AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj Miswari IAIN Langsa miswari@iainlangsa. Abstract This paper aims to analyze the songs of love revealed by Al-Hallaj in Qadisah and Muqattaat. The two titles are a set of Al-Hallaj sufistic love songs that have been collected and published by Louis Massignon, a French orientalist who dedicated a large part of his life to studying Al-Hallaj texts. The author uses relevant references in analyzing Al-Hallaj songs. The search results show that Al-Hallaj's teachings which are far from being rational on the surface turned out to contain meaningful wisdom. Al-Hallaj shows, only with the search for entitlement into self, then the Absolute Reality called Al-Haqq can be found, realized and believed to be the only True Reality. Keywords: Al-Hallaj. Aourafa. philosophical Sufism. Abstrak Tulisan ini bertujuan melakukan analisa terhadap tembang-tembang cinta yang diungkapkan Al-Hallaj dalam Qadisah dan Muqattaat. Dua judul itu adalah himpunan tembang-gembang cinta sufistik Al-Hallaj yang telah berhasil dikumpulkan dan diterbitkan oleh Louis Massignon, orientalis asal Prancis yang mendedikasikan sebagian besar kehidupannya untuk mengkaji naskah-naskah Al-Hallaj. Penulis menggunakan referensi-referensi relevan dalam menganalisa tembang-tembang Al-Hallaj. Hasil penelusuran menunjukkan, ajaran Al-Hallaj yang sangat jauh dari kesan rasional secara permukaan ternyata mengandung makna yang penuh hikmah. Al-Hallaj menunjukkan, hanya dengan pencarian hakukat ke dalam diri, maka Realitas Mutlak yang disebut Al-Haqq dapat ditemukan, disadari dan diyakini sebagai satu-satunya Realitas Sejati Kata Kunci: Al-Hallaj. Aourafa. Tasawuf falsafi. MISWARI Al-Mabhats with CC BY-SA license. Copyright A 2019, the author. AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. PENDAHULUAN Penyucian diri dalam tasawuf falsafi seperti yang dijalankan Al-Hallaj bukan bermakna normatif sebagaimana dianut para pengajar tasawuf akhlak seperti Al-Ghazali dan pengikutnya. Dalam ajaran tasawuf falsafi, sasaran pembahasan mereka adalah Wujud Mutlak. Haqq TaAoala yang merupakan satu-satunya Realitas Mutlak. Selainnya hanyalah bayangan dan eksitensi metaforik. Untuk itu, penyician diri dalam tasawuf falsafi adalah menyadari dan menerima dihapuskan sehingga dapat muncul kesadaran bahwa Reatitas Mutlaklah yang mengisi segenap eksistensi. Bagi Al-Hallaj, sebenarnya agama bukan kumpulan teori yang disampaikan secara normatif. Agama-agama adalah kodifikasi oleh orang atau kelompok tertentu berdasarkan pemahamannya tentang turunan-turunan spiritualitas seperti keyakinan dan ritual ibadah. Bagi Al-Hallaj, agama-agama adalah cabang-cabang dari akar yang Karena manusia-manusia terlalu sibuk dengan konsep-konsep agama masing-masing, mereka melupakan asal-asal yang membentuk Sebagaimana Goenawan Mohamad, berawal dari kesunyian. Maka itu agama harus dikembalikan kepada Kita terlalu sibuk dengan politik dan kepentingan Kita yakin agama bisa memberi solusi atas semua masalah Hingga kita lupa bahwa sejatinya agama adalah untuk membuat diri bahagia. Sayangnya, kebahagiaan sejati tidak ada dalam CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. kebisingan dan hiruk pikuk. Kebahagiaan sejati berada dalam Dan dengan kesunyian, inti sejati agama ditemukan. Al-Hallaj Di sana hakikat mutlak ditemkan kembali. Manusia harus kembali sadar akan kediririannya. Dengan begitu hakikat sejati Penulis karya-karya menganalisa pemikiran Al-Hallaj. Sementara itu, sumber utamanya adalah koleksi Louis Massignon atas tembang-tembang yang digubah Al-Hallaj. HASIL DAN PEMBAHASA Qasidah dan Muqattat adalah dua naskah yang ditulis Al-Hallaj dalam mengekspresikan cintanya. Bagian ini mengulasi tembangtembang Al-Hallaj yang diekspresikan dalam dua naskah yang telah dikumpulkan Luois Massignon. Qasidah Wujud adalah tunggal, tetapi indera dan inteleksi yang biasanya dipakai sebagai instrumen pengetahuan menjadi hijab bagi Padahal segala yang ditangkap indera, imajinasi dan inteleksi semuanya adalah wujud dalam modus beragam. Untuk itulah, ketika jiwa telah melampaui indera, imajinasi dan inteleksi, maka segala identitas menjadi lenyap. Yang disadari hanyalah wujud yang Dalam kondisi demikian, 'aku' dan 'Engkau' yang sebelumnya dianggap sebagai dualitas menjadi tak teridentifikasi. Dalam kondisi yang disebut fana ini, tersadari bahwa wujud adalah tunggal (Corbin, 2002: . MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. Pengalaman fana itulah yang dialami Al-Hallaj sehingga dia tidak dapat membedakan antara eksistensi dirinya dengan eksistensi Tuhannya. Ketika Al-Hallaj menyeru Tuhannya, ternyata dia menemukan bahwa yang menyeru adalah yang diseru. Demikian juga yang diseru adalah yang menyeru. Ternyata Dia adalah inti keberadaan, hasrat, sumber kekuatan, tujuan. Dia yang diseru adalah rahasia terpendam di dalam diri. Ternyata Rahasia itu adalah totalitas keberadaannya sendiri. Kesuruhan diri adalah Dia. Dia yang diseru adalah keseluruhan dari yang menyerukan. Dia adalah misteri, tetapi sekaligus paling nyata dan jelas. Eksistensi penyeru adalah seperti posisi predikat bagi subjek. Totalitas predikat adalah kehadiran mutlak sang predikat (Miswari, 2018: . Karena kesadaran itu. Al-Hallaj sadar bahwa segala hukum agama, seketat apapun yang dibuat manusia-manusia yang dianggap paling alim dan paling beriman, aturan-aturan formal dengan baju agama itu semuanya tidak cukup untuk menampung sebutir saja dari cinta orang yang fana. Kerinduan pada Hasrat itu tidak cukup dengan anturan-aturan yang ditegakkan dengan mata pedang. Al-Hallaj paham bahwa eksistensi Hasrat itu tersembunyi dari dua biji mata. Tetapi Dia hadir secara menyeluruh pada diri. Dia seperti nafas yang tetap disadari secara penuh kehadiriranNya. Pengetahuan sejatinya mengarahkan pada kehendak Tuhan, menuju iman. Dalam iman ada perjalanan mendaki. Setiap titik Sebagian manusia memilih untuk terus mendaki dan sebagiannya lagi memilih untuk kembali. Siapa yang tajam pikirannya CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. tidak akan memilih kembali, dia akan terus mendaki. Al-Hallaj sendiri memilih menuju puncak yang membumbung tinggi. Hasrat dan semangatnya membuat dia mambuk tanpa membuka mulut. Al-Hallaj sadar bahwa sebenarnya semua manusia sebenarnya dahaga. Tetapi sebagian besarnya tidak dapat menyadari itu, seperti orang yang sedang terbius, tidak sadar tentang luka yang sedang dialami. Hanya manusia yang peka saja yang dapat menyadari kejadian yang Kesadaran ini hanya bisa tumbuh dengan terus-menerus melihat ke dalam diri (Miswari, 2018: . Orang yang akalnya hidup seperti Al-Hallaj selalu berada dalam keuntungan. Dia lebih memilih wujud yang satu, menyeluruh dari pada dirinya sendiri yang merupakan suatu bayangan semu. Dengan meninggalkan kediriannya. Al-Hallaj bersatu dengan Realitas Mutlak. Sedikit sekali orang yang menyadari itu. Sebagian besar orang merasa nikmat dengan bayangan semu, mereka nyaman dalam Mereka tidak pernah menilik ke dalam diri. Jiwa-jiwa orang demikian hanyut dalam kebingungan, terjebak dalam halusinasi dan angan-angan karena tidak pernah didayagunakan untuk melihat realitas yang sebenarnya. Bagaimana kondisi pengalaman yang ditempuh pendaki jalan cinta? Renungan mereka sangat mendalam. Awalnya yang ditemukan adalah keheningan, lalu kelu. Selanjutnya hadir sebuah pengetahuan, merasa ada sesuatu yang ditemukan dan kemudian hadirlah sebuah kondisi pelucutan atribut kedirian. Setelah itu, dapatlah direview bagaimana kedirian manusia yang sebenarnya merupakan seonggok lempung, sebuah kobaran api, suatu kondisi kedirian yang panas. MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. hanya merupakan bayangan namum terang seperti matahari. Manusia itu bergeming seperti batu karang, gelap seperti lembah. Tapi dalam kondisi demikian dapat menghantarkannya pada kemabukan, lalu pada kondisi fana, menghidupkan hasrat yang membara, terus menghampiri, bertaut lalu bahagia. Lalu kondisi itu dilanjutkan dengan sebuah kehanyutan, mengendur, hilang, berpisah, bersatu, lalu hangus terbakar. Dalam kondisi terbakar inilah hadir kegelisalan, panggilan, ketertarikan, tertata, penyingkapan diri dan terakhir tujuan sampai, sebuah pelantikan. Kondisi tersebut sebenarnya dialami oleh banyak orang yang disebut 'urafa. Tetapi kebanyakan dari mereka tidak berani menyampaikan pengalaman-pengalaman yang dialami kepada orang Alasannya banyak: khawatir disalah pahami adalah alasan Tetapi Al-Hallajtidak demikian. Menurutnya orang yang telah dipercaya untuk menyampaikan pengalaman itu namun tidak menyampaikannya kembali disebut penipu. Tetapi tidak jelas apakah semua 'urafa memiliki beban untuk menyampaikan pengalaman Dan tidak disebutkan juga apakah itu harus disampaikan kepada semua orang atau kepada orang-orang tertentu saja (Massignon, 2003: . Antara Al-Hallaj dan Junayd dapat diperbincangkan untuk diskursus ini. Junayd lebih memilih bungkan kepada masyarakat Dia masyarakat umum tidak akan memahami bila pengalamanpengalaman itu disebarkan. Jadi akan tidak berguna. Tetapi Al-Hallaj memiliki pemikiran yang berbeda. Dia memilih menjadi martir. Dia CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. memilih untuk menyebarkan berita tentang pengalaman spiritualnya. Junayd pun tidak suka dengan tindakan itu. Tetapi bagi Al-Hallaj itu Dan Al-Hallaj sadar akan konsekuensi dari keputusannya. "Barang siapa yang menyingkapkan rahasia dan menebarkannya, ia seperti aku, akan diabaikan karena telah menggoncangkanAy (Massignon, 2003: . Tentunya ini tidak hanya diabaikan, tetapi lebih dari itu Al-Hallaj harus membayarnya dengan eksekusi di tiang gantungan. Bagi AlHallaj, itu lebih mudah dari pada menyimpan rahasia keindahan sebuah perjalanan agung (Abdel-Kadir, 2018: 371. Massignon, 2001: Al-Hallaj sangat puas dengan jalan yang dia pilih. Dia telah menyampaikan kepada dunia tentang indahnya cinta dalam jalan Banyak 'urafa yang bergabung di dalam taman cinta, tetapi Al-Hallaj lebih berbahagia karena telah memberikan keyakinan kepada para penempuh jalan spiritual . yang mengikuti jejaknya. Itu membuat salik menjadi lebih optimis dan bersemangat. Al-Hallaj menunjukkan bahwa kematian dalah sebuah kemerdekaan. Kematian adalah jalan yang harus dipilih para pesuluk. Pesuluk harus memiliki kejernihan pikiran untuk melihat rahasia penglihatan. Dengan itu besitan cahaya akan muncul. Barang siapa yang menyingkapkan tabir menyongsing cahaya, maka akan melesat seperti anak panah. Hingga cinta padaNya melakat, begitu dekat hingga, seperti yang dialami Al-Hallaj, dia lupa pada dirinya Sehingga Al-Hallaj mengatakan bahwa tidak ada lagi perantara antara dirinya dengan Dia. Dalam kondisi itu. Al-Hallaj tidak lagi mampu memenuhi sesuatu yang disebut sebagai MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. Tetapi pada dirinya. Al-Hallaj sangat yakin akan pengalamannya itu adalah nyata. Dan Al-Hallaj menawarkan pembuktian itu adalah pengalamannya itu sendiri. Dalam kondisi itu, dualitas menjadi tak berarti, karena identikan sebagai makhluk dan identitas sebagai Tuhan telah melebur. Eksistensi, keyakinan, keimanan semuanya telah melebur. Tetapi paha tahap ini. Al-Hallaj sadar bahwa pengalaman tersebut adalah sebuah anugerah dan bakat kearifan (Isutzu, 2003: . Kondisi ini membuat tertegun. Hasrat itu adalah sebuah pembebasan kedirian, suatu ekstase, sebuah istirahat, sebuah kebahagiaan sekaligus kegelisahan. Al-Hallaj menyadari dalam kondisi ini bahwa kematian adalah sebuah kehidupan. Penyerahan diri menjadi suatu kebutuhan. Hidup telah mengotori dengan kedirian itu sendiri. Al-Hallaj ingin menunjukkan bahwa kematiannya itu adalah sebuah bukti bahwa pengalaman spiritual yang menggila itu adalah suatu kenyataan. Al-Hallaj ingin membuktikan durasi dan sebagai fenomena sebenarnya adalah satu kesatuan semata. Dia yakin bahwa kematiannya akan menjadi sebuah berita besar bagi yang bersabar di dalam cinta. Muqattaat Dalam analogi-analogi termasuk analogi mistisme, bumi keberagaman, namun sangat gersang. Orang-orang yang kecewa dengan kondisi demikian menjadikan langit sebagai perumpamaan bagi sebuah harapan. Orang-orang yang tidak dikecewakan dunia CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. memilih untuk menggantungkan harapan pada sesuatu selainnya, itulah langit. Tetapi bagi 'arif seperti Al-Hallaj, langit dan bumi bukan Yang penting adalah bagaimana memaknai dua alam itu. Karena bagi orang yang berhasrat pada destinasi sejati tidak akan terjebak oleh keindahan duniawi. Sekaligus mereka bukan orangorang Mata kepala menawarkan kesenangan sesaat atas segala fenomena dunia. Tetapi batin yang hidup sadar bahwa keberagaman dunia adalah bagian dari kehadiran Maha Mutlak. Boleh saja seseorang menganggap dirinya suci, tidak bergantung pada kebutuhan duniawi, mengaku semua itu tidak mereka butuhkan. Tetapi kesejatian mereka tidaklah mereka ketahui. Mereka mengaku bersih dari dosa-dosa. Tetapi pada kenyataannya bisa jadi itu adalah kesadaran semu. Sikap yang benar adalah terus menyadari bahwa manusia adalah gudang dosa. Yang perlu dilakukan adalah terus-menerus melakukan taubat dan selalu mengharap ridha Allah. Manusia harus sadar bahwa dirinya memiliki hasrat. Tapi itu semua harus disirnakan bila hanya menginginkan Allah. Hasrat itu adalah sebuah perangkap yang dapat menjerumuskan ke dalam api Padahal bila mengetahui berita tentang kengerian azab di dalamnya, seolah-olah tidak ada yang akan memasukinya. Demikian juga keindahan surga. Sesiapa yang mengetahui berita tentang keindahannya, seolah-olah semua akan memasukinya. Tetapi kenikmatan itu terhijab oleh kesulitan yang banyak manusia enggan MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. Secara alamiah manusia memiliki hasrat. Tetapi bagi sesiapa yang dalam perjalanan spiritualnya telah melihat Allah, maka semua hasrat itu sirna. Banyak orang yang iri, dengki, benci dan bahkan cemburu kepada 'urafa. Tetapi pencemburu tidak melihat perjuangan 'Urafa meninggalkan semua kenikmatan dunia. Berada di jalan spiritual bukanlah mudah. Tetapi mereka melakukannya karena cinta kepada Allah. Orang-orang pembenci ingin menikmati hasil tanpa Hati mereka busuk. Seorang penempuh jalan spiritual tidak boleh menjadikan para pembenci dan busuk hati menghalangi langkah mereka. Kehinaan harus menjadi perisai, pedangnya adalah air mata. Penempuh jalan spiritual harus senantiasa awas, hati-hati dari bahaya pengkhianatan terselubung demi kejernihan jiwa yang damai. Seorang penempuh jalan spiritual harus terus melangkah, tidak boleh berpaling. Dia Sang Maha Agung telah memudahkan jalan dengan membantu menutupi keinginan-keinginan. Dia dalam berbagai Dalam perjalanan spiritualnya. Al-Hallaj mengenal Keagungan Haqq Ta'ala melalui ruhnya. Karena ruh insan tidak rangkap dengan Dia. Hasrat kerinduan perlu diturut bukan untuk kesenangan jiwa tetapi untuk kesesuaian realitas, karena harusnya memang begitu. Dan kenikmatan dalam ekstase mistik bukan untuk kesenangan, tetapi seharusnya memang demikian. Zat yang dicari penempuh jalan spiritual . adalah Dia yang tak bertempat. Dia terang tiada banding. Ketika Dia diseru, maka CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. penyeru dan yang diseru menjadi tiada berjarak. Dia berseru tanpa kata-kata. Dia tidak bisa digambarkan dengan sifat-sifat. Dia adalah rahasia di atas rahasia. Jejaknya dapat ditemukan di batas cakrawala. Dia begitu jelas tetapi sangat tersembunyi. Dengan mencarinya hanya menemukan kiasan-kiasan. Mereka yang mencariNya sebenarnya tidak pernah beranjak dariNya. Dan Dia tidak pernah beranjak dari mereka walau sekejap saja. Tentang Dia, tiada dekat dan tiada jauh. Maka tiada kebaikan selain bersujud kepadaNya. 'Arif tidak dapat melihat apapun selain Kekasihnya. Sebab itu menghina mereka berarti menghina diri sendiri. Mereka senantiasa dalam lindingan Kekasihnya. Mendera mereka adalah kerugian saja. Mereka adalah martir. Mereka telah bersatu denga kekasihnya. Apapun yang mereka lakukan dan mereka ucapkan adalah tindakan Kekasih mereka. Al-Hallaj mengatakan, hakikat Tuhan adalah cahaya. Ini unik. Umumnya cahaya diasumsikan sebagai analogi bagi Tuhan. Tetapi sepertinya Al-Hallaj tidak memaksudkannya sebagai analogi, tetapi Al-Ghazali dalam Misykat Al-Anwar juga mengatakan Menurutnya Tuhan adalah cahaya, bukan analogi. Al-Hallaj mengatakan hakikat Tuhan nampak jelas (Massignon, 2003: . Ekstase Al-Hallaj dihidupkan oleh Tuhan. Ekstase itu adalah sebuah dorongan, menyala dalam kesadaran. Kesadaran itu membuat tercengang dan mencuri pandangan terhadap hal-hal lain. Kemabukan adalah hiburan. dalam cahaya-cahaya terdapat cahaya, di dalam rahasia-rahasia terdapat rahasia, di sanalah kecenderungan, dipahami dalam MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. renungan, dipahami dengan akal yang mempunyai hati dan Bagi Al-Hallaj. Pembuktiannya adalah pengorbanan. Sama halnya mengatakan beriman tetapi tidak melakukan perngorbanan. Al-Hallaj memilih di salib di tiang gantungan sebagai pembuktian cintanya. Dan dia bahagia untuk itu. Bagi Al-Hallaj, pelaksanaan aturan-aturan teknis dalam hukum agama adalah bukti cinta itu tidak hadir. Hal ini dapat dimaklumi karena pelaksanaan syariat wajib untuk setiap yang masih dapat menalar dengan normal. Sementara orang yang dalam pengalaman mistik telah melampui nalar. Sehingga mereka tidak melakukan aturan teknis doktrin hukum agama. Menurt Al-Hallaj. Adam adalah Dia. Sementara Iblis adalah 'aku', untuk menbedakan dengan 'Kau' (Massignon, 2003: . Sang aku adalah sebuah keegoan penonjolan identitas kedirian yang menghijab kehadiran Tuhan. Untuk itu ketika manusia mengikuti iblis, berarti dia menonjolkan sesuatu yang menjadi antitesis bagi Tuhan, itulah sebuah kesyirikan. Tetapi bila menusia menekan kediriannya, keegoannya, maka yang hadir adalah kemurnian jiwa yang berasal dari ruh Tuhan. Pada dirinya ruh manusia itu tidak rangkap dengan Realitas Mutlak. Dengan menekan segala kedirian, naka yang hadir adalah Dia pada keseluruhannya. Dia yang mendengar ketika mendengar. Dia yang melihat ketika melihat. Kesatuan ini sebagaimana dikatakan Al-Hallaj, "Ruh-Nya adalah ruhku, dan ruhku adalah Ruh-Nya. Dan jika Ia berkehendak, akulah berkehendak. CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. dan jika aku berkehendak. Ia berkehendak. Dengan kesatuan itu, manusia sebagai makro kosmos tidak tertampung oleh keluasan bumi. Sehingga tidak ada yang patut bagi manusia mengejar apapun dari bagian dunia. Bahkan keseluruhan dunia sekalipun belum ada apa-apanya dibandingkan keluhuran insan sejati. Sebab itulah sang manusia sempurna. Muhammad Saw. Menolak dunia walau bagaimanapun karena seluruh dunia itu adalah bagian dari keluhurannya. Adalah sebuah kerugian bila mengejar satu bagian kecil dengan mengorbankan keseluruhan. Sebab itulah dengan kesadaran eksistensialnya. Al-Hajjaj tidak bisa melepaskan diri dariNya. Sebab demikianlah fitrah sejati insan. "TempatMu ada dalam hatiku, dalam segenap kalbuku, tak ada yang lain kecuali Engkau," (Massignon, 2003: . Bagaimana keluasanNya telah terjawab dalam pernyataan AlHallaj ini. Sebuah hadits qudsi menyatakan bahwa Allah tidak tertampung oleh alam semesta, tetapi memungkinkan dalam hati hambanya yang saleh. Kenapa bisa demikian, karena manusia adalah wujud yang potensi pengembangannya tidak terbatas. Sementara wujud-wujud lainnya tidak. Semua selain manusia kadar wujudnya Sebab itu, hanya manusia yang dapat mengemban amanah besar, sementara makhluk lain, gunung sekalipun tidak dapat. Perluasan wujud manusia dapat terjadi terus-menerus dengan senantiasa mengingat Allah. Perluasan wujud manusia bukanlah sesuatu yang mudah. Segenap rasa bersatu dalam proses itu. Ada kenikmatan yang meluapMISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. luap, bersama itu sekaligus ada derita dalam kerinduan cinta. Cerita cinta ini adalah fitrah sejati manusia. Karena sebenarnya manusia dari Allah berasal, kepadaNya kembali dan senantiasa bersamaNya. "Engkau adalah aku tanpa pemisah," tegas Al-Hallaj. Pada satu sisi manusia adalah manusia, namun pada sejatinya manusia menunggal dengan Tuhannya. Pada sisi kemanusiaan. Tuhan tampak seperti personifikasi kemanusiaan, namun sekaligus Dia adalah Maha Sejati yang mana manusia harus memiliki pengetahuan untuk semua tingkatan itu. Al-Hallaj memiliki pengatahuan dalam pengalamannya. Tetapi bagaimana dia bisa menjelaskannya dalam bentuk kata-kata? Seorang pesuluk harus benar-benar menjauhkan diri dari ketertarikan duniawi. Sebagaimana diamalkan Aoarif seperti Al-Hallaj, bahkan dia menjauhkan diri dari hal-hal yang dihalalkan dari dunia. Hal itu dilakukan karena dunia adalah penghalang bagi kehadiran Ilahi. Dengan benar-benar benar-benar menemukan keindahan Ilahi. Dengan benar-benar melepaskan diri dari keterikatan duniawi, penyatuan Ilahi dapat dialami. Pengalaman penyatuan tersebut digambarkan Al-Hallaj sebagai berikut, "RuhMu mengusut dalam ruhku seperti bercampurnya anggur dengan air murni. Demikian pula ketika sebuah benda menyentuhMu, ia menyentuhku. Demikianlah, engkau adalah aku dalam segala keadaan". Nikmat karunia Allah muncul dari rahmatNya yang berkilau seperti cahaya yang memancar. Bila Dia berkehendak, maka CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. menyambar seperti guntur. Al-Hallaj menemukan Dia di dalam kehendakNya, sebuah anugerah melalui tahap-tahap iman. Segala sesuatu telah bersaksi bahwa Dia adalah totalitas tanpa membedakan embun dengan tetesannya. Menjadi saksi merupakan ajaran asal mula. Tidak perlu pemaksakan satu agama kepada semua orang. Karena itu dapat membuat orang kabur terhadap asal mula. Pangkal agama adalah Itulah kesaksian. "Dia yang menyingkap semua kebesaran dan semua makna, baru manusia memahaminya. "Sehingga bila memaksakan satu agama menjadi hegemoni, itu artinya pemaknaan atas kebesaran itu dibatasi. Agama yang dijadikan sebagai suatu reduksi, alih-alih menyingkap, malah dapat menjadi tabir bagi Pelaksanaan ritual-ritual agama tanpa memahami hakikatnya hanya akan menjadi sebuah rutinitas semata (Mohamad, 2007: . Cahaya pengetahuan Ilahi tersebar, tetapi sayangnya manusia terus-menerus membawa estimasinya. Sehingga hatinya tertutup untuk menerima kebenaran. Padahal untuk memperoleh pengetahuan sejati, tentang makrifat Ilahi, seseorang harus membuang jauh-jauh segala teori, konsep dan berbagai imajinasi. Pikiran harus dibersihkan, hati harus dikonsongkan. Hanya ada kesunyian (Rumi, 2018: . "Di dalam hatimu terkandung nama-nama yang melekat, tidak bercahaya, tidak gelap, atau tak terpahami. Ini menunjukkan keunikan jalan spiritual, bila filsafat harus memahami setiap konsep, maka dalam 'irfan segala konsep harus Segala pemahaman dalam hati harus dihapuskan. Hati MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. harus benar-benar kosong agar dapat diisi dengan pengetahuan Pengetahuan yang benar dalam 'irfan adalah tidak "Bukan dengan kata, bukan dengan pena untuk mampu mencapai pemahaman akan Engkau". Menerima pengakuan akan keberadaan diri, maka itu tetap dianggap syirik dalam ilmu tentang spiritual. Manusia memang harus menerima dan mengakui bahwa dirinya tidak dapat memahami apapun tentang Zat Mutlak. Karena sebenap pengetahuan yang dapat dan mampu diterima manusia, itu semua tidak akan akurat dengan Esensi Maha Mutlak. "Keinginanku tak pernah sampai padaMu selamanyaAy, kata AlHallaj (Massignon, 2003: . Dalam segala usaha untuk mengenal Zat Mutlak, akan senantiasa berkonsekuensi pada dualitas. Sebab itulah Al-Hallaj memanjatkan doa, "Antara Engkau dan aku, ada 'Aku' yang menggelisahkanku. Kumohon angkatlah aku melalui 'Aku'Mu, angkatkah 'aku'ku keluar dari keduaan kita". Bahwa hanya dalam pengalaman spiritual sejati itulah perjalanan terbaik dalam memenuhi hasrat kedirian alami manusia. Segala aturan-aturan dan simbolisasi agama adalah perangkatperangkat lahiriah yang bersumber pada pengetahuan intelektual. Semua hukum-hukum, aturan dan norma spiritualitas sebenarnya adalah jalan untuk menertibkan umat manusia, lingkungan sosialnya dan berharmonisasi dengan alam. Dalam hal ini Al-Hallaj bersyair. CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. "Bahwa aku berlayar di tengah samudera, yang ombaknya telah menghancurkan sampanku. Dalam agama penyalibanlah aku mati. Bukan di Makkah atau di Madinah". Karena Makkah dan Madinah adalah simbol keagamaan. Agama-agama yang dilaksanakan manusia penuh dengan aturanaturan konkritnya itu ternyata bukanlah jalan utama dalam perjalanan rohani menuju Ilahi, namun jalan yang tepat itu berada dalam penyaliban, dalam pengorbanan diri. Jalan itu bukan pada menumpuk konsep-konsep, menghimpun teori-teori pengetahuan tentang agama dan bukan pada latihan badan yang mana buku panduannya adalah kodifikasi fikih (Nasution dan Miswari, 2017: 168-. "Aku menjadi Dia yang aku cinta. Dia yang mencintaiku menjadi Aku. Kami dua ruh yang melebur dalam satu jasad". Setidaknya beginilah kondisi yang dapat digambarkan dalam stasiun tertentu dalam sebuah jalan panjang spiritualitas. Estimasi Dia yang senantiasa menjadi hasrat dan dambaan mengisi keseluruhan kedirian insani. Dalam kondisi ini seorang salik menemukan dirinya telah tidak lagi memiliki estimasi dan motivasi apapun. Sang salik menyadari dirinya tidak berkeinginan dan tidak berkehendak apapun. Disadari semua itu adalah muncul dari estimasi Ilahi. Namun stasiun ini tetap meniscayakan adanya kesadaran dualitas tertentuk yakni kesadaran akan eksistensi Zat Mutlak dan kesadaran akan eksistensi diri sang salik. Padahal hanya dengan membutuhkan sedikit renungan saja, dapat disadari bahwa segala MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. motivasi dan sumber segala tindakan itu sebenarnya bukan berasal dari diri sang pelaku. Segala motivasi itu bersumber dari sesuatu yang berasal dari kedalaman diri. Manusia baru menyadari hasrat itu ketika dia menalar suatu keinginan yang mana sumbernya tampak asing bagi dirinya. Sehingga dalam jalan spiritual, khususnya dalam stasiun yang digambarkan Al-Hallaj ini, sesuatu yang asing itu diakui sebagai Zat Mutlak yang menjadi cinta dan dambaan salik. Kondisi seperti yang digambarkan Al-Hallaj seperti, "Penglihatanku adalah penglihatanNya. PenglihatanNya adalah penglihatanku," Itu sebenarnya adalah sebuah fenomena nyata yang benarbenat terjadi. Selalu dan selamanya demikian. Namun penyucian diri, dalam perjalanan spiritual itu, melahirkan kesadaran akan realitas. Dan perjalanan spiritual itu adalah demikian: menyadarkan pada Bagaimana Al-Hallaj? Dia mengatakan RuhNya mengusut ke dalam ruhnya seperti bercampur anggur dengan air murni. Ketika sesuatu menyentunNya, maka Dengan tegas Al-Hallaj mengatakan, "Engkau adalah aku dalam segala keadaan". Pernyataan ini tampak sangat vulgar, ekstrim dan membingungkan. Tetapi itulah yang dialami seseorang yang telah lenyap dalam Al-Haqq. Dia telah kehilangan dirinya. AlHallaj telah melihat bahwa Dia adalah totalitas. Banyak yang berpokir penyataan-pernyataan demikian adalah sebuah kesyirikan, terlempar dari agama yang benar. Tetapi Al-Hallaj CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. sendiri mengklaim, dirinya adalah orang yang berpikir sungguhsungguh tentang agama. Dia menemukan bahwa agama-agama itu adalah cabang-cabang yang pangkalnya tunggal. Sebab itu satu agama tidak bisa dipaksakan kepada sesseorang karena itu dapat membuat dia terpaling dari Asal Mula. Padahal agama itu adalah cabang yang harus menghantarkan kepada Asal Mula. "Aku berfikir dengan sungguh-sungguh tentang agama-agama. Kemuadia aku dapati satu cabang yang berpangkal banyak. Jangan engkau memaksakan satu agama kepada seseorang, karena itu akan memalingkan dari Asal Mula. Hanya satu yang dapat ditanyakan padanya: Asal Mula itu sendiri yang harus dicari. Dia yang menyingkap semua kebesaran dan semua makna, baru manusia akan memahaminya" (Massignin, 2003: . Agama, bila dianya adalah konstruksi teori, aliran dan sistem bukanlah agamanya Al-Hallaj. Agama sufi pengembara adalah samudra yang luas. "Wahai, beritahukanlah hal ini kepada teman-temanku, bahwa aku berlayar ditengah samudera yang ombaknya telah menghancurkan sampanku. Dalam agama penyalibanlah aku mati. Bukan di Makkah atau di Madinah". Dengan pengembaraan demikian Al-Hallaj menemukan Dia yang ia cintai adalah Dirinya. Dia yang mencintainya menjadi dirinya. Dua ruh melebur dalam satu jasad. Penglihatannya adalah penglihatanNya, penglihatanNya adalah penglihatannya. MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. Setiap realitas yang dapat dikenal manusia adalah simbol dari eksistensi Ilahi. Manusia tidak boleh berkutat pada simbol. Mereka harus melatih diri untuk menangkap makna di balik simbol. Dengan begitu dia dapat mengenal Haqq Ta'ala sebagaimana yang dialami Musa di Bukit Tursina. Orang yang berusaha melatih dirinya akan diberikan karunia mengenal Rabbnya dalam dirinya. Tidak ada kecemasan bagi yang telah melihat Tuhannya dalam dirinya. Haqq melebur dalam dirinya sebagaimana meleburnya jiwa dengan jasad. Sehingga semua amalan adalah amalan Rabbnya (Miswari, 2016: . Siapa yang telah menyatu dengan Tuhannya akan meihat kebenaran setiap saat. Dia akan senantiasa dituntun pada jalan Mendapatkan perlindungan dari-Nya, melihat Dia di segala penjuru. Pengalaman demikian ditempuh dengan cinta. Cinta bukan penalaran, sehingga dia tidak tunduk pada aturan-aturan. Cinta melampaui apapun. Sebab itulah syariat tidak menjadi standar bagi penempuh jalan cinta. Dalam cinta diperoleh kenikmatan yang meluap. Padanya punya tersimpan segenap penderitaan. Maka itu pada jalan cinta dituntut kesiapan-kesiapan. Para Pecinta Sebelum Al-Hallaj. Abd als Samad Ibn ql Mu'adhdhal Basri . 854M), sayn Ibn al Dahhak als Khali. Abul Atahiya . Sahl Tustari . Junayd Bahgdadi . Abul Hasan Nuri . Summun . , merasakan gelora cinta yang identik dengan Al-Hallaj. Bahwa Tuhan adalah pencipta kedamaian dan kelembutan yang menguasai hati. Dia tidak membutuhkan aneka penjelasan dan argumentasi. Wajahnya sudah cukup sebagai CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. Narasi seperti ini menunjukkan bagaimana pecinta seperti Basri itu identik dengan Al-Hallaj karena mereka tidak berkutat pada syariat tetapi telah melampauinya dan mengabdi berdasarkan perasaan cinta. Mereka menjadi orng-orang yang begitu bersabar hingga mendapatkan faedah dari kesabaran itu dengan kenikmatan yang tiada bandingan yaitu manatap wajah Kekasih. Semua insan Perasaan menghantarkan kebahagiaan. Dalam suka cita saja kebahagiaan itu Melalui lisan para arifin dapat ditemukan peta perjalanan. Mereka melihat apa yang tidak dapat dilihat mata biasa. Melalui penglihatan ini, mereka menegaskan "Bagi hati seorang 'arif, haram hukumnya mencintai selain Tuhan" (Massignon, 2003: . Terdapat pula syair-syair yang merekam peristiwa penyaliban Al-Hallaj. Itu dilakukan oleh Abu Ali Musaffar Sibti . Izz Muqdist . Ali Syustari . Yafi'i . Hurayfish Makki . Mereka melihat diri mereka dengan sang martir adalah satu. Mereka menyayangkan tindakan penyaliban tu. Tetapi mereka harus memaklumi pandangan umumnya manusia tidak sama dengan sang Ada yang menyayangkan kenapa gelora cinta itu diumbarkan. Sebagian arifin mempertanyakan bagaimana cinta yang meluap-luap itu dapat disembunyikan. Tetapi para arifin sadar bahwa sang martir itu tidak mati. Dia hidup sebagai pesan bagi manusia tentang betapa dahsyatnya cinta. Bila menelusuri luapan hati arifin, akan dipahami bagaiman gelora cinta itu sulit dikendalikan. Sebuah dilema akan terlihat pada MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. jalan 'urafa. Itu adalah jalan yang diyakini kebenarannya, tidak mungkin ditinggalkan. Tetapi geloranya yang membara menjadi sulit "Aku telah meminum air yang terus mengalir dan barang siapa yang meminumnya dan merasakannya, maka akan terus bernyayi" (Massignon, 2003:213-. KESIMPULAN Penelusuran tembang-tembang Al-Hallaj menunjukkan ajarannya memiliki kedalaman hikmah. Namun secara permukaan, ajaran-ajaran itu akan tampak sangat kontroversial karena disampaikan dengan begitu gamblang. Al-Hallaj menjadi penganut tasawuf falsafi yang paling kontroversial karena paling eksplisit dalam menyuguhkan ajarannya. Keputusan Al-Hallaj menyampaikan ajarannya karena suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan harus disampaikan segamblang-gamblangnya karena bila tidak, akan muncul paradoksal. Tasawuf sejati tidak boleh disampaikan secara normatif karena akan memunculkan kelemahan Orang-orang yang menempuh jalan cinta harus menerima kejujuran bahwa jalan tersebut tidak mudah, tetapi hasilnya Al-Hallaj menemukan bahwa hanya dengan menyadari bahwa diri manusia dan makhluk lainnya secara realitas benar-benar tidak berdaya di hadapan Haqq TaAoala. Bersedia ataupun tidak, manusia harus menerima jalan menuju kebenaran. Untuk itu, satu-satunya CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. jalan terbaik adalah menempuh jalan cinta itu meski sangat rumit dan Prinsip dasar ajaran Al-Hallaj adalah menyadarkan manusia bahwa kediriannya sebagai manusia adalah penghalang baginya untuk mengenal dan kembali bersatu dengan Allah. Hanya dengan menghilangkan kecenderungan ego-ego kemanusiaan, manusia dapat mengalami penyatuan. Manusia yang sadar dengan kondisi ini pasti mengalami kerinduan yang luar biasa untuk bersatu dengan Allah. Proses kembali pada penyatuan itu tidak mudah. Banyak rintangan yang harus dilalui, mungkin sebanyak ekstensi dan teori yang dapat muncul. Tetapi bagi sufi sejati, jalan itu tetap akan ditempuh. Tantangan tidak hanya datang dari dalam diri tetapi juga dari sosial masyarakat. Dalam masyarakat umum, paham-paham dan ajaran tasawuf falsafi adalah sangat sulit untuk diterima karena masyarakat umum tidak memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk menerima dan ajaran tersebut. Namun Al-Hallaj tetap memilih menyampaikan kebenaran itu. Sebenarnya konsep-konsep yang dikodifikasi dan diklaim sebagai teks otoritatif agama sehingga menjadikan agama sebagai sebuah struktur, sistem, yang dijaga oleh orang-orang yang dianggap memiliki otorita, alih-alih dapat menjalankan tujuan utamanya sebagai penghantar manusia menuju penyatuan dengan Allah, malah menjadi hijab yang menghalangi tujuan mulia itu. Dalam hal inilah. Al-Hallaj menentang segala sistem yang mengatas namakan diri sebagai agama. Hanya dengan menelisik ke dalam diri, manusia dapat MISWARI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 4 No. memperoleh pengalaman sejati, pengalaman yang menghantarkannya menyatu dengan Haqq TaAoala. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abdel-Kadir. Ali Hasan. Imam Al-Junaid Al-Baghdadi: Pemimpin Kaum Sufi. Yogyakarta: Diva Press. Corbin. Henry. Imajinasi Kreatif Sufisme Ibn AoAraby. Yogyakarta: LKiS. Isutzu. Toshihiko. Struktur Metafisika Sabzawari. Bandung:Pustaka. Massignon. Louis. Al-Hallaj: Sang Sufi Syahid, cet ke-2. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. Massignon. Louis. Diwan Al-Hallaj. Terj. Maimunah SS. Yogyakarta: Putra Langit. Miswari. Filsafat Langit dan Bumi. Lhokseumawe: Unimal Press. Miswari. Wahdat Al-Wujud: Konsep Kesatuan Tuhan dan Hamba dalam Pemikiran Ibn AoArabi. Yogyakarta: Basa Basi. Miswari. Filsafat Terakhir. Lhokseumawe: Unimal Press. Mohamad. Goenawan. Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai. Jakarta: Kata Kita. Nasution. Ismail Fahmi Arrauf dan Miswari. AuRekonstruksi Identitas Konflik Kesultanan PeureulakAy. Paramita: Historical Studies Journal. Vo. No. Rumi. Jalaluddin . Pasage into Silence: Lorong Sunyi. Yogyakarta: Forum. CARA GILA JATUH CINTA: Analisa Qasidah dan Muqataat Mansur Al-Hallaj