BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. Analisis Pengaruh Technology Readiness Terhadap Minat QRIS Dalam Melakukan Pembayaran Dengan Menggunakan Metode TRAM Fitri Rostati*. Mochamad Ari Saptari. Muthmainnah Fakultas Teknik. Sistem Informasi,Universitas Malikussaleh. Aceh Utara. Indonesia Email: 1,*fitri. 210180101@mhs. id, 2moch. ari@unimal. id, 3muthmainnah@unimal. Email Penulis Korespondensi: fitri. 210180101@mhs. AbstrakOeQRIS merupakan salah satu metode pembayaran yang saat ini kerap digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi. QRIS saat ini cukup diminati oleh masyarakat dibuktikan dengan jumlah pengguna QRIS semakin meningkat. Minat menggunakan QRIS ini diyakini terjadi karena adanya pengaruh dari penerapan teknologi baru (Technology Readiness Acceptance Mode. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat menggunakan QRIS dan untuk mengetahui hambatan yang dihadapi oleh masyarakat dalam melakukan pembayaran dengan menggunakan QRIS berdasarkan metode Technology Readiness Acceptance Model . Metode analisis yang digunakan adalah metode Partial Least Squares-Structural Equation Modelling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi minat menggunakan QRIS dalam melakukan pembayaran berdasarkan metode Technology Readiness Acceptance Model adalah optimism, innovativeness, perceived ease of use, dan perceived Sedangkan hambatan yang dihadapi dalam melakukan pembayaran QRIS adalah kurangnya rasa keamanan, sering gagal dalam melakukan transaksi, , dan tidak seluruh pelaku usaha memiliki QRIS dalam transaksi pembayaran. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam membantu penyedia layanan dan regulator merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan masyarakat dalam menggunakan QRIS, memperkaya kajian penerimaan teknologi dengan motode TRAM. Kata Kunci: QRIS. Minat Menggunakan. Technology Readiness. Technology Readiness Acceptance Model AbstractOeQRIS is a payment method that is currently frequently used by the public in making transactions. QRIS is currently quite popular among the public, as evidenced by the increasing number of QRIS users. The use of QRIS is highly sought after by the public. This interest in using QRIS is believed to occur due to the influence of the application of new technology (Technology Readiness Acceptance Mode. The purpose of this study was to determine the factors that influence interest in using QRIS and to determine the obstacles faced by the public in making payments using QRIS based on the Technology Readiness Acceptance Model method. The analysis method used is the Partial Least Squares-Structural Equation Modeling method. The results of the study indicate that the factors that influence interest in using QRIS in making payments based on the Technology Readiness Acceptance Model method are optimism, innovativeness, perceived ease of use, and perceived usefulness. Meanwhile, obstacles faced in making QRIS payments are a lack of security, frequent failures in making transactions, and not all business actors have QRIS in payment transactions. Keywords: QRIS. Use Interest. Technology Readiness. Technology Readiness Acceptance Model PENDAHULUAN Perkembangan teknologi telah mengubah perilaku masyarakat secara signifikan, khususnya dalam aktivitas sehari-hari. Pemanfaatan teknologi yang tepat menawarkan kecepatan, efisiensi, dan keamanan, yang sangat mendukung kegiatan Salah satu dampak nyata dari perkembangan ini adalah pergeseran perilaku dalam transaksi pembayaran. Masyarakat kini beralih dari penggunaan uang tunai ke transaksi non-tunai, menjadikan uang digital sebagai alat transaksi Pembayaran digital adalah sistem pembayaran yang menggunakan media elektronik atau digital. Sistem ini menawarkan kemudahan otomatisasi transaksi dan mengurangi risiko kejahatan. Aspek keamanan menjadi daya tarik utama yang mendorong minat masyarakat terhadap pembayaran digital. Selain itu, pengalaman yang ditawarkan juga lebih aman, cepat, dan mudah bagi penggunanya. Salah satu jenis pembayaran digital yang digunakan oleh masyarakat adalah mengunakan Quick Response Code Indonesia Standard atau yang dikenal dengan QRIS, yaitu sebuah sistem standar pembayaran yang memanfaatkan teknologi kode QR (Quick Response Cod. untuk mengintegrasikan berbagai jenis platform pembayaran elektronik. Sistem ini dirancang untuk memfasilitasi transaksi yang cepat, aman, dan efisien dengan memungkinkan pengguna untuk melakukan pembayaran hanya dengan memindai kode QR melalui perangkat mobile pengguna . Salah satu bentuk sistem pembayaran digital yang banyak digunakan saat ini adalah Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). QRIS adalah sistem pembayaran digital berbasis QR Code yang disusun oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Tujuan utama dari QRIS adalah menyatukan berbagai jenis QR Code dari berbagai penyelenggara layanan pembayaran agar transaksi non-tunai menjadi lebih mudah dan QRIS memungkinkan pengguna melakukan pembayaran hanya dengan memindai kode QR menggunakan perangkat mobile, sehingga menjadikan transaksi lebih cepat, aman, dan efisien. Kehadiran QRIS juga didukung oleh kepercayaan masyarakat terhadap sistem ini. Konsumen merasa yakin bahwa Bank Indonesia dan ASPI sebagai penyelenggara mampu menjamin keamanan sistem QRIS. Rasa percaya inilah yang mendorong adopsi QRIS secara masif di tengah masyarakat. Berdasarkan data dari Bank Indonesia hingga Oktober 2024, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 54,1 juta orang, dengan dukungan dari 34,7 juta merchant. Peningkatan jumlah pengguna sebesar 226,54% dalam satu tahun terakhir mencerminkan penerimaan yang sangat tinggi terhadap metode pembayaran ini . , . Dalam menggunakan QRIS maka penulis tertarik untuk melakukan kajian terkait permasalahan, ini yaitu dengan judul AuAnalisis pengaruh Technology Readiness terhadap minat menggunakan QRIS dalam melakukan Pembayaran dengan menggunakan metode TRAMAy Berdasarkan uraian yang dijelaskan pada latar belakang di atas, maka rumusan Copyright A 2025 The Author. Page 958 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi minat menggunakan QRIS dalam melakukan pembayaran berdasarkan metode TRAM. Apakah hambatan yang dihadapi dalam melakukan pembayaran dengan menggunakan QRIS berdasarkan metode TRAM. Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah Penelitian terbatas pada masyarakat yang melakukan pembayaran dengan menggunakan aplikasi DANA, dan BYOND by BSI. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat cepat dan telah merambah ke berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, pertanian, peternakan, pertambangan, dan banyak lagi. Laju perkembangan teknologi ini menuntut manusia untuk dapat beradaptasi dan siap menggunakan teknologi tersebut. Konsep inilah yang dikenal sebagai kesiapan teknologi . echnology readines. Istilah kesiapan teknologi pertama kali diperkenalkan oleh Parasuraman pada tahun 2000. Secara sederhana, kesiapan teknologi dapat diartikan sebagai keinginan individu untuk menerima atau menggunakan teknologi baru guna menyelesaikan berbagai tugas, baik di lingkungan pribadi . maupun profesional . empat kerj. Konsep ini dibangun untuk mengukur seberapa terbuka pengguna terhadap informasi teknologi baru dan bagaimana mereka mempersepsikan aspek kegunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, kesiapan teknologi adalah indikator penting untuk memahami sejauh mana individu siap dan mau berinteraksi dengan inovasi teknologi yang terus bermunculan. Menurut Parasuraman, technology readiness adalah ukuran tingkat kesiapan teknologi yang diartikan sebagai indikator yang menunjukkan seberapa siap atau matang suatu teknologi dapat diterapkan atau diadopsi oleh pengguna atau calon pengguna. Technology readiness berfungsi sebagai indikator yang memberikan gambaran menyeluruh tentang kesiapan teknologi tersebut di dunia nyata. Evaluasi technology readiness melibatkan sejumlah aspek kunci, termasuk ketersediaan teknologi, keandalan terhadap perubahan kondisi, kemampuan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pengguna, ketersediaan sumber daya, tingkat keamanan, dan dukungan serta penerimaan masyarakat . Kesiapan teknologi bukan hanya tentang penguasaan teknis, tetapi juga berkaitan dengan keinginan dan motivasi seseorang dalam menggunakan teknologi. Minat penggunaan menjadi indikator penting dalam mengukur penerimaan Menurut Crow Abror . , minat penggunaan adalah sikap perilaku yang mendorong seseorang untuk menggunakan suatu teknologi tertentu. Bila seseorang memiliki minat yang kuat terhadap teknologi, maka kemungkinan untuk menggunakannya secara berkelanjutan menjadi lebih tinggi. Kemanfaatan dan kemudahan penggunaan Technology Acceptance Model (TAM). Sehingga TRAM menjelaskan bagaimana dimensi kepribadian dapat mempengaruhi cara orang berinteraksi dengan teknologi dan pengunaannya. Dalam penerapannya TRAM ini juga digunakan untuk mengetahui pengaruh kesiapan pengguna sistem informasi terhadap penerimaan/keberhasilan teknologi informasi . Dengan digabungkannya metode TAM dan TRI akan menghasilkan model yang spesifik. Hal ini disebabkan karena dari kedua metode membahas yang berbeda. TRI membahas kecenderungan individu secara general sedangkan TAM membahas persepsi pengguna dalam menggunakan sistem secara detail. Diantara model TRI dan model TAM yang banyak digunakan dalam penelitian adalah model TAM sehingga lebih banyak literatur dan lebih jelas . Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) adalah standar nasional QR Code yang mengintegrasikan berbagai jenis QR dari seluruh Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP). QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama Bank Indonesia untuk memastikan kemudahan, kecepatan, serta keamanan dalam transaksi digital melalui pemindaian QR Code. Menurut Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). QRIS merupakan metode pembayaran digital yang dapat digunakan secara luas oleh berbagai platform, seperti dompet elektronik, mobile banking, dan aplikasi uang elektronik berbasis server. Standar ini diterapkan untuk menjamin interoperabilitas antar penyedia layanan dan menghindari fragmentasi sistem pembayaran, sehingga mempermudah adopsi transaksi nontunai secara nasional . Pada Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Niki Kusuma . , berjudul AuAnalisis Pengaruh Technology Readiness Terhadap Minat Pengguna QRIS Sebagai Media Pembayaran Di Kota PadangAy Fokus penelitian yaitu meningkatkan niat penggunaan QRIS di Kota Padang. Metode analisis yaitu Model Persamaan Struktural (SEM). Hasil Penelitian Kesiapan teknologi berpengaruh positif pada persepsi kemudahan penggunaan, kesiapan teknologi berpengaruh positif pada persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh positif pada persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh positif pada niat perilaku, dan kesiapan teknologi berpengaruh positif pada niat perilaku, persepsi manfaat berpengaruh positif terhadap niat menggunakan . Penelitian yang dilakukan Septi Nur Faizani dan Aries Dwi Indriyanti, ( 2. Ay Analisis Pengaruh Technology readiness terhadap Perceived Usefulness dan Perceived ease of use terhadap Behavioral Intention dari Quick Response Indonesian Standard (QRIS) untuk Pembayaran Digital (Studi Kasus: Pengguna Aplikasi e-Wallet Go-Pay. DANA. OVO, dan LinkAja di Surabay. Ay. Fokus penelitian yaitu pengguna e-wallet (Go-Pay. DANA. OVO, dan LinkAj. di Surabaya dalam melakukan pembayaran atau transaksi. Metode analisis yaitu TRAM dan PLS-SEM. Hasil penelitian Optimism dan innovativeness yang terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap perceived usefulness dan perceived ease of use serta perceived usefulness dan perceived ease of use yang terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap behavioral intention. Sedangkan hipotesis yang ditolak yaitu discomfort dan insecurity karena hasil yang didapatkan yaitu kedua variabel tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perceived usefulness dan perceived ease of use. Copyright A 2025 The Author. Page 959 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. Perbedaannya yaitu pada fokus, peneliti fokus pada penggunaan qris berdasarkan TRAM, yang terdiri dari beberapa dimensi, sedangkan penelitian yang lain hanya pada dimensi technologi readiness saja. Selanjutnya pada lokasi penelitian. Selanjutnya pada pembayaran digital dipenetian ini hanya pada byond, dan dana . Penelitian Salsabila Muzar . AuAnalisis Pengaruh Technology Readiness Terhadap Minat Menggunakan Uang Elektronik dalam Melakukan Transaksi Jual-Beli di Kota Medan dengan Metode PLS-SEM (Partial Least SquaresStructural Equation Modellin. Ay. Fokus penelitian yaitu seberapa besar pengaruh minat menggunakan terhadap persepsi kemudahan dalam menggunakan Gopay. DANA, dan OVO melalui QRIS untuk bertransaksi di kota Medan. Metode analisis yaitu PLS-SEM. Persepsi manfaat dan minat menggunakan berpengaruh terhadap persepsi kemudahan, minat menggunakan dan persepsi manfaat berpengaruh terhadap technology readiness, minat menggunakan berpengaruh terhadap persepsi kemudahan dan technology readiness, serta persepsi manfaat berpengaruh terhadap persepsi kemudahan dan technology readiness . METODOLOGI PENELITIAN 1 Tahapan Penelitian Prosedur penelitian merupakan langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam melakukan penelitiannya secara bertahap. Prosedur penelitian ini terbagi ke dalam beberapa tahapan, yaitu . tahapan perencanaan yang terdiri dari identifikasi masalah, studi literature, dan perumusan masalah. tahapan pengumpulan data yang terdiri dari observasi dan kuesioner. tahapan analisis data yang terdiri dari uji validitas, uji reliabilitas dan uji hipotesis. Berikut merupakan tahapan penelitian ini yang dapat dilihat pada Gambar 1 berikut. Gambar 1 Tahapan Menelitian Adapun penjelasan dari tahapan penelitian pada Gambar 1 diatas adalah sebagai berikut : Tahapan perencanaan, tahapan perencanaan merupakan tahapan awal dalam melakukan penelitian, pada tahapan ini peneliti melakukan identifikasi masalah atau melihat permasalahan yang terjadi di lapangan. Setelah mampu mengindentifikasi masalah, selanjutnya peneliti melakukan studi literatur dari beberapa penelitian terdahulu baik berupa jurnal atau skripsi dan juga penulis mencari buku-buku terkait permasalahan yang peneliti lakukan yang bertujuan untuk dijadikan referensi bagi peneliti. Langkah terakhir dalam tahapan perencanaan, yaitu peneliti akan membuat atau menentukan rumusan masalah penelitian. Tahapan pengumpulan data, tahapan pengumpulan data merupakan tahapan untuk melakukan pengumpulan data penelitian, pengumpulan data penelitian nantinya akan dilakukan berdasarkan observasi dan memberikan kuesioner kepada responden sehingga dengan demikian diharapkan data yang terkumpul akan dapat dilakukan Tahapan analisis data, merupakan tahapan akhir dari penelitian, analisis yang dilakukan yaitu sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Analisis yang dilakukan pertama kali adalah melakukan uji outer model, selanjutnya analisis yang terakhir adalah dengan melakukan uji inner model penelitian. 2 QRIS Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) adalah standar QR Code untuk dompet elektronik, mobile banking, dan aplikasi uang elektronik berbasis server. QR Code dapat digunakan untuk mengakomodasi berbagai jenis layanan pembayaran, tetapi untuk memastikan interoperabilitas dan efisiensi. Standar Nasional QR Code diperlukan. Dengan adopsi Standar Nasional QR Code, kode QR dapat digunakan secara konsisten oleh berbagai penyedia layanan pembayaran, sehingga mengurangi risiko fragmentasi industri sistem pembayaran dan memudahkan penggunaan pembayaran nontunai nasional . Copyright A 2025 The Author. Page 960 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. 3 Technology Readiness Technology readiness pertama kali diperkenalkan oleh Parasuraman pada tahun 2000. Technology readiness atau dikenal dengan kesiapan teknologi dapat diterjemahkan sebagai keinginan untuk menerima atau menggunakan teknologi baru untuk menyelesaikan tugas-tugas bak di rumah ataupun di tempat kerja. Konsep technology readiness dibangun untuk dapat menangkap keterbukaan pengguna kepada informasi teknologi baru dan aspek kegunaan teknologi . 4 Metode TRAM Metode Technology readiness Acceptance Model (TRAM) pertama kali dikemukakan oleh Lin pada tahun 2007 yang menjadi metode baru dari gabungan dimensi kepribadian dari Technology readiness Inden (TRI) dengan pengukuran kemanfaatan dan kemudahan penggunaan Technology Acceptance Model (TAM). Sehingga TRAM menjelaskan bagaimana dimensi kepribadian dapat mempengaruhi cara orang berinteraksi dengan teknologi dan pengunaannya. Dalam penerapannya TRAM ini juga digunakan untuk mengetahui pengaruh kesiapan pengguna sistem informasi terhadap penerimaan/keberhasilan teknologi informasi . Dengan digabungkannya metode TAM dan TRI akan menghasilkan model yang spesifik. Hal ini disebabkan karena dari kedua metode membahas yang berbeda. TRI membahas kecenderungan individu secara general sedangkan TAM membahas persepsi pengguna dalam menggunakan sistem secara detail. Diantara model TRI dan model TAM yang banyak digunakan dalam penelitian adalah model TAM sehingga lebih banyak literatur dan lebih jelas . Technology readiness Acceptance Model (TRAM) memiliki tujuh variabel, yang meliputi empat variabel dari model Technology readiness Inden (TRI) meliputi optimism, innovativeness, discomfort, dan insecurity. Sedangkan tiga variabel lain dari model Technology Acceptance Model (TAM) meliputi perceived ease of use, perceived usefulness dan intention to use. Berikut merupakan gambaran dari variabel metode Technology readiness Acceptance Model (TRAM) dari penelitian ini . Optimism Optimism merupakan pandangan positif terhadap teknologi serta percaya bahwa teknologi itu memberikan efektifitas dan efesiensi terhadap teknologi, sikap atau pemikiran positif terhadap keyakinan seseorang dapat meningkatkan kontrol kerja. Innovativeness Innovativeness merupakan pioner atau menjadi yang terdepan dalam penggunaan teknologi, sikap atau pemikiran terhadap ketertarikan terhadap suatu teknologi serta tertarik untuk menggunakannya. Discomfort Discomfort merupakan kurangnya kontrol terhadap teknologi atau perasaan terbebani dalam penggunaan teknologi, sikap yang mengacu pada pandangan negatif terhadap teknologi karena memiliki rasa kurangnya penguasaan terhadap teknologi tersebut. Insecurity Insecurity merupakan sebuah kekhawatiran pengguna dalam bekerja menggunakan teknologi, sikap yang menunjukkan pandangan negatif terhadap teknologi untuk transaksi negatif terhadap teknologi untuk transaksi data yang dilakukan serta keraguan seseorang terhadap suatu teknologi. Perceived Usefullness Perceived usefullness merupakan seorang individu yang mempercayai bahwa suatu sistem yang membantu kinerja dan prestasi kerja individu tersebut. Perceived ease of use Perceived ease of use merupakan tolak ukur untuk individu yang percaya bahwa teknologi mudah dipahami serta mudah digunakan. Intetion To UseMinat seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor sosial, perasaan, dan konsekuensi dari perasaan. Meningkatnya minat untuk menggunakan teknologi informasi juga didasari karena adanya manfaat yang dirasakan oleh penggunanya. 5 Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga jenis pengumpulan data utama, yaitu observasi, kuesioner, dan data sekunder. Observasi dilakukan secara langsung oleh peneliti terhadap perilaku masyarakat dalam menggunakan QRIS sebagai alat transaksi non-tunai, dengan tujuan memperoleh data primer yang relevan dengan fokus Selain itu, peneliti menggunakan kuesioner sebagai instrumen utama pengumpulan data, yang disusun berdasarkan metode TRAM (Technology Readiness Acceptance Mode. Kuesioner ini disebarkan secara online melalui Google Form dan terdiri dari 30 pertanyaan yang mencakup variabel-variabel seperti optimism, innovativeness, discomfort, insecurity, perceived usefulness, perceived ease of use, dan intention to use. Nantinya link kuesioner google form akan diberikan kepada renponden. Untuk mendukung data primer, peneliti juga menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, skripsi, buku, dan e-book yang relevan, guna memperkuat landasan teori dan metodologi dalam penelitian ini . Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya . Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kota Lhokseumawe, menurut data Badan Pusat Statistik Kota Lhokseumawe, jumlah Copyright A 2025 The Author. Page 961 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. masyarakat Kota Lhokseumawe yaitu berjumlah 198. 705 penduduk. Sehingga jumlah populasi dalam penelitian ini Sehingga jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 198. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Nonrandom Sampling atau Non Probality Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dimana setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Jenis yang digunakan adalah purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu . Sampling penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan rumus Slovin, rumus ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel dari jumlah populasi yang ada, berikut merupakan cara penentuan jumlah sampel: ycu = 1 ycAyce 2 Dalam Penentuan sampel, n adalah jumlah sampel. N adalah jumlah populasi, dan e merupakan perkiraan Tingkat kesalahan ( erro. 10 % . dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin, dimana data populasi diambil data Badan Pusat Statistik Kota Lhokseumawe, jumlah masyarakat Kota Lhokseumawe yaitu berjumlah 198. Metode ini membantu jumlah sampel yang memadai agar mewakili populasi ceara akurat. ycA ycu = 1 ycAyce 2 = 1 198. 2 = 1988,05 = 99,949 Berdasarkan hasil pencarian penentuan sampel dengan menggunakan rumus Slovin, jumlah responden penelitian ini adalah 99,949, maka dibulatkan menjadi 100 responden. 6 Uji Outer Model Uji outer model digunakan untuk menguraikan hubungan antar variabel laten . dengan indikator penyusunnya. Pada uji outer model terdapat empat kriteria yang akan dilakukan pengujian . , yaitu sebagai berikut: Convergent validity. Convergent validity merupakan uji yang digunakan untuk menentukan uji validitas dan mencari tahu hubungan indikator dengan variabel penusunnya. Kriteria pengambilan keputusan dalam uji ini yaitu suatu indikator dikatakan valid jika memiliki nilai loading factor > 0,7 dan AVE > 0,5 Discriminat validity. Disriminant validity merupakan uji untuk mengetahui setiap konsep dalam model laten berbeda dengan variabel lainnya Composite realibility. Composite realibility merupakan uji yang digunakan untuk menentukan reliabilitas dari suatu variabel, suatu variabel dikatakan reliabel jika memiliki nilai > 0,7. Cronbach alpha. Cronbach alpha merupakan uji yang digunakan untuk melihat korelasi atau hubungan antara skala yang dibuat dengan semua variabel yang ada. Nilai minimal cronbach alpha > 0,7. 7 Uji Inner Model Uji inner model merupakan analisis yang dilakukan dengan metode bootstrapping untuk mendeskripsikan hubungan antar variabel laten. Dalam analisis ini akan dilakukan pengujian hipotesis untuk mengukur pola variabel eksogen terhadap variabel endogen . Analisis inner model penelitian ini yaitu sebagai berikut: Analisis R2 . oefisien determinas. , yaitu digunakan untuk mengetahui proporsi varians dalam variabel endogen yang dapat dijelaskan oleh variabel eksogen. Nilai RA yang lebih tinggi . ebih dekat ke . menunjukkan bahwa model memiliki daya prediksi yang lebih baik. Uji hipotesis, yaitu merupakan pengujian untuk mengetahui hipotesis yang diterima dan hipotesi yang ditolak, uji ini melihat nilai t-statistic dan p-value pada uji path coefficient. Suatu hipotesis diterima jika nilai t-statistic > t-table, jika nilai t-statistic < t-table maka hipotesis ditolak. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Penelitian BYOND By BSI adalah layanan melalui saluran distribusi elektronik Bank untuk mengakses rekening yang dimiliki nasabah di Bank melalui jaringan komunikasi dengan sarana telepon seluler atau komputer tablet. BYOND by BSI dirancang sebagai pengembangan dari aplikasi pendahulunya. BSI Mobile, dengan membawa berbagai pembaruan yang Dari sisi teknologi. BYOND by BSI dilengkapi dengan tampilan antarmuka yang lebih segar serta fitur-fitur inovatif seperti layanan BI Fast untuk transfer antar bank dengan biaya lebih rendah, kemudahan pengelolaan e-wallet, hingga promo menarik yang ditawarkan kepada pengguna. Dana adalah dompet digital terdepan di Indonesia yang memfasilitasi transaksi digital non-tunai dan non-kartu, baik online maupun offline. Aplikasi ini menyediakan layanan uang elektronik, transfer dana, dan fitur pelengkap lainnya. Beroperasi di bawah pengawasan Bank Indonesia. DANA mengusung konsep open platform, memungkinkan integrasi dengan berbagai aplikasi dan gerai daring maupun konvensional. Dikembangkan oleh startup legal di Indonesia. DANA kini menjadi salah satu dompet digital paling favorit, digunakan oleh jutaan pengguna aktif di seluruh negeri berkat fiturfitur inovatifnya yang mempermudah transaksi digital. Copyright A 2025 The Author. Page 962 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. 2 Partisipan Tes Partisipan dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 100 orang, partisipan dalam penelitian ini tentunya ada beberapa kriteria yang telah ditentukan yaitu jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan dan Qris yang digunakan. Berikut merupakan rangkuman kriteria dari para partisipan penelitian ini: Tabel 1 Kriteria Partisipan Tes Kriteria Jenis Kelamin Usia Pendidikan Terakhir Pekerjaan Qris yang digunakan Keterangan Laki-Laki Perempuan Total < 25 Tahun 26-35 Tahun 36-45 Tahun > 45 Tahun Total SMA/Sederajat Sarjana (S. Magister (S. Lainnya Total Mahasiswa Wirausaha Wiraswasta ASN Pegawai Swasta Pegawai BUMN Lainnya Total Dana Byond by BSI Total Jumlah Persentase Berdasarkan Tabel 1, mayoritas partisipan adalah laki-laki . %) dan berusia di bawah 25 tahun . %). Pendidikan terakhir mereka dominan SMA/Sederajat . %), dengan sebagian besar berstatus mahasiswa . %). Adapun. QRIS Byond by BSI menjadi pilihan utama . %) di antara partisipan. 3 Uji Outer Model 1 Uji Convergent Validity Uji convergent validity merupakan uji yang digunakan untuk menentukan kuesioner layak atau tidak digunakan, kriteria dari uji ini adalah sebagai berikut: Jika nilai loading factor > 0,5 dan AVE > 0,5, maka data pada kuesioner dikatakan layak untuk digunakan atau dengan kata lain kuesioner telah valid. Jika nilai loading factor < 0,5 dan AVE < 0,5, maka data pada kuesioner dikatakan tidak layak untuk digunakan atau dengan kata lain kuesioner tidak valid. Berikut merupakan hasil dari uji convergent validity yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2 Uji Convergent Validity Parameter Optimism Innovativeness Discomfort Kode Pertanyaan OP1 OP2 OP3 OP4 IN1 IN2 IN3 IN4 Nilai Loading Factor 0,847 0,751 0,830 0,830 0,816 0,771 0,742 0,514 0,543 0,818 0,928 0,908 Nilai AVE 0,674 0,519 0,660 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Copyright A 2025 The Author. Page 963 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. Parameter Insecurity Perceived Usefulness Perceived ease of Intention to Use Kode Pertanyaan IS1 IS2 IS3 IS4 PU1 PU2 PU3 PU4 PU5 PU6 POU1 POU2 POU3 POU4 POU5 POU6 ITU1 ITU2 Nilai Loading Factor 0,776 0,920 0,893 0,616 0,721 0,833 0,804 0,869 0,767 0,701 0,546 0,839 0,694 0,682 0,686 0,733 0,925 0,924 Nilai AVE 0,656 0,546 0,546 0,854 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa seluruh pertanyaan pada parameter optimism, innovativeness, discomfort, isnecurity, perceived usefulness, perceived ease of use, dan intention on use memiliki nilai loading factor > 0,5 dan AVE > 0,5, sehingga dapat disiumpulkan bahwa seluruh pertanyaan kuesionser dapat dikatakan valid dan layak untuk digunakan untuk penelitian. 2 Uji Composite Realibility Uji composite realibility merupakan uji yang digunakan untuk menentukan reliabilitas dari suatu variabel, suatu variabel dikatakan reliabel jika memiliki nilai > 0,7. Berikut merupakan hasil dari uji composite realibility yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3 Uji Reliabilitas Parameter Optimism Innovativeness Discomfort Insecurity Perceived Usefullness Perceived ease of use Intention on Use Nilai Composite Realibility 0,849 0,713 0,874 0,895 0,878 0,845 0,830 Batas Nilai Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Berdasarkan Tabel 3, menunjukkan bahwa seluruh pertanyaan pada parameter optimism, innovativeness, discomfort, isnecurity, perceived usefulness, perceived ease of use, dan intention on use memiliki nilai composite realibility > 0,7, sehingga dapat disiumpulkan bahwa seluruh parameter penelitian telah reliabel dan handal untuk digunakan dalam penelitian 4 Uji Inner Model 1 Uji Hipotesis Uji hipotesis merupakan pengujian yang dilakukan untuk menentukan hipotesis penelitian diterima atau ditolak, uji yang digunakan adalah uji path coeficient. Kriteria pengambilan keputusan hipotesis dalam uji ini adalah sebagai berikut: Jika nilai t-statistic > t-table, maka hipotesis penelitian diterima. jika nilai t-statistic < t-table maka hipotesis penelitian ditolak. Sebelum melakukan pengujian, terlebih dahulu menentukan nilai t-table, rumus yang digunakan untuk mencari ttable adalah sebagai berikut: = (/2 . n-k-. = . ,1/2 . 100-4-. = . ,05 . = 1,661 Berdasarkan pencarin nilai t-table didapati nilai dari t-table adalah 1,661, berikut merupakan hasil dari uji path coeficien dalam penelitian ini: Copyright A 2025 The Author. Page 964 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. Tabel 4 Uji Path Coeficient Parameter Optimism-Perceived ease of use Optimism-Perceived Usefullness Innovativeness-Perceived ease of use Innovativeness -Perceived Usefullness Discomfort-Perceived ease of use Discomfort-Perceived Usefullness Insecurity-Perceived ease of use Insecurity-Perceived Usefullness Perceived ease of use-Intention to Use Discomfot-Perceived UsefullnessIntention to Use Nilai t-statistic 4,925 7,336 4,263 3,968 0,102 0,973 0,967 0,302 4,194 4,430 P Value 0,000 0,000 0,000 0,000 0,919 0,331 0,334 0,763 0,00 0,000 Keterangan Hipotesis diterima Hipotesis diterima Hipotesis diterima Hipotesis diterima Hipotesis ditolak Hipotesis ditolak Hipotesis ditolak Hipotesis ditolak Hipotesis diterima Hipotesis diterima Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa hasil dari uji patch coeficien dapat dilihat sebagai berikut: Optimisme berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi kemudahan penggunaan . erceived ease of us. QRIS . -statistic = 4. P-value = 0. Optimisme juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi kemanfaatan . erceived usefulnes. QRIS . statistic = 7. P-value = 0. Inovasi . berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi kemudahan penggunaan QRIS . statistic = 4. P-value = 0. Inovasi juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi kemanfaatan QRIS . -statistic = 3. P-value = Namun, ketidaknyamanan . tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi kemudahan penggunaan QRIS . -statistic = 0. P-value = 0. Singkatnya, optimisme dan inovasi merupakan faktor pendorong yang kuat terhadap persepsi positif akan kemudahan dan kemanfaatan QRIS, sedangkan ketidaknyamanan tidak memiliki dampak signifikan pada persepsi kemudahan penggunaannya. Nilai t-statistic pada parameter discomfort terhadap perceived usefulness dalam minat menggunakan QRIS adalah 0,973 dan nilai P Value adalah 0,331, nilai t-statistic 0,973 < t-table 1,661 dan nilai P. 5 Uji Koefisien Determinasi Uji koefisien determinasi (RA) mengukur seberapa besar proporsi variasi dalam variabel endogen dapat dijelaskan oleh variabel eksogen dalam sebuah model. Nilai RA yang lebih tinggi . menunjukkan bahwa model memiliki daya prediksi yang lebih baik. Tabel 5 Uji Koefisien Determinasi Parameter Intention on Use Nilai R2 0,568 Nilai Adjusted R2 0,539 Berdasarkan Tabel 5, nilai RA adalah 0,568. Ini berarti 56,8% variasi dalam minat masyarakat menggunakan QRIS dapat dijelaskan oleh parameter optimisme, inovasi, ketidaknyamanan, ketidakamanan, persepsi kemanfaatan, dan persepsi kemudahan penggunaan. Sisa 43,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. 6 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Yang Mempengaruhi Minat Menggunakan QRIS Dalam Melakukan Pembayaran Berdasarkan Metode Technology Readiness Acceptance Model (TRAM) Penelitian menunjukkan bahwa optimisme, inovasi, serta persepsi kemanfaatan dan kemudahan penggunaan adalah faktor utama yang memengaruhi minat masyarakat dalam menggunakan QRIS. Optimisme mendorong adopsi karena QRIS dianggap solusi fleksibel dan inovatif. Inovasi memicu antusiasme terhadap teknologi baru. Sementara itu, keyakinan bahwa QRIS bermanfaat dan mudah digunakan secara langsung meningkatkan minat untuk mengadopsinya. 7 Hasil uji PLS- SEM Gambar 2 uji outer model Copyright A 2025 The Author. Page 965 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. Pada Gambar 2, hasil uji sebagian besar konstruk memiliki reliabilitas dan validitas konvergen yang sangat baik. konstruk Innovativeness sedikit lemah pada aspek CronbachAos Alpha . , namun masih layak digunakan karena Composite Reliability dan AVE memenuhi syarat. Secara keseluruhan, semua konstruk dalam model ini valid dan dapat digunakan dalam analisis selanjutnya, baik dalam pengujian SEM atau PLS. Gambar 3 uji inner model Pada Gambar 3. Hasil uji optimism dan innovativeness dari pengguna berpengaruh kuat dan signifikan dalam meningkatkan persepsi kemudahan dan kegunaan QRIS. Persepsi pengguna terhadap kemudahan dan kegunaan QRIS juga secara signifikan mempengaruhi niat . untuk menggunakannya. Sebaliknya, discomfort dan insecurity tidak memiliki pengaruh signifikan, artinya rasa tidak nyaman atau rasa tidak aman terhadap teknologi tidak terlalu mempengaruhi persepsi pengguna terhadap QRIS dalam konteks penelitian ini. 8 Model Analisis PLS-SEM Gambar 4. Model Analisis PLS-SEM Pada Gambar 4, optimism dan Innovativeness adalah faktor utama dari Technology Readiness yang secara signifikan dan positif memengaruhi persepsi pengguna terhadap kemudahan dan kegunaan QRIS. Discomfort dan Insecurity tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi pengguna, yang berarti rasa tidak nyaman dan rasa tidak aman terhadap teknologi tidak menghambat persepsi positif pengguna terhadap QRIS dalam konteks ini. Baik Perceived Ease of Use maupun Perceived Usefulness memiliki pengaruh signifikan terhadap niat pengguna untuk menggunakan QRIS. Model ini menjelaskan sekitar 56,8% variansi niat penggunaan QRIS, yang menunjukkan bahwa model memiliki kekuatan prediktif yang baik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diambil kesimpulan faktor-faktor yang mempengaruhi minat menggunakan QRIS dalam melakukan pembayaran berdasarkan metode Technology Readiness Acceptance Model (TRAM) adalah optimism, innvovativeness, perceived ease of use, dan perceived usefulness. Hambatan yang dihadapi oleh masyarakat dalam melakukan pembayaran dengan menggunakan QRIS berdasarkan metode Technology Readiness Acceptance Model (TRAM) adalah kurannya rasa keamanan, sering gagal dalam melakukan transaksi, dan tidak seluruh pelaku usaha memiliki QRIS untuk melakukan transaksi pembayaran. Penelitian ini memiliki keterbatasan tidak semua dimensi Technology Readiness memberikan pengaruh signifikan terhadap perceived ease of use dan perceived usefulness, sehingga diperlukan pendekatan model yang lebih menyeluruh untuk memahami aspek mental dan emosional pengguna. Copyright A 2025 The Author. Page 966 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH ISSN 2774-3659 (Media Onlin. Vol 5. No 5. August 2025 | Hal 958-967 https://hostjournals. com/bulletincsr DOI: 10. 47065/bulletincsr. REFERENCES