. Pengetahuan stunting sangat penting dimiliki oleh seorang ibu karena kurangnya meningkatkan resiko anak mengalami stunting (Fadlah & Saharuddin, 2. Kasus stunting pada anak lebih banyak terjadi dalam keluarga dengan tingkat pengetahuan ibu yang rendah, dimana ibu dengan pengetahuan dan sikap terhadap gizi yang kurang memadai cenderung memengaruhi status gizi anaknya secara negatif sehingga menyulitkan mereka dalam memilih makanan bergizi untuk anak dan keluarganya (Hermawati & Sastrawan. Ibu dengan pengetahuan yang baik cenderung memiliki sikap positif dalam memenuhi kebutuhan gizi balita, sehingga diharapkan dapat tercermin dalam perilaku seharihari seperti dalam pola asuh, pemilihan makanan, dan pemberian asupan yang mendukung tumbuh kembang balita, sehingga jika tidak diterapkan akan berdampak buruk pada perkembangan balita serta beresiko terjadinya stunting (Sari et al. Sikap ibu sangat penting dalam mencegah Nur Wildah Kaharuddin et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing stunting karena memiliki pengaruh besar terhadap asupan makanan dalam keluarga, terutama bagi anak, apabila seorang ibu kurang memperhatikan status gizi balita, hal tersebut dapat menyebabkan kekurangan gizi ( Rakhmawati & Panunggal, 2014 dalam Rahmayanti et al. , 2. Oleh karena itu, sikap ibu yang positif menjadi kunci utama dalam memastikan pemenuhan kebutuhan gizi yang perkembangan anak secara maksimal sekaligus mencegah risiko stunting. Peran kader posyandu merupakan suatu hal penting dalam pencegahan stunting. Kemampuan kader dalam mendorong ibu untuk rutin mengunjungi posyandu berkontribusi pada peningkatan status gizi balita melalui pemantauan tumbuh kembang mereka (Rejeki & Mahendra. Dalam pelaksanaan kegiatan posyandu, kader memiliki peran yang sangat krusial sehingga diharapkan berperan aktif dalam kegiatan promotif dan preventif serta menjadi motivator bagi masyarakat, jika kader tidak berperan secara aktif, pelaksanaan posyandu akan terganggu dan berujung pada ketidakmampuan untuk mendeteksi status gizi bayi atau balita sedini mungkin (Nugraheni & Malik, 2. Kader sebagai penyuluh memberikan edukasi kepada ibu hamil dan ibu dengan balita, pencatat yang melakukan deteksi dini terhadap gangguan tumbuh kembang balita, serta penggerak yang mendorong pelaksanaan promosi kesehatan dan upaya pencegahan stunting serta aktif dalam forum desa dan menjalin kerja sama lintas sektor untuk memperkuat program pencegahan stunting (Tendean et al. , 2. Dengan demikian, tindakan ibu yang didasari oleh pengetahuan dan sikap yang baik serta dukungan dari peran kader posyandu dapat berdampak pada pencegahan stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan peran kader posyandu dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wara Kota Palopo tahun 2025. Metode Jenis dan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik menggunakan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan bulan Oktober 2024 - Februari 2025. Variabel dalam penelitian ini terbagi menjadi dua variabel yaitu variabel independen dan dependen, variabel independen adalah Pengetahuan. Sikap dan Peran Kader Posyandu. Variabel dependen adalah tindakan ibu dalam pencegahan stunting. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu yang memiliki balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Wara yaitu sebanyak 492 orang. Sampel dalam penelitian ini menggunakan Teknik purposive sampling dengan menggunakan rumus slovin dengan total sampel sebanyak 83 responden. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan data primer yang diambil langsung dari responden melalui pengisian Teknik pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan editing, coding, entry data dan tabulasi. Penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan taraf Signifikansi . <0. Hasil Berdasarkan tabel 1 usia ibu yang diteliti mayoritas berasal dari kelompok usia 26-45 tahun yaitu sebanyak 73 orang . %). Usia balita yang dimiliki ibu mayoritas berasal dari kelompok usia <1 tahun yaitu sebanyak 20 balita . ,1%). Pendidikan terakhir ibu yang diteliti mayoritas berasal dari kelompok tamat SMA yaitu sebanyak 36 orang . ,4%). Pekerjaan ibu mayoritas berasal dari kelompok yang tidak bekerja yaitu sebanyak 60 orang . ,3%). Penghasilan keluarga tiap bulan mayoritas di rentang Rp1. 000 Ae Rp2. sebanyak 23 orang . ,7%). https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 22 Nur Wildah Kaharuddin et al. Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden . Karakteristik Usia Ibu >46 Usia balita <1 tahun 1 tahun 2 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun Pendidikan terakhir Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Diploma/PT Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Penghasilan keluarga/bulan Rp500. Rp1. Rp2. >Rp3. Lainnya Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan, sikap, peran kader posyandu dan tindakan ibu dalam pencegahan stunting . Variabel Pengetahuan Baik Cukup Kurang Sikap Baik Cukup Kurang Peran Kader Posyandu Baik Cukup Kurang Tindakan Ibu Baik Cukup Kurang 23 | E-ISSN: 2963-6434 Nur Wildah Kaharuddin et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Berdasarkan tabel 2, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan stunting sebanyak 59 orang . ,1%), sementara 21 responden . ,3%) memiliki pengetahuan cukup, dan 3 responden . ,6%) memiliki pengetahuan kurang. Dalam hal sikap, sebanyak 52 responden . ,7%) menunjukkan sikap yang baik, 23 responden . ,7%) memiliki sikap cukup, dan 8 responden . ,6%) menunjukkan sikap kurang terhadap pencegahan stunting. Selain itu, sebagian besar responden, yaitu 55 orang . ,3%), menilai peran kader posyandu sebagai baik, 21 responden . ,3%) menilai cukup, dan 7 responden . ,4%) menilai kurang. Diketahui menunjukkan tindakan yang baik dalam pencegahan stunting sebanyak 52 orang . ,7%), 15 orang . ,1%) menunjukkan tindakan cukup, dan 16 orang . ,3%) menunjukkan tindakan yang Tabel 3. Hasil uji person chi-square antara pengetahuan dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita . Pengetahuan Kurang Cukup Baik Kurang Tindakan Ibu Cukup Baik Total p-value 0,018 Berdasarkan tabel 3 diketahui dari kelompok yang tindakannya cukup, dan terdapat 42 . ,6%) yang disurvei untuk pengetahuan yang kurang, ibu yang memiliki tindakan baik. Berdasarkan terdapat 0 . %) ibu yang tindakannya kurang, hasil analisis statistik dengan uji chi-square terdapat 2 . ,4%) ibu yang tindakannya cukup, diperoleh nilai p = 0,018 (<0,. atau didapatkan dan terdapat 1 . ,2%) ibu yang memiliki tindakan nilai X2 hitung sebesar 11. 890 > X2 sebesar 9,487 Kemudian dari kelompok pengetahuan Dengan demikian, cukup data untuk cukup, terdapat 5 . ,0%) ibu yang memiliki menerima Ha. Artinya. H0 ditolak sehingga tindakan kurang, terdapat 7 . ,4%) ibu yang terdapat hubungan antara pengetahuan dengan tindakannya cukup dan terdapat 9 . ,8%) ibu tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada yang tindakannya baik. Disisi lain, dari kelompok balita di wilayah kerja Puskesmas Wara Kota pengetahuan baik, terdapat 11 atau . ,3%) ibu Palopo tahun 2025. yang tindakannya kurang, terdapat 6 . ,2%) ibu Tabel 4. Hasil uji person chi-square antara sikap dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita . Tindakan Ibu Total Sikap p-value Kurang Cukup Baik Kurang Cukup 0,016 Baik https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 24 Nur Wildah Kaharuddin et al. Berdasarkan tabel 4 diketahui dari kelompok yang disurvei untuk sikap yang kurang, terdapat 4 . ,8%) ibu yang tindakannya kurang, terdapat 2 . ,4%) ibu yang tindakannya cukup, dan terdapat 2 . ,4%) ibu yang memiliki tindakan baik. Kemudian dari kelompok sikap cukup, terdapat 5 . ,0%) ibu yang memiliki tindakan kurang, terdapat 7 . ,4%) ibu yang tindakannya cukup dan terdapat 11 . ,3%) ibu yang tindakannya baik. Disisi lain, dari kelompok sikap baik, terdapat 7 atau . ,4%) ibu yang tindakannya kurang, terdapat 6 . ,2%) ibu yang tindakannya cukup, dan terdapat 39 . ,0%) ibu yang memiliki tindakan baik. Berdasarkan hasil analisis statistik dengan uji chi-square diperoleh nilai p = 0,016 (<0,. atau didapatkan nilai X2 hitung sebesar 12. 170 > X2 sebesar 9,487 Dengan demikian, cukup data untuk menerima Ha. Artinya. H0 ditolak sehingga terdapat hubungan antara sikap dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wara Kota Palopo tahun Tabel 5. Hasil uji person chi-square antara peran kader posyandu dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita . Tindakan Ibu Total Peran kader p-value Kurang Cukup Baik Kurang Cukup 0,040 Baik Berdasarkan tabel 5 diketahui dari kelompok yang disurvei untuk peran kader posyandu yang kurang, terdapat 4 . ,8%) ibu yang tindakannya kurang, terdapat 0 . %) ibu yang tindakannya cukup, dan terdapat 3 . ,6%) ibu yang memiliki tindakan baik. Kemudian dari kelompok peran kader posyandu cukup, terdapat 1 . ,2%) ibu yang memiliki tindakan kurang, terdapat 4 . ,8%) ibu yang tindakannya cukup dan terdapat 16 . ,3%) ibu yang tindakannya baik. Disisi lain, dari kelompok sikap baik, terdapat 11 atau . ,3%) ibu yang tindakannya kurang, terdapat 11 . ,3%) ibu yang tindakannya cukup, dan terdapat 33 . ,8%) ibu yang memiliki tindakan baik. Berdasarkan hasil analisis statistik dengan uji chi-square diperoleh nilai p = 0,040 (<0,. atau didapatkan nilai X2 hitung sebesar 10. 020 > X2 sebesar 9,487 Dengan demikian, cukup data untuk menerima Ha. Artinya. H0 ditolak sehingga terdapat hubungan antara peran kader posyandu dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting 25 | E-ISSN: 2963-6434 pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wara Kota Palopo tahun 2025. Pembahasan Hubungan pengetahuan dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita Tingkat pengetahuan ibu mengenai stunting memiliki peran penting, karena kurangnya pemahaman ibu tentang stunting dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting pada anak (Puspitasari et al, 2021 dalam Rizkia, 2. Dalam Precede-Proceed, pengetahuan ibu dapat dikategorikan sebagai faktor predisposisi (Predisposing factor. Pengetahuan individu berperan penting dalam mendorong pencarian dan pemanfaatan layanan kesehatan, semakin tinggi pemahaman seseorang terhadap dampak suatu penyakit, semakin besar upaya penceegahan yang dilakukan (Pakpahan et , 2. Berdasarkan hasil analisis statistik dengan uji chi-square, nilai p = 0,018 atau didapatkan Nur Wildah Kaharuddin et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing nilai X2 hitung sebesar 11. 890 > X2 sebesar 9,847 Dengan demikian, cukup data untuk menerima Ha. Artinya H0 ditolak yang berarti ada hubungan pengetahuan dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wara Kota Palopo. Mayoritas ibu dengan pengetahuan yang baik memiliki tindakan pencegahan stunting pada balita yang baik juga sehingga menunjukkan adanya hubungan positif antara kedua variabel tersebut Hasil tabulasi silang pada variabel pengetahuan menunjukkan bahwa dari 59 ibu balita yang memiliki pengetahuan baik, terdapat 11 ibu yang memiliki tindakan yang kurang. Hal ini disebabkan karena ibu balita masih belum sepenuhnya memahami dampak jangka panjang stunting, dengan anggapan bahwa kondisi ini hanya berkaitan dengan tinggi badan yang dipengaruhi oleh faktor genetik orangtua tanpa menyadari bahwa stunting juga merupakan masalah kesehatan yang berdampak pada kecerdasan anak. Menurut peneliti, hal ini berkaitan dengan tingkat pendidikan ibu balita. meskipun mayoritas ibu berpendidikan SMA, masih adanya kelompok ibu dengan pendidikan lebih rendah (SD. SMP, atau tidak tamat SD) juga berkontribusi pada kurangnya pemahaman tentang Ibu dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah cenderung kesulitan dalam memilih serta menyajikan makanan yang sesuai dengan prinsip gizi seimbang untuk keluarganya (Nurmalasari et al. , 2. Selain itu, penghasilan keluarga menjadi pencegahan stunting yang optimal, misalnya dalam pemberian asupan gizi yang baik. Kemampaun keluarga dalam membeli makanan bergizi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, dimana pendapatan yang tinggi memungkinkan seluruh anggota keluarga mendapatkan asupan makanan yang cukup, sementara pendapatan yang rendah membatasi daya beli pangan rumah tangga kebutuhan gizi balita (Anisa P, 2012 dalam Sutarto et al. , 2. Sebaliknya, dari 3 ibu yang memiliki pengetahuan kurang, terdapat 1 ibu yang tetap melakukan tindakan pencegahan stunting dengan Meskipun pengetahuan yang dimiliki kurang, ibu menerapkan tindakan pencegahan yang cukup baik berdasarkan pengalaman atau kebiasaan yang sudah ada di lingkungan mereka. Menurut UNICEF peran keluarga mempengaruhi kejadian stunting terutama melalui pola asuh yang diterapkan, kebiasaan menjaga kebersihan, serta akses terhadap layanan kesehatan bagi balita (Qolbi et al. , 2. Dukungan dan kebiasaan yang baik dalam keluarga dapat mendorong ibu untuk lebih memperhatikan gizi, kesehatan dan tumbuh kembang anak sehingga risiko stunting dapat diminimalkan. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan dari Hidayatullah & Rukhaidah, . yang mengatakan bahwa pengetahuan memiliki hubungan yang bermakna dengan pencegahan stunting dengan nilai p = 0,031 . <0,. Penelitian Aritonang menunjukkan ada hubungan pengetahuan ibu tentang stunting dengan upaya pencegahan stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Wek I Padangsidimpuan tahun 2021 dengan hasil analisi staistik uji chi-square diperoleh nilai p = 0,000 . < 0,. yang berarti H0 ditolak dan Ha Dalam penelitian ini maupun penelitian terdahulu memiliki karakteristik responden yang serupa dimana mayoritas ibu memiliki pendidikan menengah (SMA). Pendidikan ibu berpengaruh langsung terhadap asupan gizi anak karena berkaitan dengan frekuensi kunjungan ibu ke posyandu untuk menghadiri penyuluhan mengenai tumbuh kembang serta kebutuhan gizi anak sehingga dapat meningkatkan pengetahaun ibu tentang gizi (Boylan et al. , 2017 dalam Hapsari & Ichsan, 2. Selain itu, jika pendidikan dan pengetahuan ibu tentang gizi rendah maka ia akan kesulitan dalam memilih dan menyajikan makanan yang sesuai dengan prinsip gizi seimbang untuk keluarganya (Soekirman, 2000 dalam Husnaniyah et al. , 2. https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 26 Nur Wildah Kaharuddin et al. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih efektif agar pengetahuan dapat Berdasarkan Social cognitive theory, beberapa strategi berikut yang penulis rekomendasikan dapat diterapkan di puskesmas yaitu pelatihan atau edukasi mengenai pencegahan stunting dengan demonstrasi langsung mengenai pemantauan tumbuh kembang anak, praktik kebersihan yang benar maupun memberikan pelatihan keterampilan praktis misalnya cara memasak makanan bergizi dengan bahan yang mudah diapat atau terjangkau. Hubungan sikap dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita Sikap seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan paritas sehingga jika seorang ibu memiliki sikap yang negatif terhadap suatu hal, termasuk pencegahan stunting, maka ia cenderung menunjukkan tindakan dan perilaku yang kurang mendukung upaya pencegahan tersebut (Osla, 2017 dalam Ruhayati, 2. Menurut teori Health belief model terdapat empat dimensi yang memengaruhi keyakinan individu terhadap perilaku sehat (Buglar. White & Robinson, 2009 dalam Rachmawati, 2. Model ini menekankan . received keseriusan . erceived severit. sebagai pemicu tindakan preventif. Berdasarkan hasil analisis statistik dengan uji chi-square diperoleh nilai p = 0,016 (<0,. atau didapatkan nilai X2 hitung sebesar 12. X2 sebesar 9,487 dihasilkan. Dengan demikian, cukup data untuk menerima Ha. Artinya. H0 ditolak sehingga terdapat hubungan antara sikap dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wara Kota Palopo tahun 2025. Hasil ini mengindikasikan bahwa mayoritas ibu yang memiliki sikap baik juga menerapkan tindakan pencegahan stunting 27 | E-ISSN: 2963-6434 yang baik pula sehingga menunjukkan adanya hubungan positif antara kedua variabel tersebut. Hasil tabulasi silang pada variabel sikap, dari 52 ibu balita yang memiliki sikap baik, terdapat 7 ibu yang memiliki tindakan pencegahan stunting yang kurang. Hal ini berkaitan dengan pekerjaan ibu, dimana beberapa ibu yang merupakan pekerja memiliki waktu Bersama anak berkurang karena kesibukannya. Ibu yang bekerja cenderung memiliki keterbatasan waktu bersama anak sehingga pengawasan terhadap asupan makanan menjadi kurang optimal dan perhatian terhadap perkembangan anak pun berkurang (Amelia, 2020 dalam Rahmawati et al. , 2. Dari 8 ibu yang memiliki sikap kurang, terdapat 2 orang ibu tetap melakukan tindakan yang baik dalm mencegah stunting. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sikap ibu tidak sepenuhnya mendukung, faktor lain yaitu kebiasaan dan pengalaman yang telah lama terbentuk di lingkungan sekitar berperan dalam menentukan tindakan mereka terutama dalam pemberian makanan. Pengalaman ibu berperan dalam menentukan asupan gizi bagi bayi dan balita, karena pengalaman yang baik dalam memilih gizi seimbang akan berkontribusi pada penyediaan makanan bergizi bagi balita (Carolina et al. , 2. Hasil ini penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Mutingah & Rokhaidah . yang menyatakan bahwa hasil analisa uji korelasi spearman dengan p value = 0,001 (<0,. sehingga dikatakan Ha diterima atau terdapat hubungan yang bermakna antara sikap ibu dengan perilaku ibu dalam melakukan pencegahan stunting pada balita di Posyandu Tunas Mekae 1 Kelurahan Krukut. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Arnita et al. , . yang menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara sikap ibu dengan upaya pencegahan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi dengan Nur Wildah Kaharuddin et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing hasil uji statistic didapatkan p value = 0,030 . <0,. Hasil Meskipun mayoritas ibu merupakan ibu rumah tangga, namun banyak ibu yang juga bekerja. Ibu yang bekerja memiliki waktu lebih terbatas untuk mengurus anak dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja dan hal ini dapat memengaruhi kualitas pengasuhan dan berpotensi menyebabkan status gizi anak menjadi kurang baik (Aldi & Alkaff, 2. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih interaktif dan mudah Penulis merekomendasikan agar akses informasi dapat ditingkatkan dengan layanan konsultasi online melalui media sosial atau aplikasi pesan seperti Whatsapp sehingga ibu yang memiliki waktu terbatas tetap dapat memperoleh informasi dan dorongan untuk mengoptimalkan pencegahan stunting. selain itu, puskesmas juga disarankan untuk mengoptimalkan peran kader untuk melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk memberikan edukasi pemantauan gizi anak serta konsultasi terkait pencegahan stunting. Hubungan peran kader posyandu dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita Kader posyandu berperan signifikan dalam upaya menurunkan angka stunting dengan memberikan edukasi mengenai pencegahan stunting kepada ibu hamil serta ibu yang memiliki Sebagai bagian dari upaya ini, kader posyandu diharapkan untuk berperan aktif dalam mendukung pencegahan stunting serta memiliki tanggung jawab besar dalam pelaksanaan kegiatan posyandu, termasuk melakukan deteksi dini terhadap status gizi balita (Faizah et al. , 2. Berdasarkan Precede-Proceed, beberapa faktor penguat . einforcing factor. yang memberikan penguatan sosial dapat menjadi faktor pemungkin jika berubah menjadi dukungan sosial (Pakpahan et al. , 2. Dalam konteks pencegahan stunting, kader posyandu berperan sebagai reinforcing factors yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membangun lingkungan yang mendukung perubahan perilaku dalam menerapkan tindakan pencegahan stunting. Berdasarkan hasil analisis statistik dengan uji chi-square diperoleh nilai p = 0,040 (<0,. atau didapatkan nilai X2 hitung sebesar 10. X2 sebesar 9,487 dihasilkan. Dengan demikian, cukup data untuk menerima Ha. Artinya. H0 ditolak sehingga terdapat hubungan antara peran kader posyandu dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wara Kota Palopo tahun 2025. Mayoritas ibu yang menganggap peran kader posyandu baik juga memiliki tindakan dalam pencegahan stunting yang baik sehingga menunjukkan adanya hubungan positif antara kedua variabel tersebut. Berdasarkan hasil tabulasi silang pada variabel peran kader posyandu, dari 11 ibu yang menganggap peran kader posyandu baik memiliki tindakan pencegahan stunting yang kurang. Menurut peneliti, hal ini disebabkan karena kurangya pemahaman mendalam bagi ibu mengenai tindakan pencegahan stunting. Di sisi lain, dari 7 ibu yang menganggap peran kader kurang, terdapat 3 ibu yang melakukan tindakan pencegahan stunting yang baik. Hal ini disebabkan karena dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan akses informasi yang lebih mudah. Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pemahaman kemampuan menganalisis dan akses ibu terhadap informasi khususnya dalam upaya menyediakan asupan nutrisi baik dan tepat bagi anak (Supariasa, 2002 dalam Aulia et al. , 2. Ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memilih makanan dengan kualitas dan kandungan gizi yang baik untuk anak sehingga kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi (Ainin et al. Hasil penelitian ini sejalan dengan BateAoe & Wahyu . yang mengemukakan bahwa peran kader posyandu memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting berdasarkan uji korelasi pearson yang memperoleh nilai p = 0,000 . <0,. Hasil ini juga sejalan dengan https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 28 Nur Wildah Kaharuddin et al. penelitian oleh Wulandari & Kusumastuti . yang mengatakan bahwa berdasarkan hasil uji koefisien parameter antara peran kader terhadap perilaku ibu dalam pencegahan stunting pada balitanya di Puskesmas Nanga Mau menunjukkan pengaruh langsung sebesar 21,35%, nilai Tstatistic sebesar 4,291768 dan signifikan pada = Dan nilai T-statistic tersebut juga lebih besar dari nilai kritis . sehingga menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Kader posyandu memiliki peran penting dalam mendukung perubahan perilaku ibu dalam pencegahan stunting. oleh karena itu penulis merekomendasikan agar kader didorong untuk lebih aktif dalam memastikan ibu hamil dan balita rutin ke posyandu dan memberikan edukasi terkait pola makan sehat dan praktik pengasuhan balita yang tepat, serta melakukan pendampingan berkelanjutan baik melalui kunjungan rumah maupun grup diskusi agar edukasi yang diberikan tidak hanya bersifat informatif tapi juga mendorong penerapan yang nyata. Selain itu, penulis juga merekomendasikan dukungan lebih lanjut seperti pelatihan atau supervisi berkala bagi kader, agar peran kader dapat dijalankan secara optimal dalam upaya pencegahan stunting. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian di wilayah kerja Puskesmas Wara Kota Palopo Tahun 2025, ditemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dan peran kader posyandu dengan tindakan ibu dalam pencegahan stunting pada balita. Referensi